You are on page 1of 5

3.

Hasil Pasien diklasifikasikan menurut presentasi pasien ke dalam berikut kelompok : 1) Kasus dengan abses mastoid: Ada sembilan kasus, kasus ini diklasifikasikan menurut etiopatologi ke dalam kelompok. a. Otitis media akut : Ada tiga kasus, dua dari kasus berusia di bawah 5 tahun. Pasien-pasien ini dengan antritis (Gambar 1) karena proses mastoid tidak sepenuhnya pneumatized pada usia ini, pasien diobati dengan pengobatan medis selain insisi dan drainase abses. Kasus ketiga mendapat perawatan medis disertai dengan mastoidektomi kortikal.

b. Cholesteatoma : Ada lima kasus, dua dari kasus dengan komplikasi (satu dengan trombosis sinus sigmoid dan lainnya dengan abses ekstradural). Semua kasus diobati dengan mastoidektomi terbuka selain pengobatan komplikasi dalam dua kasus yang rumit. c. Otitis media supuratif kronis yang aman : terdapat satu kasus yang diobati dengan pengobatan medis selain insisi dan drainase abses. Kemudian setelah peradangan akut mereda, dilakukan timpanoplasti dengan kortikal

mastoidektomi.

2) Kasus dengan mastoiditis: Ada tiga kasus, kasus ini diklasifikasikan menurut etiopatologi ke dalam kelompok. a. Otitis media akut : Ada dua kasus. Satu kasus merupakan kasus yang rumit dengan kelumpuhan saraf wajah, pada kasus ini dilakukan kortikal

mastoidektomi dan miringotomi di samping pengobatan medis. Kasus lainnya yang tidak rumit hanya diberikan pengobatan non medis.

b. Otitis media supuratif kronis yang aman: Salah satu kasus dilihat dan diobati dengan pengobatan medis dan kemudian setelah infeksi mereda, dilakukan timpanoplasti dengan kortikal mastoidektomi. CT scan dilakukan pada semua kasus, MRI hanya dilakukan dalam kasus-kasus yang rumit saja. Semua pasien yang menunjukkan perbaikan ditandai setelah rejimen perawatan yang telah dijelaskan sebelumnya. Pasien Ttdak kambuh terdeteksi dari mastoiditis atau abses mastoid atau komplikasi apapun yang tercatat selama masa follow-up. Mastoiditis dan abses mastoid telah menjadi kejadian klinis yang langka. Sejumlah kecil kasus yang termasuk dalam penelitian menghalangi analisis statistik (Grafik 1-3).

4.

Diskusi Mesir merupakan negara berkembang dan banyak warganya yang masih tidak memiliki akses pelayanan kesehatan yang memadai. Meskipun kejadian dari mastoiditis dan abses mastoid menurun di sebagian besar negara berkembang, tapi terlihat masih banyak kasus yang terjadi. Dalam studi ini, semua kasus dengan abses mastoid memerlukan beberapa macam intervensi bedah, baik dengan insisi dan drainase atau dengan operasi definitif (kortikal atau radikal mastoidektomi). Insisi dan drainase dianggap cukup dilakukan pada usia dibawah 2 tahun karena mastoid tidak sepenuhnya pneumatized dibawah usia 5 tahun (antritis saja). Selain itu, operasi definitif dapat ditunda sampai infeksi reda pada kasus dengan otitis media supuratif kronis yang aman untuk memungkinkan penyembuhan yang lebih baik. Ini sesuai dengan kesimpulan sebelumnya yang dilaporkan oleh Tarantino dkk.,5 yang menekankan perlunya drainase bedah dari abses subperiosteal untuk mencegah penyebaran supurasi ke daerah yang vital. Dalam studi klinis tingkat mastoidektomi dilaporkan menunjukkan variasi yang besar, berkisar antara 12% sampai 98%. Besar variabilitas menunjukkan bahwa keputusan untuk atau tidak melakukan mastoidektomi tidak hanya soal pengobatan konservatif atau intervensi bedah segera, tetapi sebagian besar berdasarkan pada kriteria bedah subjektif.7 Mastoidektomi merupakan pengobatan yang efektif untuk mastoiditis akut terkait dengan salah satu, yaitu : abses subperiosteal atau eksteriorisasi, cholesteatoma, komplikasi intrakranial dan otorrhea yang bertahan selama lebih dari 2 minggu meskipun dengan pengobatan antibiotik yang adekuat atau pada anak-anak <15 kg BB.8 Dalam penelitian ini, satu dari tiga pasien dengan mastoiditis dirawat medis, dua kasus lainnya memerlukan pengobatan bedah karena salah satu kasus merupkan kasus yang rumit dan kasus lain dengan aman otitis media supuratif kronis. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarantino dkk.,
5

yang menyatakan bahwa

kriteria untuk konservasi adalah tidak adanya gambaran toksik atau tanda-tanda komplikasi, tidak adanya fluktuasi postaurikular dan tidak adanya tanda-tanda CT dari dekstruksi sel tulang mastoid.