You are on page 1of 19

BORANG PORTOFOLIO No ID Dan Nama Peserta No ID Dan Nama Wahana Topik Tanggal Kasus Tanggal Presentasi Pendamping Tempat

Presentasi Objektif Presentasi o Keilmuan o Diagnostik o Neonates o Bayi : : RSUD Sawahlunto : Appendicitis akut : 23-09-2012 : : dr. Fatma Yanti : Aula RSUD Sawahlunto : o Keterampilan o Penyegaran o Manajemen o Remaja o Masalah o Dewasa o Tinjauan Pustaka o Istimewa o Lansia o Bumil

Deskripsi

: Laki-laki 21 tahun masuk IGD RSUD Sawahlunto pukul 09.10 rujukan puskesmas talawi dengan keluhan nyeri perut kanan bawah lebih kurang 3 jam SMRS. : Mampu mengenali tanda tanda apendisitis akut, mampu melakukan tatalaksana awal, dan mampu mengetahui kompllikasi apendisitis akut.

Tujuan

Bahan Bahasan o Tinjauan Pustaka

: o Riset o Kasus o Audit

Cara Membahas o Diskusi

: o Email o Pos

o Presentasi dan Diskusi

Data Pasien

Nama / No registrasi : Pupung Suganda / 911912 Nama Klinik : RSUD Sawahlunto

Data Utama Untuk Bahan Diskusi 1. Gambaran Klinis Laki-laki usia 21 tahun masuk IGD RSUD Sawahlunto tanggal 23-09-2012 pukul 09.10 WIB rujukan puskesmas talawi, terpasang infus RL dengan keluhan nyeri perut sebelah kanan bawah yang semakin memberat sejak 3 jam sebelum masuk RS. 2. Keluhan Utama Nyeri perut sebelah kanan bawah yang semakin memberat sejak 3 jam sebelum masuk RS. 3. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak dua hari yang lalu pasien mengeluh nyeri perut dibawah pusat dan hari berikutnya nyeri perut berpindah dan menetap di perut kanan bawah. Nyeri terasa terus menerus. Pasien mengeluh mual (+), muntah (-). Demam dirasakan sejak satu hari yang lalu, tidak terlalu tinggi, tidak menggigil, tidak hilang timbul disertai penurunan nafsu makan. Buang air kecil dan buang air besar tidak ada keluhan. 4. Riwayat Pengobatan Pasien berobat ke puskesmas talawi dan di pasang IVFD RL 20 tts/menit, hyosin 1x1, antacid 3x1, amoxicillin 3x1, paracetamol 3x1. 5. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat nyeri perut bawah kanan sebelumnya tidak ada. Riwayat hipertensi (-), riwayat DM (-), riwayat penyakit jantung (-) 6. Riwayat Keluarga Riwayat hipertensi (-), riwayat DM (-), riwayat penyakit jantung (-) 7. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Suhu Tekanan darah Pernapasan Nadi : tampak sakit sedang : compos mentis cooperatif : 38,5 0 C : 120/70 mmHg : 22 x / menit : 82 x / menit

Kulit Kelenjar limfe Mata Thorak Cor Abdomen Inspeksi Palpasi

: turgor normal, tidak sianosis, tidak ikterik : tidak membesar : sclera ikterik (-), conjungtiva anemis (-) : : S1-2 reguler, bising (-)

Pulmo : vesikuler +/+, rh -/-, wh -/: : simetris, datar ,jaringan parut (-) : defense muscular (-), Rovsing sign (+), Blumberg sign (+), Nyeri tekan titik MC Burney (+) Nyeri lepas (-), Nyeri ketok CVA (-) Perkusi Auskultasi Lain-lain Alvarado Score Gejala : timpani : Bising usus (+) normal : Psoas sign (+), Obturator sign (+) : The Modified Alvarado Score Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bawah Mual-Muntah Anoreksia Tanda Nyeri di perut kanan bawah Nyeri lepas Demam diatas 37,5 C Pemeriksaan Lab Leukositosis Hitung jenis leukosit shift to the left Total 8. Diagnosis Kerja Suspek appendicitis akut Differential Diagnose Urolitiasis 9. Pemeriksaan Penunjang 7 Skor 1 1 1 2 1 1

Hb Leukosit

:15,4 g/dl : 12.900/ mm3

Ht Trombosit

: 41% : 298.000/ mm3

Alvarado score : 9 10. Diagnosis Kerja 11. Penatalaksanaan Konsul Dr.Alwin Sp.B IVFD RL 8 jam/ kolf 12. Follow Up Tanggal Klinis Instruksi Dokter IVFD RL 8 jam/ kolf Ceftriaxone 2x 1 gr Metronidazole 3x 1 infs Omeprazole 1 ampul Rencana OK besok Puasa mulai nanti malam 25-09-12 S/ Demam (+) Mual (+) nyeri perut (+) O/ Tanda vital : Abdomen : NT kanan bawah (+), DM (-), Timpani, BU (+) N A/ susp.appendisitis akut 13.00 wib pasien masuk OK dr bedah : dr.Alwin, SpB diagnosis pre op: susp.appendsitis akut jenis operasi: LE + appendiktomi diagnosis post op: appendicitis perforasi instruksi post op: puasa sampai BU (+) tidur telentang 24 jam mobilisasi 26-09-12 S/ demam (+) Nyeri bekas op (+) Th/ lain lanjut PCT 3x500mg, diet ML IVFD RL 8 jam/ kolf Ceftriaxone 2x 1 gr Metronidazole 3x 1 infs Ketoprofen 2x1 ampl Omeprazole 1x1 ampl Cek Hb post op Th/lanjut Ceftriaxone 2x 1 gr (skin test) Metronidazole 3x 1 infs : Suspek appendisiti akut

24-09-12 S/ demam (+) Mual (+), nyeri perut (+) O/ Tanda vital : Abdomen : NT kanan bawah (+), DM (-), Timpani, BU (+) N A/ susp.appendisitis akut

Flatus (+) O/ Tanda vital : Abdomen: distensi (-), NT (-), Bu (+)N Hb : 11,6 gr/dl Leukosit: 7.700/mm3 A/post LE + appendiktomi hari pertama Obs febris hari I 27-09-12 S/ demam (+) Nyeri bekas op (+) O/ Tanda vital : Abdomen: distensi (-), NT (-), Bu (+) A/post LE + appendiktomi hari kedua Obs febris hari II 28-09-12 S/ demam (+) Luka kering Nyeri bekas op (+) O/ Tanda vital : Abdomen: distensi (-), NT (-), Bu (+)N A/post LE + appendiktomi hari ketiga Obs febris hari III 29-09-12 S/ demam (+) mendingin Luka kering Nyeri bekas op (+) O/ Tanda vital : Abdomen: distensi (-), NT (-), Bu (+)N A/post LE + appendiktomi hari keempat Obs febris hari IV 1-10-12 S/ demam (+) berkurang Luka kering Cefadroxil 2x1 tab Ketoprofen 2x1 tab Th/ lain lanjut Cek malaria Cek widal Th/ lain lanjut Th/ lain lanjut Mobilisasi

Nyeri bekas op (+) O/ Tanda vital : Abdomen: distensi (-), NT (-), Bu (+) Labor: Hb Leukosit Ht Trombosit Malaria Widal : 10,7 g/dl : 9.500/ mm3 : 32% : 193.000/ mm3 : saat ini tidak ditemukan : H 1/80 , O 1/80

Paracetamol 3x1 tab Sohobion 1x1 tab

A/post LE + appendiktomi hari keenam Pasien boleh pulang

Hasil Pembelajaran 1. Mengetahui tanda tanda apendisitis akut 2. Melakukan tatalaksana awal 3. Mengetahui kompllikasi apendisitis akut

Subjektif Sejak dua hari yang lalu pasien mengeluh nyeri perut dibawah pusat dan hari berikutnya nyeri perut berpindah dan menetap di perut kanan bawah. Nyeri terasa terus menerus. Pasien mengeluh mual (+), muntah (-). Demam dirasakan sejak satu hari yang lalu, tidak terlalu tinggi, tidak menggigil, tidak hilang timbul disertai penurunan nafsu makan. Buang air kecil dan buang air besar tidak ada keluhan. Pasien berobat ke puskesmas talawi dan di pasang IVFD RL 20

tts/menit, hyosin 1x1, antacid 3x1, amoxicillin 3x1, paracetamol 3x1. Pasien bellum pernah menderita keluhan yang sama sebelumnya.

Objektif Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran Tanda vital Mata Kelenjar limfe Abdomen Inspeksi Palpasi

: compos mentis cooperatif : : sclera ikterik (-), conjungtiva anemis (-) : tidak membesar : : simetris, datar ,jaringan parut (-) : defense muscular (-), Rovsing sign (+), Blumberg sign (+), Nyeri tekan titik MC Burney (+)

Perkusi Auskultasi Lain-lain Alvarado Score

: timpani : Bising usus (+) normal : Psoas sign (+), Obturator sign (+) :9

Assessment Apendisitis Akut A. ANATOMI

Appendix merupakan organ berbentuk cacing, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi, appendix berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kea rah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, dibelakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. Vagus yang mengikuti a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X. oleh karena itu, nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus. Perdarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangrene. B. FISIOLOGI

Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir kedalam sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. C. ETIOLOGI Apendisitis akut merupakan infeksi bacteria. Berbagai hal berperan sebagai factor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan factor yang diajukan sebagai factor pencetus disamping hyperplasia jaringan limf, fekalit (feses keras), tumor apendiks, dan cacing askariasis dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. hystolitica. Apendisitis infiltrate terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh omentum dan atau keluk usus. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya

pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. D. DIAGNOSIS

Gejala Klinis Gejala Appendicitis acuta umumnya timbul kurang dari 36 jam, dimulai dengan nyeri perut yang didahului anoreksia. Gejala utama Appendicitis acuta adalah nyeri perut. Awalnya, nyeri dirasakan difus terpusat di epigastrium, lalu menetap, kadang disertai kram yang hilang timbul. Durasi nyeri berkisar antara 1-12 jam, dengan rata-rata 4-6 jam. Nyeri yang menetap ini umumnya terlokalisasi di RLQ. Variasi dari lokasi anatomi Appendix berpengaruh terhadap lokasi nyeri, sebagai contoh; Appendix yang panjang dengan ujungnya yang inflamasi di LLQ menyebabkan nyeri di daerah tersebut, Appendix di daerah pelvis menyebabkan nyeri suprapubis, retroileal Appendix dapat menyebabkan nyeri testicular. Umumnya, pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix, biasanya suhu naik hingga 38oC. Tetapi pada keadaan perforasi, suhu tubuh meningkat hingga > 39oC. Anoreksia hampir selalu menyertai Appendicitis. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya terjadi satu atau dua kali saja. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Umumnya, urutan munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia, diikuti nyeri perut dan muntah. Bila muntah mendahului nyeri perut, maka diagnosis Appendicitis diragukan. Muntah yang timbul sebelum nyeri abdomen mengarah pada diagnosis gastroenteritis.

Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang merasa nyeri berkurang setelah buang air besar. Diare timbul pada beberapa pasien terutama anak-anak. Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendix.

Tabel 1. Gejala Appendicitis acuta Gejala* Frekuensi (%)

Nyeri perut Anorexia Mual Muntah Nyeri berpindah

100 100 90 75 50

Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian 50 anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian demam yang tidak terlalu tinggi) *-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam Gejala Appendicitis yang terjadi pada anak dapat bervariasi, mulai dari yang menunjukkan kesan sakit ringan hingga anak yang tampak lesu, dehidrasi, nyeri lokal pada perut kanan bawah, bayi yang tampak sepsis. Pasien dengan peritonitis difus biasanya bernafas mengorok. Pada beberapa kasus yang meragukan, pasien dapat diobservasi dulu selama 6 jam. Pada penderita Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri dan tanda inflamasi yang khas.

Pada pemeriksaan fisik, perubahan suara bising usus berhubungan dengan tingkat inflamasi pada Appendix. Hampir semua pasien merasa nyeri pada nyeri lokal di titik Mc Burneys. Tetapi pasien dengan Appendix retrocaecal menunjukkan gejala lokal yang minimal. Adanya psoas sign, obturator sign, dan Rovsings sign bersifat konfirmasi dibanding diagnostik. Pemeriksaan rectal toucher juga bersifat konfirmasi dibanding diagnostik, khususnya pada pasien dengan pelvis abscess karena ruptur Appendix. Diagnosis Appendicitis sulit dilakukan pada pasien yang terlalu muda atau terlalu tua. Pada kedua kelompok tersebut, diagnosis biasanya sering terlambat sehingga Appendicitisnya telah mengalami perforasi. Pada awal perjalanan penyakit pada bayi, hanya dijumpai gejala letargi, irritabilitas, dan anoreksia. Selanjutnya, muncul gejala muntah, demam, dan nyeri.

Pemeriksaan fisik Secara klinis, dikenal beberapa manuver diagnostik:

Rovsings sign

Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada sisi kanan. Hal ini menggambarkan iritasi peritoneum. Sering positif pada Appendicitis namun tidak spesifik.

Psoas sign atau Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian dilakukan ekstensi Obraztsovas sign Obturator sign dari panggul kanan. Positif jika timbul nyeri pada kanan bawah. Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif jika timbul nyeri pada

hipogastrium atau vagina. Tabel 1. Sign of Appendicitis Secara teori, peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada pemeriksaan rektum (Rectal toucher). Namun, pemeriksaan ini tidak spesifik untuk Appendicitis. Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah positif, maka pemeriksaan rectal toucher tidak diperlukan lagi.

The Modified Alvarado Score Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bawah Mual-Muntah Anoreksia Tanda Nyeri di perut kanan bawah Nyeri lepas Demam diatas 37,5 C Pemeriksaan Leukositosis Lab Hitung jenis leukosit shift to the left Total Tabel 2. Alvarado scale untuk membantu menegakkan diagnosis.

Skor 1 1 1 2 1 1 2 1 10

Interpretasi dari Modified Alvarado Score: 1-4 5-7 : sangat mungkin bukan apendisitis akut : sangat mungkin apendisitis akut

8-10 : pasti apendisitis akut

Pemeriksaan penunjang Laboratorium Leukositosis ringan berkisar antara 10.000-18.000/ mm3, biasanya didapatkan pada keadaan akut, Appendicitis tanpa komplikasi dan sering disertai predominan polimorfonuklear sedang. Jika hitung jenis sel darah putih normal tidak ditemukan shift to the left pergeseran ke kiri, diagnosis Appendicitis acuta harus dipertimbangkan. Jarang hitung jenis sel darah putih lebih dari 18.000/ mm3 pada Appendicitis tanpa komplikasi. Hitung jenis sel darah putih di atas jumlah tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi Appendix dengan atau tanpa abscess. Ultrasonografi Ultrasonografi cukup bermanfaat dalam menegakkan diagnosis Appendicitis. Appendix diidentifikasi/ dikenal sebagai suatu akhiran yang kabur, bagian usus yang nonperistaltik yang berasal dari Caecum. Dengan penekanan yang maksimal, Appendix diukur dalam diameter anterior-posterior. Penilaian dikatakan positif bila tanpa kompresi ukuran anterior-posterior Appendix 6 mm atau lebih. Ditemukannya appendicolith akan mendukung diagnosis. Gambaran USG dari Appendix normal, yang dengan tekanan ringan merupakan struktur akhiran tubuler yang kabur berukuran 5 mm atau kurang, akan menyingkirkan diagnosis Appendicitis acuta. Penilaian dikatakan negatif bila Appendix tidak terlihat dan tidak tampak adanya cairan atau massa pericaecal. Sewaktu diagnosis Appendicitis acuta tersingkir dengan USG, pengamatan singkat dari organ lain dalam rongga abdomen harus dilakukan untuk mencari diagnosis lain. Pada wanita-wanita usia reproduktif, organ-organ panggul harus dilihat baik dengan pemeriksaan transabdominal maupun endovagina agar dapat menyingkirkan penyakit ginekologi yang mungkin menyebabkan nyeri akut abdomen. Diagnosis Appendicitis acuta dengan USG telah

dilaporkan sensitifitasnya sebesar 78%-96% dan spesifitasnya sebesar 85%-98%. USG sama efektifnya pada anak-anak dan wanita hamil, walaupun penerapannya terbatas pada kehamilan lanjut. USG memiliki batasan-batasan tertentu dan hasilnya tergantung pada pemakai. Penilaian positif palsu dapat terjadi dengan ditemukannya periappendicitis dari peradangan sekitarnya, dilatasi Tuba fallopi, benda asing (inspissated stool) yang dapat menyerupai appendicolith, dan pasien obesitas Appendix mungkin tidak tertekan karena proses inflamasi Appendix yang akut melainkan karena terlalu banyak lemak. USG negatif palsu dapat terjadi bila Appendicitis terbatas hanya pada ujung Appendix, letak retrocaecal, Appendix dinilai membesar dan dikelirukan oleh usus kecil, atau bila Appendix mengalami perforasi oleh karena tekanan. Pemeriksaan radiologi Foto polos abdomen jarang membantu diagnosis Appendicitis acuta, tetapi dapat sangat bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis banding. Pada pasien Appendicitis acuta, kadang dapat terlihat gambaran abnormal udara dalam usus, hal ini merupakan temuan yang tidak spesifik. Adanya fecalith jarang terlihat pada foto polos, tapi bila ditemukan sangat mendukung diagnosis. Foto thorax kadang disarankan untuk menyingkirkan adanya nyeri alih dari proses pneumoni lobus kanan bawah. Teknik radiografi tambahan meliputi CT Scan, barium enema, dan radioisotop leukosit. Meskipun CT Scan telah dilaporkan sama atau lebih akurat daripada USG, tapi jauh lebih mahal. Karena alasan biaya dan efek radiasinya, CT Scan diperiksa terutama saat dicurigai adanya Abscess appendix untuk melakukan percutaneous drainage secara tepat. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan barium enema tergantung pada penemuan yang tidak spesifik akibat dari masa ekstrinsik pada Caecum dan Appendix yang kosong dan dihubungkan dengan ketepatan yang berkisar antara 50-48 %. Pemeriksaan radiografi dari pasien suspek Appendicitis harus dipersiapkan untuk pasien yang diagnosisnya diragukan dan tidak boleh ditunda atau diganti, memerlukan operasi segera saat ada indikasi klinis.

E. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari Appendicitis acuta pada dasarnya adalah diagnosis dari akut abdomen. Hal ini karena manifestasi klinik yang tidak spesifik untuk suatu penyakit tetapi spesifik untuk suatu gangguan fisiologi atau gangguan fungsi. Jadi pada dasarnya gambaran klinis yang identik dapat diperoleh dari berbagai proses akut di dalam atau di sekitar cavum peritoneum yang mengakibatkan perubahan yang sama seperti Appendicitis acuta. Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi operasi, namun pada umumnya proses-proses penyakit yang diagnosisnya sering dikacaukan oleh Appendicitis sebagian besar juga merupakan masalah pembedahan atau tidak akan menjadi lebih buruk dengan pembedahan. Diagnosis banding Appendicitis tergantung dari 3 faktor utama: lokasi anatomi dari inflamasi Appendix, tingkatan dari proses dari yang simple sampai yang perforasi, serta umur dan jenis kelamin pasien. 1. Gastroenteritis akut a. Penyakit ini sangat umum pada anak-anak tapi biasanya mudah dibedakan dengan Appendicitis. Gastroentritis karena virus merupakan salah satu infeksi akut self limited dari berbagai macam sebab, yang ditandai dengan adanya diare, mual, dan muntah. Nyeri hiperperistaltik abdomen mendahului terjadinya diare. Hasil pemeriksaan laboratorium biasanya normal.

2. Infeksi saluran kencing Pyelonephritis acuta, terutama yang terletak di sisi kanan dapat menyerupai Appendicitis acuta letak retroileal. Rasa dingin, nyeri costo vertebra kanan, dan terutama pemeriksaan urine biasanya cukup untuk membedakan keduanya. 3. Batu Urethra Bila calculus tersangkut dekat Appendix dapat dikelirukan dengan Appendicitis retrocaecal. Nyeri alih ke daerah labia, scrotum atau penis,

hematuria, dan atau tanpa demam atau leukositosis mendukung adanya batu. Pyelografi dapat memperkuat diagnosis. 4. Kelainankelainan ginekologi Umumnya kesalahan diagnosis Appendicitis acuta tertinggi pada wanita dewasa muda disebabkan oleh kelainankelainan ginekologi. Angka ratarata Appendectomy yang dilakukan pada Appendix normal yang pernah dilaporkan adalah 32%45% pada wanita usia 1545 tahun. Penyakit penyakit organ reproduksi pada wanita sering dikelirukan sebagai Appendicitis, dengan urutan yang tersering adalah PID, ruptur folikel de Graaf, kista atau tumor ovarium, endometriosis dan ruptur kehamilan ektopik. Laparoskopi mempunyai peranan penting dalam menentukan diagnosis. a. Pelvic Inflammatory Disease (PID) Infeksi ini biasanya bilateral tapi bila yang terkena adalah tuba sebelah kanan dapat menyerupai Appendicitis. Mual dan muntah hampir selalu terjadi pada pasien Appendicitis. Pada pasien PID hanya sekitar separuhnya. b. Ruptur Folikel de Graaf Ovulasi sering mengakibatkan keluarnya darah dan cairan folikuler serta nyeri yang ringan pada abdomen bagian bawah. Bila cairan sangat banyak dan berasal dari ovarium kanan, dapat dikelirukan dengan Appendicitis. Nyeri dan nyeri tekan agak difus. Leucositosis dan demam minimal atau tidak ada. Karena nyeri ini terjadi pada pertengahan siklus menstruasi, sering disebut mittelschmerz.

F. KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi : Perforasi : Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi. Perforasi appendix akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang

ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler di seluruh perut, peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik.

Peritonitis : Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari apendisitis. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis generalisata. Dengan begitu, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan mungkin syok. Gejala : demam, lekositosis, nyeri abdomen, muntah, Abdomen tegang, kaku, nyeri tekan, dan bunyi usus menghilang

G. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta yaitu 1. Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia. 2. Puasakan pasien, jangan berikan apapun per oral 3. Pemberian obat-obatan analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah. 4. Pemberian antibiotika i.v. pada pasien yang menjalani laparotomi. 5. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia subur dan didapatkan beta-hCG positif secara kualitatif. Bila dilakukan pembedahan, terapi pada pembedahan meliputi; antibiotika profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut, digunakan single dose dipilih antibiotika yang bisa melawan bakteri anaerob.

H. PROGNOSIS Mortalitas dari Appendicitis di USA menurun terus dari 9,9% per 100.000 pada tahun 1939 sampai 0,2% per 100.000 pada tahun 1986. Faktor- faktor yang menyebabkan penurunan secara signifikan insidensi Appendicitis adalah sarana diagnosis dan terapi,

antibiotika, cairan i.v., yang semakin baik, ketersediaan darah dan plasma, serta meningkatnya persentase pasien yang mendapat terapi tepat sebelum terjadi perforasi.

Plan Diagnosis Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan diagnosis suspect appendisitis akut. Pengobatan Pada pasien dilakukan pemasagan IVFD RL 8 jam/ kolf, injeksi ceftriaxone 2x1gram, dan metranidazole infus 3x1 infs. Pendidikan Pada pasien dan keluarga dijelaskan tentang penyakitnya meliputi faktor resiko, gejala klinis, komplikasi, dan prognosis appendicitis akut. Konsultasi Pasien dikonsultasikan kepada dokter bedah untuk penatalaksanaan lebih lanjut.

Daftar Pustaka Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., Usus Halus, Apendiks, Kolon, Dan Anorektum, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005,hlm.639645. Simpson, J., Humes, D. J., Acute Appendicitis, BMJ, http://www.bmj.com/cgi/content/full/333/7567/530, 9 September 2006, 333: 530536. Bachtiar Murtala, radiological imaging on acute appendicities, jurnal kedokteran yarsi:14 (2):164-168 (2000). Appendicitis [Internet] [updated September 2010; cited April 2011]. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Appendicitis

Porotofolio 1

APPENDISITIS AKUT

Oleh dr.Pratiwi Putri Masrul Dokter Internsip

Pendamping Dr. Fatma Yanti

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SAWAHLUNTO 2012

REVISI

FOLLOW UP 25-09-12 S/ Demam (+) Mual (+) O/ Tanda vital : Abdomen : NT kanan bawah (+), DM (-), Timpani, BU (+) N A/ susp.appendisitis akut 13.00 wib pasien masuk OK dr bedah : dr.Alwin, SpB diagnosis pre op: susp.appendsitis akut jenis operasi: LE + appendictomy diagnosis post op: appendicitis perforasi instruksi post op: puasa sampai BU (+) tidur telentang 24 jam mobilisasi IVFD RL 8 jam/ kolf Ceftriaxone 2x 1 gr Metronidazole 3x 1 infs Ketoprofen 2x1 ampl Omeprazole 1x1 ampl Cek Hb post op

Alvarado score sebelum laboratorium : 7 Alvarado score setelah laboratorium : 9 Diagnosis post op : post LE + Appendiktomi