You are on page 1of 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya maka
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Konsep Dasar Kebidanan
Komunitas.
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Askeb. Dalam Penulisan makalah ini kami merasa
masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan keterbatasan kemampuan yang dimiliki kami. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

Padang, Maret 2016


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................................
ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................
iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................................
1
B. Rumusan Masalah......................................................................................................
2
C. Rumusan Masalah......................................................................................................
2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Epidemiologi................................................................................................
3
B. Tujuan Epidemiologi..................................................................................................
8
C. Ruang Lingkup Epidemiologi....................................................................................
11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan................................................................................................................
13
B. Saran...........................................................................................................................
13

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Terapi sulih hormon (hormone replacement therapy HRT) merupakan jenis


obat yang paling banyak diresepkan bagi wanita postmenopause di negara-negara
maju. Para wanita menggunakannya untuk mengatasi gejala menopause. 1 Setiap
tahun jumlah wanita postmenopause akan semakin meningkat dan pada tahun 2030
jumlah

wanita

postmenopause

diperkirakan

sebesar

1.200

juta

jiwa.2

Kecenderungan peningkatan jumlah wanita yang mengalami menopause


berdampak pada peningkatan masalah kesehatan sehingga dapat mempengaruhi
kualitas hidup serta produktivitas wanita pascamenopause. Tata laksana menyeluruh
untuk permasalahan ini sangat diperlukan, termasuk di dalamnya penggunaan terapi
sulih hormon, baik berupa estrogen saja maupun kombinasi estrogen dan
progesteron.
Akhir akhir ini banyak yang menggunakan terapi kombinasi estrogen dan
progesteron karena pemberian estrogen saja dapat meningkatkan risiko terjadinya
hiperplasia bahkan karsinoma endometrium, sedangkan progesteron digunakan
sebagai tambahan untuk mengurangi resiko tersebut. Seperti halnya obat obat
hormonal sintetik yang lain, terapi kombinasi sulih hormon ini juga mempunyai
beberapa efek samping yang secara tidak langsung dapat menurunkan kualitas hidup
wanita postmenopause. Oleh karena itu perlu dikaji tentang pengaruh terapi
kombinasi estrogen dan progesteron terhadap kualitas hidup wanita postmenopause.

B.

Tujuan
Mengetahui pengaruh terapi kombinasi estrogen dan progesterone terhadap

kualitas hidup wanita postmenopause.


C. rumusan masalah

1.

Mengetahui apa itu HRT

2.

Bagaimana cara penggunaan HRT

BAB II
PEMBAHASAN
A.

MENOPAUSE

1.

Definisi

Menopause adalah keadaan wanita yang mengalami penurunan fungsi indung


telur,sehingga produksi hormon esterogen berkurang yang berakibat terhentinya
menstruasi untuk selamanya (mati menstruasi).
Usia menopause di Indonesia 49 tahun , tetapi biasanya sejak wanita di atas
40 tahun menstruasi sudah tidak teratur,siklus sering kali terjadi tanpa pengeluaran
sel telur, hal ini berarti kemungkinan untuk hamil kecil , namun bila terjadi
kehamilan pada usia ini , kemungkinan besar memperoleh anak yang cacat/dengan
kualitas yang kurang baik.Masa 4-5 tahun sebelum menopause ddisebut
klimakterium,dimana wanita mulai merasakan perubahan yang gejala timbulnya
tidak sama , bergantung pada faktor budaya ,tingkat pendidikan,lingkungan,dan
genetika.
Faktor faktor yang memengaruhi menopause
a. Usia haid pertama kali (menarche)
Semakin muda seseorang mengalami haid pertama kalinya,semakin tua atau
lama ia memasuki masa menopause.
b. Jumlah anak
Makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua/lama mereka
memasuki masa menopause.
c. Usia melahirkan
Semakin tua seseorang melahirkan anak ,semakin tua ia mulai memasuki usia
menopause.Hal

ini

terjadi

karena

kehamilan

dan

persalinan

akan

memperlambat sistem kerja organ reproduksi bahkan akan memperlambat


proses penuaan tubuh.
d. Faktor Psikis
Wanita yang tidak menikah dan bekerja diduga mempengaruhi perkembangan
psikis seorang wanita.Mereka akan mengalami masa menopause lebih muda

dibandingkan mereka yang menikah dan tidak bekerja/ bekerja atau tidak
menikah dan tidak bekerja.
e. Wanita dengan histerektomi
Pada wanita yang melakukan histerektomi akan mengalami gejala menopause
pada usia yang lebih muda.
f. Pemakaian kontrasepsi
Pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal akan lebih lama/tua
g.
h.
i.
j.

memasuki menopause.
Merokok
Pada wanita merokok akan lebih cepat memasuki masa memopause.
Sosial ekonomi
Budaya dan lingkungan
Budaya dan lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat
atau tidak menyesuaikan diri dengan fase klimakterium.

2.Gejala
Perubahan/dampak negatif yang terjadi pada masa menopause
a. Jangka Pendek
Keadaan fisik seorang wanita menopause mengalami banyak perubahan
akibat perubahan organ reproduksi dan juga hormon tubuh.Keadaan ini bisa
menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-hari ,diantaranya
sebagai berikut.
1) Perasaan panas (hot flush)
a) Rasa panas yang luar biasa pada wajah dan tubuh bagian atas (seperti
leher dan dada)
b) Pada saat terjadi gejolak panas warna kulit menjadi kemerahan
didaerah dada,leher, dan wajah serta twerasa adanya peningkatan suhu
pada perabaan.
c) Gejolak pans terjadi karena jaringan-jaringan yang sensitif atau yang
bergantung pada esterogen akan terpengaruh sewaktu kadar esterogen
menurun.

d) Sering timbul dimalam hari sehingga bisa menyebabkan wanita


terbangun dari tidurnya.
e) Terjadi hanya dalam hitungan menit sampai 1 jam.
f) Rasa panas akan berkurang jika udara dingin,namun akan lebih sering
timbul dan sangat mengganggu dalam keadaan stres.
g) Rasa panas ini akan berkurang dan hilang setelah 4-5 tahun
pascamenopause.
2) Kelainan kulit,gigi,rambut, dan keluhan sendi/tulang
a) Rendahnya kadar esterogen dalam tubuh berpengaruh pada jaringn
kolagen yang berfungsi sebagai jaringan penunjang pada tubuh.
b) Hilangnya kolagen menyebabkan kulit kering dan keriput,rambut
terbelah-belah,rontok,gigi

mudah

goyang

dan

gusi

berdarah,sariawan,kuku rusak,serta timbulnya sakit dan ngilu pada


persendian.
3) Vaginan Kering
a) Menimbulkan rasa sakit pada saat berhubungan intim.
b) Berkurangnya esterogen menyebabkan keluhan / gangguan pada epitel
vagina,jaringan penunjang, dan elastisitas dinding vagina.
4) Tidak dapat menahan air seni
Ketika usia bertambah air seni sering tidak dapat ditahan pada saat batuk
dan bersin.
5) Penambahan berat badan
a) Saat wanita mulai menginjak usia 40 tahun ,biasanya tubuhnya mulah
menjadi gemuk tetapi sangan sulit menurunkannya.
b) Setiap kurun waktu 10 tahun,akan bertambah berat badan.
6) Gangguan mata
Kurang dan hilangnya esterogen memengaruhi produksi kelenjar air mata
sehingga terasa kering dan gatal.
7) Nyeri tulang dan sendi

b. Jangka Panjang
1) Osteoporosis
a) Berkurangnya kepadatan tulang karena penurunan kadar esterogen,
sehingga tulang menjadi mudah rapuh dan patah.

b) Osteoporosis umumnya terjadi pada tulang yang berongga , yaitu tulan


paha,panggul dan lengan bawah.
c) Osteoporosis dipercepat oleh kekurangan kalsium,sinar matahari ,
aktivitas

fisik

dan

olahraga,kekurangan

gizi,kelainan

kelenjar

gondok,merokok,dll
2) Penyakit jantung koroner
Berkurangnya esterogen dapat menurunkan kadar kolesterol baik (High
Density Lipoprotein/HDL) dan meningkatkan kadar kolesterol jahat (Low
Density Lipoprotein/LDL) yang meningkatkan kejadian penyakit jantung
koroner pada wanita.
B.

TERAPI SULIH HORMON

1.

Definisi
Hormone replacement therapy atau yang diterjemahkan sebagai terapi sulih

hormon didefinisikan sebagai :


a. Terapi menggunakan hormon yang diberikan untuk mengurangi efek
defisiensi hormon.
b. Pemberian hormon (estrogen, progesteron atau keduanya) pada wanita
pascamenopause atau wanita yang ovariumnya telah diangkat, untuk
menggantikan produksi estrogen oleh ovarium.
c. Terapi menggunakan estrogen atau estrogen dan progesteron yang diberikan
pada wanita pascamenopause atau wanita yang menjalani ovarektomi, untuk
mencegah efek patologis dari penurunan produksi estrogen.
2.

Epidemiologi
Penggunaan sulih hormon di Indonesia masih sangat terbatas. Berbeda

dengan negara barat, keluhan yang lebih sedikit dan penerimaan masyarakat terhadap
menopause, faktor pendidikan, sosial, ekonomi mempengaruhi jumlah pemakaian
sulih hormon di Indonesia khususnya dan negara Asia umumnya.

10

3.

Khasiat Hormon Estrogen dan Progesteron

a.

Pematang alat genital wanita

b.

Pengatur pembagian lemak

c.

Pigmentasi kulit

d.

Pertumbuhan rahim dan lapisan

e.

Proses metabolik tubuh

f.

Proses pembekuan darah

g.

Peningkatan faktor protein

h.

Pengaturan kadar kolesterol darah

i.

Faktor-faktor libido, cairan tubuh, otot polos

4.

Indikasi
Berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh North American Menopause

Society (NAMS), indikasi primer pemberian terapi sulih hormon adalah adanya
keluhan menopause seperti gejala vasomotor berupa hot flush dan gejala urogenital.
Di Indonesia, terapi sulih hormon diberikan hanya pada pasien menopause dengan
keluhan terkait defisiensi estrogen yang mengganggu atau adanya ancaman
osteoporosis dengan lama pemberian maksimal 5 tahun.
5.

Kontra Indikasi

a. Kontraindikasi HRT

Perdarahan vagina yang tidak terdiagnosis

Parah penyakit hati

Kehamilan

Penyakit arteri koroner (CAD)

Trombosis vena

11

Nah yang membedakan dan awal kanker endometrium (sekali pengobatan


untuk keganasan selesai, tidak lagi merupakan kontraindikasi absolut.)
progestin saja dapat meredakan gejala jika pasien tidak dapat mentoleransi
estrogen.

b. Kontraindikasi Relatif HRT

Migrain sakit kepala

Pribadi sejarah kanker payudara

Sejarah fibroid uterus

Duktal Atypical hyperplasia dari payudara

Aktif kantong empedu penyakit ( kolangitis , kolesistitis )


The Hong Kong College of Obstreticians and Gynaecologists menyebutkan

beberapa kontra indikasi absolut terapi sulih hormon, yaitu karsinoma payudara,
kanker endometrium, riwayat tromboemboli vena dan penyakit hati akut.
6.

Cara Pemberian
Sulih hormon dapat berisi estrogen saja atau kombinasi dengan progesteron.

Pilihan rejimen yang digunakan bergantung pada riwayat histerektomi. Untuk wanita
yang tidak menjalani histerektomi, umumnya diberikan kombinasi dengan
progesteron untuk mengurangi risiko terjadinya keganasan pada uterus.
a. Rejimen I, yang hanya mengandung estrogen
Rejimen ini bermanfaat bagi wanita yang telah menjalani histerektomi.
Estrogen diberikan setiap hari tanpa terputus.
b. Rejimen II, yang mengandung kombinasi antara estrogen dan progesteron.

Kombinasi sekuensial: estrogen diberikan kontinyu, dengan progesteron


diberikan secara sekuensial hanya untuk 10-14 hari (12-14 hari) setiap siklus
dengan tujuan mencegah terjadinya hiperplasia endometrium. Lebih sesuai
12

diberikan pada perempuan pada usia pra atau perimenopause yang masih
menginginkan siklus haid.

Estrogen dan progesteron diberikan bersamaan secara kontinyu tanpa


terputus. Cara ini akan menimbulkan amenorea. Pada 3-6 bulan pertama
dapat saja terjadi perdarahan bercak. Rejimen ini tepat diberikan pada
perempuan pascamenopause.

7.

Bentuk Sediaan

Sediaan sulih hormon yang terdapat di Indonesia adalah:


a. Estrogen, dalam bentuk 17 estradiol, estrogen ekuin konjugasi (CEE),
estropipat, estradiol valerat dan estriol.
b. Progestogen, seperti medroksi progesteron asetat (MPA), didrogesteron,
noretisteron, linesterenol.
c. Sediaan kombinasi estrogen dan progestogen sekuensial seperti 2 mg
estradiol valerat + 10 mg MPA, 2 mg estradiol valerat + 1 mg siproteron
asetat, 1-2 mg 17 estradiol + 1 mg noretisteron asetat.
d. Sediaan kombinasi estrogen dan progestogen kontinyu seperti 2 mg 17
estradiol + 1 mg noretisteron asetat.
e. Sediaan yang bersifat estrogen, progesteron dan androgen sekaligus, yaitu
tibolon
f. Sediaan plester maupun krim yang berisi estrogen berupa 17 estradiol.
g. Sediaan estrogen dalam bentuk krim vagina yang berisi estriol.
8.

Sediaan Kombinasi Estrogen dan Progesteron


Pemberian estrogen saja dapat meningkatkan risiko terjadinya hiperplasia

bahkan karsinoma endometrium, maka wanita yang menggunakan terapi sulih

13

hormon dan tidak menjalani histerektomi diberi progesteron sebagai tambahan.


Untuk keperluan ini digunakan progestogen sintetik, sebab progesteron sangat sulit
diabsorpsi meskipun diberikan dalam bentuk mikro, selain itu juga sebuah laporan
kasus menyebutkan bahwa progesteron menimbulkan efek hipnotik sedatif.
Progestogen

memiliki

aktivitas

androgenik,

terutama

derivat

19-

nortestosteron seperti norgestrel dan norethindron (noretisteron). Sebaliknya, derivat


C-21 pregnane seperti medroksiprogesteron asetat, didrogesteron, medrogeston dan
megestrol asetat merupakan androgen yang sangat lemah. Tiga derivat 19nortestosteron dengan efek androgenik yang dapat diabaikan yaitu desogestrel,
norgestimate dan gestodene belakangan ini mulai digunakan sebagai kombinasi
kontrasepsi oral dan sulih hormon.
9.

Jenis dan Dosis yang Dianjurkan

Berikut adalah dosis yang dianjurkan di Indonesia.


Tabel 1. Dosis Anjuran Sulih Estrogen
Estrogen konjugasi
17 estradiol
Estradiol valerate
Estradiol
Tabel 2. Dosis Anjuran Sulih Progesteron
Progesteron
Medroksiprogesteron asetat (MPA)
Siproteon asetat
Didrogesteron
Normogestrol asetat
Penggunaan dan Cara Kerja HRT

14

Menggunakan terapi hormon pengganti atau tidak merupakan hal yang


kontroversial.

Masih

terlihat

masih

banyaknya

praktisi

medis

yang

merekomendasikan pemberian terapi hormon pengganti. Pada umumnya terapi


hormon pengganti diberikan pada mereka yang tidak menderita karsinoma payudara
atau kondisi lain yang merupakan kontra indikasi pemberian terapi hormon
pengganti seperti misalnya gangguan pembekuan darah, karsinoma endometrium,
karsinoma ovarium mengingat bahwa masih banyaknya penderita penyakit jantung
dan osteoporosis.
a. Penggunaan pada wanita yang menderita Hipertensi
Secara umum, hipertensi bukanlah kontraindikasi terhadap pemakaian HRT.
Para ahli telah memahami bahwa memang tekanan darah akan meningkat pada saat
ovulasi karena adanya kadar estrogen yang meningkat.
Pada wanita dengan hipertensi yang terkontrol, HRT masih dapat diberikan.
Sedangkan bagi pasien dengan tekanan darah yang sudah tinggi sebelum
menggunakan HRT, harus menjalani perawatan guna penurunan tekanan darah
terlebih dahulu. Setelah tekanan darah berhasil diturunkan dan menjadi stabil dan
terkontrol, HRT dapat mulai diberikan. Pasien dengan tekanan darah di atas 160/95
atau 160/100 mmHg, memang merupakan kondisi yang terlalu tinggi untuk memulai
atau meneruskan HRT. Pada keadaan ini, pengobatan antihipertensi perlu diberikan
dahulu pada pasien. Wanita dengan sejarah keluarga menderita hipertensi dapat
menerima HRT. Karena pada wanita ini menggunakan atau tidak menggunakan HRT,
kemungkinan terjadi hipertensi tetap tinggi.
b. Penggunaan pada wanita yang menderita Diabetes
Sesungguhnya tidak akan ada alasan kuat bahwa wanita yang menderita
diabetes tidak dapat menerima HRT. Hanya saja, pasien harus dimonitor secara lebih
ketat dibandingkan pada pengguna yang tidak menderita diabetes. Beberapa studi
bahkan memperlihatkan penambahan estrogen pada wanita menopause yang

15

menderita diabetes memberikan efek perlindungan terhadap jantung. Estrogen juga


dapat memperbaiki perubahan metabolik yang diasosiasikan dengan diabetes. Pada
penelitian terhadap wanita penderita diabetes yang tidak tergantung pada insulin,
penambahan estrogen ternyata memperbaiki parameter metabolik glukosa, termasuk
resistensi terhadap insulin.
c. Penggunaan pada wanita dengan penyakit hati
Wanita yang menderita penyakit hati ringan atau hanya mengalami sedikit
peningkatan fungsi hati; atau yang pernah menderita penyakit hati namun telah
sembuh total, dapat menggunakan HRT selama dilakukan dengan pengawasan ketat.
Dianjurkan untuk memeriksa fungsi hati 1 bulan setelah menggunakan HRT dan
setiap 6 bulan berikutnya. Pada penderita penyakit hati berat, HRT tidak dapat
digunakan karena estrogen di metabolisme di hati.
d. Penggunaan pada wanita yang menderita fibroid atau myom
Wanita dengan fibroid yang kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tetap dapat
menggunakan HRT. Namun, bagi mereka disarankan untuk melakukan pemeriksaan
panggul setahun sekali untuk melihat perkembangan fibroidnya. Pada penelitian, di
mana wanita penderita fibroid menggunakan HRT selama 3 tahun, terjadi
peningkatan ukuran fibroid sampai tahun ke 2, setelah itu terjadi penurunan ukuran
fibroid. Secara klinis peningkatan volume fibroid pada penelitian ini sesungguhnya
tidak perlu ditakutkan karena peningkatannya hanya kecil. Akan tetapi, bagi
penderita fibroid yang menggunakan HRT kemudian ternyata fibroid-nya membesar,
mengalami perdarahan, dianjurkan untuk menghentikan penggunaan HRT-nya.
e. Penggunaan pada wanita dengan sejarah kanker serviks
Tidak ada bukti bahwa kejadian kanker serviks akan meningkat dengan HRT.
f. Penggunaan pada wanita yang mempunyai resiko menderita kanker payudara
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemakaian jangka panjang bagi
pengguna HRT dapat sedikit meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. Tetapi

16

resiko-nya lebih kecil bila dibandingkan wanita menopause yang obesitas atau
mengkonsumsi alkohol setiap hari.
Berdasarkan penelitian, wanita yang terserang kanker payudara ketika sedang
menggunakan HRT, mempunyai resiko kematian yang lebih kecil karena dapat
terdeteksi lebih dini dan mempercepat pertumbuhan tumor yang sudah ada sehingga
sel-sel kanker-nya kurang agresif.
10. Lama Penggunaan
Menurut NHMRC lamanya pemberian terapi sulih hormon adalah sebagai
berikut:
a. Untuk penatalaksanaan gejolak panas, pemberian terapi sulih hormon
sistemik selama 1 tahun dan kemudian dihentikan total secara berangsurangsur (dalam periode 1-3 bulan) dapat efektif.
b. Untuk perlindungan terhadap tulang dan menghindari atrofi urogenital,
pemakaian jangka lama diindikasikan tetapi lamanya waktu yang optimal
tidak diterangkan dengan jelas.
c. Setelah penghentian terapi masih terdapat manfaat untuk perlindungan
terhadap tulang dan koroner, tetapi menghilang bertahap setelah beberapa
tahun.
Mengacu pada hasil penelitian terbaru dari WHI, lama pemakaian terapi sulih
hormon di Indonesia maksimal 5 tahun. Hal ini

ditentukan berdasarkan aspek

keamanan penggunaan terapi sulih hormon jangka panjang.


Penggunaan Terapi Sulih Hormon & Efek Yang Ditimbulkannya
Untuk menentukan apakah HRT harus diberikan secara rutin atau berkala
pada wanita menopause berisiko terhadap osteoporosis dan kardiovaskuler. Sudah
terbukti bahwa estrogen dapat mencegah osteoporosis pada menopause. Sebenarnya

17

proses osteoporosis mulai berlangsung beberapa tahun sebelum menopause, ketika


kadar estrogen dalam darah mulai berkurang yaitu umur 40-50 tahun yang ditandai
dengan gangguan haid. Dari hasil penelitian diketahui 10% kandungan mineral pada
tulang wanita tersebut telah menurun dibanding wanita yang haidnya masih teratur,
dengan demikian dianjurkan supaya HRT sudah dimulai 4-5 tahun sebelum
menopause, bila gangguan jangka panjang seperti osteoporosis dan penyakit
kardiovaskuler hendak dicegah. Terapi ini harus berlangsung bertahun-tahun yaitu
10-15 tahun sesudah menopause bahkan ada yang mengajnurkan seumur hidup,
karena dapat disangsikan daya cegah estrogen akan menghilangkan bila substitusinya
dihentikan dan proses pengeroposan tulang yang akan dilanjutkan.
Adapun strategi yang dilakukan sebagai berikut.
1. Terapi selama 2-3 tahun untuk menghilangkan gejala akut, sesudah itu
dihentikan. Bila gejala kembali kambuh terapi diulang dan diteruskan sampai
tidak berulang lagi di bawah pengawasan dokter.
2. Terapi jangka panjang paling sedikit selama 5 tahun mungkin sampai 10-15
tahun ditujukan untuk mencegah gejala menahun menopause seperti
osteoporosis dan penyakit jantung koroner.
3. Untuk menghindari timbul kembali symptom yang akut, penghentian terapi
dilakukan secara bertahap yaitu dengan menurunkan dosisnya.
11. Efek Samping Terapi Sulih Hormon
Gejala umum

Jarang gejala

Sakit kepala

Double visi

Kesal perut , kram perut atau kembung

Parah sakit perut

Diare

Menguning kulit atau

Nafsu makan dan perubahan berat badan

18

mata

Perubahan dorongan seksual atau performa

Depresi berat

Gelisah

Perdarahan yang tidak

Coklat atau bercak hitam pada kulit

Jerawat

Pembengkakan tangan, kaki, atau kaki lebih

biasa

rendah karena retensi cairan

Kehilangan nafsu
makan

Ruam kulit

Perubahan aliran menstruasi

Laxitude

Payudara nyeri, pembesaran, atau debit

Demam

Tiba-tiba kesulitan memakai lensa kontak

Urin berwarna gelap

Cahaya berwarna
bangku

Chorea

12. Algoritme Penggunaan Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause


Petunjuk praktis penggunaan HRT
Setiap perempuan adalah unik. Ada yang secara alami mempunyai kadar
hormon estrogen tinggi dalam darahnya, ada pula yang rendah. Pemeriksaan kadar
hormon dapat mendeteksi masalah ini. Semua wanita yang akan menggunakan
pengobatan HRT harus memahami dan mengerti bahwa pemberian HRT bukan untuk
memperlambat menopause melainkan untuk mengurangi atau mencegah keluhan
atau

penyakit

akibat

kekurangan

estrogen.

Adapun

wanita-wanita

yang

direkomendasikan untuk diberi HRT adalah :


1. Semua wanita klimaterik, tanpa kecuali yang ingin menggunakan HRT untuk
pencegahan (meskipun tanpa keluhan)

19

2. Semua wanita yang memiliki risiko penyakit kardiovaskuler dan osteoporosis


3. Semua wanita dengan keluhan klimaterik
Penggunaan HRT sebagi pencegahan baru akan memiliki khasiat setelah 5 tahun.
Anamnesis yang dilakukan dengan baik dapat mempermudah dalam menegakkan
diagnosis, indikasi serta dapat memberikan informasi tentang risiko dan adanya
kontraindikasi.
Untuk dapat menilai keluhan klimaterik dapat digunakan Menopause Rating
Scale (MRS) dari green yang biasa dikenal dengan skala klimaterik green. Skala ini
dapat mengukur 3 kelompok keluhan yaitu :
1. Keluhan psikologis berupa jantung berdebar, perasaan tegang atau
tekanan, sulit tidur, mudah tersingung, mudah panic, sulit berkonsentrasi,
mudah lelah, hilang minat pada banyak hal, perasaan tidak bahagia, dan
mudah menangis.
2. Keluhan somatic berupa perasaan pusing, badan terasa tertekan,
sebagaian tubuh terasa tertusuk duri, sakit kepala nyeri otot atau
persendian tangan atau kaki terasa gatal, dan kesulitan bernafas.
3. Keluhan vasomotor, berupa gejolak panass (hot flushes) dan berkeringat
di malam hari.
Tiap-tiap keluhan dinilai derajatnya sesuai dengan ringan beratnya keluhan
dengan memakai 4 tolak ukur skala nilai yaitu:
1. Nilai 0 (tidak ada) : Bila tidak ada keluhan sama sekali
2. Nilai 1 (sedikit) : Bila keluhan yang timbul sekali-kali dan tidak
mengganggu aktivitas sehari-hari.
3. Nilai 2 (sedang) : Bila keluhan sering timbul tetapi belum
mengganggu aktivitas sehari-hari
4. Nilai 3 (berat) : Bila keluhan sering timbul dan sudah mengganggu
aktivitas sehari-hari

20

13. Konseling yang efektif pada penggunaan HRT


Hubungan antara bidan dan klien dalam pemberian informasi tentang HRT
sangatlah penting, karena sampai saat ini masalah menopause masih sampai
kontroversi, dimana klien masih merasa takut menggunakan pengobatan hormone.
Klien mendapatkan informasi tentang menopause dan pengobatan hormon.
Klien mendapat informasi tentang menopause dan pengobatan hormone
kebanyakan dari teman, keluarga, dan media. Informasi tersebut justru menambah
kebingungan mereka. Informasi dari tenaga kesehatan sangatlah mereka butuhkan
dan bagi tenaga kesehatan hendaknya meluangkan waktu untuk dapat memberikan
informasi tersebut dengan benar. adapun tujuan dari konseling secara obyektif yaitu :
1.

Memberitahukan klien bahwa HRT dapat mengurangi atau mengatasi

2.

keluhan pada saat menopause


Dapat mencegah dampak kekurangan estrogen dalam jangka waktu yang

3.

panjang
Dapat meningkatkan kualitas hidup

Di Negara maju seperti Amerika, klien yang mendapatkan informasi yang


baik dan komprehensif akan lebih patuh terhadap instruksi dari tenaga kesehatan dari
pada klien yang mendapat informasi dari teman, keluarga atau media.
Menurut North American Menopause society (NAMS), mereka yang mau
meneruskan HRT adalah :
1. Wanita dengan hasil penghasilan tinggi
2. Wanita yang memiliki pola hdup sehat
3. Wanita yang telah diangkat rahimnya
4. Wanita yang memiliki resiko terhadap osteoporosis

21

5. Wanita yang telah mendapatkan banyak informasi tentang kerugian serta


keuntungan dari HRT
6. Wanita yang mempunyai hubungan yang baik dan dekat dengan tenaga
kesehatan
7. Wanita yang mengerti tentang dampak positif dari HRT
8. Wanita yang berpendidikan tinggi dan memiliki pengetahuan tentang
menopause
Kunci keberhasilan konseling pada HRT adalah bagaimana konseling tersebut
dapat berkesinambungan dan tidak hanya sekali pertemuan saja. Apabila klien telah
menggunakan HRT konseling dapat dimanfaatkan untuk menanyakan dampak serta
efek samping yang dialami oleh klien. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam konseling berkesinambungan yaitu :
1. Menanyakan keluhan dapat teratasi atau tidak
2. Memperhatikan tentang efek samping yang dialami oleh klien
3. Melakukan evaluasi terhadap klien
4. Bila perlu ganti pengobatan
5. Mendiskusikan lamanya pengobatan
6. Memberikan materi pendidikan yang mudah dimengerti
7.

Tujuan informasi yang baru, bila memang ada

14. Keputusan Untuk Menggunakan HRT


Untuk meningkatkan kepatuhan wanita dalam HRT, mereka perlu dijelaskan
tentang untung dan ruginya, serta berikan waktu pada wanita tersebut untuk
mengambil keputusan dalam penggunaan HRT. Ada beberapa hal yang harus
dijelaskan dan dipantau kepada seorang wanita sebelum diberikan HRT yaitu :

22

a. Pemeriksaan fisik lengkap termasuk laboratorium disamping anamnesis


umum dan khusus mengenai organ reproduksi
b. Jelaskan efek samping dari HRT seperti perdarahan peningkatan berat badan,
dan kemungkinan terjadinya kanker payudara.
c. Jelaskan cara pemakaian atau cara pemberian seperti tablet, krem,plester,
injeksi serta susuk.
d. Khasiat pengobatan umumnya baru terlihat >6 bulan dan apabila belum
terlihat khasiat yang diinginkan, maka dosis obat perlu dinaikkan.
e. pada tahp awal HRT diberrikan 5 tahun dulu dan jika dianggap perlu
pengobatan dapat dilanjutkan
f. Pemeriksaan rutin setiap 6 bulan, dan setiap 1-2 tahun perrlu dilakukan
mamografi serta pap smear setiap 6 bulan

BAB III

23

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Gejala menopause yang dirasakan wanita dapat mengganggu aktifitas sehari-hari
sehingga menurunkan kualitas hidup.
2. Terapi sulih hormon dengan kombinasi estrogen dan progesteron dapat
meningkatkan kualitas hidup wanita post menopause.
3. Efek samping terapi sulih estrogen dapat diminimalisir dengan menggunakan
terapi kombinasi estrogen dan progesteron.
B. saran
Dalam penulisan makalah ini tentu jauh dari sempurna karena dalam
penyusunan makalah ini kami dapat dari berbagai sumber dan mungkin banyak
kekeliruan dalam makalah ini, baik dari kata-kata maupun isi yang terdapat dalam
makalah ini.kami butuh kritik dan saran atas semua kekeliruan.

DAFTAR PUSTAKA

24

http://www.indonesiaindonesia.com/f/13836-penggunaan-hormone-replacementtherapy/
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org
http://www.pusatdunia.com/Pusat-Tips-Trik/kesehatan/terapi-penggantian-hormonHRT-bisa-menyebabkan-kanker.html
http://juliuskurnia.wordpress.com/2008/04/23/terapi-hormon-untuk-wanitamenopause/

25