You are on page 1of 5

Sumber:

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2011. Pedoman Interpretasi Data
Klinik. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, et al. 2008. In: Harrisons Principles of
Internal Medicine. 17th edition. McGrawHill Companies
Scully, Crispian. 2013. Oral and Maxillofacial Medicine, 3
rd
Edition. London: Elsevier.
Regezi

Diagnosis Banding Ulserasi Traumatik

Apabila penyebab ulser tidak diketahui secara jelas, maka beberapa kondisi yang dapat menjadi
diagnosis banding adalah:

1. Ulser akibat Infeksi
Infeksi dapat timbul dari beberapa macam mikroorganisme. Beberapa penyakit infeksi
spesifik dengan tanda yang mirip dengan ulser traumatik antara lain:

a. Sifilis
Etiologi penyakit ini adalah bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menular
melalui kontak seksual, transfusi darah, atau inokulasi transplasental. Gambaran Klinis
sifilis yang mirip dengan ulser trauma yaitu saat Primary syphilis (chancre) ulser
tunggal, indurasi, tidak sakit, terjadi regional limfadenopati, sembuh spontan dalam 4
6 minggu. Berlokasi di genital, bibir, oral, atau jari-jari. Sedangkan secondary syphilis :
pembentukan lesi maculopapular, multiple ulkus dan eksudat mucoid, condylomata.
DD:
chancre : Squamous Cell Carcinoma (SCC), lesi trauma kronis, TB
secondary syphilis : mucocutaneous lesions.

b. Tuberkulosis
Etiologi tuberkulosis yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat
menyebar melalui droplets. Tuberkulosis biasanya menimbulkan gejala simtomatik yang
khas, yaitu batuk dan demam. Namun apabila simtom dimulai dari rongga oral, maka
akan sulit untuk menegakkan diagnosis. Manifestasi oral tuberkulosis yaitu: biasanya
terjadi di palatum dan lidah berupa ulkus kronis, indurasi, dan sakit. Diagnosis
bandingnya adalah primary syphilis, deep fungal disease, ulser traumatik.

c. Deep Fungal Infection
Etiologi infeksi fungal berbagai macam, diantaranya:
plasma capsulatum Histoplasmosis
Coccidioidomycosis
Blastomycosis
Cryptococcosis

Patogenesis penyakit ini yaitu inhalasi spora dengan paru-paru sebagai lokasi
awal lesi. Lesi kemudian menyebar ke organ-organ lain. Gambaran klinisnya mirip
dengan TB, pada Coccidio ada erithema multiforme di kulit, lesi oral berupa ulkus, pada
Blastomycosis dapat terjadi lesi purulen. Apabila dilihat secara histologis, terdapat
granulomatous, makrofag, multinuclear giant cells, pseudoepiteliomatous, hiperplasia
(pada blastomycosis). Diagnosis banding infeksi fungal antara lain ulkus kronik SCC,
trauma kronis, oral TB, primary syphilis, cervicofacial actinomycosis (untuk
blastomycosis).
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang kultur dan
pemeriksaan mikroskopis. Dalam rangka perawatan, Amphotericin B ditambah atau
diganti dengan Ketoconazole/Fluconazole. Jika perlu dilakukan surgical
resection/incision atau drainase untuk meningkatkan efek obat pada infeksi paru yang
nekrotik.

2. Ulser akibat Malignansi (keganasan)
Ulser maligna juga dapat timbul secara tunggal. Namun lesi keganasan tidak hilang
timbul dan dapat meluas dengan cepat.

3. Stomatitis Aftosa Rekuren
Gejala klinis dan bahasan tentang SAR telah dijelaskan di depan. SAR tidak memiliki
etiologi yang jelas dan cenderung berhubungan dengan genetik dan kondisi imunologik.



Pemeriksaan Penunjang Hematologi
Pada proses penegakan diagnosis, perlu diketahui etiologi penyakit tersebut timbul.
Apabila pemeriksaan klinis belum cukup untuk menegakkan diagnosis, dapat dilakukan
pemeriksaan hematologi rutin yang dapat membantu mengetahui etiologi lesi. Pemeriksaan
hematologi rutin terdiri dari: hitung jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, hematokrit, indeks
eritrosit, dan trombosit.
Pada pemeriksaan lesi SAR dan ulser yang terkait dengan kondisi defisiensi vitamin B12
atau asam folat dan zat besi, perlu diperhatikan nilai hematokrit, hemoglobin, dan ukuran eritrosi
(MCV).

a) Hematokrit (Hct)
Nilai normal: Pria : 40% - 50 % SI unit : 0,4 - 0,5
Wanita : 35% - 45% SI unit : 0.35 - 0,45
- Deskripsi: Hematokrit menunjukan persentase sel darah merah pada volume darah total.
- Implikasi klinik:
Penurunan nilai Hct merupakan indikator anemia, reaksi hemolitik, leukemia, sirosis,
kehilangan banyak darah dan hipertiroid.
Peningkatan nilai Hct dapat terjadi pada eritrositosis, dehidrasi, kerusakan paru-paru
kronik, polisitemia dan syok.
Nilai Hct biasanya sebanding dengan jumlah sel darah merah pada ukuran eritrosit
normal, kecuali pada kasus anemia makrositik atau mikrositik.
Pada pasien anemia karena kekurangan besi (ukuran sel darah merah lebih kecil), nilai
Hct akan terukur lebih rendah karena sel mikrositik terkumpul pada volume yang lebih
kecil, walaupun jumlah sel darah merah terlihat normal.
Nilai normal Hct adalah sekitar 3 kali nilai hemoglobin.

b) Hemoglobin (Hb)
Nilai normal : Pria : 13 - 18 g/dL SI unit : 8,1 - 11,2 mmol/L
Wanita: 12 - 16 g/dL SI unit : 7,4 9,9 mmol/L
- Deskripsi: Hemoglobin adalah komponen yang berfungsi sebagai alat transportasi
oksigen dan karbon dioksida. Satu gram hemoglobin mengangkut 1,34 mL oksigen.
Kapasitas angkut ini berhubungan dengan kadar Hb bukan jumlah sel darah merah.
- Implikasi klinik :
Penurunan nilai Hb dapat terjadi pada anemia (terutama karena kekurangan zat besi),
sirosis, hipertiroidisme, perdarahan, peningkatan asupan cairan dan kehamilan.
Peningkatan nilai Hb dapat terjadi pada hemokonsentrasi (polisitemia, luka bakar),
penyakit paru-paru kronik, gagal jantung kongestif dan pada orang yang hidup di
daerah dataran tinggi.
Konsentrasi Hb berfluktuasi pada pasien yang mengalami perdarahan dan luka bakar.
Konsentrasi Hb dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan anemia, respons
terhadap terapi anemia, atau perkembangan penyakit yang berhubungan.

c) Susunan Sel Darah Merah (Eritrosit)

1. Mean Corpuscular Volume (MCV) (Volume korpuskuler rata rata)
Perhitungan : MCV (femtoliter) = 10 x Hct (%) : Eritrosit (106 sel/L)
Nilai normal : 80 100 (fL)
Deskripsi: MCV adalah indeks untuk menentukan ukuran sel darah merah. MCV
menunjukkan ukuran sel darah merah tunggal apakah: Normositik (ukuran normal),
Mikrositik (ukuran kecil < 80 fL), atau Makrositik (ukuran kecil >100 fL).
Implikasi klinik :
Penurunan nilai MCV terlihat pada pasien anemia kekurangan besi, anemia pernisiosa
dan talasemia, disebut juga anemia mikrositik.
Peningkatan nilai MCV terlihat pada penyakit hati, alcoholism, terapi antimetabolik,
kekurangan folat/vitamin B12, dan terapi valproat, disebut juga anemia makrositik.
Pada anemia sel sabit, nilai MCV diragukan karena bentuk eritrosit yang abnormal.
MCV adalah nilai yang terukur karenanya memungkinkan adanya variasi berupa
mikrositik dan makrositik walaupun nilai MCV tetap normal.

2. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) (Berat Hemoglobin Korpuskuler rata-rata)
Perhitungan : MCH (picogram/sel) = hemoglobin/sel darah merah
Nilai normal : 28 34 pg/ sel
Deskripsi:
Indeks MCH adalah nilai yang mengindikasikan berat Hb rata-rata di dalam sel darah
merah, dan oleh karenanya menentukan kuantitas warna (normokromik, hipokromik,
hiperkromik) sel darah merah. MCH dapat digunakan untuk mendiagnosa anemia.
Implikasi Klinik:
Peningkatan MCH mengindikasikan anemia makrositik
Penurunan MCH mengindikasikan anemia mikrositik.

3. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) (Konsentrasi Hemoglobin
Korpuskuler rata- rata)
Perhitungan : MCHC = hemoglobin/hematokrit
Nilai normal : 32 36 g/dL
Deskripsi:
Indeks MCHC mengukur konsentrasi Hb rata-rata dalam sel darah merah; semakin kecil
sel, semakin tinggi konsentrasinya. Perhitungan MCHC tergantung pada Hb dan Hct.
Indeks ini adalah indeks Hb darah yang lebih baik, karena ukuran sel akan mempengaruhi
nilai MCHC, hal ini tidak berlaku pada MCH.
Implikasi Klinik:
MCHC menurun pada pasien kekurangan besi, anemia mikrositik, anemia karena
piridoksin, talasemia dan anemia hipokromik.
MCHC meningkat pada sferositosis, bukan anemia pernisiosa.