You are on page 1of 3

27

BAB 3
PEMBAHASAN
Pasien datang ke poli kulit RSUD Jombang pada tanggal 06 Oktober 2015
dengan keluhan nyeri bagian dada dan pundak. Nyeri dirasakan kurang lebih
sejak 4 hari yang lalu, bersamaan dengan timbulnya bintik-bintik berisi cairan
yang awalnya hanya di dada kemudian menyebar ke pundak kanan, lengan tangan
kanan serta leher belakang. Pasien juga mengeluh merasakan panas dan gatal.
Tidak terdapat timbulnya kelainan kulit yang serupa di lokasi lainnya. Dengan
melihat lesi, tampak pada regio thoraxal dextra anterior dan posterior, colli
posterior dan brachii dextra terdapat vesikel berkelompok dengan dasar makula
eritematosa batas jelas, bentuk tidak teratur dan diantara vesikel terdapat kulit
normal unilateral serta predileksi sesuai dengan dermatoma.
Lesi yang terlihat cukup karakteristik untuk herpes zoster, yang mana
timbul gejala kulit yang unilateral, bersifat dermatomal sesuai dengan persarafan.
Pasien juga mengatakan bahwa daerah dada, pundak, leher serta lengan tangan
kanan terasa sakit. Lesi yang timbul juga khas berupa vesikel yang berkelompok,
dengan dasar berupa kulit yang eritematosa (kemerahan). Keseluruhan
penampakan kulit maupun gejala subjektif berupa nyeri sangat menyokong ke
arah herpes zoster, mengingat penyakit ini memiliki perjalanan berupa masa tunas
7-12 hari, dengan timbulnya lesi dalam 1 minggu berikutnya, kemudian masa
penyembuhan sendiri selama 1-2 minggu berikutnya. Pada pasien ini, keterlibatan
dermatomal yang terlibat adalah C3, C4, dan C5.
Pada reaktivasi herpes zoster, perlu ditanyakan gejala prodromal. Gejala
prodromal yang dirasakan pasien sebelum timbulnya nyeri dan lesi adalah gejala
demam. Setelah yakin bahwa terjadi reaktivasi herpes zoster, perlu dipikirkan

28

mengapa terjadi reaktivasi. Pada literatur (Fitzpatrick) dikatakan bahwa tidak


jelas sebetulnya pemicu reaktivasi, namun herpes zoster dapat terjadi akibat
penurunan fungsi sistem imun, seperti yang ditemui pada seorang berusia di atas
50 tahun.
Dari identitas pasien diketahui usia pasien 56 tahun dan bekerja sebagai ibu
rumah tangga. Kesemua faktor ini diduga dapat menjadi pemicu reaktivasi herpes
zoster.
Herpes zoster merupakan suatu reaktivasi akibat infeksi awal yang
bermanifestasi sebagai varicella zoster (cacar air). Pada pasien ini didapatkan
riwayat cacar air dimasa kecilnya. Dengan demikian jelaslah bahwa infeksi primer
pada pasien ini telah terjadi.
Pasien kemudian

diberikan

pengobatan,

berupa

edukasi

dan

medikamentosa. Edukasi yang dapatdiberikaan adalah perlakuan terhadapap lesi,


untuk lesi yang timbul jangan digaruk sebab dapat menimbulkan infeksi sekunder
dan dapat menimbulkan jaringan parut atau skar. Pasien juga dianjurkan
mengurangi sementara aktivitas fisik

yang berlebihan sebab saat ini pasien

sedang mengalami nyeri dan tingginya aktivitas fisik dapat meningkatkan gesekan
maupun trauma pada lesi yang dapat menjadi penyebab pecahnya lesi.
Pasien perlu diedukasi bahwa pada orang yang belum pernah mengalami
cacar air, dapat terjadi penyebaran virus VZV ke pejamu lain, yang dapat
menimbulkan varicela pada orang lain. Dengan demikian dalam fase ini sebaiknya
pasien tidak membiarkan anak-anak ataupun orang yang belum pernah mengalami
varicela sebelumnya untuk berdekatan dengan pasien dan menyarankan pasien
untuk menggunakan masker.
Terapi medikamentosa yang diberikan berupa asiklovir 5 x 800 mg yang
diberikan selama 7 hari. Terapi dapat diberikan secara efektif pada 72 jam
setelah lesi terakhir muncul, yang pada pasien ini masih terpenuhi (onset hari ke-

29

4). Perlu diingat pula bahwa konsumsi obat harus teratur, termasuk penggunaan
atau pengkonsumsian obat sesuai jam-jamnya (tepat waktu), sebab pemberian
asiklovir sebanyak 5 kali dalam sehari. Untuk nyeri yang timbul pada pasien
diberikan asam mefenamat (3x500 mg) sebagai analgesik, obat asam mefenamat
dapat diberikan jika keluhan pasien seperti nyeri masih dirasakan. Pasien
kemudian dianjurkan untuk kontrol selama 7 hari setelah obat habis diharapkan
kembali ke poli kulit dan kelamin untuk pemeriksaan oleh dokter untuk melihat
perbaikan pada pasien.