You are on page 1of 10

BAB 7 KONGLOMERAT: STRUKTUR SEDIMEN DAN MODEL FASIES

Pada Bab 5 dan 6 kami telah menekankan bahwa proses penafsiran langsung terhadap fasies makin sukar dengan makin rendahnya peranan arus searah dalam menghasilkan endapan. Pada bab ini kita akan menujukan perhatian pada batuan yang hingga sekarang masih belum banyak dipelajari, yakni konglomerat. Disini kita akan mencoba untuk me-nyusun tiga tipe model fasies yang berbeda. Kita tidak lagi merujuk pada hasil-hasil percobaan yang disajikan pada Bab 2 atau pada individu-individu struktur sedimen yang disajikan pada Bab 3. Untuk mengawalinya kita akan mempelajari gejala-gejala deskriptif yang kemungkinan besar ada dalam konglomerat dan dapat digunakan dalam analisis fasies, kemudian mencoba menafsirkannya. Kami menggunakan istilah konglomerat untuk menamakan endapan yang telah terkonsolidasi atau agak terkonsolidasi dengan besar butir rata-rata berada dalam kisaran granul, kerikil, kerakal, atau bongkah. Walau demikian, pembahasan pada bab ini akan ditekankan pada konglomerat kasar dengan besar butir rata-rata berada dalam kisaran kerakal dan bongkah. Konglomerat dapat terakumulasi dan memiliki kesempatan untuk terawetkan pada beberapa tipe lingkungan masa kini. Lingkungan-lingkungan yang dimaksud adalah: (1) kipas aluvial; (2) sungai menganyam; (3) pesisir; (4) kipas laut dalam; (5) lingkunganlingkungan yang dipengaruhi oleh gletser, baik lingkungan bahari maupun terestris, di tempat mana till masih diendapkan. Model fasies untuk lingkungan pengendapan konglomerat masih belum dikembangkan dengan baik, hal mana terutama disebabkan oleh ketiadaan kerangka pemerian (maksudnya, para ahli belum sepakat mengenai aspek-aspek apa yang harus diamati dan dicatat dari konglomerat). Hal ini tampak jelas apabila kita bandingkan dengan kasus batupasir, dimana gejala-gejala deskriptif batupasir demikian melimpah (lihat Bab 2 dan 3). Gejala-gejala deskriptif itu pada gilirannya memungkinkan para ahli untuk mengetahui genesisnya. Hal itu pula yang memungkinkan batupasir untuk dikelompokkan dan diketahui fasies dan model fasiesnya. Tujuan penyusunan bab ini adalah: 1. Meneliti gejala-gejala sedimen yang dapat membantu kita untuk mengetahui kerangka pemerian konglomerat. 2. Menggunakan kombinasi dari gejala-gejala itu untuk mengembangkan model-model fasies dari tiga lingkungan peng-endapan utama konglomerat: kipas bawahlaut, sungai menganyam, dan daerah-daerah aliran rombakan (kipas aluvial). Ancangan yang digunakan disini adalah ancangan deduktif karena hingga dewasa ini kita hanya memiliki sedikit hasil penelitian teoritis atau eksperimental yang dapat dijadikan rujukan. Kami berpendapat bahwa kerangka pemerian kong-lomerat hendaknya mencakup gejala-gejala yang dikemukakan di bawah ini; gejala-gejala yang lain dapat ditambahkan pada daftar itu setelah pemahaman kita bertambah (gambar 71). 1. Pemilahan dan penyebaran besar butir. Kedua hal ini merupakan parameterparameter dasar untuk memisahkan konglomerat yang didukung-butir dengan konglomerat yang didukung-matriks. 2. Kemas. Parameter ini mencakup orientasi sumbu panjang (sumbu a) dan imbrikasi, dimana sumbu a atau sumbu b (sumbu menengah) miring ke arah hulu. 3. Stratifikasi. Konglomerat dapat memperlihatkan stratifikasi horizontal atau miring dan dicirikan oleh perselingan lapisan-lapisan yang berbeda komposisi, ukuran, pemilahan, atau kemas partikel penyusunnya. 4. Graded bedding. Hal ini menyatakan perubahan-perubahan progresif besar butir partikel penyusun suatu lapisan batuan, mulai dari bawah ke atas. Gejala ini dapat berupa normal grading (butiran makin halus ke atas) atau inverse grading (butiran makin ke atas makin kasar). Terakhir, sebagaimana pada semua bentuk tafsiran, konteks stratigrafi secara keseluruhan dari konglomerat harus diperhatikan. Dalam banyak kasus, konteks ini merupakan alat penafsiran yang lebih baik dibanding kumpulan parameter pemerian tertentu. Kita akan mempelajari keempat gejala yang disebutkan di atas untuk melihat

bagaimana gejala-gejala itu berhubungan satu sama lain, bagaimana mereka dapat berbeda dalam konglomerat yang diendapkan pada tatanan stratigrafi yang berbeda, dan apa nilai tafsiran yang diberikan oleh setiap gejala itu. GEJALA-GEJALA DESKRIPTIF DARI KONGLOMERAT Pemilahan dan Distribusi Besar Butir Di alam ini tampaknya ada suatu spektrum konglomerat yang (1) bimodus (kecur, matriks), terpilah baik, dan didukung-kecur; dan (2) polimodus, terpilah buruk, dan didukung-matriks. Pada konglomerat yang dapat diurai dan diayak, usaha untuk mencatat pemilahan dan distribusi besar butirnya relatif mudah untuk dilakukan. Untuk kebanyakan konglomerat purba, hal ini tidak mungkin dilakukan dan seorang pengamat mungkin hanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar di bawah ini: 1. Apakah konglomerat yang diamati didukung-kecur atau didukung-matriks? 2. Jika didukung-kecur, apakah material halus yang ada diantara butiran itu: a. diendapkan bersama-sama dengan kecur-kecur besar? atau b. masuk kemudian ke dalam ruang antar kecur besar itu? 3. Jika didukung-matriks, apakah kecur-kecur itu diangkut bersama-sama dengan matriksnya (seperti yang terjadi pada kasus aliran rombakan) atau apakah mereka diangkut oleh mekanisme yang berbeda (sebagai dropstone ke dalam lumpur bahari atau lumpur danau). Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak membawa kita langsung pada penafsiran lingkungan pengendapan, melainkan pada gagasan mengenai proses pengangkutan. Konglomerat didukung-kecur dan terpilah baik mengindikasikan arus yang dapat menyapu partikel-partikel halus atau dapat mempertahankan setiap butir pasir atau lumpur dalam suspensi di atas dasar dan dapat menggelundungkan dan memilah kerakal dan bongkah secara selektif di sepanjang dasar. Jika kita dapat memperlihatkan bahwa matriks pada konglomerat seperti itu masuk kemudian (Eynon dan Walker, 1974), maka aliran seperti tersebut di atas mungkin menurun kekuatannya dan pada waktu itulah pasir, bahkan material yang lebih halus, terjebak diantara ruang antar butiran kerakal dan bongkah dan kemudian masuk ke dalam ruang pori yang lebih dalam. Di lain pihak, konglomerat didukung-matriks tidak mengindikasikan adanya proses penyapuan pasir atau material halus, melainkan biasanya diangkut secara simultan bersama-sama dengan kecur-kecur besar, seperti pada kasus aliran rombakan (Johnson 1970; Hampton 1972). Pemilahan dan pemisahan kelas-kelas besar butir sangat terbatas. Sebagaimana yang akan kita lihat nanti, tidak satupun diantara kedua anggota tepi besar butir itu mengindikasikan satu lingkungan atau model fasies tertentu. Oleh karena itu, kita memerlukan deskriptor lain. Kemas Kemas konglomerat mengindikasikan dengan tegas bahwa setiap individu kecur bergerak bebas dan orientasi butiran itu diatur oleh mekanisme aliran. Orientasi tiga dimensi dari partikel penyusun konglomerat dapat diperlihatkan dalam sebuah stereonet, atau dipisahkan menjadi komponen-komponen orientasi, seperti kenampakannya di lapangan dan pada penampang vertikal yang sejajar dengan arah aliran. Di bawah kondisi yang ideal, kita dapat mengukur jurus dan kemiringan setiap individu kecur pipih dalam sebuah lapisan dan mencatat secara simultan orientasi sumbu panjang (sumbu a) dan sumbu menengah (sumbu b) dari setiap kecur itu. Data yang diperoleh kemudian dapat dirajahkan pada sebuah stereonet untuk memperlihatkan arah rata-rata dari kemiringan kecur; sebuah plot juga dapat dibuat untuk merekonstruksikan sumbu mana yang miring (a atau b). Jika orientasi tiga dimensi dari individu-individu kecur tidak dapat diukur di lapangan, orientasi statistik dari kecur dapat diperoleh dengan mengukur arah pemanjangan pada bidang datar dari setiap kecur, dikombinasikan dengan ukuran imbrikasi pada penampang vertikal dari lapisan (Davies & Walker 1974). Hingga dewasa ini, konglomerat didukung-kecur yang disusun oleh kerakal dengan sumbu panjang lebih dari 2 cm dan memiliki kemas yang baik agaknya terdiri dari dua jenis:

1. Sumbu a terletak tegak lurus dengan arah aliran dan sumbu b miring ke hulu. 2. Sumbu a sejajar dengan arah aliran dan miring ke hulu. Gejala ini dapat diberi sandi sebagai a(t) b(i), yang berarti a(transverse) dan b(imbricate), dan a(p) a(i), yang berarti a(parallel) dan b(imbricate) (lihat gambar 7-2). Kemas yang pertama, yakni a(t) b(i), merupakan gejala khas hasil dari kecur-kecur (> 2mm) yang menggelundung. Gejala ini pernah terbuktikan dalam percobaan-percobaan (Johansson, 1965) dan ditemukan dalam banyak gravel sungai (Rust 1972b). Kemas yang kedua jarang ditemukan dan terutama ditemukan dalam lapisan konglomerat "yang mirip dengan turbidit laut dalam" (lihat Davies & Walker 1974; Walker 1975). Hal ini akan dibahas secara lebih mendetil nanti. Karena kemas a(p) a(i) kemungkinan tidak terbentuk akibat penggelundungan, mungkin kita dapat mengatakan dengan cukup aman bahwa kemas itu mengindikasikan proses-proses pengangkutan yang memungkinkan kerakal dan bongkah tetap berada dalam suspensi di atas dasar (istilah "dispersi" mungkin lebih baik digunakan untuk kasus ini, lihat Middleton dan Hampton, 1973). Konglomerat yang tidak memperlihatkan gejala pengarahan mengimplikasikan proses pengangkutan dan pengendap-an dimana berbagai partikel tidak terlalu bebas bergerak satu terhadap yang lain dan, oleh karenanya, tidak mampu memberikan respon secara individual terhadap stress yang diberikan oleh fluida. Gejala lain yang mengimplikasikan adanya sedikit pergerakan relatif dari partikel-partikel akan dibahas nanti. Stratifikasi Percobaan-percobaan tabung aliran yang dibahas pada Bab 2 menghasilkan pengetahuan mengenai berbagai tipe stratifikasi yang teramati dalam pasir sejalan dengan peningkatan kekuatan aliran secara berangsur. Hingga dewasa ini belum ada penelitian eksperimental pada konglomerat dan tipe-tipe stratifikasi yang terlihat dalam konglomerat (perlapisan horizontal atau miring) sekarang ini belum dapat dikaitkan dengan kondisi-kondisi aliran atau kekuatan aliran. Pada stratifikasi horizontal, pelauhan diperlihatkan oleh satu atau lebih gejala berikut: 1. Perubahan ukuran atau komposisi kecur. 2. Perubahan pemilahan. 3. Perubahan kemas. Jika lapisan berubah secara berangsur menjadi lapisan lain, proses pengendapan mungkin berfluktuasi, namun jika suatu lapisan memiliki batas-batas yang tajam, proses-proses yang berbeda mungkin bertanggungjawab terhadap pem-bentukan setiap lapisan. Pada kasus lapisan kerikil atau kerakal, jumlah fluktuasi arus mungkin tidak sebanyak perkiraan orang sebelumnya. Hal ini dapat diperlihatkan dengan membandingkan kriteria yang telah mantap untuk suspensi pasir dan untuk penggelundungan kerikil dan kerakal di atas bidang pengangkutan. Untuk suspensi pasir berkonsentrasi rendah, shear stress yang dikenakan kepadanya (o) harus menghasilkan eddy turbulen yang dapat menahan pasir agar tidak mengndap. Hal ini memerlukan kecepatan rata-rata dari arus turbulen ke arah atas sama atau lebih besar daripada kecepatan pengendapan (w) untuk diameter butiran-butiran yang tersuspensi (dsusp). Secara spesifik dapat dinyatakan ( o / ) w
1/ 2

>1

Untuk kerikil dan kerakal yang menggelundung di dasar, shear stress yang dikenakan harus cukup besar untuk mengatasi resistansi kecur untuk menggelundung. Shear stress itu dapat dihitung, paling tidak nilai pendekatannya, dengan meng-gunakan kriterion Shield untuk aliran turbulen penuh,

crit = 0.06( s f ) droll

dimana o adalah bed shear stress (dyne/cm2); crit adalah bed shear stress kritis untuk pergerakan kecur; adalah berat jenis sedimen (s) dan fluida (f) (g/cm2/det2); w adalah kecepatan pengendapan butiran-butiran dalam air (cm/det); dsusp adalah diameter butiran pasir yang tersuspensi (cm); dan droll adalah diameter kecur yang menggelundung di dasar (cm) Kita dapat menyamakan o dengan crit untuk membandingkan besar butir kecur-kecur yang menggelundung di dasar dengan diameter partikel pasir yang dapat dipertahankan berada dalam suspensi oleh aliran yang sama, droll ( s f ) 0.06 = w
2

karena kecepatan pengendapan w merupakan fungsi yang diketahui dari dsusp. Persamaan yang terakhir ini dilukiskan pada gambar 7-3, dimana kecepatan pengendapan telah dikonversi menjadi diameter partikel (untuk detil-detil konversi ini, lihat Blatt dkk 1972, h. 48-55). Grafik itu dapat dianggap sebagai titik awal untuk berpikir mengenai endapan konglomeratik dan pasiran, namun perlu dicamkan bahwa grafik itu mungkin tidak sahih untuk konsentrasi sedimen yang tinggi atau untuk laju pengangkutan yang tinggi. Penafsiran pertama yang diperoleh dari gambar itu adalah bahwa relatif kecilnya fluktuasi kekuatan aliran yang dapat menyebabkan (1) penggelundungan gravel di dasar dengan suspensi pasir, atau (2) penghentian penggelundungan gravel dan pengendapan pasir secara simultan untuk distribusi besar butir yang sesuai. Sebagai contoh, jika perselingan lapisan-lapisan pasir dan gravel dengan besar butir yang diperlihatkan oleh titik-titik pada gambar 7-3 dapat diamati di lapangan, maka setiap lapisan itu mungkin mengimplikasikan kekuatan aliran yang sangat mirip dan pengendapan dari satu aliran yang sedikit berfluktuasi.

EDITING BARU SAMPAI DISINI!!!!


Kegunaan kedua dari diagram itu adalah untuk mengidentifikasikan ketidaksesuaian antara ukuran fraksi konglomerat dengan pasir yang ada diantara ruang-ruang antar butirnya. Untuk ukuran partikel yang diindikasikan oleh garis putus-putus pada gambar 7-3, pengangkutan dan pengendapan kerakal 7 cm akan mengimplikasikan suspensi semua material yang lebih halus dari 2 mm. Pasir dengan diameter 1 mm hanya akan diendapkan ke dasar setelah terjadi pengurangan kekuatan arus yang cukup besar (lihat garis putus-putus horizontal pada gambar 7-3). Hubungan ini mungkin mengimplikasikan bahwa pasir yang ada diantara ruang-ruang antar kecur masuk kemudian. Contoh mendetil dari ancangan ini diberikan oleh Eynon & Walker (1974). Meskipun hingga dewasa ini baru ada sedikit bukti-bukti pengamatan untuk menunjang gagasan di atas, tampaknya cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa kemas dalam konglomerat yang berlapis horizontal mencerminkan proses pengangkutan kecur dengan cara menggelundung dan, jika imbrikasi berkembang dalam lapisan itu, maka tipe imbrikasinya adalah a(t) b(i). Selain stratifikasi horizontal, banyak konglomerat memperlihatkan stratifikasi miring yang besar sudut kemiringannya bervariasi mulai dari beberapa derajat hingga sama dengan kemiringan sudut henti. Stratifikasi silang-siur sudut henti mungkin berkembang pada sisi-sisi hilir dari gumuk atau gosong-gosong besar di dalam sungai dan memiliki asal-usul yang mirip dengan perlapisan silang-siur yang ada dalam pasir. Stratifikasi miring yang lebih landai dalam konglomerat belum dapat dipahami dengan baik-sebagian mungkin mencerminkan proses pengerukan dan pengisian di dasar, atau pengisian suatu alur yang dangkal, namun lebar. Stratifikasi miring bersudut rendah dalam konglomerat mungkin mengindikasikan akrasi lateral dari permukaan gosong tanjung (Eynon 1972) atau pada tepi-tepi gosong diagonal yang landai dalam sungai menganyam (Smith 1974; Hein 1974).

Gejala Perlapisan Bersusun Istilah gejala perlapisan bersusun mengimplikasikan perubahan besar butir secara progresif dalam satu individu lapisan. Gejala ini terdiri dari dua tipe: (1) penyebaran gejala perlapisan bersusun dimana semua persentil distribusi besar butir berubah, atau (2) coarse-tail grading dimana hanya beberapa persentil paling kasar saja yang berubah (Middleton, 1966). Sangat sedikit konglomerat yang telah dipelajari cukup mendetil untuk dapat menyatakan secara positif tipe mana yang lebih sering ditemukan di alam. Perlapisan bersusun normal mengindikasikan pengendapan material dari satu arus yang makin lama makin halus dan juga mengimplikasikan pemilahan besar butir kecur dalam arus dan penurunan kekuatan arus selama pengendapan berlangsung. Pada bagian dasar sejumlah lapisan, kita juga dapat menemukan suatu zona perlapisan bersusun terbalik yang relatif tipis. Perlapisan bersusun terbalik telah dibahas cukup luas, namun hingga sekarang baru ada satu makalah yang menyajikan pemerian kuantitatif mengenai gejala ini (Walker 1975). Pada banyak kasus, kita tidak yakin apakah gejala itu merupakan gejala asli atau apakah lapisan yang berbutir kasar itu telah mengalami welding sedemikian halus sehingga tidak terdeteksi oleh kita. Baik gejela perlapisan bersusun normal maupun terbalik mengimplikasikan bahwa arus pengangkut dan pengendap mampu memilah material dengan ukuran yang berbeda-beda dan bahwa kecur-kecur penyusun lapisan itu dapat bergerak relatif bebas satu terhadap yang lain sesuai dengan ukurannya. Asosiasi-Asosiasi Umum dari Gejala-Gejala Deskriptif Gejala-gejala deskriptif yang dibahas di atas dapat diringkaskan secara diagramatis pada gambar 7-1. Assoasiasi-asosiasi yang umum dari gejala-gejala tersebut, jika ada, hanya dapat ditentukan melalui pengamatan lapangan yang mendalam dan adanya sejumlah besar data komparatif. Hubungan yang sekarang tampaknya dapat dipegang sementara diperlihatkan pada gambar 7-4. Model Fasies Konglomerat Pada bagian ini kita akan menggunakan berbagai kombinasi gejala-gejala yang telah dibahas di atas untuk menyusun model-model fasies untuk konglomerat kipas laut dalam, konglomerat sungai menganyam, dan konglomerat aliran rombakan. Modelmodel itu hendaknya tidak dipandang mencakup semua model konglomerat, namun mungkin mencakup konglomerat yang paling umum. Selain itu, akan diperlihatkann bagaimana model-model tersebut dikembangkan. Gambar 7-4 mengindikasikan bahwa perbedaan dasar antara ketiga model. Konglomerat sungai menganyam dan resedimented conglomerate* dibedakan berdasarkan kemas dan kelimpahan relatif dari perlapisan bersusun dan stratifikasi silang-siur. Konglomerat aliran rombakan, yang mencakup lingkungan terestris dan bawahlaut, dibedakan karena didukung-matriks dan memiliki kemas yang lebih random. Clast-supported Resedimented Conglomerate Selama bertahun-tahun telah diketahui bahwa konglomerat dapat berasosiasi dengan batupasir turbidit dan serpih laut dalam, khususnya pada lingkunganlingkungan kipas bawahlaut. Konglomerat seperti itu memiliki kisaran umur mulai dari Arkean (Walker & Pettijohn 1971) hingga Resen. Fasies umum dan analsis cekungan turbidit dan konglomerat yang berasosiasi dengannya telah dibahas oleh Walker (1969) serta Walker & Mutti (1973). Makalah-makalah tersebut mengandung banyak rujukan. Resedimented conglomerate dalam cekungan-cekungan turbidit telah diabaikan, hal mana mungkin disebabkan oleh sedikitnya konsensus mengenai gejala-gejala penting yang perlu diamati dan dicatat dari singkapan. Selama melakukan penelitian terhadap singkapan-singkapan konglomerat Cap Enrage (Kambro-Ordovisium) yang ada di Pegunungan Appalachia, Gaspe, Quebec, jelas bahwa ada empat deskriptor penting yang dapat digunakan untuk membagi lapisan-lapisan resedimented conglomerate tersebut (Davies & Walker 1974). Berdasarkan besar butir dan pemilahan, kelimpahan relatif dari gejala perlapisan bersusun normal dan terbalik, serta stratifikasi, Davies & Walker (1974) mengenal adanya dua tipe khas: Konglomerat berlapisan bersusun normal dan terbalik: Konglomerat ini dicirikan oleh perlapisan bersusun terbalik di bagian bawah, kemudian diikuti oleh konglomerat

berlapisan bersusun normal diatasnya (atau lapisan masif), namun tidak memperlihatkan stratifikasi. Konglomerat yang berlapisan bersusun: Konglomerat ini dicirikan oleh perlapisan bersusun normal yang berubah ke arah atas menjadi konglomerat kerikil dan granul yang memperlihatkan stratifikasi horizontal, kemudian berubah lagi menjadi batupasir dengan stratifikasi horizontal atau stratifikasi silang-siur dan, di beberapa tempat, ditemukan pula dish structure. Kedua model tersebut di atas dikembangkan dari Cap Enrage Formation. Untuk menguji generalitasnya, Walker (1975) mempelajari resedimented conglomerate yang ada di lapangan dan mencari literatur, untuk melihat seberapa luas kedua gejala sedimen itu berasosiasi (gambar 7-5). Seperti yang kita ketahui hingga saat ini, gejala paling berguna tampaknya adalah gejala perlapisan bersusun normal dan terbalik serta stratifikasi. Jika gejala-gejala tersebut digunakan, ada delapan kemungkinan kombinasi, seperti yang diperlihatkan pada gambar 7-5. Angka-angka pada gambar 7-5 memperlihatkan berapa kali kombinasi tertentu muncul di lapangan berdasarkan 29 pemerian yang diterbitkan selama ini (tabel 1, 2, dan 3 dalam Walker 1975) serta beberapa hasil penelitian Walker yang tidak diterbitkan. Meskipun ada delapan kemungkinan kombinasi, gambar itu memperlihatkan bahwa hanya ada tiga asosiasi yang memiliki kemungkinan besar untuk muncul, yakni: Konglomerat berlapisan bersusun normal dan terbalik, tanpa gejala stratifikasi. Konglomerat berlapisan bersusun normal tanpa perlapisan bersusun terbalik. Konglomerat yang tidak memperlihatkan gejala perlapisan bersusun dan tidak memperlihatkan gejala stratifikasi. Asosiasi-asosiasi tersebut di atas dapat digunakan untuk membuat tiga model lintap vertikal umum (gambar 7-6) yang masing-masing disebut (1) asosiasi perlapisan bersusun normal-hingga-terbalik; (2) asosiasi perlapisan bersusun normal; (3) asosiasi lapisan yang tidak teratur. Foto-foto dari contoh-contoh model fasies itu telah disajikan oleh Davies & Walker (1974) serta Walker (1975). Pada bagian lain dari buku ini kami telah menekankan bahwa suatu model fasies memiliki empat fungsi: Sebagai sebuah norma, kepada norma mana contoh-contoh lain dapat dibandingkan. Sebagai kerangka dan petunjuk untuk melakukan penelitian di masa mendatang. Sebagai dasar umum untuk menafsirkan hidrodinamika. Sebagai prediktor dalam situasi-situasi geologi yang baru. Kita akan melukiskan bagaimana model-model konglomerat memenuhi fungsi-fungsi tersebut. Jika ketiga model yang diajukan di atas benar-benar dapat diterapkan secara luas (dengan kata lain, dapat digunakan sebagai norma), maka pengamatanpengamatan di masa mendatang hendaknya ditekankan pada tiga "lintasan" yang kemungkinan besar akan muncul seperti yang diperlihatkan pada gambar 7-5. Skema yang disajikan pada diagram itu dapat berperan sebagai petunjuk untuk memasukkan pemerian tambahan. Walau demikian, sangat mungkin bahwa penelitian-penelitian di masa dapat menunjukkan adanya kombinasi lain. Walau demikian, satu hal yang penting adalah pengenalan sehimpunan deskriptor tertentu yang dapat mengarahkan pengamatan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa selama penelitian lapangan gejala-gejala lain hendaknya diamati dan dicatat sedemikian rupa sehingga kita akan dapat menguji manfaat setiap hubungan baru. Fungsi lain dari ketiga model adalah memberikan suatu dasar rampatan untuk menafsirkan hidrodinamika. Hal ini akan dibahas secara singkat; pembahasan yang lebih mendetil dapat diperoleh dari Walker (1975). Kami berpendapat bahwa kemas a(p) a(i) (gambar 7-7) mengimplikasikan pengendapan langsung dari suatu dispersi kecur yang terletak di atas dasar, tanpa penggelundungan beban dasar. Untuk mempertahankan dispersi, diperlukan adanya shear stress yang sangat tinggi. Ketika kecur-kecur saling bertumbukan dalam dispersi, kecur-kecur yang berukuran kecil dapat bergerak memasuki ruang-ruang yang terletak diantara kecur-kecur yang berukuran lebih besar (proses ini disebut "kinetic sieve" oleh Middleton 1970, h. 267). Hal itulah yang kemungkinan menyebabkan terbentuknya gejala perlapisan bersusun terbalik. Di lain pihak, gejala perlapisan bersusun normal menuntut agar kecur-kecur yang ada mengalami segregasi di dalam arus turbid menurut ukurannya (kecur-kecur besar terletak di bagian kepala, sedangkan kecur-kecur yang lebih halus akan tersusun sedemikian rupa sehingga makin halus ke arah ekor). Walker (1965) berpendapat bahwa proses segregasi-ukuran (size-segregation) seperti itu mungkin terjadi sebagai

tanggapan aliran arus turbid pada lereng yang relatif landai, di tempat mana proses sirkulasi material dari bagian tubuh menuju bagian kepala tidak berlangsung dengan baik (Middleton 1966, h. 538-545). Demikian pula, stratifikasi pada material berukuran granul dan kerikil mungkin mengendap dengan relatif lambat pada lereng landai, hal mana mungkin berlangsung selama beberapa jam (Walker 1975). Argumen-argumen di atas sebagian besar didasarkan pada teori, hal mana terjadi terutama karena hingga dewasa ini kita belum banyak memiliki data eksperimental mengenai konglomerat. Walau demikian, adanya ketiga model tersebut di atas memungkinkan kita untuk memfokuskan penafsiran pada kemas, gejala perlapisan bersusun, dan stratifikasi, serta implikasi-implikasi lingkungan yang akan kita bahas berikut ini. Fungsi keempat dari model fasies adalah berperan sebagai prediktor pada situasisituasi baru. Sebelum hal itu dapat dilakukan, pertama-tama kita harus mempertimbangkan hubungan antara ketiga model tersebut di atas. Hal itu hanya dapat dilakukan secara teoritis karena hingga dewasa ini belum ada laporan yang menyatakan adanya perubahan lateral dari satu model kepada model yang lain seperti yang mungkin terlihat pada satu singkapan. Kita dapat mengajukan pemikiran bahwa konglomerat kasar berlapisan bersusun normal hingga bersusun terbalik mengimplikasikan shear stress yang tinggi dan, oleh karenanya, mengimplikasikan lereng yang relatif curam. Selain itu, kita juga dapat mengajukan pendapat bahwa konglomerat berlapisan bersusun normal dan berlapis mengimplikasikan pengendapan yang lebih lambat pada lereng yang relatif landai. Dengan demikian, kita dapat mengajukan pendapat bahwa konglomerat yang berlapisan bersusun normal hingga bersusun terbalik lebih proksimal (lebih dekat kepada sumbernya) dibanding konglomerat yang berlapisan bersusun normal dan berlapis. Kesimpulan itu kemudian dimasukkan ke dalam model kipas bawahlaut yang diperlihatkan pada gambar 7-8. Selain itu, model konglomerat yang tidak memperlihatkan gejala keteraturan juga dapat muncul pada tempat-tempat yang jauh lebih dekat dengan sumbernya, pada ngarai bawahlaut atau alur penebar, meskipun pendapat yang disebut terakhir ini masih bersifat tentatif. Pada gambar 7-8, model-model fasies konglomerat sekarang memiliki nilai prediktif untuk pengendapan kipas bawahlaut. Sebagai kesimpulan, perlu ditekankan bahwa dengan cara seperti itu kita dapat menelurkan ketiga resedimented conglomerate models itu. Walau demikian, model itu masih belum teruji. Dengan bertambahnya informasi mengenai aspek-aspek deskriptif dari model-model tersebut, maka hidrodinamika dan nilai prediktif dari model-model tersebut akan meningkat. Clast-Supported Fluvial Conglomerates Model sungai menganyam konglomeratik didasarkan pada hasil-hasil pengamatan pada sungai-sungai yang ada dewasa ini, bukan pada batuan purba, sehingga perkembangannya berbeda dengan perkembangan resedimented conglomerate model. Gejala-gejala deskriptif dari model tersebut mencakup data-data morfologi gosong dan alur serta parameter-parameter aliran. Walau demikian, asal-usul dari berbagai tipe stratifikasi yang ada pada model tersebut sebenarnya baru diketahui belum lama ini. Oleh karena itu, detil-detil stratifikasi masih belum mendapatkan penekanan yang memadai dalam model tersebut. Makalah-makalah terakhir yang penting artinya untuk pengembangan model fasies tersebut disusun oleh Church (1972), Rust (1972a, b), Smith (1970, 1974), Williams & Rust (1969), Eynon & Walker (1974), Hein (1974), Gustavson (1974), serta Clifton (1973). Penelitian-penelitian klasik yang dilakukan oleh Hjulstrom (1935), Sundborg (1956), Krigstrom (1962), Fahnestock (1963), serta beberapa ahli lain menyebabkan munculnya tata peristilahan morfologi gosong yang agak kompleks. Tata peristilahan itu kemudian sedikit disederhanakan oleh Ore (1964) dan Smith (1970) yang kemudian memperkenalkan adanya dua tipe utama dari gosong, yakni gosong longitudinal (longitudinal bar) dan gosong transversal (transverse bar). Smith (1970) memperlihatkan bahwa gosong longitudinal cenderung disusun oleh material yang lebih kasar dan muncul pada daerah yang terletak lebihhulu dibanding gosong transversal. Penyederhanaan itu agaknya didasarkan pada hasil-hasil percobaan Smith pada sungai yang relatif besar (dalam hal ini Platte River), bukan pada sungai yang dangkal dan memiliki luah yang sangat bervariasi, misalnya White River yang pernah diteliti oleh

Fahnestock (1963). Pembahasan di bawah ini tidak banyak ditujukan pada sistem sungai yang disebut terakhir ini. Pada alur-alur sungai menganyam yang bermigrasi, banyak gosong merupakan sisasisa erosional yang memiliki sejarah pembentukan yang panjang dan kompleks. Oleh karena itu, Smith (1974) mengusulkan digunakannya istilah "satuan gosong" (unit bar) untuk "gosong yang relatif terubah dan morfologinya terutama ditentukan oleh prosesproses pengendapan." Berdasarkan hasil pengamatannya di Kicking Horse River, British Columbia, Smith (1974) mengenal adanya empat tipe satuan gosong: gosong longitudinal, gosong transversal, gosong diagonal (diagonal bar), dan gosong tanjung (point bar) (gambar 7-9). Mengaitkan tipe stratifikasi yang berbeda dengan tipe gosong yang berbeda sukar untuk dilakukan karena adanya masalah gravel yang mengendap dalam lekukanlekukan yang ada pada sungai aktif dengan luah tinggi. Rust (1972a) dan Gustavson (1974) sama-sama berpendapat bahwa gosong longitudinal yang bermigrasi cenderung menghasilkan lapisan yang berlapis buruk dengan struktur pengarahan a(t) b(i). Smith (1974, h. 221) juga menyatakan bahwa "pada banyak singkapan, perlapisan umumnya masif dan crudely horizontal dimana kerikil memperlihatkan gejala imbrikasi." Selain itu, "sering ditemukan perlapisan yang miring landai, terbentuk akibat bermigrasinya gosong, dimana kemiringan perlapisan itu mengarah ke alur atau tepi riffle; stratifikasi planar bersudut tinggi ditemukan pada sejumlah gosong, namun hal itu jarang terjadi dan umumnya hanya ditemukan pada kerikil halus." Jelas sudah bahwa selain data-data pengamatan mengenai stratifikasi dan kemas, kita masih belum banyak mengetahui tipe yang pasti dari setiap stratifikasi yang terbentuk akibat migrasi dan akrasi vertikal dari berbagai tipe gosong. Dalam batuan purba, dimana kita tidak dapat mengenal gosong, sukar bagi kita untuk mengaitkan data-data pengamatan dengan suatu model fasies yang didasarkan dan dideduksikan pada hubungan antara berbagai tipe gosong dengan stratifikasi (Hein, 1974). Gagasangagasan yang ada dewasa ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian terhadap Kicking Horse River, namun tampaknya memiliki penerapan yang universal, paling tidak untuk aliran yang tidak terlalu tinggi luahnya. Hubungan Gosong dengan Asal-Usul Stratifikasi Di Kicking Horse River ada empat tipe dasar gosong (gambar 7-9) yang tersingkap sewaktu aliran berada dalam kondisi sedang, yakni gosong longitudinal, gosong transversal, gosong diagonal, dan gosong tanjung (Smith, 1974; Hein, 1974). Hein juga memperlihatkan kehadiran "diffuse gravel sheets" yang memiliki ketebalan sama dengan jumlah diameter dari beberapa kerikil (Hein 1974, h. 35-50). Gravel sheets itu disusun oleh beban dasar yang paling kasar dan hanya bermigrasi pada saat luah tinggi. Pada aliran yang sedikit lebih lemah, diffuse sheets tidak bergerak dan membentuk coarse lag pavement yang merupakan inti dari mana gosong kemudian tumbuh. Model yang diusulkan didasarkan pada: (1) cara coarse lag pavement itu tumbuh menjadi gosong longitudinal, gosong transversal, atau gosong diagonal; (2) kenyataannya apakah gosong yang dihasilkan itu memiliki perenggan yang besarnya sama dengan sudut henti atau tidak. Jika luah fluida (Qf) dan luah sedimen (Qs) masih tetap tinggi setelah lag terbentuk, maka pertumbuhan gosong ke arah hilir cenderung lebih tinggi dibanding laju pertumbuhannya ke arah vertikal. Di bawah kondisi seperti itu, tidak terbentuk perenggan yang besarnya sama dengan sudut henti dan stratifikasi yang terbentuk cenderung horizontal atau miring landai ke arah hilir (gambar 7-10). Namun, jika Qf dan Qs menurun dengan cepat setelah lag terbentuk, maka pertumbuhan gosong pada arah vertikal lebih cepat dibanding pertumbuhannya ke arah hilir. Pada kasus yang disebut terakhir ini, perenggan yang besarnya sama dengan sudut henti memiliki kemungkinan yang relatif tinggi untuk terbentuk; gagasan ini merupakan ekstrapolasi dari gagasan Jopling (1965) mengenai pembentukan stratifikasi silang-siur dalam pasir. Ketika sisi curam dari gosong tumbuh ke arah hilir, terbentuklah suatu himpunan strata silang-siur dalam gravel. Hubungan antara morfologi gosong, ketika berevolusi dari lag, terutama merupakan fungsi dari simetri aliran pada kedua sisi gosong yang sedang tumbuh. Jika luah dan kemiringan dari kedua sisi gosong itu lebih kurang sama, maka gosong itu akan memanjang tanpa harus dipengaruhi oleh aliran atau proses pengangkutan melalui

bagian atas (dengan kata lain, memotong) gosong. Namun, jika aliran pada satu sisi menjadi lebih kuat dibanding aliran pada sisi yang lain, maka ada kecenderungan kuat terjadinya aliran diagonal dan, pada gilirannya, meningkatkan kemungkinan terbentuknya gosong diagonal. Di Kicking Horse River (Hein, 1974), sebagian besar gosong longitudinal dan gosong diagonal tidak memiliki perenggan yang berkembang baik dan, oleh karenanya, cenderung memiliki lapisan-lapisan horizontal atau miring landai. Di lain pihak, gosong transversal semuanya memiliki perenggan yang berkembang baik dan, oleh karenanya, memiliki himpunan lapisan silang-siur yang berkembang baik. Karena sebagian besar gosong tampaknya terbentuk dari lag (diffuse gravel sheets yang tidak bergerak lagi), dan karena gosong-gosong itu tumbuh ke arah atas akibat bertambahnya material halus, maka akhirnya akan terbentuk gejala perlapisan bersusun normal. Gejala itu dapat maupun tidak mendindih crude horizontal stratification. Jika selama gosong tumbuh pada arah vertikal terbentuk perenggan yang curam, maka lapisan bersusun itu akan berubah ke arah hilir menjadi gravel berlapisan silang-siur. Hubungan antara stratifikasi dengan gejala perlapisan bersusun diperlihatkan pada gambar 7-10. Konsep yang diungkapkan pada gambar 7-10 lebih cenderung merupakan ancangan pada sebuah model, bukan sebagai sebuah bagian dari model. Gambar itu menekankan kemungkinan adanya kontrol genetik terhadap morfologi gosong serta mengindikasikan mengapa sebagian gosong memiliki perenggan dan sebagian yang lain tidak. Detil-detil evolusi untuk individu gosong telah dibahas oleh Fahnestock (1963), Smith (1974), dan Hein (1974), namun masih banyak data yang kita perlukan untuk menguji hubungan antara evolusi, morfologi, dan stratifikasi. Kita juga masih mendapatkan kesulitan untuk mengaitkan data-data pengamatan sungai masa kini dengan penafsiran batuan purba. Mengherankan karena hingga dewasa ini baru beberapa konglomerat sungai menganyam purba saja yang pernah diteliti secara mendetil. Smith (1970) menafsirkan batuan klastika Silur yang ada di Appalachia sebagai gosong longitudinal dan gosong transversal, namun dia tidak membahasnya lebih jauh dari itu. Eynon & Walker (1974) mencoba menyusun sebuah model untuk endapan braided outwash Plistosen serta menemukan adanya sejumlah strata silang-siur dengan ketebalan 2-3 m serta panjang minimal 110 cm pada arah hilir. Hingga dewasa ini belum pernah ada orang yang mengungapkan adanya gosonggosong dengan stratifikasi silang-siur dengan skala seperti itu pada sungai masa kini. Oleh karena itu, Eynon & Walker (1974) tidak dapat mengaitkan data-data pengamatan mereka dengan data-data pengamatan sungai masa kini. Agaknya masih sangat mungkin bagi kita untuk mengembangkan lebih jauh model sungai menganyam dengan cara mempelajari aspek-aspek tertentu dari batuan purba, yakni stratifikasi, kemas, lintap struktur sedimen, dan detil-detil arah arus purba. Sebagai sebuah contoh yang memperlihatkan bagaimana ancangan seperti itu dapat berhasil baik, perhatikan gravel masif yang berubah secara berangsur ke arah hilir menjadi gravel halus berstratifikasi silang-siur. Pengukuran-pengukuran imbrikasi dapat memberikan informasi mengenai arah arus purba gravel kasar dan dapat diperbandingkan dengan arah arus purba yang diindikasikan oleh lapisan silang-siur. Jika arah-arah itu lebih kurang sama, maka dapat disimpulkan bahwa kedua tubuh gravel itu tumbuh secara menerus ke arah hilir. Jika arah-arah itu berbeda, maka hal itu mengindikasikan terbentuknya gosong diagonal besera perenggan yang ada didalamnya. Pada setiap kasus itu, kita akan dapat mengambil sejumlah kesimpulan mengenai simetri pola alur dan mekanisme penganyamannya. Meskipun masih dalam tahap awal, tipe ancangan seperti itu dapat membawa kita untuk sampai pada model sungai menganyam yang lebih baik, terutama jika kita dapat membandingkan sistem sungai menganyam masa kini dengan sistem sungai menganyam purba serta jika kita terus berusaha untuk mengaitkan stratifikasi dengan morfologi gosong. Endapan Aliran Rombakan yang Didukung-Matriks Suatu kategori penting dari konglomerat dan breksi yang didukung-matriks adalah konglomerat dan breksi yang diendapkan oleh aliran rombakan. Aliran rombakan (debris flow) pernah teramati terjadi di darat dan diperkirakan juga terjadi pada lingkungan bawahlaut. Istilah aliran rombakan mencakup aliran lumpur (mud flow),

yang terutama disusun oleh pasir dan sedimen halus, sedangkan endapannya adalah olistostrom, batulumpur kerikilan (pebbly mudstone), atau batulumpur bongkah (bouldery mudstone), tergantung pada ukuran dan proporsi kecur penyusunnya. Middleton dan Hampton (1973) menggunakan istilah aliran lumpur untuk menyatakan "pergerakan campuran zat padat granuler (mis. dbutiran pasir, bongkah), mineral lempung, dan air menuju bagian bawah lereng di bawah pengaruh gaya gravitasi." Kita akan meninjau data-data pengamatan mengenai aliran rombakan darat yang sedang bergerak, kemudian memanfaatkan data-data tersebut untuk diterapkan pada endapan yang selama ini ditafsirkan sebagai aliran rombakan purba. Kesimpulankesimpulan umum yang kami sajikan dapat diterapkan baik pada endapan darat maupun endapan bawahlaut, kecuali apabila dinyatakan secara khusus. Salah satu pemerian terbaik mengenai aliran rombakan aktif disajikan oleh Johnson (1970, h. 439) dan disini kami akan menyajikan hasil pengamatannya di Wrightwood, California. Aliran di Wrightwood disusun oleh material dengan ukuran dan tipe yang beragam, namun semuanya memperlihatkan siklus aliran yang sama. Aliran air berlumpur, dengan ketebalan beberapa inci dan lebar sekitar 3-4 kaki, mengalir hampir secara kontinu di dalam alur. Pada setiap 10-20 menit, air berlumpur itu sedikit demi sedikit menjadi makin tebal dan mengangkut makin banyak sedimen. Beberapa saat setelah