You are on page 1of 15

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PANKREATITIS

Disusun untuk memenuhi tugas KMB 1

Di susun oleh : Kelompok 8 1. 2. 3. 4. Aprilia Eva Alfionita Rihmaningtyas Sri Lestari Restu Fitriani Sunu Wijayanto P07120111003 P07120111029 P07120111033 P07120111034

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Pasien Pankreatitis sebagai tugas mata Keperawatan Medikal Bedah 1. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penusunan makalah ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu atas segala bentuk bantuannya disampaikan terima kasih kepada: 1. Ibu Siti Fauziah,S.Pd,A.P.P,M.Kes selaku dosen mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 1 yang telah mendidik dan membimbing penyusun selama masa perkuliahan. 2. Teman-teman khususnya tinggkat II yang juga banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapat imbalan dari Allah SWT. Amiin Demikian makalah ini penyusun buat. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna seperti kata pepatah Tak Ada Gading yang Tak Retak. Akan tetapi, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii BAB I LANDASAN TEORI A. B. C. D. E. F. G. Pengertian .................................................................................................1 Patofisiologi ............................................................................................. 1 Manifestasi Klinik .................................................................................... 2 Penatalaksanaan Medis ............................................................................. 2 Penyebab ................................................................................................... 4 Tanda dan Gejala ...................................................................................... 4 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 4

BAB II PROSES KEPERAWATAN A. Pengkajian .............................................................................................. B. Diaknosa Keperawatan ........................................................................... C. Perencanaan Keperawatan ...................................................................... 1) Tujuan dan Kriteria Hasil ................................................................. 2) Rencana Intervensi / Tindakan ......................................................... 3) Rasionalisasi Intervensi .................................................................... 6 6 7 7 7 7

DAFTAR PUSTAKA ..... 11 LAMPIRAN / GAMBAR GAMBAR PENDUKUNG... 12

BAB I LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN Pankreatitis (inflamasi pankreas) merupakan penyakit yang serius pada pankreas dengan intensitas yang dapat berkisar mulai dari kelainan yang relatif ringan dan sembuh sendiri hingga penyakit yang berjalan dengan cepat dan fatal yang tidak bereaksi terhadap berbagai pengobatan. (Brunner & Suddart, 2001; 1338) Pankreatitis adalah kondisi inflamasi yang menimbulkan nyeri dimana enzim pankreas diaktifasi secara prematur mengakibatkan autodigestif dari pankreas. (Doengoes, 2000;558) Pankreatitis ada 2 macam, yaitu : 1. Pankreatitis Akut Pankreatitis akut adalah inflamasi pankreas yang biasanya terjadi akibat alkoholisme dan penyakit saluran empedu seperti kolelitiasis dan kolesistisis. (Sandra M. Nettina, 2001). 2. Pankreatitis Kronis Pankreatitis kronis adalah kelainan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomis dan fungsinya yang progresif pada pankreas disertai fibrosis. Dengan digantikannya sel-sel pankreas yang normal oleh jaringa ikat akibat serangan pankreatitis yang berulang-ulang, maka tekanan dalam pankreas akan meningkat. Hasil akhirnya adalah obstruksi mekanis duktus pankreatikus, koledokus dan duodenum. Di samping itu akan terjadi pula atrofi epitel duktus tersebut, inflamasi dan destruksi sel-sel pankreas yang melaksanakan fungsi sekresi. B. PATOFISIOLOGI Pankreatitis akut dapat terjadi setelah pembedahan pankreas atau pada bagian didekat pankreas atau setelah pelaksanaan instrumentasi pada duktus pankreatikus. Mortalitas pada pankreatitis akut cukup tinggi akibat terjadinya syok, anoksia, hipotensi atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Serangan pankreatitis akut dapat diikuti dengan kesembuhan total, dapat timbul kembali tanpa kerusakan permanen atau dapat berlanjut menjadi pankreatitis kronis. Pankreatitis akut mempunyai keparahan yang berkisar dari kelainan yang relative ringan dan sembuh dengan sendirinya hingga penyakit yang dengan cepat menjadi fatal serta tidak responsive terhadap berbagai terapi. Edema dan inflamasi yang terbatas pada pankreas merupakan kejadian utama pankreatitis yang dibentuk yang lebih ringan dinamakan pankreatitis interstisialis atau edematous. Meskipun bentuk ini dianggap sebagai bentuk pankreatitis yang lebih ringan, namun pasien berada dalam keadaan sakit yang akut dan beresiko mengalami syok, gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit dan sepsis.

Pankreatitis hemoragik akut merupakan bentuk pankreatitis interstisialis akut yang lebih lanjut. Digesti enzimatik kelenjar pankreas tersebut lebih menyebar luas dan total. Jaringan pankreas menjadi nekrotik dan kerusakannya meluas sampai pada sistem vaskulatur sehingga darah mengalir masuk kedalam subtansi pankreas dan jaringan retroperitoneal. C. MANIFESTASI KLINIK Nyeri abdomen yang hebat merupakan gejala utama pankreatitis. Rasa sakit dan nyeri tekan pada abdomen yang disertai nyeri pada punggung, terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas yang mengalami inflamasi tersebut sehingga timbul rangsangan pada ujung-ujung saraf. Peningkatan tegangan pada kapsul pankreas dan obstruksi duktus pankreatikus juga turut manimbulkan rasa sakit. Secara khas rasa sakit terjadi pada bagian tengah ulu hati (midepigastrium). Awitannya sering bersifat akut dan terjadi 24 hingga 48 jam setelah makan atau setelah mengkonsumsi minuman keras; rasa sakit ini dapat bersifat menyebar dan sulit ditentukan lokasinya. Umumnya rasa sakit semakin parah setelah makan dan tidak dapat diredakan dengan pemberian antasid. Rasa sakit dapat disertai dengan distensi abdomen, adanya massa abdominal yang dapat diraba tetapi batasnya tidak jelas, dan dengan penurunan peristaltis. Perut yang kaku atau mirip papan dapat terjadi dan merupakan tanda yang fatal. Namun demikian, abdomen dapat tetap lunak jika tidak terjadi peritonitis. Ekimosis (memar) di daerah pinggang dan di sekitar umbilikus merupakan tanda yang menunjukkan adanya pankreatitis hemoragik yang berat. Mual dan muntah umumnya dijumpai pada pankreatitis akut. Muntahan biasanya berasal dari isi lambung tetapi juga dapat mengandung getah empedu. Gejala panas, ikterus, konfusi dan agitasi dapat terjadi. Hipotensi yang terjadi bersifat khas dan mencerminkan keadaan hipovolemia serta syok yang disebabkan oleh kehilangan sejumlah besar cairan yang kaya protein karna cairan ini mengalir ke dalam jaringan dan rongga peritoneum. Pasien dapat mengalami takikardi, sianosis dan kulit yang dingin serta basah disamping gejala hipotensi. Gangguan pernapsan serta hipoksia lazim terjadi, dan pasien dapat memperlihatkan gejala infiltrasi paru yang difus, dispnu, takipnu dan hasil pemeriksaan gas darah abnormal D. PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan pasien pankreatitis akut bersifat simtomatik dan ditujukan untuk mencegah atau mengatasi komplikasi. Semua asupan peroral harus dihentikan untuk menghambat stimulasi dan sekresi pankreas. Pelaksanaan TPN (Total Parenteral Nutrition) pada pankreatitis akut biasanya menjadi bagian terapi yang penting, khusus pada pasien dengan keadaan umum yang buruk, sebagai akibat dari stress metabolic yang menyertai pankreatitis akut.
Pemasangan NGT (Naso Gastro Tube) dengan pengisapan (suction) isi lambung dapat dilakukan untuk meredakan gejala mual dan muntah, mengurangi distensi abdomen yang nyeri dan ileus paralitik serta untuk mengeluarkan asam klorida.

1) Penanganan Nyeri Pemberian obat pereda nyeri yang adekuat merupakan tindakan yang esensial dalam perjalanan panyakit pankreastitis akut karena mengurangi rasa nyeri dan kegelisahan yang dapat menstimulasi sekresi pankreas. 2) Perawatan Intensif Koreksi terhadap kehilangan cairan serta darah dan kadar albumin yang rendah diperlakukan untuk mempertahankan volume cairan serta mencegah gagal ginjal akut. 3) Perawatan Respiratorius Perawatan yang agresif dipelukan karena resiko untuk terjadinya elevasi diafragma, infiltrasi serta efusi dalam paru dan atelektasis cenderung tinggi. 4) Drainase Bilier Pemasangan drain bilier (untuk drainase eksternal) dan stent (selang indwelling) dalam duktus pankreatikus melalui endoskopi telah dilakukan dengan keberhasilan yang terbatas. Terapi ini akan membentuk kembali aliran
pankreas dan akibatnya, akan mengurangi rasa sakit serta menaikkan berat badan.

5) Intervensi Bedah Meskipun pasien yang berada dalam keadaan sakit berat mempunyai risiko bedah yang buruk, namun pembedahan dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa pankreatitis (laparotomy diagnostik), untuk membentuk kembali drainase pankreas atau untuk melakukan reseksi atau pengangkatan jaringan pankreas yang nekrotik. 6) Penatalaksanaan Pasca-akut Antacid dapat diberikan ketika gejala akut pankreatitis mulai menghilang. Pemberian makanan per oral yang rendah lemak dan protein dimulai secara bertahap. Kafein dan alkohol tidak boleh terdapat dalam makanan pasien 7) Pertimbangan Gerontologi Pankreatitis akut dapat mengenai segala usia. Meskipun demikian, angka mortalitas pankreatitis akut meningkat bersamaan dengan pertambahan usia. Tindakan Bedah Tindakan segera untuk eksplorasi bedah pada umumnya tidak dilakukan, kecuali pada kasus-kasus berat di mana terdapat: 1) Perburukan sirkulasi dan fungsi paru sesudah beberapa hari terapi intensif. 2) Pada kasus pankreatitis hemoragik nekrosis yang disertai dengan rejatan yang sukar diatasi. 3) Timbulnya sepsis. 4) Gangguan fungsi ginjal yang progresif. 5) Tanda-tanda peritonitis. 6) Bendungan dari infeksi saluran empedu. 7) Perdarahan intestinal yang berat. 8) Tindakan bedah juga dapat dilakukan sesudah penyakit berjalan beberapa waktu (kebanyakan sesudah 2-3 minggu perawatan intensif) bilamana timbul penyulit seperti pembentukan pseudokista atau abses, pembentukan

fistel, ileus karena obstruksi pada duodenum atau kolon, pada perdarahan hebat retroperitoneal atau intesti. E. PENYEBAB 1. Alkohol Alcohol menembah kosentrasi protein dalam cairan pancreas dan mengakibatkan endapan yang merupakan inti untuk terjadinya kalsifikasi yang selanjutnya menyebabkan tekanan intraduktal lebih tinggi. 2. Batu Empedu Pada sepertiga sampai dua pertiga pasien, pankreatitis disertai dengan adanya batu empedu yang diduga menyebabkan trauma sewaktu pasae batu, atau menyebabkan sumbatan. 3. Obat-obatan Sejumlah obat-obatan telah terlibat dalam berkembangnya pankreatitis akut tetapi tidak satu pun yang terbukti menyebabkan penyakit ini. 4. Infeksi Infeksi virus telah dapat dihubungkan dengan pankreatitis akut khususnya gondongan dan infeksi sackie, peningkatan sepintas amylase serum bukanlah merupakan hal yang luar biasa. 5. Trauma Trauma kecelakaan merupakan penyebab mekanik yang penting bagi pankreatitis (terutama truma tumpul abdomen). Trauma besar juga merupakan sebab yang bermakna bagi peradangan akut dan pankreatitis yang timbul setelah tindakan pada lambung dan saluran empedu dalam persentase kecil kasus. Biasanya cedera tidak terlihat pada waktu pembedahan dan mungkin akibat truma tumpul atau tajam. F. TANDA DAN GEJALA Secara klinis pankreatitis ditandai oleh nyeri perut yang akut disertai dengan kenaikan enzim pancreas dalam darah dan urin. Gejala klinis 1. Rasa nyeri yang tiba-tiba pada daerah epigastrium 2. Muntah 3. Demam 4. Tanda-tanda kolaps Kardiovaskuler 5. Gangguan pernafasan 6. Adanya ikterus 7. Terjadi asites G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Scan-CT : menentukan luasnya edema dan nekrosis 2. Ultrasound abdomen: dapat digunakan untuk mengidentifikasi inflamasi pankreas, abses, pseudositis, karsinoma dan obstruksi traktus bilier. 3. Endoskopi : penggambaran duktus pankreas berguna untuk diagnosa fistula, penyakit obstruksi bilier dan striktur/anomali duktus pankreas. Catatan : prosedur ini dikontra indikasikan pada fase akut.

4. 5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

12.

13. 14. 15.

16.

17.

Aspirasi jarum penunjuk CT : dilakukan untuk menentukan adanya infeksi. Foto abdomen : dapat menunjukkan dilatasi lubang usus besar berbatasan dengan pankreas atau faktor pencetus intra abdomen yang lain, adanya udara bebas intra peritoneal disebabkan oleh perforasi atau pembekuan abses, kalsifikasi pankreas. Amilase serum : meningkat karena obstruksi aliran normal enzim pankreas (kadar normal tidak menyingkirkan penyakit). Amilase urine : meningkat dalam 2-3 hari setelah serangan. Lipase serum : biasanya meningkat bersama amilase, tetapi tetap tinggi lebih lama. Bilirubin serum : terjadi pengikatan umum (mungkin disebabkan oleh penyakit hati alkoholik atau penekanan duktus koledokus). Albumin dan protein serum dapat meningkat (meningkatkan permeabilitas kapiler dan transudasi cairan kearea ekstrasel). Kalsium serum : hipokalsemi dapat terlihat dalam 2-3 hari setelah timbul penyakit (biasanya menunjukkan nekrosis lemak dan dapat disertai nekrosis pankreas). Kalium : hipokalemia dapat terjadi karena kehilangan dari gaster; hiperkalemia dapat terjadi sekunder terhadap nekrosis jaringan, asidosis, insufisiensi ginjal. Trigliserida : kadar dapat melebihi 1700 mg/dl dan mungkin agen penyebab pankreatitis akut. LDH/AST (SGOT) : mungkin meningkat lebih dari 15x normal karena gangguan bilier dalam hati. Darah lengkap : SDM 10.000-25.000 terjadi pada 80% pasien. Hb mungkin menurun karena perdarahan. Ht biasanya meningkat (hemokonsentrasi) sehubungan dengan muntah atau dari efusi cairan kedalam pankreas atau area retroperitoneal. Glukosa serum : meningkat sementara umum terjadi khususnya selama serangan awal atau akut. Hiperglikemi lanjut menunjukkan adanya kerusakan sel beta dan nekrosis pankreas dan tanda aprognosis buruk. Urine analisa; amilase, mioglobin, hematuria dan proteinuria mungkin ada (kerusakan glomerolus). Feses : peningkatan kandungan lemak (seatoreal) menunjukkan gagal pencernaan lemak dan protein.

BAB II PROSES KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN Riwayat kesehatan difokuskan pada karakteristik nyeri abdomen serta adanya gangguan rasa nyaman yang dialami pasien. Munculnya rasa nyeri, lokasi dan hubungannya dengan makan dan konsumsi alkohol serta hasil berbagai upaya yang dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri perlu dicatat. Status cairan serta nutrisi pasien dan riwayat serangan batu empedu serta konsumsi alkohol harus dikaji. Riwayat masalah gastrointestinal, yang mencakup mual, muntah, diare dan pengeluaran feses yang berlemak harus ditanyakan. Pemeriksaan abdomen harus dilakukan untuk mengkaji rasa sakit, nyeri tekan, ketegangan muskuler dan bising usus. Adanya abdomen yang kaku seperti papan atau yang lunak harus dicatat. Status pernapasan, frekuensi dan corak pernapasan serta suara pernapasan harus dikaji. Suara napas yang normal, suara tambahan, dan hasil-hasil perkusi dada yang abnormal, termasuk suara pekak pada basis paru dan taktil fremitus yang abnormal juga harus didokumentasikan. Status emosional serta psikologis pasien dan anggota keluarganya serta upaya mereka untuk mengatasinya harus dikaji karna mereka sering merasa takut dan cemas mengingat beratnya gejala pasien serta sakit yang dideritanya. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan Pankreatitis adalah: 1. Nyeri berhubungan dengan obstruksi pankreas, duktus bilier, kontaminasi kimia pada permukaan peritoneal oleh eksudat pankreas/autodigestif oleh pankreas. Ditandai dengan: keluhan nyeri, focus pada diri sendiri, wajah meringis, perilaku distraksi/tegang. 2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kebilangan berlebihan, peningkatan ukuran dasar vaskuler, gangguan proses pembekuan, perdarahan. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah, penurunan pemasukan oral, pembatasan diet, kehilangan enzim pencernaan dan insulin. Ditandai dengan: keluhan pemasukan makanan tidak adekuat, enggan makan, keluhan gangguan sensasi pengecap, penurunan berat badan. 4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama: statis cairan tubuh, gangguan peristaltik, perubahan pH pada sekresi. Defisiensi nutrisi. Ditandai dengan: tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala.

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN 1. Nyeri berhubungan dengan obstruksi pankreas, duktus bilier, kontaminasi kimia pada permukaan peritoneal oleh eksudat pankreas/autodigestif oleh pankreas. Tujuan: a. Mengatakan nyeri hilang/terkontrol. b. Mengikuti program terapeutik. c. Menunjukkan penggunaan metode yang menghilangkan nyeri. Intervensi a. Selidiki keluhan verbal nyeri, lihat lokasi dan intensitas khusus (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri. R/ nyeri sering menyebar, berat dan tidak berhubungan pada pankreatitis akut atau perdarahan. Nyeri berat sering merupakan gejala utama pada pasien pankreatitis kronik. Nyeri tersembunyi pada kuadran kanan atas menunjukkan keterlibatan kepala pankreas. Nyeri pada kuadran kiri atas diduga keterlibatan ekor pankreas. Nyeri terlokalisir menunjukkan terjadinya pseudokista atau abses. b. Pertahankan tirah baring selama serangan akut. Berikan lingkungan tenang. R/ menurunkan laju metabolik dan rangsangan/sekresi GI, sehingga menurunkan aktivitas pankreas. c. Ajarkan teknik relaksasi. R/ meningkatkan relaksasi dan memampukan pasien untuk memfokuskan perhatian; dapat meningkatkan koping. d. Pertahankan lingkungan bebas makanan berbau. R/ rangsangan sensoridapat mengaktifkan enzim pankreas, meningkatkan nyeri. e. Berikan analgesik pada waktu yang tepat (lebih kecil, dosis lebih sering). R/ nyeri berat/lama dapat meningkatkan syok dan lebih sulit hilang, memerlukan dosis obat lebih besar, yang dapat mendasari masalah/komplikasi dan dapat memperberat depresi pernapasan. f. Pertahankan perawatan kulit, khususnya pada adanya aliran cairan dari fistula dinding abdomen. R/ enzimpankreas dapat mencerna kulit dan jaringan dinding abdomen, menimbulkan luka bakar kimiawi. 2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kebilangan berlebihan, peningkatan ukuran dasar vaskuler, gangguan proses pembekuan, perdarahan.

10

Tujuan: mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, nadi perifer kuat, dan secara individu mengeluarkan jumlah urin adekuat. Intervensi a. Awasi TD. R/ perpindahan cairan, perdarahan, dan menghilangkan vasodilator (kinin) dan factor depresan jantung yang dipicu oleh iskemia pankreas dapat menyebabkan hipertensi berat. Penurunan curah jantung/perfusi organ buruk sekunder terhadap episode hipotensi dapat mencetuskan luasnya komplikasi sistemik. b. Ukur masukan dan haluaran termasuk muntah/aspirasi gaster,diare. Hitung keseimbangan cairan 24 jam. R/ indikator kebutuhan penggantian/keefektifan terapi. c. Catat warna dan karakter drainase gaster juga pH dan adanya darah. R/ resiko perdarahan gaster tinggi. d. Timbang berat badan sesuai indikasi. R/ penurunan berat badan menunjukkan hipovolemia; namun edema, retensi cairan dan asites mungkin ditunjukkan oleh peningkatan atau berat badan stabil. e. Catat turgor kulit, kulit/membrane mukosa kering, keluhan haus. R/ indikator fisiologis lanjut dari dehidrasi. f. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi dan irama. Awasi/catat perubahan irama. R/ perubahan jantung/distritmia dapat menunjukkan hipovolemia dan/atau ketidakseimbangan elektrolit, umumnya hipokalemia/hipokalsemia. Kolaborasi g. Berikan penggantian cairan sesuai indikasi. R/ pilihan cairan pengganti kurang penting pada kecepatan dan keadekuatan perbaikan volume. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah, penurunan pemasukan oral, pembatasan diet, kehilangan enzim pencernaan dan insulin. Tujuan: a. Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan bilai laboratorium normal. b. Tidak mengalami malnutrisi. c. Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan da/atau mempertahankan beratbdan normal.

11

Intervensi
a.

Kaji abdomen, catat adanya/karakter bising usus, distensi abdomen, dan keluhan mual. R/ disetensi abdomen dan atoni usus sering terjadi, mengakibatkan penurunan/tidak adanya bising usus. b. Berikan perawatan oral. R/ menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/iritasi membran mukosa kering sehubungan dengan dehidrasi dan bernapas dengan mulut bila NG dipasang. c. Observasi warna/konsistensi/jumlah feses dan bau. R/ steatore terjadi karna pencernaan lemak tidak sempurna. d. Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual. R/ mewaspadakan terjadinya hiperglikemia karna peningkatan pengeluaran glukagon (kerusakan sel alfa) atau penurunan pengeluaran insulin (kerusakan sel beta).
e.

Kolaborasi Pertahankan status puasa dan penghisapan gaster pada fase akut. R/ mencegah ransangan dan pengeluaran enzim pankreas bila kimus dan asam HCL masuk ke duodenum.

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama: statis cairan tubuh, gangguan peristaltik, perubahan pH pada sekresi. Defisiensi nutrisi. Tujuan: a. Meningkatkan waktu penyembuhan, bebas tanda infeksi. b. Tidak demam. c. Berpartisipasi pada aktivitas untuk menurunkan resiko infeksi. Intervensi a. Gunakan tehnik aseptik ketat bila mengganti balutan bedah atau bekerja dengan infus kateter/selang. Ganti balutan dengan cepat. R/ membatasi sumber infeksi, dimana dapat menimbulkan sepsis pada pasien. b. Tekankan pentingnya mencuci tangan dengan baik. R/ menurunkan resiko kontaminasi silang. c. Observasi frekuensi dan karakteristik pernapasan, bunyi napas. Catat adanya batuk dan produksi sputum. R/ akumulasi cairan dan keterbatasan mobilitas mencetuskan infeksi pernapasan dan atelektasis. Akumulasi cairan asites dapat menyebabkan peningkatan diafragma dan pernapasan abdomen dangkal. d. Dorong posisi sering, napas dalam dan batuk.

12

R/ meningkatkan ventilasi segmen paru dan meningkatkan mobilitas sekresi. e. Observasi adanya demam dan distress pernapasan berhubungan dengan ikterik. R/ ikterik kolestatik dan penurunan fungsi paru mungkin tanda pertama sepsis dari organisme gram negatif. f. Kaji adanya peningkatan nyeri abdomen, kekakuan nyeri tekan, penurunan/tidak adanya bising usus. R/ diduga peritonitis.

13

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyan E . (2000) . Rencana Asuhan Keperawatan . Edisi 3 . Jakarta : EGC Hidajat, S. 1997. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. Penertib: EGC. Smeltzer , Suzanne C . Bare, Breda G . (2002) . Buku Ajaran Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth . Edisi 8 . Jakarta ;: EGC Asep Gungun. 2011. Penyakit-penyakit yang terjadi pada pankreas. http://tugaskmb.blogspot.com/2011/06/penyakit-penyakit-yang-terjadipada.html. 10 September 2012 Zinaga. 2011. Asuhan Keperawatan. http://sarmazinaga.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pankreatitis.html 10 September 2012

Sarma

Liza. 2011. Pankreatitis. http://liza-lightzpankreatitis-1.html. 10 September 2012 Willadan Anrian. 2012. Contoh Gangguan Gangguan Pada Sistem Pencernaan Pada Manusia. http://inspirasisangmahasiswa.blogspot.com/2012_03_18_archive. 10 September 2012.

14

LAMPIRAN

Anatomi Pankreas

Pankreatitis Akut

Pankreatitis Kronik

15