You are on page 1of 5

BAB II METODE DAN PENGGUNAAN A. Macam-macam metode 1. Pemeriksaan Kualitatif a.

Metode Natif Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telurtelur cacing dengan kotoran disekitarnya. Maksud : Menemukan telur cacing parasit pada feces yang diperiksa. Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit pada seseorang yang diperiksa fecesnya. Dasar teori : eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang berwarna kekuning-kuningan dan untuk lebih jelas memisahkan feces dengan kotoran yang ada. Kekurangan : dilakukan hanya untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit terditeksi. Kelebihan : mudah dan cepat dalam pemeriksaan telur cacing semua spesies, biaya yang di perlukan sedikit, peralatan yang di gunakan sedikit. b. Metode Apung (Flotation method) Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk yang telur-telur Nematoda, dari Schistostoma, telurDibothriosephalus,telur berpori-pori famili Taenidae,

telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil. Maksud : Mengetahui adanya telur cacing parasit usus untuk infeksi ringan. Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus pada seseorang yang diperiksa fecesnya.

Dasar teori : Berat jenis NaCl jenuh lebih berat dari berat jenis telur. Kekurangan : penggunaan feses banyak dan memerlukan waktu yang lama, perlu ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi Kelebihan : dapat di gunakan untuk infeksi ringan dan berat, telur dapat terlihat jelas. c. Metode Harada Mori Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknik ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik. Maksud : Mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus spatau mencari larva cacing-cacing parasit usus yang menetas diluar tubuh hospes Tujuan : Mengetahuia adanya infeksi cacing tambang Dasar teori : Hanya cacing-cacing yang menetas di luar tubuh hospes akan menetas 7 hari menjadi larva dengan kelembaban yang cukup. Kekurangan : Dilakukan hanya untuk identifikasi infeksi cacing tambang, waktu yang dibutuhkan lama dan memerlukan peralatan yang banyak. Kelebihan : lebih mudah dilakukan karena hanya umtuk mengidentifikasi larva infektif mengingat bentuik larva jauh lebih besar di bandingkan dengan telur. 2. Pemeriksaan Kuantitatif a. Metode Kato Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong cellahane tape. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa. Maksud : Menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur

Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit dan untuk mengetahui berat ringannya infeksi cacing parasit usus Dasar teori : Dengan penambahan melachite green untuk memberi latar belakang hijau. Anak-anak mengeluarkan tinja kurang lebih 100 gram/hari, dewasa mengeluarkan tinja kurang lebih 150 gram/hari. Jadi, misalnya dalam 1 gram feces mengandung 100 telur maka 150 gram tinja mengandung 150.000 telur. Kekurangan : Bahan feses yang di gunakan banyak. Kelebihan : Dapat mengidentifikasi tingkat cacing pada penderita berdasar jumlah telur dan cacing, baik di kerjakan di lapangan, dapat digunakan untuk pemeriksaan tinja masal karena murah dan sederhana, cukup jelas untuk melihat morfologi sehingga dapat di diagnosis B. Alat dan Bahan 1. Obyek glass 2. Mikroskop 3. Cover glass 4. Penyaring the 5. Tabung reaksi 6. Pengaduk dan beker glass 7. Tinja 8. Larutan NaCl jenuh (33%) 9. Aquades C. Cara Kerja 1. Ambil kurang lebih 10 gram tinja lalu campurkan dengan larutan NaCl jenuh, aduk hingga homogen. 2. Saring dengan saringan teh jika terdapat serat-serat selulosa. 3. Tuangkan kedalam dua tabung reaksi sampai penuh, sampai permukaan terlihat cembung. 4. Diamkan kurang lebih 10 menit. 5. Tempelkan cover glass pada permukaan tabung reaksi dan segera diangkat. 6. Kemudian letakan di objek glass.

7. Amati dengan mikroskop dengan perbesaran 10 x 10 / dengan menggunakan objektif cincin kuning. 8. Carilah telur-telur cacing yang mungkin terdapat pada fesses tersebut

BAB III HASIL

A. Hasil Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan dengan metode apung, diketahui bahwa sampel feses dari: Nama : Jati Setiawan Umur : 9 tahun Alamat : Desa Ciberem, Kecamatan Sumbang tidak ditemukan adanya telur parasit atau dapat dinyatakan negatif terinfeksi parasit. B. Pembahasan 1. Derajat Infeksi Pada feses anak yang bernama Jati Setiawan yang telah kami periksa tidak ditemukan telur cacing parasit manapun maka derajat infeksi pada anak tersebut tergolong baik, sehinnga dapat disimpulkan anak tersebut tidak menderita cacingan.
2. Hambatan pada saat Praktikum Hasil yang diperoleh bahwa pada feses anak yang bernama Jati Setiawan tidak ditemukan telur cacing parasit manapun belu tentu bahwa anak tersebut tidak menderita cacingan. Hal tersebut dapat juga terjadi karena ada beberapa faktor yang menghambat praktikum diantaranya adalah feses yang sudah dikeluarkan cukup lama, telur mungkin masih tertinggal di dalam feses pada saat feses di saring dan penuangan pada tabung reaksi yang kurang mencembung.