You are on page 1of 3

HAMPIRI AKU KEMBALI, RAMADHAN

Tanpa terasa, hari-hari menakjubkan di atas sajadah Ramadhan


akan segera berlalu. Kaum muslim bersiap-siap melantunkan
takbir dan tahmid seraya menyambut kemenangan Idul Fitri.
Adakah alasan untuk tidak merayakannya secara suka cita?

Ramadhan adalah kesempatan mendulang barokah, ampunan, dan


percikan kesucian untuk dijauhkan dari api neraka namun didekatkan pada
taman surga. Secara syariat, puasa diartikan menahan makan, minum, dan
“ibadah khusus” dengan suami atau istri, sesuai firman Allah SWT dalam surat
Al Baqarah. Pengertian itu membidik kendali fisik.
Perut yang kerap mengatur ritme pikiran dan hati diminta beristirahat
mengumbar keinginannya. Karena, manusia kerap memburu untuk kebutuhan
bagian itu dengan cara apa saja. Dalam artian, tidak lagi menimbang logika
apalagi nurani. Apa pun yang diinginkan harus didapat. Apa pun yang terlihat
didepan mata disikat. Sehingga, ketentuan Allah SWT yang disampaikan dalam
Al Qur’an dan praktek-prakteknya nyata yang dicontohkan Rasulallah SAW bisa
diabaikan.
Pada bagian itu, manusia telah mereinkarnasi perwujudan jiwanya
seperti manusia purba. Yakni, manusia yang belum diperkaya akal dan budi,
serta belum dilabeli fitrah khalifah. Dengan kata lain, tentu tidak ubahnya
dengan hewan. Kebutuhan perut di atas segala-galanya. Dan, ia halal saja
memperoleh kebutuhan lahiriah itu dengan cara semau-maunya. Tak peduli itu
hak orang lain.
Saya teringat nasihat kuno yang disampaikan Cak Nun dalam “Jejak
Tinju Pak Kiai”, setiap butir nasi dan tetes air yang memasuki tenggorokanmu,
perhatikan asal-usul kebenaran dan kebatilannya, posisi halal haramnya. Sebab

22
engkau sedang mengawali dan memproses takdir bagi anak-anak dan cucu-
cucumu”.
Bagian berbahaya lain yang menjadi fokus pelatihan, utamanya adalah
“saudara” seiman yang kerap tidak seamin di bawah perut. Untuk memenuhi
hajat yang satu itu, betapa manusia juga kerap mengabaikan norma dan
ketentuan agama. Bila ada kesempatan, maka untuk memenuhi hasrat hewani
itu pun kudu dituntaskan selekas-lekasnya. Bagian ini, lagi-lagi, mengingatkan
kita akan sifat dasar hewan yang tidak memiliki aturan.
Kedua hal itu merupakan simbol pemenuhan hawa nafsu manusia. Untuk
memperoleh keduanya, semua sifat dan karakter manusia bisa bermunculan
tanpa batas. Manusia bisa tidak mengenal lagi temannya, saudaranya, bahkan
orangtuanya. Maka, puasa menjadi latihan pengendaliannya. Puasa menjadi
kesempatan menempa perut dan “saudara” kita untuk bersabar dan bersyukur.
Bersabar untuk menunggu kesempatan memenuhi hak sesuai waktunya. Tidak
perlu tergesa-gesa, tetap di antrean, dan membiarkan manusia lain yang lebih
berhak untuk mendapatkannya. Karena, Yang Mahasabar telah mengatur
semuanya dengan sempurna. Sekaligus, bersyukur atas kesempatan menikmati
hakekat kehidupan dari Yang Mahasyukur. Bersyukur masih mendapatkan apa-
apa yang menjadi hak kita. Bersyukur masih bisa menikmatinya dengan penuh
keberkahan. Dan, bersyukur seantiasa mendapat kebaikan dan kenikmatanNya.
Bila persoalannya sekedar menahan makan, minum, dan “ibadah khusus”
dengan lawan jenis, maka tuntas sudah ujian-ujian itu dilewati. Tapi, apakah
sesederhana itu pemahamannya? Memang iya, bila kenikmatan Ramadhan
belum juga diraih.
Cobalah rasakan kedasyatan puasa, dengan lapar, haus, dan kendali
gairahnya itu. Cobalah merancang Ramadhan sebagai momen dasyat, dengan
senantiasa berkeinginan menyambutnya, menjalankan seluruh amaliyahnya,
dan bertekad menjadikan bulan-bulan lain laksana Ramadhan. Puasa bukan
hanya dijadikan ujian kendali fisik, tapi juga praktik mengendalikan hati dan
rasa.

23
Cobalah melihat lebih jelas keadaan di sekitar kita. Biarkan Ramadhan
membimbing panca indera, hati, dan rasa, untuk melihat keadaan di sekeliling
kita dengan jujur. Adakah sesuatu yang belum kita perbuat terhadapnya? Bila
tidak, maka Ramadhan harus membimbing tangan kita untuk menyentuhnya
dan berbuat banyak. Kebajikan, maksudnya.
Cobalah merenung barang sebentar, untuk meneliti kembali adakah
kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang masih diperbuat dengan perjalanan
ibadah kita. Baik menyangkut amaliyah terhadap Yang Mahasuci, atau
perbuatan-perbuatan nyata terhadap makhluk-makhluk ciptaanNya. Introspeksi
ini mesti membuahkan catatan tentang kekurangan-kekurangan yang harus
diperbaiki. Masih adakah manusia lain yang terzalimi ulah kita? Masih adakah
hak manusia lain yang terengut keserakahan kita? Masih adakah kebahagiaan
yang belum disalurkan kepada manusia lain?
Cobalah tidak melulu memikirkan pahala atau ganjaran atas ibadah-
ibadah nyata, seperti puasa, shalat fardhu, shalat tarawih, tadarus, dan
amaliyah lain. Tapi, berpikir juga melakukan semua itu bukan atas dasar
imbalan atau pamrih. Tapi, semata-mata kecintaan kepada Allah SWT. Termasuk
juga dalam berbuat kebajikan kepada orang lain, yang tidak lagi berpikir
tentang pujian dari sesama dan pahala dari Yang Mahamemberi. Lagi-lagi,
semata-mata kecintaan kepada Allah SWT.
Buah dari nilai kesejatian Rukun Islam ke-4 itu, tidak lain ridha Allah.
Hanya atas ridhaNyalah, kita benar-benar berharap untuk senantiasa dihampiri
Ramadhan dan menjalani keindahan hari-harinya. Sekaligus menjadikan kita
sebagai manusia yang wajib hadir di muka Bumi (sebagai khalifah), bukan
manusia yang sunnah, makruh, apalagi haram.
Mohon maaf lahir batin. Selamat idul Fitri 1429 Hijriah.[]

Komentar pembaca bisa diunduh di:


(http://blog.liputan6.com/2008/10/05/hampiri-aku-kembali-ramadhan

24