You are on page 1of 4

Hamzah bin Abdul Mutholib, Sang Asadullah (Singa Allah)

Hamzah bin Abdul Mutholib adalah sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus
paman nabi, saudara satu susuan serta kerabat dekatnya dari jalur ibu. Beliau dilahirkan
dua tahun sebelum Nabi Muhammad SAW. Beliau terkenal dengan sebutan Asadullah
(singa Allah) dan Sayyidusy-Syuhadaa (penghulu para syuhada). Di perang badar
beliau berhasil menghempaskan beberapa tokoh musyrikin, seperti Syaibah bin Rabiah,
Thuaimah bin Adi dan Utbah bin Rabiah. Begitu pula pada perang Uhud, beliau
berhasil menewaskan 30 orang lebih sebelum akhirnya gugur di tangan Wahsyi, budak
milik Jubair bin Muthim.
Ibnu Atsir berkata dalam kitab Usud al Ghabah, Dalam perang Uhud,
Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau
tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada
saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya, lalu hatinya dikeluarkan oleh
Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera
dimuntahkannya.
Ketika Rasulullah SAW melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul
Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya, Dan jika kamu
memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih
baik bagi orang-orang yang sabar. (QS : An Nahl 126)
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq didalam kitab Sirah Ibnu Ishaq dari
Abdurahman bin Auf bahwa Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya, Siapakah
salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?, aku
menjawab Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib. Lalu Umayyah berkata, Dialah
yang membuat kekalahan kepada kami.
Sementara itu, Abu Jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri
dalam barisan kaum muslimin berpendapat bahwa perang antara kaum kafir Quraisy
dengan kaum muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi. Oleh karena itu, ia mulai
menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan
terhadap Rasulullah SAW dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat
membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang
lemah. Akan tetapi, harus diakui bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng
pelindung bagi kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu, menjadi daya tarik tersendiri
bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mengetahui
agama Islam lebih mendalam.
Pasukan kaum muslimin yang pertama kali di kirim oleh Rasulullah SAW dalam
perang Badar, di pimpin langsung oleh Sayyidina Hamzah (Si Singa Allah) dan Ali bin
Abu Thalib menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan
kemuliaan agama Islam, hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang
tersebut secara gemilang. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang
tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai
mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan
yang mereka alami sebelumnya.
Akhirnya, tibalah saatnya perang Uhud dimana kaum kafir Quraisy disertai
beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin.
Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah SAW dan Hamzah bin Abdul
Muthalib. Mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh
seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di
ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara karena
suaminya terbunuh dalam perang Badar.
Sedangkan Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat yaitu membunuh
Hamzah dan akan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan
dimerdekakan dari perbudakan. Akhirnya, kedua pasukan tersebut bertemu dan
terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-
tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin. Ia mulai
menyerang ke kiri dan ke kanan.
Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga
akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Seandainya
pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rasulullah
SAW untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta
rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat
memenangkan pertempuran tersebut.
Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh Islam yang
tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki
bukit Uhud kemudian mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum
muslimin dari atas bukit tersebut. Tentunya penyerangan yang mendadak ini membuat
pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat keadaan itu, semangat
Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau
serangan kaum Quraisy.
Sementara itu, Wahsyi terus mengintai gerak gerik Hamzah, setelah menebas
leher Siba bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi
mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya
mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua
pahanya. Lalu, ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya
dan akhirnya roboh sebagai syahid.
Usai peperangan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya bersama-sama
memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti,
menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak
sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa Arab telah merosot sedemikian
rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan
keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil
hatinya. Kemudian Rasulullah SAW mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul
Muthalib, Singa Allah, seraya bersabda,
Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak
ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku dari pada suasana sekaran ini.
Setelah itu, Rasulullah SAW dan kaum muslimin menshalatkan jenazah
pamannya dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama, Sayyidina Hamzah
dishalatkan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk dishalatkan, sementara jasad
Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya disitu. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan
jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan
dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para
sahabat lainnya menshalatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah menshalatkan para
syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung maka Rasulullah SAW dan para
sahabat telah menshalatkan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.
Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah
berperang disamping Rasulullah dengan memegang 2 bilah pedang. Diriwayatkan dari
Jabir bahwa ketika Rasulullah SAW melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menangis.