You are on page 1of 51

1

BAB I
PENDAHULUAN
Pencemaran logam berat cenderung meningkat sejalan dengan
meningkatnya proses industrialisasi, munculnya kasus pencemaran yang
melebihi batas sehingga mengakibatkan kerugian dan meresahkan
masyarakat yang tinggal di sekitar daerah perindustrian maupun
masyarakat pengguna produk industri tersebut hal ini terjadi karena
sangat besarnya resiko terpapar logam berat maupun logam transisi yang
bersifat toksik dalam dosis atau kosentrasi tertentu. Efek toksis logam
berat mampu menghalangi kerja enzim sehingga mengganggu
metabolisme tubuh, menyebabkan alergi, bersifat mutagen, teratogen,
atau karsinogen bagi manusia maupun hewan. (Widowati, dkk., 2008)
Logam berat Cu ditemukan pada berbagai jenis makanan, air, dan
udara sehingga manusia bisa terpapar Cu melalui jalur makanan,
minuman dan saat bernafas. Apabila jumlah Cu telah melampaui batas
aman, akan muncul toksisitas. Setiap hari manusia dapat terpapar Cu
yang antara lain berasal dari peralatan dapur ataupun koin.(Palar, 2008)
Pengadaan instalasi pengolahan limbah masih merupakan masalah
yang serius, karena masih membutuhkan biaya yang relatif tinggi. Sejak
waktu yang cukup lama telah dilakukan penelitian mengenai eliminasi
logam berat menggunakan limbah pertanian dan bahan alam yang
1
2


diharapkan dapat diperoleh dengan biaya yang murah (Friedman, dkk.,
1972)
Beberapa peneliti menemukan bahan-bahan alami (biomaterials)
yang mengandung gugus amino dan karboksil sera polisakarida yang
berguna sebagai chelator (pengikat logam) dengan cara pembentukan
ikatan kompleks antara selulosa dan logam berat. (Zultiniar, 2002)
Pada tahun 2010 dilakukan penelitian menggunakan pectin dari
kulit buah durian yang ternyata dapat menyerap logam berat Cu dan Zn,
pada penelitian ini diketahui bahwa pectin dari kulit buah durian (Durio
zibethinus) dapat menyerap Cu sekitar 48,38% yang hanya menggunakan
satu kosentrasi yaitu 1% (Nasril Syah, 2010)
Pertimbangan untuk meneliti penyerapan pectin terhadap logam
tembaga adalah karena logam tersebut merupakan logam yang bersifat
toksik sehingga diusahakan agar tidak masuk dalam tubuh, selain itu
karena limbah kulit buah durian di indonesia cukup banyak dan tidak di
manfaatkan (Nur, 2009)
Pemanfaatan berbagai limbah pertanian relatif masih sangat
terbatas dan umunya dibuang setelah tidak dimanfaatkan lagi, Selama ini
bagian buah durian yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan adalah
bagian daging buah saja, sedangkan bagian kulit buah durian yang
jumlahnya cukup banyak belum dimanfaatkan. Limbah kulit buah durian
merupakan masalah sangat mengganggu. Kulit buah durian merupakan
bagian dari buah durian yang kaya akan pektin, kandungan Kulit durian
3


yaitu mengandung unsur selulose yang tinggi (50-60 persen)
dimanfaatkan sebagai biomaterial penyerap logam. Ekstraksi pektin dari
kulit buah durian merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk
memanfaatkan limbah kulit buah durian (Durio zibethinus) sekaligus
meningkatkan nilai ekonomis buah durian. Pada prinsipnya ekstraksi
pektin dari jaringan tanaman dilakukan dengan cara menghdrolisis
protopektin bersifat tidak larut dalam air) pada jaringan tanaman menjadi
pektin dapat terdispersi dalam air) menggunakan larutan asam. (Anonim,
2008)
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang daya serap pectin dari kulit buah durian (Durio
zibethinus) terhadap logam tembaga berdasarkan variasi pectin dan waktu
kontak
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Apakah Pektin dari kulit buah durian (Durio zibethinus) dengan variasi
kosentrasi dan waktu kontak berpengaruh terhadap penyerapan
terhadap logam tembaga.
2. Seberapa besar daya serap pectin terhadap logam tembaga setelah
diberi perlakuan pectin dengan variasi kosentrasi dan waktu kontak.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berapa besar daya serap
pectin dari kulit buah durian (Durio zibethinus) terhadap logam tembaga
berdasarkan variasi kosentrasi pectin dan waktu kontak
4


Manfaat penelitian untuk memberikan informasi kepada
masyarakat tentang pemanfaatan limbah pertanian salah satunya kulit
durian sebagai sumber pektin dan sebagai alternatif penyerap logam
berat terhadap pencemaran lingkungan dan keracunan




















5


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Durian
1. Uraian Umum
Adalah nama tumbuhan tropis yang berasal dari Asia
Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini
diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk
tajam sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah "raja
dari segala buah" (King of Fruit), dan durian adalah buah yang
kontroversial. Meskipun banyak yang menyukainya, sebagian yang
lain muak dengan aromanya.Sesungguhnya, tumbuhan dengan
nama durian bukanlah spesies tunggal tetapi sekelompok
tumbuhan dari marga Durio. Namun demikian, yang dimaksud
dengan durian (tanpa imbuhan apa-apa) biasanya adalah Durio
zibethinus. Jenis-jenis durian lain yang dapat dimakan dan
kadangkala ditemukan di pasar tempatan di Asia Tenggara di
antaranya adalah lai (D. kutejensis), kerantungan (D. oxleyanus),
durian kura-kura (D. graveolens), serta lahung (D. dulcis). Untuk
selanjutnya, uraian di bawah ini mengacu kepada Durio zibethinus.
(Anonim, 2012)



5
6


1. Sistematik dan Morfologi Durian (Anonim, 2012)
a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Bombacaceae
Genus : Durio
Spesies : Durio zibethinus Murr
b. Morfologi
Pohon tahunan, hijau abadi (pengguguran daun tidak
tergantung musim) tetapi ada saat tertentu untuk
menumbuhkan daun-daun baru (periode flushing atau
peronaan) yang terjadi setelah masa berbuah selesai. Tumbuh
tinggi dapat mencapai ketinggian 2550 m tergantung
spesiesnya, pohon durian sering memiliki banir (akar papan).
Pepagan (kulit batang) berwarna coklat kemerahan,
mengelupas tak beraturan.
Buah durian bertipe kapsul berbentuk bulat, bulat telur
hingga lonjong, dengan panjang hingga 25 cm dan diameter
hingga 20 cm, Kulit buahnya tebal, permukaannya bersudut
tajam ("berduri", karena itu disebut "durian", walaupun ini bukan
duri dalam pengertian botani), berwarna hijau kekuning-
7


kuningan, kecoklatan, hingga keabu-abuan.Buah berkembang
setelah pembuahan dan memerlukan 4-6 bulan untuk
pemasakan.
c. Kegunaan
Durian terutama dipelihara orang untuk buahnya, yang
umumnya dimakan (arilus atau salut bijinya) dalam keadaan
segar. Salut biji ini umumnya manis dan sangat bergizi karena
mengandung banyak karbohidrat, lemak, protein, dan mineral.
Biji durian mengandung sekitar 27% amilosa. Kulit buah ini pun
biasa dibakar dan abunya digunakan dalam ramuan untuk
melancarkan haid dan menggugurkan kandungan. Abu dan air
rendaman abu ini juga digunakan sebagai campuran pewarna
tradisional
B. Uraian Pektin
1. Pektin
Pektin merupakan campuran polisakarida yang banyak
terdapat pada berbagai buah-buahan. Pektin secara umum berada
di dalam dinding sel primer tanaman, khususnya disela- sela antara
selulosa dan hemiselulosa. Senyawa-senyawa pektin merupakan
polimer dari asam D- galakturonat yang dihubungkan dengan ikatan
-(1,4)-glukosida, asam galakturonat merupakan turunan dari
galaktosa.(Winarno,2004).
8


Pada umumnya senyawa-senyawa pektin dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok senyawa yaitu protopektin,
asam pektinat, pektin dan asam pektat. Komposisi kandungan
protopektin pektin, dan asam pektat di dalam buah sangat
bervariasi dan tergantung pada derajat kematangan buah. (Lihat
gambar 1)

Protopektin merupakan senyawa pektin yang tidak larut dan
banyak terdapat pada tanaman muda. Asam pektinat, disebut juga
pektin. Dalam molekulnya terdapat ester metil pada beberpa
gugusan karboksil sepanjang ranatai polimer galakturonat. Asam
pektinat memiliki jumlah gugus karboksil yang telah termetilasi
kurang dari 50% jika lebih maka disebut pektin. Sedangkan asam
pektat merupakan hasil hidrolisis sempurna dari pektin atau asam
pektinat, yang gugus karboksilnya tidak teresterkan dan tidak
membentuk gel (Winarno,2004)
9


Pektin merupakan hasil produk karbohidrat yang telah
dimurnikan diperoleh dari ekstrak asam encer dari bagian dalam
kulit buah jeruk atau apel dari pomace. Terutama terdiri dari
sebagian asam metoksil poligalakturonik. Pektin memiliki tinggi
berat molekul seperti karbohidrat seperti konstituen tanaman
terutama terdiri dari rantai asam galakturonik unit terkait sebagai
1,4--glukosida, dengan berat molekul 30.000-100.000. Pektin
berbentuk seperti bubuk, kasar atau halus putih kekuningan, tidak
berbau, yang memiliki rasa seperi mucilago, reaktif dan stabil,
kelarutanya dimana larut dalam air, tidak larut dalam etanol (95%)
dan lainnya dalam pelarut organik. ( Rowe,dkk., 2009)
Gugus karboksilat dari pektin inilah yang dapat mengikat
logam membentuk senyawa kompleks yang tidak larut dalam air
Gugus karboksilat dari pektin dapat bereaksi dengan ion logam
berat untuk membentuk senyawa kompleks yang tidak larut dalam
air dan dapat diekskresi melalui feses. Reaktivitas pektin terhadap
ion logam berat sangat tergantung pada derajat esterifikasinya
(Kupchik, et al., 2005).
2. Sifat fisika dan Kimia
a. Sifat fisika
Tidak larut dalam pelarut organik, akan tetapi larut dalam
air panas pada suasana asam Pektin cenderung membentuk jel
(jelly) kalau ditambahkan air dan gula dalam keadaan asam.
10


Namun sifat tersebut tergantung pada jumlah gugus metoksi
dalam molekulnya. Makin tinggi kadar metoksi maka makin
cepat pektin menjadi gel Berupa zat yang berwarna putih
kekuning-kuningan Pektin berbentuk tepung atau serbuk.
(Hanum, 2005)
b. Sifat Kimia
Merupakan senyawa hidrokarbon yang berat molekulnya
besar yang didalamnya terdapat sisa-sisa asam galakturonat
disambung oleh atom-atom oksigen menjadi sebuah rantai.
Disamping gugus karboksil dalam rantai ini terdapat juga gugus
COOCH
3
Pektin tidak dapat larut dalam bentuk kalsium dan
garam magnesium Pada hidrolisa pektin terbentuk metanol,
arabinosa, D-galaktosa, dan asam D-galakturonat yaitu sebuah
asam aldehid yang diturunkan dari D-galaktosa. (Hanum, 2005)
3. Manfaat Pektin
Pektin digunakan sebagai agen adsorben atau penyerap
dan sebagai agen pembentuk, dan hadir dalam multi bahan
persiapan untuk pengobatan diare, sembelit, dan obesitas dan juga
digunakan sebagai emulsi stabilizer. Eksperimen pektin telah
digunakan dalam formulasi gel untuk berkelanjutan pengiriman
ambroksol, Pektin telah digunakan sebagai komponen dalam
penyusunan microsphere polimer campuran sistem dengan tujuan
menghasilkan pelepasan obat terkontrol. (Rowe,dkk., 2009)
11


4. Ekstraksi Pektin
Proses manufaktur umumnya melibatkan ekstraksi bahan
baku dengan air yang mengandung asam mineral (misalnya, asam
nitrat, asam klorida, atau sulfur dioksida) pada pH 1.5-3.0 dan pada
suhu tinggi dari 60-100 C, sentrifugasi, dan filtrasi . Filtrat dapat
terkonsentrasi dan semprot kering atau roller dikeringkan untuk
menghasilkan pektin kelas rendah. Namun, paling sering filtrat
diperlakukan baik dengan alkohol (terutama isopropil) yang
kemudian dicuci, dikeringkan, dan digiling.
Dua jenis pektin yang dihasilkan: rendah-ester (rendah-
metoksi) dan tinggi-ester (tinggi-metoksi) pektin. Untuk memperoleh
rendah ester pektin, hidrolisis diperpanjang atau de-esterifikasi ini
dibiarkan terjadi beberapa waktu (langkah) selama proses
manufaktur. Pektin biasanya standar untuk nilai seragam: "100 gel "
untuk low-ester dan pektin "150 kelas jeli" untuk high-ester pektin.
Pengencer digunakan adalah gula dekstrosa atau lainnya. (John
Wiley & Son , 2010)
Suhu yang tinggi selama ekstraksi dapat meningkatkan
rendaman pektin. Suhu yang agak tinggi akan membantu difusi
pelarut ke dalam jaringan tanaman dan dapat meningkatkan
aktivitas pelarut dalam menghidrolisis pektin yang umumnya
terdapat di dalam sel primer tanaman, khususnya pada lamella
tengah (Towle dan Christensen, 1973). Waktu ekstraksi yang
12


terlalu lama akan mengakibatkan terjadinya hidrolisis pektin
menjadi asam galakturonat. Pada kondisi asam, ikatan glikosidik
gugus metil ester dari pektin cenderung terhidrolisis menghasilkan
asam galakturonat (Smith dan Bryant, 1968).
pH merupakan salah satu parameter pang penting dalam
pembentukan jeli pectin. pH yang terlalu rendah dapat
menyebabkan sineresis, yaitu keluarnya air dalam gel pada suhu
kamar. pH yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gel pecah
(Winarno, 1988). Menurut Wong (1989), pectin bermetoksil rendah
mempunyai pH 2,5-6,5.
C. Uraian Logam Berat
1. Logam Berat
Logam berat dibagi dalam dua jenis yaitu logam esensial
yakni logam dalam jumlah tertentu yang sangat dibutuhkan oleh
organisme. Dalam jumlah berlebihan logam tersebut menimbulkan
efek toksik contohnya adalah Zn, Cu, Fe, co, Mn dan sebagainya,
sedangkan logam berat tidak esensial yakni logam yang
keberadaanya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya,
bahkan bersifat toksik seperti Hg,Cd, Pb, Cr dan lain-lain
Logam berat dapat menimbulkan efek gangguan terhadap
kesehatan manusia, tergantung pada bagian mana dari logam
tersebut yang terikat dalam tubuh serta besarnya dosis
paparan.Efek toksik dari logam berat mampu menghalangi kerja
13


enzim sehingga mengganggu metabolism tubuh, menyebabkan
alergi bersifat mutagen teratogen, atau karsionogen bagi manusia
maupun hewan. (Widowati, dkk., 2008)
1. Tembaga
Kuprum atau tembaga memiliki sistem kristal kubik,
yang secara fisik berwarna kuning dan apabila dilihat
menggunakan mikroskop akan berwarna pink kecoklatan
sampai keabuan. Tembaga termasuk golongan logam,
berwarna mera, serta mudah dalam bentuk pyrite, Fe-sulfat,
dan sering bercampur dengan antimoni , merkuri , timbal , dan
arsen-sulfat. Pada umumnya, bijih tembaga di indonesia
terbentuk secara magmatik. Pembentukan endapan magmatik
bisa berupa proses hidrotermal atau metasomatisme.
(Widowati, dkk., 2008)
Tembaga bisa masuk ke lingkungan melalui jalur
alamiah dan non alamiah. pada jalur alamiah, logam
mengalami siklus perputaran kerak bumi ke lapisan tanah. Ke
dalam mahluk hidup, kedalam kolom air, mengendap, dan
akhirnya kembali lagi ke dalam kerak bumi, Kandungan
alamiah logam berat di lingkungan dapat berubah-ubah,
tergantung pada kadar pencemaran oleh aktifitas manusia tau
perubahan alam, seperti erosi. Kandungan logam berat
meningkat apabila limbah perkotaan, pertambangan,
pertanian, dan perindusrian, yang banyak mengandung logam
14


berat masuk ke dalam lingkungan Dari berbagai limbah,
limbah yang paling banyak mengandung logam berat adalah
limbah industri. Hal itu disebabkan oleh unsur logam berat
yang banyak digunakan dalam berbagai industri, baik sebagai
bahan baku, katalisator, maupun berbagai bahan tambahan.
Tembaga tidak bisa diuraikan di alam sehingga tembaga akan
diakumulasi di dalam tanaman dan hewan melalui tanah.
Tanah kaya berbengaruh terhadap aktifitas mikroorganisme
tanah dan cacing tanah, dan menyebabkan dekomposisi
senyawa organik sehingga mengurangi kesuburan tanah dan
mengurangi produksi. (Widowati, dkk., 2008)
a. Sifat dan Kegunaan
Secara kimia, Jenis ion Cu tersebut dapat
membentuk kompleksion yang sangat stabil, Logam Cu
dalam bentuk persenyawaan seperti CuO, CuCO
3
,
Cu(OH)
2
dan Cu(CN)
2,
tidak dapat larut dalam air dingin
atau panas, tetapi mereka dapat dilarutkan dengan asam
logam Cu itu sendiri, asam sulfat (H
2
SO
4
) panas dan
dalam larutan basa NH
4
OH. Senyawa CuO dapat larut
dalam NH
4
CL dan KCN dan secara fisika, logam Cu
(tembaga) digolongkan ke dalam kelompok logam logam
penghantar listrik terbaik setelah perak (argentum-Ag),
15


Karena itu logam Cu banyak digunakan dalam bidang
elektronika perlistrikan (Palar, 2005)
Sesuai dengan sifat kelogamanya, Cu dapat
membentuk alloy dengan bermacam macam logam
Alloy alloy yang dibentuk dengan logam-logam lain yang
di gunakan,alloy lain adalah bentuk logam yang di kenal
dengan kuningan, dalam bidang industri lainya, senyawa
Cu banyak digunakan sebagai contoh adalah industri cat
sebagai antifoling, industri insektisida dan fungisida. Cu
banyak digunakan sebagai katalis, baterai, elektroda,
penarik sulfur atau belerang dan sebagai pigmen serta
pencegah pertumbuhan lumut. Senyawa tembaga sulfat
juga banyak digunakan dalam bidang pertanian,
peternakan, industri pertolium dan lain-lain. (Palar, 2005)
b. Keracunan Tembaga (Cu)
Bentuk tembaga yang paling beracun adalah debu
debu Cu yang dapat mengakibatkan kematian pada
dosis 3,5 mg/kg. Garam-garam khlorida dan sulfat dalam
bentuk terhidrasi yang sebelumya diduga mempunyai
daya racun lebih rendah dari debu-debu Cu. (Palar, 2005)
Pada manusia, efek keracunan utama yang
ditimbulkan akibat terpapar oleh debu atau uap logam Cu
adalah terjadinya kerusakan atropik pada selaput lendir
16


yang berhubungan dengan hidung Kerusakan itu,
merupakan akibat dari gabungan sifat iritatif yang dimiliki
oleh debu atau uap Cu tersebut, Sumber-sumber dari
keberadaan debu ataun uap Cu di udara sangat banyak.
Namun yang paling banyak berasal dari industri peleburan
biji Cu dan pengelasan logam-logam yang mengandung
Cu. (Palar, 2005)
c. Metabolisme Cu dalam Tubuh
Setiap studi toksikologi yang pernah dilakukan
terhadap penderita keracunan Cu, hampir semuanya
meninjau metabolisme Cu yang masuk ke dalam tubuh
secara oral, penyerapan Cu ke dalam darah dapat terjadi
pada kondisi asam yang terdapat dalam lambung pada
saat proses penyerapan bahan makanan yang telah
diolah pada lambung oleh darah, Cu yang ada turut
terserap oleh darah. (Palar, 2005)
Dalam darah, Cu terdapat dalam kedua ionisasi,
yaitu Cu
+
dan Cu
++
. Apabila jumlah Cu dalam kedua
bentuk itu yang terserap berada dalam jumlah normal
(berada pada titik keseimbangan dengan kebutuhan
tubuh), maka sekitar 93% dari serum C-Cu berada dalam
seruloplasma dan 7% lainya berada dalam fraksi-fraksi
albumin dan asam amino. Serum Cu albumin
17


ditransfortasikan kedalam jaringan tubuh.Cu juga
berikatan dengan SDM (sel darah merah) sebagai
eritrocuprein, yaitu sekitar 60% SDM-Cu, sedankan
sisanya, merupakan fraksifraksi yang labil,selanjutnya
akan membawa Cu kedalam hati. Hati merupakan tempat
penyimpanan Cu yang paling besar yang diterima dari
fraksi fraksi serum Cu-albumin. Dari hati, Cu dikirimkan
ke dalam kandung empedu dari empedu, Cu dikeluarkan
kembali ke usus, untuk selanjutnya dibuang melalui feses.
(Palar, 2005)
D. Spektrofotometri serapan atom (SSA)
Spektrofotometri Serapan atom (SSA) adalah suatu metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang
berdasarkan pada penyerapan (absorpsi) radiasi oleh atom-atom
bebas unsur tersebut. Sekitar 67 unsur telah dapat ditentukan dengan
cara SSA. Banyak penentuan unsur-unsur logam yang sebelumnya
dilakukan dengan metoda polarografi, kemudian dengan metoda
spektrofotometri UV-VIS, sekarang banyak diganti dengan metoda
SSA.
1. Keuntungan dan Kerugian Spektrofotometer Serpan Atom
a. Keuntungan Spektrofotometer Serapan Atom. Sensitivitas
(Kepekaan), cara ini sangat peka, dapat menentukan suatu
18


unsur di bawah 1 bpj bahkan beberapa unsur dapat ditentukan
hingga bawah 1 bpj.
2. Selektivitasnya tinggi, cara ini sangat selektif sehingga dapat
menentukan beberapa unsur dalam suatu larutan tanpa
perlu adanya pemisahan karena penentuan suatu unsur
dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan bila katoda
berongga tersedia. (Khopkar, 1982).
b. Kekurangan spektrofotometri serapan atom.
Keterbatasan spektrofotometri serapan atom adalah
hanya dapat diterapkan pada unsur-unsur logam dan masing-
masing unsur memerlukan lampu katode rongga yang berbeda
untuk penetuannya. (Watson,2005).
3. Peralatan Spektrofotometer Serapan Atom.
Spektrofotometer serapan atom secara garis besar terdiri
atas lima komponen, sumber cahaya, nyala pengatoman,
monokromator, detektor, amplifier, dan sistem pembacaan. Skema
gambar alat tersebut dapat dilihat pada gambar (2) berikut ini :





Monokromator
Detektor
signal
Amplifier
Amplifier ac signal
Hellow cathode fuel
oxidant Bunier-
otomiser
Gambar 2. Skema Rangkaian alat Spektrofotometer Serapan Atom
19


a. Sumber cahaya, berfungsi untuk memancarkan cahaya yang
dipakai untuk mengeksitasikan atom-atom dan unsur yang akan
dianalisa. Sumber cahaya ini harus memancarkan cahaya
radiasi yang tajam dan intensitasnya stabil sumber yang paling
banyak digunakan dalam spektrofotometer serapan atom
adalah lampu katoda berongga (Hollow Cathoda Lamp). Lampu
2 memiliki 2 elektroda, 1 diantaranya berbentu silinder dan
terbuat dari unsur yang sama dengan unsur yang dianalisis dan
diisi dengan gas mulia bertekanan rendah. Di bawah ini
digambarkan susunan dari suatu lampu katoda berongga
(gambar 3).





Gambar 3. Bagian lampu katoda berongga
Keterangan :
1. Penyumbat dasar
2. Anoda
3. Katoda
6
2 4
1
3 5
20


4. Tabung gelas tertutup
5. Pelindung dari gelas
6. Jendela silika
b. Nyala Pengatoman, dimana proses terjadi pada sistem terdiri
dari 2 tingkat yaitu pengabutan larutan yang berfungsi
mengubah larutan menjadi kabut agar dapat masuk ke dalam
nyala dan pengatoman unsur di dalam nyala dengan
menggunakan pembakar yang berfungsi mengubah ion logam
menjadi atom.
c. Monokromator, berfungsi mengubah energi cahaya yang
diterima menjadi panjang gelombang spesifik, ukuran
kesanggupan monokromator memisahkan garis-garis spectra ini
disebu resolusi.
d. Detektor berfungsi mengubah energi cahaya yang diterima
menjadi sinyal listrik. Detektor akan menerima 2 macam isyarat
yaitu isyarat yang berasal dari sumber sinar dan isyarat yang
continue yang berasal dari nyala.
e. Amplifier dan Pembacaan, berfungsi untuk memperkuat arus
yang timbul pada detector dan selanjutnya ke sistem
pembacaan

21


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen.
B. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan agustus 2012,
bertempat di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar Sulawesi
Selatan.
C. Alat dan bahan
1. Alat yang digunakan
a. Alat refluks
b. Batang pengaduk
c. Blender
d. Erlenmeyer
e. Gelas kimia
f. Gelas ukur
g. Kertas saring Whatman no.42,
h. Kuvet
i. Labu ukur
j. Pengaduk magnetik
k. Pipet volume
l. Pipet tetes
m. Sendok tanduk
21
22


n. Spektrofotometri serapan aton (SSA)
o. Spatula
p. Termometer
q. Timbangan analitik
r. Timbangan kasar
2. Bahan yang digunakan
a. Alkohol 95%
b. Asam klorida 1%
c. Asam klorida 2%
d. Aquadest
e. Etanol 95%
f. Kulit buah durian
g. Larutan standar Logam Cu 1000 ppm
j. Larutan natrium bisulfit 1000 ppm
D. Prosedur Kerja
1. Pengambilan sampel
Metode pengambilan sampel dilakukan secara sampling
purposif yang dikenal juga sebagai sampling pertimbangan dimana
pengambilan sampel dilakukan di pasar Terong berdasarkan
pertimbangan bahwa semua jenis buah durian yang dijual di
daerah pasar Terong Makassar adalah homogen.

23


2. Penyiapan sampel
a. Kulit buah durian
Kulit buah durian segar yang diambil adalah bagian kulit
dalam yang berwarna putih dengan cara mengiris bagian kulit
terluar buah durian , Kemudian kulit bagian dalam durian yang
telah dipisahkan dari bagian kulit terluar, dicuci bersih dari
kotoran menggunakan air.
b. Pembuatan Larutan asam
Untuk pembuatan larutan alkohol asam yaitu 198 ml
larutan etanol 95% dalam labu ukur dan ditambahkan larutan
HCl 2% sebanyak 2 ml (Hasbullah,2001)
c. Isolasi pektin pada kulit buah durian (Hasbullah,2001)
Kulit bagian dalam durian yang telah bersih ditimbang
100 gram dan ditambahkan larutan natrium bisulfit 300 ml
(1000 ppm) dan dihaluskan menggunakan blender, hasil yang
diperoleh dan didiamkan selama 30 menit. diencerkan dengan
air sebanyak 3 kali berat berat albido semula diaduk sehingga
menjadi bubur encer, ditambahkan dengan HCl 1% hingga pH
1,5. Kemudian di refluks pada suhu 70-80C selama 2 jam
sambil diaduk, Kemudian disaring dengan kertas saring
whatman no.42 untuk memisahkan antara ampas dan filtratnya,
ampas yang diperoleh dibuang dan filtartnya ditampung. Filtart
selanjutnya dipanaskan pada suhu 95C sambil diaduk hingga
24


volumenya mejandi setengah volume dari semula. Filtrat pekat
didinginkan kemudian tambahkan alkohol asam 200 ml dan
diaduk sampai merata, filtrat didiamkan selam 10-14 jam.
Endapan pektin dipisahkan dari filtart dengan kertas saring,
kertas saring whatman no.42, filtartnya dibuang. Endapan
pektin dicuci dengan alkohol 95% sebanyak 200 ml dan
disaring. Pektin basah dikeringkan dalam oven pada suhu 40
o
C
selama 6 jam kemudian pektin kering digerus hingga halus dan
diayak menggunakan mesh 60.
3. Analisis Kuantitatif.
a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum.
Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan
berdasarkan pengaturan alat spektrofotometer serapan atom
yang telah di standardisasi.
b. Pembuatan Larutan Standar Logam Tembaga(1000 ppm).
Pembuatan larutan standar logam tembaga (1000 ppm)
dengan menimbang logam tembaga sebanyak 1 gram
dilarutkan dengan aquadest, dimasukkan ke dalam labu
tentukur 1000 ml, ditepatkan sampai garis batas dengan
aquades.
c. Penentuan Kurva Baku Standar Logam Tembaga
Larutan baku standar tembaga (1000 ppm) dipipet 10 ml
dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml, kemudian ditambah air
25


suling sampai garis tanda (konsentrasi 100 ppm). Larutan
standar tembaga konsentrasi 100 dipipet 10 ml dimasukkan
kedalam labu 100 ml ditambah air suling sampai garis tanda
(konsentrasi 10 ppm).
Pipet 1, 2, 3, 4, 5 ml larutan baku (10 mcg/ml),
dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml lalu ditambah air suling
sampai garis tanda. Larutan tersebut mengandung 0,1 ppm, 0,2
ppm, 0,3 ppm, 0,4 ppm, 0,5 ppm. Diukur pada panjang
gelombang 324,7 nm.
c. Pembuatan larutan Sampel Tembaga 2,5 ppm
Ditimbang 1 gram tembaga dilarutkan dalam 1000 ml
aquadest untuk membuat larutan tembaga 1000 ppm. Larutan
tembaga 1000 ppm di pipet sebanyak 5 ml dilarutkan kedalam
aquadest sebanyak 50 ml (100 ppm), kemudian dipipet
sebanyak 25 ml dari larutan stok 100 ppm dilarutkan dengan
aquadest sebanyak 1000 ml (2,5 ppm).
d. Optimasi penyerapan Logam Tembaga (Cu) oleh Pektin Dan
Variasi Waktu Kontak Dan Bobot Adsorben
Larutan sampel tembaga 1000 ml (2,5 ppm) yang sudah
dibuat, di bagi dalam 10 sampel, dimana 9 perlakuan beserta
satu kontral yang masing- masing berisikan 100 ml larutan
tembaga
26


Dari ke 9 perlakuan tersebut dibagi dalam 3 bagian
Kemudian diberi pectin masing- masing 1 gram untuk bagian
pertama dan dikontakkan selama 1,2,3 jam, 1,5 gram untuk
bagian kedua dikontakkan selama 1,2, 3 jam, 2 gram untuk
bagian ketiga di kontakkan selama 1,2,3 jam menggunakan
pengaduk magnetik, lalu masing masing hasil perlakuan
larutan tersebut disaring dengan kertas whatman, diambil
bagian supernatannya dan diukur konsentrasi logam
menggunakan spektrofotometer serapan atom pada panjang
gelombang 324,7nm untuk tembaga Nilai absorbansinya yang
diperoleh berada dalam rentang nilaii kurva kalibrasi larutan
baku sehingga konsentrasi tembaga dalam larutan dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan garis regresinya
Besar daya serap pektin terhadap logam dapat dihitung dalam
bentuk persen menggunakan rumus sebagai berikut:
%


Keterangan:
% = daya serap pektin, Lb = larutan blanko (tanpa
penambahan pektin), Ls = larutan sampel (dengan
penambahan pektin). Persen daya serap pektin berdasarkan
rata-rata dari beberapa kali perlakuan (Eliaz, at al., 2007).


27


E. Analisa Data
Dari hasil pengukuran serapan larutan baku dengan panjang
gelombang tertentu, dibuat grafik antara serapan dan konsentrasi
asetosal, dimana nilai-nilai serapan pada sumbu Y dan konsentrasi
pada sumbu X. Kemudian ditarik garis diantara titik untuk memperoleh
persamaan garis lurus :
Persamaan Garis Regresi : Y = a + bX
Dimana : Y = Serapan
X = konsentrasi (bpj)
a = intersep
b = slope / kemiringan
n = Jumlah data
Berdasarkan rumus :
a =
n
X b Y ) (

b =
2 2
) ( ) (
) )( ( ) (
X X n
Y X XY n




28


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh dari uji daya serap pektin dari
Kulit Buah Durian (Durio zibethinus) terhadap logam Tembaga (Cu)
berdasarkan waktu kontak dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Daya serap pektin dari Kulit Buah Durian (Durio zibethinus)
terhadap logam Tembaga (Cu) berdasarkan waktu kontak 1,
2 dan 3 jam

Kode
sampel
Waktu
Kontak
(jam)
Absorban
Konsentrasi
Tembaga
(ug/g)
Konsentrasi
rata-rata
Tembaga
(ug/g)
Daya
Serap
(%)
Kontrol
0,1190
0,1192
0,1188
2,4437
2,4478
2,4396

2,4437

A
1
0,0914
0,0915
0,0913
1,8793
1,8813
1,8773
1,8793

23,09

2
0,0852
0,0855
0,0849
1,7525
1,7586
1,7464
1,7525 28,28
3
0,0832
0,0830
0,0834
1,7116
1,7075
1,7157
1,7116 29,95
B
1
0,0800
0,0798
0,0796
1,6462
1,6421
1,6380
1,6421 32,80
2
0,0760
0,0762
0,0758
1,5644
1,5685
1,5603

1,5644

35,98
3
0,0732
0,0733
0,0731
1,5071
1,5092
1,5051
1,5071 38,32
C
1
0,0680
0,0682
0,0678
1,4008
1,4049
1,3967
1,4008

42,67

2
0,0623
0,0624
1,2842
1,2862
1,2842 47,44
28
29


0,0622 1,2822
3
0,0599
0,0601
0,0597
1,2351
1,2392
1,2310

1,2351

49,45
Sumber : Data Primer
Keterangan :
Kontrol : Larutan Tembaga tanpa penambahan pektin
A : Larutan tembaga dengan penambahan pektin 1 %
B : Larutan tembaga dengan penambahan pektin 1,5 %
C : Larutan tembaga dengan penambahan pektin 2 %
















30


B. Pembahasan
Pada penelitian ini dilakukan uji Daya Serap Pektin Dari Kulit
Buah Durian (Durio zibethinus) Terhadap Logam Tembaga (Cu)
Berdasarkan waktu Kontak. Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengetahui seberapa besar kemampuan daya serap pektin pada
durian terhadap logam Cu. Pada tahapan awal dalam penelitian ini
menggunakan bagian dalam kulit durian yang telah dihaluskan
bersama natrium bisulfit dan diencerkan dengan air. Pektin yang telah
halus ini kemudian diasamkan dengan penambahan asam klorida 1 N
hingga pH 1,5 Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan pektin dari sel
pada jaringan dengan cara menghidrolisa protopektin untuk menjadi
pektin. Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi secara refluks.
Pemisahan pektin dalam filtrat dilakukan dengan penambahan etanol
asam untuk memisahkan zat terlarut lainnya seperti glukosa.
Penambahan etanol asam dilakukan karena pektin praktis tidak larut
dalam pelarut organik seperti etanol. Penambahan etanol kembali
dilakukan untuk proses pencucian sehingga memperoleh pektin basah
yang murni dan dikeringkan, kemudian digerus untuk mendapatkan
serbuk pektin.
Tahapan selanjutnya dilakukan uji daya serap pektin terhadap
logam tembaga dengan menggunakan 3 konsentrasi pektin yaitu 1%,
1,5%, dan 2 % dengan parameter waktu kontak masing-masing 1, 2,
dan 3 jam. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah
31


spektrofotomer serapan atom (SSA). Spektrofotometer serapan atom
merupakan analitik yang terutama sekali digunakan untuk analisis
logam-logam dalam jumlah renik karena sangat peka untuk analisis
logam dalam jumlah kecil dan sangat spesifik. Prinsip kerja alat ini
berdasarkan pada penguapan larutan contoh, kemudian logam yang
terkandung didalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut
mengabsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari
lampu katoda yang mangandung unsur yang akan ditentukan.
Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang
gelombang tertentu, dan 324,7nm adalah panjang gelombang yang
tepat yang dapat diserap oleh atom Tembaga.
Dari hasil pengukuran absorbansi larutan standar tembaga
yang berada dalam konsentrasi rentang kerja tembaga pada panjang
gelombang 324,7 nm diperoleh persamaan garis regresi y = -0,0005 +
0,0489 X dengan koefisien korelasi r = 0,998. Selanjutnya dilakukan
pengukuran konsentrasi tembaga sebagai kontrol yang tidak
ditambahkan dengan pektin dan diperoleh konsentrasi sebesar 2,4437
ug/g. Untuk sampel A dengan penambahan pektin 1 % dan waktu
kontak 1, 2 dan 3 jam deperoleh konsentrasi tembaga secara berturut-
turut sebesar 1,8793 ug/g, 1,7525 ug/g, 1,7116 ug/g, dan daya serap
pektin secara berturut-turut sebesar 23,09%, 28,28%, dan 29,95%.
Untuk sampel B dengan penambahan pektin 1,5 % dan waktu kontak
1, 2 dan 3 jam deperoleh konsentrasi tembaga secara berturut-turut
32


sebesar 1,6421 ug/g, 1,5644 ug/g, 1,5071 ug/g, dan daya serap pektin
secara berturut-turut sebesar 32,80%, 35,98%, dan 38,32%.
Sedangkan untuk sampel C dengan penambahan pektin 2 % dan
waktu kontak 1, 2 dan 3 jam deperoleh konsentrasi tembaga secara
berturut-turut sebesar 1,4008 ug/g, 1,2842 ug/g, 1,2351 ug/g, dan
daya serap pektin secara berturut-turut sebesar 42,67%, 47,44%, dan
49,45%. Berdasarkan hasil tersebut konsentrasi pektin 2% dengan
waktu kontak 3 jam memiliki daya serap paling tinggi yaitu sebesar
49,45%, sedangkan daya serap paling minimum yaitu pada kosentrasi
1% dengan waktu kontak 1 jam sebesar 23,09%
Dari hasil penelitian sebelumnya (Nasril Syah) pada pengujian
menggunakan pectin terhadap Cu dan Zn dapat menyerap logam Cu
sekitar 48,38% yang hanya menggunakan kosentrasi 1%. Sedangkan
pada penelitian yang dilakukan, daya serap pectin dari kulit buah
durian terhadap logam tembaga dengan variasi kosentrasi 1%,
1,5%,2% dan waktu kontak 1,2, 3 jam. Dari perlakuan tersebut
penambahan kosentrasi pectin 2% dengan waktu kontak 3 jam
menunjukkan aktivitas penyerapan logam Cu yang paling tinggi, tetapi
dengan penambahan konsentrasi pektin 1%dengan waktu kontak 1
jam menunjukkan peningkatan aktivitas penyerapannya tidak begitu
besar, hanya sekitar 23,09%, perbedaan besar dari daya serap pectin ini
yaitu dikarenakan kosentrasi dan waktu kontak berpengaruh dalam
penyerapan pectin tehadap logam tembaga. Besar jumlah pengikatan
33


logam tembaga bergantung pada sifat kestabilan kompleks yang
terjadi pada pektin dengan logam tembaga dimana energi penstabil
medan ligan mempengaruhi atas kecendrungan umum pembentukan
senyawa kompleks dari suatu senyawa dengan logam.( Cotton, 1989)



















34


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Daya serap pektin dengan waktu kontak 1, 2 dan 3 jam diperoleh secara
berturut-turut Untuk sampel A dengan penambahan pektin 1 % sebesar
23,09%, 28,28%, dan 29,95%. Untuk sampel B dengan penambahan
pektin 1,5 % sebesar 32,80%, 35,98%, dan 38,32%. Sedangkan untuk
sampel C dengan penambahan pektin 2 % sebesar 42,67%, 47,44%, dan
49,45%.
2. Dengan mengunakan variasi kosentrasi dan waktu kontak yaitu
konsentrasi pektin 2% dengan waktu kontak 3 jam memiliki daya
serap paling tinggi terhadap logam tembaga yaitu sebesar
49,45%,
B. Saran.
Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap
penurunan kadar logam tembaga dengan variasi pectin, waktu kontak,
suhu yang maksimum atau menggunakan absorben lain yang
mengandung senyawa pectin




34
35



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001, Kualitatif Analisis .
(http://faculty.coloradomtn.edu/jeschofnig/class/class_jeschof/ch2lb
8.htm).diakses 12 Mei 2012
Anonim, 2009, Durian. (http://id.wikipedia. org/ wiki/ Durian). diakses 12
Mei 2012.

Altmasier, S.S, 2001, Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta
Darmono, 1995, Logam Dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI Press.
Jakarta. Hal. 9-25.

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta. Departemen
Kesehatan RI. Hal. 654-655..

Endress, H.U, 1988, Nonfood Use of Pectin. Hebstreith and Fox Kg
Pectin-Fabrik. Neuenburg. Jerman. Hal 257
Friedman, M. and Waiss, Jr. A.C., 1972, Mercury Uptake by Selected
Agricultural Products and By-Products, Environt. Scie. And Tech.,
6:5, 457 458

Hasbullah, 2001, Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera
Barat.Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera
Barat.

Hanum, H, 2005, Kondisi optimum pada hidrolisa pektin Dari kulit buah
pepaya. Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 3

JuliantyRiza,2010,Instrumen
Kimia.(http://chicamayonnaise.blogspot.com). Diakses 12 Mei
2012

John Wiley & Sons, 2010, Pectin Leung Encyclopedia.(Online) ,
(http://www.answers.com/topic/pectin, diakses 5 juni 2012)

Kupchik, L.A., Kartel, N.T., Bogdanov, E.S., Bogdanova, O.V. and
Kupchik, M.P, 2005, Chemical modification of pectin to improve its
sorption properties. Russian Journal of applied chemistry. National
35
36


University of Alimentary Technologies. Kiev. Ulkraine. Vol.79.
No.3. Hal. 457.
Lhitasha, 2008, Pemeriksaan Atas Unsur Logam .blognya Farmasis Muda,
(online),
(http://filzahazny.wordpress.com/2008/09/28/pemeriksaan-atas-
unsur-logam/), diakses 25 Mei 2008)

Palar, H, 2008, Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit
Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 23-61.

Pedrolli1, D.B., Monteiro, Alexandre C.E., Gomes and Carmona1, E.C,
2009, Pectin and Pectinases: Production, haracterization and
Industrial Application of Microbial Pectinolytic Enzymes.
Departamento de Bioqumica e Microbiologia, Instituto de
Biocincias, Universidade Estadual Paulista - UNESP, 13506-900,
Rio Claro, SP, Brazil

Rowe, R.C., Sheskey P.J., Quinn. M.E, 2009, Handbook of
Pharmaceutical. Pharmaceutical Press and American Pharmacists
Association. Vol 7. Hal 478-47

Syah, N, 2010, Daya Serap Pektin Dari Kulit Buah Durian (Durio
Zibethinus) Terhadap Logam Tembaga Dan Seng. Universitas
Sumatra Utara.Medan.

Widowati, W., Sastiono, A., dan Jusuf, R, 2008, Efek Toksik Logam.
Penerbit ANDI. Yogyakarta. Hal. 303
Winarno, F.G. 1984. Kimia Pangan Dan Gizi. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Wong, W.W., Phuah, E.T., Al-Kharkhi, A., Liong, M.T., Nadiah, W.A.,
Rosma, A., and Easa, A.M., 2008, Biosorbent Ingradients from
Durian Rind Waste. School of Industrial Technology. University
Sains Malaysia. Penang. Hal. 92.






37









Gambar 4. Skema Kerja Daya Serap Pektin Dari Kulit Buah Durian
Terhadap Logam Tembaga (Cu) berdasarkan waktu kontak.
+ 1% Pektin
1 Jam

bb
d
Da

+ 1% Pektin
3 Jam

bb
d
Da

+ 1,5% Pektin
1 Jam

+ 2% Pektin
3 Jam

+ 2% Pektin
2Jam

+ 1,5% Pektin
3 Jam

Di Saring

Pengumpulan Data
Diaduk Dengan Pengaduk Magnetik

Kulit Buah Durian (Durio zibethirus) Halus
Sebanyak 100 gram

Fitrat
Pektin Logam Cu
+ 1,5% pektin
2 Jam

Diukur Serapannya Dengan SSA

Analisis Data
Pembahasan
san
Kesimpulan
san
Residu


+ 1,5% pektin
Lama Kontak 4 jam
+ 100 ml logam Cu (2,5 ppm)


Endapan Pektin Filtrat
+ 1% Pektin
2 Jam
bb
d
Da

+ 2% Pektin
1 Jam
Ditambahkan 300 ml natrium bisulfat
Didiamkan selama 30 menit
Ditambahkan 300 ml aquades
Ditambahkan HCl% hingga PH 1,5
Di refluks 2 jam
Di Saring

Di panaskan sampai setengah volume
Di peroleh filtrat pekat
Didinginkan
Ditambahkan 200 ml alkohol asam
Didiamkan selama 10-14 jam
Disaring

Pencucian dengan 200 ml etanol
95%

38


Lampiran 1. Hasil perhitungan persamaan Garis Regresi Linear Logam
Tembaga (Cu) dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom pada
Panjang Gelombang 324,7nm
X Y XY X
2
Y
2
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5

0,0045
0,0089
0,0142
0,0194
0,0237

0,00045

0,00178

0,00426

0,00776

0,01185
0,01
0,04
0,09
0,16
0,25
0,00002025
0,00007921
0,00020164
0,00037636
0,00056169
X = 1,5 Y = 0,0707 XY= 0,0261 X
2
= 0,55 X
2
= 0,00123915

Persamaan Garis Regresi : Y = a + bX
Dimana : Y = Serapan
X = konsentrasi (bpj)
a = intersep
b = slope / kemiringan
n = Jumlah data
Berdasarkan rumus :
a =
n
X b Y ) (

b =
2 2
) ( ) (
) )( ( ) (
X X n
Y X XY n



39


b =
2 2
) ( ) (
) )( ( ) (
X X n
Y X XY n



maka :
5(0,0261) (1,5)( 0,0707)
=
5(0,55) (1,5)
2

0,02445
=
0,5

= 0,0489
a =
n
X b Y ) (

0,0707 0,0489 (1,5)
=
5

0,0707 0,07335
=
5

-0,00265
=
5
= -0,0005
sehingga persamaan garis regresinya adalah :
Y = a + bx
Y = -0,0005 + 0,0489 X




40


Lampiran 2. Contoh Perhitungan Konsentrasi Tembaga pada Sampel

1. Perhitungan Konsentrasi Tembaga pada Kontrol

Kode contoh : Kontrol 1
Serapan : 0,1190
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,1190 + 0,0005
=
0,0489
= 2,4437 bpj
Kode contoh : Kontrol 2
Serapan : 0,1192
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,1192 + 0,0005
=
0,0489
= 2,4478 bpj

41


Kode contoh : Kontrol 3
Serapan : 0,1188
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,1188 + 0,0005
=
0,0489
= 2,4396 bpj
Konsentrasi Rata-rata Tembaga pada Kontrol


2. Perhitungan Konsentrasi Tembaga pada penambahan pektin
1% dengan waktu kontak 1 jam

Kode contoh : A1.1
Serapan : 0,0914
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0914+ 0,0005
=
0,0489
42


= 1,8793 bpj
Kode contoh : A1.2
Serapan : 0,0915
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0915+ 0,0005
=
0,0489
= 1,8813 bpj
Kode contoh : A1.3
Serapan : 0,0913
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0913 + 0,0005
=
0,0489
= 1,8773 bpj
Konsentrasi Rata-rata Tembaga :


43



Perhitungan Konsentrasi Tembaga pada penambahan pektin
1% dengan waktu kontak 1,5 jam

Kode contoh : A2.1
Serapan : 0,0852
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0852+ 0,0005
=
0,0489
= 1,7525 bpj
Kode contoh : A2.2
Serapan : 0,0855
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0855+ 0,0005
=
0,0489
= 1,7586 bpj

44


Kode contoh : A2.3
Serapan : 0,0849
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0849 + 0,0005
=
0,0489
= 1,7464 bpj
Konsentrasi Rata-rata Tembaga :


Perhitungan Konsentrasi Tembaga pada penambahan pektin
1% dengan waktu kontak 2 jam

Kode contoh : A3.1
Serapan : 0,0832
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0832+ 0,0005
=
0,0489
45


= 1,7116 bpj
Kode contoh : A3.2
Serapan : 0,0830
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0830+ 0,0005
=
0,0489
= 1,7075 bpj
Kode contoh : A3.3
Serapan : 0,0834
Dari perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk
logam tembaga sebagai berikut :
Y = -0,0005 + 0,0489 X

Y + 0,0005
Sehingga (X) =
0,0489

0,0834 + 0,0005
=
0,0489
= 1,7157 bpj
Konsentrasi Rata-rata Tembaga :


46


Lampiran 3. Contoh perhitungan daya serap pektin terhadap logam
tembaga berdasarkan waktu kontak
%


Keterangan:
% = daya serap pektin,
Lb = Konsentasi rata-rata larutan blanko (tanpa penambahan
pektin),

Ls = Konsentrasi rata-rata larutan sampel (dengan
penambahan pektin)

1. Daya serap pektin 1 % terhadap logam tembaga dengan
waktu kontak 1 Jam
Lb = 2,4437 bpj
Ls = 1,8793 bpj



2. Daya serap pektin 1 % terhadap logam tembaga dengan
waktu kontak 1,5 Jam
Lb = 2,4437 bpj
Ls = 1,7525 bpj


47



3. Daya serap pektin 1 % terhadap logam tembaga dengan
waktu kontak 2 Jam
Lb = 2,4437 bpj
Ls = 1,7116 bpj




48





y = 0,0489x - 0,0005
R = 0,998
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
a
b
s
o
r
b
a
n

konsentrasi
Gambar 5. Kurva baku larutan Logam Tembaga (Cu) dengan
Spektrofotometer Serapan Atom pada Panjang
Gelombang 324,7nm
Gambar 6. Proses Penyaringan Pektin basah kulit durian
49







Keterangan :
A : Pektin Kulit Buah Durian Kosentrasi 1% dengan lama Kontak 1,2,3
jam
B : Pektin Kulit Buah Durian Kosentrasi 1,5% dengan lama Kontak 1,2,3
jam
C : Pektin Kulit Buah Durian Kosentrasi 2% dengan lama Kontak 1,2,3
jam


Gambar 7. Larutan Sampel campuran Pektin dari Kulit Buah
Durian (Durio Zibethinus) dan Logam Cu
A B
C
50




Gambar 8. Proses pengadukan Magnetik Sampel Pektin dan
logam tembaga

Gambar 9. Buah Durian (Durio zibethinus)
51