You are on page 1of 9

CONTOH KASUS PELNGGARAN HAM DI INDONESIA Kasus pelanggaran HAM dapat terjadi di lingkungan apa saja, termasuk di lingkungan

sekolah. Sebagai tindakan pencegahan maka di lingkungan sekolah antara lain perlu dikembangkan sikap dan perilaku jujur, saling menghormati, persaudaraan dan menghindarkan dari berbagai kebiasaan melakukan tindakan kekerasan atau perbuatan tercela yang lain. Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM Ringan 1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003. 2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa. 3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan. 4. Para pedagang tradisioanal yang berdagang di pinggir jalan merupakan pelanggaran HAM ringan terhadap pengguna jalan sehingga para pengguna jalan tidak bisa menikmati arus kendaraan yang tertib dan lancar. 5. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Contoh-contoh Kasus Pelanggaran HAM Berat

Kejahatan genosida
1. Pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh oknum TNI

Contoh pelanggaran Ham berat di Indonesia yang pertama dilakukan oleh oknum TNI. Sebagaimana yang kita ketahui TNI atau Tentara Republik Indonesia sejatinya bertugas untuk menjaga keutuhan negara dari serangan pihak luar yang mencoba merusak dan menghancurkan keutuhan negara, tetapi pada masa kekuasaan Presiden Soeharto,TNI beralih fungsi sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan. Banyak kasus tindakan kriminal, penculikan dan pembunuhan kepada orang-orang yang menentang pemerintah. 2. Pelanggaran HAM berat di provinsi MALUKU

Maluku berdarah atau Ambon berdarah, adalah sebutan untuk pelanggaran HAM berat yang terjadi di salah satu propinsi di wilayah timur Indonesia. Dimana pada saat

itu terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh suku agama satu kepada suku dan agama lainnya tepat sebelum perayaan Hari Raya Idul Fitri 1419H. Serangan itu telah banyak mengakibatkan banyak jatuh korban dan hak asasi mereka ternodai. Tercatat lebih kurang sekitar 8 ribu orang meninggal dunia termasuk penduduk tak berdosa menjadi korbannya, hampir 4 ribu orang mengalami luka berat, ribuan pemukiman warga, kantor, pasar, sekolah, dan fasilitas umum lainnya dihancurkan. Akibat kejadian tersebut sekitar 692 ribu jiwa mengungsi ke tempat yang aman untuk menghindari serangan mendadak dari pertikaian itu. 3. Pelanggaran HAM berat antar suku di SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

Tampaknya agama dan suku sering menjadi pemicu meletusnya konflik dan kerusuhan di Indonesia. Tak peduli dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu kita orang Indonesia. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pun tak melekat dalam hati. Dan inilah yang terjadi di Sambas, Kalimantan Barat. Dimana telah terjadi kerusuhan besar antar suku yang menyebabkan banyaknya jatuh korban jiwa di Sambas (1970-1999). Sekali lagi HAM telah dinodai. Kerusuhan Sambas merupakan peristiwa pecahnya pertikaian antar etnis pribumi dengan pendatang, yakni suku Dayak dengan Madura yang mencapai klimaks pada tahun 1999. Akibat pertikaian tersebut, data menyebutkan terdapat 489 orang tewas, 202 orang mengalami luka berat dan ringan, 3.833 pemukiman warga diobrak-abrik dan dimusnahkan, 21 kendaraan dirusak, 10 rumah ibadah dan sekolah dirusak, dan 29.823 warga Madura mengungsi ke daerah yang lebih aman. 4. Pelanggaran HAM berat pada peristiwa G30/SPKI

Seperti yang banyak diceritakan pada pelajaran sejarah, peritiwa G30S PKI adalah peristiwa dimana beberapa jenderal dan perwira TNI menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan secara sadis pada malam 30 september sampai 1 oktober tahun 1965. Dalam catatan sejarah, pelaku dari peritiwa G30/SPKI adalah para anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Ketika itu para jenderal dan perwira TNI dibunuh dan disiksa secara sadis, kecuali AH. Nasution saja yang berhasil meloloskan diri, tetapi naas yang menjadi korban adalah seorang anak yang tak lain adalah putrinya sendiri. Nama anak AH Nasution yang tertembak saat peristiwa G30S PKI adalah Ade Irma Suryani Nasution termasuk sang ajudan bernama Lettu Pierre Tendean. Itulah secuil contoh pelanggaran HAM berat di Indonesia yang bisa diuraikan disini dari beberapa pelanggaran HAM berat lainnya yang luput dari pengetahuan kita. Apapun itu, kita sebagai manusia yang berakal dan beragama hendaknya saling menghormati atas perbedaan. Karena perbedaanlah yang membuat hidup lebih indah. Upaya penegakan terhadap kasus pelanggaran HAM tergantung pada apakah pelanggaran HAM itu masuk kategori berat atau bukan. Apabila berat. maka

penyelesaiannya melalui Peradilan HAM, namun apabila pelanggaran HAM bukan berat melalui Peradilan Umum.

Kejahatan kemanusiaan Empat penghuni Lapas Sleman, Yogyakarta tewas


ditembak. Mereka ditembak sekelompok orang bersenjata Sabtu (23/3/2013) dini hari tadi. Humas Ditjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Akbar Hadi Prabowo mengatakan, orang bersenjata itu memaksa masuk lapas melalui pintu portir. Mereka kemudian meminta petugas menunjukkan kamar empat penghuni. Setelah menemukan ada di kamar A5, mereka langsung menembaki empat penghuni lapas dan mereka meninggal dunia, kata Akbar Hadi dalam keterangannya, Sabtu (23/3/2013). Penyerangan ini terjadi sekitar pukul 01.30 WIB dini hari tadi. Sekelompok penyerang menggunakan topeng saat melakukan aksinya. Peristiwa perbuatan melawan hukum berupa kejahatan terhadap kemanusiaan sudah sering terjadi di Negara Republik Indonesia. Berulangnya peristiwa kejahatan kemanusiaan tersebut selama ini diakibatkan karena belum adanya efek jera berupa sanksi hukuman yang diberikan kepada pelaku tindak pidana kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut. Banyak sudah contoh kasus penyerangan yang dilakukan oleh oknum TNI kepada masyarakat sipil yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan materil. Akan tetapi karena proses penanganannya tidak maksimal dan seolah-olah dilindungi, maka peristiwa kejahatan terhadap masyarakat sipil berupa kejahatan terhadap kemanusiaan ini terjadi terus-menerus dan berulang. Kalau ditelusuri alasan penyebabnya, tentu akan mendapatkan alasan jawaban yang klasik seperti adanya jiwa korsa dan adanya kesenjangan. Yang jadi pertanyaan adalah apakah karena adanya jiwa korsa dan adanya kesenjangan, maka oknum TNI dapat melakukan perbuatan sekehendak hati yaitu melakukan kejahatan terhadap kemanusian kepada masyarakat sipil seperti penganiayaan, pengrusakan fasilitas, pengrusakan kantor sampai pada pembunuhan terhadap masyarakat sipil. Kalau ini yang menjadi alasan tentulah menunjukkan bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara yang tidak beradab karena masih menerapkan hukum rimba bukan hukum negara sehingga tidak perlu menggembor-gemborkan kalimat berupa menjunjung tinggi HAM, tapi pada faktanya sudah sering melanggar HAM atau Kejahatan HAM merupakan hal yang biasa dan dianggap hal yang amat lumrah. Oleh karenanya perlu dilakukan reformasi TNI berupa adanya reformasi terhadap KUHPM (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer). Selama ini oknum TNI yang melakukan kejahatan pidana hanya diproses oleh Peradilan Militer yang pada faktanya perbuatan pidana yang dilakukan oleh sekelompok oknum TNI terus berulang yang menunjukan bahwa proses Peradilan Militer belum maksimal dan tidak memiliki Efek Jera terhadap pelaku pidana yang dilakukan oleh OknumTNI. Perlu dipahami bahwa KUHPM yang selama ini berlaku merupakan produk UndangUndang kolonial yang diterapkan oleh Pemerintah Belanda kepada Militernya yang melakukan pidana pada wilayah garnisum dan atau kesatriannya. Tapi pada faktanya banyak oknum TNI yang melakukan tindak pidana di luar Kesatrian dan atau Garnisun diproses dengan KUHPM yang sanksi hukumnya amat ringan, sehingga

perbuatan pidana itu dilakukan terus menerus karena pelaku pidana tidak mendapatkan Efek jera/ Deterence. Sebenarnya Kasus kejahatan terhadap kemanusiaan sudah diatur dalam UndangUndang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Peradilan HAM, hal itu dapat kita baca semua pada Pasal 7 Junto Pasal 9 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 yang sangat jelas menjelaskan apa yang dimaksud dengan kejahatan terhadap kemanusiaan itu. Akan tetapi lembaga yang berkompeten untuk mengadakan penyelidikan atau investigasi terhadap kejahatan HAM ini yaitu KOMNAS HAM sepertinya terdiam dan tidak mengambil tindakan apapun yang menjadi kompetensi dan kewenangannya. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah lembaga KOMNAS HAM yang ada saat ini dapat dikatakan lembaga yang memahami HAM kalau pada faktanya banyak kejahatan HAM dan Pelanggaran HAM yang terjadi tidak dilakukan investigasi secara mendalam, kalau hal itu yang terjadi maka BUBARKAN SAJA LEMBAGA KOMNAS HAM. TNI merupakan salah satu aparat negara yang bertugas di bidang pertahanan Negara sebagaimana di maksud dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang seharusnya me;lakukan perlindungan terhadap pertahanan negara Republik indonesia bukan malah tercemar oleh ulah Oknum anggotanya yang melakukan Kejahatan terhadap Kemanusiaan yang berarti malah menjadi TRIGGER terhadap terjadinya gangguan kamtibmas yang meresahkan masyarakat. Sebenarnya untuk kejadian penyerangan Oknum TNI yang terjadi di Lapas Sleman Jogyakarta inipun selain melanggar ketentuan Pasal 7 Junto Pasal 9 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Peradilan Ham, Juga melanggar ketentuan UndangUndang Terorisme Yaoitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003. Agar permasalahan ini tidak terjadi berulang terus adanya kejahatan terhadap kemanusiaan, maka segenap elemen masyarakat baik media cetak dan media elektronik disarankan mengikuti terus perkembangan proses penanganannya karena perbuatan ini harus dihentikan demi menjaga kedaulatan Negara Indonesia yang kita cintai. Sudah selayaknya terjadi REFORMASI DI TUBUH TNI yang patuh dan tunduk pada hukum sipil apabila melakukan perbuatan melawan hukum di luar wilayah Kesatriannya, karena Seluruh anggota militer di seluruh dunia [un patuh dan tunduk pada hukum sipil apabila melakukan perbuatan melawan hukum di luar wilayah Kesatriannya. IBU MEMBUNUH ANAK Seorang ibu kandung, Susilawati (23) tega membunuh anaknya yang baru dilahirkan di Desa Kadu RT 01/01 Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang."Dugaan sementara, ibu kandung korban sebagai pelaku utama," kata Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Curug, Ajun Komisaris Sutarlan di Tangerang, Rabu (11/2). Sutarlan mengatakan, modus pembunuhan yang dilakukan ibu kandung tersebut dengan cara memasukkan bayi ke dalam sumur setelah proses melahirkan. Sutarlan menuturkan, tersangka juga diduga mengalami depresi berat yang berlatar belakang kesulitan ekonomi, sehingga tega membunuh anak kandungnya.

Pengungkapan kasus berawal saat salah seorang warga melihat sebuah benda terapung di sumur tua yang sudah tidak digunakan dan berada di belakang rumah tersangka. Setelah diamati ternyata benda tersebut tubuh bayi yang baru dilahirkan dalam kondisi tidak bernyawa dan terapung di permukaan air sumur. Sutarlan mengatakan, dugaan sementara ibu kandungnya sebagai pelaku pembunuhan berdasarkan keterangan saksi dari suami tersangka Muhammad Syarifudin (27) dan sejumlah tetangga tersangka. Namun demikian, pihak Polsek Curug akan memastikan motif dan pelaku pembunuhan tersebut setelah ibu kandung korban selesai menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang. Sutarlan menuturkan berdasarkan keterangan Syarifudin, bapak korban tersebut sempat merasakan kejanggalan karena perut istrinya yang sedang membuncit karena hamil tua mendadak terlihat hilang. Syarifudin sempat mendesak istrinya untuk memberikan keterangan ke mana calon anak ketiga yang di dalam perut istrinya. Kasus Pembunuhan Pekerja PBB Oleh Demonstran Di Afganistan

TEMPO Interaktif, Mazar-e-Sharif Tujuh pekerja PBB tewas dibunuh di Mazar-eSharif, Afganistan. Dua di antaranya dipenggal oleh demonstran yang protes pembakaran Al-Quran di gereja Florida, Amerika Serikat. Berdasarkan laporan harian The Telegraph, Sabtu (2/4), korban serangan paling keji kepada pekerja PBB itu termasuk lima petugas keamanan dari Nepal, dan pekerja sipil dari Norwegia, Swedia, dan Rumania. Dalam peristiwa itu, selain pekerja PBB, empat penduduk lokal juga ikut terbunuh. Pejabat PBB kepada Daily Telegraph menyatakan jumlah korban kemungkinan bertambah hingga 20 orang. Dalam peristiwa itu, beredar kabar bahwa seorang Kepala Asisten Militer PBB juga ikut terluka. Namun kabar ini belum dapat dipastikan. Penduduk setempat menyatakan sekitar 2.000 orang demonstran menyerang penjaga keamanan PBB di luar Unama. Demonstran merampas senjata mereka, lalu menggunakannya untuk menembaki polisi. Juru bicara Kepolisian menyatakan pendemo memenggal kepala dua penjaga keamanan dan menembak penjaga lainnya. Mereka kemudian mendorong tembok anti-pelindung ledakan untuk menjatuhkan menara keamanan lalu membakar gedung. Para pendemo mulai berkumpul ketika sejumlah pemimpin agama di masjid di pusat kota mendesak para jemaah meminta PBB mengambil langkah dalam peristiwa pembakaran Al-Quran yang dilakukan pendeta Wayne Sapp di Gainesville Florida pada 20 Maret 2011 lalu.

E. UPAYA PENEGAKAN HAK ASASI DI INDONESIA Meskipun Republik Indonesia lahir sebelum diproklamirkannya UDHR, beberapa hak asasi dan kebebasan fundamental yang sangat penting sebenarnya sudah ada dan diakui dalam UUD 1945, baik hak rakyat maupun hak individu, namun pelaksanaan hak-hak individu tidak berlangsung sebagaimana mestinya karena bangsa Indonesia sedang berada dalam konflik bersenjata dengan Belanda. Pada masa RIS (27 Desember 1949-15 Agustus 1950), pengakuan dan penghormatan HAM, setidaknya secara legal formal, sangat maju dengan dicantumkannya tidak kurang dari tiga puluh lima pasal dalam UUD RIS 1949. Akan tetapi, singkatnya masa depan RIS tersebut tidak memungkinkan untuk melaksanakan upaya penegakan HAM secara menyeluruh. Kemajuan yang sama, secara konstitusional juga berlangsung sekembalinya Indonesia menjadi negara kesatuan dan berlakunya UUDS 1950 dengan dicantumkannya tiga puluh delapan pasal di dalamnya. Pada masa berlakunya UUDS 1950 tersebut, penghormatan atas HAM dapat dikatakan cukup baik. Patut diingat bahwa pada masa itu, perhatian bangsa terhadap masalah HAM masih belum terlalu besar. Di masa itu, Indonesia menyatakan meneruskan berlakunya beberapa konvensi Organisasi Buruh Internasional (International Labor Organization/ILO) yang telah diberlakukan pada masa Hindia Belanda oleh Belanda dan mengesahkan Konvensi Hak Politik Perempuan pada tahun 1952. Sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada tanggal 5 Juli 1959, bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penegakan HAM. Sampai tahun 1966, kemunduran itu terutama berlangsung dalam hal yang menyangkut kebebasan mengeluarkan pendapat. Kemudian pada masa Orde Baru lebih parah lagi, Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945. Di tataran internasional, selama tiga puluh dua tahun masa Orde Baru, Indonesia mengesahkan tidak lebih dari dua instrumen internasional mengenai HAM, yakni Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) dan Konvensi tentang Hak Anak (1989). Pada tahun 1993 memang dibentuk Komnas HAM berdasarkan Keputusan Presiden No. 50 tahun 1993, yang bertujuan untuk membantu mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM dan meningkatkan perlindungan HAM guna mendukung tujuan pembangunan nasional. Komnas HAM dibentuk sebagai lembaga mandiri yang memiliki kedudukan setingkat dengan lembaga negara lainnya dan berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi HAM. Meskipun Komnas HAM yang dibentuk itu dinyatakan bersifat mandiri karena para anggotanya diangkat secara langsung oleh presiden, besarnya kekuasaan presiden secara de facto dalam kehidupan bangsa dan negara serta kondisi obyektif bangsa yang berada di bawah rezim yang otoriter dan represif, pembentukan Komnas HAM menjadi tidak terlalu berarti karena pelanggaran HAM masih terjadi di manamana.

Sejak runtuhnya rezim otoriter dan represif Orde Baru, gerakan penghormatan dan penegakan HAM, yang sebelumnya merupakan gerakan arus bawah, muncul ke permukaan dan bergerak secara terbuka. Gerakan ini memperoleh impetus dengan diterimanya Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM. Pembuatan peraturan perundang-undangan sebagai perangkat lunak berlanjut dengan diundangundangkannya UU No. 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM yang memungkinkannya dibentuk pengadilan HAM ad hoc guna mengadili pelanggaran HAM yang berat yang terjadi sebelum UU tersebut dibuat. Pada masa itu dikenal transitional justice, yang di Indonesia tampak disepakati sebagai keadilan dalam masa transisi, bukan hanya berkenaan dengan criminal justice (keadilan kriminal), melainkan juga bidang-bidang keadilan yang lain seperti constitutional justice (keadilan konstitusional), administrative justice (keadilan administratif), political justice (keadilan politik), economic justice (keadilan ekonomi), social justice (keadilan sosial), dan bahkan historical justice (keadilan sejarah). Meskipun demikian, perhatian lebih umum lebih banyak tertuju pada transitional criminal justice karena memang merupakan salah satu aspek transitional justice yang berdampak langsung pada dan menyangkut kepentingan dasar baik dari pihak korban maupun dari pihak pelaku pelanggaran HAM tersebut. Di samping itu, bentuk penegakan transitional criminal justice merupakan elemen yang sangat menentukan kualitas demokrasi yang pada kenyataannya sedang diupayakan. Upaya penegakan transitional criminal justice umumnya dilakukan melalui dua jalur sekaligus, yaitu jalur yudisial (melalui proses pengadilan) dan jalur ekstrayudisial (di luar proses pengadilan). Jalur yudisial terbagi lagi menjadi dua, yaitu Pengadilan HAM dan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pengadilan HAM ditujukan untuk pelanggaran HAM berat yang terjadi setelah diundangkannya UU No. 26 tahun 2000, sedangkan Pengadilan HAM Ad Hoc diberlakukan untuk mengadili pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum disahkannya UU No. 26 tahun 2000. Sedangkan jalur ekstrayudisial melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional (KKRN) ditempuh untuk penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM pada masa lampau dan pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum diundangkannya UU No. 26 tahun 2000. Upaya penyelesaian melalui jalur demikian haruslah berorientasi pada kepentingan korban dan bentuk penyelesaiannya dapat menunjang proses demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta merupakan upaya penciptaan kehidupan Indonesia yang demokratis dengan ciri-ciri utamanya yang berupa berlakunya kekuasaan hukum dan dihormatinya hak asasi dan kebebasan fundamental. Selain itu Upaya penegakan HAM dapat melalui jalur Pengadilan HAM, mengikuti ketentuan-ketentuan antara lain, sebagai berikut: Kewenangan memeriksan dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat tersebut di atas oleh Pengadilan HAM tidak berlaku bagi pelaku yang berumur di bawah 18 tahun pada saat kejahatan dilakukan.

Terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkan UURI No.26 Tahun 2000, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM adhoc. Pembentukan Pengadilan HAM ad hoc diusulkan oleh DPR berdasarkan pada dugaan telah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dibatasi pada tempat dan waktu perbuatan tertentu (locus dan tempos delicti ) yang terjadi sebelum diundangkannya UURI No. 26 Tahun 2000. Agar pelaksanaan Pengadilan HAM bersifat jujur, maka pemeriksaan perkaranya dilakukan majelis hakim Pengadilan HAM yang berjumlah 5 orang. Lima orang tersebut, terdiri atas 2 orang hakim dari Pengadilan HAM yang bersangkutan dan 3 orang hakim ad hoc (diangkat di luar hakim karir). Sedang penegakan HAM melalui KKR penyelesaian pelanggaran HAM dengan cara para pelaku mengungkapkan pengakuan atas kebenaran bahwa ia telah melakukan pelanggaran HAM terhadap korban atau keluarganya, kemudian dilakukan perdamaian. Jadi KKR berfungsi sebagai mediator antara pelaku pelanggaran dan korban atau keluarganya untuk melakukan penyelesaian lewat perdamaian bukan lewat jalur Pengadilan HAM. G. UPAYA PENCEGAHAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA Pendekatan keamanan yang terjadi di era Orde Baru dengan mengedepankan upaya represif tidak boleh terulang kembali. Untuk itu, supremasi hukum dan demokrasi harus ditegakkan. Pendekatan hukum dan pendekatan dialogis harus dikemukakan dalam rangka melibatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pejabat penegak hukum harus memenuhi kewajiban dengan memberikan pelayanan yang baik dan adil kepada masyarakat, memberikan perlindungan kepada setiap orang dari perbuatan melawan hukum, dan menghindari tindakan kekerasan yang melawan hukum dalam rangka menegakkan hukum. Sentralisasi kekuasaan yang terjadi selama ini perlu dibatasi. Desentralisasi melalui otonomi daerah dengan penyerahan berbagai kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah perlu dilanjutkan. Otonomi daerah sebagai jawaban untuk mengatasi ketidakadilan tidak boleh berhenti, melainkan harus ditindaklanjuti dan dilakukan pembenahan atas kekurangan yang selama ini masih terjadi. Reformasi aparat pemerintah dengan merubah paradigma penguasa menjadi pelayan masyarakat dengan cara melakukan reformasi struktural, infromental, dan kultural mutlak dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk pelanggaran HAM oleh pemerintah. Kemudian, perlu juga dilakukan penyelesaian terhadap berbagai konflik horizontal dan konflik vertikal di tanah air yang telah melahirkan berbagai tindak kekerasan yang melanggar HAM dengan cara menyelesaikan akar permasalahan secara terencana, adil, dan menyeluruh. Kaum perempuan berhak untuk menikmati dan mendapatkan perlindungan yang sama di semua bidang. Anak-anak sebagai generasi muda penerus bangsa harus mendapatkan manfaat dari semua jaminan HAM yang tersedia bagi orang dewasa. Anak-anak harus diperlakukan dengan cara yang memajukan martabat dan harga dirinya, yang memudahkan mereka berinteraksi dalam masyarakat. Anak-anak

harus mendapatkan perlindungan hukum dalam rangka menumbuhkan suasana fisik dan psikologis yang memungkinkan mereka berkembang secara normal dan baik. Untuk itu perlu dibuat aturan hukum yang memberikan perlindungan hak asasi anak. Selain hal-hal tersebut, perlu adanya social control (pengawasan dari masyarakat) dan pengawasan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga politik terhadap setiap upaya penegakan HAM yang dilakukan oleh pemerintah. Diperlukan pula sikap proaktif DPR untuk turut serta dalam upaya perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM sesuai yang ditetapkan dalam Tap MPR No. XVII/MPR/1998. Dalam bidang penyebarluasan prinsip-prinsip dan nilai-nilai HAM, perlu diintensifkan pemanfaatan jalur pendidikan dan pelatihan dengan, antara lain, pemuatan HAM dalam kurikulum pendidikan umum, dalam pelatihan pegawai dan aparat penegak hukum, dan pada pelatihan kalangan profesi hukum. Mengingat bahwa dewasa ini bangsa Indonesia masih berada dalam masa transisi dari rezim otoriter dan represif ke rezim demokratis, namun menyadari masih lemahnya penguasaan masalah dan kesadaran bahwa penegakan HAM merupakan kewajiban seluruh bangsa tanpa kecuali, perlu diterapkan keadilan yang bersifat transisional, yang memungkinkan para korban pelanggaran HAM di masa lalu dapat memperoleh keadilannya secara realistis Pelanggaran HAM tidak saja dapat dilakukan oleh negara (pemerintah), tetapi juga oleh suatu kelompok, golongan, ataupun individu terhadap kelompok, golongan, atau individu lainnya. Selama ini perhatian lebih banyak difokuskan pada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara, sedangkan pelanggaran HAM oleh warga sipil mungkin jauh lebih banyak, tetapi kurang mendapatkan perhatian. Oleh sebab itu perlu ada kebijakan tegas yang mampu menjamin dihormatinya HAM di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Meningkatkan profesionalisme lembaga keamanan dan pertahanan negara. 2. Menegakkan hukum secara adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif. 3. Meningkatkan kerja sama yang harmonis antarkelompok atau golongan dalam masyarakat agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing. 4. Memperkuat dan melakukan konsolidasi demokrasi.