You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taksonomi Teh
Kingdom : Plantae
Division : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Kelas : Dichotyledoneae
Ordo : Trantroemiaccae
Family : Theaceae
Genus : Camellia
Spesies : Camellia sinensis (L) (Fitri, 2009)
Tanaman teh termasuk genus Camellia yang memiliki sekitar 82 species,
terutama tersebar di kawasan Asia Tenggara pada garis lintang 30 sebelah utara
maupun selatan khatulistiwa. Selain tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O.
Kuntze) yang dikonsumsi sebagai minuman penyegar, genus Cammelia ini juga
mencakup banyak jenis tanaman hias. Kebiasaan minum teh diduga berasal dari
China yang kemudian berkembang ke Jepang dan juga Eropa. Tanaman teh
berasal dari wilayah perbatasan negara-negara China selatan (Yunan), Laos Barat
Laut, Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur Laut, yang merupakan
vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis.
Pada tanaman perkebunan sering dijumpai berbagai jenis serangga. Tidak
semua jenis serangga tersebut berstatus hama. Beberapa jenis di antaranya justru
merupakan serangga berguna, misalnya penyerbuk dan musuh alami (parasitoid
dan predatcr). Ada juga jenis serangga berstatus tidak jelas karena hanya
berasosiasi saja di pertanaman.

Ada ratusan jenis serangga berstatus hama pada tanaman perkebunan.


Kehadiran serangga tersebut tidak selalu merugikan, sehingga tidak diperlukan
pengendalian. Meskipun demikian, pertumbuhan populasinya harus diwaspadai
agar tidak terjadi lonjakan yang mengarah ke eksplosi. Tidak terjadinya gangguan
hama pada pertanaman karena populasinya terkendali secara alami, baik oleh
faktor abiotis, misalnya iklim yang tidak mendukung, maupun oleh faktor biotis,
misalnya tidak tersedianya sumber pakan dan berlimpahnya populasi musuh
alami.
Di antara serangga-serangga hama, ada yang dikelompokkan sebagai hama
utama karena memiliki potensi biotik (daya reproduksi, daya makan atau daya
rusak, dan daya adaptasi) yang tinggi. Hama tersebut selalu mengakibatkan
kehilangan hasil panen yang relatif tinggi sepanjang tahun, bahkan sering
dilaporkan mengalami eksplosi, apabila kondisi lingkungan mendukung. Untuk
mengendalikannya, petani pada umumnya menggunakan pestisida (kimiawi) yang
diaplikasikan secara terjadual dengan frekuensi tinggi, tanpa memperhatikan
keadaan populasi di lapang. Penggunaan insektisida menjadi berlebihan sehingga
seringkali tidak mengenai sasaran, bahkan dapat menimbulkan dampak negatif
baik terhadap pendapatan petani, maupun lingkungan, seperti musnahnya
serangga berguna dan munculnya gejala resurgensi dan resistensi hama. Cara
tersebut dilakukan karena belum tersedia cara pengendalian lain yang efektif dan
tidak berdampak negatif di tingkat petani.
Mengingat dampak negatif penggunaan pestisida, pemerintah telah
mengeluarkan kebijaksanaan tentang sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Pelaksanaannya dengan menciptakan dan menerapkan teknologi pengendalian
hama yang berwawasan lingkungan, antara lain dengan memanfaatkan musuh
alami. Di dalam makalah ini dikemukakan beberapa jenis hama utama tanaman
teh, kopi dan kelapa, dan cara pengendaliannya dengan memanfaatkan musuh
alami berdasarkan pola pelaksanaan SLPHT.
1.2 Tujuan
Tujuan kegiatan pembuatan makalah ini yaitu:

a. Sebagai tugas mata kuliah Pengendalian Hama Penyakit Terpadu


b. Mencari informasi tentang Hama yang menyerang tanaman teh sekaligus
pengendaliannya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep dan Pengertian PHT
PHT merupakan konsep sekaligus strategi penanggulangan hama dengan
pendekatan

ekologi

dan

efisiensi

ekonomi

dalam

rangka

pengelolaan

agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang terlanjutkan. Ini berarti bahwa


pengendalian hama harus terkait dengan pengelolaan ekosistem secara
keseluruhan. Pengelolaan ekosistem dimaksudkan agar tanaman dapat tumbuh
sehat sehingga memiliki ketahanan ekologis yang tinggi terhadap hama. Untuk
itu, petani harus melakukan pemantauan lapang secara rutin. Dengan demikian,
perkembangan

populasi

dan

faktor-faktor

penghambat

lainnya

dapat

diatasi/diantisipasi dan faktor-faktor pendukung dapat dikembangkan. Apabila


dengan pengelolaan ekosistem tersebut masih terjadi peningkatan populasi dan
serangan hama, langkah selanjutnya adalah tindakan pengendalian.
Sasaran PHT adalah:

Produktivitas pertanian mantap tinggi

Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat

Populasi hama dan kerusakan tanaman karena serangannya tetap berada


pada tingkatan yang secara ekonomis tidak merugikan

Pengurangan resiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida.

Strategi PHT adalah memadukan secara kompatibel semua taktik atau metode
pengendalian hama. Taktik PHT adalah:
Pemanfaatan proses pengendalian alami dengan mengurangi tindakan-tindakan
yang dapat merugikan atau mematikan perkembangan musuh alami

Pengelolaan ekosisem melalui usaha bercocok tanam, yang bertujuan untuk


membuat lingkungan tanaman menjadi kurang sesuai bagi perikehidupan hama
serta mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati
Pengendalian fisik dan mekanis yang bertujuan untuk mengurangi populasi
hama, mengganggu aktivitas fisiologis hama yang normal, serta mengubah
lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan hama
Penggunaan pestisida secara selektif untuk mengembalikan populasi hama pada
tingkat keseimbangannya. Selektivitas pestisida didasarkan atas sifat fisiologis,
ekologis, dan cara aplikasi. Penggunaan pestisida diputuskan setelah dilakukan
analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan dan ketetapan ambang kendali.
Pestisida yang dipilih harus yang efektif dan direkomendasikan. Ada empat
prinsip yang harus dilaksanakan dalam penerapan PHT, yaitu pembudidayaan
tanaman sehat, pelestarian musuh alami, pemantauan secara rutin, dan
pengambiian keputusan pengendalian oleh petani.

2.2 Pengertian Musuh Alami


Di dalam ekosistem pertanian terdapat kelompok makhluk hidup yang
tergolong predator, parasitoid, dan patogen. Ketiga kelompok yang disebut musuh
alami tersebut mampu mengendalikan populasi hama. Tanpa bekerjanya musuh
alami, hama akan memperbanyak diri dengan cepat sehingga dapat merusak
tanaman.
Predator merupakan kelompok musuh alami yang sepanjang hidupnya
memakan mangsanya. Predator memiliki bentuk tubuh yang relatif besar sehingga
mudah dilihat. Contoh predator penting adalah tungau Amblyseius deleoni yang
memangsa tungau jingga, Brevipalpus phoenicis pada teh.
Parasitoid memiliki inang yang spesifik berukuran relatif kecil, sehingga
sulit dilihat. Umumnya, parasitoid hanya memerlukan seekor serangga inang.
Parasitoid meletakkan telurnya secara berkelompok atau individual di dalam atau
5

di sebelah luar tubuh inangnya. Bila sebutir telur parasitoid menetas dan
berkembang menjadi dewasa, maka inangnya akan segera mati. Parasitoid dapat
menyerang telur, larva, nimfa, pupa atau imago inang.
2.3 Hama dan Penyakit Tanaman Teh
A. Hama Tanaman Teh
1. Kepik pengisap daun teh (Helopeltis spp.)
Helopeltis antonii dan Helopeltis theivora, Famili Miridae,
Ordo Hemiptera. Kepik pengisap daun atau Helopeltis menyerang
pucuk daun muda. Kepik ini menusuk dan mengisap daun teh
sehingga menjadi bercak-bercak hitam. Serangan pada ranting
dapat menyebabkan kanker cabang
Serangga betina meletakkan telu kira-kira 80 butir. Telur
dimasukkan ke urat daun teh atau cabang pucuknya secara
tersembunyi untuk menghindari serangan predator. Telur juga
dimasukkan ke dalam ujung cabang hijau yang baru dipangkas.
Nimfa (mikung) berwarna oranye kemerah-merahan. Dewasa
(indung) berwarna hitam-putih menjadi hitam-merah untuk
antonii atau hitam-hijau untuk theivora. Helopeltis dewasa
mempunyai tiang kecil seperti jarum yang menonjol dari tengah
punggungnya (thorax). Jangka hidup nimfa dari menetas sampai
dewasa adalah 3 sampai dengan 5 minggu, sedangkan serangga
dewasanya bisa sampai 2 minggu.
Pengendalian: Melakukan pemetikan dengan daur petik 7
hari, pemupukan berimbang, sanitasi, mekanis. Helopeltis ini
memiliki banyak musuh alami seperti laba-laba lompat, belalang
sembah, capung dan predator lain sebagai agen pengendalian
hayati.
2. Ulat penggulung daun
Homona coffearia, Famili Tortricidae, Ordo Lepidoptera

Ulat penggulung daun membuat tempat berlindung pada daun


teh; caranya dengan menyambungkan dua (atau lebih) daun
bersama-sama dengan benang sutra, atau dengan menggulung
satu daun lalu menyambungkan pinggirnya. Daun yang terserang
tidak dapat dipetik sebagai hasil panen teh.
Ngengat Homona mengeluarkan telur yang berbentuk
datar. Telur tersebut tersusun dalam kelompok yang berbarisbaris di atas permukaan daun teh. Larva yang menetas akan
mulai memakan daun teh muda sehingga mengurangi hasil
panenan karena daun tersebut yang dimanfaatkan manusia.
Setelah larva tumbuh hingga panjangnya 18-26 mm, dia menjadi
kepompong, kemudian ia keluar sebagai ngengat dewasa.
Ngengat aktif hanya malam hari.
Pengendalian: Secara mekanis, melepas musuh hayati
seperti Macrocentrus homonae, dan Elasmus homonae.
3. Ulat jengkal (ulat kilan)
Hyposidra

talaca,

Ectropis

bhurmitra

dan

Buzura

suppressaria, Famili Geometridae, Ordo Lepidoptera.


Ulat jengkal menyerang daun, pupus daun dan pentil teh.
Serangan berat menyebabkan daun berlobang dan pucuk
tanaman gundul, sehingga tinggal tulang daun saja. Ketiga jenis
ulat jengkal tersebut dapat makan bermacam tanaman lain
selain teh. Ulat Hyposidra talaca dapat memakan tanaman kopi,
kakao, kina, Aleurites, jambu klutuk, rami dan beberapa jenis
kacang-kacangan. Ectropis bhurmitra bisa memakan pohon kina,
gambir,

kakao,

jerukpisang,

kacang

tanah,

singkong

dan

Sambucus. Ulat Buzura suppressaria dapat memakan mangga,


Aleurites, Eucalyptus, Litchi dan jambu biji. Jenis-jenis tanaman
yang merupakan tanaman inang untuk ulat jengkal ini sebaiknya
tidak ditanam di kebun teh, karena keberadaannya akan
membantu hama ini berkembang-biak.

Ngengat betina bertelur (tempatnya tergantung spesies).


Setelah menetas, larva (ulat) memakan daun teh. Setelah
berganti kulit beberapa kali, ulat menjadi kepompong. Akhirnya
dewasa (ngengat) keluar dari kepompong dan kawin.
Pengendalian:

Dengan

menjaga

kebersihan

kebun,

memusnahkan ulat/kepompong setiap kali memetik teh, dan


menggunakan pestisida nabati. Pengendalian dengan cara hayati
merupakan cara yang amat penting, dan akan berjalan sendiri
jika musuh alami tersedia dan dilestarikan.
4. Ulat penggulung pucuk
Cydia leucostoma, Famili Tortricidae, Ordo Lepidoptera
Ulat penggulung pucuk menyerang bagian tanaman teh yang
akan dipanen oleh petani, jadi hama ini memiliki potensi cukup
besar untuk merugikan petani. Ulat tersebut menggulung daun
pucuk dengan memakai benang-benang halus untuk mengikat
daun pucuk sehingga tetap tergulung. Cara dia menggulung
daun cukup khas.
Ngengat betina bertelur dengan meletakkan satu atau dua
telur per daun teh, biasanya pada daun yang matang di bagian
atas tanaman teh. Setelah larva (ulat) menetas, dia berjalan ke
pucuk dan masuk ke dalamnya. Setelah masuk, dia mulai makan.
Ulat yang baru menetas hanya bisa hidup lama di dalam pucuk.
Biasanya terdapat hanya satu ulat per pucuk. Ulat secara
bertahap membuat semacam sarang dan makan dari dalamnya.
Dua hari sebelum menjadi kepompong, ulat berhenti makan dan
mulai melipat daun di pinggirnya. Dalam lipatan daun, ulat
membuat kokon putih. Dewasa (ngengat) keluar dari kepompong
pada siang hari, biasanya antara jam 8:00 dan 15:00. Ngengat
kawin pada pagi atau malam.
Pengendalian: Secara mekanis, hayati dengan melepas
musuh alami Apanteles

5. Ulat api (Setora nitens, Parasalepida, Thosea)


Ulat api badan berbulu dengan panjang sekitar 2,5 cm. Ulat
ini menyerang bagian daun yang muda dan tua. Serangan hama
dapat menyerang sepanjang tahun dan terberat pada musim
kemarau. Daur hidup ulat api untuk fase telur 7 hari, ulat 6
minggu, kepompong 3 minggu dan dewasa 3-12 hari. Kerugian
tanaman teh karena ulat memakan daun pucuk sehingga
produksi berkurang. Cara mengendalikan ulat dapat dilakukan
secara mekanis dengan mengumpulkan kepom-pong sehingga
produksi berkurang, cara mengendalikan dapat dilakukan secara
mekanis yaitu mengumpulkan kepompong, menggunakan cara
hayati dengan parasit Rogas, Wilt dieses yang disebabkan oleh
virus dan penggunaan insektisida sesuai dengan rekomendasi.
Pengendalian: Secara mekanis, hayati dengan melepas
parasit
6. Tungau kuning
Polyphagotarsonemus latus, Famili Tarsonemidae, Ordo
Acarina
Tungau kuning adalah tungau kecil sekali, dengan panjang badan
yang biasanya 0,25 mm. Tungau kuning berkaki delapan.Tungau
ini biasanya terlihat pada permukaan bawah dari pucuk muda
dan juga di tunas. Tungau ini muncul pada pucuk muda,
khususnya di pohon teh yang baru dipangkas. Tungau menggali
lobang di permukaan tanah dan masuk ke lobang itu hingga
hanya dapat terlihat atas badannya. Serangannya lebih umum
terjadi pada musim hujan. Tungau ini dimangsa oleh musuh alami
efektif. Musuh alami itu juga semacam tungau kuning. Tungau
kuning musuh alami itu berkaki lebih panjang dan larinya lebih
cepat daripada tungau kuning hama tersebut.

Betina tungau kuning menghasilkan 25 telur. Telurnya kecil


sekali dan tersebar secara terpisah di permukaan daun, ranting,
bunga, dan tempat lain pada tanaman teh. Telur menetas dan
larva keluar berkaki enam. Larva berganti kulit dan menjadi
nimfa, yang berkaki delapan. Setelah berganti kulit beberapa kali
menjadi dewasa. Betina dapat bertelur tanpa kawin.
Pengendalian:

Secara

mekanis,

pengendalian

gulma,

pemupukan berimbang, predator Amblyseius


7. Tungau jingga (Brevipalpus phoenicis)
Hama ini menyerang daun tua pada bagian bawah daun.
Pada awal serangan terjadi becak-becak kecil pada pangkal daun
dimana tungai ini membentuk koloni. Serangan selanjutnya
tungau akan menyerang sampai ke ujung daun sehingga daun
berwarna kemerahan dan mengering. Serangan hama ini dapat
terjadi sepanjang tahun terutama musim kemarau. Kerugian
yang ditimbulkan berakibat pada daun tua yang rontok sehingga
tertinggal ranting-ranting tanaman. Dari segi daur hidup hama
ini, bentuk telurnya 14 hari, larva 5 hari, protonin 6 hari,
deutonin 7 hari, dan dewasa mencapai 33 hari. Selain tanaman
teh, hama ini dapat hidup di antara gulma khususnya yang
berdaun lebar.
Pengendalian: Secara mekanis, pengendalian gulma, pemupukan
berimbang, predator Amblyseius
8. Empoasca sp.
Hama ini sebenarnya hama utama pada tanaman kapas.
Akibat pengaruh lingkungan saat ini menyerang juga tanaman
teh. Serangan terdapat pada pucuk dan daun muda dengan cara
mengisap cairan daun. Bertelur pada pagi dan sore hari, serta
menetas sekitar 6 hari. Stadia nimfa lamanya sekitar 15 hari
dengan 4 instar yang hidup di bawah daun. Tanaman inang hama

10

ini

seperti:

leguminosa,

pupuk

hijau,

dadap,

cabe,

dll.

Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida dan sanitasi


sarana panen.
B. Penyakit Tanaman Teh
1. Cacar daun (Exobasidium vexans Massee)
Penyakit cacar daun teh yang disebabkan oleh jamur E.
vexans dapat menurunkan produksi pucuk basah sampai 50
persen karena menyerang daun atau ranting yang masih muda.
Umumnya serangan terjadi pada pucuk peko, daun pertama,
kedua dan ketiga. Gejala awal terlihat bintik-bintik kecil tembus
cahaya, kemudian bercak melebar dengan pusat tidak berwarna
dibatasi oleh cincin berwarna hijau, lebih hijau dari sekelilingnya
dan menonjol ke bawah. Pusat bercak menjadi coklat tua
akhirnya mati sehingga terjadi lobang.
Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga
atau

manusia.

Perkembangan

penyakit

dipengaruhi

oleh

kelembaban udara yang tinggi, angin, ketinggian lokasi kebun


dan sifat tanaman. Banyaknya bulu daun pada peko dapat
mempertinggi ketahanan terhadap penyakit cacar.
Pengendalian
naungan

agar

penyakit

sinar

dilakukan

matahari

dapat

dengan
masuk

pengaturan
ke

kebun.

Pemangkasan teh di musim kemarau agar tanaman yang baru


dipangkas dapat berkembang karena pada saat ini cacar teh sulit
berkembang. Pengaturan daur petik kurang dari 9 hari dapat
mengurangi sumber penularan baru karena pucuk terserang
sudah terpetik. Untuk pencegahan, sebaiknya ditanam klon teh
yang tahan terhadap penyakit cacar daun.
2. Penyakit akar

11

Penyakit akar yang penting pada tanaman teh yaitu: (1)


Penyakit akar merah anggur (Ganoderma pseudoferreum); (2)
Penyakit akar merah bata (Proria hypolateritia); (3) Penyakit akar
hitam (Rosellinia arcuata dan R. bunodes); (4) Penyakit leher
akar (Ustulina maxima); (5) Penyakit kanker belah (Armellaria
fuscipes).
Kelima penyakit ini menular melalui kontak akar sakit
dengan akar sehat atau melalui benang jamur yang menjalar
bebas

dalam

tanah

atau

pada

sampah-sampah

di

atas

permukaan tanah (jamur kanker belah). Gejala pada tanaman


terserang adalah daun menguning, layu, gugur dan akhirnya
tanaman mati. Untuk mengetahui penyebabnya, harus melalui
pemeriksaan akar. Batang tanaman teh terbelah dari bagian
bawah ke atas, kayu menjadi busuk kering dan lunak sehingga
mudah

hancur

(penyakit

kanker

belah).

Unsur

yang

mempengaruhi penyebaran penyakit adalah ketinggian tempat,


jenis/kondisi tanah dan jenis pohon pelindung.
Pengendalian
pelindung
terserang,

yang

dilakukan
tahan,

menjaga

dengan

membongkar

kebersihan

penanaman
tanaman

kebun

dan

teh

pohon
yang

pemberian

Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lobang bekas


tanaman yang dibongkar dan tanaman disekitarnya pada awal
musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak
ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh
disekitarnya diberi pupuk kandang atau pupuk organik.
3. Penyakit busuk daun (Cylindrocladium scoparium dan
Glomerella cingulata)
Penyakit busuk daun disebabkan oleh C. Scoparium dan G.
cingulata yang menyerang tanaman teh di pesemaian, dapat
mengakibatkan matinya setek teh. Bibit

12

terserang, timbul

bercak-bercak coklat pada daun induknya, dimulai dari bagian


ujung atau dari ketiak daun.
Pada serangan lanjut, daun induk terlepas dari tangkai,
akhirnya setek mengering /mati. Serangan lain dimulai dari ujung
tunas,kemudian

meluas

ke

bawah

akhirnya

seluruh

tunas

mengering. Penyebaran penyakit melalui konidia yang dapat


bertahan lama di dalam tanah.
Pencegahan

penyakit

dilakukan

dengan

mengatur

kelembaban di pesemaian dan membuat parit penyalur air untuk


mencegah penggenangan (drainase). Apabila ditemukan gejala,
langsung dilakukan penyemprotan fungisida kontak yang telah
direkomendasikan.

4. Penyakit mati ujung (Die back)


Penyakit mati ujung disebabkan oleh jamur Pestalotia
theae yang menyerang tanaman terutama melalui luka atau
bagian daun yang rusak. Gejala pada daun dimulai bercak kecil
berwarna coklat, kemudian melebar. Pusat bercak keabu-abuan
dengan tepinya berwarna coklat. Dapat menyerang ranting yang
masih hijau, dengan gejala sama seperti di daun. Serangan
jamur dapat menjalar sampai ke tunas sehingga ranting dan
tunas mengering. Pemetik teh mempunyai peranan dalam
menyebarkan jamur. Penyakit ini akan timbul pada tanaman
yang lemah karena kekurangan unsur hara (N dan K), pemetikan
yang berat, kekeringan, angin kencang dan sinar matahari yang
kuat.
Pengendalian

dilakukan

dengan

pemeliharaan

kondisi

tanaman yang baik yaitu pemupukan berimbang, membuang

13

bagian tanaman yang terinfeksi dan pengaturan

naungan

sehingga bidang petiknya tidak terkena sinar matahari langsung.

2.4 Musuh Alami Pada Tanaman Teh

Laba-laba tidak termasuk golongan serangga. Semua serangga mempunyai


6 kaki, tetapi laba-laba berkaki 8. Semua laba-laba adalah sahabat petani
karena memakan hama. Bila terdapat banyak laba-laba di kebun petani,
hama lebih mudah terkendali. Laba-laba tidak mengalami metamorfosa.
Setelah telur menetas, keluarlah laba-laba kecil, dan berganti kulit
beberapa kali. Laba-laba kecil bentuknya sama dengan laba-laba dewasa.

Sebagian jenis tungau adalah predator. Tungau tersebut mampu


mengendalikan beberapa jenis hama dalam agroekosistem teh dan tanaman
lain. Tungau predator memangsa tungau lain, trips, dan kutu putih. Dia
menyerang mangsanya, menusuk badannya, lalu mengisap bagian
dalamnya. Satu tungau dapat memakan 1 sampai 5 nimfa trips per hari.

Ada beribu-ribu macam semut di dunia ini. Semut memiliki pengaruh atas
lingkungannya dengan banyak cara. Sebagian bermanfaat untuk manusia
dan sebagian tidak. Semut di Indonesia pada umumnya tidak merusak
tanaman budidaya. Di kebun teh, semut merupakan musuh alami karena
menyerang ulat dan beberapa macam hama lain, contohnya Helopeltis.

Tawon ini sudah dikenal umum. Ada bermacam-macam dengan panjang


sekitar 1 cm sampai 4 cm. Tawon ini membuat sarang dari kertas atau
tanah untuk memelihara anaknya. Sengatannya menyakitkan. Tawon ini
efektif untuk memburu banyak jenis ulat termasuk ulat jengkal. Ia mampu
menangkap ulat besar. Macam-macam serangga lain juga dimakan oleh
tawon ini. Selain serangga, dia juga makan sari madu dari bunga.

Belalang sembah memakan banyak jenis serangga, termasuk hama-hama


teh seperti Helopeltis. Belalang sembah biasanya menunggu sampai
14

mangsa cukup dekat, dan dia menangkap mangsa dengan gerakan cepat
menggunakan kedua kaki depannya yang dilengkapi duri kecil untuk
menusuk mangsanya.

Pada umumnya, jangkrik dan belalang antena panjang predator suka


memakan telur atau serangga lain seperti ulat atau kutu. Memang tidak
semua jangkrik dan belalang antena panjang adalah predator. Kebanyakan
jenis belalang antena panjang memakan tanaman. Dalam golongan
jangkrik ada banyak yang bertindak sebagai pengurai.

Lalat ini dianggap sebagai predator yang memangsa serangga kecil.


Kakinya panjang sekali dan warnanya hijau kilat yang cemerlang. Ia dapat
berlari dengan cepat. Lalat ini dapat ditemukan di kebun teh dan senang
sekali hinggap di atas daun di bawah cahaya matahari. Lalat ini adalah
makhluk siang hari. Larva lalat menari adalah pemangsa kutu daun dan
serangga kecil lain yang efektif.

Masalah hama biasanya timbul karena hasil kerja kombinasi unsur-unsur


lingkungan yang sesuai, baik biotik (tanaman atau makanan) maupun abiotik
(iklim, cuaca, dan tanah), serta campur tangan manusia yang dapat mendukung
pertumbuhan dan perkembangan populasi hama. Oleh karena itu, pemantauan
ekosistem pertanaman yang intensif secara rutin oleh petani merupakan dasar
analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang
diperlukan.
Kegiatan pemantauan populasi hama ditujukan untuk menentukan apakah
populasi hama tersebut telah melampaui tingkat kerusakan ekonomis. Hal tersebut
dimaksudkan agar populasi hama tidak terlambat dikendalikan. Dalam kegiatan
tersebut tingkat populasi hama tidak ditentukan dengan menghitung banyaknya
individu hama secara keseluruhan di lapang, tetapi dengan menduga populasi
hama berdasarkan teknik penarikan contoh.
Pemantauan populasi pada pertanaman dianjurkan seminggu sekali, mulai
awal pertumbuhan tanaman hingga menjelang panen. Banyaknya individu hama
15

di lapang dihitung dengan unit contoh berupa tanaman tunggal atau sejumlah
tanaman per unit area. Dalam hal ini perlu diingat bahwa unit contoh kecil yang
berjumlah banyak memberikan data lebih dipercaya daripada unit contoh besar
yang berjumlah sedikit. Kegiatan pemantauan juga dilakukan terhadap jenis dan
populasi musuh alami, dan keadaan tanaman.
Metode pemantauan umumnya dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
Acak menggunakan tabel nomor acak pada beberapa unit habitat
Acak berstrata, yaitu dengan membagi lahan menjadi beberapa strata yang tidak
tumpang-tindih kemudian banyaknya unit contoh dibagi secara proporsional untuk
tiap stratum dan ditempatkan secara acak
Acak diagonal, yaitu dengan mengambil contoh secara acak pada bidang
diagonal lahan
Sistematik, yaitu dengan mengambil contoh pada selang ruang atau waktu
tertentu. Pemilihan terhadap metode pemantauan umumnya didasarkan atas
ketentuan yang berhubungan dengan tingkat kepercayaan dan biaya penarikan
contoh.

2.5 Pengambilan Keputusan Pengendalian


Petani sebagai pengambil keputusan di lahannya sendiri hendaknya
memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem serta
mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan
prinsip-prinsip PHT. Contoh pengambilan keputusan pengendalian hama
berdasarkan hasil pemantauan ekosistem adalah sebagai berikut:
1. Apabila ada bagian tanaman yang menunjukkan gejala terserang penyakit,
maka bagian tanaman terserang dipangkas dan dimusnahkan dengan jalan dibakar.

16

2. Apabila ditemukan kelompok telur, segera dilakukan pengumpulan dan


memeliharanya. Parasitoid telur yang muncul dibiarkan lepas ke pertanaman.
Pengumpulan kelompok telur dilakukan setelah terlihat penerbangan imago,
dengan selang waktu paling lambat 4 hari sekaii, sehingga telur belum sempat
menetas.
3. Dilakukan pengumpulan dan mematikan individu hama yang ditemukan di
pertanaman.
4. Apabila ditemukan liang-liang aktif tikus dan tanda-tanda keberadaan populasi
tikus di lahan maka dilakukan gropyokan, sanitasi lingkungan, pemasangan bubu
perangkap

tikus,

dan

pengumpanan

beracun

menggunakan

rodentisida

antikoagulan.
5. Apabila populasi hama melampaui ambang kendali dan populasi musuh alami
relatif berlimpah, maka jangan dilakukan pengendalian. Tetapi apabila populasi
musuh alami relatif sedikit, maka dilakukan pengendalian dengan insekisida
efektif.

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ekosistem perkebunan yang pada umumnya relatif stabil merupakan faktor
menguntungkan bagi pemanfaatan musuh alami. Kestabilan ekosistem ini
selayaknya dipertahankan melalui pengeloaan yang bijaksana.
2. Musuh alami berperan penting dalam ekosistem perkebunan karena dapat
mengendalikan dan mengatur populasi hama. Keberadaannya dalam ekosistem
17

perlu dilestarikan melalui usaha konservasi dan peningkatan efektivitas musuh


alami.
3. Penerapan konsep PHT pada tanaman perkebunan terbukti efektif terutama
dengan pemanfaatan musuh alami.

18