You are on page 1of 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Praktikum IV.1.1 Pengambilan dan Pengolahan Sampel Nama Sampel Bobot Sampel Basah 315 g 248 g Bobot Sampel Kering 258,6 g 166,9 g Susut Pengeringan 18 % 32,7 %

Pecut Kuda Hyptis

Perhitungan Susut Pengeringan a. Pecut kuda = = = 18%


b. Hyptis = =

= 32,7%

IV.2 Dasar Metode Ekstraksi a. Perkolasi Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut: serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari ataske bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan

oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan. b. Maserasi Prinsip maserasi yaitu penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama 3 hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya. Cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel, isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan diluar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh caira penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentarasi antara larutan diluar sel dengan larutan didalam sel. c. Refluks Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna d. Soxhletasi Prinsip soxhletasi yaitu penarikan komponen kimia dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi e. Ekstraksi cair cair Prinsip Ekstraksi cair-cair (corong pisah) yaitu pemisahan komponen kimia diantara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur

dimana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagaian larut pada fase kedua, lalu kedua fase mengandung zat terdispersi di kocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapis fase cair.

IV.3 Ekstraksi Sampel Nama sampe l Berat sampel sebelum ekstraks i Berat sampel setelah ekstraks i Jumlah cairan penyar i Jumla h ekstra k cair

Presentas e

Presentas e

Pecu t kuda 127,8 g 114,6 89,67% 1100 mL 1500 mL 20,73 mL 6,15 mL 1,88%

Hypt is

137,2 g

122,7 g

89,43%

0,41%

IV.4 Penguapan Pelarut Pada Sampel a. Sampel Pecut kuda Berat ekstrak methanol Ekstrak n-heksan yang diperoleh Presentase ekstrak = = = 35,64 % Ekstrak etil asetat yang diperoleh Presentase ekstrak = = 1,2042 g =5g = 1,782 g

= = 24,08 %

IV.5 Identifikasi Ekstrak Sampel pecut kuda Metode Uji saponin Uji flavonoid Uji Steroid Uji Tanin

Metode pereaksi kimia

+ saponin

- flavonoid

- steroid

- tanin

Dibawah lampu UV 256 nm Pelarut polar Metode KLT Pelarut non polar

Dibawah lampu UV 366 nm Pelarut polar Pelarut non polar

IV.2 Pembahasan Ekstraksi adalah proses penarikan zat berkhasiat dari suatu bahan menggunakan pelarut tertentu. Zat berkhasiat tersebut sebelumnya telah diubah bentuk menjadi simplisia, yang merupakan yang berasal dari tumbuhan, hewan,

dan mineral yang belum mengalami perubahan proses apapun, kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. Oleh karena itu, pada praktikum ini dilakukan proses ekstraksi sampai pengidentifikasian senyawa daun hyptis (Hyptis capitata) dan daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis). Kedua tanaman tersebut diambil karena memilki khasiat yaitu daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) sebagai obat radang, keputihan, rematik, hepatitis A, peluruh kencing, Sedangkan daun hyptis (Hyptis capitata) memiliki kegunaan yaitu untuk demam, pembersih darah, luka, antimikroba. Pada praktikum fitokimia ini dilakukan beberapa percobaan untuk menngidentifikasi kandungan kimia dari daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) dan daun hyptis (Hyptis capitata). Dimana dilakukan 5 percobaan yaitu : pengambilan dan pengolahan sampel, dasar metode ekstraksi, ekstraksi sampel, penguapan ekstrak dan identifikasi ekstrak. Pada praktikum pertama, pengambilan sampel dilakukan di Desa Tambu dusun V Moluwi kabupaten Donggala dan pengolahan sampel dilakukan dengan cara pengolahan simplisia pada umumnya yaitu dengan mencuci sampel tanaman dengan air mengalir agar semua kotoran dapat hilang, lalu dilakukan sortasi basah untuk menghilang bagian bagian tanaman yang tidak diperlukan. Timbang sampel untuk mengetahui berat sampel basah. Kemudian sampel dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan tidak boleh terpapar sinar matahari langsung untuk menjaga agar kandungan kimia dari sampel tidak rusak, selain itu juga pengeringan dilakukan untuk menonaktifkan enzim enzim yang terdapat didalam sampel tanaman. Setelah kering, dilakukan pengubahan bentuk dengan cara dirajangan sampel tanaman tersebut. Lalu timbang sampel tanaman sebagai berat sampel kering dan dilakukan perhitungan susut pengeringan. Hasil yang didapatkan yaitu pada sampel pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) bobot sampel basah 315 g dan bobot sampel kering 258,6 g sehingga didapatkan susut pengeringan sebesar 18%. Kemudian pada sampel hyptis (Hyptis capitata) bobot sampel basah 248 g dan bobot sampel kering 258,6 g maka susut pengeringan sebesar 32,7%. Pada praktikum kedua, dasar metode ekstraksi dilakukan penentuan metode ekstraksi yag sesuai dari masing masing sampel. Pada sampel pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) dan hyptis (Hyptis capitata) dilakukan proses

ekstraksi menggunakan metode maserasi. Dimana prinsip maserasi yaitu penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama 3 hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya. Cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel, isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan diluar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh caira penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentarasi antara larutan diluar sel dengan larutan didalam sel. Sedangkan keuntungannya adalah hemat biaya dan cocok untuk sampel yang tidak tahan pemanasan. Sehingga kedua sampel tanaman tersebut cocok menggunakan metode maserasi. Pada praktikum ketiga, ekstraksi sampel dilakukanlah metode maserasi tersebut. Dimana masing masing sampel 300 g dimasukkan dalam wadah toples yang berbeda. Lalu dimasukkan pelarut methanol hingga menutupi sampel. Methanol berfungsi sebagai pelarut yang melarutkan senyawa polar karena methanol pun merupakan pelarut polar. Kemudian biarkan sampel tanaman terendam selama 3 x 24 jam dengan sesekali diaduk. Pengadukan bertujuan agar semua sampel tanaman dapat terekstraksi/terlarut seluruhnya pada pelarut. Setelah itu ekstrak disaring dengan kain saring untuk dilakukan proses penguapan menggunakan rotavapor. Alat rotavapor berfungsi untuk memisahkan ekstrak dengan pelarut methanol agar diperoleh ekstrak kental murni dari tanaman tersebut. Setelah itu ekstrak kental diletakkan di dalam wadah yang sudah ditimbang. Kemudian ekstrak ditimbang untuk mengetahui bobot ekstrak awal. selanjutnya ekstrak diangin anginkan dibawah kipas angin untuk memudahkan proses pengeringan. Dan terakhir ekstrak ditimbang sebagai ekstrak metanol kering. Pada praktikum keempat, dilakukan proses partisi ekstrak yang telah di dapatkan pada praktikum ketiga di atas yaitu dengan ekstraksi cair-padat. Ekstrak yang dipilih untuk dipartisi adalah ekstrak pecut kuda, dengan mempertimbangkan bobot sampel yang memenuhi untuk dilakukan proses partisi ini, dimana ekstrak kering pecut kuda ditimbang 5 g dan masukan ke dalam erlenmeyer lalu tambahkan 30 ml n-heksan lalu ditutup dan dilakukan pengadukan dengan magnetik stirer selama 10 menit. Dimasukan ke dalam tabung sentrifuge, lalu sentrifuge selama 10 menit dan akan terbentuk supernatan dan residu. Dimasukkan

supernatan didalam wadah dan diambil residunya dan masukkan ke dalam erlenmeyer lalu tambahkan 30 ml n-heksan dan aduk 10 menit dengan magnetik stirer kemudian disentrifuge. Diulangi perlakuan diatas sebanyak dua kali, yang akhirnya nanti semua supernatan diuapkan sebagai ekstrak n-heksan. Selanjutnya residu dari ekstrak n-heksan dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan 30 ml etil asetat. Diaduk selama 10 menit menggunakan magnetik stirer dan akan terbentuk supernatan dan residu. Dimasukkan supernatan didalam wadah dan diambil residunya, lalu tambahkan 30 ml etil asetat dan aduk 10 menit menggunakan magnetik stirer. Diulangi perlakuan diatas sebanyak 2 kali, yang akhirnya nanti semua supernatan diuapkan sebagai ekstrak etil asetat. Ekstrak nheksan dan etil asetat yang diuapkan, ditempatkan menggunakan wadah (cawan porselin) yang telah diketahui bobot kosongnya dan kemudian ditimbang kembali ekstrak kering keduanya, dikurangi bobot wadah kosongnya. Hasil yang didapatkan dari ekstrak metanol sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) sebanyak 5 g yaitu didapatkan ekstrak n-heksan 1,782 g, sehingga diperoleh persentase ekstrak n-heksan yaitu 35,64%. Sedangkan untuk ekstrak etil asetat diperoleh 1,2042 g, sehingga diperoleh persentase ekstrak etil asetat yaitu 24,084%. Pada praktikum kelima yaitu identifikasi ekstrak yang dilakukan dengan 2 metode, yakni dengan metode pereaksi kimia dan metode KLT. Pada identifikasi ekstrak dengan metode pereaksi kimia terbagi lagi menjadi 4 pengujian, yaitu uji saponin, uji flavonoid, uji steroid, dan uji tanin. Pada uji Saponin, diambil ekstrak metanol kering sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis). Kemudian dimasukan ke dalam tabung reaksi lalu tambahkan air panas secukupnya. Dikocok kuat-kuat selama 1 menit dengan kekuatan konstan kemudian didiamkan, apabila busa yang terbentuk dengan tinggi 1-10 stabil selama 10 menit, maka ditambahkan HCl 2 tetes apa bila tetap berbusa seperti positif mengandung saponin. Pada uji Flavonoid diambil ekstrak metanol kering sampel daun pecut kuda

(Stachytarpheta jamaicensis), lalu dimasukan air dan n - heksan ke dalam tabung reaksi. Kemudian dikocok dan akan terpisah menjadi 2 fase, di mana lapisan air berada bawah dan lapisan heksan di berada atas. Lalu lapisan heksan dipisahkan dan lapisan air ditambahkan metanol lalu tambahkan HCl dan serbuk Mg, jika berwarna merah ungu berarti positif mengandung flavonoid. Pada uji Steroid, diambil ekstrak kering metanol sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta

jamaicensis), lalu dimasukan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan air dan eter. Akan terbentuk 2 lapisan, dimana lapisan air berada dibawah dan lapisan eter diatas. Lapisan air di kocok selama 1 menit jika berbusa tambahkan HCl pekat, jika berubah dari warna hijau menjadi biru, berarti positif mengandung steroid. Pada uji tanin diambil ekstrak metanol kering sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis), dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu

ditambahkan air 10 ml, lalu kocok dan tambahkan NaCl (garam dapur) untuk mengendapkan protein, lalu ditambahkan Fecl3 3-4 tetes, jika warna hijau positif tanin katekol, jika warna biru hitam, positif tanin pirogalol. Identifikasi ekstrak dengan metode KLT, pertama-taman disiapkan alat dan bahan lalu dibuat eluen polar (etil asetat: heksan:air (9;2:1) dan eluen nonpolar (heksan:etil asetat (9:1) lalu di masukan ke dalam chamber yang berbeda. Dimasukan potongan kertas saring, lalu tutup chamber dan dibiarkan hingga eluen naik pada kertas saring hingga melewati penutup kaca (chamber telah jenuh). Disiapkan lempeng KLT ukuran 2x6 cm dan beri batas bawah dan batas atas 1 cm. Kemudian ekstrak kering metanol, n - heksan dan etil asetat sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis), dilarutkan masing-masing dengan pelarutnya (metanol, n-heksan, etil asetat). Masing-masing ekstrak ditotolkan pada lempeng KLT menggunakan pipa kapiler. Lempeng dimasukan ke 2 chamber yang masing-masing berisi eluen polar non polar, bila eluen telah mencapai batas atas, dikeluarkan lempeng dan diangin-anginkan. Kemudian diamati penampakan noda dibawah lampu UV 254 nm dan 366 nm. Hasil yang didapatkan pada identifikasi ekstrak dengan metode pereaksi kimia yaitu sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) mengandung saponin dan tanin pirogalol tetapi tidak mengandung steroid dan flavonoid. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa sampel daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) glikosida, skakitarfen, alkaloid, flavonoid. Hal ini dapat disebabkan karena pereaksi kimia yang digunakan tidak sensitif lagi karena telah lama disimpan ataupun dikarenakan kesalahan praktikan dalam melakukan pengujian, misalnya pipet yang digunakan tidak untuk satu pereaksi. Sementara pada identifikasi dengan metode KLT didapatkan hasil penampakan noda yang baik dengan menggunakan pelarut non polar dibandingkan pelarut polar baik pada pengamatan pada UV 254 nm dan 366 nm. Hal ini dapat disebabkan senyawa yang terkandung di dalam sampel daun pecut kuda

(Stachytarpheta jamaicensis) merupakan senyawa nonpolar, sehingga untuk memisahkannya juga harus menggunakan pelarut yang nonpolar.