You are on page 1of 5

PEMERIKSAAN GETAH PARU

Pemeriksaan ini adalah salah satu jenis dari pemeriksaan mikroskopik


dimana yang diambil adalah jaringan serta cairan yang terdapat dalam paru-paru
dan akan diamati di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada
kasus mati tenggelam. Dimana nantinya akan dicari adanya benda asing dengan
bantuan mikroskop cahaya (Department of Forensic Medicine University of
Dundee, 2007) (Idries, 1997). Dasar dari pemeriksaan ini adalah adanya cairan
yang masuk dalam paru-paru dapat menyebabkan benda asing seperti pasir,
diatom maupun alga bahkan dapat menembus sirkulasi melalui difusi dan osmosis
menuju ke pembuluh darah (Piette & Letter, 2006) (Horton, 2007). Adapun benda
asing yang mungkin ditemukan adalah:
1. Pasir
Ini sering ditemukan pada pemeriksaan karena pada umumnya
kejadian tenggelam terjadi di sungai maupun di laut yang pada bagian
dasarnya seringkali ditemukan pasir. Pasir ini juga sering muncul pada
pemeriksaan dalam secara makroskopik dan tidak hanya pada paru-paru dan
saluran nafas namun juga pada esofagus dan lambung (Department of
Forensic Medicine University of Dundee, 2007) (Idries, 1997).
2. Diatom
Diatom adalah alga uniseluler yang ditemukan dimana pun terdapat
air yang termasuk dalam Bacillariophyta (Yen & Jayaprakash, 2007). Telah
ditemukan lebih dari 10.000 spesies dengan diameter atau panjang berkisar
40-200 m. Bentuknya pun beragam dari seperti jarum hingga sphere
(bola). Dimana aspek forensik yang paling signifikan dari diatom adalah
kemampuannya untuk menyelimuti dirinya dengan dinding seperti silika
yang dinamakan frustule (Cooke, 1993).

Penemuan diatom dalam pemeriksaan mikroskopik merupakan gold


standar dari diagnosis tenggelam (Lucci, Campobasso, & al, 2008)
(Emedicine, 2011). Prinsip standarnya mencakup analisis kualitatif dan
kuantitatif diatom di organ yang terkait dengan analisis diatom pada
keadaaan tenggelam (Lucci, Campobasso, & al, 2008) (Piette & Letter,
2006). Namun hingga kini pemeriksaan ini masih memiliki kontroversi.
Pertama, diatom dapat tidak ditemukan ketika diagnosis makroskopik dari
tenggelam jelas seperti saat korban ditemukan dengan kondisi meninggal
yang diikuti dengan perjuangan hidup yang singkat atau ketika terjadi
variasi bulanan akibat pengaruh iklim yang seringkali mengganggu. Ini pula
dapat menjelaskan mengapa pada kasus tenggelam diair tawar hanya pada
sepertiga kasus ditemukan diatom. Meski pada lautan terbuka diatom tidak
dapat dijadikan patokan utama untuk mendiagnosis tenggelam (Piette &
Letter, 2006). Diatom terkadang ditemukan pada orang-orang yang tidak
tenggelam. Dimana dikatakan pada seseorang yang mengkonsumsi udang
dan kerang tiram akan mengkonsumsi sekitar 2 juta diatom per tahunnya.
Sementara pada pemeriksaan bila ditemukan 5 diatom frustules pada 10
gram sumsum tulang akan didiagnosis positif tenggelam, dan hingga saat ini
belum ada bukti yang mengatakan bahwa diato tidak dapat masuk ke
sirkulasi melalui saluran pencernaan, tentunya akan menyebabkan hasil
positif palsu (Yen & Jayaprakash, 2007). Selain itu pada kenyataannya
metode yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan diatom, yaitu
penggunaan cairan yang bersifat sangat asam dan Soluene-350 dapat
menghancurkan diatom yang terdapat di laut. Dimana diatom yang terdapat

di laut sangatlah rapuh dindingnya. Selain itu jumlah diatom di muka bumi
ini akan makin berkurang karena adanya polusi di permukaan air, seperti
yang terjadi di Belgia hanya ada satu spesies yang masih hidup yaitu
Eunotia exigua (Piette & Letter, 2006). Inilah yang menyebabkan mengapa
pemeriksaan diatom masih kontroversi hingga sekarang.
3. Alga (Chlorophyceae)
Penemuan dari alga dapat lebih informatif pada kasus tenggelam pada
air yang memiliki sedikit diatom namun penggunaan metode yang merusak
seperti Soluene-350 sebagai pelarut harus dihindari.
Chlorophyll juga dapat ditemukan di paru dengan menggunakan
metode spektroflorometrik namun ini masih dalam fase eksperimental.
Deteksi dari gen fitoplangton dapat pula membantu meskipun pada beberapa
sampel kelinci yang tidak tenggelam diketemukan penetrasi dari
fitoplangton post mortem pada sistem respirasinya (Piette & Letter, 2006).
4. Telur cacing
Telur cacing mungkin saja diketemukan bila di tempat korban
tenggelam airnya terkontaminasi oleh kotoran yang mengandung ini (Idries,
1997).
Pemeriksaan getah paru (Longsap proof) merupakan pemeriksaan
patognomonis untuk kasus-kasus tertentu. Dicari benda-benda asing dalam getah
paru yang diambil pada daerah subpleura, antara lain: pasir, lumpur, telur cacing,
tanaman air, dll. Cara pemeriksaan getah paru, yaitu (Wilianto, 2012):
1. Paru-paru dilepaskan satu persatu secara tersendiri dengan memotong hilus.
2. Paru-paru yang sudah dilepas tidak boleh diletakkan tetapi langsung disiram
dengan dengan air bersih (bebas diatom dan alga).
3. Permukaan paru dibersihkan dengan cara dikerik/dikerok 2-3 kali, lalu pisau
kembali dibersihkan dengan air yang mengalir.

4. Dengan mata pisau yang tegak lurus permukaan paru, kemudian permukaan
paru diiris sedangkal (subpleura), lalu pisau kembali dibersihkan di bawah
air yang megalir, lalu dikibaskan sampai kering.
5. Dengan ujung pisau, getah paru pada irisan tadi diambil kemudian
diteteskan pada objek glass lalu ditutup cover glass dan diperiksa di bawah
mikroskop.
6. Cara lain yaitu dengan menempelkan objek glass pada permukaan irisan di
daerah subpleural, lalu ditutup cover glass pada permukaan irisan didaerah
subpleural, lalu ditutup cover glass dan diperiksa dibawah mikroskop.
Syarat sediaan percobaan getah paru yaitu eritrosit dalam sediaan harus
sedikit jumlahnya. Bila banyak mungkin irisan terlalu dalam (Wilianto, 2012).
Ada 3 kemungkinan dari hasil percobaan getah paru, yaitu:
1. Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain
2. Hasil positif dan ada sebab kematian lain
3. Hasil negatf
Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita
intepretasikan bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada
sebab kematian lain maka ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu
korban mati karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain. Jika hasil
negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu:
1. Korban mati dahulu sebelum tenggelam
2. Kolam tenggelam dalam air jernih
3. Korban mati karena vagal reflex/spasme laring.
Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita
simpulkan bahwa tidak ada hal-hal yang menyangkal bahwa korban mati karena
tenggelam.
Jika hasilnyanegatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban
telah mati sebelum korban dimasukkan ke dalam air.

Hasil dari pemeriksaan getah paru yaitu dicari apakah terdapat diatom,
ganggang, atau plankton lainnya. Adanya salah satu saja dari plankton-plankton
tersebut menunjukkan adanya cairan yang masuk ke alveoli paru.