You are on page 1of 14
MAKALAH PBL BLOK 28: Penyakit Akibat Kerja Pajanan Stress Psikologi Muhammad Haziq bin Hashim (102011434) Fakultasmuhammadhaziq@gmail.com Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai orang yang mengalami stres. Stres tersebut tidak hanya dalam kehidupan sosial-ekonominya saja tetapi juga dalam bekerja. Pekerjaan yang terlalu sulit serta keadaan sekitar yang penat juga akan dapat menyebabkan stres dalam bekerja. Banyak orang yang tidak menyadari gejala timbulnya stres tersebut dalam kehidupannya padahal apabila kita mengetahui lebih awal mengenai gejala stres tersebut kita dapat mencegahnya. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan maksud agar terjaminnya keamanan dan kenyamanaan dalam bekerja. Apabila seseorang yang mengalami stres melakukan pekerjaan itu malah akan mengganggu kestabilan dalam bekerja. Untuk menjaga kestabilan kerja tersebut psikologi seseorang juga harus stabil agar terjadi sinkronisasi yang harmonis antara faktor kejiwaan serta kondisi yang terjadi. Jadi kita harus benar-benar memperhatikan secara lebih baik lingkungan yang dapat mempengaruhi psikologi (kejiwaan) seseorang sehingga stres dapat dicegah. 1 " id="pdf-obj-0-2" src="pdf-obj-0-2.jpg">

MAKALAH PBL BLOK 28:

Penyakit Akibat Kerja Pajanan Stress Psikologi

Muhammad Haziq bin Hashim (102011434)

Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

Telp: 021 569 42061, Fax: 021 563 1731

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai orang yang mengalami stres. Stres tersebut tidak hanya dalam kehidupan sosial-ekonominya saja tetapi juga dalam bekerja. Pekerjaan yang terlalu sulit serta keadaan sekitar yang penat juga akan dapat menyebabkan stres dalam bekerja. Banyak orang yang tidak menyadari gejala timbulnya stres tersebut dalam kehidupannya padahal apabila kita mengetahui lebih awal mengenai gejala stres tersebut kita dapat mencegahnya. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan maksud agar terjaminnya keamanan dan kenyamanaan dalam bekerja. Apabila seseorang yang mengalami stres melakukan pekerjaan itu malah akan mengganggu kestabilan dalam bekerja. Untuk menjaga kestabilan kerja tersebut psikologi seseorang juga harus stabil agar terjadi sinkronisasi yang harmonis antara faktor kejiwaan serta kondisi yang terjadi. Jadi kita harus benar-benar memperhatikan secara lebih baik lingkungan yang dapat mempengaruhi psikologi (kejiwaan) seseorang sehingga stres dapat dicegah.

Pengertian Stres

Menurut Spielberg C.D. menyebutkan bahwa stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnya obyek-obyek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang secara obyektif adalah berbahaya. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang. 1

Istilah stres ditemukan oleh Hans Selye yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stres dapat digunaan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang dipicu oleh berbagai faktor psikologis atau faktor fisik atau kombinasi kedua faktor tersebut. 2

Karena banyaknya definisi mengenai stres, maka Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan, yaitu : 3

1. Stimulus

Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stresor menjadi tiga :

a.

Peristiwa katastropik, misalnya angin tornado atau gempa bumi.

b.

Peristiwa hidup yang penting, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang yang

dicintai.

c.

Keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi sesak atau bising.

2. Respon

Respon adalah reaksi seseorang terhadap stresor. Untuk itu dapat diketahui dari dua komponen yang saling berhubungan, yaitu komponen psikologis dan komponen fisiologis.

a.

Komponen psikologis, seperti perilaku, pola pikir dan emosi

b.

Komponen fisiologis, seperti detak jantung, mulut yang mengering (sariawan),

keringat dan sakit perut. Kedua respon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan.

3. Proses

Stres sebagai suatu proses terdiri dari stesor dan strain ditambah dengan satu dimensi penting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antar manusia dengan lingkungan, yang didalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

Hubungan Pajanan dan Penyakit

Stress dan Penyakit

Sumber psikologis dari stress tidak hanya menurunkan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri, tetapi secara tajam juga mempengaruhi kesehatan. Stress meningkatkan resiko terkena berbagai jenis penyakit fisik.

Stress dan Sistem Endokrin

Beberapa kelenjar endokrin terlibat dalam menampilkan respon tubuh terhadap stress. Pertama, hipotalamus, suatu struktur kecil di otak, melepas suatu hormon yang menstimulasi kelenjar pituitari di dekatnya untuk menghasilkan adrenocorticotrophic hormone (ACTH). ACTH, selanjutnya, menstimulasi kelenjar adrenal yang berlokasi di atas ginjal. Di bawah pengaruh ACTH, lapisan terluar kelenjar adrenal yang disebut korteks adrenal, melepas sekelompok steroid. Kortikol steroid ini merupakan hormon yang mempunyai sejumlah fungsi yang beda dalam tubuh, seperti mendorong stress, membantu perkembangan otot dan menyebabkan hati mengeluarkan gula, yang merupakan tenaga dalam menghadapi stressor yang mengancam. Selain itu juga membantu tubuh mempertahankan diri dari reaksi alergi dan peradangan. Cabang simpatis dari susunan saraf otonom menstimulasi lapisan dalam dari kelenjar adrenal, yang disebut medula adrenalis, untuk melepas zat kimia yang disebut adrenalin dan non adrenalin. Zat ini berfungsi sebagai hormon setelah terlepas di dalam aliran darah. Non adrenalin juga diproduksi di sistem saraf dan berfungsi sebagai suatu neurotransmitter. Gabungan adrenalin dan non adrenalin menggerakkan tubuh menghadapi stressor dengan meningkatkan kerja jantung dan menstimulasi hati untuk melepaskan persediaan gula, menjadi tenaga. Hormon stress yang diproduksi oleh

kelenjar adrenal membantu tubuh menyiapkan diri mengatasi stressor. Jika stressor

terlewati, tubuh kembali normal. Namunsaat stress yang kronis terjadi, tubuh terus

memompa keluar hormone dan dapat menyebabkan kerusakan pada seluruh tubuh,

termasuk menekan kemampuan dari sistem kekebalan tubuh yang melindungi kita

dari berbagai infeksi dan penyakit. 4

Stress dan Sistem Kekebalan

Sistem kekebalan adalah sistem pertahanan tubuh melawan penyakit. Pasukan sistem

kekebalan tubuh sendiri adalah sel darah putih atau leukosit, leukosit ini secara

sistematis membunuh pathogen (bakteri yang merugikan). Leukosit mengenali

pathogen yang menyerang ini dari lapisan permukaan mereka yang disebut antigen.

Beberapa leukosit memproduksi antibodi, protein khusus yang melekat pada sel-sel

yang dianggap asing, menonaktifkan sel-sel tersebut, memberi tanda bagian mana

yang harus dihancurkan.

Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa stress membuat kita rentan terhadap

penyakit karena melemahnya sistem kekebalan tubuh. 4

Stres dan Perubahan Hidup

Perubahan hidup menjadi sumber stress bila perubahan hidup tersebut menuntut kita

untuk menyesuaikan diri. Perubahan ini dapat berupa peristiwa menyenangkan dan

menyedihkan. Para peneliti melaporkan adanya hubungan antara pemaparan terhadap

stressor hidup, termasuk perubahan hidup dan masalah sehari-hari, resiko

berkembangnya masalah kesehatan fisik, bahkan resiko terluka karena olahraga. Kita

harus hati-hati dalam menginterpretasikan hasil temuan ini. Hubungan yang

ditemukan ini sifatnya korelasional, dan bukan eksperimental. 4

Stresor

Jenjang Individual

Beban peran berlebihan

Konflik peran

Kemenduaan peran

Tanggung jawab

Perilaku

Kepuasan Hasil

Kinerja

Kemangkiran

Perputaran

Kecelakaan

4

Penyalahgunaan obat

   

Jenjang kelompok

 

Perilaku manajerial

Kurangnya kohesivitas

Konflik antar

kelompok

 
Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen

Jenjang

 

Organisasional

Iklim

Teknologi

Gaya manajemen

 
Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen Ekstra-

Ekstra-

Organisasional

Keluarga, ekonomi

Kurangnya mobilitas

Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen Ekstra-
Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen Ekstra-

Kognitif

Pengambilan keputusan

jelek

Konsentrasi berkurang

Menjadi pelupa

Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen Ekstra-

Fisiologis

Tekanan darah meningkat

Kolesterol tinggi

Sakit jantung

STRES
STRES
Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen Ekstra-
Jenjang kelompok Perilaku manajerial Kurangnya kohesivitas Konflik antar kelompok Jenjang Organisasional Iklim Teknologi Gaya manajemen Ekstra-
   
 

Perbedaan

Individual

Keturunan, seks, usia,

diet, dukungan sosial,

watak kepribadian,

dan cara menangani

Gambar: Model Stres Pekerja

Sumber Stres (Stressor) 5

Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga

kelompok sumber stress, yaitu :

1. Fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas, dan

kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam, perang, banjir, dan

sebagainya.

2. Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada

fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti

respon seseorang terhadap penyakit atau kematian.

3. Daily hassles, yaitu masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari

yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti

kesesakan atau kebisingan karena polusi.

Sumber-sumber stress di dalam diri seseorang (individu)

Sumber stress itu ada di dalam diri seseorang salah satunya melalui kesakitan.

Tingkatan stres yang muncul tergantung pada keadaan rasa sakit dan umur individu.

Stres juga akan muncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional

yang melawan, bila seseorang mengalami konflik.

Menurut Kurt Lewin, kekuatan motivasional yang melawan menyebabkan dua

kecenderungan yang melawan : pendekatan dan penghindaran. Kecenderungan

tersebut menggolongkan tiga jenis pokok dari konflik :

  • a. Konflik pendekatan-pendekatan

  • b. Konflik penghindaran-penghindaran

  • c. Konflik pendekatan-penghindaran

Sumber Stres di dalam Keluarga

Stres dapat bersumber dari interaksi para anggota keluarga, seperti perselisihan dalam

masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda

dan lain-lain. Para orang tua yang kehilangan anak-anaknya atau pasangannya karena

kematian akan merasa kehilangan arti. Perasaan kehilangan ini akan semakin terasa

terutama pada masa dewasa awal dan dapat menimbulkan stres.

Sumber-sumber stres di dalam komunitas dan lingkungan

Interaksi subyek di luar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stres,

contohnya : pengalaman stres anak-anak di sekolah dan di beberapa kejadian

kompetitif, seperti olah raga. Sedangkan beberapa pengalaman stres orang tua

bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan stresful sifatnya.

Pekerjaan dan Stress

Hampir semua orang di dalam kehidupan mereka mengalami stres sehubungan

dengan pekerjaan. Tak jarang situasi stresful ini kecil dan tak beerarti tapi bagi banyak

ornag situasi stres itu begitu sangat terasa dan berkelanjutan dalam waktu lama.

Tuntutan kerja dapat menimbulkan stres dalam dua cara. Pertama, pekerjaan itu

mungkin terlalu banyak. Orang yang bekerja terlalu keras dan lembur karena

keharusan mengerjakan tugas itu. Keharusan itu dapat berupa alasan keuangan atau

alasan lain. Kedua, jenis pekerjaan itu sendiri sudah lebih stresful daripada jenis

lainnya. Pekerjaan itu misalnya, jenis pekerjaan yang memberikan penilaian atas

penampilan kerja bawahannya.

Menurut Sarafino, stres kerja dapat disebabkan karena empat faktor. Yang pertama

lingkungan fisik yang terlalu menekan, yang kedua kurangnya kontrol yang dirasakan,

yang ketiga kurangnya hubungan interpersonal, yang keempat kurangnya pegakuan

terhadap kemampuan kerja. 3,

Manifestasi Klinis 6

Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus

stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:

1)

Gejala psikologis

Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian

mengenai stres pekerjaan :

Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung

Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)

Sensitif dan hyperreactivity

Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi

Komunikasi yang tidak efektif

Perasaan terkucil dan terasing

Kebosanan dan ketidakpuasan kerja

Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi

Kehilangan spontanitas dan kreativitas

Menurunnya rasa percaya diri

2)

Gejala fisiologis

Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami

penyakit kardiovaskular

Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)

Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)

Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan

Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis

(chronic fatigue syndrome)

Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada

Gangguan pada kulit

Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot

Gangguan tidur

Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

3)

Gejala perilaku

Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan

Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas

Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan

Perilaku sabotase dalam pekerjaan

Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke

obesitas

Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan

kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-

tanda depresi

Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan

tidak hati-hati dan berjudi

Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas

Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman

Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

Adapun gejala-gejala stres di tempat kerja yang sering terjadi, yaitu meliputi:

  • 1. Kepuasan kerja rendah

  • 2. Kinerja yang menurun

  • 3. Semangat dan energi menjadi hilang

  • 4. Komunikasi tidak lancar

  • 5. Pengambilan keputusan jelek

  • 6. Kreatifitas dan inovasi kurang

  • 7. Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif. Semua yang disebutkan di atas perlu dilihat dalam hubungannya dengan kualitas kerja dan interaksi normal individu sebelumnya. Gejala fisiologis dan gangguan fisik : 8 Faktor-faktor Psikologis dan Gangguan-gangguan Fisik Telah disebutkan sebelumnya bahwa faktor- faktor psikologis dapat mempengaruhi fungsi fisik; faktor faktor fisik juga dapat memepengaruhi fungsi mental. Saat ini, banyak bukti menunjukkan bahwa pentingnya peranan faktor psikologis dalam berbagai gangguan fisik yang lebih luas daripada beberapa gangguan fisik yang disebut sebagai gangguan psikosomatis tradisional.

    • a. Sakit kepala

Sakit kepala merupakan simtom dari banyak gangguan medis. Apabila sakit

kepala ini terjadi tidak bersamaan dengan gejala-gejala yang lain, maka sakit kepala

ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan fisik yang berhubungan dengan stress.

Sampai sejauh ini, sakit kepala yang paling sering muncul adalah sakit kepala karena

tegang. Stress dapat menyebabkan kontraksi yang kuat terhadap kulit kepala, muka,

leher, dan bahu sehingga muncul sakit kepala yang periodik dan kronis. Sakit kepala

seperti itu secara berangsur-angsur berkembang dan biasanya ditandai dengan rasa

sakit yang terus menerus dikedua sisi kepala disertai dengan tekanan yang

menghimpit. Kebanyakan sakit kepala yang lain, termasuk sakit kepala sebelah

(migrain) yang parah, diyakini melibatkan perubahan aliran darah ke kepala. Biasanya

migrain berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Sakit ini dapat muncul

setiap hari atau sering kali setiap bulannya. Sakit ini ditandai dengan rasa yang

menusuk disebelah sisi kepala atau dibelakang mata.

Serangan migrain berlangsung selama 4-72 jam. Ada dua tipe utama migrain,

yaitu: Migrain tanpa aura, dan migrain dengan aura. Aura adalah sekelompok tanda

peringatan sebelum terjadinya serangan.

Perspektif teoretis

Mengapa beberapa orang mengalami stress, menderita gangguan sakit kepala? Sebab

yang mendasari sakit kepala migren tidak dengan jelas dimengerti. Para peneliti

mengira sebabnya adalah karena adanya ketidakstabilan serotonin kimiawi otak.

Turunnya tingkat serotonin menyebabkan pembuluh darah di otak mengalami

kontraksi atau menyempit dan kemudian mengembang. Peregangan ini menstimulasi

ujung-ujung syaraf yang menyebabkan timbulnya rasa yang menusuk yang

diasosiasikan dengan migrain.

Banyak faktor dapat menjadi pemicu munculnya serangan migrain, hal ini termasuk

stress; stimuli seperti sinar terang, perubahan dalam tekanan udara; serbuk; obat

tertentu; MSG (monosodium glutamat) kimiawi, yang sering dipakai sebagai bumbu

penyedap makanan; anggur merah; dan bahkan kelaparan (Martin, dan Seneviratne,

1997). 8

Penanganan

Adanya penghilang rasa sakit seperti aspirin, ibuprofen, dan acetaminophen, dapat

mengurangi atau menghilangkan rasa sakit yang berhubungan dengan sakit kepala

karena tegang. Penanganan psikologis dalam banyak kasus dapat pula membantu

mengurangi sakit kepala karena tegang atau migrain. Penanganan ini termasuk

pelatihan biofeedback, relaksasi, pelatihan keterampilan coping, dan beberapa terapi

kognitif. Pelatih biofeedback membantu individu memperoleh kendali terhadap

berbagai fungsi tubuhnya, seperti ketengangan otot, dan gelombang otak, dengan

memberikan informasi (feedback) tentang fungsi-fungsi tubuh ini dalam bentuk tanda

auditori/suara atau gambaran visual. Individu belajar mengubah tanda kearah yang

dikehendaki. Pelatihan keterampilan relaksasi dipadukan dengan biofeedback juga

terbukti efektif.

Diperlukan pendekatan yang tepat dalam mengelola stres, ada dua pendekatan yaitu

pendekatan individu dan pendekatan organisasi.

1. Pendekatan Individual

Seorang karyawan dapat berusaha sendiri untuk mcngurangi level stresnya.

Strategi yang bersifat individual yang cukup efektif yaitu; pengelolaan waktu, latihan

fisik, latihan relaksasi, dan dukungan sosial. Dengan pengelolaan waktu yang baik

maka seorang karyawan dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tanpa adanya

tuntutan kerja yang tergesa-gesa.

Dengan latihan fisik dapat meningkatkan kondisi tubuh agar lebih prima sehingga

mampu menghadapi tuntutan tugas yang berat. Selain itu untuk mengurangi sires yang

dihadapi pekerja pcrlu dilakukan kegiatan-kegiatan santai. Dan sebagai stratcgi

terakhir untuk mengurangi stres adalah dengan roengumpulkan sahabat, kolega,

keluarga yang akan dapat memberikan dukungan dan saran-saran bagi dirinya. Yang

paling senang dilakukan adalah seperti yang berikut : 7

Lakukan pemijitan tubuh (body massage), karena pemijitan baik sekali untuk relaksasi dan penormalan tekanan darah. Setelah pemijitan, anda akan mengalami perbaikan kualitas tidur yang tentu saja akan memulihkan lebih baik keletihan anda.

Berolahraga teratur merupakan hal yang sangat penting dalam memerangi stress. Berolahraga akan memobilisasi otot-otot kita, mempercepat aliran darah dan membuka paru-paru untuk mangambil lebih banyak oksigen. Dampaknya anda akan memperoleh tidur yang lebih nyenyak dan kesehatan yang lebih baik.

Lakukan hobi anda, seperti memancing, mendaki gunung atau apapun yang anda senangi. Anda bisa juga melakukan petualangan yang belum pernah anda alami sebelumnya seperti berarung jeram misalkan.

Dengan banyak minum air putih akan membantu memulihkan tubuh kita dari kekurangan

cairan, karena kekurangan cairan dapat menimbulkan keletihan.

Lakukan meditasi. Para ahli kesehatan mengatakan bahwa alat yang sangat ampuh dalam mengatasi stress adalah meditasi. Meditasi sangat membantu membersihkan pikiran kita dan meningkatkan konsentrasi. Telah terbukti bahwa meditasi selama 15 menit sama dengan kita beristirahat selama 1 jam. Meskipun anda hanya melakukan meditasi selama 2 menit, tetap akan cukup membantu.

Ketika seseorang mengalami stress, suatu reaksi yang alamiah jika orang tersebut kemudian melampiaskannya dengan mengkonsumsi banyak makanan. Perlu anda ketahui bahwa mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi dapat meningkatkan kadar insulin di dalam tubuh, dimana insulin ini dapat membuat tubuh menjadi cepat lelah dan mood anda menjadi jelek.

Ketika tubuh kita sedang lelah, tidak mudah bagi kita dalam mengendalikan stress. Tidak cukup tidur akan mempengaruhi keseluruhan hari kita, dan biasanya kita mengalami hari yang buruk karena kurang tidur menyebabkan kita tidak dapat berkonsentrasi dan melihat suatu permasalahan lebih buruk dari yang seharusnya. Tidur yang baik bagi orang dewasa adalah 7 jam sehari

2. Pendekatan Organisasional

Beberapa penyebab stres adalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur

organisasi yang scmuanya dikendalikan oleh manajemen, schingga faktor-faktor itu

dapat diubah. Oleh karena itu strategi-strategi yang mungkin digunakan oleh

manajemen untuk mengurangi stres karyawannya adalah melalui seleksi dan

penempatan, penetapan tujuan, redesain pekerjaan, pengambilan keputusan

partisipatif, komunikasi organisasional, dan program kesejahteraan.

Melalui strategi tersebut akan menyebabkan karyawan memperoleh pekerjaan yang

sesuai dengan kemampuannya dan mereka bekerja untuk tujuan yang mereka

inginkan serta adanya hubungan interpersonal yang sehat serta perawatan terhadap

kondisi fisik dan mental. Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat

dikelompokkan mcnjadi strategi penanganan individual, organisasional dan dukungan

sosial (Margiati, 1999:77-78) 7

Kesimpulan

Bahwa stress yang dialami oleh seseorang di picu oleh faktor lingkungan

(ekonomi ,politik dan teknologi ) ,faktor organisasi (role demand, interpersonal

demands, dan organizational leadership) ,serta faktor pribadi (yang berasal dari dalam

keluarga) dapat mengakibatkan gangguan psikologis,fisiologis dan perilaku seseorang

dalam suatu organisasi dan lingkungan. Stres tidak dengan sendirinya harus buruk.

Walaupun stres lazimnya dibahas dalam konteks negatif, stres juga mempunyai nilai

positif. Stres merupakan suatu peluang bila stres itu menawarkan perolehan yang

potensial .

Adalah menjadi tugas manajemen agar karyawan mengelola stres kerja

(pendekatan individual dan organisasional) dan memiliki semangat kerja dan moril

yang tinggi serta ulet dalam bekerja. Biasanya karyawan yang puas dengan apa yang

diperolehnya dari perusahaan akan memberikan lebih dari apa yang diharapkan dan ia

akan terus berusaha memperbaiki kinerjanya. Dengan tercapainya kepuasan kerja

karyawan dan terhindarnya stres kerja maka produktivitas pun akan meningkat.

Oleh karena itu kepuasan kerja mempunyai arti penting baik bagi karyawan

maupun perusahaan, terutama karena menciptakan keadaan positif di dalam

lingkungan kerja perusahaan.

Daftar Pustaka

  • 1. Spielberg C.D. Test Anxiety : Theory, Assessment and Treatment. Washington D.C; USA; 1995; page 15

2.

Selye H. Stress Without Distress : How to Survive in a Stressful Society. Hodder and Stoughton, 1977; page 20

  • 3. Prof Dr.Gunarsa S.D. Dari Anak Sampai Usia Lanjut : Bunga Rampai Psikologi Anak. 2004 ; page 242

  • 4. Prof. Dr. Wibowo, SE., M.Phil. Manajemen Kinerja, Jakarta, 2007

  • 5. Prabowo, Hendro. 1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Depok : Universitas Gunadarma.

6.

Widyasari

P.

Spsi.

Stres

Kerja

diunduh

dari: