You are on page 1of 20

KONSEP MANAJEMEN KESELAMATAN PASIEN BERBASIS PROGRAM

DI RSUD KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH


Nenny Puji Lestari,1 Deni Kurniadi Sunjaya2 Avip Syaefullah,3
1
Mahasiswa IKM Unpad, 2IKM FK Unpad 3 FKG Unpad

ABSTRAK

Studi pengamatan tentang pelayanan di RSUD Kapuas menggambarkan pelayanan yang


masih berisiko terhadap keselamatan pasien. Kondisi ini diduga akibat belum optimalnya
program keselamatan pasien di rumah sakit. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan
penelitian tentang manajemen program keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan
mengeksplorasi manajemen keselamatan pasien dalam sebuah konsep untuk dapat
diimplementasikan melalui program keselamatan pasien di RSUD Kapuas.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data
dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, survey singkat dan studi
dokumen. Analisis data meliputi pengolahan catatan lapangan, transkripsi hasil wawancara,
reduksi, koding, katagorisasi dan interpretasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program keselamatan pasien di RSUD Kapuas terbukti
tidak optimal. Kondisi demikian karena adanya hambatan dalam struktur, proses dan outcome,
yang diakibatkan oleh keterbatasan sumberdaya, pengelolaan manajemen, strategi-strategi yang
belum efektif, sistem pelaporan insiden yang lemah, belum adanya budaya keselamatan dan
fungsi kepemimpinan yang tidak efektif.
Pelaksanaan manajemen keselamatan memerlukan dukungan dari organisasi dan petugas
pelayanan. Kepemimpinan, budaya keselamatan, pemenuhan struktur dan sistem yang baik dan
pengelolaan manajemen merupakan dukungan untuk pemenuhan keselamatan pasien rumah
sakit. Melalui program keselamatan pasien dengan prioritas pada penguatan kepemimpinan dan
fungsi manajemen, penerapan budaya keselamatan di pelayanan serta peningkatan pengetahuan
tentang keselamatan pasien akan mampu meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien di
rumah sakit. Realisasi program keselamatan pasien di RSUD Kapuas belum berjalan dengan
optimal. Upaya peningkatan manajemen program keselamatan pasien memerlukan perhatian
lebih pada faktor-faktor yang ada di tingkat organisasi dan individu. Rekomendasi bagi RSUD
Kapuas untuk menyusun sejumlah kebijakan untuk implementasi budaya keselamatan, penguatan
kepemimpinan di tingkat organisasi, tim dan individu serta peningkatan pengetahuan dan
sosialisasi program.
Kata kunci : keselamatan pasien, konsep manajemen program

ABSTRACT

Observation study at RSUD Kapuas provides has illustrate of the service are still at risk to
patient safety. It had assumed effect from patient safety program that is not optimal. For that
solution, management of patient safety programs research is needed. The purpose of the study is
exploring management of patient safety programs and found a concept for implementation of
patient safety program at RSUD Kapuas.
This is a qualitative research with case study designed. Data were collected through
participant observation, in-depth interview, quick survey and documentary study. Data analyze
includes composting field notes, transcription, reduction, coding, categorization and
interpretation.
As a result, this research found that patient safety program at RSUD Kapuas had not
optimized. Bariers discovered on structure, process and outcome. The problems are limitation
resources, management and strategies has not effectively run, lack of incident report, safety
culture and leadership function is not to work.
Patient safety management needs organizations and workforce support in health care.
Leadership, safety culture, good structure and system and good management function are the
items to support it. Patient safety program with priority on leadership and management
strengthening, safety culture implementation and increases stakeholders knowledge about
patient safety will be to improve quality and safety care in hospital. Programs realization in
RSUD Kapuas is not optimal. Management program needs more attention for several factors in
organization and individual levels. As a recommendation to RSUD Kapuas for patient safety
program are to make policies like as implementation safety culture, strengthening leadership as
an activator on organization, team and individual levels, dissemination information and
increases stakeholders knowledge about programs.

Key word: patient safety, management program concept

LATAR BELAKANG
Laporan dari Institute of Medicine (IOM) pada tahun 1999, menyebutkan

To Err is

Human: Building a Safer Health System. Hal ini dilaporkan oleh IOM karena diperkirakan
sebanyak 44.000 sampai dengan 98.000 jumlah kematian akibat kesalahan medis (medical error)
yang tinggi terjadi di Amerika Serikat.1 Publikasi World Health Organization (WHO) pada
tahun 2004, memperkirakan

jutaan pasien diseluruh dunia terancam mendapatkan cedera,

bahkan kematian setiap tahunnya. Oleh sebab itu, lembaga World Alliance for Patient Safety di
deklarasikan oleh WHO sebagai perhatian dunia terhadap keselamatan pasien yang menjadi
perhatian di berbagai negara.2
Cedera atau kerugian akibat tindakan medis, merupakan adverse events atau Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD). Menurut Permenkes RI Nomor 1961/Menkes/Per/VIII/2011, KTD
merupakan insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien. KTD atau adverse event yang
mengakibatkan cedera pada pasien bisa dikarenakan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan
medis yang tidak dapat dicegah.3
Cahyono dalam bukunya menyebutkan bahwa insiden KTD yang terjadi di rumah sakit
ibarat fenomena gunung es.4 Hal ini didukung oleh National Patient Safety Agency (NPSA),
yang menafsirkan jika kejadian KTD berat berarti telah terjadi 25 KTD ringan dan 300 Kejadian
Nyaris Cedera (KNC).4 Akibat dari insiden KTD dalam pelayanan kesehatan bisa mengakibatkan
cedera pada pasien, dapat berupa cedera ringan, sedera sedang (reversible), cedera berat
(irreversible) bahkan kematian.5
Data dari beberapa penelitian yang dilakukan pada tahun 1991-1992, ditemukan kasus
KTD yang terjadi pada pasien rumah sakit di beberapa negara dalam kisaran 3,2 % sampai
dengan 16,6 %. Bahkan pada beberapa penelitian lainnya, diperkirakan angka tersebut masih
berada di bawah kondisi sebenarnya.2,6-9. Hasil penelitian Ladrigen dkk, menemukan potensi
KTD yang terjadi di rumah sakit mencapai angka 25 %.

Publikasi Classen dkk., pada tahun

2011 menyebutkan bahwa ditemukan 1 dari 3 pasien yang dirawat di RS mengalami KTD.
Kondisi ini memunculkan potensi bahaya yang mungkin terjadi dapat berupa hasil yang tidak
diharapkan (adverse outcome) seperti kesalahan medis atau waktu tunggu dan perawatan yang
lama. 10
Hasil penelitian KTD yang dilakukan oleh Utarini, dkk., terhadap 4500 dokumen medik
pasien rawat inap pada 15 rumah sakit, diperoleh hasil bahwa angka KTD yang bervariasi antara

8,0% sampai 98,2%.11 Hasil penelitian Manuaba dkk., juga mengungkapkan bahwa angka KTD
yang berupa infeksi luka pasca operasi berkisar antara 11,5 % hingga 47,7 %.12-14
Pelayanan kesehatan memegang prinsip untuk menyelamatkan pasien dikenal dengan
istilah Primum non nocere atau First, do no harm (melayani tanpa harus membahayakan)
sebagaimana di kemukakan oleh Hippocrates sejak 2400 tahun yang lalu.

15

Potensi dan risiko

bahaya yang tinggi karena insiden KTD dalam pelayanan kesehatan, dapat disebabkan oleh
beberapa faktor seperti ; (1) pelaksanaan pelayanan kesehatan tidak prosedural; (2) infrastruktur
yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan; (3) kualitas SDM kesehatan belum
optimal; (4) manajemen pelayanan yang belum berorientasi pada keselamatan pasien. Kondisi
ini, merupakan faktor yang cenderung menyebabkan terjadinya kesalahaan medis (medical
error), dan bisa berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan.
Kotler dalam Cahyono mengatakan bahwa kepuasan pelanggan tercipta ketika apa yang
diterima lebih besar dari yang diharapkan (perceived > expected).4-16 Kepuasan dan keselamatan
pasien dengan tatakelola klinis serta efisiensi merupakan hal penting dalam menjamin kualitas
pelayanan kesehatan

17

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Institute of Medicine, bahwa

kualitas pelayanan kesehatan dapat berdasarkan : (1) keselamatan pasien (patient safety); (2)
efisiensi (efficiency); (3) efektifitas (effective); (4) ketepatan waktu (timeliness); (5) berorientasi
pasien (patient centered) dan (6) keadilan (equity). Keenam hal tersebut merupakan tolok ukur
bagi penilaian kualitas sebuah pelayanan kesehatan. 18.
Isu tentang keselamatan pasien mendapatkan perhatian pemerintah seperti yang dituangkan
dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dan Undang-Undang Rumah Sakit
Nomor 44 Tahun 2009. Rumah sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu, anti diskriminasi dan efektif, dengan mengutamakan kepentingan pasien. Rumah sakit
wajin memenuhi hak pasien memperoleh keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di
rumah sakit. Acuan bagi rumah sakit untuk pelaksanaan pogram keselamatan pasien di rumah
sakit sesuai standar yang ditetapkan, tertuang dalam Permenkes RI Nomor 1961/Menkes/2011.19
Rangkaian kegiatan upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien menurut Berwick
dalam Utarini, laksana rantai tindakan yang kompleks dan terintegrasi yang diawali dari
pengalaman masyarakat sebagai pengguna layanan, proses pelayanan klinis dalam tingkatan
mikro, konteks organisasi sebagai fasilitator pelayanan klinis serta lingkungan eksternal yang
dapat mempengaruhinya.11

Organisasi dengan fungsi manajemennya di rumah sakit memiliki peran penting dalam
program keselamatan pasien. Hal ini dikarenakan organisasi dan manajemen berada di ranah
latent failure terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan medis pada pasien.20 Oleh karena itu
diperlukan eksplorasi yang lebih intensif untuk dapat mengetahui peran organisasi dalam
menciptakan manajemen keselamatan pasien yang baik. Pelaksanaan fungsi dan kewajiban
Rumah sakit untuk menyediakan sarana dan prasarana yang dikelola dengan baik melalui fungsi
manajemen tersebut difokuskan pada keselamatan pasien dan upaya peningkatan mutu
pelayanan.
Dari hasil observasi insiden KTD di RSUD Kapuas diketahui adanya kejadian pasien jatuh
dari tempat tidur, pasien terjatuh di area rumah sakit yang sedang di renovasi, serta beberapa
kejadian lainnya. Ironisnya, kejadian-kejadian tersebut belum terdokumentasikan dalam sistem
pencatatan dan pelaporan KTD di rumah sakit. Hal ini mengilustrasikan bahwa penyelenggaraan
program keselamatan pasien di RSUD masih menghadapi

sejumlah hambatan sehingga

pelaksanaannya belum optimal.


Hambatan dalam penyelenggaraan program keselamatan pasien di RSUD Kapuas yang
belum optimal ini diduga karena beberapa hal, diantaranya : (1) program keselamatan pasien
belum menjadi agenda prioritas; (2) tidak adanya tenaga penggerak; (3) masih adanya resistensi
yang kuat dari sejumlah elemen rumah sakit; dan (4) adanya

kendala karena kurangnya

pemahaman implementasi dari program keselamatan pasien.


Adanya hambatan dalam program keselamatan pasien di RSUD Kapuas ini memerlukan
eksplorasi manajemen keselamatan pasien yang berbasis program di RSUD Kapuas untuk dapat
mengetahui bagaimana

penyelenggaraan program keselamatan pasien

dalam konsep

manajemen keselamatan pasien yang dapat diterapkan di RSUD Kapuas serta menggali hal-hal
yang diperlukan dalam manajemen program keselamatan pasien di RSUD Kapuas

BAHAN DAN CARA PENELITIAN


Rancangan penelitian adalah studi kasus deskriptif dengan analisis data kualitatif.
Pendekatan studi kasus digunakan karena tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari Subjek
dalam penelitian ini adalah pihak yang terkait dengan sistem keselamatan pasien rumah sakit.
Pihak rumah sakit sebagai institusi pemberi pelayanan kesehatan diwakili oleh internal

stakeholder yang terkait dalam manajemen keselamatan pasien di RSUD Kapuas, seperti
pimpinan RSUD, bidang umum, bidang pelayanan, bidang keuangan, tim keselamatan pasien
rumah sakit (TKPRS), sub bidang perencanaan program dan komite medik Sejumlah pihak yang
terlibat langsung dengan proses pemberian pelayanan kesehatan juga dijadikan sebagai subjek
pengamatan untuk keperluan triangulasi data, seperti tenaga medis, tenaga perawat, tenaga
penunjang medis, tenaga pencatatan dan pelaporan, pasien dan keluarga.
Teknik pemilihan subjek penelitian dilakukan secara purposive sampling.21 Melalui
sejumlah pertanyaan kepada informan kunci diharapkan dapat memperoleh makna atas situasi
yang merupakan hasil konstruksi berdasarkan pada latar belakang historis kewenangan yang
mereka miliki, khususnya di manajemen program keselamatan pasien. Hal ini sejalan dengan
pandangan konstruksivisme sosial dimana penekanan atas pengalaman informan pada objek
penelitian ini.22
Jenis data yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah data primer dan data
sekunder, data primer adalah data yang didapat melalui tehnik wawancara mendalam (in-depth
interview) dengan berpedoman kepada daftar pertanyaan yang telah disediakan dan dibantu alat
rekam tape recorder, sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan telaah dokumen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Keselamatan pasien dalam pelayanan di RSUD Kapuas tidak terlepas dari kegiatan
pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan baik medis, perawat dan tenaga penunjang
medis lainnya. Aktivitas pelayanan diberikan melalui sebuah proses yang melibatkan sejumlah
profesi yang tersedia di rumah sakit.
Melalui observasi terhadap proses pemberian pelayanan di rumah sakit, setiap
penatalaksanaan pasien dipimpin oleh tenaga medis sesuai spesialisasi yang didasarkan pada
kebutuhan pengobatan dan perawatan pasien. Penatalaksanaan ini didukung oleh tenaga perawat
dan penunjang lainnya. Kebijakan terkait keselamatan pasien dituangkan dalam pembentukan
tim keselamatan pasien dan program keselamatan pasien RS. Akan tetapi, informasi tentang
keselamatan dalam pelayanan baik untuk pasien maupun petugas tidak terlihat ada di setiap
ruang pelayanan.
Sejumlah program yang telah ditetapkan tersebut merupakan bagian dari kebijakan
direktur tentang TKPRS. Sejumlah program seperti sosialisasi, diklat teknis, pelaksanaan,

evaluasi dan tindak lanjut merupakan agenda kegiatan di TKPRS. Kegiatan yang telah
dilaksanakan oleh tim terbatas pada sosialisasi program keselamatan pasien kepada petugas
rumah sakit. Kegiatan lainnya belum ter-realisasikan sepenuhnya. Kegiatan yang telah
dilaksanakan adalah aktivitas pencatatan dan pelaporan dari unit kerja yang ada di RSUD
Kapuas. Kegiatan ini dikoordinir oleh bagian pelaporan yang ada di TKPRS. Sosialisasi lainnya
pernah dilakukan oleh bidang pelayanan medik dengan materi tentang cuci tangan. Hand hygiene
merupakan salah satu aktivitas penting untuk pencegahan infeksi.
Penilaian keselamatan pasien berdasarkan angka insiden keselamatan pasien belum
dimiliki oleh RSUD Kapuas. Data dan angka insiden yang dapat diperoleh dari laporan insiden
tidak terdokumentasi secara administrasi. Informasi dari beberapa petugas menyebutkan adanya
sejumlah insiden yang pernah terjadi di RS. Akan tetapi data resmi tentang hal tersebut tidak
ditemukan.
Pengamatan pada aktivitas pelayanan dan kelengkapan fasilitas fisik RS, memberikan
gambaran potensi insiden tersebut dapat terjadi. Observasi pelayanan rawat jalan pada seorang
pasien penderita gangguan pernafasan yang ditemukan mengalami kondisi sakit yang memburuk
selama proses menunggu pelayanan di salah satu bagian. Kondisi yang kemudian segera diatasi
oleh petugas sehingga tidak berakibat lebih fatal bagi pasien tersebut. Akan tetapi pada
penelusuran penyebab kondisi yang dialami oleh pasien tersebut, diketahui bahwa ada beberapa
faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya insiden itu.
Kejadian tersebut menjadi ilustrasi tentang keselamatan pasien di RSUD Kapuas yang
masih jauh dari optimal. Proses pelaporan atas hal tersebut juga tidak berjalan sebagaimana
seharusnya. Ketidak tahuan petugas untuk prosedur pelaporan menjadi penyebab hal itu. Pada
akhirnya, kasus-kasus seperti ini menjadi tidak diperhatikan dan dapat terulang kembali. Hal
yang seharusnya dapat dihindari oleh RS melalui sebuah program keselamatn pasien yang
terstruktur dan lebih sistematis.
Dari hasil studi dokumen, observasi lapangan dan informasi responden, diketahui adanya
beberapa kesenjangan dalam pelaksanaan program keselamatan pasien di RSUD Kapuas.
Melalui pendekatan kualitas

berdasarkan struktur, proses dan outcome, ringkasan analisis

kesenjangan yang terjadi adalah seperti terlihat dalam tabel berikut

Tabel

No
1

Ringkasan Analisis Kesenjangan Program Keselamatan Pasien


di RSUD Kapuas tahun 2013
Item
Struktur

Keterangan
Kebijakan
a. Penetapan tim
b. Pemberdayaan tim
c. Kegiatan tim terencana
d. Pengembangan mutu dan
keselamatan pasien
Struktur organisasi
a. Tim keselamatan pasien
b. Koordinasi TKPRS dengan tim lain
(PPI, Mutu)
Ketersediaan sumber daya
a. SDM profesional
b.
c.

Fasilitas & peralatan


Anggaran khusus

Budaya keselamatan
a. Strategi komunikasi
b. Pelaporan insiden

Proses

Outcome

Prosedur pelayanan
Prosedur tindakan
Sistem informasi
a. Teknik komunikasi
b. Peningkatan Kemampuan
komunikasi antar petugas melalui
pelatihan
c. Tertib administrasi
Fungsi Manajemen keselamatan
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Penggerakan
d. Pengawasan & evaluasi
Insiden keselamatan
a. KTD
b. Nyaris cedera

Kondisi
seharusnya

Kondisi yang ada

Ada
Ada
Ada
Ada

Ada
Belum
Belum
Belum

Ada
Ada

Ada
Tidak ada
koordinasi

Cukup

Beberapa profesi
masih kurang
Perawatan kurang
Tidak ada alokasi
khusus

Cukup & terawat


Tersedia

Penerapan
strategi khusus
Aktif

Belum ada strategi


khusus
Pasif

Tersedia
Tersedia

Sebagian
Sebagian

Ada strategi
Ada agenda
kegiatan

Belum ada
Belum pernah
dilakukan

Terlaksana

Belum terlaksana

Ada
Ada
Terpadu
Terstruktur

Tidak dibuat
Belum ada
Terbatas di tim
Belum terstruktur

Tidak terjadi
Tidak terjadi

Tidak terjadi*
Ada potensi
cedera**

Keterangan :
*: berdasarkan laporan ruangan yang disampaikan ke tim
**: berdasarkan observasi di lapangan

Penyelenggaraan program keselamatan pasien di rumah sakit memerlukan dukungan semua


komponen dari tingkat pelaksana sampai tingkatan manajer rumah sakit. Teori Berwick tentang
efek berantai peningkatan mutu pelayanan, melibatkan inisiatif dari tingkatan pasien, pemberi

layanan, organisasi dan lingkungan eksternal.23 Keempat tingkatan dalam teori Berwick tersebut
masing-masing memiliki peran yang saling terkait satu dengan lainnya.
Pelayananan kesehatan bagi pasien di rumah sakit harus berkualitas dan aman. Keselamatan
pasien dan kualitas merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.4 IOM menetapkan 6 tujuan yang
ingin dicapai pada abad 21, yaitu : keselamatan pasien, efisiensi, efektivitas, ketepatan waktu,
berorientasi pada pasien dan keadilan.18 EPemenuhan keselamatan pasien dalam pelayanan
kesehatan adalah wujud responsivitas dari pelayanan yang berkualitas.
Menurut Avedis Donabedian, untuk mengukur pelayanan yang berkualitas dapat ditinjau
melalui struktur, proses dan hasil dari pelayanan yang diberikan.4 Komponen struktur
diantaranya struktur organisasi, sumber daya material dan SDM yang ada di institusi pelayanan.
Struktur organisasi termasuk didalamnya adalah staf medis, komite-komite dan tim keselamatan
pasien. Komponen proses meliputi semua aktivitas pelayanan yang dilakukan oleh staf rumah
sakit dan diterima oleh pasien. Sedangkan hasil menggambarkan efek pelayanan yang diberikan
selama pasien dirawat, yang berupa kesembuhan, kepuasan, peningkatan pengetahuan dan
terhindar dari akibat yang tidak diharapkan (cedera) 4
Rumah sakit pada kenyatannya adalah tempat yang tidak selalu aman bagi pasiennya.
Cedera medis yang banyak terjadi di rumah sakit menjadi bukti atas hal ini. Akses informasi
yang mudah bagi masyarakat, akan meningkatkan kesadaran mereka tentang adanya risiko
keselamatan dalam pelayanan kesehatan. Hal ini dapat berakibat pada penurunan kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang dapat berkibat pada kelangsungan hidup rumah
sakit. Oleh karena itu program keselamatan pasien harus menjadi strategi pemasaran dan
pengembangan rumah sakit di masa depan.
Pelaksanaan pengembangan program keselamatan pasien berpedoman pada standar
keselamatan pasien dan sasaran keselamatan pasien. Melalui penerapan 7 langkah menuju
keselamatan pasien, akan mampu mendorong upaya perbaikan yang lebih mengutamakan pasien
dalam setiap pelayanannya. Melalui struktur dan proses yang terstandarisasi, dengan penyediaan
fasilitas dan sumberdaya yang adekuat serta peran serta aktif SDM akan menghasilkan outcome
yang baik. Didukung dengan peran kepemimpinan dalam menciptakan budaya keselamatan akan
sangat menentukan keberhasilan program ini
Kualitas dan keselamatan pasien memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Kualitas adalah
suatu kondisi yang mensyaratkan struktur dan proses yang terstandar dan keselamatan adalah

hasil dari interaksi komponen struktur dan proses. Keselamatan pasien dapat terpenuhi apabila
komponen struktur dan proses tersedia sesuai jumlah dan standar yang berlaku. Struktur dan
system dalam program keselamatan pasien dapat dilihat dari pembentukan struktur organisasi
tim keselamatan pasien. Pembentukan stuktur organisasi ini dimaksudkan agar kebijakan dan
prosedur keselamatan pasien dapat dilaksanakan secara optimal. 4 Struktur organisasi tim secara
lebih spesifik dituangkan dalam kelompok-kelompok kerja (pokja). Sebuah struktur organisasi
dan pokja yang baik memerlukan dukungan SDM yang terlatih di bidangnya. (catatan).
Sistem keselamatan pasien dirancang berdasarkan pada tiga prinsip dasar yaitu : (1) cara
mendesain system agar setiap kesalahan dapat dilihat; (2) bagaimana merancang sistem agar
efek suatu kesalahan dapat dikurangi dan (3) bagaimana merancang sistem agar tidak terjadi
kesalahan. Upaya yang dapat ditempuh diantaranya dengan standarisasi prosedur, regulasi
terhadap staf, penggunaan teknologi, pengembangan sistem pelaporan dan merancang
lingkungan kerja yang kondusif.
SDM terlatih dalam bidang keselamatan pasien di RSUD Kapuas masih belum ada. Kondisi
ini mengakibatkan

kinerja tim dalam program keselamatan pasien menjadi kurang maksimal.

Keberadaaan tim hanya menjadi pelengkap tanpa pelaksanaan program secara menyeluruh
sebagaimana ditetapkan dalam kerangka acuan tim. Program keselamatan pasien di rumah sakit
memerlukan SDM dengan kompetensi yang baik. Insiden keselamatan pasien yang terjadi tidak
terlepas dari faktor manusia yang melaksanakan pelayanan kesehatan. Human error ini tidak bisa
terhindarkan karena setiap individu tentunya memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan inilah
yang menjadi pemicu terjadinya insiden yang tidak diharapkan.4
Teori Wood tentang insiden keselamatan pasien menjelaskan bahwa kesalahan tersebut
dapat dilihat dalam dua sisi, yaitu sisi blunt end dan sharp end.4 Penampilan organisasi,
kebijakan dan prosedur merupakan gambaran dari sisi yang tumpul, sedangkan sisi tajamnya
dilihat dari hubungan langsung antara petugas yang memberikan pelayanan. Keseimbangan
antara faktor sumber daya dan keterbatasan yang dimiliki SDM akan mempengaruhi terjadinya
insiden keselamatan pasien.
Faktor sumber daya yang dapat memengaruhi diantaranya adalah jumlah staf, beban kerja
dan ketersediaan alat medis. Sedangkan keterbatasan SDM ditandai dengan ketrampilan dan
pengetahuan yang kurang. Kelelahan, lupa, kesulitan untuk konsentrasi dan hanya berpedoman
pada asumsi menjadi akibat dari keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Kegagalan sistem juga berkontribusi terhadap insiden keselamatan pasien. Menurut Reason
dalam teori the swiss cheese menjelaskan bahwa hampir semua KTD yang terjadi merupakan
kombinasi dari kegagalan sistem pertahanan, petugas, kondisi yang berpeluang dan kegagalan
organisasi dan manajemen.4 Beberapa penyebab insiden diantaranya : (1) kebijakan dan prosedur
yang tidak tersedia atau ditati; (2) kinerja tim yang terganggu; (3) malfungsi dari peralatan akibat
pemeliharaan yang kurang; (4) kompetensi yang dibawah standard dan (5) perencanaan pelatihan
yang tidak terstruktur.
Peluang insiden terjadi akibat dari kondisi-kondisi tertentu. Kondisi yang memudahkan
terjadinya kesalahan misalnya gangguan lingkungan dan teamwork yang tidak berjalan.
Gangguan lingkungan seperti desain ruangan yang tidak memenuhi syarat, pencahayaan yang
kurang, dan suasana kerja yang tidak harmonis akan menganggu kinerja individu. Hambatan
komunikasi dan pembagian tugas yang tidak seimbang menjadi penyebab tidak berjalanya
teamwork yang efektif.
Efektivitas teamwork sangat tergantung pada komunikasi dalam tim, kerjasama, adanya
supervisi dan pembagian tugas.

24

Sebuah studi observasional dan analisis retrospektif terhadap

insiden keselamatan menunjukkan bahwa faktor teamwork yang kurang berkontribusi lebih
banyak dibandingkan dengan kemampuan klinis yang lemah. .25 Berbagai studi tentang
teamwork mengidentifikasi bahwa pola dalam komunikasi, koordinasi dan kepemimpinan dapat
mendukung efektivitas teamwork dalam pelayanan kesehatan.
Ketersediaan peralatan medis yang cukup dan baik serta harus memenuhi syarat
keamanan sangat diperlukan dalam pelayanan rumah sakit.. Peralatan yang tidak aman, dapat
meningkatkan risiko terjadinya infeksi bahkan insiden yang lebih fatal. Risiko infeksi tersebut
misalnya seperti penularan penyakit melalui penggunaan jarum suntik yang tidak aman.
Penelitian Gregor pada tahun 2002 menyebutkan analisis kegagalan alat yang dilakukan
American College of Clinical Engineering menunjukkan bahwa 67 % kesalahan operator akibat
faktor kebingungan dalam penggunaan peralatan. Faktor lainnya seperti kualitas alat, kurangnya
training penggunaan alat dan faktor pasien juga menjadi kontributor terhadap kegagalan
operasional alat tersebut. Penggunaan peralatan medis dalam pelayanan harus dirancang
sedemikian rupa agar tidak mengakibatkan kerugian baik bagi pasien maupun operator peralatan
medis. Pemeliharaan alat, modifikasi yang tidak tepat serta kondisi lingkungan eksternal yang
tidak sesuai dapat berakibat pada penurunan fungsi peralatan. Keterampilan dan ketelitian

petugas dalam menggunakan peralatan dan kesalahan pengaturan alat juga dapat mengganggu
fungsi dari alat tersebut.4
Budaya keselamatan harus ada di setiap bagian di rumah sakit, dari tingkat individu hingga
tingkat organisasi. Dimensi budaya keselamatan di tiap tingkatan tentunya berbeda satu dengan
yang lainnya. Namun keberhasilan budaya keselamatan menjadi budaya bagi organisasi
memerlukan keterpaduan dari setiap dimensi tersebut. Setiap rumah sakit memiliki karakteristik
masing-masing untuk keberhasilan membangun dimensi budaya keselamatan pasien di
organisasinya. Oleh karena itu, rumah sakit perlu mengetahui dimensi budayanya yang dapat
berkontribusi pada keberhasilan program keselamatan pasien di tempatnya.
Komunikasi efektif merupakan salah satu strategi untuk membangun budaya keselamatan
pasien. Komunikasi efektif sangat berperan dalam menurunkan KTD dalam sebuah asuhan medis
pasien. Strategi ini ditetapkan oleh The Joint Commission on Accreditation of Healthcare
Organization (JCAHO) sebagai tujuan nasional keselamatan pasien. Hal ini didasarkan pada
laporan Agency of Healthcare Research and Quality (AHRQ) bahwa komunikasi merupakan 65
% menjadi akar masalah dari KTD. Strategi yang diterapkan JCHO untuk menciptakan proses
komunikasi efektif adalah pendekatan standarisasi komunikasi dalam serah terima pasien (hand
over).4 Komunikasi saat proses transisi perawatan pasien dapat berisiko kesalahan ketika
informasi yang diberikan tidak akurat.
Kegiatan lain yang dapat menggambarkan budaya keselamatan pasien adalah pelaporan
insiden yang sistematis. Pelaporan insiden menjadi titik awal dalam program keselamatan pasien.
Melalui mekanisme pelaporan yang baik akan mampu mengidentifikasi permasalahan yang
kemudian dapat dirumuskan solusi perbaikannya. Menjadikan pelaporan sebagai sumber
informasi dalam proses belajar, memerlukan setidaknya dua hal yang harus disiapkan oleh rumah
sakit. Pertama adalah tersedianya SDM yang mampu melakukan analisis terhadap insiden.
Perihal kedua yaitu adanya kebijakan yang dikembangkan rumah sait untuk menjabarkan kriteria
pelaksanaan analisis akar masalah dan analisis dampak dan kegagalan.19
Tujuh langkah menuju keselamatan pasien menempatkan faktor kepemimpinan menjadi
langkah kedua yang harus diperhatikan. Tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh pimpinan
diantaranya : (1) menetapkan visi dan misi terkait peningkatan mutu dan keselamatan pasien; (2)
membuat kebijakan dan pedoman keselamatan pasien; (3) membentuk struktur organisasi tim
keselamatan pasien denga kelompok kerja; (4) mengalokasikan dana, sarana, prasarana dan

SDM; (5) mengagendakan keselamatan pasien dalam pertemuan tingkat direksi atau unit
pelayanan; (6) Melakukan koordinasi antar unit pelayanan dan monitoring terhadap kinerja unit
dan SDMnya; (7) memasukkan program keselamatan pasien dalam program orientasi karyawan
baru dan (8) menyediakan teknologi yang dapat meminimalkan KTD sesuai dengan kemampuan
dan kebutuhan rumah sakit.
Kepemimpinan transformasional dalam program keselamatan pasien rumah sakit sangat
diperlukan untuk peningkatan kualitas pelayanan. Kepemimpinan tranformasional akan mampu
menginspirasi, penuh keterbukaan dan penghargaan terhadap staf serta mampu memberikan
umpan balik yang baik pada situasi yang tepat dan berbasis bukti.26 Organisasi tidak akan sukses
tanpa adanya pimpinan yang bervisi, berani mengambil risiko, memiliki komitmen yang tinggi
untuk perubahan dan mampu mengkomunikasikan ide-ide. 4
Program keselamatan pasien perlu ditunjang dengan kepemimpinan yang berorientasi pada
perubahan. Karena pengembangan program akan membawa perubahan-perubahan yang
diperlukan untuk upaya pengembangan tersebut. Kepemimpinan yang kolaboratif dalam program
keselamatan pasien merupakan kolektivitas kepemimpinan untuk melakukan perubahan.
Pemimpin yang membawa perubahan dalam pola kepemimpinannya memerlukan dukungan
3 hal seperti : (1) kepemimpinan yang mempunyai visi perubahan; (2) kemampuan
mengkomunikasikan visi pada lingkungan baik internal atau eksternal dan (3) dukungan
lingkungan yang memperkuat visi tersebut. 27 Menurut teori Sunjaya. integrasi ketiga hal tersebut
dengan dorongan faktor pencetus menentukan keberhasilan suatu perubahan dalam organisasi.
Pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan kualitas yang optimal akan memberikan
dampak yang luas. Bagi masyarakat akan mendapatkan pelayanan yang lebih berkualitas, aman
dan memenuhi harapan mereka. Bagi RS menjadi nilai tambah untuk pencapaian pelayanan yang
berstandar nasional atau dunia. Pelayanan yang aman dan kualitas juga diharapkan dapat
meningkatkan kepercayaan publik kepada RS. Bagi tenaga kesehatan dapat menumbuhkan nilainilai baru khususnya arti penting penerapan keselamatan pasien dalam setiap aktivitas pelayanan
yang diberikan. Solusi pengembangan program keselamatan pasien di tingkat organisasi dapat
ditempuh dengan optimalisasi pada 4 aspek yaitu : (1) Kebijakan yang aplikatif; (2) penguatan
struktur dan sistem; (3) Pelaksanaan manajemen yang efektif dan (4) Pengembangan budaya
keselamatan.. Untuk menuju kondisi perubahan yang diharapkan tersebut diperlukan

kepemimpinan yang memiliki komitmen dan passion yang kuat di bidang keselamatan dan
kualitas pelayanan.
Ketersediaan SDM, fasilitas, dana dan sistem informasi yang berorientasi pada keselamatan
pasien sangat mendukung program. Langkah yang dapat ditempuh oleh rumah sakit diantaranya
dengan membuat kebijakan pemetaan SDM yang dilengkapi dengan rencana pengembangan
SDM baik kuantitas dan kualitasnya. Rencana pengembangan SDM dengan mempertimbangkan
kebutuhan pelayanan untuk memenuhi kualitas dan keselamatan pasien, termasuk program
pelatihan bagi SDM di RS.
Pemanfaatan teknologi terkini untuk peningkatan kualitas pelayanan perlu diiringi dengan
peningkatan kemampuan SDM dalam pengoperasian teknologi. Tanpa adanya tenaga yang
terampil dan terlatih dalam pengelolaan alat dan teknologi, dapat memberikan peluang bagi
keselamatan pasien. Oleh karena itu, pemilihan penggunaan teknologi dan peralatan harus
memperhatikan faktor pendukung seperti SDM, dana dan kebutuhan pelayanan.
Pemenuhan fasilitas tidak terbatas pada peralatan dan teknologi semata. Desain
pembangunan sarana RS di masa yang akan datang perlu memperhatikan faktor keselamatan
sebagai salah satu indikator. Hal ini penting bagi kelangsungan pelayanan dan keamanan bagi
pasien, petugas dan pengunjung RS. Faktor ergonomis, penempatan material dan pengaturan tata
letak alat sesuai jenis dan fungsinya harus mencerminkan keselamatan pasien. Keamanan proses
peralatan RS harus selalu diukur secara berkala.
Interaksi kompleks antara petugas, pasien dan peralatan yang ada di RS memerlukan
pengelolaan khusus melalui manajemen risiko. Manajemen risiko keselamatan pasien dapat
dilakukan dengan : (1) menetapkan konteks; (2) identifikasi risiko; (3) analisis dan evaluasi; (4)
intervensi risiko; (5) monitoring dan komunikasi; (6) komunikasi dan konsultasi.27
Langkah nyata yang dapat ditempuh RS adalah dengan identifikasi risiko melalui telaah
rekam medis, audit medis dan penilaian indikator keselamatan menggunakan daftar tilik. Risiko
dilihat dari penyimpangan dari prosedur atau clinical pathway yang berlaku di RS. Penggunaan
daftar tilik dapat didasarkan pada sasaran dan standar keselamatan pasien sesuai permenkes atau
JCI. Selanjutnya dilakukan analisis dan grading atas risiko yang ada berdasarkan matriks grading
risiko. Evaluasi dari analisis dan grading risiko dulakukan untuk mendapatkan prioritas solusi
dan intervensi yang akan dilakukan. Pelaksanaan intervensi hendaknya dilakukan monitoring

berkelanjutan untuk memastikan keberhasilannya, serta mengkomunikasikan secara internal dan


eksternal di RS.
Peran tim KPRS sangat diperlukan dalam praktik MRK di RS. Kemampuan tim dalam
identifikasi dan analisis risiko harus dimiliki melalui upaya pelatihan teknis tim dalam
pengelolaan keselamatan pasien. Selain kemampuan untuk MRK, tim juga dituntut untuk mampu
melakukan analisis akar masalah atas insiden yang dilaporkan. Organisasi dalam hal ini RS
harus menyediakan tim yang memiliki kemampuan tersebut melalui pengiriman tim untuk
mengikuti pendidikan dan pelatihan khususnya program keselamatan pasien.
Menumbuhkan budaya keselamatan dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam
pengembangan program keselamatan pasien. Membangun budaya keselamatan pasien dapat
dikonseptualisasikan sebagai intervensi yang berakar pada prinsip kepemimpinan, kerjasama tim,
dan perubahan perilaku. Strategi yang diperlukan seperti struktur laporan, pelatihan tim,
pertemuan lintas disiplin atau executive walk around akan mampu membawa perubahan di
tingkat sistem. Executive walk around dapat memengaruhi terbentuknya budaya keselamatan
pasien. 69
Strategi untuk pengembangan keselamatan pasien juga memerlukan promosi untuk setiap
program yang akan di jalankan. Upaya promosi keselamatan pasien pada semua unsur rumah
sakit merupakan langkah nyata yang dapat ditempuh. Langkah ini yang ditempuh oleh RCH di
Australia yang secara rutin menginformasikan tentang pentingnya keselamatan pasien dalam
pelayanan. Informasi rutin dalam bentuk bulletin yang diterbitkan RCH ditujukan bagi pasien
dan petugas rumah sakit. Informasi yang memuat hal-hal seperti pentingnya komunikasi yang
jelas antar petugas, pemakaian tanda pengenal dan berbagai hal lain yang informatif bagi pasien.
Dikemas dengan sangat menarik dan teratur, promosi ini juga merupakan bentuk tanggung jawab
rumah sakit terhadap transparansi mutu pelayanan bagi konsumen rumah sakit.
Standarisasi pelayanan rumah sakit melalui penilaian akreditasi dapat dijadikan sebagai
instrumen penilaian pelayanan dan pelaksanaan program keselamatan pasien. Permenkes
1619/2011 juga merupakan tools dalam menyusun rangkaian kegiatan program. Berpedoman
pada tujuh langkah keselamatan pasien sesuai dengan Permenkes 1691/2011, sejumlah upaya
dan kegiatan dapat ditempuh rumah sakit dalam pengembangan program keselamatan pasien.
Pengalaman penerapan 8 langkah keselamatan pasien di Inggris dan AS adalah : (1) Jadikan
keselamatan pasien sebagai prioritas strategis rumah sakit; (2) Merancang langkah yang

sederhana dalam implementasi setiap kegiatan; (3) Menjadikan pengalaman sebagai


pembelajaran; (5) pencatatan data yang akurat, tepat waktu dan up to date; (6) Motivasi dan
dukungan bagi staf untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya; (7) Melibatkan
pasien dalam setiap aktivitas pelayanan dan (8) Pimpin staf dengan dukungan dan motivasi untuk
peningkatan kerjasama dan komunikasi efektif diantara unsur rumah sakit.70
Kepemimpinan

dalam

program

keselamatan

pasien

diperlukan

untuk

menjamin

kelangsungan program mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penetapan visi dan misi
berorientasi keselamatan pasien dalam pelayanan RS menjadi indikator penilaian proses
kepemimpinan berjalan efektif. Pemilihan strategi untuk pencapaian tujuan dari program juga
perlu ditentukan. Strategi-strategi yang dipilih berdasarkan kondisi yang ada di organisasi dan
tujuan yang ingin dicapai. serta memenuhi semua unsur yang terdapat dalam struktur dan sistem.
Kepemimpinan di tingkat rumah sakit seperti : (1) ada anggota direksi yang bertanggung
jawab atas keselamatan pasien; (2) di beberapa bagian ada yang menjadi penggerak
(champion) keselamatan pasien; (3) prioritaskan keselamatan pasien dalam agenda rapat
direksi/manajemen; (4) Masukkan keselamatan pasien dalam program pelatihan staf.
Kegiatan di tingkat tim keselamatan pasien dapat berupa : (1) ada penggerak dalam tim
yang memimpin gerakan keselamatan pasien; (2) Menjelaskan relevansi dan manfaat
keselamatan pasien bagi setiap staf; (3) menumbuhkan sikap kesatria yang menghargai pelaporan
insiden. Kegiatan di tingkat tim ini harus terintegrasi dengan upaya yang dilakukan di tingkat
organisasi.
Selain peningkatan di tingkat organisasi, upaya perbaikan di tingkat individu juga
merupakan hal penting dalam program keselamatan pasien. Budaya keselamatan di tingkat
individu perlu ditumbuhkan melalui peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku
yang lebih berorientasi pada keselamatan. Hal ini dapat ditempuh dengan penyebarluasan
informasi terkait keselamatan pasien melalui bulletin RS dan media-media lainnya. Proses
pembelajaran dari laporan insiden yang disampaikan secara rutin baik oleh tim maupun pihak
manajemen RS pada setiap pertemuan dan rapat. Informasi insiden yang telah dikemas dengan
solusi dari hasil analisis akar masalah, dapat menjadi informasi berharga bagi setiap individu
untuk meningkatkan pengetahuannya akan keselamatan pasien. Tanpa budaya menyalahkan
individu atas insiden yang ada akan mampu memperbaiki sikap dan perilaku serta keberanian
untuk meleporkan setiap insiden sebagai bagian dari proses pembelajaran.

RS dengan interaksi profesi yang cukup banyak, membutuhkan strategi yang tepat dalam
proses komunikasi antar profesi terkait. Metode SBAR (situation, backgraound, assessment,
recomencation) dalam proses komunikasi antar profesi dapat dijadikan sebagai pilihan.
Berdasarkan situasi, latar belakang, penilaian dan rekomendasi yang dikomunikasikan dengan
baik akan memberikan kondisi pengobatan pasien lebih informatif, jelas dan terstruktur. Hal ini
akan mengurangi potensi insiden yang tidak diinginkan terjadi.
Strategi komunikasi lain adalah pada proses komunikasi antar klinisi. Keseinambungan
perawatan dan komunikasi antara sejawat dokter sangat mempengaruhi keselamatan pasien.

Melalui penerapan ringkasan pulang khususnya bagi pasien pasca-rawat inap, dapat sebagai
upaya membangun komunikasi di antara dokter. Hal ini akan dapat menurunkan angka
perawatan kembali (hospital readmission).
Komunikasi lain yang juga penting dibangun adalah komunikasi dengan pasien dan
keluarga. Sebagai individu utama yang dilayani dalam pelayanan RS, sudah seharusnya pasien
dan keluarga terlibat dalam proses komunikasi yang baik dengan petugas RS. Strategi yang dapat
di tempuh diantaranya dengan memberikan akses bagi pasien dan keluarga terhadap informasi
pelayanan yang diterimanya. Menyediakan waktu yang cukup bagi pasien untuk berkomunikasi
dengan petugas dan peningkatan edukasi pasien terkait keselamatan beberapa upaya yang dapat
dilakukan. Metode SPEAK UP merupakan metode yang direkomendasikan JCAHO untuk
komunikasi efektif antara pasien dan petugas.
Kerjasama tim dalam pelayanan di RS dapat mempengaruhi kualitas dan keselamatan
pasien. Potensi konflik yang mungkin terjadi dalam interaksi tim dapat berakibat pada
pelaksanaan kerjasama tim dalam pelayanan. Bekerja secara teamwork merupakan sebuah nilai
yang harus dibangun sebagai budaya keselamatan. Konflik yang muncul dapat menurunkan
persepsi individu atas teamwork, yang dapat menganggu proses pelayanan dan berujung pada
kemungkinan terjadinya insiden. Sebuah penelitian menunjukkan persepsi individu yang kurang
terhadap teamwork berpotensi 3x lebih besar untuk terjadi insiden keselamatan.72
Mengenali dan menyelesaikan konflik memerlukan sebuah peran supervisi yang baik dan
profesional dari seorang manajer. Pelayanan RS yang berlangsung 24 jam secara terus menerus
seudah barang tentu memerlukan manajemen khusus. Alternatif yang dapat dilakukan di RS
adalah dengan mengaktifkan manajer jaga rumah sakit dengan peran supervisi pelayanan,
khususnya untuk menajemen pelayanan di luar jam kerja. Manajer jaga dilengkapi dengan

instrumen pengendalian yang telah ditentukan agar dapat mendeteksi, menyelesaikan dan
pengedalian konflik dan masalah dari sudut manajemen.
Petugas RS sebagai individu pelaksana langsung pelayanan harus memenuhi kecukupan baik
kuantitas atau kualitas. Aspek kualitas individu dilihat dari pendidikan dan standar kompetensi
yang dimiliki. Kompetensi petugas di RS dapat di lakukan dengan upaya memenuhi standar
kompetensi oleh setiap petugas sesuai dengan standar yang ditetapkan di setiap profesi. RS dapat
menempuh upaya seperti pengiriman petugas untuk mengikuti pelatihan berbasis kompetensi
untuk setiap profesi yang ada. Langkah ini terintegrasi dengan perencanaan SDM RS khususnya
bagian diklat RS. Bagi petugas yang belum memenuhi standar kompetensi untuk profesinya, RS
dapat memberikan fasilitas untuk dapat memenuhi standar tersebut.
Perhitungan kebutuhan tenaga yang tepat untuk setiap profesi di RS sangat diperlukan untuk
menghindari adanya peningkatan beban kerja bagi masing-masing individu. Perhitungan rasio
jumlah tenaga dengan jumlah pasien serta waktu pelayanan harus dimiliki RS. Perhitungan
kebutuhan dengan metode analisis beban kerja adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan.
Hal ini akan sangat berguna dalam perencanaan SDM RS terutama untuk pada profesi tertentu
dengan jumlah tenaga yang masih terbatas.
Keberhasilan program keselamatan pasien tergantung pada faktor individu dan organisasi.
Hambatan personal yang dapat mempengaruhi adalah pemahaman yang kurang atas visi
organisasi, takut dihukum, kompleksitas tugas staf, dan teamwork yang lemah.39 Faktor yang
menghambat ini harus dapat diantisipasi oleh rumah sakit melalui

berbagi nilai-nilai

keselamatan dengan penyampaian visi organisasi secara jelas. Menghilangkan budaya


menyalahkan, penyederhanaan tugas staf dengan pemanfaatan teknologi yang tepat dan
mengembangkan metode supervisi manajemen merupakan alternatif lain yang dapat ditempuh.
Pelaksanaan manajemen program keselamatan pasien berdasarkan 7 langkah menuju
keselamatan sesuai yang ditetapkan dalam Permenkes 1619/2011, memberikan beberapa langkah
yang dapat dilakukan di RS. Langkah tersebut dapat dilakukan ditingkat RS sebagai organisasi
dan di tingkat tim sebagai pelaksana teknis.

KESIMPULAN DAN SARAN


Program keselamatan pasien yang ada di RSUD Kapuas diselenggarakan sebagai bagian dari
kewajiban rumah sakit untuk mencapai pelayanan yang berkualitas. Kegiatan dalam program

keselamatan pasien belum terealisasi dengan baik, dikarenakan beberapa hambatan dan masalah
dalam struktur, proses dan outcome. Peran kepemimpinan dan budaya keselamatan yang dapat
mempengaruhi kinerja sistem belum berfungsi optimal dalam pelaksanaan program.
Rumusan konsep manajemen program keselamatan pasien didasarkan pada kondisi dan
analisis situasi yang terdapat di RSUD, perlu memperhatika unsur-unsur di tingkatan organisasi
dan individu seperti kepemimpinan, budaya keselamatan, struktur dan manajemen komunikasi,
kerja tim dan kualitas tenaga
Konsep manajemen keselamatan pasien yang telah dihasilkan dapat dijadikan sebagai
langkah awal dalam menyusun rencana kebutuhan program keselamatan pasien di RSUD Kapuas
sebagai bagian dari rencana strategis rumah sakit. Hal ini dapat ditempuh dengan perumusan
beberapa kebijakan yang lebih teknis sebagai pedoman penyelenggaraan keselamatan pasien
melalui kapasitasi tim yang ada. RS juga dapat merumuskan strategi-strategi khusus untuk
penguatan dan peningkatan kontribusi faktor-faktor di organisasi dan individu terhadap program
keselamatan pasien.

Daftar Pustaka
1. Khon LT, Corrigan JM, Donaldson MS, To Err Is Human: Building a Safer Health System,
Washington DC ; National Academic Press; 2000
2. Worl Alliance for patient safety: Forward Program. World Health Organization; 2004
3. Departemen Kesehatan RI. Panduan Nasional Keselamatan Rumah Sakit: Edisi ke 2,
Jakarta, 2008
4. J.B. Suharjo B. Cahyono, Membengun Budaya Keselamatan Pasien Dlama Praktik
Kedokteran, Yogyakarta; Kanisius; 2008.
5. Bambang Joni. Belajar Kenal Dengan Program Keselamatan Pasien (Patient Safety) [serial
on the internet] 2009 [diunduh 23 maret 2012] tersedia dari : http://www.scribb.com
6. Landrigrn CP, Parry GJ, Bones J, Hackbarth AD, Goldman DA, et al, Temporal Trend in
Rates of Patient Harm Resulting From Medical Care, NEJM, 2010 [diunduh 22 Juni 2012];
363 (22); 2124-34 tersedia dari : http://www.nejm.org.
7. Brennan TA, Leapae LL, Laird NM, et al. Incidence of adverse events and negligence in
hispitalised patients : results on the Harvard Medical Practice Study I, NEJM, 1991 [diunduh
22 Juni 2012]; 324:370-6 tersedia dari http://www.nejm.org
8. Baker GR, Norton PG, Flintoft V, el al. The Canadian adverse event study: The incidence of
adverse among hospital patient in Canada, CMAJ, 2004 [diunduh 22 juni 2012]; 170: 167886 tersedia pada publish.gov. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed
9. Davis P, Lay YR, Briant R, et al. Adverse events in New Zaeland public hospitals: principal
finding from the national survey in Health Mo, Welington, 2001 [diunduh 22 Juni 2012]
10. Grant T Savage & Eric S Williams, Performance Improvement in Health Careuality, 2008

11. Adi Utarini, Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia: Sistem Regulasi yang Responsif
[Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar] Yogyakarta; UGM; 2011
12. IARW Manuaba, Faktor risiko klinik pada tindakan pembedahan urologi di unit bedah
sentral Badan Rumah Sakit Umum Tabanan [Thesis] Yogyakarta: UGM ; 2006
13. Prihartono L, Outcome klinik peleyanan bedah pasca penerapan manajemen risiko di RSUD
Koja 2003 [Theses] Yogyakarta; UGM; 2005
14. Yulianto w. Pengaruh perubahan desain ruang operasi dan perubahan perilaku petugas di
ruang operasi terhadap kejadian surgical site infection di Rumah Sakit Santa Pemalang
[Theses]; Yogyakarta; UGM: 2007
15. Departemen Kesehatan RI. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta;
2006 hal 1-46
16. Kotler P, Keller KL. Marketing Management. New Jersey; Pearson Prentice Hall; 2009
17. Boy S. Sabarguna Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit Edisi Revisi; Jakarta; CV
Sagung Seto; 2008
18. Flynn E. Summary of crossing the quality of chasm: A new system for 21th century dalam
The Patient Safety Handbook. 2004 [diunduh 25 Juni 2012]; 25-34
19. Permenkes RI No 1691/Menkes/Per.VIII/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
2011
20. Adib A Yahya. Konsep dan program patient safety dalam konvensi Nasional Mutu Rumah
Sakit ke IV; 14-14 November 2006; Bandung [diunduh 7 juli 2012] tersedia pada :
http://www.scribb.com
21. A Chedar Alwasilah. Pokoknya kualitatif, dasar-dasar merancang dan melakukan penelitian
Kualitatif, Bandung; PT Cunia Pustaka Jaya; 2008 (49)
22. Strauss A & Corbin J, Dasar-dasar penelitian Kualitatif: tata langkah dan Tekhnik-tekhnik
Teorisasi data Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2009
23. Berwick DM, A Users manual for the IOMs quality chasm report. Health Affairs. 2002
[diunduh
2
Juli
2012];
20;
80-90
tersedia
dari
http;//content.health
affairs.org/content/21/3/80 full.pdf
24. Vincent C., Understanding and responding to adverse events, NEJM, 2003; 348; 1051-56
[diunduh 2 juli 2012]
25. Manser T, Teamwork and patient safety in dynamic domain of healthcare : a review of the
literature, Acta anaesthasia Scand, 2009: 53 :143-151 [diunduh 23 januari 2013]
26. Adi Utarini, Kompetensi manajer rumah sakit dalam pengembangan patient centered care,
disampaikan dalam seminar ilmiah 20 tahun MMR UGM dan Forum mutu IHQN VIII,
Yogyakarta 10-13 Oktober 2012
27. Deni K. Sunjaya, Perubahan Organisasional Dinas Kesehatan : Studi Kasus Peningkatan
Fungsi Regulasi Dinas Kesehatan Kota Bandung dan Kota Yogyakarta, Program Doktor,
Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM, 2010
28. Hasting G, Service re-design : Eight steps to better patient safety. Health service journal,
2006 terdapat pada http ://www.goodmanagement-hsj.co,uk/patientsafety [diunduh pada 22
juni 2012]