You are on page 1of 27

BAB I LANDASAN TEORI

A. Pengertian

Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon. Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih parah. Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk mengobati kanker Colon. Karsinoma atau kanker kolon ialah suatu bentuk keganasan yang tumbuh lambat yang paling sering ditemukan daerah kolon terutama pada sekum, desendens bawah, dan kolon sigmoid. Prognosa optimistik , tanda dan gejala awal biasanya tidak ada. (Susan Martin Tucker, 1998). Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat).

B. Patofisiologi

Kanker kolon dan rektum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus) dimulai sebagai polop jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup sertamerusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati). Tumor yang berupa massa polipoid besar, tumbuh ke dalam lumen dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai cincin anular. Lesi anular lebih sering terjadi pada bagian rektosigmoid, sedangkan polipoid atau lesi yang datar lebih sering terdapat pada sekum dan kolon asendens. Secara histologis, hampir semua kanker usus besar adalah adenokarsinoma (terdiri atas epitel kelenjar ) dan dapat mensekresi mukus yang jumlahnya berbeda beda. Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kirakira pada bagian (Sthrock 1991) :
1. 2. 3.

26 % pada caecum dan ascending colon 10 % pada transfersum colon 15 % pada desending colon

4. 5.

20 % pada sigmoid colon 30 % pada rectum

Tumor dapat menyebar melalui : 1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih. 2. Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. 3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah balik ke sistem portal. Gejala klinis kanker usus besar yang paling sering adalah perubahan pola defekasi adanya perdarahan per anus, nyeri, anemia, anoreksia dan penurunan berat badan tanda dan gejala penyakit ini bervariasi sesuai dengan letak kanker, dan sering menjadi kanker yang mengenai bagian kanan dan kiri usus besar . Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidyat (1197) diantaranya: 1. Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan dinding usus besar (lapisan mukosa). 2. Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di bawah lapisan mukosa. 3. Pada stadium III sel kanker sudah menyebur ke sebagian kelenjar limfe yang banyak terdapat di sekitar usus. 4. Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh kelenjar limfe atau bahkan ke organ-organ lain.

Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu: 1. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap. 2. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung. 3. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi. 4. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses. 5. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok. Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan.Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode.Tumor mungkin menyebar dalam

tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat.Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa,setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk : 1. Kelenjar adrenalin 2. Ginjal 3. Kulit 4. Tulang 5. Otak

C. Etiologi

Terdapat beberapa etiologi utama kanker yaitu: 1. Diet Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat (sayursayuran, buah-buahan), kebiasaan makan makanan berlemak tinggi dan sumber protein hewani. Makanan-makanan yang pasti dicurigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut,yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ). Makanan yang harus dihindari : a. Daging merah b. Lemak hewan c. Makanan berlemak d. Daging dan ikan goreng atau panggang e. Karbohidrat yang disaring (sari yang disaring) Makanan yang harus dikonsumsi: a. Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya craciferous vegetables dari golongan kubis (brokoli, brussels sprouts) b. Butir padi yang utuh 3

c.

Cairan yang cukup, terutama air.

2. Kelainan Kolon a. Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma. b. Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna menjadi karsinoma c. Kondisi ulserative : Penderita colitis ulserativa menahun mempunyai risiko terkena karsinoma kolon. 3. Genetik Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon mempunyai frekuensi 3 kali lebih banyak daripada anak anak yang orangtuanya sehat (FKUI, 2001 : 207). 4. Radiasi dan paparan zat kimia dan senyawa lain yang berpotensi menimbulkan reaksi karsinogenik.

D. Manifestasi Klinik

1.

Perubahan kebiasaan defekasi a. Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare). b. Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal c. Perubahan wujud fisik kotoran/feses 1) Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar 2) Feses bercampur lender (carcinoma musinosum) 3) Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas

2. Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan (nyeri abdominal tumpul dan melena) adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam seperti ter). Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi dan distensi)

serta adanya darah merah segar dalam feses. Gejala yang dihubungkan dengan lesi rektal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian serta feses berdarah. 3. Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita 4. Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll). Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya.

Gejala umum adanya kanker kolon meliputi: 1. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan) 2. Hilangnya nafsu makan 3. Anemia, pasien tampak pucat 4. Sering merasa lelah 5. Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang 6. Teraba massa di perut, akibat penyumbatan kolon.

E. Penatalaksanaan Medis

1. Pembedahan Reseksi. Satu-satunya pengobatan definitif adalah pembedahan reseksi dan biasanya diambil sebanyak mungkin dari kolon, batas minimal

adalah 5 cm di sebelah distal dan proksimal dari tempat kanker. Untuk kanker di sekum dan kolon asendens biasanya dilakukan hemikolektomi kanan dan dibuat anastomosis ileo-transversal. Untuk kanker di kolon transversal dan di pleksura lienalis, dilakukan kolektomi subtotal dan dibuat anastomosis ileosigmoidektomi. Pada kanker di kolon desendens dan sigmoid dilakukan hemikolektomi kiri dan dibuat anastomosis kolorektal transversal. Untuk kanker di rektosigmoid dan rektum atas dilakukan rektosigmoidektomi dan dibuat anastomosis. Desenden kolorektal. Pada kanker di rektum bawah dilakukan proktokolektomi dan dibuat anastomosis kolorektal. 2. Kolostomi Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini dapat bersifat sementara atau permanen. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai diversi sementara atau permanent. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi, yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar. Dengan kolostomi, isi usus besar dikosongkan melalui lubang di dinding perut ke dalam suatu kantung, yang disebut kantung kolostomi. Bila memungkinkan, rektum yang diangkat hanya sebagian, dan menyisakan ujung rektum dan anus. Kemudian ujung rektum disambungkan ke bagian akhir dari kolon. Pengobatan utama pada kanker kolorektal adalah pengangkatan bagian usus yang terkena dan sistem getah beningnya. Tiga puluh persen penderita tidak dapat mentoleransi pembedahan karena kesehatan yang buruk, sehingga beberapa tumor diangkat melalui elektrokoagulasi. Cara ini bisa meringankan gejala dan memperpanjang usia, tapi tidak menyembuhkan tumornya. Pada kebanyakan kasus kanker kolon, bagian usus yang ganas diangkat dengan pembedahan dan bagian yang tersisa disambungkan lagi. Untuk kanker rektum, jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh jarak kanker ini dari anus dan seberapa dalam dia tumbuh ke dalam dinding rectum. Pengangkatan seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani kolostomi menetap (pembuatan hubungan antara dinding perut dengan kolon). Tujuan pembuatan kolostomi adalah: a. Untuk tindakan dekompresi usus pada kasus sumbatan / obstruksi usus. b. Sebagai anus setelah tindakan operasi yang membuang rektum karena adanya tumor atau penyakit lain. c. Untuk membuang isi usus besar sebelum dilakukan tindakan operasi berikutnya untuk penyambungan kembali usus (sebagai stoma sementara).

Jenis-Jenis Kolostomi. a. Jenis kolostomi berdasarkan sifatnya: 1) Sementara Indikasi untuk kolostomi sementara : a) Hirschprung disease b) Luka tusuk atau luka tembak c) Atresia ani letak tinggi d) Untuk mempertahankan kelangsungan anastomosis distal usus setelah tindakan operasi (mengistirahatkan usus). e) Untuk memperbaiki fungsi usus dan kondisi umum sebelum dilakukan tindakan operasi anastomosis. 2) Permanen Indikasi untuk kolostomi permanen adalah penyakit tumor ganas pada kolon yang tidak memungkinkan tindakan operasi reseksi-anastomosis usus. b. Jenis kolostomi berdasarkan letaknya : Colostoy Asendens Lokasi Colon Asendens Colostomy Transversal Colon Tansversum Colostomi Desendens Colon Desendens

Konsistensi Cair atau lunak Lunak Padat feses Mudah terjadi, Mungkin terjadi karena kontak Iritasi kulit karena lembab terusKadang terjadi dengan enzim menerus pencernaan Striktur atau retraksi Komplikasi stoma Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Pasien yang Memerlukan Kolostomi a. Intervensi Keperawatan Praoperasi 1) Dukungan Psikososial Pasien yang didiagnosis kanker kolon atau rektum memerlukan kolostomi permanen dan merasa sedih akibat diagnosa penyakit dan rencana pembedahan. Pasien yang menjalani pembedahan untuk kolostomi sementara dapat mengekspresikan rasa takut dan masalah yang serupa dengan individu yang memiliki stoma permanen. Berdiskusi dengan individu yang berhasil menghadapi kolostomi sering membantu pasien. Perubahan yang terjadi pada citra tubuh dan gaya hidup sering sangat mengganggu, dan pasien memerlukan dukungan empatis dalam mencoba menyesuaikannya. Karena 7

stoma ditempatkan pada abdomen, pasien dapat berfikir bahwa setiap orang akan melihat ostomi. Perawat dapat membantu mengurangi ketakutan ini dengan memberikan informasi aktual tentang prosedur pembedahan dan pembentukan serta penatalaksanaan ostomi. Konsultasi dengan ahli terapi enterostoma selama periode praoperatif sangat membantu.

2) Persiapan Pembedahan Diet tinggi kalori, rendah residu biasanya diberikan selama beberapa hari sebelum pembedahan, bila waktu dan kondisi pasien memungkinkan. Terapi komponen darah dapat diberikan karena biasanya terjadi anemia. Intubasi nasogastrik dapat diindikasikan untuk meminimalkan distensi pada periode pascaoperatif. Kateter indwelling dipasang untuk membantu mempertahankan balutan parineal pascaoperatif tetap kering.

b. Intervensi Keperawatan Pascaoperatif Pasien yang menjalani kolostomi dibantu turun dari tempat tidur pada hari pertama pascaoperatif dan didorong untuk mulai berpartisipasi dalam menghadapi kolostomi. Kembalinya diet ke pola normal berlangsung sangat cepat. Sedikitnya 2 L cairan/hari dianjurkan. Setiap upaya dibuat untuk mendorong pasien hidup seperti sebelum pembedahan. Pertimbangan Gerotologi. Pasien lansia dapat mengalami penurunan penglihatan sampai beberapa derajat dan kerusakan pendengaran, serta kesulitan melakukan dalam keterampilan yang memerlukan koordinasi motorik halus. Karenanya, membantu pasien memegang alat ostomi pada periode praoperatif dan simulasi pembersihan kulit periostomal dan irigasi stoma akan membantu klien. Ketidaksengajaan akibat jatuh sering terjadi pada lansia. Karenanya, penting untuk memastikan apakah pasien dapat berjalan tanpa bantuan ke kamar mandi. Perawatan kulit adalah masalah utama untuk para lansia dengan ostoma, karena pada lansia terjadi perubahan pada kulit akibat proses penuaan. Beberapa pasien mengalami perlambatan eliminasi setelah irigasi akibat penurunan peristaltik dan produksi mukus. Kebanyakan pasien memerlukan waktu sampai 6 bulan untuk merasa nyaman dengan perawatan ostomi mereka.

1) Menangani Kolostomi Fungsi kolostomi akan mulai tampak pada hari ke 3 sampai hari ke 6 pascaoperatif. Perawat menangani kolostomi sampai pasien dapat mengambil alih perawatan ini. Perawatan kulit harus diajarkan bersamaan dengan menerapkan drainase kantung dan melaksanakan irigasi. a) Perawatan kulit Pada kolostomi transversal, terdapat feses lunak dan berlendir yang mengiritasi kulit. Pasien dianjurkan melindungi kulit peristoma dengan sering mencuci area tersebut menggunakan sabun ringan, memberikan barier kulit protektif disekitar stoma, dan mengamankannya dengan melekatkan kantung drainase. Kulit dibersihkan dengan perlahan menggunakan sabun ringan, dan waslap lembab serta lembut. Selama kulit dibersihkan, kasa dapat digunakan untuk menutupi stoma atau tampon vagina dapat dimasukkan dengan perlahan untuk mengabsorpsi kelebihan drainase. Pasien diizinkan untuk mandi atau mandi pancuran sebelum memasang alat yang bersih. Plester mikropor yang dilekatkan pada sisi kantung akan melindunginya sebelum mandi. Kulit dikeringkan dengan seksama menggunakan kasa, hindari menggosok area tersebut. Barier kulit ( wafer, pasta atau bedak ) digunakan disekitar stoma untuk melindungi kulit dari drainase fekal. b) Memasang kantung drainase Stoma diukur untuk menentukan ukuran kantung yang tepat. Lubang kantung harus sekitar 0,3 cm lebih besar drai stoma. Kulit dibersihkan sesuai prosedur diatas. Barier kulit peristoma dipasang. Kantung kemudian dibuka dengan cara membuka kertas perekat dan menekannya diatas stoma selama 30 detik. c) Menangani Kantung Drainase Kantung kolostomi dapat digunakan segera setelah irigasi dan diganti dengan balutan yang lebih sederhana. Untuk selanjutnya kantung kolostomi biasanya tidak diperlukan. Segera setelah pasien belajar evakuasi rutin, kantung dapat disimpan dan kantung kolostomi tertutup atau balutan sederhana menggunakan tisu sekali pakai (sering ditutup dengan pembungkus plastik) digunakan, dipertahankan di tempatnya dengan sabuk elastis. d) Mengangkat Alat

Alat drainase diganti bila isinya telah mencapai sepertiga atau seperempat bagian sehingga berat isinya tidak menyebabkan kantung lepas dari diskus perekatnya dan keluar isinya. e) Mengirigasi Kolostomi Stoma pada abdomen tidak mempunyai otot kontrol volunter sehingga pengosongannya dapat terjadi pada interval waktu yang tidak teratur. Pengaturan pasase materi fekal dicapai dengan irigasi kolostomi atau membiarkan usus mengevakuasi secara alami tanpa irigasi. Tujuan pengirigasian kolostomi adalah untuk mengosongkan kolon dari gas, mukus, dan feses sehingga pasien dapat menjalankan aktivitas sosial dan bisnis tanpa rasa takut terjadi drainase fekal. Dengan pengirigasian stoma pada waktu yang teratur, terdapat sedikit gas dan retensi cairan pengirigasi.

c. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah Anggota keluarga harus diberi tahu tentang prosedur dan perawatan stoma. Mereka juga perlu memahami pentingnya membuat penyesuaian untuk memungkinkan pasien menghadapi perubahan citra tubuh dan melakukan perawatan yang tepat terhadap kolostominya. Literatur tambahan akan membantu karena hal ini akan menjawab pertanyaan pasien bila sampai di rumah. Perawat kunjungan rumah akan datang ke rumah untuk memberikan perawatan lanjut dan penyuluhan serta mengkaji seberapa baik pasien dan keluarga menyesuaikan diri dengan kolostomi. d. Status Nutrisi Umumnya, pasien diigatkan bahwa praktik kesehatan yang baik, termasuk mengonsumsi diet yang sehat akan meningkatkan perasaan sejahtera dan penyesuaian positif terhadap kolostomi. Diet bersifat individual selama diet ini seimbang dan tidak menyebabkan diare atau konstipasi. e. Fungsi Seksual dan Seksualitas Pasien didorong untuk mendiskusikan perasaan tentang seksualitas dan fungsi seksual. Beberapa pasien dapat mengajukan pertanyaan tentang aktivitas seksual secara langsung atau memberi petunjuk tak langsung tentang rasa takut mereka. Beberapa individu dapat memandang pembedahan sebagai perusakan dan suatu ancaman terhadap seksualitas mereka. Sedangkan yang lain mengekspresikan kekhawatiran terhadap bau atau adanya kebocoran dari kantung selama 10

aktivitas seksual. Ajarkan posisi seksual alternatif serta metode stimulasi alternatif untuk memuaskan keinginan seksual. Apabila perawat tidak nyaman dengan hal ini, atau bila masalah pasien tampak rumit, lebih baik perawat mencari bantuan dari perawat terapi enterostoma, konselor seks, atau spesialis perawat klinis. Komplikasi Kolostomi Insiden komplikasi untuk pasien dengan kolostomi sedikit lebih tinggi dibandingkan pasien ileostomi. Beberapa komplikasi umum adalah prolaps stoma (biasanya akibat obesitas), perforasi (akibat ketidaktepatan irigasi stoma), retraksi stoma, impaksi fekal dan, iritasi kulit. Kebocoran dari sisi anastomosis Kebocoran dari sisi anastomosis usus menyebabkan distensi abdomen dan kekakuan, peningkatan suhu, serta tanda syok. Perbaikan pembedahan diperlukan. Komplikasi paru selalu menjadi perhatian pada pembedahan abdomen. Pasien yang berusia lebih dari 50 tahun dianggap berisiko, khususnya bila mereka telah mendapat antibiotik atau sedatif, atau dipertahankan tirah baring untuk waktu yang lama. Dua komplikasi paru primer adalah pneumonia dan atelektasis. Komplikasi ini dapat dicegah dengan sering beraktivitas (membalik pasien dari satu sisi ke sisi lain setiap 2 jam), napas dalam, batuk, dan ambulasi dini. 3. Terapi Penyinaran (Radioterapi) Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X, atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak genetic, sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung & usus, sel darah. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan. 4. Chemotherapy Chemotherapy memakai obat antikanker yang kuat, dapat masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus (FKUI, 2001 : 211). F. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), di mana dokter memeriksa keadaan dinding rektum sejauh mungkin dengan jari; pemeriksaan ini tidak selalu menemukan adanya kelainan, khususnya kanker yang terjadi di kolon saja dan belum menyebar hingga rektum.

11

2. Pemeriksaan darah dalam tinja/Tes darah samar/ Tes Guaiac. 3. Endoskopi. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat karena selain melihat keadaan dalam kolon juga bisa bertindak, misalnya ketika menemukan polip endoskopi ini dapat sekaligus mengambilnya untuk kemudian dilakukan biopsi. 4. Pemeriksaan kadar CEA (Carcino Embryonic Antigent) darah. Hasil yang negatif sama sekali tidak menyampingkan kemungkinan terhadap Ca Colon. Carsinoma embrionik antigen (CEA) mungkin dihubungkan dengan Ca Colon, bagaimanapun ini juga tidak spesifik dengan penyakit dan mungkin berhubungan dengan jinak atau ganasnya penyakit. CEA sering menggunakan monitor untuk pengobatan yang efektif dan mengidentifikasi kekambuhan penyakit. 5. Whole-body Scan Imaging. Sementara ini adalah pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal rekuren (yang timbul kembali). 6. Biopsy

12

BAB II PROSES KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan

1. Riwayat Kesehatan a. Identitas pasien b. Keluhan utama Klien datang dengan keluhan nyeri abdomen skala 6 disertai mual dan muntah saat buang air besar. Susah buang air besar, feses bercampur darah serta berwarna kehitaman. Anoreksia, badan lemas dan mudah merasa lelah. c. Riwayat penyakit 1) Penyakit sekarang Nyeri abdomen, susah buang air besar dalam kurun waktu 4 hari. feses bercampur darah dan berwarna kehitaman. Mual muntah saat buang air besar. Anoreksia, badan lemas dan mudah lelah. 2) Penyakit dahulu Dikaji adanya riwayat pernah terdiagnosis mengidap atau pernah dirawat untuk kanker kolon karena beresiko untuk mengidap kanker kolon di kemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena kanker kolorektal. 3) Riwayat keluarga Dikaji ada tidaknya anggota keluarga yang mempunyai riwayat kanker kolon. 2. Pengkajian Umum dan Pemeriksaan Fisik a. Pengkajian umum Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah: 1) Aktivitas/istirahat Gejala : a) Kelemahan, kelelahan/keletihan b) Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktorfaktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.

13

2)

3)

4)

5)

6) 7) 8)

9)

c) Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi. Sirkulasi Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas Tanda : Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah. Integritas ego Gejala : a) Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual) b) Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan) c) Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi. Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah. Eliminasi Gejala : Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi Tanda : Perubahan bising usus, distensi abdomen, teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah Makanan/cairan Gejala : a) Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet) b) Anoreksia, mual, muntah c) Intoleransi makanan Tanda : Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit Keamanan Gejala : Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika. Tanda : Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia Interaksi sosial Gejala : a) Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan) b) Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Penyuluhan/pembelajaran a) Riwayat kanker dalam keluarga. b) Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya. c) Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika. d) Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

b. Pemerikasaan fisik 1) Abdomen

14

a) Inspeksi : inspeksi kesimetrisan, ada tidaknya lesi dan spider nevy b) Auskultasi : auskultasi abdomen terhadap gerakan peristaltic c) Palpasi : palpasi abdomen untuk mengetahui massa, distensi, nyeri tekan. d) Perkusi : perkusi abdomen pada 4 kuadran 2) Rektum dan anus : tanda-tanda inflamasi, perubahan warna, lesi, fistula, hemoroid, adanya masa, tenderness

B.

Diagnosis Keperawatan

1. Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi 2. Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus 3. Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi dan terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap tindakan pembedahan 4. Keletihan berhubungan dengan anemia, status penyakit, perubahan kimia tubuh: efek samping obat-obatan, kemoterapi. 5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus 6. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi 7. Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker dan rencana pembedahan 8. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi. 9. Risiko tinggi terhadap kerusakan kulit/jaringan berhubungan dengan penurunan imunologis, insisi bedah (abdomen dan perianal), pembentukan stoma 10. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi 11. Inkontinensia defekasi berhubungan dengan kolostomi 12. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur insisi bedah, pembentukan stoma, dan pemasangan drain C. Perencanaan dan Intervensi Keperawatan 1. Diagnosis keperawatan : Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi

15

Tujuan : setelsh dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pola eliminasi klien sesuai kebutuhan fisik dan gaya hidup dengan ketepatan jumlah dan konsistensi Kriteria hasil : klien melaporkan sudah dapat b.a.b dengan teratur. Intervensi keperawatan Rasional 1. Pastikan kebiasaan defekasi Membantu dalam jadwal irigasi pasien dan gaya hidup efektif untuk pasien dengan sebelunya kolostomi. 2. Observasi gerakan usus, Indikator kembalinya fungsi GI, warna, konsistensi, dan mengidentifikasi ketepatan jumlah intervensi. 3. Berikan pelunak supositoria gliserin indikasi feses, Mungkin perlu untuk merangsang sesuai peristaltik dengan perlahan/evakuasi feses.

2. Diagnosis keperawatan : Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus Tujuan : setalah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diare teratasi atau penurunan frekuensi defekasi. Kriteria hasil : Klien melaporkan penurunan frekuensi defekasi, konsistensi kembali normal, tidak dehidrasi Intervensi Keperawatan Rasional 1. Bantu kebutuhan defekasi (bila Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tirah baring siapkan alat yang tanpa tanda sehingga perlu diperlukan dekat tempat tidur, diantisipasi dengan menyiapkan pasang tirai dan segera buang keperluan klien. feses setelah defekasi) 2. Tingkatkan/pertahankan asupan Mencegah timbulnya cairan per oral kekurangan cairan. maslah

3. Ajarkan tentang makanan- Membantu klien menghindari minuman yang dapat agen pencetus diare. memperburuk/mencetuskan diare 4. Observasi dan catat frekuensi Menilai perkembangan masalah. defekasi, volume dan karakteristik feses 5. Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan tindakan kedaruratan.

6. Kolaborasi pemberian obat- Antibiotika untuk membunuh obatan sesuai program terapi /menghambat pertumbuhan agen (antibiotika, antikolinergik, patogen biologik, antikolinergik

16

kortikosteroid).

untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi

3. Diagnosis keperawatan: Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi dan terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap tindakan pembedahan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien dapat melaporkan nyeri berkurang dan dapat dikontrol Kriteria hasil : a. Mengungkapkan nyeri hilang atau berkurang secara bertahap b. Skala nyeri berkurang menjadi 1-3 c. Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan d. Mendemonstrasikan ketrampilan relaksasi nafas dalam jika nyeri timbul dan tekhnik pengalihan lainnya e. Ekspresi wajah lebih rileks f. Tekanan darah, nadi dan respirasi menjunjukkan pasien lebih rileks Intervensi Keperawatan 1. Tentukan riwayat nyeri (PQRST), misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas, serta tindakan penghilang yang dilakukan Rasional Nyeri sebagai pengalaman subyektif dan harus digambarkan oleh pasien. Bantu pasien untuk menilai nyeri dengan membandingkannya dengan pengalaman nyeri.

2. Berikan tindakan kenyamanan Aktivitas hiburan dapat menjadi dasar dan aktivitas hiburan. pengalih perhatian pasien dari rasa nyerinya. 3. bantu melakukan teknik relaksasi misalnya nafas dalam atau perlahan perilaku distraksi, visualisasi dan bimbingan imajinasi 4. berikan obat analgesik sesuai indikasi Membantu dalam penurunan persepsi/respon nyeri. Memberikan control situasi, meningkatkan perilaku positif. Membantu proses penyembuhan pasien. kolaborasi dengan ahli kesehatan lain.

4. Diagnosis keperawatan: keletihan berhubungan dengan anemia, status penyakit, perubahan kimia tubuh: efek samping obat-obatan, kemoterapi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat melaporkan perbaikan perasaan berenergi, ekspresi wajah lebih bersemangat Kriteria hasil : a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan pada tingkat kemampuan b. Melakukan aktivitas secara bertahap

17

c. Kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi Keperawatan Rasional 1. Rencanakan perawatan Memberi waktu pada klien untuk untuk memungkinkan periode istirahat selama menjalani istirahat pengobatan. Keletihan akan mengurangi efektivitas pengobatan. 2. Buat tujuan aktivitas realistis Klien akan menyesuaikan dan dengan pasien. mempersiapkan diri untuk aktivitasnya. 3. Dorong pasien untuk Memberikan keyakinan bahwa pasien melakukan apa saja bila masih dapat beraktivitas selama mungkin. perawatan. 4. Pantau respons terhadap aktivitas fisiologis Respon fisiologis pasien postoperasi harus selalu dipantau. Aktivitas yang berlebihan akan menurunkan respon fisiologis pasien. 5. Dorong masukan nutrisi Nutrisi adekuat menunjang aktivitas dan proses penyembuhan pasien. 5. Diagnosis keperawatan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keprawatan selama 3x24jam kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi Kriteria hasil: klien melaporkan selera makannya meningkat Intervensi Keperawatan Rasional 1. Pertahankan tirah baring Menurunkan kebutuhan metabolik selama fase akut/pasca untuk mencegah penurunan kalori terapi dan simpanan energi. 2. Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene). 3. Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa). 4. Kolaborasi pemberian obatobatan sesuai indikasi (roborantia) Meningkatkan selera makan. kenyamanan dan

Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan. Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karena malbasorbsi.

5.

Bila perlu, pemberian parenteral.

kolaborasi Pemberian peroral mungkin nutrisi dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna.

18

6. Diagnosis keperawatan :Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan dapatmempertahan hidrasi adekuat. Kriteria Hasil : membran mukosa lembab, turgor kulit baik, dan refill kapiler baik, tanda vital stabil, dan secara individual mengeluarkan urine dengan tepat. Intervensi Keperawatan Rasional 1. Awasi masukan dan haluaran Memberikan indikator langsung dengan cermat, ukur feses cair. keseimbangan cairan. Timbang berat badan tiap hari. 2. Kaji tanda vital (TD, Nadi, Suhu) Hipotensi, takikardi, demam dapat menunjukkan respons terhadap dan/atau efek kehilangan cairan. Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/ dehidrasi. Kolon diistirahatkan penyembuhan dan menurunkan kehilangan usus. untuk untuk cairan

3. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat 4. Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring; hindari kerja

5. Observasi perdarahan dan tes Diet tak adekuat dan penurunan feses tiap hari untuk adanya absorbsi dapat menimbulkan darah samar defisiensi vit. K dan merusak koagulasi, potensial resiko pendarahan. 6. Kolaborasi pemberian cairan Mempertahankan istirahat usus paranteral, transfusi darah sesuai akan memerlukan penggantian indikasi cairan untuk memperbaiki kehilangan/ anemia. 7. Kalaborasi pemberian obat sesuai indikasi: Antiemetik, mis, trimetobenzamida (Tigan); hidroksin (Vistaril); proklorperazin (Compazine), Antipiretik, mis, asetaminofen (Tyenol), Vitamin K Digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada eksaserbasi akut, Mengontrol demam, Merangsang pembentukan protrombin hepatik, menstabilisasi koagulasi dan menurunkan resiko perdarahan.

7. Diagnosis Keperawatan : Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker dan rencana pembedahan Tujuan : Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda rileks

19

Kriteria hasil : Klien melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat dapat ditangani dan mengungkapkan pemahaman tentang kondisi pasien dan rencana tindakan. Intervensi Keperawatan Rasional 1.Orientasikan klien dan Informasi yang tepat tentang situasi yang orang terdekat terhadap dihadapi klien dapat menurunkan prosedur rutin dan kecemasan/ rasa asing terhadap aktivitas yang diharapkan. lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi. 2.Eksplorasi kecemasan Mengidentifikasi faktor pencetus/ pemberat klien dan berikan umpan masalah kecemasan dan menawarkan balik. solusi yang dapat dilakukan klien. 3.Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini. 4. Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan. 5. Kolaborasi pemberian obat sedatif. Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya. Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan.

Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat. Menilai perkembangan masalah klien.

6. Pantau dan catat respon Mendapatkan informasi keefektifan terapi verbal dan non verbal yang diberikan. klien yang menunjukan kecemasan. 8. Diagnosis keperawatan : Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam pasien dapat meningkatkan pemahaman klien kondisi/tentang penyakit, tindakan dan prognosis. Kriteria hasil : klien mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan penyakit serta prosedur yang akan dilakukan pada dirinya. Intervensi keperawatan Rasional 1. Kaji tingkat pengetahuan klien/ Proses pembelajaran sangat orang terdekat dan dipengaruhi oleh kesiapan fisik kemampuan/kesiapan belajar klien. dan mental klien. 2. Jelaskan tentang proses penyakit, Meningkatkan penyebab/faktor risiko, dan dampak klien tentang pengetahuan masalah yang

20

penyakit terhadap perubahan status dialaminya. kesehatan-sosio-ekonomi, fungsiperan dan pola interaksi sosial klien 3. Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta efek samping yang dapat terjadi 4. Tekankan pentingnya mempertahan kan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat. Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien untuk mengikuti program terapi. Penderita kanker yang mengikuti program terapi yang tepat dengan status gizi yang adekuat meningkatkan kualitas hidupnya.

9. Diagnosis keperawatan : risiko tinggi terhadap kerusakan kulit/jaringan berhubungan dengan penurunan imunologis, insisi bedah (abdomen dan perianal), pembentukan stoma Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 3x24 jam diharapkan dapat meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas infeksi. Kriteria hasil : klien melaporkan lukanya sudah sembuh atau mulai sembuh / mengering Intervensi keperawatan rasional 1. Observasi luka, catat Perdarahan pascaoperasi paling karakteristik drainase sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja 2. Ganti balutan sesuai kebutuhan, Sejumlah besar drainase serosa gunakan tekhnik aseptic menuntut penggantian dengan sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial ptensi 3. Dorong posisi miring dengan Meningkatkan drainase dari luka kepala tinggi, hindari duduk parineal atau drain menurunkan lama resiko pengumpulan. Duduk lama meningkatkan tekanan parineal, menurunkan sirkulasi keluka, dan memperlambat penyembuhan 4. Kalaborasi irigasi luka sesuai Diperlukan untuk menginflamasi/ indikasi, gunakan cairan garam infekasi praoperasi atau kontaminasi faal, larutan hidrogen peroksida, intraoperasi atau larutan antibiotic 10. Diagnosis keperawatan : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi

21

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien dapat menerima kondisi diri sesuai situasi, menerima perubahan kedalam konsep diri tanpa harga diri yang negatif Kriteria hasil : klien menyatakan penerimaan tentang kondisi diri dengan baik Intervensi keperawatan Rasional 1. Pastikan apakah konseling Memberikan informasi tentang dlakukan bila mungkin dan/atau tingkat pengetahuan pasien ostomi perlu untuk diskusikan terhadap pengetahuan tentang situasi pasien. 2. Dorong pasien/orang tedekat untuk Membantu pasien untuk menyatakan perasaan tentang menyadari perasaannya tidak ostomi biasa dan perasaan bersalah tentng mereka tidak perlu/tidak membantu 3. Catat prilaku menarik diri. Dugaan masalah pada pnilaian Peningkatan ktergantungan, yang dapat memerlukan evaluasi manipulasi, atau tidak terlibat pada lanjut dan terapi lebih ketat. perawatan. 4. Berikan kesempatan pada pasien Ketergantungan pada perawatan untuk menerima ostomi melalui diri membantu untuk partisipasi pada perawatan diri. memperbaiki kepercayaan diri dan peneriman situai 5. Rencanakan/jadwalkan perawatan Meningkatkan rasa kontroling dengan pasien dan memberikan pesan pada pasien bahwa ia dapat menangani hal tersebut, meningkatkan harga diri 6. Pertahankan pendekatan positif selama aktifitas perawatan. Jangan perlihatkan rasa marah secara pribadi Bantu pasien/orang terdekat untuk menerima perubahan tubuh dan merasakan baik tentang diri sendiri. sistem

7. Diskusikan kemungkinan kontak Dapat memberikan dengan pengunjung ostomi, dan pendukung yang baik buat perjanjian untuk kunjungan berikutnya bila diperlukan.

11. Diagnosis keperawatan : Inkontinensia defekasi berhubungan dengan kolostomi Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam klien dapat mengontrol feses dan kembali pada pola eliminasi yang normal. Kriteria hasil : defekasi feses lunak berbentuk (setiap hari, setiap 2 hari dan setiap 3 hari)

22

INTERVENSI 1. Tentukan inkontinesia 2. 3. 4. 5. 6.

RASIONAL penyebab Memberikan data dasar untuk memberikan asuhan keperawatan. Kaji penurunan masalah ADL Pasien terganggu ADL karena yang berhubungan dengan BAB. masalah inkontinensia Jumlah dan karakteristik Menentukan pola inkontinensia inkontinensia Atur pola makan dan sampai Membantu mengontrol BAB. beberapa lama terjadi BAB Berkolaborasi dengan Menguatkan otot dasar pelvis. fisioterapis melakukan bowel training Kolaborasi dengan dokter Mengontrol frekuensi BAB. dalam pemberian obat

12. Diagnosis keperawatan : risiko infeksi berhubungan dengan prosedur insisi bedah, pembentukan stoma, dan pemasangan drain Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selam 2x24 jam klien tidak mengalami infeksi selama dirawat di rumah sakit. Kriteria hasil : mencapai pemulihan luka tepat waktu, bebas dari drainase purulen atau eritema dan demam. INTERVENSI RASIONAL 1. Pantau tanda-tanda vital, perhatikan Suhu malam hari memuncak yang peningkatan suhu kembali ke normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi. Peningkatan suhu 4-7 hari setelah pembedahan sering menandakan abses luka atau kebocoran cairan dari sisi anastomosis. 2. Observasi penyatuan luka, Perkembangan infeksi dapat karakteristik drainase, serta ada memperlambat pemuliahan. tidaknya inflamasi 3. Observasi terhadap tanda dan gejala Meskipun persiapan usus dilakukan peritonitis. Misal, demam, sebelum pembedahan elektif, peritonitis peningkatan nyeri, distensi abdomen. dapat terjadi bila usus terganggu. 4. Pertahankan p[erawatan luka secara aseptik, pertahankan balutan kering. Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah bertindak sebagai sumbaretrogad, menyerap kontaminan eksternal. Organisme multipel mungkin ada pada luka terbuka dan setelah bedah usus. Mengidentifikasi semua organisme yang terlibat memungkinkan terapi antibiotik

5. Kultur terhadap kecurigaan drainase/sekresi, kultur baik dari bagian tengah dan bagian tepi luar luka dan dapatkan kultur anaerobik

23

sesuai indikasi. 6. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: Antibiotik misal, Cefazoline. 7. Lakukan irigasi kebutuhan. luka sesuai

lebih khusus. Diberikan secara profilaktik dan untuk mengatasi infeksi. Mengatasi infeksi bila ada.

D. Evaluasi 1. Evaluasi proses : aktivitas dari proses keperawatan yang dilaksanakan segera setelah pelaksanaan perencanaan untuk keefektifan terhadap tindakan. 2. Evaluasi hasil : perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir tindakan keperawatan klien. Hasil yang diharapkan : a. Rasa nyeri berkurang b. Mempertahankan eliminasi usus adekuat c. Meningkatkan toleransi aktivitas d. Mencapai tingkat nutrisi optimal 1) Makan diet rendah residu, tinggi protein, dan tinggi kalori 2) Kram abdomen berkurang e. Keseimbangan cairan tercapai Membatasi masukan makanan dan cairan oral bila terjadi mual. f. Ansietas berkurang 1) Mengungkapkan masalah dan rasa takut dengan bebas 2) Menggunakan tindakan koping untuk menghadapi stress g. Memerlukan informasi tentang diagnosis, prosedur bedah, dan perawatan diri setelah pulang 1) Mendiskusikan diagnosa, prosedur bedah dan perawatan diri pascaoperatif 2) Mendemonstrasikan perawatan ostomi h. Mempertahankan insisi tetap bersih,stoma, dan luka parineal Secara bertahap meningkatkan partisipasi dalam perawatan stoma dan kulit periostomal. i. Mengungkapkan perasaan dan masalah tentang diri sendiri secara verba j. Tidak mengalami komplikasi 1) Menggunakan antibiotik oral sesuai resep 2) Bekerjasama dalam protokol pembersihan usus

24

3) 4) 5) 6)

Tidak demam Bising usus ada Lingkar abdomen dalam batas normal atau menurun Tidak ada bukti perforasi atau perdarahan.

Daftar Pustaka

Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol.1.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Baugman, Diane dan JoAnn Hackley. 2000.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Suddarth

dan Brunner.2002.Keperawatan Medikal-Bedah,Edisi 8,Vol.2.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

25

Anonim.2008.Perawatan Kolostomi. http://athearobiansyah.blogspot.com/2008/11/perawatankolostomi.html. diunduh tanggal 6 September 2012

Anonim.2011.http://ilmubedah.info/colostomy-kolostomi-definisi-teknikoperasi-20110209.html. diunduh tanggal 6 September 2012

Doenges, Marilynn E ,dkk. 2000.Rencana Asuhan Keperawatan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

26

LAMPIRAN

27