You are on page 1of 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Definisi Evaporasi
Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut
sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih
tinggi. Tujuan dari evaporasi itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan
yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut yang
mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi , pelarutnya adalah
air. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa
penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat viskos,
dan bukan zat padat. Begitu pula, evaporasi berbeda dengan distilasi,
karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun uap itu
merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk
memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Biasanya dalam evaporasi, zat cair
pekat itulah yang merupakan produk yang berharga dan uapnya biasanya
dikondensasikan dan dibuang (Frayekti, 2012).
Proses evaporasi terdiri dari dua peristiwa yang berlangsung :
1. Interface evaporation, yaitu transformasi air menjadi uap air di
permukaan tanah. Nilai ini tergantung dari tenaga yang tersimpan
2. Vertikal vapour transfers, yaitu perpindahan lapisan yang jenuh
dengan uap air dari interface ke uap (atmosfer bebas)
(Frayekti, 2012)

Besar kecilnya penguapan dari permukaan air bebas dipengaruhi


oleh beberapa faktor yaitu:
a. Kelembaban udara (semakin lembab semakin kecil penguapannya)
b. Tekanan udara
c. Kedalaman dan luas permukaan, semakin luas semakin besar
penguapannya
d. Kualitas air, semakin banyak unsur kimia, biologi dan fisika, penguapan
semakin kecil.
e. Kecepatan angin
f. Topografi, semakin tinggi daerah semakin dingin dan penguapan
semakin kecil
g. Sinar matahari
h. Temperatur
(Frayekti, 2012)

Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid


(cairan) dengan penambahan panas. Panas dapat disuplai dengan
berbagai cara, diantaranya secara alami dan penambahan steam.
Evaporasi didasarkan pada proses pendidihan dengan cara intensif, yaitu
(Robert B. Long, 1995):
- Pemberian panas ke dalam cairan.
Makin tinggi pressure makin besar panas yang dibutuhkan jadi
pressure perlu diturunkan untuk mendapatkan kondisi operasi yang
II-1

II-2
Bab II Tinjauan Pustaka

optimal.
- Pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap.
Peristiwa bubbling yaitu terbentuknya nukleat sebagai awal pembentukan
gelembung.
- Pemisahan uap dari cairan.
Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan
kalor ke dalam zat cair mendidih. Perbedaan evaporasi dengan proses lain adalah
(Frayekti, 2012):
Evaporasi dengan pengeringan.
Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa
penguapan adalah zat cair kadang-kadang zat cair yang sangat viskos
dan bukan zat padat. Perbedaan lainnya adalah, pada evaporasi cairan yang
diuapkan dalam kuantitas relatif banyak, sedangkan pada pengeringan
sedikit.
Evaporasi dengan distilasi.
Evaporasi berbeda pula dari distilasi, karena uapnya biasa dalam komponen
tunggal, dan walaupun uap itu dalam bentuk campuran, dalam proses
evaporasi ini tidak ada usaha unutk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi.
Selain itu, evaporasi biasanya digunakan untuk menghilangkan pelarutpelarut volatil, seperti air, dari pengotor nonvolatil. Contoh pengotor
nonvolatil seperti lumpur dan limbah radioaktif. Sedangkan distilasi
digunakan untuk pemisahan bahan-bahan nonvolatil.
Evaporasi dengan kristalisasi.
Evaporasi lain dari kristalisasi dalam hal pemekatan larutan dan bukan
pembuatan zat padat atau kristal. Evaporasi hanya menghasilkan lumpur
kristal dalam larutan induk (mother liquor). Evaporasi secara luas biasanya
digunakan untuk mengurangi volume cairan atau slurry atau untuk
mendapatkan kembali pelarut pada recycle. Cara ini biasanya menjadikan
konsentrasi padatan dalam liquid semakin besar sehingga terbentuk kristal.
(Frayekti, 2012)

Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau


keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap.
Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk
memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya terdiri dari
tiga bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi (tempat di mana cairan
mendidih lalu menguap), dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu
dimasukkan ke dalam kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke
peralatan lainnya. Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-3
Bab II Tinjauan Pustaka

berupa padatan atau larutan berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa
saja terdiri dari beberapa komponen volatil (mudah menguap). Evaporator
biasanya digunakan dalam industri kimia dan industri makanan. Pada industri
kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin jenuh (merupakan contoh dari
proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator mengubah air menjadi uap,
menyisakan residu mineral di dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air
yang sudah dihilangkan garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan
diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan pendingin yang menguap dengan
cepat (penguapan membutuhkan energi panas). Evaporator juga digunakan untuk
memproduksi air minum, memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain
(Frayekti, 2012).

Evaporator merupakan alat yang digunakan untuk mengubah sebagian atau keseluruhan pelarut
dari sebuah larutan cair menjadi uap sehingga dihasilkan produk yang lebih pekat. Pada dasarnya
semua jenis evaporator memiliki prinsip kerja yang sama. Diantaranya yaitu pemekatan larutan
berdasarkan perbedaan titik didih yang besar antara masing-masing zat. Selain itu evaporator
dijalankan pada suhu yang lebih rendah daripada titik didih normal. Tekanan mempengaruhi tinggi
rendahnya titik didih cairan murni. Begitu pula pada titik didih cairan dipengaruhi oleh tekanan dan
kadar air pada zat yang tidak mudah menguap seperti gula. Pada efek awal diperlukan adanya
pemanasan suhu yang lebih tinggi. Dan kenaikan titik didih adalah perbedaan titik didih larutan dan
titik didih cairan murni (Setyawan, 2013).
Kebanyakan orang mengenal evaporator sebagai salah satu alat yang digunakan dalam industry
gula pasir. Evaporator digunakan dalam proses penguapan sebelum proses kristalisasi gula. Penguapan
dilakukan untuk mengentalkan jus tebu menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap
panas(steam). Cairan gula jenuh yang dibutuhkan untuk proses kristalisasi adalah memiliki kandungan
gula hingga 80%. Sehingga penggunaan multiple effect evaporator yang dipanaskan dengan steam
adalah cara terbaik utuk mendapatkan kondisi tersebut (Setyawan, 2013).
Evaporator adalah alat untuk mengevaporasi larutan sehingga prinsip
kerjanya merupakan prinsip kerja atau cara kerja dari evaporasi itu sendiri. Prinsip
kerjanya dengan penambahan kalor atau panas untuk memekatkan suatu larutan
yang terdiri dari zat terlarut yang memiliki titik didih tinggi dan zat pelarut yang
memiliki titik didih lebih rendah sehingga dihasilkan larutan yang lebih pekat
serta memiliki konsentrasi yang tinggi. Berikut karakteristik proses evaporasi
(Frayekti, 2012):
1.
Pemekatan larutan didasarkan pada perbedaan titik didih yang sangat
besar antara zat-zatnya.
2.
Titik didih cairan murni dipengaruhi oleh tekanan.
3.
Dijalankan pada suhu yang lebih rendah dari titik didih normal.
4.
Titik didih cairan yang mengandung zat tidak mudah menguap
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-4
Bab II Tinjauan Pustaka

(misalnya: gula)akan tergantung tekanan dan kadar zattersebut.


5.
Beda titik didih larutan dan titik didih cairan murni disebut Kenaikan
titik didih (boiling)
(Frayekti, 2012)

Proses evaporasi dengan skala komersial di dalam industri kimia dilakukan


dengan peralatan yang namanya evaporator. Ada empat komponen dasar yang
dibutuhkan dalam evaporasi yaitu evaporator, kondensor , injeksi uap, dan
perangkap uap (Frayekti, 2012).
1. Kondensor
Kondensor adalah salah satu jenis mesin penukar kalor (heat exchanger) yang
berfungsi untuk mengkondensasikan fluida
2. Injeksi uap
3. Perangkap uap
Evaporasi dilaksanakan dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut pada
titik didihnya, sehingga diperoleh larutan zat cair pekat yang konsentrasinya
lebih tinggi. Uap yang terbentuk pada evaporasi biasanya hanya terdiri dari
satu komponen, dan jika uapnya berupa campuran umumnya tidak diadakan
usaha untuk memisahkan komponen-komponennya.
(Frayekti, 2012)

II.1.2

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Evaporasi


Faktor-faktor yang mempengaruhi percepatan evaporasi antara lain :
1. Suhu
Walaupun cairan bisa evaporasi di bawah suhu titik didihnya, namun
prosesnya akan cepat terjadi ketika suhu di sekeliling lebih tinggi. Hal ini
terjadi karena evaporasi menyerap kalor laten dari sekelilingnya. Dengan
demikian, semakin hangat suhu sekeliling semakin banyak jumlah kalor yang
terserap untuk mempercepat evaporasi.
2. Kelembapan udara
Jika kelembapan udara kurang, berarti udara sekitar kering. Semakin kering
udara (sedikitnya kandungan uap air di dalam udara) semakin cepat evaporasi
terjadi. Contohnya, tetesan air yang berada di kepingan gelas di ruang terbuka
lebih cepat terevaporasi lebih cepat daripada tetesan air di dalam botol gelas.
Hal ini menjelaskan mengapa pakaian lebih cepat kering di daerah
kelembapan udaranya rendah.
3. Tekanan
Semakin besar tekanan yang dialami semakin lambat evaporasi terjadi. Pada
tetesan air yang berada di gelas botol yang udaranya telah dikosongkan
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-5
Bab II Tinjauan Pustaka

(tekanan udara berkurang), maka akan cepat terevaporasi.


4. Gerakan udara
Pakaian akan lebih cepat kering ketika berada di ruang yang sirkulasi udara
atau angin lancar karena membantu pergerakan molekul air. Hal ini sama saja
dengan mengurangi kelembapan udara.
5. Sifat cairan
Cairan dengan titik didih yang rendah terevaporasi lebih cepat daripada cairan
yang titik didihnya besar. Contoh, raksa dengan titik didih 357C lebih susah
terevapporasi daripada eter yang titik didihnya 35C.
(Frayekti, 2012)

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

Penyelesaian praktis terhadap masalah evaporasi sangat


ditentukan oleh karakteristik cairan yang akan dikonsentrasikan.
Beberapa sifat penting dari zat cair yang dievaporasikan (Khairunnisa,
2014):
1.
Konsentrasi
Walaupun cairan encer diumpankan ke dalam evaporator mungkin
cukup encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama dengan air,
tetapi jika konsentrasinya meningkat, larutan itu akan makin bersifat
individual. Densitas dan viskositasnya meningkat bersamaan dengan
kandungan zat padatnya, hingga larutan itu menjadi jenuh, atau jika
tidak, menjadi terlalu lamban sehingga tidak dapat melakukan
perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh dididihkan
terus, maka akan terjadi pembentukan kristal, dan kristal ini harus
dipisahakan karena bisa menyebabkan tabung evaporator
tersumbat. Titik didih larutanpun dapat meningkat dengan sangat
bila kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu didih
larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada
tekanan yang sama.
2.
Pembentukan Busa
Beberapa bahan tertentu, lebih-lebih zat-zat organik, membusa
( foam ) pada waktu diuapkan. Busa yang stabil akan ikut keluar
evaporator bersama uap, dan menyebabkan banyaknya bahan yang
terbawa-ikut. Dalam hal-hal yang ekstrem, keseluruhan massa zat
cair itu mungkin meluap ke dalam saluran uap keluar dan terbuang.
3.
Kepekaan Terhadap Suhu
Beberapa bahan kimia berharga, bahan kimia farmasi dan bahan
makanan dapat rusak bila dipanaskan pada suhu sedang selama
waktu yang singkat saja. Dalam mengkonsentrasikan bahan-bahan
seperti itu diperlukan teknik khusus untuk mengurangi suhu zat cair
dan menurunkan waktu pemanasan.
4.
Kerak
Beberapa larutan tertentu menyebabkan kerak pada permukaan
pemanasan. Hal ini menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama
makin berkurang, sampai akhirnya operasi evaporator terpaksa
dihentikan untuk membersihkannya. Bila kerak itu keras dan tak
dapat larut, pembersihan itu tidak mudah dan memakan biaya.
5.
Bahan Konstruksi
Bilamana mungkin, evaporator itu dibuat dari baja. Akan tetapi,
banyak larutan yang merusak bahan-bahan besi, atau menjadi
terkontaminasi oleh bahan itu. Karena itu digunakan juga bahanbahan kondtruksi khusus, seperti tembaga, nikel, baja tahan karat,
aluminium, grafit tak tembus dan timbal. Oleh karena bahan-bahan
ini relatif mahal, maka laju perpindahan kalor harus harus tinggi agar
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

dapat menurunkan biaya pokok peralatan.


(Khairunnisa, 2014)

Banyak karakteristik lain zat cair juga perlu mendapat perhatian dari
perancang evaporator antara lain ialah kalor spesifik, kalor konsentrasi,
titik beku, pembebasan gas pada waktu mendidih, sifat racun, bahaya
ledak, radioaktivitas dan persyaratan operasi steril (suci hama). Oleh
karena adanya variasi dalam sifat-sifat zat cair, maka dikembangkanlah
berbagai jenis rancang evaporator. Evaporator mana yang dipilih untuk
suatu masalah tertentu bergantung terutama pada karakteristik zat cair
itu (Khairunnisa, 2014).
II.1.5 Tipe Evaporator
A. Tipe evaporator berdasarkan bentuknya:
1.Evaporator Sirkulasi Alami/Paksa
Evaporator sirkulasi alami bekerja dengan memanfaatkan sirkulasi
yang terjadi akibat perbedaan densitas yang terjadi akibat
pemanasan. Pada evaporator tabung, saat air mulai mendidih,
maka buih air akan naik ke permukaan dan memulai sirkulasi yang
mengakibatkan pemisahan liquid dan uap air di bagian atas dari
tabung pemanas.Jumlah evaporasi bergantung dari perbedaan
temperatur uap dengan larutan. Sering kali pendidihan
mengakibatkan sistem kering, Untuk menghidari hal ini dapat
digunakan sirkulasi paksa, yaitu dengan manambahkan pompa
untuk meningkatkan tekanan dan sirkulasi sehingga pendidihan
tidak terjadi.
2.Falling Film Evaporator
Evaporator ini berbentuk tabung panjang (4-8 meter) yang dilapisi
dengan jaket uap (steam jacket). Distribusi larutan yang seragam
sangat penting. Larutan masuk dan memperoleh gaya gerak karena
arah larutan yang menurun. Kecepatan gerakan larutan akan
mempengaruhi karakteristik medium pemanas yag juga mengalir
menurun. Tipe ini cocok untuk menangani larutan kental sehingga
sering digunakan untuk industri kimia, makanan, dan fermentasi.

Gambar II.1 Falling Film Evaporator


3.Rising Film (Long Tube Vertical) Evaporator
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

Pada evaporator tipe ini, pendidihan berlangsung di dalam tabung


dengan sumber panas berasal dari luar tabung (biasanya uap). Buih
air akan timbul dan menimbulkan sirkulasi.

Gambar II.2 Rising Film Evaporator


4.Plate Evaporator
Mempunyai luas permukaan yang besar, Plate biasanya tidak rata
dan ditopangoleh bingkai (frame). Uap mengalir melalui ruangruang di antara plate. Uap mengalir secara co-current dan counter
current terhadap larutan. Larutan dan uap masuk ke separasi yang
nantinya uap akan disalurkan ke condenser. Eveporator jenis ini
sering dipakai pada industri susu dan fermntasi karena fleksibilitas
ruangan. Tidak efektif untuk larutan
kental
dan padatan

Gambar II.3 Plate Evaporator


5.Multi-effect Evaporator
Menggunakan uap pada tahap untuk dipakai

pada

tahap

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara


Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

berikutnya. Semakin banyak tahap maka semakin rendah konsumsi


energinya. Biasanya maksimal terdiri dari tujuh tahap, bila lebih
seringkali ditemui biaya pembuatan melebihi penghematan energi.
Ada dua tipe aliran, aliran maju dimana larutan masuk dari tahap
paling panas ke yang lebih rendah, dan aliran mundur yang
merupakan kebalikan dari aliran maju. Cocok untuk menangani
produk yang sensitive terhadap panas seperti enzim dan protein.
6.Horizontal-tabung Evaporator
Evaporator horisontal-tabung merupakan pengembangan dari panci
terbuka, di mana panci tertutup dalam, umumnya dalam silinder
vertikal. Tabung pemanas
disusun dalam bundel horisontal
direndam dalam cairan di bagian bawah silinder. Sirkulasi cairan
agak miskin dalam jenis evaporator.
7.Vertikal-tabung Evaporator
Dengan menggunakan tabung vertikal, bukan horizontal, sirkulasi
alami dari cairan dipanaskan
dapat dibuat
untuk
memberikan
transfer panas
yang baik.

Gambar II.4 Evaporator (a) Plate (b) Vertikal Tabung (c) Sirkulasi Paksa
(Frayekti, 2012)

B. Tipe evaporator berdasarkan metode pemanasan:


1. Submerged combustion evaporator adalah evaporator yang
dipanaskan oleh api yang menyala di bawah permukaan cairan,
dimana gas yang panas bergelembung melewati cairan.
2. Direct fired evaporator adalah evaporator dengan pengapian
langsung dimana api dan pembakaran gas dipisahkan dari cairan
mendidih lewat dinding besi atau permukaan untuk memanaskan.
3. Steam heated evaporator adalah evaporator dengan pemanasan
stem dimana uap atau uap lain yang dapat dikondensasi adalah
sumber panas dimana uap terkondensasi di satu sisi dari
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

permukaan pemanas dan panas ditranmisi lewat dinding ke cairan


yang mendidih.
(Frayekti, 2012)

II.1.4

Metode Operasi Evaporator


Oleh karena adanya variasi dalam sifat-sifat zat cair, maka dikembangkanlah berbagai
jenis rancang evaporator. Evaporator mana yang dipilih untuk suatu masalah tertentu
bergantung terutama pada karakteristik zat cair itu. Beberapa tipe evaporator dibagi menjadi
beberapa bagian berdasarkan banyaknya proses, diantaranya adalah (Setyawan, 2013):
Single Effect Evaporator
Pada single effect evaporator hanya terdapat satu badan
penguap. Bahan yang akan dievaporasi masuk ke dalam ruang
penguap dan diberi panas steam oleh satu luas permukaan pindah
panas. Uap yang dihasilkan dari evaporator tunggal langsung akan
menjadi produk buangan. Sedangkan pada multiple efeect
evaporator uap yang dihasilkan akan digunakan pada ruang
penguapan setelahnya. Pada evaporator tunggal energi yang
digunakan tergolong besar. Sehingga evaporator ini jarang
digunakan untuk industry besar seperti gula yang memiliki nilai jual
rendah. Industri gula sering menggunakan multiple effect evaporator
untuk menghemat biaya produksi.

Gambar II.5 Single Effect Evaporator


Multiple Effect Evaporator
Di dalam proses penguapan bahan dapat digunakan dua, tiga,
empat atau lebih dalam sekali proses, inilah yang disebut dengan
evaporator efek majemuk. Penggunaan evaporator efek majemuk
berprinsip pada penggunaan uap yang dihasilkan dari evaporator
sebelumnya. Tujuan penggunaan evaporator efek majemuk adalah
untuk menghemat panas secara keseluruhan, hingga akhirnya dapat
mengurangi ongkos produksi. Keuntungan evaporator efek majemuk
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

adalah merupakan penghematan yaitu dengan menggunakan uap


yang dihasilkan dari alat penguapan untuk memberikan panas pada
alat penguapan lain dan dengan memadatkan kembali uap tersebut.
Apabila dibandingkan antara alat penguapan n-efek, kebutuhan uap
diperkirakan 1/n kali, dan permukaan pindah panas berukuran n-kali
dari pada yang dibutuhkan untuk alat penguapan berefek tunggal,
untuk pekerjaan yang sama.
Menggunakan uap pada tahap untuk dipakai pada tahap
berikutnya. Semakin banyak tahap maka semakin rendah konsumsi
energinya. Biasanya maksimal terdiri dari tujuh tahap, bila lebih
seringkali ditemui biaya pembuatan melebihi penghematan energi.
Ada dua tipe aliran, aliran maju dimana larutan masuk dari tahap
paling panas ke yang lebih rendah, dan aliran mundur yang
merupakan kebalikan dari aliran maju. Cocok untuk menangani
produk yang sensitive terhadap panas sepertienzum dan protein.

Gambar II.6 Multiple Effect Evaporator


Multiple effect evaporator adalah peralatan dimana uap dari
sumber luar dikondensasikan dalam elemen pemanas efek pertama.
Suhu mendidih di mana efek pertama beroperasi cukup tinggi
sehingga air menguap dapat berfungsi sebagai media pemanas
untuk efek kedua. Uap tersebut sehingga terbentuk kemudian
dikirim ke kondensor jika itu adalah evaporator efek ganda. Umpan
untuk evaporator jenis multi-efek ini umumnya ditransfer dari satu
efek yang lain. Hal ini menyebabkan konsentrasi produk utama
untuk mencapai hanya dalam efek salah satu evaporator.
(Setyawan, 2013)

Tujuan penggunaan evaporator efek majemuk adalah untuk


menghemat panas secara keseluruhan, hingga akhirnya dapat
mengurangi ongkos produksi. Keuntungan evaporator efek majemuk
adalah merupakan penghematan yaitu dengan menggunakan uap
yang dihasilkan dari alat penguapan untuk memberikan panas pada
alat penguapan lain dan dengan memadatkan kembali uap tersebut.
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

Apabila dibandingkan antara alat penguapan n-efek, kebutuhan uap


diperkirakan 1/n kali, dan permukaan pindah panas berukuran n-kali
dari pada yang dibutuhkan untuk alat penguapan berefek tunggal,
untuk pekerjaan yang sama (Frayekti, 2012).

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara


Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

Pada evaporator efek majemuk ada 3 macam penguapan, yaitu :


a.Evaporator Pengumpan Muka (Forward-feed)
b. Evaporator Pengumpan Belakang (Backward-feed)
c.Evaporator Pengumpan Sejajar (Parallel-feed)
(Frayekti, 2012)

II.1.5 Metode Perhitungan Perpindahan Massa dan Panas Single


Effect Evaporator
Untuk bisa memahami proses evaporasi ini, maka
diperlukan pengetahuan dasar tentang neraca massa dan neraca energi
untuk proses dengan perubahan fasa. Salah satu alat yang menggunakan
prinsip ini adalah alat pembuat aquades (auto still). Pada pembuatan
aquades ini, air (pelarut) dipisahkan dengan dari padatan pengotornya
(Padatan pengotor tidak volatil) dengan proses penguapan. Pada
praktikum ini penekanannya pada pengguaan neraca massa dan neraca
energi untuk mengetahui performance dari suatu unit operasi, dan
mendapatkan kondisi optimal proses (Khairunnisa, 2014).
Neraca Massa (keadaan steady)
Kecepatan massa masuk Kecepatan massa keluar = 0
Neraca Energi (keadaan steady)
Kecepatan panas masuk Kecepatan panas keluar = 0
Entalpi (H)
Isi panas dari satu satuan massa bahan dibandingkan dengan isi panas
dari bahan tersebut pada suhu referensinya.
Entalpi Cair pada suhu T (hl pada T)
Hl
= Panas Sensibel
= Cp1( T TR )
Entalpi Uap pada suhu T (HV pada T)
HV
= Panas Sensibel Cair Panas Laten (Panas Penguapan) + Panas
Sensibel uap
= Cp1 ( Tb TR ) . CpV ( T Tb )
kJ

kg
hl
= entalpi spesifik keadaan cair
kJ

kg
HV
= entalpi spesifik keadan uap
kJ
kg 0 C
Cp1 = kapasitas panas bahan dalam keadan cair
, untuk air =

4,182

kJ
kg 0 C

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara


Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

kJ
kg 0 C
CpV = kapasitas panas bahan dalam keadan uap
, untuk uap air
suhu menengah
kJ
1,185 0
kg C
=
T
= suhu bahan dalam (C)
TR
= suhu referensi, pada steam table digunakan 0 C
Tb
= titik didih bahan (C)

= panas laten / panas penguapan bahan, untuk air pada suhu 100
kJ
kg

C = 2260,16
Neraca Massa Total Keadaan Steady State
Kecepatan Massa Masuk = Kecepatan Massa Keluar
FT
=
O
+
D
...(1)
Neraca Energi Total Keadaan Steady State
Kecepatan Panas Masuk = Kecepatan Panas Keluar
Panas dibawa pendingin + Panas dari Heater = Panas dibawa Over Flow +
Panas dibawa Distilat Panas hilang ke lingkungan.
FT.Cp1( TFT TR ) + Q = O . Cp1 ( TO TR ) + D . Cp1 ( TD TR ) + Qloss
..(2)
Neraca Energi di Pendingin
Panas dibawa air pendingin masuk + Panas dibawa uap masuk = Panas
dibawa Distilat keluar + Panas dibawa air pendingin keluar.
FT . Cp1 ( TFT TR ) + V. HV = D . Cp1 ( TD TR ) + ( O + FB ) . Cp1 . ( TO TR ) .
....(3)
Karena FB = V = D
O + FB = O + D = FT....
(4) FT . Cp1 ( TFT TR ) + V. HV = D . Cp1 ( TD TR ) + FT. Cp1 . ( TO TR )
.(5)
Neraca Energi di Boiler
Panas dari Heater = Panas dibawa Uap + Panas hilang ke lingkungan
Q = V . HV + Qloss, karena V = D, maka
Q = D . HV + Qloss
........................
.(6)
HV = Cp1 . ( Tb TR ) + + CpV . ( T Tb ), karena T = Tb = 100 C
HV = Cp1 . ( 100 TR ) + .......
.............(7)
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

(Khairunnisa, 2014)

II.1.6

Pertukaran Panas Secara Tidak Langsung


Proses Heat Exchanger atau pertukaran panas antara dua fluida
dengan temperatur yang berbeda, baik bertujuan memanaskan atau
mendinginkan fluida banyak diaplikasikan secara teknik dalam berbagai
proses thermal dalam dunia industri. Berdasarkan arah aliran fluida, Heat
Exchanger dapat dibedakan menjadi (Fahruddin, 2010):
II.1.6.1 Pertukaran Panas dengan Aliran Searah (Co-current /
Paralel flow)
Pertukaran panas jenis ini, kedua fluida (dingin dan panas) masuk
pada sisi Heat Exchanger yang sama, mengalir dengan arah yang sama,
dan keluar pada sisi yang sama. Karakter Heat Exchanger jenis ini,
temperatur fluida dingin yang keluar dari Heat Exchanger (Tco) tidak dapat
melebihi temperatur fluida panas yang keluar (Tho), sehingga diperlukan
media pendingin atau media pemanas yang banyak (Fahruddin, 2010).
Pertukaran panas yang terjadi:
Mc.Cc(Tco-Tci)=Mh.Ch(ThoThi)...........................................................................(8)
Dimana:
Mc
= Massa air (Kilogram)
Cc = Cp = Kapasitas panas/dingin (Kcal/Kg.K)
Tco = Suhu air dingin yang keluar dari heat exchanger (K)
Tci
= Suhu air dingin yang masuk ke heat exchanger (K)
Tho = Suhu air panas yang keluar dari heat exchanger (K)
Thi = Suhu air panas yang masuk ke heat exchanger (K)

Gambar II.7 Profil Temperatur Pada Aliran Co-Current


Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

Dengan asumsi nilai kapasitas spesifik fluida dingin (Cc) dan panas
(Ch) konstan, tidak ada kehilangan panas ke lingkungan serta keadaan
steady state, maka panas yang dipindahkan (Fahruddin, 2010):
q
=U.A.TAMTD.....................................................................................................
(9)
Dimana:
q
= perubahan panas (K)
U
= koefisien panas secara keseluruhan (Kcal/s.m2K)
A
= luas perpindahan panas (m2)
TAMTD = Arithmetic Mean Temperature Difference
II.1.6.2
Pertukaran Panas dengan Aliran Berlawanan Arah
(Counter Flow)
Heat Exchanger jenis ini memiliki karakteristik; kedua fluida (panas
dan dingin) masuk ke Heat exchanger dengan arah berlawanan, mengalir
dengan arah berlawanan dan keluar Heat exchanger pada sisi yang
berlawanan. Panas yang dipindahkan pada aliran counter current
mempunyai persamaan yang sama dengan persamaan (9) (Fahruddin,
2010).

Gambar II.8 Profil Temperatur Pada Aliran Counter-Current

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara


Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II.2 Aplikasi Industri


APLIKASI EVAPORATOR PADA GABUNGAN KOPERASI SUSU
INDONESIA
BOYOLALI
Evaporasi merupakan suatu proses yang sangat penting dalam industri kimia, khususnya
industri makanan. Salah satu industri yang memproduksi makanan khususnya susu kental
manis adalah Gabungan Koperasi Susu Indonesia ( GKSI ) Boyolali.
Proses pembentukan susu kental manis meliputi urutan sebagai berikut :
1. Susu ditimbang
2. Pengujian kualitas
3. Penyaringan susu
4. Pendinginan
5. Penyimpanan sementara
6. Proses Produksi ( Evaporasi )
7. Penyimpanan akhir
8. Pengiriman
Proses produksi susu kental di GKSI meliputi beberapa tahapan, antara lain :
1. Penimbangan
Penimbangan dimaksudkan untuk menghitung volume susu yang diterima dari tiap-tiap
KUD atau pemasok susu. Penimbangan dilakukan sebelum susu dinyatakan lolos pengujian
kualitas susu, dilakukan menggunakan jembatan timbang yang terletak pada jalan masuk
GKSI. Dimana truk yang masuk akan berhenti pada jembatan timbang untuk dilakukan
penimbangan. Penimbangan akan dilakukan 2 kali, penimbangan pertama yaitu truk berisi
susu. Yang kedua truk yang sudah tidak bermuatan susu. Untuk mengetahui berat susu yang
disetorkan dari tiap-tiap KUD maka dapat dihitung dengan cara truk yang bermuatan susu
dikurangi truk yang sudah kosong.
2. Pengujian Kualitas
Susu segar yang diterima di GKSI Boyolali adalah susu murni, tidak tercampur dengan
bahan lain (pengawet, gula, air). Uji kualitas yang dilakukan di GKSI meliputi :Uji Alkohol,
Uji pH, Uji Organoleptik, Uji Karbonat, Uji Berat Jenis, Uji Keasaman, Uji Kualitas Susu
Secara Digital.
3. Bak Penampung I dan Penyaringan
Setelah susu lulus uji, susu ditampung pada bak penampung I. Pada saat dilakukan
penuangan susu ke dalam bak, di atas bak diberi saringan dengan tujuan supaya kotoran yang
terdapat pada susu tertinggal dan tidak masuk ke dalam proses selanjutnya.
4. Bak Penampungan II
Susu yang terdapat pada bak penampungan I kemudian di alirkan ke bak penampungan II
sebelum masuk ke proses pendinginan.
5. Pendinginan
Proses pendinginan ini menggunakan alat yang disebut plate cooler. Susu dari bak
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

penampung sementara dipompa ke unit ini dan suhunya diturunkan dari rata-rata 30C
menjadi 2C.
6. Tangki Penampungan sementara
Susu dingin dari plate cooler selanjutnya dialirkan dan disimpan dalam tangki
penyimpanan sementara, dengan suhu antara 2 30C. Lama penyimpanan susu segar pada
tangki penyimpanan ini maksimal 48 jam. Tangki ini dilengkapi dengan alat pengaduk
(Agitator) dan unit glycol, untuk menjaga agar selama dalam penyimpanan susu tetap
homogen dan tetap dingin sebelum di evaporasi.
7. Evaporasi

Gambar II.9 Calandria Evaporator


Evaporasi adalah proses penguapan kandungan air sampai mencapai 45-50% dengan
tujuan untuk meningkatkan total padatan. Fresh milk dari tangki dipompa menuju alat
evaporasi, sebelum masuk ke mesin evaporasi, fresh milk melewati balance tank yang
berfungsi untuk menampung fresh milk sementara yang akan diproses ke unit evaporasi selain
itu juga sebagai penyeimbang aliran susu, sehingga aliran susu yang akan menuju mesin
evaporasi akan teratur. Dari balance tank, fresh milk dipompa menuju PHE. PHE ini berfungsi
untuk memanaskan susu yang berasal dari balance tank. Suhu yang digunakan untuk
memanaskan susu dalam alat ini adalah 70 - 80 C. Setelah melewati PHE susu dipompa
menuju high heater. Fungsi alat ini sama dengan PHE yaitu memanaskan susu dengan suhu
90 C. Sebelum masuk ke high heater susu melewati pipa yang berfungsi sebagai holding time
atau jeda waktu. Dari high heater susu masuk ke calandria 1. Fungsi dari alat ini adalah untuk
memanaskan susu dengan suhu 70 C. Sumber panas dalam alat ini berasal dari steam. Alat
calandria 1 berhubungan dengan separator 1, susu yang berasal dari calandria 1 masuk ke
calandria 2, sedangkan uap susu masuk ke separator 1. Pada prinsipnya alat separator ini
berfungsi untuk memisahkan uap susu dari calandria. Pada separator terjadi pemisahan antara
uap air dengan susu, susu dengan berat jenis yang lebih besar akan jatuh dan masuk ke
calandria 2 sedangkan uap panas akan ditarik ke calandria 2 dan dimanfaatkan sebagai sumber
pemanas calandria 2. Suhu pada separator 1 adalah 65 C. Susu yang berasal dari calandria 1
dan separator 1 masuk ke calandria 2. Fungsi dari calandria ini sama dengan calandria 1 yaitu
memanaskan susu. Sumber panas berasal dari uap panas dari separator 1. Calandria 2 juga
berhubungan dengan separator 2 yang fungsinya sama. Suhu pada separator 2 adalah 60 C.
Susu dari calandria 2 dan separator 2 masuk ke calandria 3 dan uap panas dari separator 2
masuk ke calandria 3. Disini juga terjadi pemanasan susu, sumber panas berasal dari uap
panas dari separator 2. Susu hasil pemanasan dan pemisahan masuk ke calandria 4. Suhu
padaseparator 3 adalah 55 C. Susu dari calandria 3 dan separator 3 masuk ke calandria 4,
Susu dipanaskan dengan sumber panas dari separator 3. Calandria 4 juga berhubungan dengan
separator 4 dan fungsinya sama. Uap panas yang berasal dari separator 4 masuk ke condensor,
alat ini berfungsi suntuk mendinginkan unit evap. Uap panas dari separator masuk ke coling
tower dan akan dibuang ke udara. Sebelum masuk ke mesin pendingin, susu yang berasal dari
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara
Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

calandria 4 akan melewati plate heat exchanger regeneration sebelum masuk ke mesin
pendingin. Hal ini dimaksudkan agar susu tidak langsung menerima perlakuan pendinginan
tetapi melalui jeda suhu yang tidak terlalu jauh. Setelah melewati PHE regeneration susu akan
masuk ke mesin pendingin atau cooler. Alat ini berfungsi untuk mendinginkan susu hasil
evaporasi. Suhu pendinginan adalah 5 C. Setelah melewati mesin pendingin susu hasil
evaporasi akan ditampung di tangki 20. Kapasitas tangki ini adalah 20.000 liter. Evaporasi ini
biasanya dilakukan 2 hari sekali.
8. Tangki Penampungan Akhir atau Tangki Penyimpanan
Susu kental hasil evaporasi kemudian dipompa ke tangki penampungan evaporasi yang
selanjutnya susu kental siap dikirim ke Industri Pengolahan Susu (IPS).

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa Secara


Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya