You are on page 1of 8

ASKEP ANAK DENGAN MORBILI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini mudah
menular kepada anak anak sekitarnya, oleh karena itu, anak yang menderita Campak harus
diisolasi untuk mencegah penularan. Campak disebabkan oleh kuman yang disebut Virus
Morbili. Anak yang terserang campak kelihatan sangat menderita, suhu badan panas,
bercak bercak seluruh tubuh terkadang sampai borok bernanah.
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili
akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan
setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili.
Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50%
kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau
III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang
anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1
tahun.
Morbili / campak adalah penyakit akut yang disebabkan virus campak yang
sangat menular pada umumnya menyerang anak-anak. Menurut kriteria diagnostiknya, ada
4 stadium campak meliputi stadium tunas, stadium prodormal / kataral, stadium erupsi, dan
stadium konvalesensi. Gejala klinis morbili meliputi demam mencapai 400C, pilek, batuk,
konjungtivitis, ruam erupsi makulopapular, dan kopliks spot (merupakan tanda
pathognomonis penyakit campak, bentuk bintik tidak teratur dan kecil berwarna merah
terang, pada pertengahan di dapat noda putih keabuan, mula-mula 2-6 bintik). Pada pasien
ini masih di observasi febris hari ke-2 dengan suspek morbili. Untuk terapi medikamentosa
diberikan infus KAEN 3A, antipiretik (parasetamol), ambroxol, vitamin A dan C.
Sedangkan untuk Supportifnya, pasien diminta untuk istirahat, dan pasien dirawat di
bangsal isolasi untuk mencegah penularan ke pasien lain.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan anak dengan morbili
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada anak dengan morbili.
b. Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada anak dengan
morbili.
c. Dapat membuat perencanaan pada anak dengan morbili.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan yang
telah dilakukan pada anak dengan morbili.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu
stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang

2.

3.

4.

a.

b.

dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu Kesehatan Anak
Edisi 2, th 1991. FKUI ).
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan
gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet,
pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000)
Etiologi
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah
selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa
virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Cara penularannya
adalah dengan droplet infeksi.
Patofisiologi
Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili,
familiparamyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH asam,
ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus campak
ditularkan lewat droplet, menempel dan berkembang biak pada epitel nasofaring. Virus ini
masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga kemungkinan melalui
kelenjar air mata.
Dua sampai tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada
kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua
sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal.
Adanya giant cells dan proses peradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat
peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada
otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata
merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi.
Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi
(pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler
warna kemerahan.
Virus dapat berkembang biak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan
gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi
mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan
hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan
perivaskuler dan infiltrasi limfosit
Gejala Klinis
Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan
kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium :
Stadium kataral (prodormal)
Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringa
hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis. Menjelang akhir
stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih
kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema.
Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapandengan molar dibawah, tetapi dapat
menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula
ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak
tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang
stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejangkejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.
Stadium erupsi

c.

5.
a.
b.
c.
d.
e.
6.

7.

a.
b.
c.
d.
B.
1.
a.
b.
c.

Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eritema / titik merah dipalatum durum
dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan
menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk,
sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer
pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut
mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang
disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah Black Measles yaitu
morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan
pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk
morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit
menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada
komplikasi.
Komplikasi
Otitis media akut
Pneumonia / bronkopneumoni
Encefalitis
Bronkiolitis
Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis
Pemeriksaan diagnostik
Pada pemeriksaan darah didapatkan jumlah leukosit normal atau meningkat
apabila ada komplikasi infeksi bakteri. Pemeriksaan antibodi IgM merupakan cara tercepat
untuk memastikan adanya infeksi campak akut. Karena IgM mungkin belum dapat
dideteksi pada 2 hari pertama munculnya rash, maka untuk mengambil darah pemeriksaan
IgM dilakukan pada hari ketiga untuk menghindari adanya false negative. Titer IgM mulai
sulit diukur pada 4 minggu setelah muncul rash.
Sedangkan IgG antibodi dapat dideteksi 4 hari setelah rash muncul, terbanyak IgG
dapat dideteksi 1 minggu setelah onset sampai 3 minggu setelah onset. IgG masih dapat
ditemukan sampai beberapa tahun kemudian. Virus measles dapat diisolasi dari urine,
nasofaringeal aspirat, darah yang diberi heparin, dan swab tenggorok selama masa
prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus dapat tetap aktif selama
sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.
Penatalaksanaan
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam
tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan
humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik
mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
Penatalaksanaan Teraupetik :
Pemberian vitamin A
Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
Pemberian obat batuk dan sedativum
Konsep Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Identitas diri
Riwayat Imunisasi
Kontak dengan orang yang terinfeksi

d.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
e.

2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
3.
a.
1)
2)
3)

1)
2)

3)
4)

a)
b)
b.
1)
2)

Pemeriksaan Fisik :
Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
Kepala : sakit kepala
Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung (pada stad
eripsi ).
Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka,
lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas (demam).
Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum.
Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
Status Nutrisi : intake output makanan, nafsu makanan
Keadaan Umum : Kesadaran, TTV
Diagnosa keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien Morbili adalah
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi
Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan isolasi dari teman sebaya
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penggarukan pruritus
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit akut
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk
mencernatau ketidak mampuan mencerna makanan atau absorpsi nutrien yang diperlukan
Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
Rencana keperawatan
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi.
Hasil yang diharapkan :
Anak yang rentan tidak mengalami penyakit.
Infeksi tidak menyebar
Anak tidak menunjukkan bukti-bukti komplikasi seperti infeksi dan dehidrasi.
Intervensi :
Identifikasi anak beresiko tinggi
Rasional : memastikan anak menghindari pemajanan
Lakukan rujukan ke perawat kesehatan masyarakat bila perlu.
Rasional : untuk memastikan prosedur yang tepat di rumah.
Pantau suhu
Rasional : peningkatan suhu tubuh yang tidak diperkirakan dapat menandakan adanya
infeksi.
Pertahankan higiene tubuh yang baik.
Rasional : untuk mengurangi resiko infeksi sekunder dari lesi
Berikan serapan air sedikit tapi sering atau minuman kesukaan anak serta makanan halus
atau lunak.
Rasional :
Untuk menjamin hidrasi yang adekuat
Banyak anak-anak yang mengalami anoreksia selama sakit
Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
Hasil yang diharapkan :
Kulit dan membran mukosa bersih dan bebas dari iritasi.
Anak menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan minimum.
Intervensi :

1) Gunakan vaporiser embun dingin, kumur-kumur, dan tablet isap.


Rasional : untuk menjaga agar membran mukosa tetap lembab
2) Bersihkan mata dengan larutan salin fisiologis
Rasional : untuk menghilangkan sekresi atau kusta
3) Jaga agar anak tetap dingin.
Rasional : karena udara yang terlalu panas dapat meningkatkan rasa gatal.
4) Berikan mandi air dingin dan berikan lotion seperti kalamin
Rasional : untuk menurunkan rasa gatal
5) Berikan analgesik, antipiretik, dan antipruritus sesuai kebutuhan dan ketentuan.
Rasional : untuk mengurangi nyeri, menurunkan suhu tubuh, dan mengurangi rasa gatal
c. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan isolasi dari teman sebaya.
Hasil yang diharapkan :
1) Anak menunjukkan pemahaman tentang pembatasan
2) Anak melakukan aktivitas yang tepat dan berinteraksi.
Intervensi :
1) Jelaskan alasan untuk pengisolasian dan penggunaan kewaspadaan khusus.
Rasional : untuk meningkatkan pemahaman anak tentang pembahasan.
2) Biarkan anak memainkan sarung tangan dan masker
Rasional : untuk memfasilitasi koping positif.
3) Berikan aktivitas pengalihan
Rasional : untuk melakukan aktivitas yang tepat dan berinteraksi
4) Anjurkan orang tua untuk tetap bersama anak selama hospitalisasi.
Rasional : untuk menurunkan perpisahan dan memberikan kedekatan.
5) Siapkan teman sebaya anak untuk perubahan perampilan fisik
Rasional : untuk mendorong penerimaan teman sebaya
d. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penggarukan pruritus
Hasil yang diharapkan : kulit tetap utuh
Intervensi :
1) Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih
Rasional : untuk meminimalkan trauma dan infeksi sekunder.
2) Pakailah sarung tangan atau restrein siku
Rasional : untuk mencegah penggarukan
3) Berikan pakaian yang tipis, longgar, dan tidak meng mengiritasi.
Rasional : karena panas yang berlebihan dapat meningkatkan rasa gatal.
4) Tutup area yang sakit (lengan panjang, celana panjang, pakaian satu lapis).
Rasional : untuk mencegah penggarukan
5) Berikan losion yang melembutkan (sedikit saja pada lesi terbuka).
Rasional : karena pada lesi terbuka absorpsi obat meningkat untuk menurunkan pruritus.
6) Hindari pemajanan panas atau sinar matahari.
Rasional : menimbulkan ruam.
e. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit akut.
Hasil yang diharapkan :
1) Keluarga melanjutkan untuk mencapai tujuan.
2) Keluarga mencari dukungan yang dibutuhkan.
Intervensi :
1) Berikan informasi pada orang tua tentang pilihan pengobatan.
Rasional : untuk mencari dukungan yang dibutuhkan.
2) Tekankan upaya keluarga untuk melakukan rencana perawatan.
Rasional : untuk keluarga melanjutkan untuk mencapai tujuan.

3) Berikan kesadaran keluarga akan kemajuan anak.


Rasional : untuk mendorong sikap optimis.
4) Tekankan kecepatan pemulihan pada kebanyakan kasus.
Rasional : untuk menurunkan ansietas.
f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk
mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan atau absorpsi nutrien yang
diperlukan.
Hasil yang diharapkan :
1) Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan nilai laboratorium
normal.
2) Tidak mengalami tanda malnutrisi.
3)
Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau
mempertahankan berat badan yang sesuai.
Intervensi :
1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.
Rasional : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.
2) Observasi dan catat masukan makanan pasien.
Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan
3) Timbang berat badan tiap hari
Rasional : mengevaluasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.
4) Berikan makanan sedikit dari frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan.
Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga
mencegah distensi gaster.
5) Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus, dan gejala lain yang berhubungan.
Rasional : gejala gastro intestinal dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
g. Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
Hasil yang diharapkan :
1) Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih atau jelas.
2) Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, misal: batuk efektif dan
mengeluarkan sekret.
Intervensi :
1) Auskultasi bunyi napas
Rasional : beberapa derajat spasma bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas.
2) Kaji atau pantau frekuensi pernapasan
Rasional : takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan atau selama stress atau adanya proses infeksi akut.
3) Catat adanya atau derajat dipsnoe
Rasional : disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis
selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.
4) Pertahankan polusi lingkungan minimun, misal ; debu, asap, dan bulu bantal yang
berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional : pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat menjadi episode akut.
5) Observasi karakteristik batuk
Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya bila pasien lansia, sakit akut,
atau kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah
perkusi
4. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan

5.
a.
b.
c.
d.
e.
6.
a.

kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan


kesehatan klien.
Evaluasi
Perluasan infeksi tidak terjadi
Anak menunjukkan pola nafas efektif
Anak dapat mempertahankan integrasi kulit
Anak menunjukan terpenuhi tanda tanda kebutuhan nutrisi
Anak dapat melakukan aktifitas sesuai dengan usia
Penkes
Imunisasi aktif
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah
dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B.
Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa perkembangan dan
pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara
subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.
Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 810 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan
sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak
dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu.Pada suatu
komunitas dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi
berusia 12 bulan.

b. Imunisasi pasif (immunoglobulin)


Imunisasi pasif dengan serum orang dewasa yang dikumpulkan, serum stadium
penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang
dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan
campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB
secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.
Indikasi :
1) Anak usia > 12 bulan dengan immunocompromised belum mendapat imunisasi, kontak
dengan pasien campak, dan vaksin MMR merupakan kontraindikasi
2) Bayi berusia < 12 bulan yang terpapar langsung dengan pasien campak mempunyai resiko
yang tinggi untuk berkembangnya komplikasi penyakit ini, maka harus diberikan
imunoglobulin sesegera mungkin dalam waktu 7 hari paparan. Setelah itu vaksin MMR
diberikan sesegera mungkin sampai usia 12 bulan, dengan interval 3 bulan setelah
pemberian imunoglobulin.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejalagejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran
serta nyeri limpa nadi
Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili,
famili paramyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH asam,
ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus campak
ditularkan lewat droplet, menempel dan berkembang biak pada epitel nasofaring. Virus ini
masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga kemungkinan melalui
kelenjar air mata.

Penatalaksanaan pada morbili meliputi Pemberian vitamin A,Istirahat baring


selama suhu meningkat, pemberian antipiretik,Pemberian antibiotik pada anak-anak yang
beresiko tinggi,Pemberian obat batuk dan sedativum.
Komplikasi morbili meliputi otitis media akut, Pneumonia / bronkopneumoni,
Encefalitis, Bronkiolitis, Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah selalu menjaga kebersihan diri dan
lingkungan sekitar kita, jika diri kita dan lingkungan kita bersih maka secara otomatis
mikroorganisme penyebab penyakit akan sukar menyerang. Terlebih sebagai seorang
perawat, harus mengetahui dengan baik perawatan diri ( personal hygiene ) dan
lingkungan, harus mengetahui dengan jelas seperti apakah penyakit morbili tersebut dan
bagaimana penanganannya dalam dunia keperawatan serta pencegahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.
Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba
Medika : Jakarta.
http://pediatricinfo.wordpress.com/2008/07/09/campak-morbili-measles-rubeola/
http://www.scribd.com/doc/22319650/asuhan-keperawatan-anak-morbili