You are on page 1of 17

Nama NIM/BP MK:

: Dwina Ivoni Lauren : 1200517/2012 : Kewarganegaraan

Kode Seksi : 24410

1. Hak Asasi Manusia, Sifat-Sifatnya dan Ciri-Cirinya. HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya. Melanggar HAM seseorang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Hak asasi manusia memiliki wadah organisasi yang mengurus permasalahan seputar hak asasi manusia yaitu Komnas HAM. Kasus pelanggaran ham di Indonesia memang masih banyak yang belum terselesaikan / tuntas sehingga diharapkan perkembangan dunia ham di Indonesia dapat terwujud ke arah yang lebih baik. Salah satu tokoh ham di Indonesia adalah Munir yang tewas dibunuh di atas pesawat udara saat menuju Belanda dari Indonesia. Sifat-Sifat HAM: 1. Natural: Yang dimaksud dengan sifat ini adalah bahwa HAM telah melekat sejak awal dalam diri manusia. HAM diberikan langsung oleh Tuhan, dan tidak diberikan oleh Negara. HAM sudah melekat dalam diri manusia sejak ia ada di dalam rahim. 2. Abadi: HAM bukanlah hak-hak yang diberikan atau ditetapkan oleh Negara. HAM muncul secara alamiah dalam diri manusia. Karena itu, Negara tidak memiliki kekuasaan untuk mencabut HAM dalam diri setiap orang. HAM tidak dapat dicabut oleh Negara. Walaupun suatu saat Negara tidak mengakui HAM, tetap saja kenyataan itu tidak dapat menghilangkan HAM dari dalam diri manusia itu sendiri. HAM akan terus ada selama manusia itu hidup di dunia.

3. Universal: Hak-hak asasi merupakan hak yang universal. Artinya, hak-hak itu menyangkut semua orang, berlaku dan harus diberlakukan di mana-mana. Contoh, hak untuk hidup bagi orang-orang Jakarta, juga berlaku bagi orang-orang Afrika. Menyangkal sifat universal HAM berarti menyangkal unsur manusiawi yang terdapat dalam setiap kebudayaan. 4. Kontekstual: Sifat kontekstual HAM terletak pada proses perumusan hak-hak-nya. Perumusan HAM harus memperhatikan konteks budaya suatu masyarakat. Sifat ini tidak menyangkal sifat universal HAM. RUmus dan definisi hak asasi yang ditentukan oleh lingkup budaya tertentu, sebenarnya menjadi jalan untuk membuat orang semakin peka agar jangan sampai ada penderitaan sesama yang tidak diperhatikan dan jangan sampai ada hak seseorang yang dilanggar. Ciri-Ciri HAM: 1. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis. 2. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa. 3. HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003). PERTANYAAN: Kenapa pelanggaran HAM Masih banyak yang belum terselesaikan di Indonesia? JAWABAN: Membahas masalah pelanggaran HAM di Indonesia rasanya tidak akan selesai bila dikupas dalam sehari, begitu banyaknya kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang hingga saat ini dari kasus ke kasus lainnya belum terselesaikan, malahan yang membuat kita miris justru muncul kasus baru pelanggaran HAM yang lain, ada apa sebenarnya? Kenapa di zaman Reformasi sekarang yang notabene "katanya" penegakan HAM jauh lebih baik dan perlindungan terhadap

HAM lebih di junjung tinggi namun ternyata era reformasi sekarang tak ubahnya seperti era orde baru yang mana penegakan HAM masih jauh dari harapan. Kecenderungan yang kita lihat setiap kasus/pelanggaran yang dilakukan dan berkaitan dengan pemerintah sebagai pemangku kekuasaan maka dapat dipastikan penyelesaian kasus tersebut akan jauh dari harapan. Terlihat sekali bahwa Indonesia belum bisa menegakan supremasi hukumnya dengan semestinya. Hukum dapat disetir oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak kita, apa yang salah dengan penegakan hukum di negara kita ini? Ada yang berpendapat kesalahan ini terletak pada manusianya, yakni para aparat penegak hukumnya yang tidak memiliki integritas dan para pejabatnya yang bermental buruk. Pendapat ini tidak salah, namun ada pula yang mengatakan bahwa ini kesalahan sistem, karena sistemlah yang membentuk manusia Indonesia menjadi sepert ini, yakni pejabatnya korup, penegakan hukumnya mudah di sogok dan lainnya. Tetapi ada yang mengatakan pula bahwa sistem ini sendiri diciptakan oleh manusianya, yakni segala UU, peraturan, budaya dan lainnya adalah hasil ciptaan manusia (eksekutif,legislatif,yudikatif). Lantas siapa yang salah? karena bila kita lihat kesalahan ini bagaikan lingkaran setan yang kesemuanya adalah faktor buruknya penegakan HAM di Indonesia. Rusaknya segala lini dan aspek yang terjadi pada penegakan hukum di Indonesia disinyalir kuat sebagai dalang lemahnya supremasi hukum kita dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi. Oleh karenanya harus segera dilakukan perbaikan dan itikad baik dari pemerintah bila tak ingin melihat negara ini hancur akibat moralitas manusia Indonesia yang tidak bisa menegakan keadilan dalam hal HAM.

2. Lahirnya Peraturan Perundang-undangan tentang HAM dan Perkembangannya secara Internasional. Latar Belakang Lahirnya Peraturan Perundang-undangan HAM Nasional

Dalam sejarah peradaban dunia, kehidupan manusia banyak diwarnai oleh kenyataan adanya pelecehan atau pengingkaran terhadap hak asasi manusia. Tindakan pengingkaran terhadap hak

asasi manusia telah membangkitkan kesadaran akan pentingnya dokumen yang berisi pengakuan dan jaminan hak asasi manusia Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kebebasan dasar manusia tersebut merupakan hak yang secara kodrati melekat dan tidak terpisahkan dari manusia. Hak tesebut harus dilindungi, dihormati dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan serta keadilan. Oleh karena itu, setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan dan perlindungan dan perlakuan hukum yang adil serta mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang sama di depan hukum Perkembangan HAM secara Internasional

Perkembangan konsep hak asasi manusia di dunia internasional secara umum dibedakan dalam tiga generasi yaitu generasi I dengan penekanan hak sipil dan politik, generasi II dengan penekanan hak sosial ekonomi dan budaya serta generasi ketiga yang melahirkan hak pembangunan. Konsepsi hak asasi manusia Hak-hak Sipil dan Politik (Generasi I) Hak-hak bidang sipil mencakup, antara lain : 1. Hak untuk menentukan nasib sendiri 2. Hak untuk hidup 3. Hak untuk tidak dihukum mati 4. Hak untuk tidak disiksa 5. Hak untuk tidak ditahan sewenang-wenang 6. Hak atas peradilan yang adil

Hak-hak bidang politik, antara lain : 1. Hak untuk menyampaikan pendapat 2. Hak untuk berkumpul dan berserikat 3. Hak untuk mendapat persamaan perlakuan di depan hukum 4. Hak untuk memilih dan dipilih

Hak-hak Sosial, Ekonomi dan Budaya (Generasi II) Hak-hak bidang sosial dan ekonomi, antara lain : 1. Hak untuk bekerja 2. Hak untuk mendapat upah yang sama

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Hak untuk tidak dipaksa bekerja Hak untuk cuti Hak atas makanan Hak atas perumahan Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan

Hak-hak bidang budaya, antara lain : 1. Hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan 2. Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan 3. Hak untuk memperoleh perlindungan atas hasil karya cipta (hak cipta)

Hak Pembangunan (Generasi III) Hak-hak bidang pembangunan, antara lain : 1. Hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang sehat 2. Hak untuk memperoleh perumahan yang layak 3. Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai PERTANYAAN: Kanapa HAM harus diperjuangkan? JAWABAN: Apabila HAM tidak diperjuangkan maka akan terjadi pelanggaan HAM yang akan berakibat perlakuan yang tidak manusiawai hal tersebut sama saja membiarkan kelangsungan hidup bahaya, Pelanggaran HAM juga merampas kemerdekaan yang dapat mengganggu perkembagan jiwa.

3. Jenis-Jenis Pelangaran HAM Kasus pelanggaran HAM ini dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu : Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat, meliputi : Pembunuhan masal (genisida) Pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan

Penyiksaan Penghilangan orang secara paksa Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis

Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi : Pemukulan Penganiayaan Pencemaran nama baik Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya Menghilangkan nyawa orang lain

PERTANYAAN: Kenapa masih banyak terjadi pelanggaran HAM? JAWABAN masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak asasi manusia antara paham yang memandang HAM bersifat universal (universalisme) dan paham yang memandang setiap bangsa memiliki paham HAM tersendiri berbeda dengan bangsa yang lain terutama dalam pelaksanaannya (partikularisme); adanya pandangan HAM bersifat individulistik yang akan mengancam kepentingan umum (dikhotomi antara individualisme dan kolektivisme); kurang berfungsinya lembaga lembaga penegak hukum (polisi, jaksa dan pengadilan); dan pemahaman belum merata tentang HAM baik dikalangan sipil maupun militer.

4. Peraturan Perundang-undangan dan Perkembangan tentang HAM di Indonesia Bisa dilihat dalam 1. Pasal-pasal dalam UUD 1945 a. Pasal 27 ayat 1, 2, 3 b. Pasal 28 c. Pasal 28 A sampai 28 J d. Pasal 29 ayat 2 e. Pasal 30 f. Pasal 31 g. Pasal 32 h. Pasal 33 i. Pasal 34

2. Ketetapan MPR No.XVII/MPR/1998 tentang HAM 3. UU No.39 tahun 1999 tentang HAM 4. Peraturan Perundangan yang lain: a. UU No.8 tahun 1981 tentang Kitab UU Hukum Acara Pidana b. UU No.9 tahun 1988 tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum c. UU No.31 tahun 2002 tentang partai politik d. UU No.12 tahun 2003 tentang Pemilu Legislatif e. UU No.40 tahun 1999 tentang Pers f. UU No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara

Sifat perjuangan dalam mewujudkan tegaknya HAM di Indonesia itu tidak bisa dilihat sebagai pertentangan yang hanya mewakili kepentingan suatu golongan tertentu saja, melainkan menyangkut kepentingan bangsa Indonesia secara utuh. Hingga kemudian diskursus tentang HAM memasuki babakan baru, pada saat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyiapkan rancangan UUD pada tahun 1945, dalam pembahasan-pembahasan tentang sebuah konstitusi

bagi negara yang akan segera merdeka, silang selisih tentang perumusan HAM sesungguhnya telah muncul. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, tanggal 18 Agustus 1945, Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan sidang untuk mengesahkan UUD 1945 sebagai UUD negara Republik Indonesia. Dengan demikian terwujudlah perangkat hukum yang di dalamnya memuat hak-hak dasar/asasi manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang bersifat dasar/asasi pula. Seperti yang tertuang dalam Pembukaan, pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia tidak mendahulukan hak-hak asasi individu, melainkan pengakuan atas hak yang bersifat umum, yaitu hak bangsa. Perkembangan selanjutnya adalah dengan dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 50 Tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993. Pembentukan KOMNAS HAM tersebut pada saat bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan, menunjukkan keterkaitan yang erat antara penegakkan HAM di satu pihak dan penegakkan hukum di pihak lainnya. Akhirnya ketetapan MPR RI yang diharapkan memuat secara adanya HAM itu dapat diwujudkan dalam masa Orde Reformasi, yaitu selama Sidang Istimewa MPR yangberlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 13 November 1988. Dalam rapat paripurna ke-4 tanggal 13 November 1988, telah diputuskan lahirnya Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1988 tentang Hak Asasi Manusia.

PERTANYAAN: Kenapa HAM harus diperjuangkan dan dipertahankan? JAWABAN: Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan Jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain.

Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan HAM orang lain.

5. Hubungan Antara HAM dengan Kewajiban Dasar Indonesia. Di Indonesia , hubungan antara warga negara dengan negara (hak dan kewajiban) digambarkan dalam UUD 1945. Hubungan antara warga negara dengan negara Indonesia tersebut digambarkan dalam pengaturan mengenai hak dan kewajiban yang mencakup berbagai bidang. Hak dan kewajiban warga negara tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945. Penjabaran lanjut mengenai hak dan kewajiban warga negara dituangkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Contoh hal dan kewajiban WNI dalam bidang pendidikan pada pasal 31 dijabarkan kedalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Disamping adanya hak dan kewajiban warga negara terhadap negara , dalam UUD 1945 hasil amandemen I telah dicantumkan adanya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia yaitu pada pasal 28 I J UUD 1945 Hak dan Kewajiban warga negara Indonesia dapat dicantumkan didalam undang-undang dasar negara republik Indonesia. Berikut ini adalah beberapa contoh hak dan kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia. Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama satu sama lain tanpa terkecuali. Persamaaan antara manusia selalu dijunjung tinggi untuk menghindari berbagai kecemburuan sosial yang dapat memicu berbagai permasalahan di kemudian hari. Namun biasanya bagi yang memiliki banyak uang atau tajir bisa memiliki tambahan hak dan pengurangan kewajiban sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia. Berikut ini adalah Hak dan Kewajiban yang tercantum dalam undang-undang: Hak dan kewajiban dalam bidang politik Pasal 27 ayat (1) menyatakan, bahwa Tiap-tiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemeritahan itu

dengan tidak ada kecualinya. Pasal ini menyatakan adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu: 1. Hak untuk diperlakukan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan. 2. Kewajiban menjunjung hukum dan pemerintahan. Pasal 28 menyatakan, bahwa Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Arti pesannya adalah: 1. Hak berserikat dan berkumpul. 2. Hak mengeluarkan pikiran (berpendapat). Kewajiban untuk memiliki kemampuan beroganisasi dan melaksanakan aturan-aturan lainnya, di antaranya: Semua organisasi harus berdasarkan Pancasila sebagai azasnya, semua media pers dalam mengeluarkan pikiran (pembuatannya selain bebas harus pula bertanggung jawab dan sebagainya) Hak dan kewajiban dalam bidang sosial budaya Pasal 31 ayat (1) menyatakan, bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Pasal 31 ayat (2) menyatakan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang. Pasal 32 menyatakan bahwa Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.

Arti pesan yang terkandung adalah: 1. Hak memperoleh kesempatan pendidikan pada segala tingkat, baik umum maupun kejuruan. 2. Hak menikmati dan mengembangkan kebudayaan nasional dan daerah. 3. Kewajiban mematuhi peraturan-peraturan dalam bidang kependidikan. 4. Kewajiban memelihara alat-alat sekolah, kebersihan dan ketertibannya. 5. Kewajiban ikut menanggung biaya pendidikan. 6. Kewajiban memelihara kebudayaan nasional dan daerah.

Selain dinyatakan oleh pasal 31 dan 32, Hak dan Kewajiban warga negara tertuang pula pada pasal 29 ayat (2) yang menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap -tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Arti pesannya adalah: 7. Hak untuk mengembangkan dan menyempurnakan hidup moral keagamaannya, sehingga di samping kehidupan materiil juga kehidupan spiritualnya terpelihara dengan baik, serta Kewajiban untuk percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hak dan kewajiban dalam bidang Hankam Pasal 30 menyatakan, bahwa Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Arti pesannya: bahwa setiap warga negara berhak dan wajib dalam usaha pembelaan negara. Hak dan kewajiban dalam bidang Ekonomi Pasal 33 ayat (1), menyatakan, bahwa Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Pasal 33 ayat (2), menyatakan bahwa Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Pasal 33 ayat (3), menyatakan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal 34 menyatakan bahwa Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Arti pesannya adalah: 1. Hak memperoleh jaminan kesejahteraan ekonomi, misalnya dengan tersedianya barang dan jasa keperluan hidup yang terjangkau oleh daya beli rakyat. 2. Hak dipelihara oleh negara untuk fakir miskin dan anak-anak terlantar.

3. Kewajiban bekerja keras dan terarah untuk menggali dan mengolah berbagai sumber daya alam. 4. Kewajiban dalam mengembangkan kehidupan ekonomi yang berazaskan kekeluargaan, tidak merugikan kepentingan orang lain. Kewajiban membantu negara dalam pembangunan misalnya membayar pajak tepat waktu.

PERTANYAAN: Kapan terjadinya Hak Asasi Manusia?

JAWABAN: Hak-hak asasi manusia sebagai gagasan, paradigma serta konseptual tidak lahir mendadak sebagaimana kita lihat dalam Universal Declaration of Human Right 10 Desember 1948, namun melalui suatu proses yang cukup panjang dalam peradaban sejarah manusia. Dari prespektif sejarah deklarasi yang ditanda tangani oleh Majelis Umum PBB tersebut dihayati sebagai suatu pengakuan yuridis formal dan merupakan titik khususnya yang tergabung dalam PBB. Upaya konseptualisasi hak-hak asasi manusia sebelum telah muncul ditengah-tengah masyarakat umat manusia, baik dibarat maupun ditimur kendatipun upaya tersebut masih bersifat lokal, partial dan sporadikal. Pada zaman Yunani Kuno Plato (428 348) telah memaklumkan kepada warga polisnya bahwa kesejahteraan bersama akan tercapai manakala setiap warganya melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing. Dalam akar kebudayaan Indonesiapun pengakuan serta penghormatan tentang hak-hak asasi manusia telah mulai berkembang, misalnya dalam masyarakat jawa telah dikenal dengan istilah Hak Pepe yaitu hak warga desa yang diakui dan dihormati oleh penguasa seperti hak mengemukakan pendapat walaupun hak tersebut bertentangan dengan kemauan penguasa.

Puncak perkembangan perjuangan hak-hak asasi manusia tersebut yaitu ketika Human Right dirumuskan untuk pertama kalinya secara resmi dalam Declaration of Indepedence Amerika Serikat pada tahun 1776. Dalam deklarasi Amerika Serikat tertanggal 4 Juli 1776 tersebut dinyatakan bahwa seluruh umat manusia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa beberapa hak yang tetap dan melekat padanya. Perumusan hak-hak asasi manusia secara resmi kemudian menjdai pokok konstitusi Negara Amerika Serikat pada tahun 1781 yang mulai berlaku pada tanggal 4 Maret 1789. Perjuangan hak-hak asasi manusia tersebut sebenarnya telah diawali Perancis sejak Rousseau, dan perjuangan itu memuncak dalam Revolusi Perancis pada tahun 1780 yang berhasil menetapkan hak-hak asasi manusia dalam Declaration des Droits LHomme et du Citoyen yang kemudian di tetapkan oleh Assemblee Nationale Perancis dan pada tahun 1791 berikutnya dimasukan kedalam Constitution. (Van Asbek dalam Purbopranoto 1976 : 18). Semboyan Revolusi Perancis yang terkenal yaitu : Liberte (kemerdekaan) Egalite (kesamarataan) Fraternite (kerukunan atau persaudaraan).

Maka menurut konstitusi Perancis yang dimaksud hak-hak asasi manusia adalah hak hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dengan hakikatnya. Dalam rangka konseptualisasi dan reiterpretasi terhadap hak-hak asasi manusia yang mencakup bidang-bidang yang lebih luas, Franklin Droosevelt (Presiden Amerika pada permulaan abad ke 20) memformlasikan empat macam hak-hak asasi dan hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari Declaration of Human Right 1948 yang kemudian dikenal dengan The Four Freedoms yaitu : Freedom of Speech (kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat) Freedom of Religion (kebebasan beragama) Freedom from Fear (kebebasan dari rasa ketakutan) Freedom from Want (kebebasan dari kemlaratan)

Terhadap deklarasi sedunia tentang hak-hak asasi manusia PBB tersebut bangsa bangsa sedunia melalui wakil-wakilnya memberikan pengakuan dan perlindungan secara yuridis formal walaupun realisasinya juga disesuaikan dengan kondisi serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

6. Perkembangan dan Pelaksanaan HAM di Indonesia. Dengan adanya penegakan HAM yang lebih baik ini, membuat pandangan dunia terhadap Indonesia kian membaik. Tapi, meskipun penegakan HAM di Indonesia lebih baik, Indonesia tidak boleh senang dulu, karena masih ada setumpuk PR tentang penegakan HAM di Indonesia yang belum tuntas. Diantara DPR itu adalah masalah kekerasan di Aceh, di Ambon, Palu, dan Irian Jaya tragedy Priok, kekerasan pembantaian dukun santet di Banyuwangi, Ciamis, dan berbagai daerah lain, tragedi Mei di Jakarta, Solo, dan berbagai kota lain, tragedi Sabtu Kelabu, 27 Juli 1996, penangkapan yang salah tangkap, serta rentetan kekerasan kerusuhan massa terekayasa di berbagai kota, yang bagaikan kisah bersambung sepanjang tahun-tahun terakhir pemerintahan kedua: tragedi Trisakti, tragedy Semanggi, kasus-kasus penghilangan warga negara secara paksa, dan sebagainya. Pemerintah di negeri ini, harus lebih serius dalam menangani kasus HAM ini jika ingin lebih dihargai dunia. Karena itu, pemerintah harus membuat aturan aturan yang lebih baik. Juga kejelasan pelaksanaan aturan itu. Kondisi HAM di Indonesia menghadapi dua hal dinamis yang terjadi yaitu realitas empiris di mana masyarakat semakin sadar HAM serta kondisi politik. Soal hubungan Komnas HAM dengan pemerintah, Marzuki mengatakan, bagian terbesar dari rekomendasi Komnas HAM terutama kepada pemerintah daerah/gubernur, 60 persen di antaranya mendapat respon yang konstruktif. Persoalan muncul jika kasusnya bermuatan politik, seperti Kasus Marsinah atau Kerusuhan 27 Juli. Perlu ada pelurusan terhadap gambaran masyarakat soal hu-bungan pemerintah dan Komnas HAM, katanya. Marzuki mendengar jika ada persepsi di masyarakat bahwa rekomendasi. Komnas HAM tidak dilaksanakan oleh pemerintah. Kondisi ideal HAM adalah kondisi demokratis, kata Marzuki. Kesadaran akan HAM maupun pelaksanaannya hanya mungkin jika ada pembaharuan politik.

Dalam beberapa persoalan Marzuki melihat sikap kalangan pemerintah maupun ABRI terhadap masalah HAM tergantung konstelasi politik yang terjadi, bukan pada pemahaman HAM sebenarnya. Misalnya komentar tentang Kerusuhan 27 Juli, satu pihak mengatakan bahwa kasus tersebut sudah selesai, namun yang lainnya mengatakan bahwa langkah-langkah Megawati Soekarnoputri konstitusional. Dia mengedepankan persoalan HAM di Indonesia dengan satu contoh yakni penggunaan istilah yang berkonotasi politik terhadap seseorang yang menyentuh martabat atau privasinya. Istilah gembong, oknum atau otak terutama dalam kerangka kasuskasus subversif menjadi biasa digunakan oleh masyarakat menjadi sesuatu yang normal. Padahal itu menyentuh HAM, seseorang digambarkan dengan istilah-istilah, katanya. Komnas HAM sebenarnya menganut prinsip HAM universal dengan dasar Piagam PBB, Deklarasi HAM serta Pancasila sebagai falsafah politik dan konsitusi UUD 45. Paham HAM universal itu harus disesuaikan dengan nilai budaya yang berlaku, katanya. Namun kurangnya pemahaman HAM atau karena kepentingan politik seringkali disebut-sebut HAM di Indonesia sebagai HAM yang khas yang berbeda dengan HAM universal. Itu tidak benar. Tidak berarti kita punya prinsip HAM sendiri, kata mantan Sekjen Pemuda ASEAN tersebut. Yan g benar, HAM universal justru harus diimplementasikan dalam masyarakat dan peka terhadap nilai-nilai budaya setempat. Coba cari HAM khas Indonesia yang tidak ada di HAM universal. Tidak ada, katanya. Marzuki menilai persoalan antara HAM universal dan HAM kultural malah menjadi perdebatan semu. Padahal sebenarnya itu hanya merupakan mekanisme defensif untuk menghadapi tekanan luar. Definisi HAM menurut Pasal 1 Angka 1 UU No 39/1999 tentang HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan dan merupakan anugerah yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dilindungi negara, hukum, pemerintah, dan tiap orang, demi kehormatan, harkat, dan martabat manusia. Maka tidak semua hak dapat dikategorikan sebagai HAM karena pengaturannya dalam UUD, UU organik, dan perjanjian internasional. Konsekuensi kurangnya pemahaman akan hakikat dan pembatasan HAM merupakan salah satu penyebab tindakan anarkis. Kebebasan berpendapat melalui demonstrasi, pawai, rapat umum, mimbar bebas, dan media sering menjadi ajang caci maki, fitnah, dan tindak anarkis.

Ekspresi penggunaan HAM berbentuk tarian cakalele sambil mengibarkan bendera RMS di Ambon atau pernyataan merdeka dan pengibaran bendera Bintang Kejora di Jayapura merupakan contoh pelanggaran HAM. Dalam penggunaan HAM, dibatasi alasan tidak boleh mengganggu ketertiban umum, keutuhan, dan kesatuan bangsa, seperti diatur Pasal 6 Huruf d dan e UU No 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, Pasal 73 UU HAM dan UU No 40/1999 tentang Pers, Pasal 28 J Ayat (1) dan Ayat (2) UUD 1945. Ketegasan Presiden dalam pidato kenegaraan untuk menindak gerakan separatis yang mengancam kesatuan bangsa perlu didukung. Sebab, pertama, tindakan hukum atas kelompok separatis dan anarkis merupakan upaya menegakkan kedaulatan RI dan wibawa pemerintah. Kedua, meningkatkan penegakan hukum, kesadaran, dan kepatuhan hukum. Ketiga, meningkatkan sosialisasi dan kesadaran penggunaan HAM dan pembatasannya. Sebab, kenyataan menunjukkan, banyak pendemo-terutama di daerah-kurang memahami pembatasan HAM secara normatif. Masalah Hak Asasi Manusia (HAM) secara jelas diatur dalam UUD 1945 yang diamandemen. Tapi, bukan berarti sebelum itu UUD 1945 tidak memuat masalah HAM. Hak asasi yang diatur saat itu antara lain hak tentang merdeka disebut pada bagian pembukaan, alinea kesatu. Kemudian, hak berserikat diatur dalam pasal 28, haka memeluk agama pada pasal 29, hak membela negara pada pasal 30, dan hak mendapat pendidikan, terdapat pada pasal 31. Dalam UUD 1945 yang diamandemen, HAM secara khusus diatur dalam Bab XA, mulai pasal 28 A sampai dengan pasal 28 J.

PERTANYAAN: Kenapa pelanggaran HAM masih sangat sulit untuk teratasi?

JAWABAN: Upaya mengatasi penindasan dan pelanggaran HAM agaknya belum menjadi suatu pengutamaan atau hal penting pada pemimpin masyarakat, bangsa, negara, dan bahkan agama;

banyak di antara mereka tidak peduli terhadap HAM rakyat dan bangsa yang dipimpin. Tidak sedikit pemimpin [bangsa-bangsa] di dunia yang memerintah secara otoriter sehingga menjadikan rakyat ataupun elemen-elemen bangsa penuh ketakutan, tertekan, serta mengalami penghambatan dan penindasan HAM; terjadi pembatasan ruang gerak dan pembunuhan terhadap lawan-lawan politik; penyingkiran serta peminggiran terhadap kaum oposisi, dan lain sebagainya. Di banyak tempat, di pelbagai pelosok Bumi, penindasan dan pelanggaran HAM terus menerus berlangsung secara terbuka dan sistimatis. Hal tersebut, bisa dilakukan oleh para penguasa, pengusaha, maupun rakyat biasa, bahkan tokoh agama. Mereka dapat melakukan [penghamban dan pelanggaran HAM] tersebut, karena mempunyai [merasa memiliki] kekuasaan tanpa batas terhadap sesamanya. Dengan itu, ia [mereka] dapat melakukan apapun terhadap orang lain dengan tanpa takut dan gentar. Setiap hari muncul korban penindasan dan penyiksaan sehingga menderita secara fisik dan psikhis. Misalnya, pembantu rumah tangga yang disiksa majikan, wanita-wanita yang terpaksa dan dipaksa menjadi pekerja seksual komersial, para buruh kasar, para petani tanpa tanah dan ladang; mereka menjalani keadaanya asal tetap hidup, walau menyadari diri bahwa harkat dan HAM nya tertindas, ditindas, dan di batasi.

Sumber: Husny Arifuddin. 2012. Pengertian dan Definisi Hak Asasi Manusia Ham. (Online) (http://husnyarifuddin.blogspot.com/, diakses 19 Oktober 2012 pada jam 10:23 WIB). Mr. Umar. 2008. Peraturan Perundangan HAM diindonesia. (Online), (http://mr-umar-gion.blogspot.com/, diakses 19 Oktober 2012 pada jam 10:45 WIB). NewComer. 2011. Ciri Pokok HAM. (Online), (http://newcomer.pun.bz/, diakses 17 Oktober 2012 pada jam 10:30 WIB). Pintu Ajaib. 2009. Sekelumit Tentang Hak Asasi Manusia. (Online), (http://pintuajaibku.blogspot.com/, diakses 19 Oktober 2012 pada jam 10:10 WIB).