You are on page 1of 6

Kematian ibu melahirkan cukup tinggi di Indonesia, umumnya disebabkan kelalaian suami dalam memberikan motivasi dan bimbingan

kepada istri. Kelalaian suami yang paling sederhana, misalnya bila diajak ke posyandu atau rumah sakit umumnya menolak, begitu juga persepsi suami akan ancaman kesehatan istri. Akibatnya, mereka tidak tahu apakah kehamilan istrinya normal atau tidak. Kondisi tersebut masih banyak ditemukan di masyarakat, terutama mereka yang bermukim di desa, akibatnya istri seakan-akan berjuang sendiri untuk mempertahankan kehamilannya, padahal dalam kondisi demikian tenaga dan pikirannya tidak stabil, motivasi dan bimbingan dari suami kepada istri merupakan faktor yang paling menentukan untuk mengurangi kematian ibu melahirkan, samping kepekaan suami-istri dalam mengantisipasi gejala kurang baik selama kehamilan (Khoerul, 2000). Peran laki-laki atau suami sangat diharapkan ketika istri sedang hamil atau bersalin. Pemerintah juga sangat menaruh perhatian terhadap upaya peningkatan peran laki-laki ini, yaitu dengan memasyarakatkan program Suami Siaga (suami siap antar jaga). Suami harus tahu perkembangan kondisi istri, memberikan dorongan dan semangat, serta lebih memberi perhatian (Syahri, 2002). Program Making Pregnancy Safer (untuk mencapai kehamilan dan persalinan aman) memiliki 3 kunci pesan, yaitu: (1) Setiap persalinan ditolong oleh tenaga terampil; (2) Setiap komplikasi memperoleh pelayanan rujukan yang adekuat; (3) Setiap wanita usia reproduksi mendapat akses pencegahan dan penanganan kehamilan yang diinginkan dan komplikasi abortus, merangkul dukun bayi dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Namun, angka kematian ibu belum menunjukkan penurunan secara bermakna (Depkes RI, 2006). Meskipun keterlibatan suami bukan satu-satunya penyebab kematian ibu di Indonesia, tetapi fakta menunjukkan bahwa keterlibatan suami turut menentukan tingginya angka kematian ibu. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam upaya agar suami dapat berkomunikasi dengan istri dalam mencapai persalinan aman adalah dengan memberikan pengertian kepada suami tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam mencapai persalinan aman (Depkes RI, 2001) Pendekatan baru dalam meningkatkan partisipasi suami adalah membekali

suami dengan informasi yang benar dan mengikutsertakan mereka dalam setiap upaya untuk meningkatkan kesehatannya (Depkes RI, 2003). Upaya program Departemen Kesehatan untuk penanggulangan kematian maternal terkait dengan peran suami adalah meningkatkan pemahaman tentang persiapan persalinan yang meliputi membuat rencana persalinan, membuat rencana siapa pembuat keputusan jika terjadi kegawatdaruratan, mempersiapkan transportasi ke tempat bersalin dan ke tempat rujukan, membuat rencana pola menabung dan mempersiapkan barangbarang yang diperlukan untuk persalinan. Dalam kaitan ini, sudah sangat populer di tengah masyarakat konsep Suami Siaga (siap antar jaga) (Leman, 2000). Sampai dengan tahun 2009, BKKBN menyimpulkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih menempati urutan teratas di Asia (http://www. depkes.go.id). Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab tingginya AKI. Salah satunya adalah kondisi emosi ibu hamil selama kehamilan hingga kelahiran bayi (Sridadi, dalam Wulandari, 2006). Kehamilan dan persalinan adalah kejadian alamiah yang tidak perlu dikhawatirkan jika saja diperhatikan dengan baik. Sayangnya, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat besar. Sekitar 400/100.000 kelahiran hidup, ini hampir sama dengan keadaan Inggris sekitar 70 tahun yang lalu. Tingginya angka kematian ibu ini tidak dapat dielakan lagi sekitar 19.000 ibu setahun meninggal, berarti 52 ibu hamil meninggal setiap hari. Salah satu factor penyebabnya karena tidak disayang suami. Keadaan istri yang tidak disayang suami ini memang bukan satu-satunya penyebab kematian ibu hamil, karena penyebab kematian ibu hamil itu sendiri cukup beragam. Namun, sebagaian besar dari mereka mempunyai kecenderungan sama, yaitu mereka kurang mendapat perhatian dan dukungan dari keluarga terutama suami, ungkap Abdullah Cholil, Sekretaris Menteri Urusan Peranan Wanita (dalam Ayahbunda, 2000). Kematian ibu pada kehamilan dan persalinan itu sendiri selama ini dipercaya bermuara pada tiga macam keterlambatan. Pertama, terlambat memutuskan mencari pertolongan karena sebagian besar status ekonomi yang rendah. Tingginya biaya berobat membuat mereka enggan ke rumah sakit. Kedua, terlambat menyediakan transportasi pada saat ibu hamil akan melahirkan. Ketiga,

adalah terlambat mendapat pertolongan segera setelah tiba di fasilitas kesehatan. Mengatasi keterlambatan ini berbagai cara dicoba, bukan saja secara fisik yang perlu diatasi. Tetapi yang utama adalah keterlibatan suami untuk ikut mengatasi kendala tersebut sejak awal kehamilan dengan program yang disebut Suami Siaga atau Siap Antar Jaga (dalam Ayahbunda, 2000). Kepedulian dan dukungan suami sangat diperlukan istri dalam menjalani kehamilan serta menghadapi persalinan. Menurut Ivan (2001), ayah dari seorang anak mengatakan bahwa kesiagaan sebagai suami bukan hanya dilakukan untuk menjaga dan mengantar istri semasa hamil dan persalinan, tetapi perlu dini lagi. Yaitu, ketika mulai hamil, saat merencanakan punya anak, kemudian saat konsepsi. Seorang suami juga memiliki kesiapan fisik dan mental. Siap fisik, termasuk menyediakan waktu ekstra untuk mengantar istri ke dokter, ikut mengurus anak, juga siap untuk datang karena istri akan melahirkan walaupun sedang meeting. Sedangkan kesiapan mental, suami perlu sabar dengan keadaan istri. Pemberian dukungan pada istri dirasakan semakin penting oleh sebagian suami-suami yang peduli kesehatan istri dan calon bayinya Sekarang ini cukup banyak suami yang memberikan dukungan dan terlibat langsung dengan kehamilan serta persalinan yang dihadapi oleh istrinya. Namun masih banyak juga suami yang membiarkan istrinya bergelut sendiri menjalani kehamilan dan menghadapi persalinannya sendirian. Sementara suami disibukkan dengan kegiatan atau pekeijaan yang bertujuan sebagai pemenuhan kebutuhan fisik semata. Kebutuhan psikis istri diabaikan, padahal kebutuhan ini lebih utama bagi istri dalam menjalani kehamilan dan menghadapi persalinan. Perhatian dan dukungan suami ini akan menumbuhkan kepercayaan diri istri dan harga diri sebagai seorang istri. Ia merasa yakin bahwa ia tidak hanya tepat sebagai istri, tapi juga akan bahagia menjadi calon ibu bagi anak yang dikandungnya. Perasaan yakin dan bahagia ini membuat jiwa calon ibu lebih matang dan stabil. Sebaliknya, calon ibu yang tidak memiliki keyakinan dan tidak bahagia karena kurang dukungan dari suaminya dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi. Ketidakstabilan emosi ini dapat menyebabkan kecemasan khususnya menghadapi persalinan.

Pendamping terutama orang terdekat ibu selama proses persalinan ternyata dapat membuat persalinan menjadi lebih singkat, nyeri berkurang, robekan jalan lahir jarang serta nilai APGAR pun menjadi lebih baik. Namun saat ini partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi masih rendah, masih banyak suami belum mampu menunjukkan dukungan penuh terhadap proses persalinan, terdapat sekitar 68% persalinan di indonesia tidak didampingi suami selama proses persalinan (Darsana, 2009). Pemerintah Indonesia mengkampanyekan program suami siaga pada tahun 1999-2000 dalam rangka meningkatkan peran suami dalam program Making Pregnancy Safe. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterlibatan dan partisipasi suami terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (Depkes RI, 2001). Hasil evaluasi program ini menunjukkan bahwa kampanye suami siaga memberikan dampak perilaku yang kuat pada laki-laki dimana terjadi peningkatan jumlah suami yang menemani istri saat pemeriksaan kehamilan dan saat persalinan (Ali, 2010). Pendampingan suami selama proses persalinan normal adalah suatu bentuk pemberian dukungan selama proses persalinan untuk mengurangi perasaan negatif yang timbul pada istri, memperkuat fisik istri dan memperlancar proses persalinan. Tindakan suami sebagai pendamping selama proses persalinan yaitu memberi motivasi dan mengatasi masalah fisik istri. Perasaan positif dan negatif muncul dalam diri suami selama mendampingi istri bersalin (Ardiana, 2010). Dukungan dari suami saat persalinan sangat berharga. Ibu bersalin menginginkan suaminya memberikan tindakan suportif dan memberikan lebih banyak rasa sejahtera dibandingkan petugas professional. Dalam penelitian Cohen (1991) menyatakan bahwa suami ibu bersalin membantu ibu saat terjadi kontraksi, melatih bernafas, memberikan pengaruh terhadap ketenangan, menurunkan kesepian dan memberikan teknik distraksi yang bermanfaat. Suami juga membantu mengkomunikasikan keinginan pada profesi pelayanan kesehatan (Ali, 2010).
Upaya pemerintah dalam rangka menurunkan AKI di Indonesia pada tahun 2000 dengan merancangkan Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan strategi sektor kesehatan secara terfokus pada

pendekatan dan perencanaan yang sistematis dan terpadu. salah satu dari strategi MPS adalah memberdayakan dan melibatkan peran serta perempuan, suami dan masyarakat oleh pemeritah yaitu dengan Program Desa Siaga (Desa Siap Antar Jaga) yang dilakukan sejak tahun 2006 termasuk didalamnya Program Suami Siaga. (Prawirohardjo, 2009). Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada tanda-tanda komplikasi kehamilan. Jika peran SIAGA ini dijalankan, diharapkan keterlambatan yang kerap menjadi penyebab kematian ibu melahirkan tidak terjadi. Keterlambatan yang dimaksud mencakup terlambat mengetahui kelainan kehamilan dan persalinan, terlambat memutuskan untuk segera ke fasilitas pelayanan kesehatan, terlambat menerima perawatan yang tepat (Lukman, 2009). Peran suami dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu selama hamil seperti mendukung istri agar mendapatkan pelayanan antenatal yang baik, menganjurkan ataupun memilihkan tempat pelayanan serta bidan atau dokter sekaligus mengantarkan istrinya ketika berkonsultasi. Ketika suami mengantarkan istrinya untuk pemeriksaan dan konsultasi, suami dapat belajar untuk mengenal tanda-tanda komplikasi kehamilan sehingga ketika kondisi istri membutuhkan pertolongan kesehatan, suami dapat ikut berperan. Suami merupakan pemegang keputusan utama dalam keluarga yang memiliki peranan besar dalam penentuan perencanaan kesehatan istrinya agar tidak mengalami keterlambatan dalam mencari pertolongan (BKKBN, 2008). Partisipasi suami saat kehamilan sangat penting untuk membantu ketenangan jiwa istrinya. Suami yang baik adalah suami yang memenuhi kebutuhan istrinya, membantu perawatannya, dan terlibat secara dekat dengan segala sesuatu yang terjadi pada

istrinya. Seorang ayah seharusnya bekerja keras, bertanggung jawab dan meluangkan waktu untuk istri yang akan menciptakan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan yang tak terukur. Selama kehamilan maupun persalinan, istri biasanya menggantungkan semangatnya pada suami. Istri membutuhkan dukungan dari suaminya, dan jika dia tidak mendapatkan hal itu dia akan merasa hidup sendiri (Stoppard, 2002). Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (2001), peningkatan partisipasi suami dalam perawatan kehamilan adalah perlu karena : (1). Suami merupakan pasangan dalam proses reproduksi, sehingga beralasan bila suami istri berbagi tanggung jawab dan peranan secara seimbang untuk mencapai kesehatan reproduksi dan berbagi beban untuk mencegah penyakit serta komplikasi kesehatan reproduksi dan kehamilan, (2). Suami bertanggung jawab secara sosial, moral dan ekonomi dalam membangun keluarga, (3). Suami secara nyata terlibat dalam fertilitas dan mereka mempunyai peran yang penting dalam mengambil keputusan (4). Partisipasi dan tanggung jawab suami baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perawatan kehamilan masih rendah.