You are on page 1of 39

SUMBER AJARAN ISLAM YANG DIPERSELISIHKAN

ULAMA'

Kelompok 9
Kelas PAI 74

Nama Kelompok :

1. Lutfiah Nur Hasanah

141903102022

2. Muhammad Ikhsan

141903102027

3. Enggar Aminuddin

141903102035

4. Tri Surya Hutama

141910101009

Dosen Pembimbing : BAIDLOWI, M.H.I

UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis telah panjatkan atas kehadirat Allah SWT sang Pencipta
alam semesta, manusia, dan kehidupan beserta seperangkat aturan-Nya, karena berkat
limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan tema SUMBER AJARAN ISLAM YANG
DIPERSELISIHKAN ULAMA' yang sederhana ini dapat terselesaikan tidak kurang

daripada waktunya.
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklain untuk memenuhi
salah satu dari sekian kewajiban mata kuliah umum Pendidikan Agama Islam
merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada BAIDLOWI, M.H.I selaku dosen serta semua pihak yang telah membantu
penyelesaian makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar
bawasannya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan
kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah Azza Wajala hingga dalam
penulisan dan penyusunnnya masih jauh dari kata sempurnaAkhirnya penulis hanya
bisa berharap, bahwa dibalik ketidak sempurnaan penulisan dan penyusunan makalah
ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah
bagi penulis, pembaca, dan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi Universitas Jember.

Jember, 25 Agustus 2014

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................

Daftar Isi.................................................................................................

ii

BAB I
Pendahuluan...............................................................................

BAB II
Istihsan............................................................................................. 2
Pengertian Istihsan............................................................... 2
Dasar Hukum Istihsan.......................................................... 3
Macam-Macam Istihsan...................................................... 4
Ikhtilaf Para Ulama Tentang Istihsan................................... 5
Istishab............................................................................................. 8
Pengertian Istishab............................................................... 8
Macam-Macam Istishab....................................................... 9
Kedudukan Istishab Sebagai Sumber Dasar Hukum........... 10
Kaidah-Kaidah Istishab....................................................... 11
Maslahah Mursalah.......................................................................... 12
Pengertian Maslahah Mursalah............................................ 12
Syarat-Syarat Maslahhah Mursalah..................................... 13
Macam-Macam Maslahah Mursalah................................... 14
Ikhtilaf Para Ulama Tentang Maslahah Mursalah............... 16
Saddu Dzariah................................................................................. 19
Pengertian Saddu Dzariah.................................................. 19
Kedudukan Saddu Dzariah................................................. 21
Syarat-Syarat Saddu Dzariah............................................. 23
Ikhtilaf Para Ulama Tentang Saddu Dzariah..................... 24
Urf................................................................................................... 26
Pengertian Urf.................................................................... 26
Macam-Macam Urf........................................................... 27
Kedudukan Urf Sebagai Dalil Syara................................. 28
Syarat-Syarat Urf................................................................ 29
Kaidah-Kaidah Urf............................................................. 30
BAB III
Penutup............................................................................................. 32
Daftar Pustaka.............................................................................................. 34

BAB I
Pendahuluan
Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu intsrumen penting yang harus
dipenuhi

oleh

siapapun

yang

ingin

melakukan

mekanisme

ijtihad

dan istinbath hukum dalam Islam. Itulah sebabnya dalam pembahasan kriteria
seorang mujtahid, penguasaan akan ilmu ini dimasukkan sebagai salah satu syarat
mutlaknya untuk menjaga agar proses ijtihad dan istinbath tetap berada pada koridor
yang semestinya. Meskipun demikian, ada satu fakta yang tidak dapat dipungkiri
bahwa penguasaan Ushul Fiqih tidaklah serta merta menjamin kesatuan hasil ijtihad
dan istinbath para mujtahid. Disamping faktor eksternal Ushul Fiqih itu sendiri,
seperti penentuan keshahihan suatu hadits misalnya, internal Ushul Fiqih sendiri pada
sebagian

masalahnya

mengalami

perdebatan

(ikhtilaf) di

kalangan

para Ushuliyyin. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah al-Adillah (sebagian
ahli Ushul menyebutnya: al-Ushul al-Mukhtalaf fiha,atau Dalil-dalil yang
diperselisihkan penggunaannya dalam penggalian dan penyimpulan hukum.
Mashadirul Ahkam (sumber-sumber hukum) ada yang disepakati ada yang
tidak. Jelasnya, ada Mashadir Ashliyah (sumber pokok) yaitu: Al-Quran dan Sunnah
Rasul-Nya dan ada Mashadir Thabiiyah (sumber yang dipautkan kepada sumbersumber pokok) yang disepakati oleh jumhur fuqaha yaitu: ijma dan qiyas. Adapula
yang di ikhtilafi oleh tokoh-tokoh ahli ijtihad sendiri yaitu:Istihsan, istishab,
Maslahah mursalah, Urf, Saddudzariah, dan madzhab sahabi.
Makalah ini akan menguraikan tentang hakikat Istihsan, Istishab, maslahah
mursalah, Saddu Dzariah dan urf yang mencakup pengertian, macam-macamnya,
kehujjahannya, kaidah-kaidahnya, dan contoh-contoh produk hukumnya.

BAB II
Pembahasan

Istihsan
Pengertian Istihsan
Secara etimologi, istihsan berarti menyatakan dan meyakini baiknya sesuatu
tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama Ushul Fiqih dalam mempergunakan
lafal istihsan. Adapun pengertian istihsan menurut istilah, sebagaimana disebutkan
oleh Abdul Wahab Khalaf




Istihsan adalah berpindahnya seorang mujtahid dari ketentuan qiyas jali
(yang jelas) kepada ketentuan qiyas Khafi (yang samar), atau ketentuan yang kulli
(umum) kepada ketentuan yang sifatnya istisnai (pengecualian), karena menurut
pandangan mujtahid itu adalah dalil (alasan) yang lebih kuat yang menghendaki
perpindahan tersebut.
Dari pengertian tersebut jelas bahwa istihsan ada dua, yaitu sebagai berikut:
1.

Menguatkan Qiyas Khafi atas qiyas jali dengan dalil. Misalnya, menurut
ulama Hanafiyah bahwa wanita yang sedang haid boleh membaca Al-Quran
berdasarkan istihsan, tetapi haram menurut qiyas.
Qiyas: wanita yang sedang haid itu di qiyaskan kepada orang junub
dengan illat sama-sama tidak suci. Orang junub haram membaca AlQuran, maka orang yang Haid haram membaca Al-Quran.
Istihsan : haid berbeda dengan junub karena haid waktunya lama. Oleh
karena itu, wanita yang sedang haid dibolehkan membaca Al-Quran,
sebab bila tidak, maka haid yang panjang itu wanita tidak memperoleh
pahala ibadah apapun, sedang laki-laki dapat beribadah setiap saat.
2. Pengecualian sebagai hukum kulli dengan dalil. Misalnya, jual beli salam
(pesanan) berdasarkan istihsan diperbolehkan. Menurut dalil kulli, syariat
melarang jual beli yang barangnya tidak ada pada waktu akad. Alasan istihsan
ialah manusia berhajat kepada akad seperti itu dan sudah menjadi kebiasaan
mereka.
Definisi istihsan Menurut imam Abu Al Hasan al Karkhi ialah penetapan hukum

dari seorang mujtahid terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan

hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yang serupa, karena ada alasan yang
lebih kuat yang menghendaki dilakukannya penyimpanagan itu.
Definisi istihsan menurut Ibnul Araby ialah memilih meninggalkan dalil,
mengambil ruksah dengan hukum sebaliknya, karena dalil itu berlawanan dengan
dalil yang lain pada sebagian kasus tertentu.
Sementara itu, ibnu anbary, ahli fiqih dari madhab Maliky memberi definisi
istihsan bahwa istihsan adalah memilih menggunakan maslahat juziyyah yang
berlawanan dengan qiyas kully. Istihsan merupakan sumber hukum yang banyak
dalam terminology dan istinbath hukum oleh dua imam madhab, yaitu imam Malik
dan imam Abu Hanifah. Tapi pada dasarnya imam Abu Hanifah masih tetap
menggunakan dalil qiyas selama masih dipandang tepat.
Dari berbagai definisi diatas, dapat difahami bahwa pada hakikatnya istihsan itu
adalah keterkaitan dengan penerapan ketentuan hukum yang sudah jelas dasar dan
kaidahnya secara umum baik dari nash, ijma atau qiyas, tetapi ketentuan hukum yang
sudah jelas ini tidak dapat diberlakukan dan harus dirubah karena berhadapan dengan
persoalan yang khusus dan spesifik.
Dengan demikian, Istihsan pada dasarnya adalah ketika seorang mujtahid lebih
cenderung dan memilih hukum tertentu dan meninggalkan hukum yang lain
disebabkan satu hal yang dalam pandangannya lebih menguatkan hukum kedua dari
hukum yang pertama. Artinya, persoalan khusus yang seharusnya tercakup ada
ketentuan yang sudah jelas, tetapi karena tidak memungkinkan dan tidak tepat
diterapkan, maka harus berlaku ketentuan khusus sebagai pengecualian dari ketentuan
umum atau ketentuan yang sudah jelas.
Dasar Hukum Istihsan
para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Quran
dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif (lafal yang
seakar dengan istihsan) seperti Firman Allah Swt dalam surah Al-Zumar: 18

.
.
Artinya: Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di
antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka
Itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar: 18)
Ayat ini menurut mereka menegaskan bahwa pujian Allah bagi hambaNya
yang memilih dan mengikuti perkataan yang terbaik, dan pujian tentu tidak ditujukan
kecuali untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah.

Artinya: Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan


kepadamu dari Tuhanmu.(QS. Az-Zumar :55)
Menurut mereka, dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti
yang terbaik, dan perintah menunjukkan bahwa ia adalah wajib. Dan di sini tidak ada
hal lain yang memalingkan perintah ini dari hukum wajib. Maka ini menunjukkan
bahwa Istihsan adalah hujjah.
Hadits Nabi saw:

Artinya:Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia di
sisi Allah adalah baik dan apa-apa yang dipandang sesuatu yang buruk, maka disisi
Allah adalah buruk pula.
Hadits ini menunjukkan bahwa apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin
dengan akal-sehat mereka, maka ia pun demikian di sisi Allah. Ini menunjukkan
kehujjahan Istihsan.
Macam-macam Istihsan
Ulama Hanafiah membagi Istihsan kepada enam macam. Sebagaimana di
jelaskan oleh al-Syatibi, yaitu:
1.

Istihsan bil an-Nash (Istihsan berdasarkan ayat atau hadits). Yaitu


penyimpangan suatu ketentuan hukum berdasarkan ketetapan qiyas
kepada ketentuan hukum yang berlawanan dengan yang ditetapkan
berdasarkan nash al-kitab dan sunnah.

2.

Istihsan bi al-Ijma (istihsan yang didasarkan kepada ijma).yaitu


meninggalkan keharusan menggunakan qiyas pada suatu persoalan karena
ada ijma. Hal ini terjadi karena ada fatwa mujtahid atas suatu peristiwa
yang berlawanan dengan pokok atau kaidah umum yang ditetapkan, atau
para mujtahid bersikap diam dan tidak menolak apa yang dilakukan
manusia, yang sebetulnya berlawanan dengan dasar-dasar pokok yang
telah ditetapkan.

3.

Istihsan bi al-Qiyas al-Khafi (Istihsan berdasarkan qiyas yang


tersembunyi). Yaitu memalingkan suatu masalah dari ketentuan hukum
qiyas yang jelas kepada ketentuan qiyas yang samar, tetapi keberadaannya
lebih kuat dan lebih tepat untuk diamalkan.

4.

Istihsan

bi

al-maslahah (istihsan

berdasarkan

kemaslahatan).

Misalnya kebolehan dokter melihat aurat wanita dalam proses pengobatan.

Menurut kaidah umum seseorang dilarang melihat aurat orang lain. Tapi,
dalam keadaan tertentu seseorang harus membuka bajunya untuk di
diagnosa penyakitnya. Maka, untuk kemaslahatan orang itu, maka
menurut kaidah istihsan seorang dokter dibolehkan melihat aurat wanita
yang berobat kepadanya.
5.

Istihsan bi al-Urf ( Istihsan berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku


umum). Yaitu penyimpangan hukum yang berlawanan dengan ketentuan
qiyas, karena adanya Urf yang sudah dipraktikkan dan sudah dikenal
dalam kehidupan masyarakat.

6.

Istihsan bi al-Dharurah (istihsan berdasarkan dharurah). Yaitu


seorang mujtahid meninggalkan keharusan pemberlakuan qiyas atas
sesuatu masalah karena berhadapan dengan kondisi dhorurat, dan mujtahid
berpegang kepada ketentuan yang mengharuskan untuk memenuhi hajat
atau menolak terjadinya kemudharatan.

Ikhtilaf Para Ulama Tentang Istihsan


Menyikapi

penggunaan Istihsan kemudian

menjadi

masalah

yang

diperselisihkan oleh para ulama. Dan dalam hal ini, terdapat dua pandangan besar
yang berbeda dalam menyikapi Istihsan sebagai salah satu bagian metode ijtihad.
Imam Abu Hanifah sebagai seorang yang menampilkan istihsan sebagai salah satu
dalil dalam istinbath hukum, mendapat serangan dan kritikan yang hebat dari lawanlawan yang menolak istihsan. Berikut ini adalah penjelasan tentang kedua pendapat
tersebut beserta dalilnya.
a. Kelompok Yang Menerima Istihsan sebagai Dalil Hukum
Istihsan dapat digunakan sebagai bagian dari ijtihad dan hujjah. Pendapat ini
dipegangi oleh Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah. Adapun yang menjadikan alasan
bagi kelompok ini, bahwa istihsan sebagai salah satu dalil hukum syara dan
merupakan hujjah dalam istinbath hukum adalah:
1.

Berdasarkan penelitian terhadap berbagai kasus dan penetapan hukumnya


ternyata berlawanan dengan ketentuan qiyas atau ketentuan umum, dimana
kadang-kadang dalam penerapannya terhadap sebagian kasus tersebut justru
bisa menghilangkan kemaslahatan yang dibutuhkan oleh manusia, karena
kemaslahatan itu merupakan peristiwa khusus. Maka, sangat tepat jika
membuka jalan seseorang mujtahid untuk memalingkan suatu kasus yang
seharusnya berdasarkan qiyas atau ketentuan kulli kepada ketentuan hukum
yang lain agar dapat merealisir maslahat dan menolak mafsadat.

2.

Kelompok ini menggunakan dalil-dalil Al-Quran dalam mempertahankan


istihsan sebagai hujjah, yang mana ayat-ayat tersebut mengacu kepada
mengangkat kesulitan dan kesempitan dari umat manusia. Diantaranya adalah
firman Allah Swt:


Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.
Menggunakan dalil sunnah sebagai berikut:

.

Artinya: Apa saja yang dipandang baik oleh umat Islam baik juga di sisi Allah .
(HR. Ahmad Ibn Hanbal)
Menurut Madzhab Maliki, istihsan adalah salah satu metode istinbat
(menyimpulkan) hukum yang diakui diambil secara induktif (istiqroi) dari sejumlah
dalil secara keseluruhan (jumlah). Dengan demikian orang yang menggunakan
istihsan tidak berarti semata-mata mengunakan perasaannya dan keinginannya yang
subjektif, tetapi berdasarkan tujuan (maqosid) syara. Karena apabila kias yang
diamalkan

maka

tujuan

syarak

dalam

menurunkan

hukum

tidak

akan

tercapai. Misalnya, membuka aurat untuk keperluan pengobatan dalam rangka


mencari penyembuhan suatu penyakit, apabila kias yang diamalkan maka aurat tidak
boleh dibuka untuk keperluan pengobatan, maka upaya pengobatan tidak bisa
dilakukan, dan ini berarti menimbulkan kesulitan.
Selain itu Ia juga berpendapat bahwa al-istihsan adalah mengambil maslahah
yang merupakan bagian dalam dalil yang bersifat kully(menyeluruh) dengan
mengutamakan al-istidlal al-mursal daripada qiyas. Dari Tarif di atas, jelas bahwa alistihsan

lebih

mementingkan

maslahah

juziyyah

atau

maslahah

tertentu

dibandingkan dengan dalil kully atau dalil yang umum atau dalam kata lain sering
dikatakan bahwa al-istihsan adalah beralih dari satu qiyas ke qiyas yang lain yang
dianggap lebih kuat dilihat dari tujuan syariat diturunkan. Tegasnya, al-istihsan
selalu melihat dampak sesuatu ketentuan hukum, jangan sampai membawa dampak
merugikan tapi harus mendatangkan maslahah atau menghindari madarat, namun
bukan berarti istihsan adalah menetapkan hukum atas dasar rayu semata, melainkan
berpindah dari satu dalil ke dalil yang lebih kuat yang kandungannya berbeda. Dalil
kedua ini dapat berwujud ijma, urf atau al-maslahah al-mursalah.

b. Kelompok Yang Menolak Istihsan Sebagai Dalil Hukum


Istihsan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam berijtihad. Pendapat ini
dipegangi oleh Syafiiyah dan Zhahiriyah.Para pendukung pendapat ini melandaskan
pendapatnya dengan dalil-dalil berikut:
Firman Allah:


.
.
.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Ayat ini menunjukkan kewajiban merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya dalam
menyelesaikan suatu masalah, sementara Istihsan tidak termasuk dalam upaya
merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ia tidak dapat diterima.
1.

Jika seorang mujtahid dibenarkan untuk menyimpulkan hukum dengan


akalnya atas dasar Istihsan dalam masalah yang tidak memiliki dalil, maka tentu
hal yang sama boleh dilakukan oleh seorang awam yang boleh jadi lebih cerdas
dari pada sang mujtahid. Dan hal ini tidak dikatakan oleh siapapun, karena itu
seorang mujtahid tidak dibenarkan melakukan Istihsan dengan logikanya
sendiri.

2.

Istihsan adalah menetapkan hukum berdasar maslahah. Jika maslahah itu


sesuai dalam nash dibolehkan, tetapi maslahah yang dijadikan pedoman dalam
istihsan adalan maslahah menurut para ulama.

3.

Rosulullah SAW ketika menghukumi persoalan yang belum ada dalam al


Quran tidak menggunakan istihsan, melainkan menunggu turunnya wahyu.

4.

Ibn Hazm (w. 456 H) mengatakan: Para sahabat telah berijma untuk tidak
menggunakan rayu, termasuk di dalamnya Istihsan dan qiyas. Umar bin alKhathab radhiyallahu anhu mengatakan: Jauhilah para pengguna rayu!
Karena mereka adalah musuh-musuh Sunnah

Selain Imam Syafii kalangan ulama zhahiriyah juga menolak penggunaan qiyas
secara prinsip, demikian pula ulama syiah dan sebagian ulama kalam mutazilah
karena mereka tidak menerima qiyas, maka dengan sendrinya mereka pun menolak
istihsan karena kedudukan istihsan dalam posisinya sebagai dalil hukum adalah lebih
rendah dari qiyas
Selain dari kalangan ulama zhahiriyah yang sependapat dengan imam syafii
ada juga para ulama yang menolak istihsan dengan alasan yang dituntut dari kaum
muslimin untuk diikuti adalah hukum yang ditetapkan Allah atau yang ditetapkan
Rasul atau hukum yang di qiyaskan kepada hukum Allah dan hukum Rasul itu.
Sedangkan hukum yang ditetapkan berdasarkan apa yang di anggap baik oleh
mujtahid adalah hukum buatan manusia dan bukan hukum syari.
Demikianlah dua pendapat para ulama dalam menyikapi hujjiyah Istihsan dalam
Fiqih Islam beserta beberapa dalil dan argumentasi mereka masing-masing. Lalu
manakah yang paling kuat dari kedua pendapat tersebut?
Jika kita mencermati pandangan dan dalil pendapat yang pertama, kita akan
menemukan bahwa pada saat mereka menetapkan Istihsan sebagai salah satu sumber
hukum, hal itu tidak serta merta berarti mereka membebaskan akal dan logika sang
mujtahid untuk melakukannya tanpa batasan yang jelas. Setidaknya ada 2 hal yang
harus dipenuhi dalam proses Istihsan: ketiadaan nash yang sharih dalam masalah dan
adanya sandaran yang kuat atasIstihsan tersebut (sebagaimana akan dijelaskan dalam
Jenis-jenis Istihsan).
Dan jika kita kembali mencermati pandangan dan argumentasi ulama yang
menolak Istihsan, kita dapat melihat bahwa yang mendorong mereka menolaknya
adalah karena kehati-hatian dan kekhawatiran mereka jika seorang mujtahid terjebak
dalam penolakan terhadap nash dan lebih memilih hasil olahan logikanya sendiri.
Dan kekhawatiran ini telah terjawab dengan penjelasan sebelumnya, yaitu
bahwa Istihsan sendiri mempunyai batasan yang harus diikuti. Dengan kata lain, para
pendukung pendapat kedua ini sebenarnya hanya menolak Istihsan yang hanya
dilandasi oleh logika semata, tanpa dikuatkan oleh dalil yang lebih kuat.

Istishab
Pengertian Istishab
Istishab menurut etimologi berasal dari kata istishaba dalam sighat istifal(
) yang bermakna:
. Kalau kata
diartikan dengan sahabat
atau

teman

dan diartikan selalu atau terus

secara lughawi artinya selalu

menemani atau selalu

menerus,
menyertai.

maka
Atau

istishab
diartikan

dengan minta bersahabat, atau membandingkan sesuatu dan mendekatkannya,

atau pengakuan

adanya

perhubungan

atau

mencari

sesuatu

yang

ada

hubunganny .Dan disebutkan juga bahwa istishab berasal dari kata shuhbah artinya
menemani atau menyerta, dalam artian menurut kebersamaan atau terus
menerusnya bersama.sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli bahasa dengan
mengatakan:














Artinya: Segala sesuatu yang menetapi pada sesuatu, maka ia menemani atau
menyertainya.
Dari pengertian yang lain, menurut bahasa perkataan Istishab diambil dari
perkataan Istishhabtu maa kaana fil maadhi, artinya saya membawa serta apa
yang telah ada waktu yang lampau sampai sekarang.
Menurut Istilah Usul, Istishhab ialah melanjutkan berlakunya hukum yang
telah ada dan yang telah ditetapkan karena sesuatu dalil, sampai ada dalil lain yang
mengubah kedudukan hukum tersebut. Atau dengan perkataan lain; Istishhab ialah
menganggap hukum sesuatu soal yang telah ada menyertai tetap soal tersebut, sampai
ada dalil yang memutuskan adanya penyertaan tersebut.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik sebuah ikhtisar bahwa
istishab adalah:
1.

Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lampau, dinyatakan tetap
berlaku pada masa sekarang, kecuali kalau telah ada yang mengubahnya.
Contohnya adalah sebagai berikut: Seseorang yang mulanya ada wudhu,
kemudian datang was-was dalam hatinya, bahwa boleh jadi dia telah
mengeluarkan angin yang membatalkan wudhunya. Dalam kondisi begini,
hendaklah ia menetapkan hukum semula, yaitu ada wudhu. Dan was-was yang
datang belakangan itu, tidak boleh mengubah hukum yang semula.

2.

Segala hukum yang ada pada masa sekarang, tentu telah ditetapkan pada masa
yang lalu
Macam-macam Istishab
Para ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa istishab itu ada lima

macam.Yaitu:

1.

Istishab hukm al- ibahah al ashliyah. Maksudnya, menetapkan hukum


sesuatu yang bermanfaat bagi manusia adalah boleh, selama belum ada dalil
yang menunjukkan keharamannya.

2.

Istishab Al-Bara`at Al Ashliyat. Yaitu kontinuitas hukum dasar ketiadaan


berdasarkan

argumentasi

rasio

dalam

konteks

hukum-hukum

syari.

Maksudnya memberlakukan kelanjutan status ketiadaan dengan adanya


peniadaan yang dibuat oleh akal lantaran tidak adanya dalil syari yang
menjelaskannya. Dalam objektivitasnya, istishab tersebut bereferensi kepada
hukum akal dalam hukum ibadah atau baraatul ashliyah (kemurnian menurut
aslinya). Akal menetapkan bahwa dasar hukum pada segala yang diwajibkan
adalah dapat diwajibkan sesuatu, kecuali apabila datang dalil yang tegas
mewajibkannya.
3.

Istishab Al-Umumi. Istishab terhadap dalil yang bersifat umum sebelum


datangnya dalil yang mengkhususkannya dan istishab dengan nash selama
tidak ada dalil yang naskh (yang membatal-kannya). Suatu nashyang umum
mencakup segala yang dapat dicakup olehnya sehingga datang suatu nash lain
yang menghilangkan tenaga pencakupannya itu dengan jalan takhsish. Atau
sesuatu hukum yang umum, tidaklah dikecualikan sesuatupun daripadanya,
melainkan dengan ada suatu dalilyang khusus.

4.

Istishab An-Nashshi (Istishab Maqlub/Pembalikan). Yaitu istishab pada


kondisi sekarang dalam menentukan status hukum pada masa lampau, sebab
istishab pada bentuk-bentuk sebelumnya, merupakan penetatapan sesuatu pada
masa kedua berdasarkan ketetapannya pada masa pertama lantaran tidak
ditemukannya dalil secara spesifik. Urgensinya, dalam suatu dalil (nash) terusmenerus berlaku sehingga di-nasakh-kan oleh sesuatu nash, yang lain.

5.

Istishab Al-Washfi Ats-Tsabiti. Sesuatu yang telah diyakini adanya, atau


tidak adanya masa yang telah lalu, tetaplah hukum demikian sehingga diyakini
ada perubahannya. Disebut pula denganistishabul madhi bilhali yakni
menetapkan hukum yang telah lalu sampai kepada masa sekarang. Yaitu
istishab terhadap hukum yang dihasilkan dari ijma dalam kasus yang dalam
perkembangannya memicu terjadinya perselisihan pendapat.
Kedudukan Istishab Sebagai Sumber Hukum Islam
Para Ulama Ushul Fiqih berbeda pendapat tentang kehujjahan Istishab ketika

tidak ada dalil syara yang menjelaskan suatu kasus yang dihadapi.

Pertama, menurut mayoritas mutakallimin (ahli kalam), istishab tidak bisa


dijadikan dalil. Karena hukum yang ditetapkan pada masa lampau menghendaki
adanya dalil. Demikian juga untuk menetapkan hukum yang sama pada masa
sekarang dan yang akan datang. Istishab bukanlah dalil, karenanya menetapkan
hukum yang ada pada masa lampau berlangsung terus untuk masa yang akan datang,
berarti menetapkan suatu hukum tanpa dalil. Hal ini sama sekali tidak dibolehkan
dalam syara.
Kedua, menurut mayoritas ulama Hanafiah, khususnya mutaakhirin, istishab
bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan
menganggap hukum itu tetap berlaku pada masa yang akan datang, tetapi tidak bisa
menetapkan hukum yang akan ada. Alasan mereka seorang mujtahid dalam meneliti
hukum suatu masalah yang sudah ada, mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah
ada atau sudah di batalkan. Akan tetapi ia tidak mengetahui atau tidak menemukan
dalil yang menyatakan bahwa hukum itu sudah dibatalkan. Dalam kaitan ini, mujtahid
tersebut harus berpegang kepada hukum yang sudah ada, karena ia tidak mengetahui
adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun penetapan ini hanya berlaku pada
kasus yang sudah ada hukumnya dan tidak berlaku bagi kasus yang akan ditetapkan
hukumnya. Artinya, stishab hanya bisa dijadikan hujjah untuk mempertahankan
hukum yang sudah ada, selama tidak ada dalil yang membatalkan hukum itu, tetapi
tidak berlaku untuk menetapkan hak yang baru muncul.
Ketiga, ulama Malikiyah, Syafiiyyah, Hanabilah, zhahiriyah dan syiah
berpendapat bahwa istishab bisa dijadikan hujjah secara mutlak untuk menetapkan
hukum yang sudah ada, selama belum ada dalil yang mengubahnya. Alasannya
adalah, sesuatu yang telah ditetapkan pada masa lalu, selama tidak ada dalil yang
mengubahnya, baik secara qathi maupun zhanni, maka semestinya hukum yang telah
ditetapkan itu berlaku terus, karena di duga keras belum ada perubahan. Alasan yang
menunjukkan berlakunya berlakunya syariat di zaman Rasulullah Saw sampai hari
kiamat adalah menduga keras berlakunya syariat itu sampai sekarang, tanpa ada dalil
yang menasakh-kannya.
Kaidah-kaidah Istishab
Para ulama fiqih menetapkan beberapa kaidah umum yang didasarkan kepada
istishab, diantaranya adalah:

Maksudnya, pada dasarnya seluruh hukum yang sudah ada dianggap berlaku
terus sampai ditemukan dalil yang menunjukkan hukum itu tidak berlaku lagi.
Contohnya: adalah kasus orang yang hilang diatas.


Maksudnya, pada dasarnya dalam hal-hal yang sifatnya bermanfaat bagi
manusia hukumnya adalah boleh dimanfaatkan. Melalui kaidah ini, maka seluruh
akad dianggap sah, selama tidak ada dalil yang menunjukkan hukumnya batal;
sebagaimana juga pada sesuatu yang tidak ada dalil syarayang melarangnya, maka
hukumnya adalah boleh.


Maksudnya, suatu keyakinan tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu yang
diragukan. Melalui kaidah ini, maka seseorang yang telah berwudu, apabila merasa
ragu akan wudunya itu apakah telah batal atau belum, maka ia harus berpegang
kepada keyakinanya bahwa ia telah berwudu, dan wudunya tetap sah. Tetapi ulama
Malikiyah melakukan pengecualian dalam masalah shalat. Menurutnya apabila
keraguan tersebut berkaitan dengan shalat, maka kaidah ini tidak berlaku. Oleh sebab
itu, apabila seseorang ragu dalam masalah wudunya, maka ia wajib berwudu kembali.


Maksudnya, pada dasarnya seseorang tidak dibebani tanggung jawab sebelum
adanya dalil yang menetapkan tanggung jawab seseorang. Oleh sebab itu, seseorang
tergugat dalam kasus apapun tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum adanya
pembuktian yang kuat dan meyakinkan bahwa ia bersalah.

Maslahah Mursalah
Pengertian Maslahah Mursalah
Kata mashlahah memiliki dua arti, yaitu: maslahah berarti manfaat baik secara
timbangan kata yaitu sebagai masdar, maupun secara makna dan Maslahah fiil (kata
kerja) yang mengandung ash-Shalah yang bermakna an-nafu. Dengan demikian,
mashlahah jika melihat arti ini merupakan lawan kata dari mafsadah.
Menurut istilah ulama ushul ada bermacam-macam ta`rif yang diberikan di
antaranya:

Imam Ar-Razi mendefinisikan mashlahah yaitu

perbuatan yang

bermanfaat yang telah ditujukan oleh syari (Allah) kepada hamba-Nya demi
memelihara dan menjaga agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya dan harta
bendanya. Imam Al-Ghazali mendefinisikan sebagai berikut: Maslahah pada dasarnya
ialah meraih manfaat dan menolak madarat. Selanjutnya is menegaskan maksud dari
statemen di atas bahwa maksudnya adalah menjaga maqasid as-syariah yang lima,
yaitu agama, jiwa, akal, nasab, dan harta. Selanjutnya ia menegaskan, setiap perkara

yang ada salah satu unsur dari maqashid as-syariah maka ia disebut mashlahah.
Sebaliknya jika tidak ada salah satu unsur dari maqashid as-syariah, maka ia
merupakan mafsadat, sedang mencegahnya adalah mashlahah.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpuan bahwa
mashlahah mursalah merupakan suatu metode ijtihad dalam rangka menggali hukum
(istinbath) Islam, namun tidak berdasarkan pada nash tertentu, namun berdasarkan
kepada pendekatan maksud diturunkannya hukum syara (maqashid as-syariah).
Kemaslahatan yang menjadi tujuan syara bukan kemaslahatan yang semata-mata
berdasarkan keinginan dan hawa nafsu saja. Sebab tujuan pensyariatan hukum tidak
lain adalah untuk merealisasikan kemaslahatan manusia dalam segala aspek
kehidupan dunia agar terhindar dari berbagai bentuk kerusakan. Penetapan hukum
Islam melalui pendekatan masqashid asy-syariah merupakan salah satu bentuk
pendekatan dalam menetapkan hukum syara selain melalui pendekatan kebahasaan
yang sering digunakan oleh para ulama. Jika dibandingkan dengan penetapan hukum
Islam melalui pendekatan masqashid asy-syariah dengan penetapan hukum Islam
melalui pendekatan kaidah kebahasaan, maka pendekatan melalui maqashid asysyariah dapat membuat hukum Islam lebih fleksibel, luwes karena pendekatan ini
akan

menghasilkan

hukum

Islam

yang

bersifat

kontekstual.

Sedangkan

pengembangan hukum Islam melalui kaidah kebahasaan akan menghilangkan jiwa


fleksibilitas hukum Islam. Hukum Islam akan kaku (prigid) sekaligus akan
kehilangan nuansa kontekstualnya.
Syarat-syarat Maslahah Mursalah
Golongan yang mengakui kehujjahan maslahah mursalah dalam pembentukan
hukum (Islam) telah mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang dipenuhi, sehingga
maslahah tidak bercampur dengan hawa nafsu, tujuan, dan keinginan yang
merusakkan manusia dan agama. Sehingga seseorang tidak menjadikan keinginannya
sebagai ilhamnya dan menjadikan syahwatnya sebagai syari`atnya. Syarat-syarat itu
adalah sebagai berikut:
1.

Maslahah itu harus hakikat, bukan dugaan, Ahlul hilli wal aqdi dan mereka
yang mempunyai disiplin ilmu tertentu memandang bahwa pembentukan
hukum itu harus didasarkan pada maslahah hakikiyah yang dapat menarik
manfaat untuk manusia dan dapat menolak bahaya dari mereka. Maka
maslahah-maslahah yang bersifat dugaan, sebagaimana yang dipandang
sebagian orang dalam sebagian syari`at, tidaklah diperlukan, seperti dalih
mashlahah yang dikatakan dalam soal larangan bagi suami untuk menalak
isterinya, dan memberikan hak talak tersebut kepada hakim saja dalam semua

keadaan. Sesungguhnya pembentukan hukum semacam ini menurut pandangan


kami

tidak

mengandung

terdapat

maslahah.

Bahkan

hal

itu

dapat

mengakibatkan rusaknya rumah tangga dan masyarakat, hubungan suami


dengan isterinya ditegakkan di atas suatu dasar paksaan undang-undang, tetapi
bukan atas dasar keikhlasan, kasih sayang, dan cinta-mencintai.
2.

Maslahah harus bersifat umum dan menyeluruh, tidak khusus untuk orang
tertentu dan tidak khusus untuk beberapa orang dalam jumlah sedikit. ImamGhazali memberi contoh tentang maslahah yang bersifat menyeluruh ini
dengan suatu contoh: orang kafir telah membentengi diri dengan sejumlah
orang dari kaum muslimin. Apabila kaum muslimin dilarang membunuh
mereka demi memelihara kehidupan orang Islam yang membentengi mereka,
maka orang kafir akan menang, dan mereka akan memusnahkan kaum
muslimin seluruhnya. Dan apabila kaum muslimin memerangi orang islam
yang membentengi orang kafir maka tertolaklah bahaya ini dari seluruh orang
Islam yang membentengi orang kafir tersebut. Demi memlihara kemaslahatan
kaum muslimin seluruhnya dengan cara melawan atau memusnahkan musuhmusuh mereka.

3.

Maslahah itu harus sejalan dengan tujuan hukum-hukum yang dituju oleh
syari`.Maslahah tersebut harus dari jenis maslahah yang telah didatangkan oleh
Syari`. Seandainya tidak ada dalil tertentu yang mengakuinya, maka maslahah
tersebut tidak sejalan dengan apa yang telah dituju oleh Islam.
Macam-macam Maslahah Mursalah
Maslahat dari segi pembagiannya dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu

dilihat dari segi tingkatan dan eksistensinya. Dari segi tingkatan kepada tiga
bagian, yaitu:
a. Maslahah dharuriyah (Primer).
Maslahah dharuriyah adalah perkara perkara yang menjadi tempat
tegaknya kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan
manusia, timbullah fitnah, dan kehancuran yang hebat. Perkara-perkara ini dapat
dikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara pokok yang harus
dipelihara, yaitu:
1) Jaminan keselamatan jiwa (al-muhafadzah alan-nafs)
2) Jaminan keselamatan akal (al-muhafadzhoh alal-aql)
3) Jaminan keselamatan keluarga dan keturunan (al-muhafadzoh alan-nasl)

4) Jaminan keselamatan harta benda (al-muhafadzoh alal-maal)


5) Jaminan keselamatan agama/kepercayaan (al-muhafadzoh alad-diin)
Kemaslahatan dalam taraf ini mencakup lima prinsip dasar universal dari
pensyariatan atau disebut juga dengan konsep maqosidus syari. Jika hal ini tidak
terwujud maka tata kehidupan akan timpang kebahagiaan akhirat tak tercapai bahkan
siksaan akan mengancam. Oleh karena itu kelima macam maslahat ini harus
dipelihara dan dilindungi.
b. Maslahah Hajjiyah (Sekunder).
Maslahah hajjiyah ialah, semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak
terkait dengan dasar yang lain (yang ada pada maslahah dharuriyah) yang dibutuhkan
oleh masyarakat tetap juga terwujud, tetapi dapat menghindarkan kesulitan dan
menghilangkan kesempitan. Hajjiyah ini tidak rusak dan terancam, tetapi hanya
menimbulkan kepicikan dan kesempitan, dan hajjiyah ini berlaku dalam lapangan
ibadah, adat, muamalat, dan bidang jinayat. Termasuk kategori hajjiyat dalam
perkara mubah ialah diperbolehkannya sejumlah bentuk transaksi yang dibutuhkan
oleh

manusia

dalam

bermuamalah,

seperti

akad muzaroah, musaqoh,

salam

maupun murobahah. Contoh lain dalam hal ibadah ialah bolehnya berbuka

puasa bagi musafir, dan orang Termasuk dalam hal hajjiyah ini, memelihara
kemerdekaan

pribadi,

kemerdekaan

beragama.

Sebab

dengan

adanya

kemerdekaan pribadi dan kemerdekaan beragama, luaslah gerak langkah hidup


manusia. Melarang / mengharamkan

rampasan dan penodongan termasuk juga

dalam hajjiyah.
c. Maslahah tahsiniyah atau kamaliyat (Pelengkap/tersier)
Maslahah tahsiniyah ialah mempergunakan semua yang layak dan pantas yang
dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh bagian mahasinul akhlak.
Kemaslahatan ini lebih mengacu pada keindahan saja sifatnya hanya untuk kebaikan
dan kesempurnaan. Sekiranya tidak dapat diwujudkan atau dicapai oleh manusia
tidaklah sampai menyulitkan atau merusak tatanan kehidupan mereka, tetapi
ia dipandang penting dan dibutuhkan. Tahsiniyah juga masuk dalam lapanganan
ibadah, adat,

muamalah,

dan

bidang

uqubah.

Lapangan ibadah

misalnya kewajiban bersuci dari najis, menutup aurat, memakai pakaian yang baikbaik ketika akan shalat mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah,
seperti shalat sunah, puasa sunah, bersedekah dan lain-lain. Lapangan adat, seperti
menjaga adat makan, minum, memilih makanan-makanan yang baik-baik dari yang
tiak baik/bernajis. Dalam lapangan muamalah, misalnya larangan menjual benda

benda yang bernajis, tidak memberikan sesuatu

kepada orang lain melebihi

dari kebutuhannya.
Dilihat dari segi eksistensi atau wujudnya para ulama ushul, juga membagi
mashlaha menjadi tiga macam, yaitu:
a. Maslahat Mutabarah
Mashlalah mutabarah ialah kemashlahatan yang terdapat dalam nash yang
secara tegas menjelaskan dan mengakui kebenarannya. Dengan kata lain yakni
kemaslahatan yang diakui oleh syari

dan

terdapatnya

dalil

yang

jelas,

sebagaimana disebutkan oleh Muhammad al Said Ali Abd. Rabuh. Yang masuk
dalam

mashlahat

ini

adalah

semua

kemaslahatan

disebutkan oleh nash, seperti memelihara


benda, yang selanjutnya kita sebut

yang

dijelaskan

agama, jiwa, keturunan dan

dengan maqashid

asy-syariah.

dan
harta
Oleh

karena itu, Allah Swt telah menetapkan agar berusaha dengan untuk melindungi
agama, melakukan qishas bagi pembunuhan, menghukum

pemabuk

demi

pemeliharaan akal, menghukum pelaku zina dan begitu pula menghukum pelaku
pencurian. Seluruh ulama sepakat bahwa semua maslahat yang dikategorikan
maslahah mutabarah wajib ditegakkan dalam kehidupan, karena dilihat dari segi
tingkatan ia merupakan kepentingan pokok yang wajib ditegakkan.
b. Maslahat Mulgah
Yang dimaksud dengan maslahat mulghah ini ialah maslahat yang
bertentangan dengan ketentuan nash. Dengan kata lain, maslahat yang tertolak
karena ada dalil yang menunjukkan bahwa ia bertentangan dengan dalil yang jelas.
Dapat disimpulkan juga bahwa syara menyikapi maslahat ini dengan menolak
sebagai variabel penetap hukum (illat). Contoh: menyamakan pembagian warisan
antara seorang perempuan dengan saudara laki-lakinya. Penyamakan ini memang
banyak maslahatnya namun berlawanan dengan ketentuan nash. Namun penyamakan
ini dengan alasan kemaslahatan, penyelesaian kasus seperti inilah yang disebut
dengan Maslahat Mulgoh. Seperti juga kasus bentuk sanksi kafarat bagi orang
yang menggauli istrinya di siang hari pada bulan Ramadhan yang terdiri dari tiga
macam kafarat. Menurut konsep kaffarat ini dogmatik yang menghendaki adanya
kemaslahatan berupa tindakan

jera ( al-zajr) tanpa mempertimbangkan maslahat

lainnya maka tidak diragukan bahwa menurut sebagian orang ia tidak dapat
dijadikan illat hukum karena bertentangan dengan ketentuan syara. Jadi kafarat ini
harus dilakukan secara berurutan Lain halnya dengan pendapat Imam Malik ia
mengatakan boleh memilih diantara ketiga kafarat itu dengan tujuan demi
kemaslahatan yang lebih tepat.

c. Maslahah Mursalah.
Yang dimaksud dengan mashlahah mursalah ialah maslahat yang secara
eksplisit tidak ada satu dalil pun yang mengakuinya ataupun menolaknya.
Maslahat ini merupakan maslahat yang sejalan dengan tujuan syara yang dapat
dijadikan dasar pijakan dalam
manusia serta terhindar

mewujudkan kebaikan yang dihajatkan oleh

dari kemudhorotan. Karena tidak ditemukan

variabel

yang menola ataupun mengakuinya maka para ulama berselisih pendapat mengenai
kebolehannya dijadikan illat hukum. Kalangan Malikiyyah menyebutnya maslahah
mursalah, Al-Ghozali menyebutnya istishlah, para pakar ushul fiqih menyebutnya almunasib al-mursal al-mulaim, sebagian ulama menyebutnya al-istidlal al-mursal,
sementara Imam Haromain dan Ibnu Al-Samani memutlakkannya dengan istidlal
saja.
Ikhtilaf Para Ulama tentang Maslahah Mursalah
Masalah al Mursalah tidak diterima oleh sebagian umat Islam, khususnya
mayoritas penganut mazhab asy-Syafiiah sebagai dasar penetapan hukum Islam.
Dalam hal ini ada beberapa argumen yang mereka ajukan di antaranya yaitu;
Pertama, masalahat itu ada yang dibenarkan oleh syara, ada yang ditolak
olehsyara dan ada pula yang diperselisihkan. Maslahat kategori pertama dan kategori
kedua (yang dibenarkan dan yang ditolak oleh syara) tidak ada pertentangan di
kalangan umat Islam. Maslahat kategori pertama harus diterima sebagai dasar
penetapan hukum Islam, dan maslahat kategori kedua harus ditolak sebagai dasar
penetapan hukum Islam. Sedangkan maslahat kategori ketiga diperselisihkan,
sebagian menerima sebagai dasar penetapan hukum Islam, dan sebagian yang lain
menolaknya. Sesuai dengan definisi di atas, maslahat kategori ketiga inilah yang
menjadi kajian dari maslahah-mursalah atau istislah. Dengan demikian menurut
kelompok umat Islam yang tidak menerima maslahah-mursalah sebagai dasar
penetapan

hukum

Islam

berpendapat,

bahwa

memandang maslahah-

mursalah (kategori ketiga) sebagai hujjah berarti mendasarkan penetapan hukum


Islam kepada sesuatu yang meragukan.
Kedua, memandang maslahah-mursalah sebagai hujjah berarti menodai kesucian
hukum Islam karena penetapan hukum Islam tidak berdasarkan kepada nassnass tertentu, tetapi hanya mengikuti keinginan hawa nafsu belaka dengan dalih
maslahat. Dengan dalih maslahat dikhawatirkan akan banyak penetapan hukum Islam
berdasarkan kepada kepentingan hawa nafsu.

Ketiga, Bagi golongan ini, hukum Islam telah lengkap dan sempurna. Dengan
menjadikan maslahat sebagai dasar dalam menetap hukum Islam, berarti umat Islam
tidak mengakui prinsip kelengkapan dan kesempurnaan hukum Islam. Artinya hukum
Islam belum lengkap dan sempurna, masih ada yang kurang.
Keempat, memandang maslahat sebagai hujjah akan membawa dampak terjadinya
perbedaan hukum Islam terhadap masalah yang sama (disparitas) disebabkan
perbedaan kondisi dan situasi. Dengan demikian akan menafikan prinsip
universalitas, keluasan dan fleksibelitas hukum Islam.
Alasan-alasan yang dikemukakan oleh sekelompok umat Islam yang tidak
menerima maslahat (kategori ketiga) sebagai dasar menetapkan hukum Islam di atas,
dapat disanggah dengan beberapa alasan.
Pertama, dengan memandang maslahat sebagai hujjah tidak berarti mendasarkan
penetapan hukum Islam kepada sesuatu yang meragukan, sebab maslahat tersebut
ditentukan

lewat

sekian

banyak

dalil

dan

pertimbangan,

sehingga

menghasilkan zann yang kuat (sesuatu yang lemah menjadi kuat). Dalam ilmu fiqih
dikenal istilah yakfi al-amal biz-zann, beramal berdasarkan kepada zann dianggap
cukup karena semua fiqih adalah zann.Dengan demikian tidak dapat dikatakan bahwa
menjadikan

maslahat

kategori

ketiga

sebagai hujjah berarti

memilih

dua

kemungkinan tanpa dalil, karena jika dibandingkan maslahat yang dibenarkan


oleh syara dengan maslahat yang ditolak oleh syara, maka maslahat yang
dibenarkan oleh syara jauh lebih banyak jumlahnya dari pada maslahat yang ditolak
oleh syara. Dengan demikian jika ada suatu kemaslahatan, tetapi tidak ada dalil yang
membenarkannya atau menolaknya, maka maslahat tersebut harus digolongkan ke
dalam maslahat yang lebih banyak.
Kedua, tidak benar kalau penetapan hukum Islam melalui metode istislah atau
maslahah-mursalah berarti menetapkan hukum Islam berdasarkan kepada hawa
nafsu, karena untuk dapat dijadikan sebagai hujjah, maslahah-mursalahharus
memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Jadi tidak asal maslahat. Persyaratan
inilah yang akan mengendalikan, sehingga tidak terjadi penyalahgunaan dalam
menetapkan hukum (Islam) berdasarkan kepada maslahat.
Ketiga, Islam memang telah lengkap dan sempurna, tetapi yang dimaksud dengan
lengkap dan sempurna itu adalah pokok-pokok ajaran dan prinsip-prinsip hukumnya.
Jadi tidak berarti semua masalah ada hukumnya. Ini terbukti banyak sekali masalahmasalah baru yang belum disinggung hukumnya oleh al-Quran dan as-Sunnah tetapi
baru diketahui setelah digali melalui ijtihad.

Keempat, tidak benar kalau memandang maslahah-mursalah sebagai hujjahakan


menafikan prinsip universalitas, keluasan dan keluwesan (flexible) hukum Islam,
tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dengan menggunkan metodemasalahmursalah dalam menetapkan hukum, prinsip universalitas, keluasan dan keluwesan
(flexible) hukum Islam dapat dibuktikan.
Madzhab Maliki yang merupakan pembawa bendera Maslahat Mursalah
mengemukakan, setidaknya terdapat tiga alasan mengapa mashlahah

mursalah

tersebut dijadikan sebagai hujjah dalam penentuan hukum, yaitu sebagai berikut:
Pertama, Praktek para sahabat yang telah menggunakan maslahat mursalah
diantarannya: Sahabat mengumpulkan Al-Quran kedalam beberapa mushaf dengan
alasan menjaga Al-Quran dari kepunahan atau kehilangan kemutawatirannya.
Khulafa ar-rosyidun menetapkan keharusan menanggung ganti rugi kepada para
tukang.

Padahal

menurut

hukum

asal kekuasaan mereka didasarkan atas

kepercayaan (amanah). Jika tidak dibebani ganti rugi ia akan ceroboh dan tidak
memenuhi kewajibannya. Umar Bin Khattab memerintahkan para penguasa
(pegawai negeri) agar memisahkan antara harta kekayaan pribadi dengan harta yang
diperoleh dari kekuasaannya Umar Bin Khattab sengaja menumpahkan susu yang
dicampur air guna member pelajaran kepada mereka yang mencampur susu dengan
air . Para sahabat menetapkan hukuman mati kepada semua anggota kelompok
(jamaah) karena membunuh satu orang secara bersama-sama.
Kedua, Adanya maslahat sesuai dengan maqosid as-Syari (tujuan-tujuan syari)
artinya dengan mengambil maslahat berarti sama dengan merealisasikan maqosid assyari.
Ketiga, Seandainya maslahat tidak diambil

pada setiap kasus yang jelas

mengandung maslahah selama berada dalam konteks maslahat syariyyah, maka


orang-orang mukallaf akan mengalami kesulitan dan kesempitan.
Golongan

yang

mengakui

kehujjahan

maslahah

mursalah

dalam

pembentukan hukum (Islam) telah mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang


dipenuhi, sehingga maslahah tidak bercampur dengan hawa nafsu, tujuan, dan
keinginan yang merusakkan manusia dan agama. Sehingga
menjadikan keinginannya

sebagai

ilhamnya

dan

seseorang

tidak

menjadikan syahwatnya

sebagai syari`atnya. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:


Pertama, Maslahah itu harus hakikat, bukan dugaan, Ahlul hilli wal aqdi dan
mereka yang mempunyai disiplin ilmu tertentu memandang bahwa pembentukan
hukum itu harus didasarkan pada maslahah hakikiyah yang dapat menarik

manfaat untuk manusia dan dapat menolak bahaya dari mereka. Maka maslahahmaslahah yang bersifat dugaan, sebagaimana yang dipandang sebagian orang
dalam sebagian syari`at,

tidaklah diperlukan, seperti

dikatakan dalam soal larangan bagi

suami

untuk

dalih mashlahah yang


menalak

isterinya, dan

memberikan hak talak tersebut kepada hakim saja dalam semua keadaan.
Sesungguhnya pembentukan hukum semacam ini
tidak mengandung

menurut

pandangan

kami

terdapat maslahah. Bahkan hal itu dapat mengakibatkan

rusaknya rumah tangga dan masyarakat, hubungan

suami

dengan isterinya

ditegakkan di atas suatu dasar paksaan undang-undang, tetapi bukan atas dasar
keikhlasan, kasih sayang, dan cinta-mencintai.
Kedua, Maslahah harus bersifat umum dan menyeluruh, tidak khusus untuk orang
tertentu dan tidak khusus untuk beberapa orang dalam jumlah sedikit. ImamGhazali memberi contoh tentang

maslahah

yang

bersifat

menyeluruh

ini

dengan suatu contoh: orang kafir telah membentengi diri dengan sejumlah
orang dari kaum muslimin. Apabila kaum muslimin dilarang membunuh mereka
demi memelihara kehidupan orang Islam yang membentengi mereka, maka orang
kafir akan menang, dan mereka akan memusnahkan kaum muslimin seluruhnya. Dan
apabila kaum muslimin memerangi orang islam yang membentengi orang kafir
maka tertolaklah bahaya ini dari seluruh orang Islam yang membentengi orang
kafir tersebut. Demi memlihara kemaslahatan
dengan cara melawan
Ketiga,

atau

kaum

muslimin

seluruhnya

memusnahkan musuh-musuh mereka.

Maslahah itu harus

sejalan

dengan

tujuan

hukum-hukum yang

dituju oleh syari`. Maslahah tersebut harus dari jenis maslahah yang telah
didatangkan oleh Syari`. Seandainya tidak ada dalil tertentu yang mengakuinya,
maka maslahah tersebut tidak sejalan dengan apa yang telah dituju oleh Islam.
Bahkan tidak dapat disebut maslahah.

Saddu Al-Dzariah
Pengertian Saddu Al-Dzariah
Saddu Zarai berasal dari kata sadd dan zarai. Sadd artinya menutup atau
menyumbat, sedangkan zarai artinya pengantara. Pengertian zarai sebagai wasilah
dikemukakan oleh Abu Zahra dan Nasrun Harun mengartikannya sebagai jalan
kepada sesuatu atau sesuatu yang membawa kepada sesuatu yang dilarang dan
mengandung kemudaratan. Sedangkan Ibnu Taimiyyah memaknai zarai sebagai
perbuatan yang zahirnya boleh tetapi menjadi perantara kepada perbuatan yang

diharamkan. Dalam konteks metodologi pemikirran hukum Islam, maka saddu zarai
dapat diartikan sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh darri seorang mujtahid
untuk menetapkan hukum dengan melihat akibat hukum yang ditimbulkan yaitu
dengan menghambat sesuatu yang menjadi perantara pada kerusakan.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa Dzariah adalah washilah (jalan) yang
menyampaikan kepada tujuan baik yang halal ataupun yang haram. Maka jalan/ cara
yang menyampaikan kepada yang haram hukumnyapun haram, jalan / cara yang
menyampaiakan kepada yang halal hukumnyapun halal serta jalan / cara yang
menyampaikan kepada sesuatu yang wajib maka hukumnyapun wajib. Sebagian
ulama mengkhususkan pengetian Dzariah dengan sesuatu yang membawa pada
perbuatan yang dilarang dan mengandung kemudaratan, tetapi pendapat tersebut
ditentang oleh para ulama ushul lainnya, diantaranya Ibnul qayyim Aj-Jauziyah yang
menyatakan bahwa Dzariah tidak hanya menyangkut sesuatu yang dilarang tetapi
ada juga yang dianjurkan. Secara lughawi (bahasa), al-Dzariah itu berarti: jalan yang
membawa kepada sesuatu baik ataupun buruk. Arti yang lughawi ini mengandung
konotasi yang netral tanpa memberikan penilaian kepada hasil perbuatan, pengetian
inilah yang diangkat oleh Ibnul Qayyim kedalam rumusan definisi tentang dzariah
yaitu: apa-apa yang menjadi perantara dan jalan kepada sesuatu. Pendapat ibnu
qayyim didukung oleh Wahbah Suhaili. Sedangkan Badran memberikan definisi yang
tidak netral terhadap Dzariah, ia mengatakan Dzariah adalah bahwa apa yang
menyampaikan kepada sesuatu yang terlarang dan mengandung kerusakan sedangkan
saddu atinya menutup, jadi saddu Dzariah berarti menutup jalan terjadinya
kerusakan.
Dalam hukum takhlifi diuraikan tentang sesuatu yang mendahului perbuatan
wajib, yang disebut muqaddimah wajib. Karena muqaddimah merupakan washilah
(perantara) kepada suatu yang dikenai hukum, maka ia juga disebut dzariah. Oleh
karena itu para penulis dan ulama ushul fiqh memasukkan muqaddimah wajib
kedalam pembahasan tentang dzariah, karena sama-sama sebagai perantara untuk
melakukan sesuatu.
Badran dan zuhaili membedakan antara muqaddimah wajib dengan dzariah,
perbedaannya terletak pada ketergantungan perbuatan pokok yang dituju dengan
perantara atau washilah. Pada dzariah, hukum perbuatan pokok tidak tergantung
pada perantara. Contohnya adalah zina, khalwat adalah perantara dalam melakukan
zina, tetapi zina bisa terjadi tanpa adanya khalwatpun zina bisa terjadi, karena itu
khalwat sebagai perantara disini disebut Dzariah. Muqaddimah adalah hukum
perbuatan pokok tergantung pada perantara, contohnya Shalat. Wudhu merupakan

perantara shalat dan kesahan shalat itu tergantung pada pelaksanaan wudhu
karenanya wudhu disebut Muqaddimah bukan Dzariah menurut badran dan Zuhaili.
Ada juga yang membedakan antara Dzariah dan Muqaddimah itu tergantung pada
baik dan buruknya perbuatan pokok yang dituju. Bila perbuatan pokok yang dituju
merupakan

perbuatan

pokok

yang

dianjurkan,

maka

washilahnya

disebut

Muqaddimah, sedangkan bila perbuatan pokok yang dituju merupakan larangan maka
washilahnya adalah Dzariah karena manusia harus menjauhi perbuatan yang dilarang
termasuk washilahnya. Maka pembahasan disini adalah usaha untuk menjauhi
washilah agar terhindar dari perbuatan pokok yang dilarang. Sedangkan menurut
enssiklopedi hukum islam, dalam ilmu ushul fiqh, dikenal dua istilah yang berkaitan
dengan dzariah, yaitu saddus zariah dan fath az-zaiah.
Ibnul Qayyim dan Imam Al-Qarafi menyatakan bahwa Dzariah itu ada
kalanya dilarang yang disebut Saddus Dzariah, dan ada kalanya dianjurkan bahkan
diwajibkan yang disebut fath ad-dzariah. Seperti meninggalkan segala aktivitas
untuk melaksanakan shalat jumat yang hukumnya wajib. Tetapi Wahbah Al-Juhaili
berbeda pendapat dengan Ibnul qayyim. Dia menyatakan bahwa meninggalkan
kegiatan tersebut tidak termasuk kedalam dzariah tetapi dikategorikan sebagai
muqaddimah (pendahuluan) dari suatu perbuatan.
Para ulama telah sepakat tentang adanya hukum pendahuluan, tetapi mereka
tidak sepakat dalam menerimanya sebagai Dzariah. Ulama hanafiyah dan hanabilah
dapat menerima sebagai fath Az-Dzariah, sedangkan ulama Syafiiyah, Hanafiyyah
dan sebagian Malikiyyah menyebutnya sebagai Muqaddimah, tidak termasuk sebagai
kaidah dzariah. Namun mereka sepakat bahwa hal itu bisa dijadikan sebagai
hujjah. Walaupun Golongan Zhahiriyyah tidak mengakui kehujjahan sadduz dzariah
sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara. Hal itu sesuai dengan
prinsip mereka yang hanya menggunakan nash secara harfiyah saja dan tidak
menerima campur tangan logika dalam masalah hukum.
Kesimpulannya adalah bahwa Dzaiah merupakan washilah (jalan) yang
menyampaikan kepada tujuan baik yang halal ataupun yang haram. Maka jalan/ cara
yang menyampaikan kepada yang haram hukumnyapun haram, jalan / cara yang
menyampaiakan kepada yang halal hukumnyapun halal serta jalan / cara yang
menyampaikan kepada sesuatu yang wajib maka hukumnyapun wajib.
Kedudukan Saddu Dzariah
Meskipun hampir semua ulama dan penulis ushul fiqh menyinggung tentang
saddu al-dzariah, namun amat sedikit yang membahasnya dalam pembahasan khusus

secara!tersendiri. Ada yang menempatkan bahasannya dalam deretan dalil-dalil syara


yang tidak disepakati oleh ulama. Ibnu Hazm yang menolak untuk berhujjah dengan
Saddus Dzariah menyatakan: Segolongan orang mengharamkan beberapa perkara
dengan jalan ikhtiyath dan karena khawatir menjadi wasilah kepada yang benar-benar
haram. Ditempatkannya al-dzariah sebagai salah satu dalil dalam menetapkan
hukum meskipun diperselisihkan penggunaannya, mengandung arti bahwa karena
washilah sebagai perbuatan pendahuluan maka ini menjadi petunjuk atau dalil bahwa
washilah itu sebagaimana hukum yang ditetapkan syara tehadap perbuatan
pokoknya.
Masalah ini menjadi perhatian para ulama karena banyaknya ayat-ayat AlQuran yang mengisyaratkan kearah itu, umpamanya:
1. Surat Al-Anam ayat 108 yang artinya: Janganlah kamu caci orang yang
menyembah selain Allah, karena nanti ia akan memushi tanpa pengetahuan.
Sebenarnya mencaci dan menghina penyembah selain Allah itu boleh-boleh
saja, bahkan jika perlu boleh memeranginya, namun karena perbuatan mencaci dan
menghina itu akan menyebabkan penyembah selain Allah itu akan mencaci Allah,
maka perbuatan mencaci dan menghinanya menjadi dilarang.
2. Surat al-Nur ayat 31 yang artinya: Janganlah perempuan itu menghentakkan
kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi didalamnya.
Sebenarnya menghentakkan kaki itu bagi perempuan boleh saja, tapi kaena
menyebabkan

perhiasannya

yang

tersembunyi

doketahui

orang

sehingga

menimbulkan angsangan bagi yang mendengarnya, maka menghentakkan kaki bagi


perempuan itu menjadi terlarang.
Dari dua contoh ayat diatas terlihat adanya larangan bagi perbuatan yang
dapat menyebabkan sesuatu yang terlarang, meskipun pada dasarnya perbuatan itu
boleh hukumnya.
Dari ayat yang sudah dibahas diatas juga dapat diketahui bahwa Saddu
Dzari,ah mempunyai dasar dari al-Qur,an, sedangkan dasar-dasar saddus zariah dari
sunnah adalah:
1. Nabi melarang membunuh orang munafik, karena membunuh orang munafik
bisa menyebabkan nabi dituduh membunuh sahabatnya.
2. Nabi melarang kreditor untuk menerima hadiah dari debitor karena cara
demikian bisa mengarah kepada riba, atau untuk ikhtiyat.

3. Nabi melarang memotong tangan pencuri pada waktu perang dan


ditangguhkan sampai selesai perang, karena dikhawatikan tentara-tentara lari
bergabung bersama musuh.
4. Nabi

melarang

melakukan

penimbunan

karena

penimbunan

bisa

mengakibatkan kesulitan manusia.


5. Nabi melarang fakir miskin dari bani hasyim menerima bagian dari zakat agar
tidak menimbulkan fitnah bahwa nabi memperkaya diri dan keluarganya dari
zakat.
Syarat-syarat Saddu Zariah
Untuk menetapkan hukum jalan (sarana) yang mengharamkan kepada tujuan,
perlu diperhatikan:
1. Tujuan. Jika tujuannya dilarang, maka jalannyapun dilarang dan jika
tujuannya wajib, maka jalannyapun diwajibkan.
2. Niat (Motif). Jika niatnya untuk mencapai yang halal, maka hukum sarananya
halal, dan jika niat yang ingin dicapai haram, maka sarananyapun haram.
3. Akibat dari suatu perbuatan. Jika akibat suatu perbuatan menghasilkan
kemaslahatan seperti yang diajarkan syariah, maka wasilah hukumnya boleh
dikerjakan, dan sebaliknya jika akibat perbuatan adalah kerusakan, walaupun
tujuannya demi kebaikan, maka hukumnya tidak boleh.
Dalam hal ini dasar pemikiran hukumnya bagi ulama adalah bahwa setiap
perbuatan mengandung dua sisi:
1. Sisi yang mendorong untuk berbuat.
2. Sasaran atau tujuan yang menjadi natijah (Kesimpulan/Akibat) dari perbuatan itu.
Menurut natijahnya, perbuatan itu ada 2 bentuk:

Natijahnya baik, maka segala sesuatu yang mengarah kepadanya adalah baik
dan oleh karenanya dituntut untuk mengerjakannya.

Natijahnya buruk, maka segala sesuatu yang mendorong kepadanya adalah


juga buruk, dan karenannya dilarang.
Macam-macam Saddu Dzariah
Dzariah dapat dikelompokkan dengan melihat beberapa segi:

1. Dari segi akibat (dampak) yang ditimbulkannya, Ibnu Qayyim membagi dzariah
menjadi 4 yaitu:

a. Dzariah yang pada dasarnya membawa kepada kerusakan. Contohnya,


minuman yang memabukkan akan merusak akal dan perbuatan zina akan
merusak keturunan.
b. Dzariah yang ditentukan untuk sesuatu yang mubah (boleh), namun ditujukan
untuk pebuatan buruk yang merusak baik yang disengaja seperti nikah
muhallil, atau tidak disengaja seperti mencaci sesembahan agama lain.
c. Dzariah yang semula ditentukan mubah, tidak ditujukan untuk kerusakan,
namun biasanya sampai juga kepada kerusakan dan kerusakan itu lebih besar
daripada kebaikannya. Seperti berhiasnya seorang istri yang baru ditinggal
mati oleh suaminya, sedangkan dia dalam masa iddah.
d. Dzariah yang semula ditentukan mubah, namun terkadang membawa kepada
kerusakan tetapi kerusakannya lebih kecil daripada kebaikannya. Contoh
dalam hal ini adalah melihat wajah perempuan saat dipinang.
2. Dari segi tingkat kerusakan yang ditimbulkannya, Abu Ishak al-Syatibi membagi
dzariah menjadi 4 macam:
a. Dzariah yang membawa kerusakan secara pasti. Umpamanya menggali
lobang ditanah sendiri yang lokasinya didekat pintu rumah orang lain diwaktu
gelap.
b. Dzariah yang kemungkinan besar mengakibatkan kerusakan. Umpamanya
menjual anggur kepada pabrik minuman dan menjual pisau tajam kepada
penjahat yang sedang mencari musuhnya.
c. Perbuatan yang boleh dilakukan karena jarang mengandung kemafsadatan.
d. Perbuatan yang pada dasarnya mubah karena mengandung kemaslahatan,
tetapi dilihat dari pelaksanaannya ada kemungkinan membawa kepada sesuatu
yang dilarang. Misalnya semacam jual-beli yang dilakukan untuk mengelak
dari riba.
Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Saddu Zariah
Menurut wahbah azzuhaili, para ulama sepakat tentang dilarangnya perbuatan
ini, karena cara seperti ini merupakan praktik-praktik riba yang berusaha dijadikan
helah oleh para pelakunya. Bahkan kalangan malikiyah dan hambaliyah jual beli ini
dilarang karena masalah dilarang atau tidaknya suatu perbuatan tidak hanya diukur
pada bentuk formal dari suatu perbuatan, tetapi juga dilihat kepada akibat dari

perbuatan itu. Hal ini terkait dengan moral di tengah masyarakat, sehingga penetapan
hukum yang berprinsip saddu al-zariah merupakan antisipasi tehadap berbagai
kegiatan yang bersifat amoral di masyarakat karena dalam prinsip saddu al-zariah
tidak

hanya

terpaku

pada

hukum

dasar

suatu

pebuatan,

tetapi

juga

mempertimbangkan moti-motif yang melatar belakangi perbuatan serta akibat yang


akan ditimbulkannya. Sedangkan menurut hanafiyah jual beli seperti itu fasid (rusak)
bukan karena atas dasa saddus zariah, tetapi atas dasar bahwa pihak penjual tidak sah
membeli barang itu kembali sebelum pihak pembeli melunasi barang tersebut.
Menurut kalangan syafiiyah berpendapat bahwa jual beli seperti itu
hukumnya sah, selama syarat dan rukunnya telah dipenuhi, adanya kemungkinan
tujuan tersembunyi dibalik yang lahiriyah dari kedua belah pihak, karena tidak dapat
dipastikan, tidak berpengaruh pada sahnya akad jual beli.
Perbedaan sisi pandang ini menimbulkan perbedaan tentang penerimaan dalil
saddu zarai. Malikiyah mengukur sah / tidaknya suatu perbuatan dengan
mempetimbangkan niat, tujuan dan akibat dari perbuatan itu sendiri. Sementara
hanafiyah dan syafiiyah hanya memandang akadnya, jika sesuai dengan rukun dan
syarat maka itu sah, sedangkan niat tersembunyi dikembalikan kepada Allah.
Kerancauan mengenai batasan maslahat dan mudarat menimbulkan berbagai
pendapat mengenai kedudukan saddu zarai yaitu bisa diterima dengan memenuhi
dua prinsip:
1. Zarai digunakan bila mengakibatkan kerusakan yang ditetapkan nas/hal-hal
yang ada nasnya.
2. Perkara yang berhubungan dengan amanat dalam hukum syara, bukan
berrarti tidak memeperhitungkan kemungkinan terjadinya khianat, karena bisa
jadi bahaya menutup zarai bermudarat lebih besar dari bahaya yang dapat
dihindarkan melalui meninggalkan zarai.
Dalam masyarakat yang majemuk, banyak hal yang bisa dikaji dengan konsep
saddu al-zariah sebagai antisipasi terhadap kemafsadatan yang akan ditimbulkan
oleh suatu pebuatan. Contoh lain dari jenis zariah yaitu acara muhasabah bersama
yang diadakan oleh lembaga atau yayasan, baik muhasabah akhir tahun,
maupun acara-acara Muhasabah insidentil. Dewan Syariah Yayasan Alkhairat mengatakan bahwa acara-acara muhasabah seperti

itu adalah

bid'ah. Pada dasarnya Muhasabah artinya evaluasi atas prilaku dan


tindak tanduk kita dengan tujuan kita dapat menyesali dosa-dosa yang
telah kita lakukan, beristighfar dan bertobat serta bertekad tidak
akan melakukan lagi. Muhasabah dianjurkan oleh Al-Quran dalam banyak

ayat dan hadits. Dan boleh dilakukan baik secara sendiri-sendiri


atau secara bersama (berjamaah).
Dasar

yang

menjadi

masalah

adalah

bila

muhasabah

yang

dilakukan secara berjamaah itu secara proses waktu menjadi sebuah


bentuk ibadah ritual baru dengan syarat, aturan, ketentuan dan rukun
yang baku. Meski maksud dan tujuannya baik dan bahkan tidak ada mata
acara yang bertentangan dengan syariah, tapi sebagai paket ritual,
menjadi hal yang ditakutkan akan menimbulkan salah paham di kemudian
hari. Orang akan beranggapan bahwa itu adalah sebuah bentuk ibadah
mahdhah tersendiri.
Dalam hal ini, ada ketentuan Saddus Zari`ah, yaitu mencegah
hal-hal yang dikhawatirkan menimbulkan keburukan dan dikhawatirkan
menjadi ketetapan tradisi dan menjadi ibadah yang bid`ah. Sebenarnya
fenomena ramainya peserta muhasabah dan menjamurnya acara tersebut
sangat menggembirakan apalagi digelar pada momentum malam tahun baru
yang umunya digunakan untuk hura-hura. Sangat kontras dengan acara
ini

dimana

pada

malam

yang

sama

puluhan

bahkan

ratusan

masjid

dijejali oleh kawula muda yang khusyu` mendengarkan siraman rohani


dan menangis mendengarkan imam membacakan ayat-ayat Quran yang suci.
Sebuah pemandangan yang langka.
Dalam

batas

tertentu

itu

memang

menggembirakan.

Namun

para

ulama sudah berpikir panjang dan melihat ke depan dengan menggunakan


saddus zari`ah. Maka ketika kemudian gejala ini dirasakan semakin
meluas sementara tidak ada jaminan bahwa generasi berikutnya benarbenar

memahami

keharusan
seperti
tahun

konteks

sosial,

itu
baru

tidak
dan

di

atas,

ditetapkanlah
perlu

bahwa

diteruskan,

sejenisnya,

maka

sebelum

acara

apalagi

menjadi

sebuah

muhasabah

berjamaah

menggunakan

momentum

karena mencegah yang mungkar itu lebih

didahulukan dari mencari keutamaan.


Menurut Imam Asy-Syatibi, ada kriteria yang menjadikan suatu perbuatan itu
dilarang, yaitu:
1. Perbuatan yang sebenarnya hukumnya boleh tetapi mengandung kerusakan.
2. Kemafsadatan lebih kuat dari pada kemaslahatan.
3. Perbuatan yang dibolehkan syara mengandung lebih banyak unsur
kemafsadatannya.

Urf
Pengertian Urf
Kata urf secara etimologi yaitu, sesuatu yang di pandang baik dan diterima
oleh akal sehat. Adapun dari segi terminologi kata urf mengandung makna:






,






.

sesuatu yang menjadi kebiasaan manusia, dan mereka mengikutinya dalam bentuk
setiap perbuatan yang populer diantara mereka, ataupun suatu kata yang biasa
mereka kenal dengan pengertian tertentu, bukan dalam pengertian etimologi, dan
ketika mendengar kata itu, mereka tidak memahaminya dalam pengertian lain.
Kata urf dalam pengertian terminologi sama dengan istilah al adah
(kebiasaan), yaitu:






sesuatu yang telah mantap di dalam jiwa dari segi dapatnya diterima oleh akal
yang sehat dan watak yang benar.
Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidah, istilah urf berarti ialah sesuatu yang
telah dikenali oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik
berupa perkayaan, perbuatan atau pantangan-pantangan dan juga bisa disebut dengan
adat. Menurut istilah ahli syara, tidak ada perbedaan antara urf dan adat (adat
kebiasaan). Namun dalam pemahaman biasa diartikan bahwa pengertian urf lebih
umum dibanding dengan pengertian adat karena adat disamping telah dikenal oleh
masyarakat, juga telah biasa dikerjakan dikalangan mereka, seakan-akan telah
merupakan hukun tertulis, sehingga ada sangsi-sangsi terhadap orang yang
melanggarnya.
Macam-macam Urf
Urf atau adat itu ada dua macam, yaitu adat yang benar dan adat yang rusak.
Adat yang benar adalah kebiasaan yang dilakukan manusia, tidak bertentangan
dengan dalil syara, tidak menghalalkan yang haram dan tidak membatalkan
kewajiban. Sedangkan adat yang rusak adalah kebiasaan yang dilakukan oleh
manusia tetapi bertentangan dengan syara, menghalalkan yang haram atau
membatalkan kewajiban.
Penggolongan macam-macam adat atau urf itu juga dapat dilihat dari beberapa segi:

1. Ditinjau dari segi materi yang biasa dilakukan. Dari segi ini urf ada dua macam:
a. Urf qauli, yaitu kebiasaan yang berlaku dalam penggunaan kata-kata atau
ucapan. Contohnya, kataWaladun secara etimologi artinya anak yang
digunakan untuk anak laki-laki atau perempuan. Berlakunya kata tersebut
untuk perempuan karena tidak ditemukannya kata ini khusus untuk
perempuan dengan tanda perempuan (Muannats). Penggunaan kataWalad itu
untuk anak laki-laki dan perempuan, (mengenahi waris atau harta pusaka)
berlaku juga dalam al-Quran, seperti dalam surat an-Nisa (4): 11-12. Seluruh
kata walad dalam kedua ayat tersebut yang disebutkan secara berulang kali,
berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan.
b. Urf fili, yaitu kebiasaan yang berlaku dalam perbuatan. Umpamanya; (1)
jual beli barang-barang yang enteng (murah dan tidak begitu bernilai)
transaksi antara penjual dan pembeli cukup hanya menunjukkan barang serta
serah terima barang dan uang tanpa ucapan transaksi (akad) apa-apa. Hal ini
tidak menyalahi aturan akad dalam jual beli. (2) kebiasaan saling mengambil
rokok di antara sesama teman tanpa adanya ucapan meminta dan memberi,
tidak dianggap mencuri.
2. Dari segi ruang lingkup penggunaannya
a. Adat atau urf umum, yaitu kebiasaan yang telah umum berlaku di manamana, hampir di seluruh penjuru dunia, tanpa memandang negara, bangsa dan
agama. Umpamanya: menganggukkan kepala tanda menyetujui dan
menggelengkan kepala tanda menolak atau meniadakan. Kalau ada orang
berbuat kebalikan dari itu, maka dianggap aneh atau ganjil.
b. Adat atau urf khusus, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok orang
tertentu atau pada waktu tertentu; tidak berlaku di semua tempat dan
sembarang waktu.
3. Dari segi penilaian baik dan buruk:
a. Adat yang shahih, yaitu adat yang berulang ulang dilakukan, diterima oleh
orang banyak, tidak bertentangan dengan agama, sopan santun dan budaya
yang luhur.
b. Adat yang fasid, yaitu adat yang berlaku di suatu tempat meskipun merata
pelaksanaannya, namun bertentangan dengan agama, undang-undang negara
daan sopan santun.
Kedudukan Urf sebagai dalil Syara
Para ulama sepakat bahwa urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama
tidak bertentangan dengan Syara. Ulama Malikiyyah terkenal dengan pernyataan
mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama
Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.
Imam Syafii terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian
tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di
Makkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini

menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan urf. Tentu saja urf fasid
tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.
Adapun kehujjahan urf sebagai dalil syara didasarkan atas argumen-argumen
berikut ini:
a.

Firman Allah pada surah al-Araf ayat 199

Artinya:Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maruf,


serta berpalinglah dari pada orang-orang bodoh.
Melalui ayat di atas Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan
yang maruf. Sedangkan yang disebut sebagai maruf itu sendiri ialah, yang dinilai
oleh kaum muslimin sebagai kebaikan, dikerjakan berulang-ulang, dan tidak
bertentangan dengan watak manusia yang benar, yang dibimbing oleh prinsip-prinsip
umum ajaran Islam.
b.

Ucapan sahabat Rasulullah SAW; Abdullah bin Masud:










Artinya:Sesuatu yang dinilai baik oleh kaum muslimin adalah baik di sisi Allah, dan
sesuatu yang mereka nilai buruk maka ia buruk di sisi Allah.
Ungkapan Abdullah bin Masud di atas, baik dari segi redaksi maupun maksudnya,
menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku di dalam masyarakat
muslim yang sejalan dengan tuntunan umum syariat Islam adalah juga merupakan
sesuatu yang baik di sisi Allah. Sebaliknya, hal-hal yang bertentangan dengan
kebiasaan-kebiasaan yang dinilai baik oleh masyarakat, akan melahirkan kesulitan
dan kesempitan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dalam pada itu, Allah
berfirman pada surat al-Maidah ayat 6:

Artinya:Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan


kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Adat yang benar, wajib diperhatikan dalam pembentukan hukum Syara dan
putusan perkara. Seorang mujtahid harus memperhatikan hal ini dalam pembentukan
hukumnya dan bagi hakim juga harus memperhatikan hal itu dalam setiap
putusannya. Karena apa yang sudah diketahui dan dibiasakan oleh manusia adalah
menjadi kebutuhan mereka, disepakati dan ada kemaslahatannya.
Adapun adat yang rusak, maka tidak boleh diperhatikan, karena memperhatikan
adat yang rusak berarti menentang dalil Syara atau membatalkan hukum Syara.

Hukum yang didasarkan pada adat akan berubah seiring perubahan waktu dan
tempat, karena masalah baru bisa berubah sebab perubahan masalah asal. Oleh karena
itu, dalam hal perbedaan pendapat ini para ulama fikih berkata: Perbedaan itu
adalah pada waktu dan masa, bukan pada dalil dan alasan.
Syarat-syarat Urf
Tidak semua urf bisa dijadikan sandaran hukum. Akan tetapi, harus memenuhi
beberapa syarat, yaitu:
1. Urf itu berlaku umum. Artinya, urf itu dipahami oleh semua lapisan
masyarakat, baik di semua daerah maupun pada daerah tertentu. Oleh karena itu,
kalau hanya merupakan urf orang-orang tententu saja, tidak bisa dijadikan
sebagai sebuah sandaran hukum.
2. Tidak bertentangan dengan nash Syari, yaitu Urf yang selaras dengan
nash Syari. Urf ini harus dikerjakan, namun bukan karena dia itu urf, akan
tetapi karena dalil tersebut.
Allah SWTberfirman:








Artinya:Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal
menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk
menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu
sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin,
kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada
mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan
baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan
(anak itu) untuknya.(QS. Ath-Thalaq [65]:6)
3. Urf itu sudah berlaku sejak lama, bukan sebuah urf baru yang barusan terjadi.
4. Tidak berbenturan dengan tashrih. Jika sebuah urf berbenturan dengan tashrih
(ketegasan seseorang dalam sebuah masalah), maka urf itu tidak berlaku.
5. Urf tidak berlaku atas sesuatu yang telah disepakati
Hal ini sangatlah penting karena bila ada urf yang bertentangan dengan apa yang
telah disepakati oleh para ulama (dalam hal ini Ijma) maka urf menjadi tidak
berlaku, terlebih bila urfnya bertentangan dengan dalil Syari.

Kaidah-kaidah Urf
Di terimanya urf sebagai landasan pembentukan hukum memberi peluang
lebih luas bagi dinamisasi hukum islam. Sebab, di samping banyak masalah-masalah
yang tidak tertampung oleh metode-metode lainnya seperti qiyas, istihsan, dan
maslahah mursalah yang dapat di tampung oleh adat istiadat ini, juga ada kaidah yang
menyebutkan bahwa hukum yang pada mulanya di bentuk oleh mujtahid berdasarkan
urf, akan berubah bilamana urf itu berubah.
Inilah yang di maksud oleh para ulama, antara lain ibnu al-Qoyyim alJauziyah (w. 751 H) bahwa tidak diingkari adanya perubahan hukum dengan adanya
perubahan waktu dan tempat, maksud ungkapan ini adalah bahwa hukum-hukum
fikih yang tadinya dibentuk berdasarkan adat istiadat yang baik, hukum itu akan akan
berubah bilamana adat istiadat itu berubah.
Ada beberapa kaidah fikhiyyah yang berhubungan dengan urf, diantaranya adalah:
1.
2.

Adat itu adalah hukum

Apa yang telah ditetapkan oleh syara secara umum tidak ada ketentuan yang rinci
di dalamnya dan juga tidak ada dalam bahasa, maka ia dikembalikan pada urf.
Abdul Hamid Hakim mendasarkan dua kaidah atas ayat 199 surat Al-Araf:






Suruhlah orang mengerjakan yang maruf serta berpalinglah dari orang bodoh.
3.

Tidak diingkari bahwa perubahan hukum disebabkan oleh perubahan zaman dan
tempat.


4.

Yang baik itu jadi urf seperti yang disyaratkan jadi syarat

5.

Yang ditetapkan melalui urf seperti yang ditetapkan melalui nash


Tapi perlu diperhatikan bahwa hukum disini bukanlah seperti hukum yang
ditetapkan melalui al-Quran dan Sunnah akan tetapi hukum yang ditetapkan melalui
urf itu sendiri.

BAB III
Penutup

Istihsan adalah mengambil maslahah yang merupakan bagian dalam dalil yang
bersifat kully(menyeluruh) dengan mengutamakan al-istidlal al-mursal daripada
qiyas. Dari Tarif di atas, jelas bahwa al-istihsan lebih mementingkan maslahah
juziyyah atau maslahah tertentu dibandingkan dengan dalil kully atau dalil yang
umum atau dalam kata lain sering dikatakan bahwa al-istihsan adalah beralih dari satu
qiyas ke qiyas yang lain yang dianggap lebih kuat dilihat dari tujuan syariat
diturunkan. Tegasnya, al-istihsan selalu melihat dampak sesuatu ketentuan hukum,
jangan sampai membawa dampak merugikan tapi harus mendatangkan maslahah atau
menghindari madarat, namun bukan berarti istihsan adalah menetapkan hukum atas
dasar rayu semata, melainkan berpindah dari satu dalil ke dalil yang lebih kuat yang
kandungannya berbeda. Dalil kedua ini dapat berwujud ijma, urf atau maslahah
mursalah
kembali mencermati pandangan dan argumentasi ulama yang menolak
istihsn, kita dapat melihat bahwa yang mendorong mereka menolaknya adalah
karena kehati-hatian dan kekhawatiran mereka jika seorang mujtahid terjebak dalam
penolakan terhadap nash dan lebih memilih hasil olahan logikanya sendiri. Dan
kekhawatiran

ini

telah

terjawab

dengan

penjelasan

sebelumnya,

yaitu

bahwa istihsn sendiri mempunyai batasan yang harus diikuti. Dengan kata lain, para
pendukung pendapat kedua ini sebenarnya hanya menolak istihsn yang hanya
dilandasi oleh logika semata, tanpa dikuatkan oleh dalil yang lebih kuat

Berbagai pendefinisian yang disebutkan di kalangan para ahli dan beberapa


pendapat yang terjadi di kalangan para ulama terhadap istishab, kontradiksi terhadap
polemik kehujjaannya atas paradigma dalil hukumnya maka istishab itu tetap
memberlakukan ketetapan hukum yang telah ditetapkan sesuatu yang telah ada sejak
awal, sampai ditemukan adanya ketetapan hukum lain yang merubahnya, sebab
istishab merupakan jalan keluar terakhir dalam berfatwa, sebab seseorang mufti jika
ditanya tentang sesuatu khusus yang sedang terjadi maka ia diharuskan untuk
memberikan putusan dengan menggunakan al-Quran, lalu al-Hadist, ijma dan qiyas.
Dalil hukum istishab dalam kedudukan yang urgen adalah menuju pengcapaian yang
baik. Sehingga nilai-nilai istishab itu sendiri dimanifestasikan sesuai dengan
kebutuhan umat manusia dalam menegakkan syariat dalam kode pengejawantahan
ilmu agama dan muslim sempurna. Menerima maslahat sebagai hujjah haruslah
melalui persyaratan tertentu, minimalnya tidak bertentangan dengan al-Quran, asSunnah dan ijma, harus mengandung kemaslahatan, dan kemaslahatan itu sejalan
dengan tujuan penetapan hukum Islam yaitu; dalam rangka memilihara agama, akal,
jiwa, harta dan keturunan atau kehormatan. Sedangkan ruang lingkup operasionalnya
hanya di bidang muamalah dan sejenisnya, tidak berlaku di bidang ibadah.Para ulama
juga telah membagi maslahah dari beberapa segi diantaranya: dari segi kualitas dan
kepentingan kemaslahatan, dari segi kandungan maslahah, dari segi berubah atau
tidaknya maslahah, dan dari segi keberadaan maslahah.
Jadi, sebenarnya akar perbedaan pendapat mengenai maslahah muraslah
sebagai hujjah syariyah terletak pada sisi pandangan mereka terhadap maslahah
mursalah. Golongan yang dimotori Imam Malik serta Imam Ahmad Bin Hambal
berpendapat bahwa maslahat yang mereka pakai berpijak pada syarat-syarat yang
dibenarkan oleh syara bukan berdasarkan hawa nafsu atau menyimpang dari
kebenaran sebagaimana pandangan kelompok yang menentang kehujjahan maslahah
mursalah. Sedangkan golongan yang diwakili madzhab Hanafi, Syafii dan Madzhab
Zahiri menekankan kehati-hatian dengan berbagai persyaratan maslahah yang sesuai
dengan tujuan syariat. Banyak persoalan baru bisa dikategorikan Maslahah
Mursalah. Artinya persoalan baru itu memang mengandung maslahat dan dibutuhkan
manusia dalam membangun kehidupan mereka, tetapi tidak ditemukan dalil yang
mengakui ataupun menolaknya. Seiring dengan perjalanan waktu, hal ini akan terus
berlangsung sepanjang masa dengan berbagi perbedaan latar belakang sosial budaya.
Dengan demikian, untuk mengatasinya persoalan ini tidak lain tentulah pendekatan
yang digunakan hanyalah dengan pendekatan maslahah mursalah

Daftar Pustaka

Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul al-fikih ,Maktabah Al-Dakwah alIslamiyah, cetakan VIII,thn 1991
Abdul Wahab Khallaf, Mashadir al-Tasyri al-Islami Fima La Nassafih.
(Dar al-Qalam, cet. III, th. 1972),
Abu Ishak Al-Syatibi, al-Muwaffaqat Fi Ushul al-Syariah ,Beirut : Dar alMakrifah, jilid IV, th. 1975.
Djaazuli. 2005. Ilmu Fiqih. Jakarta: Kencana Media Group.
Effendi, Satria. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta: Prenada Media.
Ensiklopedi Hukum Islam. 1996. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Haroen, Nasrun. 1997. Ushul Fiqh I. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Khallaf, Abdul Wahab. 1994. Ilmu Ushul Fiqh. Semarang: Dina Utama.
Prof.Dr.Safyii,Rahmat. MA ilmu ushul fiqih,CV Pustaka
Setia,Bandung:1998
Prof.Abu Zahra,muhamad.USHUL FIQIH, Pustaka Firdaus,Jakarta:1994

Drs.Rifai,moh. USHUL FIQIH,Al-maarif, Bandung:1974