You are on page 1of 8

1.

APPENDICITIS
NO
1

JENIS
ISI INFORMASI
INFORMASI
Diagnosis
- Appendicitis
(WD dan DD) - DD:
o Umum:
Urolitiasis pielum/ureter dextra
Diverkulitis
Inflamatory bowel disease
Tumor caecum
o Wanita:
Adnexitis
Kehamilan Ektopik Terganggu
Dasar
Anamnesis:
Diagnosis
- Nyeri perut
- Nyeri di epigastrium berpindah ke RLQ
- Mual
- Muntah
- Tidak nafsu makan
- Demam
- Diare
- Konstipasi
Pemeriksaan fisik:
- Gejala-gejala rangsangan peritoneum dengan pusat di daerah
McBurney:
o Nyeri pada tekanan intra abdominal
o Nyeri tekan dengan defans muskuler
- Rebound phenomen
- Rovsing sign

- Blumberg sign
- Tenhorn sign
- Psoas sign

The psoas sign. Pain on


passive extensi on of the
right thigh. Patient lies on
left side. Examiner extends
patient's right thigh while
applying counter resistance
to the right hip (asterisk).
- Obturator sign

Anatomic basis for the


psoas sign: inflamed
appendix is in a
retroperitoneal location in
contact with the psoas
muscle, which is stretched
by this maneuver.

The obturator sign. Pain on


Anatomic basis for the obturator
passive internal rotation of the sign: inflamed appendix in the
flexed thigh. Examiner moves pelvis is in contact with the
lower leg laterally while
obturator internus muscle, which
applying resistance to the
is stretched by this maneuver.
lateral side of the knee
(asterisk) resulting in internal
rotation of the femur.
- Colok dubur (nyeri pada jam 10 11)
Pemeriksaan laboratorium:
- Terjadi leukositosis
o 10.000 - 15.000/L
o Perforasi/Abces >20.000
- Kemungkinan ditemukan eritrosit dan leukosit pada urine
appendicitis retrocaecal/ appendicitis pelvis
Pemeriksaan radiologi:
- Foto polos abdomen
o Localized air fluid levels

o Localized ileus
o Peningkatan kepadatan soft tissue di RLQ 50 % pasien
dengan apendisitis akut yang masih awal
o Kemungkinan ditemukan fecalith
o Garis yang abnormal pada area Flank dextra
- USG
o Untuk membedakan dg kelainan lainnya
o Untuk pasien yang obesitas
o Telah terjadi perforasi / abses
o Khas gambaran seperti donat
o Evaluasi terhadap lumen apendiks

- Appendicogram
o Melihat lumen apendiks yang terisi kontras
o Kontras diminum 10-12 jam, dilakukan foto untuk melihat
pengisian kontras kedalam apendiks
o Jika terisi berarti apendiks normal
o Tidak terisi berarti ada sumbatan di muara apendiks
- CT scan
o Sensitivities of 97-100%
o Specificity of 95%
o Accuracy rate of 98%
o Untuk appendicitis abcess
o Bantuan diagnosis kelainan lainnya

Tindakan
Kedokteran

- Appendictomy
Management of suspected appendicitis

Concl
APPE
usive
NDIC
featur
TOM
e of
Y
appe
ndiciti
s

Right
Other
Inc
Iliac
Rev
cause
onc
Fossa
Tre
Still
iew
appar
lusi
at
USG
Inco
Pain
peri
ent:
ve
&
nclu
odic
labor
sive
ally
atori
um
test

Acc
UTI,
ordi
mese
ngly
nteric
adenit
is,
Consti
pation
, etc

Removing of appendix

Indikasi
Tindakan

Tata Cara

Tujuan

Apendisitis akut
Periapendikuler infiltrat
Apendisitis perforata
Informed consent
Posisi pasien supine, dengan general anestesi
Disinfeksi dengan povidon iodine dan persempit lapangan operasi
dengan doek steril
Insisi mid transversal umbilikal kanan
Dilakukan appendictomy
Tutup kulit lapis demi lapis
Operasi selesai
Nyeri berkurang
Mengurangi atau menghilangkan sumber nyeri, sumber infeksi,
keluhan pasien

Risiko

Komplikasi

Prognosis

10

Alternatif

- Menurunkan risiko perforasi


- Durante operasi: perdarahan intra peritoneal, dinding perut, robekan
sekum atau usus lain
- Pasca bedah dini: perdarahan, infeksi, hematom, ileus paralitik,
peritonitis, fistel usus, abses intraperitoneal
- Pasca bedah lanjut: streng ileus, hernia sikatrikalis
- Periapendikuler infiltrat
- Periapendikuler abses
- Apendsitis perforata / peritonitis
- Abses hepar
Mortalitas:
- 0,1 % jika apendiks tidak perforasi
- 15 % jika telah terjadi perforasi
- Kematian tersering oleh karena sepsis, emboli paru, atau aspirasi
Bila tidak ada fasilitas bedah, berikan penatalaksanaan seperti dalam
peritonitis akut sehingga gejala apendisitis akut akan mereda dan
kemungkinan terjadinya kompliasi akan berkurang.

2. FOOT DIABETIC
N
O
1

JENIS
ISI INFORMASI
INFORMA
SI
Diagnosis
Foot diabetic
(WD dan
DD)
Dasar
Anamnesis:
Diagnosis - Akut:
o Pain (nyeri)
o Paleness (kepucatan)
o Parestesia (kesemutan)
o Pulselessness (denyut nadi hilang)
o Paralysis (lumpuh)
o Prostration (kelesuan)
- Kronik:
o Stadium I: asimptomatis atau gejala tidak khas (kesemutan)
o Stadium II: terjadi klaudikasio intermiten
o Stadium III: timbul nyeri saat istitrahat
o Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia (ulkus)
Pemeriksaan fisik:
- Pemeriksaan ulkus dan keadaan umum ekstremitas
o Ulkus diabet mempunyai kecenderungan terjadi pada beberapa
daerah yang menjadi tumpuan beban terbesar
o Callus hipertropik
o Kuku yang rapuh/pecah
o Hammer toes

o Fissure
- Penilaian kemungkinan isufisiensi vaskuler
- Penilaian kemungkinan neuropati perifer
Pemeriksaan laboratorium:
- Pemeriksaan darah: lekositosis mungkin menandakan adanya abses atau
infeksi lainnya pada kaki. Penyembuhan luka dihambat oleh adanya
anemia. Adanya insufisiensi arterial yang telah ada, keadaan anemia
menimbulkan nyeri saat istirahat.
- Profil metabolik: pengukuran kadar glukosa darah, glikohemoglobin dan
kreatinin serum membantu untuk menentukan kecukupan regulasi
glukosa dan fungsi ginjal
- Pemeriksaan laboratorium vaskuler noninvasif: Pulse Volume Recording
(PVR), atau plethymosgrafi.

Pemeriksaan radiologi:
Foto polos pada kaki diabetik dapat menunjukkan demineralisasi dan
sendi Charcot serta adanya ostomielitis
CT scan atau MRI dapat digunakan untuk membantu diagnosis abses
apabila pada pemeriksaan fisik tidak jelas
Bone scaning
Arteriografi konvensional: apabila direncanakan pembedahan vaskuler
atau endovaskuler, arteriografi diperlukan untuk memperlihatkan luas
dan makna penyakit atherosklerosis
Magnetic Resonance Angiography (MRA): digunakan pada penderita
resiko tinggi atau penderita yang alergi bahan kontras
Multidetector Computed Tomographic Angiography (MDCT):
menghindari penusukan arteri
Carbondioxide Angiography: pada penderita dengan insufisiensi renal
Plain radiografi: tidak digunakan untuk pemeriksaan rutin pada penyakit
arteri perifer oklusif

6
7
8

10

Tindakan
Kedokteran

Tindakan bedah
-Bedah minor: insisi dan penyaluran abses, debrideman, dan nekrotomi
- Amputasi
- Bedah vaskular: embolektomi, endarteriektomi, rekonstruksi vaskular
Indikasi
Berdasarkan berat ringannya penyakit menurut Wagner maka tindakan
Tindakan
pengobatan atau pembedahan dapat ditentukan sebagai berikut:
- Derajat 0: perawatan lokal secara khusus tidak ada
- Derajat I - V: pengelolaan medik dan bedah minor
Tata Cara
- Informed consent
- Posisi pasien supine, dengan general anestesi
- Disinfeksi dengan povidon iodine dan persempit lapangan operasi
dengan doek steril
- Insisi dan drainage abses
- Dilakukan amputasi
- Tutup dengan kasa
- Operasi selesai
Tujuan
- Pencegahan komplikasi atau kelainan kaki
Risiko
- Komplikasi atau kelainan kaki
Komplikasi - Gangren
- Kalus
- Kulit melepuh
- Kuku kaki yang tumbuh ke dalam
- Pembengkakan ibu jari
- Pembengkakan ibu jari kaki
- Plantar warts
- Jari kaki bengkok
- Kulit kaki kering dan pecah
- Kaki atlet
Prognosis
Sangat tergantung dari usia karena semakin tua usia penderita DM
semakin mudah untuk mendapatkan masalah yang serius pada kaki dan
tungkainya, lamanya menderita DM, adanya infeksi yang berat, derajat
kualitas sirkulasi, dan keterampilan tenaga medis atau paramedis.
Alternatif - Diet dan pengendalian berat badan
- Olahraga teratur
- Pemantaunan kadar glukosa darah
- Terapi insulin
- Edukasi
- Kontrol nutrisi dan metabolik
- Meminimalkan beban berat