You are on page 1of 9

HAMA DAN PREDATOR PADA KOMODITAS ERCIS (Pisum sativum L.

)
LAPORAN PRAKTIKUM
Kelompok 5
Ginggi Rizki Garudea W.
Hanifah Masaroh
Manzilatul Rochmah
Pramesti Dwi Rhumana
Tiara Dwi Nurmalita
I.

(120342422449)
(120342400175)
(120342422470)
(120342422488)
(120342400172)

LATAR BELAKANG
Dewasa ini tuntutan masyarakat akan produk tanaman yang berkualitas, ekonomis, serta aman
dikonsumsi semakin tinggi. Produk tanaman seperti ini dapat diperoleh dengan menerapkan budidaya
tanaman yang sehat, antara lain dengan penggunaan agens hayati sebagai sumber pengendalian hama dan
penyakit (Dibiyantoro dalam Korlina 2011). Para petani seringkali memiliki kendala yang bisa
mempengaruhi menurunnya hasil panen, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dalam hal penurunan
kualitas, biasanya disebabkan oleh faktor human error, atau kesalahan petani sendiri dalam
perawatannya, misalnya kesalahan pada pemberian pupuk yang berlebih. Sedangkan untuk penurunan
kuantitas ercis, faktor utamanya ialah serangan berbagai hama ercis.
Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) hingga saat ini masih merupakan masalah utama
yang membatasi produksi terutama untuk daerah-daerah yang mempunyai iklim tropis. Sementara,
penggunaan pestisida sintetik dalam mengendalikan OPT mempunyai resiko yang besar karena dapat
menyebabkan resistensi, resurgensi, pencemaran lingkungan, musnahnya musuh alami, timbulnya residu
pestisida dalam tanaman dan sebagainya. Pengendalian hayati diharapkan dapat mengurangi efek samping
dari penggunaan pestisida dalam mengendalikan serangan OPT (Ismail N dan Tenrirawe A 2010). Dalam
rangka mengurangi serangan berbagai macam hama ercis yang semakin merajalela, kebanyakan petani dan
masyarakat awam memilih untuk menggunakan pestisida kimia.
Anonim (2002) menyatakan bahwa pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama
dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali biologi),
seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama dengan
sengaja dengan memanfaatkan/ memanipulasikan musuh alami untuk kepentingan pengendalian, biasanya
pengendalian hayati akan dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan
Pengendalian alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia,
tidak ada proses perbanyakanmusuh alami.
Menurut Jumar (2000). Pengendalian hayati memiliki keuntungan yaitu: (1) aman artinya tidak
menimbulkan pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia dan ternak, (2) tidak menyebabkan
resistensi hama,(3) musuh alami bekerja secara selektif terhadap inangnya atau mangsanya, dan (4)
bersifat permanen untuk jangka waktu panjang lebih murah, apabila keadaan lingkungan telah stabil atau
telah terjadi keseimbangan antara hama dan musuh alaminya.
Predator adalah binatang atau serangga yang memangsa binatang atau serangga lain. Predator
merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau memangsa binatang atau
serangga lain. Menurut Jumar (2000), hampir semua ordo serangga memiliki jenis yang menjadi predator,
tetapi selama ini ada beberapa ordo yang anggotanya merupakan predator yang digunakan dalam
pengendalian hayati, misalnya Coleoptera, Orthoptera, Hemiptera, Hymenoptera, dll.
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas dan juga praktikum yang telah dilakukan,
disusunlah laporan praktikum dengan judul Hama dan Predator pada Komoditas Ercis (Pisum sativum)
yang mana bertujuan untuk mengungkap jenis-jenis serangga hama dan predator yang ada pada komoditas
ercis.

II. TUJUAN
1. Untuk mengetahui jenis-jenis serangga hama pada ercis
2. Untuk mengetahui jenis-jenis serangga predator pada ercis
3. Untuk mengetahui hubungan faktor abiotik terhadap serangga hama dan predator pada ercis

III. MANFAAT
Manfaat dari penulisan laporan ini adalah untuk menambah pengetahuan tantang serangga hama dan
predator pada ercis. Selain itu setelah disusunya laporan ini di harapkan para pembaca dari semua kalangan
bisa bersama sama menjaga kelestarian lingkungan agar tidak merusak habitat makhluk hidup.
IV.
KAJIAN PUSTAKA
A Tanaman Ercis
Tanaman ercis merupakan golongan tanaman semusim, menyerupai semak, tinggi bisa mencapai 2
meter. Polong, berisi 6-7 biji, berwarna hijau muda. Dalam budidaya, kapri tumbuh baik di daerah
pegunungan berhawa sejuk dengan ketinggian minimal 700 meter di atas permukaan laut. Kapri atau kacang
kapri (Pisum sativum L., masuk suku polong-polongan atau Fabaceae) adalah sejenis tumbuhan sayur yang
mudah dijumpai di pasar dan supermarket. Kapri termasuk dalam golongan sayur buah, artinya buahnya
yang dimakan sebagai sayur dan tidak digolongkan sebagai buah-buahan. Buah ini, yang bertipe polong
(legume), dipanen ketika masih muda dan bijinya belum berkembang penuh, sehingga berbentuk pipih dan
masih lunak, dikonsumsi sebagai campuran sayur (sop, sambal goreng hati, dll). Berbeda dengan kapri, ercis
hanya dimakan bijinya dan hampir tidak pernah dimakan dengan polongnya seperti kapri. Sejak ribuan
tahun lalu telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan namun sekarang penggunaannya lebih banyak sebagai
sayuran atau pakan.
Ercis dapat tumbuh baik di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 700 m dpl. Beberapa syarat
penting agar kapri dapat tumbuh baik adalah beriklim sejuk, kelembaban udara tinggi, tanah gembur dan
banyak mengandung humus, air tidak menggenang, pH tanah berkisar antara 5,5-7,5, serta memiliki drainase
dan aerasi yang baik. (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2012)
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae
Bangsa
: Vicieae
Genus
: Pisum
Spesies
: Pisum sativum L.

Gambar 1. Pisum sativum L.


Sumber : gardenmatrial.com
B Hama
Hama (pests) secara umum diartikan sebagai organisme pengganggu yang dapat menimbulkan
kerugian pada kegiatan usaha tani secara luas (Darmono, 2003). Kegiatan usaha tani ini bisa berupa
pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, hutan tanaman industri, peternakan, perikanan, dan
sebagainya. Bentuk gangguan serta kerugian yang timbul dapat diakibatkan oleh serangan hama secara
langsung seperti halnya kerusakan tanaman padi akibat serangan wereng coklat, dapat pula akibat
peranannya sebagai vektor penyakit seperti halnya hama nyamuk malaria yang menularkan penyakit malaria
pada manusia. Dalam kegiatan usaha tani, organisme pengganggu tersebut dapat berupa hama tumbuhan,
patogen tumbuhan dan gulma.
Hama dapat didefinisikan sebagai hewan pengganggu yang dapat :
1 Mengurangi kuantitas dan kualitas bahan pangan, pakan ternak dan serat selama produksi

2
3

Merusak tanaman selama pertumbuhan di lapang sampai saat panen, pengolahan, penyimpanan, pemasaran
dan penggunaan
Menularkan penyakit kepada manusia, kepada hewan atau tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia
Manusia menempatkan serangga herbivora dalam kategori hama (merugikan), sementara hewan yang
sama pada fase yang lain justru memberikan keuntungan (Metcalf dan Luckmann, 1982). Banyak sekali
hewan yang dapat menjadi hama, secara umum hewan-hewan yang dapat menjadi hama tumbuhan dapat
dikelompokkan menjadi hama artropoda, hama moluska, dan hama vertebrata. Sebagian ahli ada juga yang
memasukkan kelompok nematoda sebagai hama (Kalshoven, 1981). Kelompok yang terakhir ini umumnya
digolongkan sebagai patogen penyebab penyakit tumbuhan karena gejala yang ditimbulkannya bersifat
sistematik dan lebih mendekati fisiologi penyakit tumbuhan.
Serangga merupakan hewan yang paling potensial menjadi hama. Ciri-ciri populasi serangga sangat
menunjang untuk menjadikannya sebagai hama yang sangat merugikan. Secara umum hama serangga dapat
dikelompokkan atas hama lapang dan hama pasca panen. Hama lapang merusak tanaman sejak saat tanam
sampai dengan panen, sedang hama gudang merusak komoditas di tempat penyimpanan, tahap pengolahan,
pemasaran dan penggunaan.
Moluska bertubuh lunak dan tidak bersegmen. Penyebaran hewan ini cukup luas, baik di daratan, air
tawar, maupun di laut. Moluska yang penting sebagai hama adalah dari kelas Gastropoda, misalnya bekicot
(fulica) yang dapat menyebabkan kerusakan dengan memakan berbagai bagian tanaman. Salah satu hama
utama kapri adalah Phytomiza atricornis. Serangan hama ini dapat dicegah dengan melakukan tumpang sari
kapri dengan tanaman lain.

Gambar 2. Phytomiza atricornis (kiri). Daun yang terserang Phytomiza atricornis (kanan)
Sumber : amarel.free.fr

C Musuh alami
Musuh alami merupakan salah satu teknik pengendalian secara biologis bagi tanaman yang terserang
hama tertentu (Susniahti, 2012). Musuh alami merupakan salah satu faktor pengendalian organisme
pengganggu tanaman (OPT) sehingga berperan dalam pengaturan populasi OPT di alam. Musuh alami
merupakan salah satu pengendalian biologi dengan mereduksi populasi hama yang terdiri dari predators,
parasitoid, dan pathogen. Menurut Darmono (2003), predator merupakan suatu binatang yang dapat
memangsa binatang lain.
Pelestarian musuh alami baik berupa predator, patogen, parasitoid maupun agens antagonis
merupakan bagian dari konservasi sumberdaya alam hayati yang berdasarkan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, bahwa
konservasi sumber daya alam hayati mempunyai pengertian yaitu pengelolaan sumberdaya alam hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Menurut undang-undang tersebut
tujuan dari konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah mengusahakan terwujudnya
kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.
Musuh alami merupakan organisme yang ditemukan di alam yang dapat membunuh serangga
sekaligus, melemahkan serangga, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada serangga, dan mengurangi
fase reproduktif dari serangga. Musuh alami biasanya mengurangi jumlah populasi serangga, inang atau
pemangsa, dengan memakan individu serangga. Pada beberapa spesies, keberadaan musuh alami akan
mempengaruhi dinamika populasi serangga. Dari hal tersebut diatas, terdapat organisme yang berperan
positif dan ada yang berperan negatif terhadap tanaman yang dibudidayakan. Musuh alami mempunyai
peran positif, yaitu mengendalikan OPT. Serangga hama dan patogen penyakit tanaman dapat dikendalikan

dengan musuh alami seperti predator, parasitoid, entomopatogen dan antagonis. Untuk itu, pelestarian
musuh alami harus dilakukan demi terciptanya pengendalian hayati yang berkelanjutan.
Menurut Aminatun (2009), pelestarian musuh alami berhubungan dengan cara pengelolaan lahan
pertanian yang berpengaruh terhadap agroekosistem didalamnya. Modifikasi faktor lingkungan dapat
mengoptimalkan efektivitas musuh alami. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara :
1 mengurangi frekuensi aplikasi pestisida
2 menggunakan pestisida yang lunak seperti mikrobia, sabun atau pestisida botani
3 menanam bunga atau kultivar yang menjadi sumber nectar
4 pemberian air gula atau penyemprotan protein untuk menarik musuh alami
5 menyediakan tempat bersarang atau menghindari merusak sarang lebah
6 menanam tanaman yang dapat menjadi alternatif tempat bersembunyi/berlabuh/tempat hidup bagi musuh
alami serangga seperti predator dan parasitoid
7 menganekaragamkan tanaman budidaya dengan intercropping (tumpangsari), relay cropping (tumpang
gilir), dan lainnya
8 mengubah cara panen dan/atau cara penanaman untuk menjaga hilangnya tempat berlindung bagi musuh
alami
9 penggunaan tanaman penutup untuk menambah daya tahan hidup musuh alami.
D Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hama, Perdator, dan Serangga Lainnya
Ada beberapa faktor yang yang menyebabkan hama dapat berkembang biak dengan baik dalam
lingkungan pertanian, misalnya suhu, keadaan lingkungan, iklim, dsb.
1 Faktor Makanan dan Tempat Berkembangbiak
Pada ekosistem alami, makanan serangga terbatas dan musuh alami berperan aktif selain
hambatan lingkungan, sehingga populasi serangga rendah. Sebaliknya pada ekosistem pertanian,
terutama yang monokultur makanan serangga relatif tidak terbatas sehingga populasi bertambah
dengan cepat tanpa dapat diimbangi oleh musuh alaminya. Batang kelapa sawit yang
diracun dan masih berdiri sampai pembusukan pada sistem underplanting merupakan tempat
berkembangbiak yang paling baik bagi kumbang tanduk. Selama lebih dari 2 tahun masa dekomposisi,
batang yang masih berdiri memberikan perkembangbiakan 39.000 larva per hektar dibandingkan
dengan batang yang telah dicacah dan dibakar (500 larva per hektar). Hama ini biasanya
berkembangbiak pada tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan. Tindakan
yang membiarkan batang-batang kelapa sawit tetap berada di kebun (lahan replanting) memberikan
kesempatan besar bagi hama Oryctes untuk berkembangbiak dengan baik sehingga populasinya
meningkat. Ketika batang kelapa sawit yang lama tidak bisa menyediakan makanan dan tempat
berbiak, maka Oryctes akan berpindah ke tanaman replanting yang ada di sekitarnya. Jadi perlu
kehati-hatian agar tindakan budidaya yang diterapkan tidak mengundang kedatangan dan
berkembangnya hama.
2 Faktor Iklim
Sejalan dengan perubahan iklim terjadi perubahan agroekosistem di sekitar kebun dan boleh
jadi jenis (klon) tanaman yang dikembangkan. Di samping itu kemungkinan telah terjadi
perubahan OPT penting di dalam kebun akibat faktor iklim. Faktor iklim atau cuaca mencakup
suhu, cahaya, sinar matahari dan kelembaban lingkungan.
3 Faktor Perpindahan Tempat dan alternatif inang
Serangga hama dapat berpindah tempat secara aktif maupun pasif. Perpindahan tempat secara
aktif dilakukan oleh imago dengan cara terbang atau berjalan untuk mencari tempat baru baginya
dalam berkembangbiak. Kemungkinan penyebaran hama ini sangat tinggi jika jarak tanaman rapat. Jarak
antar kebun satu dengan lainnya yang kondisinya tidak disanitasi dapat mempengaruhi populasi
hama ini. Kurangnya hembusan angin di sekitar kebun juga menjadi salah satu faktor tingginya
serangan. Perilaku penyebaran hama ini umumnya menghindari hembusan angin kencang karena
kesulitan dengan berat badannya (Daud, 2007). Selain itu, tersedianya tanaman inang lain turut
menambah ketersediaan pakan dan tempat berkembangbiak.
4 Faktor Aplikasi Insektisida yang Tidak Bijaksana dan Aplikasi Insektisida Biologi/Hayati
Penggunaan insektisida yang tidak bijaksana akan menyebabkan permasalahan hama semakin
kompleks, banyak musuh alami yang mati sehingga populasi serangga bertambah tinggi disamping
berkembangnya resistensi, resurgensi dan munculnya hama sekunder. Hal ini dapat terjadi bila

perilaku petani yang terus menerus memakai insektisida dengan bahan aktif yang sama dan cara
aplikasi yang tidak tepat.
Perlakuan insektisida tidak efektif mematikan hama bila jika kondisi kebun tidak disanitasi
karena kondisi kebun seperti itu selain sangat mendukung perkembangan hama juga membuat
pengelolaan hama menjadi sulit dilakukan. Perlakuan insektisida melalui penginfusan batang pada
tanaman kelapa belum menunjukkan hasil maksimal (Daud, 2007). Serangan awal hama ini terlebih
dahulu memakan pucuk daun yang belum membuka di saat konsentrasi insektisida sangat rendah sampai
di pucuk (Ruskandi dan Setiawan, 2004 dalam Daud, 2007). Pemakaian insektisida yang tidak
sesuai dari segi aplikasinya justru tidak akan mengurangi populasi hama, seperti aplikasi
insektisida Marshal 200 EC di pucuk akar.
V. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 2 April 2015 di Area Perkebunan Ercis yang beradan di
Kawasan Junggo, Kota Batu. Peneliatian dilanjutkan dengan Identifikasi spesies yang ditemukan dilakukan
di Laboratorium Ekologi Ruang BIO 109 pada tanggal 214 April 2015.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam melakukan penelitian meliputi: swing net, jarum pentul, botol wadah sampel,
kamera, buku indentifikasi serangga, Dinolight, dan alat pengukur faktor abiotik (rapid test,
termohigrometer). Sedangkan bahan yang digunakan meliputi, plastik, kertas label, Chlorofoam, dan kapas.
C. Metode Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode jelajah bebas yang dilakukan pada Area
perkebunan ercis. Serangga diambil dengan menggunakan swing net dan menggunakan tangan untuk hewan
Mollusca.
D. Prosedur Kerja
1. Alat dan bahan untuk pengambilan serangga dipersiapkan
2. Area untuk pengambilan serangga ditentukan. Komoditas yang digunakan oleh kelompok penulis adalah
ercis
3. Mengambil serangga dengan menggunakan swing net. Namun, dalam pengambilan Mollusca langsung
memakai tangan
4. Faktor abiotik diukur. Pengukuran suhu udara dan kelembaban udara dilakukan pada bagian bawah,
tengah, dan atas. Pengukuran faktor abiotik dilakukan sebanyak 3 kali ulangan dan kemudian hasil
pengukuran dirata-rata
5. Serangga atau hewan lain yang didapat dimasukkan ke dalam kantong plastik yang dilubangi dengan
jarum, kemudian setelah sampai di kampus, langsung diindetifikasi dan difoto dengan menggunakan
dinolight.
VI.
HASIL DAN ANALISIS DATA
A. Hasil
Tabel 1. Hasil dari praktikum yang telah di lakukan pada komoditas Ercis
No Gambar/ Foto
Klasifikasi
Ciri-ciri
.
1.
Kindom : Animalia
Ukuran 4,66 mm
Filum : Anthropoda
Warna tubuh kuningKelas
: Insecta
hitam
Ordo
: Hymenoptera Tubuh titutupi
Famili : Apinae
rambut lebat
Genus : Apis
Memiliki mulut tipe
Spesies : Apis mellifera
mulut penghisap

Stasus
Predator/ lebah
polinator

2.

Kindom : Animalia
Memiliki sepasang
Filum : Anthropoda
antena yang cukup
Kelas
: Insecta
panjang
Ordo
: Hymenoptera Warna tubuh hitam
Famili : Roproniidae
kecokelatan
Genus : Ropronia
Mempunyai sepasang
Spesies : Ropronia sp.
sayap
Tekstur sayap seperti
selaput dan mengilat
Memiliki 3 pasang kaki
Abdomen membulat di
bagian ujung
belakang
Ukuran sangat kecil
(panjang 1-2 cm)

3.

Kindom : Animalia
Filum : Anthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Diptera
Subordo : Brachycera
Famili : Calliphoridae
Genus : Lucilia
Spesies : Lucilia
sericata

4.

Kindom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas
: Gastropoda
Ordo
:
Stylommatophora
Famili : Helicidae
Genus : Helix
Spesies : Helix
pomatia L.

Predator
(Parasit internal
pada Lalat)

Tubuh berwarna biru Hama


kehitaman
memiliki sepasang
sayap
mata berwarna
merah
memiliki 3 pasang
kaki.
Ukuran 3,92 mm

Ukurannya sekitar 3-5


cm
Berwarna Putih gading
hingga kecokelatan.
Cangkang memiliki 5-6
lingkaran (whorls)

Hama

5.

Kindom : Animalia
Filum : Anthropoda
Kelas
: Insekta
Ordo
: Diptera
Famili :
Genus : Musca
Spesies : Musca
autumnalis

Data Faktor Abiotik


Suhu
Kesuburan
Intensitas cahaya
Kelembaban
pH

Ukuran 3,04 mm
Warna tubuh hitam
Tubuh titutupi
rambut lebat
Memiliki sepasang
sayap
Memiliki 3 pasang
kaki
Warna mata hitamkemerahan

Hama

31,5
Too little
5,5 x 1000 C
1,8
7

B. Analisis
Praktikum ini dilakukan di area perkebunan Ercis di daerah Cangar. Teknik penangkapan serangga
menggunakan teknik swingnet , teknik ini dianggap sebagai teknik yang cukup mudah dan sesuai untuk area
perkebunan yang digunakan sebagai area pengamatan.
Berdasarkan hasil identifikasi terhadap serangga yang tertangkap pada waktu praktikum,
teridentifikasi adanya 5 spesies yang ditemukan, yaitu Apis mellifera yang memiliki ciri-ciri ukuran 4,66
mm, warna tubuh kuning-hitam, tubuh titutupi rambut lebat, dan memiliki mulut tipe mulut penghisap. Apis
mellifera yang ditemukan ini termasuk kedalam serangga penyerbuk yang sanggat membantu para petani,
sehingga serangga ini bukan termasuk kedalam hama ataupun predator. Serangga yang ditemukan
selanjutnya yaitu Lucilia sericata yang memiliki ciri-ciri tubuh berwarna biru kehitaman, memiliki sepasang
sayap, mata berwarna merah, memiliki 3 pasang kaki, dan ukuran 3,92 mm. Serangga yang ditemukan ini
termasuk hama pada tanaman ercis. Selanjutnya yaitu Musca autumnalis yang memiliki ciri-ciri ukuran 3,04
mm, warna tubuh hitam, tubuh titutupi rambut lebat, memiliki sepasang sayap, memiliki 3 pasang kaki, dan
memiliki warna mata hitam-kemerahan. Hewan keempat yang ditemukan adalah Ropronia sp. yang
memiliki sepasang antena yang cukup panjang, warna tubuh hitam kecokelatan, mempunyai sepasang sayap,
tekstur sayapnya seperti selaput dan mengilat, memiliki 3 pasang kaki dan abdomennya membulat di bagian
ujung belakang, sedangkan ukuran sangat kecil (panjang 1-2 cm) keadaan tersebut sangat menunjang
perannya yang merupakan predator internal khususnya untuk hama lalat. Hewan yang ditemukan terakhir
termasuk golongan hama dalam Filum Mollusca yaitu Helix pomatia L., hewan ini memiliki ukuran sekitar
3-5 cm, berwarna Putih gading hingga kecokelatan dan cangkangnya memiliki 5-6 lingkaran atau ulir
(whorls).
Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan rapitest di tanah lokasi pengamatan didapatkan data
bahwa suhu lingkungan mencapai 31,5 0C, tingkat kesuburannya rendah Too Little, intensitas cahayanya
5,5 x 1000 C, kelembaban 1,8 yang artinya rendah. Hai ini bisa terjadi karena kelembaban berhubungan
dengan suhu, jika suhu tinggi maka kelembabannya rendah dan sebaliknya. Nilai pH dari tanah pertanian
tersebut 7 yang mengindikasikan keadaan pH-nya normal

VII.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan, serangga yang termasuk hama di antaranya adalah Lucilia sericata,
Helix pomatia L., dan Musca autumnalis, ketiga hewan ini pada dasarnya memiliki peran yang sama yaitu
sebagai perusak tanaman budidaya, ketiga hama tersebut biasanya menyebabkan pembusukan pada batang,
daun dan buah pada tumbuhan budidaya. Misalnya Helix pomatia L. menghasilkan lendir yang dapat
menyebabkan pembusukan yang lebih cepat pada organ tumbuhan yang dilewatinya (Balashov, 2012).
Sedangkan pada serangga Lucilia sericata, dan Musca autumnalis termasuk jenis lalat yang memakan cairan
atau sekresi yang dikeluarkan oleh berbagai kumbang atau serangga lain, madu pada buah dan cairan buah
lainnya. Saat tidak musim buah, lalat terbang atau berada di semak-semak atau hutan kecil disekitarnya. Bila
ingin bertelur, lalat mencari buah yang menjelang masak. Alat peletak telur berada di ruas belakang badan,
ditusukkan menembus kulit buah masak ke dalam buah dan membentuk rongga. Telur diiringi bakteri yang
menyelinap masuk ke dalam buah sehingga menimbulkan kontaminasi dan buah menjadi busuk yang masak
lunak. Bintik bekas tusukan alat peletak telur menjadi gelap agak membusuk dan akhirnya menjadi busuk
buah (Kalie dalam Mirsadiq, 2013). Gejala serangan yang ditimbilkan oleh lalat adalah gejala busuk pada
buah yang telah masak akibat pengaruh dari alat mulut lalat. Tanaman yang terserang lalat biasanya
membusuk dan dapat menular ke tanaman lainnya (Mirsadiq, 2013).
Predator yang ditemukan pada pengamatan ini hanya ada 2 spesies yaitu Ropronia sp. dan Apis
mellifera. Apis mellifera (lebah) merupakan serangga penghasil madu, royal jeli, propolis, dan pernyerbuk
tanaman (polinasi). Pada umumnya semua tanaman berbunga merupakan sumber pakan lebah, karena ia
menghasilkan nektar dan polen. Peran lebah sebgai polinator tanaman budidaya. Lebah mempunyai fungsi
penting sebagai hewan pembantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang tidak dapat melakukan
pernyerbukan sendiri. Lebah membantu proses penyerbukan silang sehingga produktivitas tanaman
budidaya meningkat. Lebah yang berada di area tanaman holtikultura mendatanggi bunga untuk
mendapatkan pakan. Perpindahan lebah dari datu bunga ke bunga lain mempercepat proses polinasi. Hal ini
dikarenakan, ada serbuk sari bunga yang menempel pada rambut kaki dan badan lebah. Lebah dikatakan
polinator karena telah menyebabkan mekanisme transfer polen dari anther menuju stigma pada bunga (Iptek
Holtikultura, Tanpa tahun). Namun walaupun begitu Apis mellifera pada waktu tertentu juga dapat menjadi
predator untuk beberapa jenis hama. Ropronia sp. termasuk hewan dari golongan predator, hewan ini
berukuran sangat kecil dan merupakan predator internal untuk beberapa jenis lalat, misalnya lalat gergaji
(Watanabe, 2015).
Faktor abiotik sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup serangga. Setiap serangga
mempunyai kisaran suhu tertentu, dimana pada suhu terendah ataupun suhu tertinggi, serangga tersebut
masih dapar bertahan hidup. Serangga di daerah tropis tidak tahan terhadap suhu rendah dibandingkan
serangga yang hidup di daerah sub tropis, mendekati suhu minimum perkembangan serangga menjadi
lambat walaupun serangga masih hidup, keadaan tersebut disebut diapause. Diapause karena suhu
minimum disebut hibernasi dan yang disebabkan suhu maksimum disebut estivasi. Jelaslah kehidupan
serangga hama di alam dipengaruhi oleh suhu dengan kisaran suhu 15C - 50C. Kelembaban Udara
mempengaruhi kehidupan serangga langsung atau tidak langsung. Serangga yang hidup di lingkungan yang
kering mempunyai cara tersendiri untuk mengenfisienkan penggunaan air seperti menyerap kembali air
yang terdapat pada feces yang akan dibuang dan menggunakan kembali air metabolik tersebut, contohnya
serangga rayap. Oleh karena itu kelembaban harus dilihat sebagai keadaan lingkungan dan kelembaban
sebagai bahan yang dibutuhkan organisme untuk melangsungkan proses fisiologis dalam tubuh (Susniahti,
et al, 2005).
Pengaruh cahaya terhadap perilaku serangga berbeda antara serangga yang aktif siang hari dengan
yang aktif pada malam hari. Pada siang hari keaktifan serangga dirangsang oleh keadaan intensitas maupun
panjang gelombang cahaya di sekitarnya. Sebaliknya ada serangga pada keadaan cahaya tertentu justru
menghambat keaktifannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa energi dari panas radiasi disekitar
organisme ikut mengatur suhu tubuh serangga melalui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman
(Susniahti, et al, 2005).

VIII. KESIMPULAN
1 Jenis serangga hama pada komoditas ercis antara lain Lucilia sericata, Helix pomatia, dan Musca
autumnalis
2 Jenis serangga predator pada ercis yaitu Apis mellifera dan Ropronia sp.

Faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap serangga hama dan predator pada ercis yaitu faktor
abiotik yang berupa suhu, kelembaban, intensitas cahaya.

IX. RUJUKAN
Aminatun,
Tien.
2009.
Teknik
konservasi
musuh
alami
untuk
pengendalian
hayati.http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/112096169_0216-3854.pdf. Diakses 21 April 2015.
Anonim, 2002. Model Budidaya Tanaman Sehat ( Budidaya Tanaman Sayuran Secara Sehat Melalui
Penerapan PHT). Dirjen Perlindungan Tanaman. Jakarta
Balashov I. & Gural-Sverlova N. 2012. An annotated checklist of the terrestrial molluscs of Ukraine.
Journal of
Conchology. 41 (1): 91-109.
Darmono. T.W. 2003. Arti Penting dan Strategi Implementasi Pengendalian Hama Terpadu pada
Tanaman Perkebunan. Makalah pada Pelatihan Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
Pelaksana PHT Perkebunan Rakyat, Pusat Kajian PHT, IPB, Bogor. hlm.1- 6.
Daud, I.T. 2007. Sebaran Serangan Hama Kumbang Kelapa Oryctes rhinoceros (Coleoptera:
Scarabaeidae) di Kecamatan Mattirobulu Kabupaten Pinrang. Prosiding Seminar Ilmiah dan
Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel: 306-318.
Iptek Holtikultura. Tanpa tahun. Lebah Polinator Utama pada Tanaman Holtikultura. (Online)
http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/IPTEK/Liferdi_polinator.pdf. Diakses 18 April 2015.
Ismail N dan Tenrirawe A. 2010. Potensi agens hayati trichoderma spp. sebagai agens pengendali hayati. Di
dalam: Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Propinsi Sulawesi Utara. Prosiding Seminar Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi
Utara; Sulawesi Utara. Sulawesi (ID). hlm 1.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta : Rineka Cipta.
Kalshoven, L. G. E. 1981. The Pest Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru-van Hoeve. Jakarta. pp. 1-701
Korlina E. 2011. Pengembangan dan pemanfaatan agens pengendali hayati (aph) terhadap hama dan
penyakit tanaman. Superman : Suara Perlindungan Tanaman. No.2.
Luckmann, W H dan R L Metcalf. 1982. The pest management concept. John Wiley and Son. New York.
Mirsadiq, Lucky. 2013. Laporan Praktikum Perlindungan Tanaman. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 2012. Budidaya Tanaman Ercis. Jakarta.
Siahaan, Id R T U dan Syahnen. Tanpa tahun. Mengapa O. rhinoceros menjadi Hama padaTanaman Kelapa
Sawit? Laboratorium Lapangan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan
(BBPPTP). Medan.
Susniahti, N., M.S.H. Sumeno dan Sudajat. 2012. Terjadinya dan Status Hama Serangga. Universitas
Padjajaran Bandung.
Susniahti, Nenet, et al. 2005. Bahan Ajar Ilmu Hama Tumbuhan. Bandung : Universitas Padjadjaran.
Watanabe, Kyouhei. 2015. Information station of Parasitoid wasps: Reproniidae. Akitsu Prize:
Entomological Society Of Japan.