You are on page 1of 23

IMUNISASI

A.

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Indonesia adalah : 1. Difteri Difteri adalah yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebarannya adalah melalui kontak fisik dan pernafasan. Gejala awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Difteri dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernafasan yang berakibat kematian. 2. Pertusis Pertusis disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari adalah penyakit pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyebaran pertusis adalah melalui tetesantetesan kecil yang keluar dari batuk atau bersin. Gejala penyakit adalah pilek, mata merah, bersin, demam dan batuk ringan yang cepat dan keras. Komplikasi pertusis adalah pneumonia bacterialis yang dapat menyebabkan kematian. 3. Tetanus Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan kotoran yang masuk ke dalam luka yang

dalam. Gejala awal penyakit adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam. Pada bayi terdapat juga gejala berhenti menetek (sucking) antara 3 sampai dengan 28 hari setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasi tetanus adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang dapat menimbulkan kematian. 4. Tuberculosis Adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa (disebut juga batuk darah). Penyakit ini menyebar melalui pernapasan lewat bersin atau batuk. Gejala awal penyakit adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat pada malam hari. Gejala selanjutnya adalah batuk terus menerus, nyeri dada dan (mungkin) batuk darah. Gejala lain tergantung pada organ yang diserang. Tuberculosis dapat menyebabkan kelemahan dan kematian. 5. Campak Adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Myxovirus viridae measles. Disebarkan melalui udara sewaktu droplet bersin atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek, conjunctivitis (mata merah). Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh

dan tangan serta kaki. Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga dan infeksi saluran nafas (pneumonia). 6. Poliomyelitis Merupakan penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio tipe 1, 2, atau 3. Secara klinis penyakit polio adalah anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut ( Acute Flaccid Paralysis / AFP). Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan terinfeksi dan tidak segera ditangani. 7. Hepatitis B Hepatitis B (penyakit kuning) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penyebaran penyakit adalah dari darah dan produksinya melalui suntikan yang tidak aman, melalui transfusi darah, dari ibu ke bayi selama proses persalinan atau melalui hubungan seksual. Infeksi pada anak seringkali subklinis dan biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala infeksi klinis akut yang ada adalah merasa lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu. Urine menjadi kuning, kotoran menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat pula pada mata ataupun kulit. Penyakit

ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan Cirrhosis hepatic, kanker hati dan menimbulkan kematian.

B.

Jenis dan Sifat Vaksin Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan seseorang. 1. Penggolongan Vaksin Vaksin dapat digolongkan menurut sensitifitas terhadap suhu. Ada 2 golongan yaitu : a. Vaksin yang sensitive terhadap beku (freeze Sensitive/FS), yaitu: Vaksin DPT, DT(pada usia sekolah), TT(untuk ibu hamil), Hepatitis B dan DPT-HB. b. Vaksin yang sensitive terhadap panas (Heat Sensitive/HS), yaitu: Vaksin campak, polio dan BCG. 2. Jenis jenis vaksin Vaksin-vaksin yang saat ini dipakai dalam program imunisasi rutin di Indonesia adalah : a. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine) 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan terhadap tuberculosis. 2) Cara pemberian dan dosis dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh

Sebelum

disuntikkan vaksin harus dilarutkan terlebih

dahulu dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5ml). Dosis pemberian : 0,05 ml, sebanyak 1 kali Disuntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion musculus deltoideus), dengan menggunakan ADS 0,05 ml Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam. 3) Kontra indikasi Adanya penyakit kulit yang berat/menahun seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya. Mereka yang sedang menderita TBC.

4) Efek samping Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntikan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut. Kadang-kadang terjadi

pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak menimbulkan demam.

Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya. b. Vaksin DPT 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis dan tetanus. 2) Cara pemberian dan dosis Sebelum digunakan vaksin dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Disuntikkan secara intra muskuler dengan dosis

pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1 bulan). 3) Kontra indikasi Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontra indikasi pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua, dan untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT. 4) Efek samping

Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti : lemas, demam, kemerahan pada tempat suntikan, kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan memacu yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi. c. Vaksin TT 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus. 2) Cara pemberian dan dosis A. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. B. Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara intramuscular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ketiga dan ke empat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada trimester pertama.

3) Kontra indikasi

Gejala-gejala berat karena dosis pertama TT. 4) Efek samping Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan. Gejala gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan bersifat sementara, dan kadang-kadang gejala demam. d. Vaksin DT 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus. 2) Cara pemberian dan dosis Sebelum digunakan vaksin dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Disuntikkan secara intramuscular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml. Dianjurkan untuk anak usia di bawah 8 tahun. Untuk usia 8 tahun atau lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin Td. 3) Kontra indikasi Gejala-gejala berat karena dosis pertama DT 4) Efek samping Gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi sementara dan kadang-kadang gejala demam. e. Vaksin Polio

1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis. 2) Cara pemberian dan dosis Diberikan secara IM, 1 dosis 0,5 ml/ pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu 3) Kontra indikasi Pada individu yang menderita immune deficiency. Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian vaksin polio pada anak yang sedang sakit. 4) Efek samping Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa paralysis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0,17 : 1000.0000; Bull WHO 66:1988). f. Vaksin Campak 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak. 2) Cara pemberian dan dosis Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9 - 11 bulan dan ulangan (booster) pada usia 6 - 7 tahun (kelas 1 SD) setelah

catch-up campaign campak pada anak Sekolah Dasar kelas 1-6. 3) Kontra indikasi Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, lymphoma. 4) Efek samping Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi. g. Vaksin Hepatitis B 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B. 2) Cara pemberian dan dosis Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 (buah) HB PID, pemberian suntikan secara intra muskuler,

sebaiknya pada anterolateral paha. Pemberian sebanyak 3 dosis, dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)

10

3) Kontra indikasi Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain. Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang. 4) Efek samping Reaksi local seperti rasa sakit, kemerahan dan

pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari. h. Vaksin DPT/HB 1) Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B. 2) Cara pemberian dan dosis Pemberian dengan cara intra muskuler 0,5 ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan). 3) Efek samping Reaksi local seperti rasa sakit, kemerahan dan

pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.

I. PERALATAN RANTAI VAKSIN

11

Yang dimaksud dengan peralatan rantai vaksin adalah seluruh peralatan yang digunakan dalam pengelolaan vaksin sesuai dengan prosedur untuk menjaga vaksin pada suhu yang telah ditetapkan. A. Jenis Peralatan Rantai Vaksin 1. Lemari Es Berdasarkan system pendinginannya, lemari es dibagi 2, yaitu : Sistem kompresi dan absorbsi. Perbedaan kedua system tersebut adalah : a. b. Sistem Kompresi Lebih cepat dingin Mengg unakan kompresor sebagai mekanik yang dapat menimbulkan aus Hanya dengan listrik AC/DC Bila terjadi kebocoran panda system mudah diperbaiki a. b. Sistem Absorbsi Pendingina n lebih lambat Tidak menggunakan mekanik sehingga tidak ada bagian yang bergerak sehingga tidak ada aus Dapat dengan listrik AC/DC atau nyala api minyak tanah/gas Bila terjadi kebocoran panda system tidak dapat diperbaiki

c. d.

c. d.

Bila suhu panda lemari es sudah stabil antara +2 0 C sampai dengan +80 C, maka posisi thermostat jangan dirubah-rubah BERI SELOTIP Merubah thermostat bila suhu pada lemari es dibawah +20 C atau diatas +80 C. Perubhaan thermostat tidak dapat merubah suhu lemari es dalam sesaat. Perubahan suhu dapat diketahui setelah 24 jam

12

Menurut bentuk pintunya, lemari es dibagi dua : buka atas dan buka depan. Perbedaan antara bentuk pintu buka depan dan bentuk pintu buka ke atas. Bentuk buka dari depan a. Suhu tidak stabil. Pada saat pintu lemari es dibuka ke depan maka suhu dingin dari atas akan turun kebawah dan ke luar. b. Bila listrik pada relative tidak dapat bertahan lama c. Jumlah vaksin yang dapat ditampung sedikit d. Susunan vaksin menjadi mudah dan vaksin terlihat jelas dari samping. Bentuk buka dari atas a. Suhu lebih stabil. Pada saat pintu lemari es dibuka ke atas maka suhu dingin dari atas akan turun ke bawah dan tertampung. b. Bila listrik padam relative suhu dapat bertahan lama. c. Jumlah vaksin yang dapat ditampung lebih banyak d. Penyusunan vaksin agak sulit karena vaksin bertumpuk dan tidak jelas dilihat dari atas.

2. Vaccine carrier / thermos Vaccine carrier/thermos adalah alat untuk mengirim/membawa vaksin dari puskesmas ke posyandu atau tempat pelayanan imunisasi lainnya yang dapat mempertahankan suhu +2 0 C sampai dengan +80 C. 3. Kotak dingin cair Adalah wadah plastic berbentuk segi empat yang diisi dengan air yang kemudian didinginkan pada es selama 24 jam.

A. Pemantauan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

13

Definisi KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada kejadian tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari ( arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau sampai 6 bulan (infeksi virus campak vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio). 1. Klasifikasi KIPI (WHO) a. Reaksi Vaksin (Vaccine reaction) Induksi vaksin (vaccine reaction); instrisik vaksin vs individu potensiasi vaksin (vaccine potentiated): gejala timbul dipicu oleh vaksin. Kejadian disebabkan atau dipicu oleh vaksin walaupun diberikan secara benar Disebabkan oleh sifat dasar dari vaksin.

b. Kesalahan program Sebagain besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi ksalahan program penyimpanan, pengelolaan dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, misalnya: Dosis antigen (terlalu banyak) Lokasi dan cara penyuntikan Sterilisasi spuit dengan jarum

14

Jarum bekas pakai Tindakan aseptik dan antiseptik Kontaminasi vaksin dan alat suntik Penyimpanan vaksin Pemakaian sisa vaksin Jenis dan jumlah pelarut vaksin Tidak memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk

pemakaian, indikasi kontra, dll) c. Kebetulan (Coincidental) Kejadian terjadi setelah imunisasi tapi tidak disebabkan oleh vaksin. Indikator faktor kebetulan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakter serupa tetapi tidak mendapat imunisasi. d. Reaksi Suntikan (Injectio Reaction) Kejadian yang disebabkan oleh rasa takut/gelisah atau sakit dari tindakan penyuntikan dan bukan dari vaksin. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntik, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual. e. Penyebab tidak diketahui, Penyebab kejadian tidak dapat ditetapkan. 2. Gejala Klinis KIPI

15

Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan syaraf pusat, serta reaksi lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin berat gejalanya. 3. Surveilans KIPI Surveilans KIPI adalah untuk mendeteksi dini, merespon kasus KIPI dengan cepat dan tepat, mengurangi dampak negative imunisasi untuk kesehatan individu dan pada program imunisasi. Hal ini adalah merupakan indikator kualitas program. Kegiatan surveilans KIPI meliputi: Mendeteksi, memperbaiki dan mencegah kesalahan program. Mengidentifikasi peningkatan rasio KIPI yang tidak wajar pada batch vaksin atau merek vaksin tertentu. Memastikan bahwa suatu kejadian yang diduga KIPI merupakan koinsidens (suatu kebetulan) Menimbulkan kepercayaan masyarakat pada program imunisasi dan memberi respons yang tepat terhadap perhatian orang tua/masyarakat tentang keamanan imunisasi di tengah

kepedulian (masyarakat dan professional) tentang adanya risiko imunisasi. Memperkirakan angka kejadian KIPI (rasio KIPI) pada suatu populasi.

16

Pelaporan KIPI Hal-hal perlu diperhatikan pada pelaporan : Identitas: nama anak, tanggal dan tahun lahir (umur) jenis kelamin, nama orang tua dan alamat harus jelas. Jenis vaksin yang diberikan, dosis, nomor batch, siapa yang memberikan vaksin sisa disimpan dan diperlukan seperti vaksin yang masih utuh. Nama dokter yang bertanggung jawab. Adakah KIPI pada imunisasi terdahulu. Gejala klinis yang timbul dan atau diagnosis (bila ada) bila tidak terdeteksi dalam kolom tertulis. Pengobatan yang diberikan dan perjalanan penyakit, (sembuh, dirawat atau meninggal).

Sertakan hasil laboratorium yang pernah dilakukan. Tulis juga apabila terdapat penyakit lain yang menyertai. Waktu pemberian imunisasi (tanggal, jam) Saat timbulnya gejala KIPI sehingga diketahui, berapa lama interval waktu antara pemberian imunisasi dengan terjadinya KIPI. Apakah terdapat gejala sisa, setelah dirawat dan sembuh. Bagaimana cara menyelesaikan masalah KIPI (kronologis) Adakah tuntutan dari keluarga.

Hal-hal yang dipandang perlu dilaporkan KIPI yaitu;

17

a. KIPI yang harus dilaporkan 24 jam pasca imunisasi Reaksi anafilaktoid (reaksi hipersensitivitas akut) Anafilaksis Menangis yang tidak berhenti selama > 3 jam ( persistent inconsolable screaming). Hypotonic hyporesponsive episode Toxic shock syndrome

b. KIPI yang harus dilaporkan 5 hari pasca imunisasi Reaksi lokal hebat Sepsis Abses pada bekas suntikan (infeksi/steril).

c. KIPI yang harus dilaporkan 30 hari pasca imunisasi KIPI terjadi dalam 30 hari setelah imunisasi (satu gejala atau lebih). Ensalopati Kejang Meningitis aseptic Trombositopenia Lumpuh layu (acute flaccid paralysis) Meninggal, dirawat di RS Reaksi lokal yang hebat Abses didaerah suntikan Neuritis Brakhial

18

Hal-hal yang dipandang perlu dilaporkan/wajib untuk dilaporkan : KIPI yang harus dilaporkan3 bulan pasca imunisasi hari. Neuritis brakhialis : tetanus 2-28 hari Lumpuh layu (acute flaccid paralysis)/ polio : 4-30

KIPI yang harus dilaporkan 1-12 bulan pasca imunisasi Limfadenitis Dissemnated BCG-itis Osteitis/Osteomielitis.

KIPI yang harus dilaporkan pasa imunisasi (tanpa batas waktu) Semua kematian Semua penerima vaksin yang dirawat Semua kejadian berat dan tidak biasa (diduga berhubungan dengan imunisasi oleh petugas atau masyarakat)

4. Tatalaksana Kasus KIPI No KIPI Gejala Tindakan 1 Vaksin Reaksi Nyeri, eritema, Kompres Lokal bengkak di daerah hangat ringan bekas suntikan,1 Jika nyeri cm mengganggu Timbul , 48 jam dapat diberikan setelah imunisasi parasetamol 1 tablet Reaksi Eritema/indurasi Kompres lokal berat >8 cm hangat (jarang Nyeri, bengkak Parasetamol terjadi) dan manifestasi -1 tablet sistemik Reaksi Nyeri, bengkak, Kompres Arthus

Keterangan Pengobatan dapat dilakukan oleh guru UKS atau orang tua

19

Reaksi umum (sistemik)

indurasi dan edema Terjadi akibat reimunisasi pada pasien dengan kadar antibody yang masih tinggi Timbul beberapa jam dengan puncaknya 12-36 jam setelah imunisasi Demam, lesu, nyeri otot, nyeri kepala dan menggigil

Parasetamol -1 tablet Dirujuk dan dirawat di RS

Kolaps/kea Episode hipotonik daan hiporesponsif seperti Anak tetap sadar syok tetapi tidak bereaksi terhadap rangsangan Pada pemeriksaan frekuensi, amplitude nadi serta tekanan darah tetap dalam batas normal. Sindrom Lumpuh layu, Rujuk segera Perlu untuk Gullainsimetris, ke RS untuk survey AFP Barre asendens perawatan dan (jarang (menjalar keatas) pemeriksaan terjadi) biasanya tungkai labih lanjut bawah. Ataksia Penurunan refleksi tendon Gangguan menelan Gengguan pernafasan Parestesi

Berikan minum hangat dan selimut Parasetamol -1 tablet Rangsang dengan wangian atau bahan yang merangsang Bila belum dapat diatasi dalam waktu 30 menit segera rujuk ke Puskesmas terdekat

20

Meningimus Tidak demam Peningkatan protein dalam cairan serebrospinal tanpa pleositosis Terjadi antara 5 hari-6 minggu setelah imunisasi Perjalanan penyakit dari 1 s/dan 3-4 hari Prognosis umumnya baik Neuritis Nyeri di dalam brakial terus menerus (Neuropati pada daerah bahu pleksus dan lengan atas brakilalis) Terjadi 7 jams/dan 3 minggu setelah imunisasi Syok Terjadi mendadak anafilaksis Gejala klasik, kemerahan merata, edem. Urtikaria, sembab pad kelopak mata, sesak, nafas berbunyi Jantung berdebar kencang Anak pingsan/tidak sadar Dapat pula terjadi langsung berupa tekanan darah menurun dan pingsan tanpa diketahui gejala lain. Tatalaksa na

Parasetamol -1 tablet Bila gejala menetap rujuk ke RS untuk fisioterapi Suntikan adrenalin 1:1000, dosis 1-0,3 ml Jika pasien membaik dan stabil dilanjutkan dengan suntikan deksametason (1amp) secaraintraven a/intramuscular Segera pasang infuse NaCL 0,9% 12 tetes/menit Rujuk ke RS terdekat

21

Program Abses dingin

Pembeng Kakan

Bengkak dan Kompres keras, nyeri hangat daerah bekas Parasetamol suntikan. Terjadi -1 tablet karena vaksin disuntikan masih dingin Bengkak disekitar Kompres bekas suntikan hangat Terjadi karena penyuntikan kurang dalam Kompres hangat Parasetamol -1 tablet Rujuk ke RS terdekat

Jika tidak ada perubahan hubungi puskesmas terdekat Jika tidak ada perubahan hubungi puskesmas terdekat

Bengkak disekitar suntikan Demam Terjadi karena jarum suntik tidak steril Gejala timbul 1 minggu atau lebih setelah peyuntikan Tetanus Kejang, dapat disertai dengan demam, anak tetap sadar Kelumpuha Lengan sebelah n/kelemah (daerah yang an otot disuntik), tidk bias digerakan Terjadi karena daerah penyuntikan salah (bukan pertengahan muskulus deltoid) Faktor penemu/pe jamu Alergi Pembengkakan bibir dan tenggorokan, sesak nafas Sepsis

Rujuk ke terdekat

RS

Rujuk ke RS terdekat untuk fisioterapi.

Suntikan dexametason 1 amp im/iv. Jika berlanjut

Tanyakan pada orang tua adakah penyakit

22

Faktor psikologis

eritema, papula pasang infuse terasa gatal NaCL 0,9% 12 Tekanan darah tetes/menit menurun Ketakutan Tenangkan penderita. Beri Berteriak minum air Pingsan hangat Beri wewangian/alc ohol

alergi

Sebelum penyuntikan guru sekolah dapat memberikan pengertian dan menenangka n murid. Bila berlanjut hubungi puskesmas

Koinsidens Gejala penyakit Tangani (faktor terjadi secara penderita kebetulan) kebetulan sesuai gejala bersamaan Cari informasi dengan waktu apakah ada imunisasi kasus lain di Gejala dapat sekitarnya berupa salah satu pada anak gejala KIPI yang tidak di tersebut diatas imunisasi atau bentuk lain Kirim ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut

23