You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN

APPENDICITIS DAN PERITONITIS

Disusun oleh kelompok 6


PSIK kls B/ IV :

1. Selly Martika
2. Siti Rifaah Isnaniyah
3. Silvi Rusdiana
4. Rusmiati Agustina
5. Sandy Yuda S

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
2015

A. Konsep Dasar Apendiksitis


1. Pengertian
Appendiks merupakan suatu bagian sepertoi kantong yang non fungsional dan
terletak di bagian inferior seikum
(smeltzer, 2002).
Apendisitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus
ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tapi banyak kasus memerlukan laparatomi
dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi bila tidak di terawat, angka
kematian cukup tinggi, di karenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing
yang terinfeksi hancur
(Anonim, Apendisitis,2007).
Apendiksitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah
parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya
buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum. Usus buntu besarnya
sebesar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti
bagian usus lainnya. Namun lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa
mengeluarkan lender
(Anonim, apendisitis, 2007).
2. Anatomi dan fisiologi
Saluran pencernaan berfungsi sebagai penerima makanan dan mempersiapkan
untuk diasimilasi oleh tubuh . Saluran pencernaan terdiri atas: mulut, faring,
oesofagus, lambung, dan usus halus yang terdiri dari duedonum, yeyunum dan ileum,
usus besar : seikum, appendiks, colon desenden , colon tranversum, colon sigmoid,
rectum, anus .

a) Anatomi Apendiks
Merupakan organ berbentuk tabing, kurang lebih 10 cm dan berpangkal
diseikum lumennya sempit dibagian proximal dan melebar dibagian distal apendiks
dilapisi oleh lapisan sub mukosa yang mengandung banyak jaringan limfe . Apendiks
diperdarahi oleh arteri apendikular . Pada posisinya yang normal apendiks terletak
pada dinding abdomen dibawah titik Mc Burney.
b) Fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari lendir itu secara normal
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke seikum. Hambatan aliran
lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis.
Immunoglobulin sekreator yang dihasilkan oleh GALT ( Gut Associated Lymphoid
Tissue ) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks , ialah IgA
immunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun
pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan
limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh
tubuh.
3. Etiologi
a. Fekalit
b. Streptococcus
c. Cacing ascariasis
d. Hyperplasia jaringan limfe
e. Trauma daerah abdomen
f. Adanya fekalit dalam lumen appendiks karena penyumbatan feces, lumen
melebar dan mengadakan perangsangan terhadap pembuluh darah.
4. Tanda dan gejala
Gejala klinis pada appendisitis adalah nyeri perut. Pada mulanya nyeri
perut ini hilang timbul seperti kolik dan terasa disekitar umbilicus, bila
penderita platus atau BAB rasa sakitnya akan berkurang, bila proses radang
telah menjalar ke peritonium parietal setempat, maka akan timbul nyeri local
pada perut kanan bawah daerah Mc Burney bila terjadi perforasi untuk

sementara rasa sakit ynag hebat diseluruh perut. Anoreksi hampir selalu
terdapat dan muntah merupakan hal yang khas. Biasanya terjadi konstipasi
tetapi pada anak-anak dan pada penderita yang appendiks dekat rectum sering
terjadi diare. Gejala umum lainnya adalah demam mula-mula demam tidak
begitu tinggi tetapi menjadi hiperpireksi bila terjadi perforasi.
5. Klasifikasi
Appendisitis dibagi menjadi beberapa klasifikasi yaitu :
a) Appendisitis akut : yaitu peradangan yang terjadi pada umbai
cacingsecaramendadakdanmeluas melalui peritoneum parietal sehingga
timbul rasa sakit yang mendadak.
b) Appendisitis infiltrat peradangan umbai cacing yang melekat pada dinding
perut.
c) Appendisitis kronis peradangan appendiks yang terjadi secara menahun
yang merupakan kelanjutan appendiks infiltrat yang tidak mendapat
pengobatan dan perawatan intensif sehingga gejalanya menghilang dan
suatu saat akan timbul lagi gejala tersebut.
d) Appendisitis abses yaitu kelanjutan dari appendicitis kronis yang kurang
perawatannya dan kuman cukup ganas sehingga menimbulkan abses.
6. Komplikasi
Komplikasi apendiksitis adalah sepsis yang dapat berkembang menjadi
perforasi, abses, peritonitis. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah
nyeri. Gejala nyeri antara lain demam suhu 37,5 0C38,50C atau lebih tinggi,
penampilan toksik, meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran
kanan bawah dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi
ileus, demam, malaise, dan lekositosis. (Seymour, 2003).
7. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah rutin akan menunjukan lekostosis ringan dan hitung
jenis bergeser kekiri pada perforasi terjadi lekositosis yang lebih tinggi.
Pemeriksaan urine penting untuk membedakan appendicitis dengan kelainan
ginjal, kadang-kadang ditemukan lekosit pada urine penderita appendicitis.
Pemeriksaan photo polos abdomen tidak menunjukan tanda pasti appendicitis
tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan
obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. Adanya fekolit merupakan hal ini

sangat jarang ditemukan udara dibawah diafragma menunjukan adanya


perforaasi.
8. Penatalaksanaan
a) Appendisitis infiltrat.
Ukuran kurang dari 5 cm : operasi
Ukuran lebih dari 5 cm : konservatif (terapi obat obatan )
b) Appendisitis akut :Appendektomi.
c) Appendisitis perforasi :appendektomi perlaparatomi.
Penatalaksanaan Appendektomi :
1) Tindakan pre operative
Penderita dirawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan
suhu badan penderita. Bilas terlihat adanya gangguan keseimbangan cairan
maka segera diberikan cairan parenteral Nacl 0,9 % sesuai dengan keadaan
hidrasi, berikan sedatif intramuskular. Daerah perut bawah dan pubis
dibersihkan dan dicukur. Premedikasi diberikan 30 menit sebelum rencana
dioperasi dilakukan diberikan petidin, sulfas atropin dan DBP.
2) Tindakan operatif Appendektomi.
3) Tindakan post operatif.
Observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan
didalam. Syok hyperemi dan gangguan pernapasan angkat sonde lambung bila
penderita telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
Kemudian baringkan penderita pada posisi fowler penderita dapat dikatakan
baik bila dalam 2 jam tidak terjadi gangguan dan selama itu pasien puasa bila
tindakan operasi besar yaitu perforasi atau peritonitis umum maka puasa
diteruskan sampai fungsi usus kembali normal, kemudian berikan minum
mulai 15 ml/ jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan
harinya diberikan makanan saring dan berikutnya makanan lunak. Satu hari
pasca bedah penderita dianjuran untuk duduk tegak ditempat selama 2 x 30
menit. Hari kedua pasca bedah dapat berdiri dan duduk diluar kamar hari
ketujuh pasca bedah luka operasi dapat di angka dan penderita boleh pulang.
Merawat luka post appendektomi dengan tehnik aseptik dan anti septic untuk
mencegah terjadinya infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN APENDDICITIS


A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah

pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data baik

subyek maupun obyek, adapun tujuan pengkajian adalah memberikan gambaran yang
terus menerus mengenai kesehatan pasien.
Pada tahap pengkajian ini , yang
1. Anamnesa
a) Meliputi
- Nama
- Umur
- jenis kelamin
- agama
- suku bangsa
- status perkawinan
- pendidikan
- pekerjaan
- golongan darah
- penghasilan
- alamat
- penanggung jawab
- tanggal dan jam masuk rumah sakit,
- nomor register
- diagnosa medis.
b. keluhan utama
keluhan atau yang paling dirasakan saat dilakukan pengkajian meliputi
demam,diare disertai muntah dengan hasil pengkajian klien mengatakan
bahwa badannya terasa lemas,demam disertai muntah
c. Riwayat Penyakit Sekarang
meliputi kesehatan saat ini, dari riwayat mengapa klien bisa masuk rumah
sakit (perjalanan sakit klien sampai ia dibawa kerumah sakit) misalmya
Ny N mengatakatan badannya panas 2 hari yang lalu, BAB 5x/hari warna
kuning kehijauan bercampur lendir, dan disertai dengan muntah 2x/hari, lalu
dibawa ke IGD RSUD M dan menjalani rawat inap di ruang mawari RSUD M
Jawa tengah.

d. Riwayat Penyakit Dahulu

berhubungan dengan penyakit yang pernah dialami sebelumnya, apakah


pernah dirawat di rumah sakit dan pernah menjalani oprasi , dan apakah
dengan penyakit yang sama atau penyakit lainnya.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
meliputi keadaan anggota keluarga apakah ada yang mengalami penyakit yang
sama seperti klien atau penyakit lainnya baik penyakit menurun maupun
penyakit menular misalnya seperti contoh : Ibu mengatakan dalam anggota
keluarga ada yang perna mengalami sakit diare seperti yang di alami klien.
f. Riwayat Sosial
berhubungan dengan lingkungan sekitar tempat tinggal pasien maupun
hubungan sosial pasien dengan keluarga maupun tetangga / masyarakat sosial.
2. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum :
b) Kesadaran
:
c) TTV
:
d) Pemeriksaan Head to toe
- Kepala :
Meliputi Bentuk kepala bulat, warna rambut hitam, tidak ada benjolan, kulit
kepala bersih.
- Mata :
Simetris, tidak ada sekret, konjungtiva merah muda, sklera putih, mata
cowong.
- Mulut :
Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis, lidah bersih.
- Hidung :
Simetris, tidak ada sekret, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada
polip.
- Telinga :
Simetris, tidak ada benjolan, lubang telinga bersih, tidak ad serumen.
- Leher :
Tidak ada pembesaran kenjar tyroid, limphe, tidak ada bendungan vena
jugularis, tidak ada kaku kuduk.
- Dada
Inspeksi

: dada simetris, bentuk bulat datar, pergerakan dinding dada

simetris, tidak ada retraksi otot bantu pernapasan.


Palpasi
: Tidak ada benjolan mencurigakan
Perkusi
: paru-paru sonor, jantung dullness
Auskultasi : Irama nafas teratur, suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas
tambahan.
-

Perut

Inspeksi
: simetris
Auskultasi : Peristaltik meningkat 40x/mnt
Palpasi
: Turgor kulit tidak langsung kembali dalam 1 detik
Perkusi
: Hipertimpan,perut kembung
Punggung :
Tidak ada kelainan tulang belakang (kyfosis, lordosis, skoliosis) tidak ada

nyeri gerak.
- Genetalia :
jenis kelamin perempuan, tidak odem, tidak ada kelainan, kulit perineal
kemerahan
- Anus :
Tidak ada benjolan mencurigakan,kulit daerah anus kemerahan.
- Ekstremitas :
Lengan kiri terpasang infus, kedua kaki bergerak bebas, tidak ada odem.
3. Pengkajian Fungsional Gordon
a) Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Meliputi jawaban klien atau persepsi klien tentang kesehatan
b) Pola nutrisi dan metabolikMakan :
meliputi nafsu makan, jenis makanan, porsi makanan dan makanan habis atau
tersisa
c) Pola Eliminasi :
Meliputi konsistensi BAB, cair atau tidak. Bau.warna. begitu pula dengan BAK,
bau amoniak atau tidak, warna kekeruhan atau jernih.
d) Pola aktifitas dan latihan
Meliputi aktivitas klien, kemampuan beraktivitas klien.
e) Pola istirahat tidur
Meliputi pola tidur pasien, kenyenyakan dalam tidur pasien, lama tidur normal
atau tidaknya, kenyamanan waktu tidur
f) Pola hubungan dengan orang lain :
Meliputi hubungan atau interaksi sosial pasien dengan orang lain baik keluarga.
Tetangga atau masyarakat sekitar. Baik atau tidaknya
g) Pola reproduksi / seksual :
Meliputi jenis kelamin klien, serta tidak mengalami gangguan genetalia atau tidak
h) Pola mekanisme koping :
Meliputi tindakan yang dilakukan pasien apabila dia mengalami hal serupa (sakit)
atau mengalami penyakit lain, seperti misalnya berobat ke tenaga kesehatan dan
bagaimana hasilnya.

i) Pola nilai kepercayaan / keyakinan :


Meliputi agama apa yang dianut pasien, rajin tidaknya melaksanakan ibadah,
kemampuannya untuk melakukan ibadah ketika sakit dan sebagainya.

B. Diagnosa keperawatan menurut NANDA, 2012-2014 yang mungkin muncul


pada klien dengan appendiksitis adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2. mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan nyeri
3. defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
4. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik ( nyeri )
Diagnose yang muncul dengan ksus appendiks menurut rumusan diagnose
NANDA antara lain :
a. Pre operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.
2.

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan mual,muntah.

b. Post operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera.
2.

Resiko kehilangan volume cairan berhubunmgan dengan asupan


cairan yang tidak adekuat.

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan


4. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
C. INTERVENSI
a) Pre Operasi
No Diagnosa
1. Nyeri akut

Tujuan dan criteria hasil


Klien
akan
dapat
melaporkan
nyeri
berkurang dalam waktu 3
jam
dengan
criteria
hasil :
Klien mengeluh nyeri
jarang
Skala nyeri 4
Rileks
3.
Selera makan normal
Tidak ada bukti nyeri
yang diamati
4.
Dapat melakukan teknik
relaksasi nafas dalam

Intervensi
Minta klien untuk menilai
nyeri atau ketidaknyamanan
pada skala 0 10
Gunakan bagan alir nyeri
untuk memantau peredaan
nyeri oleh analgesic dan
kemungkinan
efek
sampingnya.
Kaji dampak agama, budaya,
kepercayaan, dan lingkungan
terhadap nyeri dan respon klien
Dalam mengkaji nyeri klien,
gunakan kata-kata yang sesuai
dengan usia dan tingkat
perkembangan pasien.
5. Informasikan kepada pasien

tentang prosedur yang dapat


meningkatkan
nyeri
dan
tawarkan strategi koping yang
disarankan.
6.
Pemberian analgesic :
menggunakan
agen-agen
farmakologi untuk mengurangi
atau menghilangkan nyeri
1.

2.

2.
Klien
akan
dapat
melaporkan
asupan3.
makanan dan cairan
Nutrisi,
adekuat dengan criteria
ketidakseimbangan hasil :
:
kurang
dari Berat badan meningkat 1
kebutuhan tubuh
kg
4.
Komponen gizi adekuat
Menoleransi diet-diet5.
yang dianjurkan

Identifikasi factor pencetus


mual dan muntah
Catat warna, jumlah, dan
frekuensi muntah
Instruksikan pasien agar
menarik napas dalam perlahan
dan menelan secara sadar
untuk mengurangi mual dan
muntah
Tawarkan hygiene mulut
sebelum makan
Berikan obat anti emetic dan /
analgesic sebelum makan atau
sesuai dengan jadwal yang
dianjurkan

b) Post Operasi
No. Diagnose
keperawatan
1.
Nyeri akut

Tujuan dan criteria hasil

intervensi

Klien
akan
dapat
Minta klien untuk menilai
melaporkan
nyeri nyeri atau ketidaknyamanan
berkurang dalam waktu 3 pada skala 0 10
jam dengan criteria hasil :
Gunakan bagan alir nyeri
Klien mengeluh nyeri untuk memantau peredaan
jarang
nyeri oleh analgesic dan
Skala nyeri 4
kemungkinan
efek
Rileks
sampingnya.
Selera makan normal 9. Kaji dampak agama, budaya,
Tidak ada bukti nyeri kepercayaan, dan lingkungan
yang diamati
terhadap nyeri dan respon klien
Dapat melakukan teknik
10. Dalam mengkaji nyeri klien,
relaksasi nafas dalam
gunakan kata-kata yang sesuai
dengan usia dan tingkat
perkembangan pasien.

11. Informasikan kepada pasien


tentang prosedur yang dapat
meningkatkan
nyeri
dan
tawarkan strategi koping yang
disarankan.
12.
Pemberian
analgesic
:
menggunakan
agen-agen
farmakologi untuk mengurangi
atau menghilangkan nyeri

3.

Klien
akan
dapat
melaporkan
tidak
Mobilitas fisik, mengalami
gangguan
hambatan
dalam waktu 2 x 24 jam
dengan criteria hasil :
Tidak
mengalami
gangguan sendi dan otot
Bisa berjalan
Bisa bergerak dengan
mudah

Defisiensi
pengutahuan

Klien
akan
dapat
melaporkan
deskripsi
rasional untuk apendiks
dalam waktu 2 jam
dengan criteria hasil :
Klien dan keluarga dapat
mengidentifikasikan
kebutuhan
informasi
tambahan tentang program

Kaji kebutuhan terhadap


bantuan pelayanan kesehatan
di rumah dan kebutuhan
terhadap peralatan pengobatan
yang tahan lama
Ajarkan klien tentang dan
pantau penggunaan alat bantu
mobilitas ( misalnya tongkat,
walker, kruk atau kursi roda )
Ajarkan dan bantu pasien dan
proses berpindah ( misalnya
dari tempat tidur ke kursi )
Rujuk ke ahli terapi fisik
untuk program latihan
Berikan penguatan positif
selama aktifitas
Bantu
pasien
untuk
menggunakan alas kaki anti
selip yang mendukung untuk
berjalan
Periksa keakuratan umpan
balik untuk memastikan bahwa
pasien memahami program
terapi dan informasi lainnya
yang relevan
Penyuluhan individual :
tentukan kebutuhan belajar
pasien,
lakukan
penilaian
terhadap tingkat pengetahuan
pasien saat ini dan pemahaman
terhadap materi
Kaji daya belajar pasien
Beri penyuluhan sesuai
dengan tingkat pemahaman
pasien, ulangi informasi bila
diperlukan
Gunakan berbagai pendekatan
penyuluhan,
redemonstrasi,
dan berkaitan umpan balik

terapi

secara verbal dan tertulis


Memperlihatkan
Beri informasi tentang
kemampuan menjelaskan sumber-sumber
komunitas
kembali materi yang telah yang dapat menolong pasien
disampaikan
dalam
mempertahankan
program terapi

4.

Insomnia

Klien
akan
dapat
melaporkan kualitas tidur
tidak terganggu dalam
waktu 1 x 24 jam dengan
criteria hasil :
Jumlah jam tidur
setidaknya 5 jam/24 jam
Perasaan segar setelah
tidur
Terbangun di waktu yang
sesuai

Tentukan efek samping


pengobatan terhadap pola tidur
pasien
Pantau pola tidur pasien dan
catat hubungan factor-faktor
fisik
(
misalnya
:
nyeri/ketidaknyamanan
dan
berkemih )
Anjurkan klien untuk
membatasi asupan cairan di
sore hari untuk menurunkan
kemungkinan terbangun di
malm hari karena ingin
berkemih
Bantu klien untuk memilih
aktifitas fisik dan social di
siang hari yang sesuai dengan
kemampuan
fungsionalnya
( misalnya berjalan )
Gunakan lampu malam hari
untuk keamanan pasien
Pertimbangkan menggunakan
pispot di samping tempat tidur
untuk digunakan di malam hari
meskipun tidak digunakan di
siang hari

4.EVALUASI
Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan
yang diberikan. Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir dari keseluruhan tindakan
keperawatan yang telah dilakukan. Hasil akhir yang diharapkan dari perawatan pasien post
operasi appendisitis adalah komplikasi dapat dicegah / minimal, nyeri terkontrol , prosedur
bedah/prognosis, program terapi dapat dipahami, kecemasan pada pasien / keluarga dapat
berkurang /teratasi, tidak terjadi inekfsi/keseimbangan cairan dan elektrolit dapat
dipertahankan
Evaluasi ini bersifat formatif, yaitu evaluasi yang dilakukan secara terus menerus untuk
menilai hasil tindakan yang dilakukan disebut juga evaluasi tujuan jangka pendek. Dapat pula

bersifat sumatif yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir semua tindakan yang
dilakukan sekaligus disebut juga mengevaluasi tujuan jangka panjang