You are on page 1of 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi
Mycobacterium leprae (M. leprae) yang pertama menyerang saraf tepi,
selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas,
sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan testis kecuali susunan saraf
pusat.
1-4
Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara-negara yang sedang
berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam
memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan,
dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat.
2
Sejak tahun 2002 sampai
dengan tahun 2006 menurut data dari World Health Organization (WHO)
pada berbagai negara terjadi peningkatan penderita baru seperti pada Republik
Demokrasi Kongo, Indonesia dan Filipina. Menurut data WHO, pada tahun
2011, tercatat 219.075 kasus baru kusta di dunia dengan prevalensi 4,06 per
10.000 penduduk. Menurut profil data kesehatan Indonesia tahun 2011,
terdapat 19.371 kasus baru kusta di Indonesia dengan prevalensi 8,03 per
100.000 penduduk, sedangkan di Sumatera Utara terdapat 170 kasus baru
kusta dengan prevalensi 1,3 per 100.000 penduduk.
2,5,6
Penyakit kusta merupakan penyakit pada manusia yang dapat merusak
saraf tepi sehingga menimbulkan kecacatan pada tangan, kaki, wajah dan
beberapa kasus pada mata.
1,2
Strategi untuk menegakkan diagnosis secara dini
dan penatalaksanaan secara tepat dapat membantu dalam mencegah kecacatan
yang serius pada penderita kusta serta transmisi dari penyakit karena penderita
kusta yang belum diobati merupakan sumber dari penularan penyakit.
Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda
kardinal, yaitu lesi kulit yang mati rasa, penebalan saraf tepi yang disertai
gangguan fungsi saraf dan adanya bakteri tahan asam (BTA) di dalam kerokan
jaringan kulit. Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat
minimal salah satu dari tanda-tanda cardinal.
2


B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui bakteri penyebab kusta/lepra.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mengetahui morfologi bakteri, ciri dan sifat kuman,
penularan dan pertumbuhan kuman, dan pemeriksaan mikroskopis kuman
penyebab penyakit kusta/lepra.


3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sekilas tentang Penyakit Kusta atau Lepra
Kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh
peradaban Tiongkok kuna, Mesir kuna, dan India. Pada 1995, Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa
yang cacat permanen karena kusta. Walaupun pengisolasian atau pemisahan
penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis, beberapa
kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti
India dan Vietnam.
Istilah kusta sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha
berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra
disebut juga Morbus Hansen (MH), sesuai dengan nama yang menemukan
kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874.
Penyakit Morbus Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, yang pertama menyerang
saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas
bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis, kecuali
susunan saraf pusat.Dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari
luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan
kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.
Kusta merupakan penyakit menahun yang dalam jangka panjang
mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Tanda-tanda yang dapat terlihat antara lain timbulnya
adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. Pada awalnya
bercak putih ini hanya sedikit, kemudian akan semakin melebar dan
bertambah. Muncul juga bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada
kulit. Pada keparahan kondisi, dapat terjadi benjolan-benjolan di wajah yang
tegang disebut facies leomina (muka singa).
4

Ada 2 tipe penyakit kusta (menurut WHO), yaitu Kusta tipe Pausi
Bacillary dan Kusta tipe Multi Bacillary.
1. Kusta tipe Pausi Bacillary atau disebut juga kusta kering adalah bilamana
ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa,
permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh
rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi
pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-), Tipe kusta
ini tidak menular.
2. Kusta tipe Multi Bacillary atau disebut juga kusta basah adalah bilamana
bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit
badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada
kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan hasil
pemeriksaan bakteriologi positif (+). Tipe seperti ini sangat mudah
menular.
Manifestasi klinis dari kusta sangat beragam, namun terutama
mengenai kulit, saraf, dan membrane mukosa. Pasien dengan penyakit ini
dapat dikelompokkan lagi menjadi kusta tuberkuloid (Inggris:
paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler), atau kusta
multibasiler (borderline leprosy).
1. Kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), ditandai dengan satu atau
lebih hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa
(anestetik).
2. Kusta lepormatosa (penyakit Hansen multibasiler), dihubungkan dengan
lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan
perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan
hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun
pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.
3. Kusta multibasiler (borderline leprosy), dengan tingkat keparahan yang
sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang
menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak
5

dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan
gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini
tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta
tuberkuloid.
Gambaran Pembeda Lepra tuberkuloid Lepra lepromatosa
Imunitas selular CMI (Cell Mediated
Immunity) kuat
CMI lemah
Uji kulit lepromin Postif lepromin Negative lepromin
M.leprae di
jaringan(seperti tampak
dalam biopsy plong
yang diwarnai pewarna
tahan asam)
Tampak sedikit basil
tahan asam (BTA)
Tampak banyak BTA
(terdiri dari sel-sel
busa)
Lebih menular
Gejala - Satu atau beberapa lesi
datar, Pembesaran saraf,
- Hilangnya sensasi yang
menyebabkan luka
bakar, trauma
- Penyakit lebih parah,
- Lesi kulit (sering
nodular) multiple sering
terdistribusi secara
bilateral, Fasies leonine

Tidak sejalan dengan mitos atau kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak
menyebabkan pembusukan bagian tubuh. Menurut penelitian yang lama
oleh Paul Brand, disebutkan bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang
pada anggota gerak sering menyebabkan luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat
menyebabkan masalah pada penderita AIDS.

6

B. Tentang Mycobacterium leprae
1. Taksonomi dan Nomenklatur M.leprae
Adapun taksonomi dan nomenklatur dari bakteri penyebab kusta/lepra ini
adalah:
Kerajaan :Bacteria
Filum : Actinobacteria
Ordo :Actinomycetales
Subordo : Corynebacterineae
Famili : Mycobacteriaceae
Genus : Mycobacterium
Spesies : Mycobacterium leprae

2. Ciri dan sifat Kuman M.leprae
Mycobacterium leprae ditemukan pertama kali oleh seorang ilmuwan
Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1874
sebagai patogen yang menyebabkan penyakit yang telah lama dikenal
sebagai lepra.
Secara morfologik, Mycobacterium leprae berbentuk pleomorf
lurus, batang panjang, sisi paralel dengan kedua ujung bulat. Ukuran 0,3-
0,5 x 1-8 mikron. Basil ini berbentuk batang gram positif, bersifat tahan
asam (BTA), tidak bergerak dan tidak berspora, dapat tersebar atau dalam
berbagai ukuran bentuk kelompok, termasuk massa irreguler besar yang
disebut sebagai globi.
Pada mikroskop elektron, tampak Mycobacterium leprae
mempunyai dinding yang terdiri dari 2 lapisan, yakni lapisan
peptidoglikan pada bagian dalam dan lapisan transparan lipopolisakarida
dan kompleks protein-lipopolisakarida pada bagian luar. Dinding
polisakarida ini adalah suatu arabinogalaktan yang diesterifikasi oleh
asam mikolik dengan ketebalan 20 mm. Tampaknya peptidoglikan ini
mempunyai sifat spesifik pada Mycobacterium leprae, yaitu adanya asam
amino glisin, sedangkan pada bakteri lain mengandung alanin.
7

Mycobacterium leprae adalah basil obligat intraseluler yang
terutama dapat berkembang biak di dalam sel Schwann saraf dan makrofag
kulit. Basil ini dapat ditemukan dimana-mana, misalnya di dalam tanah,
air, udara, dan pada manusia (terdapat di permukaan kulit, rongga hidung,
dan tenggorokan). Basil ini dapat berkembang biak di dalam otot polos,
otot erektor pili, otot dan endotel kapiler, otot di skrotumm, dan otot iris di
mata. Basil ini juga dapat ditemukan dalam folikel rambut, kelenjar
keringat, sekret hidung, mukosa hidung, dan daerah erosi atau ulkus pada
penderita tipe borderline dan lepromatous. Dan sampai saat ini yang
diketahui bahwa satu satunya hospes kuman Mycobacterium leprae adalah
manusia. Pada seorang penderita kusta, kuman ini dapat diisolasi dari
kerokan kulit, selaput lendeir (terutama hidung) dan endotel pembuluh
darah.
Mycobacterium leprae merupakan basil Gram positif karena
sitoplasma basil ini mempunyai struktur yang sama dengan gram positif
yang lain, yaitu mengandung DNA dan RNA dan berkembang biak
secara binary fision dan membutuhkan waktu 11-13 hari.
Kriteria identifikasi, ada 5 sifat khas Mycobacterium leprae, yakni:
1. Mycobacterium leprae merupakan parasit intraseluler obligat yang
tidak dapat dibiakan pada media buatan.
2. Sifat tahan asam Mycobacterium leprae dapat diekstraksi oleh piridin.
3. M.leprae merupakan satu-satunya mikrobakterium yang mengoksidasi
D-Dopa (D-Dihydroxyphenylalanin).
4. M.leprae adalah satu-satunya spesies mikrobakterium yang
menginvasi dan bertumbuh dalam saraf perifer.
5. Ektrak terlarut dan preparat M.leprae mengandung komponen-
komponen antigenik yang stabil dengan aktivitas imunologis yang
khas, yaitu uji kulit positif pada penderita tuberkuloid dan negatif pada
penderita lepromatous.
Dengan pewarnaan Ziehl Neelsen terlihat kuman ini berbentuk
batang lurus atau sedikit bengkok dengan ukuran 2,8 mikron. Biasanya
8

kuman ini tidak berdiri sendiri melainkan membentuk suatu kumpulan
kuman yang sejajar satu sama lain disebut globi. Pada penderita yang telah
diobati sering dijumpai kuman lepra yang pecah (kuman mati atau
mengalami degenerasi) disamping yang masih utuh dinyatakan sebagai
Indeks Morfologi (Morphological Index: MI). Indeks ini digunakan untuk
mengetahui hasil pengobatan pada penderita. Disamping indeks ini masih
dikenal pula indeks lain yaitu Indeks Bakteri (Bacteriological Index: BI)
yang menyatakan perkiraan jumlah kuman tiap lapangan
pandang/penglihatan. Indeks Bakteri biasanya digunakan untuk
menentukan tipe penyakit kusta.

3. Penularan dan Pertumbuhan Kuman Mycobacterium leprae
Cara-cara penularan Myc.lepra sampai saat ini masih merupakan tanda
tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman tsb. dari tubuh si
penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa
penularan kuman kusta adalah:
1. Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung
penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 27 x 24
jam.
2. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah
umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun
makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
Kuman Mycobacterium leprae menular kepada manusia melalui
kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian
kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata
dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda tanda seseorang
menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami
bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak
berfungsi sebagaimana mestinya.


9

C. Pemeriksaan Kuman Lepra secara Mikroskopik
1. Sampel Pemeriksaan
Seperti yang telah dikemukakan bahwa Mycobacterium leprae tidak
dapat dikultur pada media buatan, maka cara yang termudah untuk
menunjukkan adanya Mycobacterium leprae pada seorang penderita
adalah dengan pembuatan sediaan pulasan. Sediaan pulasan dibuat dengan
jalan membuat sayatan kecil pada kulit atau mengambil secret
mukosa hidung penderita. Apabila hidung dan tenggorok ikut terserang
penyakit kusta, maka kuman lepra dapat ditemukan pada sputum atau
dahak penderita.
Lokasi pengambilan sampel :
a. Sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif dan di bagian
yang terdapat lesi.
b. Kulit muka sebaiknya dihindarkan karena alasan kosmetik kecuali jika
tidak ditemukan kelainan kulit ditempat lain
Tempat-tempat yang sering di ambil :
Cuping telinga
Lengan
Punggung
Bokong
Paha
Pengambilan sampel:
a. Tampung dahak yang keluar dalam wadah yang disediakan,
bersihkan bagian mulut wadah, baru ditutup setelah dipastikan
yang ditampung dahak bukan liur/ludah
b. Wadah di beri lebel yang berisi nama, alamat, tanggal pengambilan
serta dokter pengirim
c. Jumlah pengambilan sediaan apus jaringan kulit minimal
dilaksanakan di tiga tempat, yaitu:
Cuping telinga kiri
Cuping telinga kanan
10

Bercak yang paling aktif
2. Pembuatan Sediaan Pulasan
a. Alat dan bahan :
Pisau kecil steril
Kaca objek
Lampu spiritus
Kapas Alkohol 70%
b. Cara pembuatan sediaan:
1) Cuci tangan dan kenakan sarung tangan.

2) Ambil preparat mikroskop yang baru, bersih dan tidak
lecet.Gunakan pena preparat untuk menulis nomor identifikasi (ID)
pasien (2). Nomor tersebut harus sama dengan yang tercantum
pada formulir permintaan laboratorium.

3) Bersihkan kulit pada tempat pengambilan dengan kapas alkohol.
Biarkan mengering sendiri.
4) Nyalakan lampu spiritus.
11

5) Pasang mata pisau baru pada gagang skalpel. Apabila Anda
meletakkan skalpel, pastikan mata pisau tidak menyentuh apapun.
6) Cubit kulit dengan kuat antara jempol dan telunjuk Anda;
pertahankan tekanan cubitan untuk mencegah keluarnya darah.
7) Buat sayatan pada kulit sepanjang sekitar 5 mm dan sedalam
sekitar 2 mm (3). Tetaplah mencubit agar sayatan tidak berdarah.
Apabila terdapat darah, bersihkan dengan kapas.

8) Belokkan skalpel 90
0
dan tahan pada sudut yang tepat terhadap
irisan. Kerok bagian dalam irisan sekali atau dua kali
menggunakan sisi skalpel untuk mengambil serpihan dan cairan
jaringan. Spesimen yang diambil tidak boleh terdapat darah karena
dapat mengganggu pewarnaan dan intepretasi.
9) Lepaskan cubitan dan apabila terdapat darah, bersihkan dengan
kapas.
10) Usapkan bahan hasil kerokan pada preparat, di sisi yang sama
dengan nomor ID. Sebarkan merata menggunakan bagian datar
skalpel sehingga terbentuk lingkaran dengan diameter 8 mm (4).
12


11) Gosok skalpel dengan kapas alkohol. Gerakkan mata pisau
melewati api spiritus selama 3 sampai 4 detik. Kemudian biarkan
mendingin tanpa menyentuh apapun.
12) Ulangi langkah-langkah di atas untuk tempat pengambilan kedua.
Usapkan smear kedua di sebelah yang pertama, tapi jangan sampai
bersentuhan.
13) Buang mata pisau dengan hati-hati.
14) Balut luka dan ucapkan terima kasih pada pasien.
15) Biarkan preparat mengering selama 15 menit pada suhu kamar,
namun jangan sampai terkena sinar matahari langsung.
16) Fiksasi smear dengan menggerakkan preparat pelan-pelan
melewati api spiritus dengan sisi smear menghadap ke atas
sebanyak 3 kali (5). Jangan sampai terlalu panas. Preparat tidak
boleh menjadi terlalu panas untuk dipegang.

17) Letakkan preparat pada kotaknya dan kirim ke laboratorium
bersama formulir permintaan skin smear.
13

3. Pewarnaan Sediaan
a. Peralatan
Wastafel dengan air mengalir
Rak preparat
Larutan carbol fuchsin 1%
Asam-alkohol 1%
Larutan methylene blue 0,2%
Lampu spiritus
Kertas tisu
Jam atau jam tangan Sarung tangan
Pipet
Batang-batang pewarnaan




b. Pewarnaan
1) Tetesi keseluruhan slide dengan larutan carbol fuchsin 1%.
2) Panaskan preparat pelan-pelan dengan cara meletakkan lampu
spiritus di bawahnya sampai timbul uap dari carbol fuchsin.
Ulangi proses ini 3 kali dalam jangka waktu 5 menit. Pastikan zat
pewarna tidak mendidih. Apabila pewarna mengering, tambahkan
reagen lagi dan panaskan kembali.
14

3) Cuci pelan-pelan pada air ledeng mengalir. Bilas sampai tumpahan
air menjadi tidak berwarna, namun smear tetap berwarna merah
gelap.





Dekolorisasi
4) Tetesi dengan asam-alkohol 1% selama 10 detik. Terdapat cara
alternatif yaitu dengan meneteskan asam sulfat 5% selama 10
menit.
5) Bilas pelan-pelan dengan air.

Gambar 3: Proses Dekolorisasi
Counter staining
6) Tetesi dengan methylene blue 0,2% selama 1 menit. Bilas dengan
air, dan biarkan preparat mengering pada rak pengeringan pada
15

posisi miring dengan sisi yang mengandung smear menghadap ke
bawah.
7) Preparat siap dibaca.


Gambar 5: Counter Staining

4. Pembacaan Hasil Pewarnaan
a. Letakkan preparat pada mikroskop dengan sisi mengandung
b. smear menghadap ke atas dan nomor ID di sebelah kiri.
c. Fokuskan gambar menggunakan lensa obyektif 10x.
d. Beri setetes minyak imersi pada smear.
e. Pindahkan ke lensa obyektif 100x. Lensa akan menyetuh minyak
imersi (apabila perlu, putar sekrup pengarah kasaruntuk memastikan
lensa sedikit menyentuh minyak).
f. Buka penuh diafragma dan naikkan kondenser pada posisi tertinggi.
g. Fokuskan dengan tepat menggunakan sekrup pengarah halus
h. Apabila ditemukan basil tahan asam, hitung berdasarkan skala Indeks
Bakteriologi (IB) berikut. Hitung IB untuk tiap smear secara terpisah.

Bentuk-bentuk M. leprae yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan
mikroskopis adalah :
1) Bentuk utuh (solid); dinding sel bakteri tidak terputus, mengambil zat
warna secara sempurna. Jika terdapat daerah kosong/transparan
ditengahnya juga dapat dikatakan solid
16

2) Bentuk globus ; adalah bentuk solid yang membentuk kelompok, dapat
dibagi 2, yaitu :
a. Globus besar terdiri dari 200-300 bakteri
b. Globus kecil terdiri dari 40-60 bakteri
3) Bentuk pecah (fragmented); dinding bakteri biasanya terputus sebagian
atau seluruhnya, tidak menyerap zat warna secara merata.
4) Bentuk berbutir-butir (granuler); tampak seperti titik-titik yang
tersusun
5) Bentuk clump; adalah bentuk granuler yang membentuk kelompok
tersendiri, biasanya llebih dari 500 bakteri.



5. Pelaporan Hasil Pemeriksaan
Seperti halnya dengan pemerikasaan mikroskopik M.tuberculosis,
maka pada pemeriksaan M.leprae juga ditentukan kepadatan kuman atau
jumlah kuman yang ditemuakn. Kepadatan kuman ini digunakan untuk
menentukan tipe penyakit kusta pada penderita. Penentuan tipe penyakit
kusta ini penting artinya bagi penatalaksanaan terapi dan untuk mngetahui
komplikasi yang bakal terjadi.
Sampai saat ini masih digunakan skala logaritmik dari ridley untuk
menentukan kepadatan kuman lepra. Dengan skala ini dapat ditentukan
tipe penyakit kusta seperti terlihat pada tabel berikut:


17

Tabel 1. Skala Ridley
Skala Jumlah BTA yang ditemukan
+1 1-10 kuman per 100 lapangan penglihatan
+2 1-10 kuman per 10 lapangan penglihatan
+3 1-10 kuman per lapangan penglihatan
+4 lebih dari 10 kuman per lapangan penglihatan
+5 lebih dari 100 kuman per lapangan penglihatan
+6 lebih dari 1000 kuman per lapangan penglihatan

Tabel 2. Hubungan antara skala Ridley dengan tipe penyakit
Tipe menurut
Skala
Tipe menurut International
Ridley Jopling Congress of Leprology
Tuberculiod (TT) 0 Macular tuberculoid
Borderline tuberculoid 0 - +2 Major/Minor Tuberculoid
Borderline (BB) +3 - +4 Indeterminate
Borderline lepromatus +5 Borderline
Lepromatous (LL) +5 - +6 Lepromatous

Hasil pemeriksaan laboratorium kadang-kadang tidak sejalan dengan
hasil pemeriksaan klinis seperti ternyata pada tabel di atas dimana jika
seseorang yang pada pemeriksaan mikroskopik dinyatakan tidak
ditemukan kuman lepranya bukan berarti bahwa yang bersangkutan tidak
menderita kusta. Pada penderita tipe tuberculoid dan borderline
tuberculoid sering tidak ditemukan kuman lepra di kulitnya. Jadi bila
timbul keragu-raguan antara pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
klinis sebaiknya dilakukan pemeriksaan histopatologi.
Selain penentuan kepadatan kuman menurut skala Ridley dikenal pula
penentuan lain yang dinamakan Indeks Bakteri (Bacteriological Index, BI)
yaitu rata-rata kepadatan kuman lepra pada seorang penderita. Seperti
telah dikatakan di atas bahwa untuk pemeriksaan mikroskopik kuman
lepra sebaiknya dibuat sediaan pulasan paling sedikit dari 6 bagian tubuh.
18

Dari setiap bagian tubuh tadi ditentukan kepadatan kumannya menurut
skala Ridley, kemudian dengan membagi jumlah kepadatan kuman seluruh
bagian tubuh yang diperiksa dengan jumlah bagian tubuh yang diperiksa
(pada contoh ini 6), maka dapat ditentukan rata-rata kepadatan kuman dari
penderita dan rata-rata inilah yang dinamakan Indeks Bakteri.

Indeks Bakteriologi
0 0 basil pada 100 lapangan
+1 0 - 10 basil pada 100 lapangan
+2 0 - 10 basil pada 10 lapangan
+3 Rata-rata 1 - 10 basil tiap lapangan
+4 Rata-rata 0-100 basil tiap lapangan
+5 Rata-rata 100-1000 basil tiap lapangan
+6 Rata-rata >1000 basil tiap lapangan

Pada waktu pertama kali kuman lepra ditemukan oleh Hansen, ia
menemukan bahwa beberapa kuman terwarna dengan baik sedangkan
yang lain berbentuk granuler atau terputus-putus. Hansen mengatakan
bahwa kuman yang terputus-putus dan tidak terwarna sempurna adalah
kuman yang mengalami degenerasi. Pernyataan Hansen ini baru terbukti
beberapa tahun kemudian dengan diketahui bahwa kuman hidup berbentuk
utuh dan terwarnai rata, sedangkan kuman yang nampak terputus-putus
dan tidak terwarnai rata adalah kuman yang telah mati. Pengetahuan ini
kemudian digunakan untuk mengetahui perkembangan penyakit seorang
penderita. Penderita kusta yang telah diobati dapat dinilai keberhasilan
pengobatannya dengan menentukan perbandingan antara jumlah kuman
yang hidup dan yang telah mati sebelum dan sesudah pengobatan.
Prosentasi rata-rata dari kuman yang hidup pada seluruh sediaan yang
diperiksa dinamakan Indeks Morfologi (Morphological Index, MI).
Dengan membandingkan MI seorang penderita pada waktu-waktu tertentu
selama pengobatannya, dapatlah diikuti perkembangan dan keberhasilan
19

pengobatan penderita itu. Penurunan MI yang bermakna menunjukkan
keberhasilan pengobatan.
Untuk menentukan MI sebaiknya paling sedikit diperiksa 200
kuman. Hanya kuman yang terwarnai secara reguler di seluruh bagian
tubuhnya yang dianggap sebagai kuman yang hidup.
Sangat dianjurkan untuk selalu melaporkan BI dan MI pada setiap
pemeriksaan mikroskopik sediaan M. leprae. Berikut ini diberikan contoh
perhitungan BI dan MI dari seorang penderita. Seperti terlihat pada tabel 8
dilakukan pemeriksaan pada 6 lokasi. Pada setiap lokasi ditentukan
kepadatan kumannya menurut skala Ridley. Disamping itu dihitung juga
jumlah atau prosentasi kuman yang hidup dan yang mati pada setiap lokasi
yang diperiksa. Selanjutnya dijumlah seluruh skala Ridley yang didapat
untuk kemudian dibagi dengan jumlah lokasi (dalam hal ini 6), dari hasil
perhitungan ini dapat diketahui Bakteri Indeks penderita. Dengan
membagi penjumlahan prosentasi kuman yang hidup pada seluruh lokasi
dengan jumlah lokasi (dalam hal ini 6) akan diperoleh Morfologi Indeks
dari penderita.
Tabel 3. Penentuan BI dan MI seorang penderita
Asal sediaan Skala Ridley % Kuman hidup % Kuman mati
Telinga kanan +4 27 73
Telinga kiri +5 30 70
Jari tangan kanan +4 21 79
Jari tangan kiri +4 20 80
Paha kanan +5 26 74
Paha kiri +4 30 70
Jumlah 26 154 446


20

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, yaitu
sebagai berikut :
1. Penyakit Kusta atau Lepra sering disebut juga penyakit Morbus Hansen
(MH), sesuai dengan nama yang menemukan kuman tsb. yaitu Dr. Gerhard
Armauwer Hansen.
2. Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis-menahun yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, yang menyerang saraf tepi
dan mukosa dari saluran pernapasan atas manusia, dan lesi pada kulit adalah
tanda yang bisa diamati dari luar.

Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat
progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan
mata.
3. Ada 2 tipe penyakit kusta (menurut WHO), yaitu Kusta tipe Pausi
Bacillary (kusta kering) dan Kusta tipe Multi Bacillary (kusta basah). Dan
berdasarkan manifestasi klinis lainnya, pasien dengan penyakit ini dapat
dikelompokkan lagi menjadi kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), kusta
lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler), atau kusta multibasiler
(borderline leprosy).
4. Ada 5 sifat khas dari Mycobacterium lepra, yaitu:
M.leprae merupakan parasit intraseluler obligat yang tidak dapat dibiakan
pada media buatan.
Sifat tahan asam M.leprae dapat diekstraksi oleh piridin.
M.leprae merupakan satu-satunya mikrobakterium yang mengoksidasi D-
Dopa (DDihydroxyphenylalanin).
M.leprae adalah satu-satunya spesies mikrobakterium yang menginvasi
dan bertumbuh dalam saraf perifer.
Ektrak terlarut dan preparat M.leprae mengandung komponen-komponen
antigenik yang stabil dengan aktivitas imunologis yang khas, yaitu uji kulit
positif pada penderita tuberkuloid dan negatif pada penderita lepromatous.
21

5. Di laboratorium, dilakukan pemeriksaan kuman lepra secara Mikroskopik.
Dengan melakuan beberapa tahapan, yaitu pengambilan sampel, pembuatan
sediaan pulasan, pewarnaan sediaan, pembacaan hasil pewarnaan dan
pelaporan hasil pemeriksaan.
6. Bagian tubuh penderita yang sering disayat kulitnya sebagai sampel
pemeriksaan adalah daun telinga, bokong, jari tangan dan kaki, lengan dan
tungkai, punggung dan bagian badan lain dimana terdapat lesi.
7. Sediaan pulasan dibuat dengan jalan membuat sayatan kecil pada kulit atau
mengambil secret mukosa hidung penderita. Apabila hidung dan tenggorok
ikut terserang penyakit kusta, maka kuman lepra dapat ditemukan
pada sputum atau dahak penderita.
8. M.leprae merupakan basil tahan asam (BTA), yang jika diwarnai akan
tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alcohol. Sehingga dilakukan
pewarnaan Ziehl-Neelsen, yang menggunakan 3 macam reagensia
yaitu Larutan karbol fuksin, Larutan dekolorisasi (Alkohol) dan Larutan biru
metilen.
9. Pembacaan hasil pewarnaan dilakukan dengan menggunakan alat mikroskop,
dengan lensa rendam minyak perbesaran 100 kali. Dengan teknik pembacaan
300 lapangan pandang, dihitung jumlah BTA yang ditemukan. Hasilnya
sebagai informasi penting untuk menunjukkan derajad infeksi penderita.
10. Dalam pelaporan hasil pemeriksaan mikroskopik sediaan kuman lepra, sangat
dianjurkan untuk melaporkan nilai BI (Bakteriological Index) dan nilai
MI(Morphological Index).

22

DAFTAR PUSTAKA

Groenen, Dr Guido., Saunderson, Pauldan., Ji, Baohong. 2003. Bagaimana
Melakukan Pemeriksaaan Skin Smear. International Federation of Anti-
Leprosy Associations (ILEP):

Sari, Nirmala. Pemeriksaan Kuman Mycobacterium Lepra. Acces on:
http://malanir.blogspot.com/2013/08/pemeriksaan-kuman-mycobacterium-
lepra.html
savitrirachmawati. 2012. Mycobacterium Leprae. Acces on:
http://savitrirachmawati.wordpress.com/2012/12/13/mycobacterium-
leprae/
Indonesian Children. 2009. Kusta, Penyakit Lepra atau Morbus Hansen. Acces on:
http://koranindonesiasehat.wordpress.com/2009/12/14/kusta-lepra-atau-
penyakit-morbus-hansen/