You are on page 1of 14

ISI

SKENARIO
Adikku Sakit Amandel

Adikku, Salsa (10 tahun) tiba-tiba mengeluh nyeri sekali di


kerongkongannya sehingga tidak bisa makan dan minumpun terasa
susah. Keluhan ini baru dirasakan 1 hari disertai panas badan yang
tinggi (40º C) dan badan terlihat lemah. Satu hari sebelumnya Salsa
mengalami batuk pilek. Ibu sudah mencoba memberi obat penurun
panas tetapi keluhan tidak berkurang. Kemudian Salsa diperiksa ke
dokter Anak, dan dilakukan pemeriksaan kerongkongan, ternyata
amandelnya bengkak dan merah. Dokter memberi resep antibiotik
dan anti radang dengan harapan terjadi resolusi dari amandel Salsa

STEP I
Amandel : Suatu tonsil di orofaring.
Antibiotik : Obat pembunuh bakteri
Resolusi : Pemulihan menjadi normal kembali baik secara
histologi maupun fisiologi.

STEP II
1. Apa yang menyebabkan Salsa mengalami amandel bengkak
dan merah?
2. Kenapa Salsa mengalami :
a. Nyeri kerongkongan
b. Demam
c. Badan Lemah
3. Kenapa obat penurun panas tidak efektif?
4. Apakah ada hubungan batuk-pilek dengan amandel?
5. Bagaimana proses penyembuhan dari peradangan itu sendiri?

STEP III
1. Pada peradangan jejas pada jaringan mengakibatkan
terlepasnya mediator-mediator kimia seperti histamin,
histamin ini mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah lokal. Peningkatan
permeabilitas mengakibatkan kebocoran protein disertai
cairan ke interstisial, cairan tersebut akan menumpuk dan
terlihat sebagai jaringan yang bengkak (tumor).

1
Vasodilatasi tadi mengakibatkan peningkatan aliran darah
sehingga banyak darah yang membawa panas inti tubuh ke
kulit, yang suhunya lebih rendah dari suhu inti tubuh,
sehingga terasa panas (kalor). Aliran darah yang tinggi
mengandung banyak sel darah merah sehingga jaringan yang
meradang terlihat merah (rubor).
2. Penyebabnya :
a. Terdapat mediator-mediator kimia pada reaksi
peradangan yang merangsang ujung serat saraf nyeri,
seperti bradikinin dan prostaglandin. Selain itu
pembengkakan pd peradangan memberikan tekanan ke
jaringan sehingga tekanannya tinggi dan merangsang
ujung serat saraf nyeri.
b. Terdapat mediator kimia yang terlepas pada reaksi
peradangan yang merangsang pusat pengaturan suhu
tubuh di hipothalamus, yaitu endogen pirogen.
c. Tidak adanya napsu makan mengakibatkan
berkurangnya asupan energi. Selain itu demam
mengakibatkan badan lemah.
3. Karena penyebab panas tersebut adalah peradangan. Jadi, jika
penyebab peradangannya belum diatasi, suhu tubuh akan
tetap tinggi.
4. Ada, batuk-pilek merupakan pertahanan oleh mukosa sistem
pernapasan dari benda asing. Ketika pertahanan ini tidak
berhasil, berarti agen penyakit telah melewati mukosa sistem
pertahanan tersebut.
5. Antibiotik dan imunitas berperan dalam mengeliminasi
penyakit. Antiimflamasi berfungsi mempercepat
penyembuhan.

STEV IV

INFLAMASI

Penyebab Penyembuhan

Proses Gejala

Humoral Kalor

Vaskuler Rubor

Selular Tumor

Neurogenik Dolor 2

Functio Laesa
STEP V
1. Mengetahui Penyebab Inflamasi.
2. Mengetahui Proses dari Terjadinya Inflamasi.
3. Mengetahui Gejala Inflamasi.
4. Mengetahui proses regenerasi.
5. Mengetahui Proses Penyembuhan Primer dan Sekunder dari
Inflamasi.
6. Mengetahui faktor yang mempengaruhi inflamasi dan kualitas
penyembuhannya.

STEP VI
Pada step 6 ini, masing-masing anggota diskusi melakukan
belajar mandiri sehubungan dengan tujuan belajar yang telah
dirumuskan pada step 5 untuk mengetahui lebih dalam
mengenai materi yang akan dibahas pada diskusi kelompok kecil
(DKK) 2.

STEP VII
Penyebab inflamasi
• Virus dan bakteri : strep throat

Ketika terjadinya infeksi contohnya bakteri streptokokus, akan


menginfeksi dirinya sendiri padahal awalnya merupakan
bagian dari system kekebalan tubuh.
• Daya tahan tubuh : karena gizi makanan kurang seimbang

• Iritasi : lingkungan,misalnya seperti asam-asam pabrik


industry

• Alergi : alergi makanan,misalnya gatal

• Jejas karena panas, dingin/tenaga radiasi,jejas listrik/bahan


kimia dan trauma mekanik (radang akut)

Proses terjadinya inflamasi

Mekanisme neurogenik.

3
Pada reaksi radang terhadap jejas, mekanisme neurogenik
berperan. Yang dimana terdapat tahap singkat vasokontriksi
arteriol disusul oleh vasodilatasi arteriol yang menuju fokus radang.
Pandangan pada peristiwa tersebut di dapat dari respon Tripel Lewis
. Bila kulit digores kuat dengan benda tumpul, seperti ujung pensil
atau tepi penggaris , akan muncul :
a. suatu garis merah tua sebagai garis goresan, dalam waktu 1
menit
b. disusul oleh lingkaran merah cerah atau nyala, dapat
dihalangi dengan pemberian anastesi pendahuluan atau
pemotongan jalur saraf yang menuju ke daerah tersebut
c. peninggian atau pembengkakan edema sepanjang garis
goresan semula

Ia juga menyimpulkan bahwa peristiwa ini disebabkan karena


vasodilatasi neurogenik arteriol. Mungkin ini terjadi oleh suatu busur
refleks akson yang antidromik, yang melibatkan inervasi
vasomotorik arteriol. Komponen yang pertama dan ketiga respon
tripel tidak dipengaruhi bila serat saraf diblokade dan Lewis
menghubungkannya dengan suatu substansi H yang dibentuk oleh
suatu jaringan yang terjejas, yang dinamakan histamin. Tahap
vasokontriksi pada jejas yang biasa, yang hanya sebentar dan
berasal neurogenik, segera dihambat oleh refleks antidromik
dengan terjadinya vasodilatasi tetap, meskipun tanpa hubungan
saraf pun segi-segi terpenting respon radang akut akan tetap
terjadi, sebab seperti diketahui mediator pada dasarnya adalah
bahan kimia.

Mediator Kimia
Bahan kimia yang berasal dari plasma maupun jaringan merupakan
rantai penting antara terjadinya jejas dengan timbulnya fenomena
yang disebut radang. Karena pola dasar radang akut sterotif , tidak
tergantung jenis jaringan maupun agen penyebab pada hakekatnya
menyertai mediator-mediator kimia yang sama yang tersebar luas
dalam tubuh , agaknya diikut sertakan dalam sebagian besar
bentuk radang. Beberapa mediator dapat bekerja sama, sehingga
memberi mekanisme biologi yang memperkuat kerja mediator.
Selain itu, seperti semua proses dalam tubuh, radang harus dapat
dikendalikan. Salah satu mekanisme kontrol adalah inaktivasi lokal
yang cepat mediator kimia oleh suatu enzim atau antagonis.
Ketidaksempurnaan sistem kontrol dapat menimbulkan akibat yang
gawat termasuk terjadinya penyakit, seperti misalnya defisiensi alfa
1-antitripsin dan angioedema herediter.

Begitu banyak mediator kimia telah dikenali , sehingga kitta


dihadapkan pada jumlah yang sangat besar. Identifikasinya pada
waktu sekarang sulit dilakukan. Semua mediator dapat digolongkan
dalam salah satu kelompok di bawah ini :
a. amina vasokatif : Histamin dan serotonin

4
b. protease plasma : Sistem kinin, sistem komplemen dan sistem
koagulasi fibrinolitik
c. metabolit asam arakidonat ( AA ) : Prostaglandin dan
leukotrin
d. Produksi leukosit : enzim lisosom dan limfokin
e. Macam lainnya , seperti radikal bebas asal oksigen, faktor
yang mengaktifkan trombosit ( PAF –acether )

Amina Vasoaktif. Histamin yang tersebar luas dalam jaringan.


Sumber paling kaya ialah basofilik jaringan dan dilepaskan setelah
basofilik jaringan tersebut mengalami degranulasi sebagai respon
terhadap berbagai stimulus :
1. jejas fisika seperti trauma dan panas
2. reaksi imunologi menyangkut ikatan antibodi IgE pada
basofilia
3. fragmen komplemen yang disebut anafilaktosin
4. protein lisosom kationik berasal dari sel netrofil

Pada manusia histamin bekerja menyebabkan vasodilatasi arteriol


dan meningkatkan permeabilitas venula dan pelebaran pertemuan
antar sel endotel. Segera setelah dilepaskan dari basofilia jaringan
histamin dibuat inaktif oleh histaminase. Histamin juga dilaporkan
merupakan bahan kemotaksis khas untuk eosinofil.

Protease Plasma. Macam fenomena dalam respon radang


diperantarai oleh tiga faktor plasma yang saling berkaitan – kinin ,
komplemen, dan sistem pembekuan.
a. Sistem kinin. Bila sistem ini diaktifkan akan membentuk
bradikinin. Bradikinin menyebakan dilatasi arteriol ,
meningkatkan permeabilitas venula dan kontaraksi otot polos
ekstravaskuler , tetapi bradikinin tidak bekerja kemotaksis
untuk leukosit ,tetapi menyebabkan rasa nyeri, bila
disuntikkan ke dalam kulit. Seperti histamin , dapat bertindak
pada sel-sel endotel dengan meningkatkan celah antar sel.
Kinin akan dibuat inaktif secara cepat oleh kininase yang
terdapat dalam plasma dan jaringan , dan perannya dibatasi
pada tahap dini peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
b. Sistem komplemen. Sistem ini terdiri dari satu seri protein
plasma yang berperan penting dalam imunitas maupun
radang. Komponen komplemen yang terdapat dalam bentuk
inaktif dalam plasma dan diberi angka C1 sampai C9. Tahap
pentingan pembentukan fungsi biologi komplemen ialah
aktivasi komponen ketiga , C3. Semua komplemen yang lain
dapat dikelompokkan dalam unit-unit fungsional dalam
kaitannnya dengan interaksinya dengan C3. Faktor yang
berasal dari komplemen mempengaruhi berbagai fenomena
radang akut, sebagi berikut :
1. Fenomena vaskular. C3a dan C5a , meningkatkan
permeabilitas vaskular yang bersangkutan,

5
meningkatkan permeabilitas vaskular dan menyebabkan
vasodilatasi dengan dibebaskannya histamin dari
basofilia. C5a juga mengaktifkan jalur lipoksigenase dari
metabolisme asam arakidonat dalam netrofil dan
monosit, menyebabkan sintesis lebih lanjut dan
dibebaskannya mediator-mediator radang.
2. Kemotaksis. C5a menyebabkan adhesi neutrofil pada
endotel dan kemotaksis untuk monosit dan neutrofil.
3. Fagositosis. Bila C3b melekat pada dinding sel bakteri,
akan bekerja opsonin dan memudahkan fagositosis
neutrofil dan monosit yang mengandung receptor untuk
C3b pada permukaannya.

Metabolisme asam arakidonat ( AA ). Produk ini merata dalam


jaringan mamalia, yang mempengaruhi proses biologi seperti
radang dan juga untuk hemostasis dan faal sistem ginjal,
kardiovaskular, paru. Asam arakidonat ini adalah asam lemah poli
tak jenuh yang terdapat dalam jumlah sebagai fosfolifid selaput sel.
Metabolit –metabolit AA bekerja pada berbagai segi proses radang .
Ini dapat diringkas seperti di bawah ini :
1. Fenomena vaskular. Prostaglandin E2 dan prostasiklin ialah
vasodilatator yang kuat.Dampaknya terutama mengenai
arteriol dan tidak seperti biasanya Histamin, Pg E2 dan
prostasiklin bekerja meperkuat pembentukan edema dengan
meningkatkan permeabilitas mediator lain.
2. Kemotaksis LTB4. merupakan atraktan kimiawi yang kuat
untuk leukosit dan monosit. LTB4 juga menyababkan adhesi
neutrofil pada endotel pembuluh darah sehingga terbentuk
agregasi yang mencolok dalam vaskulator-mikro.
3. Rasa nyeri PGE2 menyebabkan rasa nyeri dan yang lebih
penting ialah memperkuat dampak penyebab nyeri bradikinin.
PGE2 juga dikatikan dengan penyebab demam.

Aneka macam mediator. Banyak macam mediator radang lain


ditemukan . Aktivitasnya dapat dibuktikan in vitro, tetapi
dibandingkan dengan mediator lain, perannya in vivo ini kurang
memiliki ciri yang khas. Yang penting dalam golongan ini adalah
radikal-radikal bebas berasal dari oksigen dan aseter- PAF.
Aseter- PAF ialah tambahan terbaru dalam keluarga mediator lipid.
Dampak biologinya sebagai faktor yang menggiatkan trombosit
karena menyebabkan agregasi trombosit begitu dilepaskan dari
basofilia jaringan

Mediator Vaskular
Pada awal inflamasi terjadi vasokontriksi sementara lalu terjadi
vasodilatasi arteriol dan aliran darah yang meningkatkan tekanan
hidrostatik intravascular dan pergerakan cairan dari kapiler menuju
ekstra vascular. Cairan ini dinamakan transudat,pada dasarnya
merupakan ultrafiltrat plasma darah yang mengandung protein.

6
Namun demikian, transudat akan segera menghilang dengan
adanya peningkatan permeabilias kapiler yang menyebabkan
adanya pergerakan cairan ke dalam cairan intertisium atau yang
disebut eksudat. Hasilnya menyebabkan mengalirnya ion dan air ke
dalam jaringan sehingga mengembung yang disebut oedema.

Mediator seluler
Saat terjadi ekstravasasi leukosit dari pembuluh ke ruang
ekstravaskular dan menuju ke jejas, ada beberapa hal yang terjadi :
(1) Marginasi dan rolling, (2) Adhesi dan Transmigrasi, (3)
kemotaksis dan aktivasi, (4) Fagositosis dan Degranulasi

Marginasi dan rolling


Saat darah mengalir dari kapiler ke venula pascakapiler, sel dalam
sirkulasi sel dalam vascular di bersihkan aliran laminar melawan
pembuluh darah. Dari struktur sel darah merah discoid kecil lebih
terbawa arus laminar daripada sel darah putih sferis lebih besar.
Saat mediator vasoaktif seperti histamine menyebabkan
vasodilatasi dan menyebabkan vasokonstriksi pada venula
pascakapiler aliran, maka banyak sel darah putih yang tertinggal di
sekitar kapiler-kapiler dan menyebabkan sel darah putih
berakumulasi di dinding tepi endotel yang biasa disebut marginasi.
Setelah berakumulasi di tepi endotel, sel darah putih akan
berguling-guling di endotel karna adanya aliran darah yang disebut
rolling. Tujuan dari rolling tersebut , berguna untuk mencari adhesi
pertama yang bersifat sementara yaitu, mengunakan selektin pada
tepi sel endotel dan gula tertentu yang terdapat pada sel darah
putih.
Selektin terdiri dari selektin P, sedikit terdapat pada sel endotel dan
trombosit; selektin E, terbatas pada endotel; selektin L, sebagian
besar terdapat pada permukaan sebagian besar leukosit. Selektin
ini memfasilitasi adhesi pertama dengan bantuan induksi mediator-
mediator. Contohnya seperti histamin mennginduksi selektin P agar
dapat memfasilitasi pengikatan leukosit.

Adhesi dan trasmigrasi


Setelah terjadinya adhesi sementara akan berlanjut ke adhesi
leukosit. Adhesi leukosit merupakan proses pengikatan kuat antara
leukosit dengan sel endotel yang diperantarai oleh superfamily
immunoglobulin pada sel endotel yang berintraksi dengan integrin
pada sel leukosit.
superfamily immunoglobin yaitu, ICAM-1(intercellular adhesion
molecule 1), VCAM-1(vascular cell adhesion molecule 1). Molekul
tersebut pengeluaranya di induksi oleh TNF(tumor necrosis factor)
dan IL-1(interlukin 1). Dan akan menempel pada integrin yang
menjadi reseptornya.
Setelah terjadi adhesi maka selanjutnya terjadi transmigrasi yang di
lakukan oleh PECAM-1(platelet endothelial adhesion molecul) yang
berfungsi melakukan perpindahan ekstravasasi.

7
Kemotaksis dan aktivasi
Kemotaksis merupakan proses dimana leukosit bermigrasi menuju
tempat jejas mendekati gradient kimiawi. Dalam proses kemotaksis
sel tersebut juga dapat menginduksi respon leukosit lainya yang
disebut aktivasi.

Fagositosis dan degranulasi


Fagositosis terdiri atas tiga langkah : (1) pengenalan dan perlekatan
partikel pada leukosit yang menelan,(2) penelanan, dengan
membentuk vakuola fagositik, (3) pembunuhan dan degradasi yang
di telan.
Pada tahap (1), difasilitasi oleh protein serum yang secara umum
disebut opsonin terdapat pada mikroba dan leukosit, yang bekerja
awalnya saling mengikat hingga ter-opsonisasi. Setelah mengikat
akan dilanjutkan ke tahap (2)yaitu, menelan hingga mikroba
terletak di dalam leukosit dan membentuk vakuolafagositik. Setelah
itu ke tahap (3)yaitu, mencampurkan vakuolafagositik dengan
lisosom yang disebut fagolisosom, dan akan dilanjutkan ke
pembakaran oksidatif yang membunuh mikroba. Setelah mikroba
itu mati, maka mikroba tersebut akan di degradasi.

Mediator Humoral
Peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan adanya
perpindahan cairan atau extravasasi atau transudat. Setelah terjadi
transudat akan terjadi perpindahan cairan dari sel ke dalam
intertisium atau eksudat. Dan di intertisium ini akan terjadi proses
mediator- mediator yang lain. Lalu akan di lanjutkan ke pembuluh
limfe. Dan menuju ke proses resolusi apabila jejasnya sudah mati.

Gejala inflamasi

• Rubor (Kemerahan)

Rubor atau kemerahan biasanya merupakan hal pertama


yang terlihat didaerah yang mengalami peradangan. Seiring
dengan dimulainya reaksi peradangan, arteriol yang memasok
daerah tersebut berdilatasi sehingga memungkinkan lebih
banyak darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi local. Kapiler
yang sebelumnya kosong atau mungkin hanya sebagian
meregang, secara cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini
disebut hyperemia atau kongesti menyebabkan kemerahan local
pada peradangan akut. Tubuh mengontrol produksi hyperemia
pada awal reaksi peradangan, baik secara neurologis maupun
kimiawi melalui pelepasan zat-zat seperti histamine.

• Kalor (Panas)

8
Kalor atau panas, terjadi bersamaan dengan kemerahan
pada reaksi peradangan akut. Sebenarnya, panas secara khas
hanya merupakan reaksi peradangan yang terjadi pada
permukaan tubuh, yang secara normal lebih dingin dari 37 oC
yang merupakan suhu inti tubuh. Daerah peradangan di kulit
menjadi lebih hangat dari sekelilingnya karena lebih banyak
darah (pada suhu 37oC) dialirkan dari dalam tubuh ke permukaan
daerah yang normal. Fenomena hangat local ini tidak terlihat di
daerah meradang yang terletak jauh di dalam tubuh, karena
jaringan tersebut sudah memiliki suhu inti 37oC dan hyperemia
local tidak menimbulkan perbedaan.

• Dolor (Nyeri)

Dolor atau nyeri pada suatu reaksi radang tampaknya


ditimbulkan dalam berbagai cara. Perubahan pH local atau
konsentrasi local ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung
syaraf. Hal yang sama, pelepasan zat kimia tertentu seperti
histamine atau zat kimia bioaktif lain dapat merangsang saraf.
Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang
menyebabkan peningkatan tekanan local yang tidak diragukan
lagi dapat menimbulkan nyeri.

• Tumor (Pembengkakan)

Aspek paling mencolok pada peradangan akut mungkin


adalah tumor, atau pembengkakan local yang dihasilkan oleh
cairan dan sel yang berpindah dari aliran darah ke jaringan
interstitial. Campuran cairan dan sel ini yang tertimbun di daerah
peradangan disebut eksudat. Pada awal perjalanan reaksi
peradangan, sebagian besar eksudat adalah cairan, seperti yang
terlihat secara cepat di dalam lepuhan setelah luka bakar ringan
pada kulit. Kemudian, sel darah putih atau leukosit,
meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian
eksudat.

• Fungsio Laesa (Perubahan Fungsi)

Perubahan fungsi merupakan bagian yang lazim pada reaksi


peradangan. Sepintas mudah dimengerti, bagian yang bengkak,
nyeri disertai sirkulasi abnormal dan lingkungan kimiawi local
yang abnormal, seharusnua berfungsi secara abnormal. Akan
tetapi, cara bagaimana fungsi jaringan yang meradang itu
terganggu tidak dipahami secara terperinci.

Regenerasi Parenkim

9
Penggantian sel parenkim yang mati oleh proliferasi sel
cadangan, hanya dapat berlangsung bila sel-sel jaringan masih
mampu bertambah banyak. Faktor lain juga mempengaruhi
regenerasi, tetapi kita perlu meninjau dulu kemampuan sel untuk
membelah diri. Sel tubuh dibagi dalam 3 golongan berdasarkan
kemampuan untuk regenerasi yaitu : sel labil, sel stabil dan sel
permanen. Sel labil dan stabil dapat berpoliferasi sepanjang
hidupnya, sebaliknya sel permanen tidak.

Sel labil secara terus menerus sepanjang hidupnya, dapat


berproliferasi dan mengganti sel yang lepas atau mati, melalui
proses faal. Sel epitel permukaan tubuh, seperti epidermis , epitel
pelapis rongga mulut, saluran cerna dan pernafasan, serta saluran
genitalia wanita dan pria. Pada tempat tersebut sel permukaan akan
lepas sepanjang hidup dan diganti oleh sel cadangan secara
berlanjut. Sel-sel sumsum tulang dan jaringan limfoid, termasuk
limfa juga digolongkan jaringan sel labil. Jaringan ini selalu terjadi
penggantian sel, umur masing-masing sel bervariasi , dari
beberapa hari sampai beberapa tahun.

Sel stabil mampu bergenerasi, tetapi dalam keadaan normal


tidak bertambah banyak secara aktif, sebab masa hidupnya dapat
bertahun-tahun, mungkin seumur alat tubuhnya sendiri. Sel
parenkim semua kelenjar tubuh, termasuk hati, pancreas , kelenjar
liur dan endokrin, sel tubuli ginjal dan kelenjar kulit, termasuk sel
stabil.

Sel mesenkim tubuh dan jaringan yang berasal dari mesenkim


juga dimasukkan dalam golongan sel stabil. Diketahui bahwa
fibroblast dan sel mesenkim yang lebih primitive , memiliki daya
regenerasi tinggi. Di samping itu, sebagian besar sel mesenkim
mampu berdeferensiasi menurut beberapa alur, sehingga
memungkinkan penggantian unsur-unsur mesenkim khusus. Sel
endotel dan otot polos juga digololongkan dalam sel stabil. Endotel
pembuluh darah orang dewasa memiliki derajat penggantian yang
rendah. Tetapi jejas sel endotel oleh trauma akan disusul
regenerasi. Bertambah banyaknya sel otot polos dapat dipengaruhi
hormone, sebagai contoh miometrium dan juga setelah jejas pada
pembuluh darah besar.

Sel neuron, otot bercorak serta jantung merupakan sel


permanen. Bila badan sel neuron tidak rusak, sel saraf mampu
membentuk serabut. Serabut akson yang baru, tumbuh 3-4 mm tiap
hari , tetapi pertumbuhan ini harus melalui jalur serabut akson yang
rusak. Bila tidak melalui jalur yang rusak, maka serabut baru akan
kacau dan tidak berfungsi dengan baik. Serabut akson yang tumbuh
kacau membentuk massa serabut yang tidak teratur disebut
neuroma amputasi. Oleh karena itu penyambungan kembali saraf
yang cedera sangat penting sebagai petunjuk jalan untuk serabut

10
akson yang akan melakukan regenerasi. Otot bercorak dan otot
ekstremitas dapat menunjukkan regenerasi, tetapi tidak penting
bagi pemulihan karena hilangnya otot selalu diganti jaringan parut.
Infark miokardium selalu disusul oleh jaringan parut dan tidak akan
dijumpai aktivitas pertumbuhan pada sel otot jantung yang masih
baik yang terdapat disekeliling daerah infark tersebut.

Pemulihan parenkim yang sempurna akibat jejas, tidak hanya


tergantung kemampuan sel bergenerasi. Keutuhan arsitektur
stroma atau keutuhan kerangka jaringan yang cedera, juga sangat
penting. Sebagai contoh pada hati yang cedera, apabila reticulum
masih utuh akan terjadi regenerasi sel hati yang teratur dan
struktur lobuli yang normal dan fungsinya akan kembali. Contoh
lainnya adalah ginjal apabila mengalami cedera toksin dan
kerusakan sel tubuli, tetapi selaput basal tubuli atau stromanya
masih baik, regenerasi sel tubuli akan memulihkan secara
sempurna bentuk normal dan fungsi ginjal. Sebaliknya apabila
kerangka stroma tubuli rusak, seperti pada infark ginjal maka tidak
akan terjadi pemulihan sempurna dan timbul jaringan parut. Karena
itu kesempurnaan pemulihan sangat bergantung pada keutuhan
dasar jaringan. Bila hilang, regenerasi dapat mengembalikan massa
jaringan tetapi bukan fungsi yang sempurna.

Penyembuhan Primer dan Sekunder

Penyembuhan primer

Penyembuhan primer ini merupakan penyembuhan yang terjadi


pada luka yang steril dan hanya mengalami kematian sel epitel
yang kecil, contohnya seperti luka pada saat insisi bedah.

Dalam 24 jam, neutrofil akan uncul pada tepi insisi, dan bermigrasi
menuju bekuan fibrin. Sel basal pada tepi irisan epidermis mulai
menunjukan peningkatan proses mitosis. Dalam 24-48 jam, sel
epitel dari kedua tepi irisan mulai bermigrasi dan berproliferasi di
sepanjang dermis, dan mendepositkan komponen membran basalis
saat dalam perjalanannya. Sel tersebut bertemu di garis tengah di
bawah keropeng permukaan, menghasilkan suatu lapisan epitel tipis
yang tidak putus.

Dalam 3 hari, neutrofil sebagian besar telah digantikan oleh


makrofag , dan jaringan granulasi secara progresif menginvasi
ruang insisi. Serat kolagen pada tepi insisi sekarang timbul, tetapi
mengarah vertikal dan tidak menjembatani insisi. Proliferasi epitel
berlanjut, menghasilkan suatu lapisan epidermis penutup yang
tebal.

11
Dalam 5 hari, neovaskularisasi mencapai puncaknya karena jringan
granulasi mengisi ruang insisi. Serat kolagen menjadi lebih
berlimpah dan mulai menjembatan insisi. Epidermis mengembalikan
ketebalan normalnya karena differensiasi sel permukaan
menghasilkan arsitektur epidermis matur yang disertai kreatinisasi
permukaan.

Dalam 2 minggu, penumpukan kolagen dan proliferasi fibroblas


masih berlanjut. Infiltrat leukosit, edema, dan peningkatan
vaskularitas telah amat berkurang. Proses panjang “pemutihan”
dimulai, dilakukan melalui peningkatan deposisi kolagen didalam
jaringan parut bekas insisi dan regresi saluran pembuluh darah.

Dalam akhir bulan, jaringan parut yang bersangkutan terdiri atas


suatu jaringan ikat sel yang sebagian besar tanpa di sertai sel
radang dan ditutupi oleh suatu epidermis yang sangat normal.
Namun, tambahan dermis yang hancur pada garis insisi akan
menghilang permanen. Kekuatan regang pada luka meningkat
bersama perjalanan waktu.

Penyembuhan sekunder

Proses ini berlangsung lebih lama karena jaringan yang mati


dan debris nekrosis perlu dibersihkan dan celah akibat luka perlu
diisi dengan sel-sel yang masih vital. Dasar dan tepi luka (jaringan
yang rusak) pertama-tama dilapisi oleh jaringan granulosa
proliferasi fibroblas dan pembentukan tunas-tunas kapiler telah
dimulai, sedangkan reaksi radang akut dan kronik yang kadang-
kadang masih aktif dibagian sentral luka. Setelah leukosit
membersihkan eksudat dan debris maka terbentuk jaringan
granulasi dari bagian tepi luka ke bagian tengah. Bersamaan
dengan ini, pada luka bagian yang berlokasi dipermukaan, tepi yang
terdiri dari epitel melakukan migrasi dan berproliferasi tetapi
terbatas pada jaringan granulasi yang merupakan dasar
pertumbuhan epitel terebut. Sampai batas tertentu, sel-sel epitel
dapat tumbuh kedalam dan kadang-kadang dapat dijumpai pada
sarang-sarang kecil sel epitel di antara jaringan granulasi yang baru
terbentuk.

Kontraksi luka yang membantu pemulihan suatu cedera yang


luas, paling sedikit yang ada di permukaan tubuh. Yang mencolok
ialah semua luka mengecil sehingga ukurannya menjadi separuh
dari semula dengan kecepatan yang sama. Juga pada luka dalam
dapat dijumpai kontraksi luka ini, tetapi hingga kini belum diteliti
dengan baik. Mekanisme kontraksi luka disebabkan oleh karena
kontrksi sel-sel fibroblas dlam jaringan granulasi. Telah ditemukan
miofilamen dalam sel-sel fibroblas sehingga sebutan mifibroblast
pun dapat dibenarkan. Sel-sel mesenkim yang multipoten ini dapat
berkontraksi dan memperkecil besarnya cedera secara bermakna,

12
sehinnga bila perlu cedera tersebut dapat diisi dengan jaringan
granulasi dan dilapisi sel epitel.

Faktor yang mempengaruhi inflamasi dan kualitas


penyembuhannya

PENGARUH SISTEMIK

Usia, berpengaruh terhadap penyembuahan. Pada orang tua lebih


lambat dan kurang adekuat dibandingkan orang muda. Tapi
pendapat ini hanya sedikit didukung oleh bukti yang
menyokongnya.

Nutrisi, sangat berperan penting. Vitamin C berperan penting pada


pembentukan kolagen, vitamin C mengkatalis hidroksilasi lisin dan
prolin dengan pengaktifan enzim prolil dan lisil hidroksilase yang
inaktif. Defisiensi asam askorbat mengakibatkan gangguan
pembentukan kolagen karena hidroksilasi diperlukan untuk
pembentukan konfigurasi heliks yang stabil. Kolagen yang kurang
mengalami hidroksilasi lebih mudah mengalami degradasi intrasel,
sehingga kolagen yang disekresi tidak dapat membentuk fibril.
Observsi pada percobaan dan klinik keduannya menunjukan bahwa
kekurangan protein yang berat menggangu penyembuhan luka.

Gangguan pada darah, mempunyai pengaruh yang nyata pada


pada respon radang-pemulihan. Tidak ada yang menyangkal bahwa
kekurangan granulosit yang beredar atau gangguan leukosit,
mempermudah penderita mendapat infeksi bakteri dan membuat
eksudat leukosit tidak adekuat. Untuk mengontrol invasi bakteri.
Pada kelainan perdarahan, hemoragi yang berlebihan di dalam luka
merupakan substrat yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Selanjutnya, bekuan darah yang mengandung hemoglobin perlu
dibersihkan dulu sebelum terjadi pemulihan dapat berlangsung
sempurna.

Diabetes melitus, ialah faktor predisopsisi penting timbulnya


infeksi mikrobiologi. Mereka terutama mudah terkena tuberkulosis,
infeksi kulit, infeksi saluran kemih dan infeksi jamur. Diabetes
mellitus merupakan factor predisposisi penting timbulnya infeksi
mikrobiologi. Penderita diabetes cenderung lebih sering mendapat
infeksi klinik dibandingkan kontrol. Mereka mudah terkena
tuberkulosis, infeksi kulit, infeksi saluran kemih dan infeksi jamur.
Mereka bukan mudah terkena invasi bakteri, tetapi mereka kurang
mampu mengendalikan invasi yang terjadi.

Hormon, terutama steroid adrenal, memiliki efek menekan reaksi


radang-pemulihan. Glukokortikosteroid memiliki beberapa efek pada
respon radang.

13
PENGARUH LOKAL

Aliran darah lokal, yang adekuat mungkin merupakan pengaruh


tunggal yang terpenting untuk menentukan kualitas dan
keadekuatan radang-pemulihan. Penyakit pembuluh darah arteri
yang menyebabkan berkurangnya aliran darah dan kelainan
pembuluh darah vena, yang mengurangi aliran balik, sangat
menghambat respon terhadap jejas.

Infeksi, pada luka bersih, apapun sebabnya ialah suatu hambatan


yang gawat untuk pemulihan. Lebih beratnya reaksi radang dan
eksudat yang berlebihan akan memisahkan tepi-tepi jaringan dan
memberi tekanan pada lokasi radang, dan membantu merusak
jaringan asal maupun sel darah putih pendatang, sehingga
memperbesar cedera jaringan semula. Penyembuhan primer
terpaksa berubah menjadi penyembuhan sekunder, yang
berlangsung lebih lambat.

Benda asing, jelas merupakan rangsangan terjadinya radang dan


menghalangi kesembuhan.

Imobilisasi luka, ialah suatu hal yg primer pada patah tulang. Ini
juga sangat berguna pada cedera jaringan lunaknya luas; dengan
demikian tidak terjadi pendarahan sekunder maupun dislokasi
jaringan oleh karena gerakan.

Lokasi terjadinya jejas, dapat mengubah secara bermakna hasil


akhir penyembuhan. Rekontruksi jaringan hanya mungkin bila lokasi
terkena jejas terdiri dari sel-sel labil atau stabil.

14