You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini, sekitar 1,5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna
terutama tipe LNH, dan dalam setahun sekitar 300 ribu orang meninggal
karena penyakit ini. Dari tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit ini juga
terus meningkat. Sekadar gambaran, angka kejadian LNH telah meningkat 80
persen dibandingkan angka tahun 1970-an. Data juga menunjukkan, penyakit
ini lebih banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada
rentang usia antara 45 sampai 60 tahun. Makin tua umur, makin tinggi risiko
terkena penyakit ini. Tapi secara umum, LNH bisa menyerang semua usia,
mulai dari anak-anak sampai orang tua. Sementara dari sisi jenis kelamin,
kasus LNH lebih sering ditemukan pada pria ketimbang wanita.Di Indonesia,
limfoma merupakan jenis kanker nomor enam yang paling sering ditemukan.
Sistem limfatik adalah bagian penting sistem kekebalan tubuh yang
memainkan peran kunci dalam pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan
kanker. Cairan limfatik adalah cairan putih mirip susu yang mengandung
protein, lemak dan limfosit (sel darah putih) yang semuanya mengalir ke
seluruh tubuh melalui pembuluh limfatik. Ada dua macam sel limfosit yaitu:
Sel B dan Sel T. Sel B membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan
jalan membuat antibodi yang menyerang dan memusnahkan bakteri.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Limfoma maligna?
2. Bagaimana etiologi dari limfoma maligna?
3. Jelaskan patofisiologi limfoma maligna!
4. Bagaimana klasifikasi dari limfoma maligna?
5. Sebutkan dan jelaskan stadium limfoma maligna!
6. Bagaimana manifestasi klinis dari limfoma maligna?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari limfoma maligna?
8. Bagaimana komplikasi dari limfoma maligna?
9. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien limfoma maligna?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas Sistem
Imunologi dan Hematologi.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mengetahui tentang limfoma maligna dan mengetahui
asuhan

keperawatan

pada

pasien

limfoma

maligna

dan

dapat

menerapkannya di rumah sakit.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Lymphoma maligna adalah neoplasma system lymphatic. Pembengkakan
getah bening diakibatkan semakin besarnya ukuran jaringan lympoid bersamsama dengan perkembangbiakan lymphocytes (seperti dalam infeksi) atau selsel leukemic dan sel-sel kanker. (Brunnerr and Sudarth, 2001 hal: 188).
Lymphoma maligna keganasan sel berasal dari sel limfoid, biasanya
diklasifikasikan sesuai derajat diffrensiasi dan asal sel ganas yang dominan
(Charlere J. Reves 1999, hal : 957)
Lymphoma maligna adalah keganasan sel yang berkenaan dengan system
getah bening (Manica Ester, 1999 hal : 397).

Lymphoma maligna adalah bentuk keganasan dari system limfatik yaitu


sel-sel limforetikuler seperti sel B, Sel T dan histiosit
B. Etiologi
Pada penyakit lymphoma maligna penyebab pasti belum diketahui tetapi ada
beberapa kemungkinan penyebabnya yaitu:
a. Faktor keturunan
b. Kelainan system kekebalan
c. Infeksi virus atau bakteri (HIV, virus human T-Cell leukemia / lymphoma
(HTLV), Epstein Barr Virus (EBV), Heli Cobacter SP)
d. Toksin lingkungan (Herbisida, pengawet dan pewarna kimia).
C. Patofisiologi
Proliferasi abmormal tumor dapat memberi kerusakan penekanan atau
penyumbatan organ tubuh yang diserang. Tumor dapat mulai di kelenjar getah
bening (nodal) atau diluar kelenjar getah bening (ekstra nodal).
Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal,
mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran
kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan, demam,
keringat malam. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. Namun tidak
semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Bisa saja
benjolan tersebut hasil perlawanankelenjar limfa dengan sejenis virus atau
mungkin tuberkulosis limfa.
Beberapa penderita mengalami demam Pel-Ebstein, dimana suhu tubuh
meninggi selama beberapa hari yang diselingi dengan suhu normal atau di
bawah normal selama beberapa hari atau beberapa minggu. Gejala lainnya
timbul berdasarkan lokasi pertumbuhan sel-sel limfoma.
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada lymphoma maligna ini secara fisik dapat timbul
benjolan yang kenyal, mudah digerakan (pada leher, ketiak atau pangkal
paha). Pembesaran kelenjar tadi dapat di mulai dengan gejala:
a. Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38 C
b. Sering berkeringat malam
c. Penurunan nafsu makan
d. Kehilangan berat badan lebih dari 10 % dalam 6 bulan
e. Kelemahan, keletihan

f. Anemia, infeksi, dan pendarahan dapat dijumpai pada kasus yang


mengenai sumsum tulang secara difus.
E. Klasifikasi
Lymphoma maligna dapat dilasifikasikan menjadi dua:
1. Lymphoma Hodgkin
Limfoma Hodgkin adalah kanker jaringan limfoid, biasanya kelenjar limfe
dan limfa. Penyakit ini adalah salah satu kanker yang tersering dijumpai
pada orang dewasa muda, terutama pria muda. Limfoma jenis ini memiliki
dua tipe. yaitu tipe klasik dan tipe nodular predominan limfosit, di mana
limfoma hodgkin tipe klasik memiliki empat subtipe menurut Rye, antara
lain:

2.

Nodular Sclerosis

Lymphocyte Predominance

Lymphocyte Depletion

Mixed Cellularity

Lymphoma non Hodgkin


Limfoma non-Hodgkin adalah kelompok keganasan primer limfosit yang
dapat berasal dari limfosit B, limfosit T dan kadang berasal dari sel NK
(natural killer) yang berada dalam sistem limfe. Pada NHML sebuah sel
limfosit berproliferasi secara tak terkendali yang mengakibatkan
terbentuknya tumor.
Formulasi Kerja (Working Formulation) membagi limfoma non-hodgkin
menjadi tiga kelompok utama, antara lain:

Limfoma Derajat Rendah


Kelompok ini meliputi tiga tumor, yaitu limfoma limfositik kecil,
limfoma folikuler dengan sel belah kecil, dan limfoma folikuler
campuran sel belah besar dan kecil.

Limfoma Derajat Menengah


Ada empat tumor dalam kategori ini, yaitu limfoma folikuler sel besar,
limfoma difus sel belah kecil, limfoma difus campuran sel besar dan
kecil, dan limfoma difus sel besar.

Limfoma Derajat Tinggi


Terdapat tiga tumor dalam kelompok ini, yaitu limfoma imunoblastik
sel besar, limfoma limfoblastik, dan limfoma sel tidak belah kecil.

F. Stadium Limfoma Maligna


Penyebaran lymphoma maligna dapat dikelompokan dalam empat (4) stadium:
1. Stadium I: Penyebaran lymphoma hanya terdapat pada satu kelompok
yaitu kelenjar getah bening
2. Stadium I: Penyebaran lymphoma menyerang dua atau lebih kelompok
kelenjar getah bening, tati hanya pada satu sisi.
3. Stadium III: Penyebaran lymphoma menyerang dua atau lebih kelompok
kelenjar getah bening, serta pada dada dan perut
4. Stadium IV: Penyebaran lymphoma selain pada kelenjar getah bening
dapat juga mengenai tulang, hati, paru-paru dan otak.
5. Kategori A: Tidak terjadi demam terus menerus/berulang, keringat malam,
atau kehilangan berat badan secara mendadak.
6. Kategori B: Terdapat seluruh gejala yang telah disebut dalam kategori A.
G. Komplikasi
Ada dua jenis komplikasi yang dapat terjadi pada penderita limfoma maligna,
yaitu komplikasi karena pertumbuhan kanker itu sendiri dan komplikasi
karena penggunaan kemoterapi.
Komplikasi karena pertumbuhan kanker itu sendiri dapat berupa pansitopenia,
perdarahan, infeksi, kelainan pada jantung, kelainan pada paru-paru, sindrom
vena cava superior, kompresi pada spinal cord, kelainan neurologis, obstruksi
hingga perdarahan pada traktus gastrointestinal, nyeri, dan leukositosis jika

penyakit sudah memasuki tahap leukemia. Sedangkan komplikasi akibat


penggunaan kemoterapi dapat berupa pansitopenia, mual dan muntah, infeksi,
kelelahan, neuropati, dehidrasi setelah diare atau muntah, toksisitas jantung
akibat penggunaan doksorubisin, kanker sekunder, dan sindrom lisis tumor.
H. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mendeteksi limfoma harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening
yang terkena, untuk menemukan adanya sel Reed-Sternberg. Untuk
mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET
scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah. Biopsi atau penentuan
stadium adalah cara mendapatkan contoh jaringan untuk membantu dokter
mendiagnosis Limfoma. Ada beberapa jenis biopsy untuk mendeteksi limfoma
maligna:
1. Biopsi kelenjar getah bening, jaringan diambil dari kelenjar getah bening
yang membesar
2. Biopsi aspirasi jarum-halus, jaringan diambil dari kelenjar getah bening
dengan jarum suntik. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau
respon terhadap pengobatan.
3. Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul
untuk melihat apakah Limfoma telah melibatkan sumsum tulang.
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui berbagai cara,
yaitu:
a. Pembedahan
b. Radioterapi
Teknik radiasi yang digunakan didasarkan pada stadium limfoma itu
sendiri, yaitu:
Untuk stadium I dan II secara mantel radikal
Untuk stadium III A/B secara total nodal radioterapi
Untuk stadium III B secara subtotal body irradiation
Untuk stadium IV secara total body irradiation
c. Kemoterapi
d. Imunoterapi
e. Transplantasi sumsum tulang

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala: Kelelahan,

kelemahan,

atau

malaise

umum.

Kehilangan

produktivitas dan penurunan toleransi latihan. Kebutuhan tidur dan


istirahat lebih banyak.
Tanda: Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban, dan kelelahan
b. Sirkulasi
Gejala: Palpitasi, angina / nyeri dada.
Tanda: Takikardia, distrimia. Sianosis wajah dan leher (Obstruksi drainase
vena karena pembesaran nodus limfe adalah kejadian yang jarang) ikterus
sklera dan ikterik umum sehubungan dengan kerusakan hati dan obsruksi
nodus limfe, pucat (aremia) diaforensis, keringat malam.
c. Integritas Ego
Gejala: Faktor stress, takut/ansietas sehubungan dengan diagnosis dan
kemungkinan takut mati.
Tanda: Berbagi prilaku, missal marah, menarik diri , pasif.
d. Eliminasi
Gejala: Perubahan karakteristik urin dan peces. Riwayat obstruksi usus
contohnya sindrom malabsorpsi
Tanda: Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran pada hati
(hepatomegali), nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan pembesaran pada
limpa (splenomegali), penurunan haluaran urin, urin gelap / pekat, anuria
(obstruksi uretra/gagal ginjal) disfungsi usus dan kandung kemih.
7

e. Makanan / Cairan
Gejala: Anorexia/kehilangan nafsu makan, disfagia (tekanan pada
esophagus).
Adanya penurunan berat badan sampai dengan 10 % atau lebih selam 6
bulam.
Tanda: Pembengkakan pada wajah, leher, rahang atau tangan kanan.
Ekstremitas : adema ekstreminitas bawah sehubungan dengan obstruksi
vena cava inferior dari pembesaran nodus limfa intra abdominal, asites.
f. Neorosensori
Gejala: Nyeri saraf (Neoralgia) menunjukan kompresi saraf oleh
pembesaran nodus limfa pada brakial, lumbal, dan pleksus sakral,
kelemahan otot dan parestesia.
Tanda: Status mental: letargi, menarik diri, paraplegia (kompresi batang
spinal, dari tubuh vertebra, keterlibatan diskus pada kompresi/regenerasi
atau kompresi suplai darah terhadap batang spinal).
g. Nyeri Kenyamanan
Gejala: Nyeri tekan/nyeri pada nodus limfa yang terkena, misalnya nyeri
dada, nyeri punggung, nyeri tulang umum, nyeri segera pada area yang
terkena setelah minum alkohol.
Tanda: Fokus pada diri sendiri ; prilaku berhati-hati.
h. Pernapasan
Gejala: Dipsnea pada kerja atau istirahat ; nyeri dada.
Tanda: Dispnea: takikardia, batuk kering non produktif, tanda distress
pernapasan, contoh peningkatan prekwensi pernapasan dan kedalaman,
penggunaan otot Bantu, stridor sianosis, para/paralysis laryngeal. (tekanan
dari pembesaran nodus pada saraf laryngeal).
i. Keamanan
Gejala: Riwayat adanya infeksi, riwayat

mononukleus,

riwayat

ulkus/perforasi pendarahan gaster, periode demam: keringat malam tanpa


menggigil.
Tanda: Demam menetap dengan suhu 38 C tanpa gejala infeksi, nodus
limfe simetris, membengkak atau membesar, nodus dapat terasa keras dan
kenyal, pruritas umum.
j. Seksualitas
Gejala: Masalah tentang fertilitas/kehamilan (sementara penyakit tidak
mempengaruhi, tetapi pengobatan mempengaruhi) dan penurunan libido.

k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Faktor resiko keluarga, pekerjaan terpajang pada herbisida
(pekerjaan kayu/kimia).
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi.
2. Hipertermia berhubungan dengan tidak efektifnya termoregulasi sekunder
terhadap inflamasi.
3. Ketidakseimbangan

nutrisi:

lebih

sedikit

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan anoreksia/ penurunan nafsu makan .


4. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
pembesaran nodus medinal/edema jalan nafas.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi terhadap
penyakit.
C. Intervensi
No
1

Dx

Tujuan dan kriteria


hasil

Intervensi

Rasional

Dx 1 a. Skala nyeri 0-3


1. Kaji skala nyeri 1.Untuk mengetahui skala
b.Wajah klien tidak
dengan PQRST.
nyeri klien dan untuk
meringis
mempermudah dalam
c. Klien
tidak
menentukan intervensi
memegang daerah
selanjutnya.
nyeri.
2. Ajarkan
klien 2.Teknik relaksasi dan
teknik
relaksasi
distraksi
yang
dan distraksi.

diajarkan kepada klien,


dapat membantu dalam
mengurangi
klien

persepsi

terhadap

nyeri

yang dideritanya.
3.Obat analgetik dapat
3. Kolaborasi dalam
pemberian
analgetik.

obat

mengurangi

atau

menghilangkan

nyeri

yang diderita oleh klien

Dx 2

Suhu

tubuh

dalam 1. Observasi

batas normal (35,9-

suhu 1. Dengan

tubuh klien.

memantau

suhu tubuh klien dapat

37,5 derajat celcius).

mengetahui

keadaan

klien dan juga dapat


2. Berikan

kompres

hangat pada dahi,


aksila, perut dan

tubuh klien.
dan 3. Dengan

banyak

minum

minum

diharapkan

yang

banyak

dapat

membantu

kepada

klien

(sesuai

dengan
cairan

pemberian
antipiretik.
Menunjukkan
peningkatan

1. Kaji
BB/

BB stabil.
Nafsu makan klien
meningkat
Klien menunjukkan

dapat
suhu

tubuh klien).
4. Kolaborasi dalam

Dx 3

dengan tepat.
2. Kompres

berikan

kebutuhan

tindakan

menurunkan

lipatan paha.
3. Anjurkan

mengambil

nutrisi,

keseimbangan cairan
dalam tubuh klien.
4. Antipiretik

dapat

menurunkan

suhu

tubuh.
riwayat 1. Mengidentifikasi

termasuk

defisiensi nutrisi dan

yang

juga untuk intervensi

makanan
disukai.
2. Observasi
catat

menjaga

selanjutnya.
dan 2. Mengawasi masukan
masukan

kalori.

perilaku perubahan

makanan klien.
3. Mengawasi penurunan
pola hidup untuk 3. Timbang
berat
berat
badan
dan
mempertahankan
badan klien tiap
efektivitas intervensi
berat badan yang
hari.
nutrisi.
sesuai.
4. Berikan
makan 4. Meningkatkan
sedikit

namun

frekuensinya

pemasukan

kalori

secara total dan juga

10

sering.

untuk

5. Kolaborasi dalam

distensi gaster.
5. Meningkatkan
masukan protein dan

pemberian
4

mencegah

kalori.
suplemen nutrisi.
Dx 4 Klien dapat bernafas 1. Kaji
frekuensi 1. Perubahan
dengan
normal/efektif.
Klien bebas dari

dapat

pernafasan,

mengindikasikan

kedalaman, irama.

berlanjutnya
keterlibatan/pengaruh

dispnea, sianosis.
Tidak terjadi tanda

pernafasn

yang

membutuhkan

distress pernafasan.

upaya

intervensi.
2. Tempatkan pasien
pada

posisi

nyaman, biasanya
dengan

kepala

tempat

tidur

tinggi/atau duduk
tegak

ke

2. Pemaksimalkan
ekspansi

paru,

menurunkan

kerja

pernafasan,

dan

menurunkan

resiko

aspirasi.

depan

kaki digantung.
3. Bantu
dengan 3. Membantu
meningkatkan
teknik nafas dalam

difusi

dan

atau

gas dan ekspansi jalan

pernafasan

bibir

nafas

kecil,

memberikan

klien

/diafragma.
Abdomen

bila

diindikasikan.

beberapa

kontrol

terhadap

pernafasan,

membantu

4. Kaji

respon

menurunkan ansietas.
4. Penurunan oksigenasi
selular

menurunkan

11

pernafasan

toleransi aktivitas.

terhadap aktivitas.

Dx 5 a. Klien dan keluarga 1. Berikan


klien

dapat

memahami

proses

penyakit klien.
b.Klien dan keluarga

1. Memudahkan

komunikasi
terapiutik

melakukan
kepada

klien dan keluarga

klien.
klien mendapatkan 2. Berikan
informasi yang jelas

mengenai

tentang

penyakitnya

penyakit

yang diderita oleh


klien.
c. Klien dan keluarga
klien
mematuhi

KIE
proses

kepada klien dan


keluarga klien.

dalam
prosedur

terapiutik

kepada

klien.
2. Klien

dan

keluarga

klien

dapat

mengetahui

proses

penyakit yang diderita


oleh klien.

dapat
proses

terapiutik yang akan


dilaksanakan.

D. Implementasi
a. Diagnosa 1
1) Mengkaji skala nyeri pasien dengan PQRST
2) Mengajarkan klien teknik relaksasi dan distraksi.
3) Memberikan obat analgetik.
b. Diagnosa 2
1) Mengobservasi suhu tubuh klien.
2) Memberikan kompres hangat pada dahi, aksila, perut dan lipatan paha.
3) Menganjurkan dan memberikan minum yang banyak kepada klien
(sesuai dengan kebutuhan cairan tubuh klien).
4) Memberikan antipiretik.
c. Diagnosa 3
1) Mengkaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai oleh klien.
2) Mengobservasi dan catat masukan makanan klien.
3) Menimbang berat badan klien tiap hari.
12

4) Memberikan makan sedikit namun frekuensinya sering.


5) Memberikan suplemen nutrisi.
d. Diagnosa 4
1) Mengkaji frekuensi pernafasan, kedalaman, irama pernafasan klien.
2) Menempatan pasien pada posisi nyaman, biasanya dengan kepala
tempat tidur tinggi/atau duduk tegak ke depan kaki digantung.
3) Membantu dengan teknik nafas dalam dan atau pernafasan
bibir/diafragma. Abdomen bila diindikasikan.
4) Mengkaji respon pernafasan terhadap aktivitas
e. Diagnosa 5
1) Memberikan komunikasi terapiutik kepada klien dan keluarga klien.
2) Memberikan KIE mengenai proses penyakitnya kepada klien dan
keluarga klien

E. Evaluasi
1. Nyeri klien dapat teratasi sehingga kebutuhan kenyamanan klien
terpenuhi.
2. Klien mampu menunjukan tidak adanya tanda-tanda hipertermy, suhu
tubuh klien dalam rentang normal.
3. Kebutuhan nutrisi terpenuhi dan poliphagi dapat dicegah sehingga tubuh
tidak kekurangan nutrient hasil metabolisme dalam bentuk glucagon dalam
otot.
4. Pernafasan klien bisa kembali normal baik dari frekuensi pernafasan,
kedalaman, irama pernafasan klien.
5. Klien mampu memberikan gambaran baik secara umum maupun khusus
mengenai masalah kesehatannya. Sehingga klien kooperatif dalam
perawatan yang didapat.

13

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Limfoma adalah kanker yang berasal dari jaringan limfoid mencakup sistem
limfatik dan imunitas tubuh. Tumor ini bersifat heterogen, ditandai dengan
kelainan umum yaitu pembesaran kelenjar limfe diikuti splenomegali,
hepatomegali, dan kelainan sumsum tulang. Tumor ini dapat juga dijumpai
ekstra nodal yaitu di luar sistem limfatik dan imunitas antara lain pada traktus
digestivus, paru, kulit, dan organ lain.
Limpoma Hodgkin merupakan limpoma maligna yang khas di tandai adanya
sel read Sternberg dengan latar belakang sel-sel radang pleomorf.
Limfoma Non-Hodgkin adalah sekelompok keganasan (kanker) yang berasal
dari sistem kelenjar getah bening dan biasanya menyebar ke seluruh tubuh.
Beberapa dari limfoma ini berkembang sangat lambat (dalam beberapa tahun),
sedangkan yang lainnya menyebar dengan cepat (dalam beberapa bulan).
Penyakit ini lebih sering terjadi dibandingkan dengan penyakit Hodgkin.
Limfoma maligna non-Hodgkin atau Limfoma non-Hodgkin adalah suatu
keganasan kelenjar limfoid yang bersifat padat. Limfoma nonhodgkin hanya
dikenal sebagai suatu limfadenopati lokal atau generalisata yang tidak nyeri.
Namun sekitar sepertiga dari kasus yang berasal dari tempat lain yang
mengandung jaringan limfoid (misalnya daerah orofaring, usus, sumsum
tulang, dan kulit). Meskipun bervariasi semua bentuk limfoma mempunyai
potensi untuk menyebar dari asalnya sebagai penyebaran dari satu kelenjar
kekelenjar lain yang akhirnya menyebar ke limfa, hati, dan sumsum tulang.
B. Saran
Dengan melihat pembahasan dan mengetahui dampak dari penyakit limpoma
maligna, maka kita harus menyadari betapa pentingnya kita untuk menjaga

14

kesehatan, dengan cara menghindari gaya hidup yang tidak sehat sehat, seperti
menghindari makanan yang berlemak, mengonsumsi alcohol, dan lain lain.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Sudarth. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Volume 1. Jakarta: EGC


Marilynn E Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC
Rosernberg, Martha Craft & Smith, Kelly. 2010. Nanda Diagnosa Keperawatan.
Yogyakarta: Digna Pustaka.
Muttaqin Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
PDF

Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: Salemba Medika.


Limfoma Maligna. jurnal.fk.unand.ac.id/images/articles/n128-130.pdf.

Diakses: Tanggal 09 November 2014. Pukul 10.18 WITA


PDF Limfoma Maligna.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34402/3/Chapter%20II.pdf.
Diakses: Tanggal 09 November 2014. Pukul 10.22 WITA
Anonim Limfoma Maligna. http://www.dragung.com/2013/03/non-hodgkinlymphoma-maligna-nhml.html. Diakses: Tanggal 09 November 2014. Pukul
10.30 WITA

15