You are on page 1of 2

A.

Hama
Beberapa ham a yang ditemukan pada tanaman nilam () saat penelitian

berlangsung sebagai berikut :


1)

Belalang
Belalang termasuk ke dalam ordo Orthoptera. hama ini merupakan hama

pemakan daun, kerusakan yang dihasilkan oleh hama ini adalah tanaman menjadi
gundul. Apabila serangan berat, batang tanamannya dimakan dan akhirnya mati. Jenis
belalang yang banyak merusak tanaman nilam adalah: belalang kayu (Valanga
nigricornis). Belalang daun (Acrida turita).Belalang kayu dapat menyebabkan
kerugian hasil 20-25%, karena belalang tersebut berpindah dari satu kebun ke kebun
lain, Batang dan cabang tanaman sering patah akibat gigitannya sehingga
perumbuhan tanaman terganggu.Belalang daun biasanya memakan daun mulai dari
pinggir atau tengah sehingga terbentuk bekas gigitan melingkar atau lonjong.Kadangkadang belalang juga merusak batang dan ranting tanaman. Cara pengendalian hama
belalang ini dilakukan dengan cara : a) melakukan sanitasi lingkungan; b) melakukan
pengolahan tanah yang baik karena dapat membunuh telur belalang kayu sebelum
menetas; dan c) menggunakan musuh alami seperti cendawan Metarhizium anisoliae.
2)

Ulat penggulung daun (Pachyzaneba stutalis)


Ulat ini hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun yang

tumbuh, pada serangan berat, yang tersisa hanya tulang-tulang daun nilam.
Pengendaliannya dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) mengumpulkan dan
memusnahkan bagian tanaman yang terserang. Melakukan pengamatan yang ketat
pada areal terserang untuk menghindari terjadinya ledakan populasi. Pengamatan
dilakukan dengan cara mengamati saat munculnya gejala awal kerusakan daun yang
terserang larva stadia muda. Mengingat siklus hidup hama berkisar antara 38-42 hari,
maka pengamatan sebaiknya dilakukan setiap bulan sejak tanaman berumur satu
bulan sampai saat panen; b) Gunakan ekstrak mimba dan bioisektisida (Beauveria
bassiana). Cara ini walau tidak mematikan secara langsung tapi cukup efektif dan
tidak mencemari lingkungan.

3)

Ulat Jengkal (Hyposidra talaca Wlk.)


Ulat jengkal atau dikenal juga dengan nama ulat kilan, karena cara larva

berjalan dengan berjingkat-jingkat seperti mengukur bagian tanaman yang dilaluinya.


Hama ini merupakan hama pemakan daun yang termasuk ke dalam ordo Lepidoptera.
Ulat jengkal adalah golongan serangga Holometabola, yaitu kelompok serangga yang
mengalami metamorfosis sempurna. Serangga ini mengalami empat tahap
perkembangan yaitu telur, larva, pupa (kepompong), dan imago. Pada stadia larva
mengalami empat kali ganti kulit. Imago dari serangga ini berwarna coklat tua
kehitaman dengan sedikit warna abu-abu. Pada sayap bagian atas terdapat garis yang
sedikit melengkung, sedangkan pada sayap bagian bawah terdapat garis yang
berlekuk dan sedikit melengkung. Menurut Boror (1996), imago dari ulat jengkal
berupa ngengat bertubuh kecil, halus, dan ramping. Memiliki sayap lebar dan
seringkali memiliki tanda berupa garis-garis bergelombang yang halus pada
sayapnya. Terkadang imago didapatkan berwarna coklat atau bervariasi. Aktif pada
malam hari dan tertarik pada cahaya. Gejala serangan yang di timbulkan oleh ulat
jengkal umumnya menyerang daun tanaman nilam yang masih muda. Serangan
dimulai sejak larva keluar dari dalam telur. Daun muda yang diserang tampak
berlubang dan pada serangan yang berat, daun yang lebih tua juga diserang sampai
tertinggal tulang daunnya saja, sehingga tanaman nilam akan gundul. Kerusakan
tanaman nilam akibat serangan hama ini tidak berpengaruh langsung terhadap
produksi, tetapi dengan gundulnya tanaman proses fisiologi tanaman, khususnya
proses fotosintesa menjadi sangat terganggu. Serangan ulat jengkal dapat
menimbulkan kerugian yang sangat berarti. Hal ini dapat terjadi apabila ulat jengkal
menyerang tanaman nilam pada stadium bibit atau tanaman muda.
B.

Penyakit
Tidak ditemukan adanya penyakit pada tanaman yang diteliti, karena cuaca

lebih mendukung terhadap pertumbuhan hama dibandingkan dengan penyakit.