You are on page 1of 13

HUBUNGAN NILAI HEMATOKRIT PADA

PENDERITA DEMAM BERDARAH


DENGUE (DBD)
Diajukan untuk memenuhi tugas dari kimia klinik

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.

Deka Elvis Yupiter


: 1411C2038
Diar Sukma Regiani
: 1411C2061
Selvia Carolina Ketaren : 1411C2054
Yusran
:

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH


BANDUNG
2015
BAB. I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang biasa disebut Dengue Haemorrahagic
Fever (DHF) merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah
kesehatan di dunia terutama negara berkembang. Penyakit ini disebabkan oleh 4 serotipe virus
dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Soegeng,
2008).
Demam dengue dan DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dunia.
Indonesia termasuk negara endemik dimana kejadian kasus DBD cenderung meningkat dari
tahun ke tahun dan hampir selalu terjadi KLB (kejadian luar biasa) secara sporadis setiap
tahunnya. DBD juga menempati urutan pertama penyebab KLB di Jawa Tengah. Di Indonesia
penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58
orang dengan kematian 24 orang (CFR 41,3%). Pada tahun 1994, kasus DBD telah ditemukan
di seluruh propinsi di Indonesia. Dan pada tahun 2004, Indonesia melaporkan Case Fatality
Rate (CFR) (1,12%) tertinggi di Asia Tenggara (Ganda, 2006).
Diagnosis penyakit DBD dan pemantauan perjalanan penyakit harus dilakukan secara
tepat dan akurat. Jumlah trombosit dan kadar hematokrit sering digunakan sebagai indikator
berat atau tidaknya penyakit tersebut. Oleh karena itu pemeriksaan darah merupakan hal yang
mutlak dilakukan. Biasanya pada pemantauan penyakit, penurunan jumlah trombosit yang
terlalu rendah ataupun peningkatan kadar hematokrit yang terlalu tinggi sering ditakutkan
akan terjadinya syok.
Pada penderita DBD biasanya terjadi renjatan atau syok. Renjatan tersebut merupakan
keadaan darurat yang memerlukan perawatan intensif. Tanda tanda klinik terjadinya renjatan
biasanya terjadi pada atau setelah hari ke-3 sakit, yaitu peralihan masa demam ke suhu turun.

Pada saat tersebut kita harus waspada bila penderita menunjukkan tanda gelisah, lemah, kulit
dingin, bercak merah, nadi cepat dan lemah, Hematokrit (Ht) mendadak tinggi atau tetap
tinggi walaupun telah diberikan cairan.
Nilai Hematokrit biasanya meningkat mulai hari ke-3 sakit, dan peningkatannya
mengikuti perjalanan penyakit. Peningkatan Ht dapat mencapai 20%. Meningkatnya nilai Ht
mengambarkan Hemokonsentrasi ini di jumpai pada penderita DBD, merupakan indikator
yang peka terjadinya perembesan plasma , sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara
berkala. Penilaian Ht merupakan petunjuk penting untuk pengobatan, karena dapat
mencerminkan tingkat kebocoran plasma. Pemberian cairan Intravena juga harus diberikan
dengan cepat untuk mempertahankan volume plasma dan pengawasan harus dilakukan terus
menerus.(Riyanto, 1991). Pemeriksaan Ht merupakan salah satu pemeriksaan Hematologi
untuk mengetahui volume eritrosit dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam %. Penetapan
nilai Ht dapat dilakukan dengan cara makro ataupun mikro (Gandasoebrata, 2004)
Diagnosis DBD dilakukan dengan melihat gejala klinis dan laboratorium. Pemeriksaan
laboratorium yang saat ini dipakai untuk menunjang diagnosis demam adalah dengan
menggunakan pemeriksaan Ig M dan atau Ig G anti dengue karena dapat diperoleh hasil yang
cepat dan sensitivitas mirip dengan. Pemeriksaan ini cukup mahal. Hematokrit dipakai untuk
menentukan derajat hemokonsentrasi seorang penderita. (Pusparini, 2004)
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian
yaitu Hubungan nilai Hematokrit Pada Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD)

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN


Tujuan :
a. Tujuan Umum

Untuk mengetahui nilai hematokrit pada pasien penderita demam berdarah dengue.
b. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui berapa nilai hasil pemeriksaan hematokrit pada penderita demam
berdarah dengue
Manfaat :
a. Bagi pembaca
Bagi pembaca dapat menambah wawasan dan mengetahui cara penetapan hematokrit
pada penderita demam berdarah dengue.
b.

Bagi penulis

Bagi penulis sendiri dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan, dan dengan
penulisan ini penulis dapat mengetahui cara penetapan hematokrit pada penderita
demam berdarah dengue.

D. METODE PENULISAN
Metode pengumpulan data dilakukan melalui penelitian pustaka (buku,internet)

BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dengue Hemorhagicc Fever (DHF)
1. Penyebab timbulnya penyakit DHF
Dengue Hemorhagicc Fever (DHF) adalah penyebab penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus (Arthopode-born virusses) artinya virus yang
ditularkan melalui gigitan Arthopoda misalnya nyamuk Aedes aegypti (betina). Arthopoda
akan menjadi sumber infeksi selama hidupnya sehingga selain menjadi vektor virus dia juga
menjadi hospes reservoar virus tersebut yang paling sering bertindak menjadi vektor adalah
nyamuk.
2. Patofisiologis Penyakit DHF
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan atau kebocoran plasma,
peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma yang
secara otomatis jumlah trombosit berkurang, terjadinya Hipotensi (tekanan darah rendah)
yang dikarenakan kekurangan Haemogloblin terjadinya Hamokonsentrasi (peningkatan
Hematokrit 20%) dan renjatan (syok) hal pertama yangg terjadi setelah virus masuk
kedalam tubuh penderita adalah penderita mengalami Demam, sakit kepala, mual, nyeri otot,
pegal-pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik-biintik merah pada kulit (petekie), sakit
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati ( hematomegali) dan pembesaran limpa (splenomegali).
Hemokonsentrasi menunjukan atau mengambarkan adanya kebocoran aau perembesan
plasma keruang ekstra seluler sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan

pemberian cairan intravena, oeh karena itu pada penderita DHF sangat dianjurkan untuk
memantau hematokrit darah untuk mengetahui setelah pemberian cairan intravena
peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi sehingga
pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah
terjadinya edema paru dan gagal jantung. Sebaliknya jika tidak mendapat cairan yang cukup
penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk
bahkan bisa mengalami renjatan dan apabila tidak segera di tangani dengan baik maka akan
mengakibatkan kematian. Sebelum terjadinya kematian biasanya dilakukan pemberian
transfusi guna menambah semua komponen-komponen di dalam darah yang telah hilang.

3. Gambaran Kliniis DHF


Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa
inkubasi antara 13-15 hari. Penderita biasanya mengalami demam akut (suhuu meningkat
tiba-tiba) sering disertai mengigil. Gejala klinis lain yang timbul dan sangat menonjol adalah
terjadinya pendarahan pada saat demam dan tidak jarang pula dijumpai saat penderita mulai
bebas dari demam. Contoh pendarahannya adalah pendarahan pada kulit (petekie).
1. Derajat penyakit DHF
1. Derajat I (ringan) :
Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinik lain dengan manifestasi pendarahan
ringan yaitu tes Tourniquite yang positif
2. Derajat II (sedang)
Golongan ini lebih berat daripada derajat I karena ditemukan pendarahan kulit dan
manifestasi pendarahan lain yaitu epistaksis (mimisan), pendarahan gusi, hematemesis,
dan atau mekna (muntah darah).

3. Derajat III (berat)


Penderita syok berat dengan gejala klinik yang telah dibahas diatas (derajat I dan
derajat II)
4. Derajut IV
Penderita syok berat dengan tensi yang tidak dapat di ukur dengan nadi yang tidak
dapat di raba.
B. Pengaruh Hb, Ht, dan Jumlah Trombosit pada Penderita DHF
Jumlah Hb pada penderita DHF sangat berpengaruh karena apabila kadar Hb rendah
maka akan terjadi kekurangan oksigen, menyebabkan distres pernafasan yang ditandai dengan
sesak nafas dan kekurangan makanan yang yang menyebabkan hemokonsentrasi yaitu
kebocoran plasma yang menyebabkan penderita mengalami pendarahan interna atau
pendarahan dalam tubuh dan biasanya terjadi pada saluran cerna. Dan apabila jumlah
trombosit pada penderita DHF mengalami penurunan (trombositopeni) maka mengindikasikan
penderita DHF memasuki fase kritis dan memerlukan penambahan trombosit.
C. Diagnosa Laboratorium
Pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Pada penderita klinis
yang di duga menderita DHF dilakukan pemeriksaan Hb, Ht, dan trombosit 2-4 jam pada hari
pertama perawatan. Selanjutnya setiap 6-12 jam sesuai dengan pengawasan selama perjalanan
penyakit.

D. Pemeriksaan Hematokrit
Nilai Hematokrit ialah volume semua eritrosit dalam 100 ml darah disebut dengan
persen & dari volume darah itu. Biasanya nilai itu ditentukan dengan darah vena atau darah

kapiler. Nilai normal untuk pria 40-48 vol % dan wanita 37-43 %. Penetapan hematokrit
sangat dilakukan dengan teliti, kesalahan metodik rata-rata 2%. Hasil itu terkadang sangat
penting untuk menentukan kadar klinis yang menjurus kepada tindakan darurat.
Nilai hematokrit biasanya mlai meningkat pada hari ketiga dari perjalanan penyakit
dan makin meningkat sesuai dengan proses perjalanan penyakit demam berdarah. Seperti telah
disebutkan bahwa peningkatan hematokrit merupakan manifestasi hemokonsentrasi yang
terjadi akibat kebocoran plasma. Akibat kebocoran ini volume plasma menjadi berkurang
yang dapat mengakibatkan terjadinya syok hipovolemik dan kegagalan sirkulasi. Pada kasuskasus berat yang telah disertai pendarahan, umumnya nilai hematokrit tidak meningkat bahkan
malah menurun.
Telah ditemukan bahwa pemeriksaan Ht secara berkala pada penderita DHF
mempunyai beberapa tujuan yaitu :
1. Pada saat pertama kali seorang anak dicurigai menderita DHF, pemeriksaan ini
turut menentukan perlu ata tidaknya anak itu dirawat.
2. Pada penderita DHF tanpa renjatan pemeriksaan hematokrit berkala ikut
menentukan perlu atau tidaknya anak itu diberikan cairan intravena
3. Pada penderita DHF pemeriksaan Ht berkala menentukan perlu atau tidaknya
kecepatan tetesan dikurangi, menentukaan saat yang tepat untuk menghentikan
cairan intravena, dan menentukan saat yang tepat untuk memberikan darah.
1. Penyakit dengan Peningkatan Hematokrit
Dehidrasi/hipovolemia, diare berat, polisitemia vera, asidosis diabetikum, emfisema
paru (stadium akhir), trancient ischaemic attack (TIA), eklampsia, trauma, pembedahan, luka
bakar (Kee, 1997; Sutedjo, 2007; Ihsan Jaya, 2008).
2. Penetapan Nilai Hematokrit

Pengukuran kadar hematokrit dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu:


1. Metode langsung, dengan cara makro atau mikro. Cara mikro kini lebih banyak digunakan,
karena hasilnya dapat diperoleh dengan lebih cepat dan akurat.
2. Metode tidak langsung, yaitu dengan menggunakan konduktivitas elektrik dan komputer.
a. Cara Makro
1.

Isi tabung Wintrobe dengan sampel darah sampai garis nol; boleh juga dipakai sampel
yang telah digunakan pada penetapan LED (cara Wintrobe).

2. Sentrifuge selama 30 menit pada kecepatan 3000 rpm. (rpm = revolution per minute =
putaran per menit).
3. Baca tinggi kolom volume eritrosit yang telah dimanfaatkan. Hasilnya : angka pada
skala dikalikan 10.
Nilai normal pada perempuan

: 37 47 vol%

Nilai normal pada laki-laki

: 40 54 vol%

b. Cara Mikro
Pada cara ini digunakan pipa kapiler dan alat sentrifuge khusus. Untuk membaca hasilnya
dipakai alat pembaca (reader) khusus.
Pipa kapiler mempunyai panjang 75 mm dengan diameter bagian dalamnya 1 mm.
Dipasaran dapat diperoleh 2 macam pipa kapiler. Ada tabung yang polos dan ada yang telah
dilapisi heparin. Bila dipakai tabung polos maka sampel darah yang akan dipakai harus darah
oxalat atau darah EDTA.
Cara Pemeriksaan :
1. Masukkan sampel darah ke tabung kapiler; biasanya darah akan masuk dengan
sendirinya oleh gaya kapilaritasnya; biarkan 10 mm bagian ujungnya tidak terisi
sampel darah.

2. Bagian ujung lainnya ditutup dengan semacam senyawaan plastik kemudian


letakkan pada piringan dari alat sentrifuge khusus. Perhatikan cara meletakkan
tabung kapiler dengan mengingat arah gaya sentrifugalnya
3. Sentrifuge selama 10 menit pada kecepatan 12.000 rpm.
4. Baca tinggi kolom volume eritrosit pada alat pembacanya, nyatakan hasil dalam
vol%.
Setelah pembacaan nilai Hct,dapat diamati adanya 2 lapisan diatas lapisan (endapan) eritrosit :
1.

Lapisan Buffy coat terdiri dari leukosit dan trombosit, berbatasan dengan lapisan

eritrosit. Lapisan ini berwarna krem dan dapat dipakai untuk mengira secara kasar jumlah
leukosit dalam sampeld darah. Pada orang normal lapisan ini tebalnya 0,5 1,0 cm; ini
setara dengan jumlah leukosit 5.000 10.000 per ul. Bila tebal buffy coat > 1 cm berarti
jumlah leukosit meninggi, misalnya pada leukemia akut.
2.

Lapisan plasma, terletak diatas lapisan buffycoat. Plasma normal berwarna kuning

muda. Pada kelainan tertentu, warna ini berubah. Misalnya : merah berarti ada hemolisis,
putih dijumpai pada hipercholes terolemia, keruh ada kemungkinan multiple
myeloma. (Herdiana Herman, 2012)

D. Sumber sumber kesalahan dalam penetapan nilai hematokrit


1.

Bila memaki darah kapiler tetesan darah pertama harus dibuang karena mengandung
cairan intrastitial.

2.

Bahan pemeriksaan yang ditunda lebih dari 6 8 jam akan meningkatkan hematokrit.

3.

Bahan pemeriksaan tidak dicampur hingga homogen sebelum pemeriksaan dilakukan.

4.

Darah yang diperiksa tidak boleh mengandung bekuan.

5.

Didaerah beriklim tropis, tabung kapiler yang mengandung heparin cepat rusak karena
itu harus disimpan dilemari es.

6.

Kecepatan dan lama pemusingan harus sesuai

7.

Konsentrasi antikoagulan yang digunakan tidak sesuai

8.

Pembacaan yang salah. fenikol ( Kee JL,1997 )

9.

Obat obatan yang dapat menurunkan hasil hematokrit, seperti : penicilin,


kloram. (Iccagagah, 2009)

BAB. III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.

KESIMPULAN
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi
virus (arthropode borne virus). Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk A. aegypti atau A.
albopictus. Diagnosis DBD dilakukan dengan melihat gejala klinis dan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium yang saat ini dipakai untuk menunjang diagnosis demam dengue
baik primer maupun sekunder adalah dengan menggunakan pemeriksaan Ig M dan atau Ig G
anti dengue karena dapat diperoleh hasil yang cepat dan sensitivitas mirip dengan uji
hemaglutinasi inhibisi (HI). Pemeriksaan ini cukup mahal. Sehingga pemeriksaan Hematokrit
dipakai untuk menentukan derajat hemokonsentrasi seorang penderita.

2.

SARAN
Jika pemeiksaan Ig M dan atau Ig G anti dengue dengan uji Hemaglutinasi Inhibisi
tidak dapat dilakukan, maka pemeriksaan Hematokrit yang dipakai untuk menentukan derajat
Hemokonsentrasi seorang penderita. Dan juga dalam pemeriksaan diperhatikan sumbersumber kesalahan dalam penetapan nilai hematokrit agar tidak terjadi kesalahan dalam
pemeriksaan dan penetapan nilai hematokrit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gagah, Icca. 2009. Mari Berbagi : Hematokrit, (online),http://iccagagah. Blogspot
.com /2009/05/hematokrit.html, diakses 29 Januari 2013)
2. Herman,

Herdiana.

2012.

Its

My

Live

Hematokrit,

(http://herdianaakhyar.blogspot.com/2012/10/hematokrit.html, diakses

29

(Online),
Januari

2013).
3. Jaya, Ihsan. Hubungan Kadar Hematokrit Awal Dengan Derajat Klinis DBD. Skripsi
Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008.
4. Pusparini. Kadar hematokrit dan trombosit sebagai indikator diagnosis infeksi dengue
primer dan sekunder. Skripsi Sarjana Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Trisakti, 2004.