You are on page 1of 7

Struktur Gain Pada Mixer DJ

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Dunia hiburan pada saat ini merupakan sebuah bisnis yang tidak lepas dari perangkat
sound system. Semakin beragamnya dan banyaknya club – club hiburan yang ada dan
yang baru bermunculan, tentu dibutuhkan perangkat sound system yang baik dan
tentunya tidak lepas juga dibutuhkan kemampuan seorang operator atau disc jockey yang
baik pula.
Tetapi sayangnya pengertian tentang sound system yang benar sangatlah minim / kurang,
sehingga banyak masalah yang ditimbulkan, seperti kualitas suara yang dikeluarkan tidak
bisa maksimal, peak / distord dan masih banyak lagi.
Dengan permasalahan diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil
maksimal dari sebuah perangkat sound system dibutuhkan pengetahuan tentang sound
system itu sendiri.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Mengulas pengetahuan tentang sound system ( bukan hanya sekedar faktor kebiasaan ).
2. Memaksimalkan kualitas suara ( headroom ) yang dikeluarkan dari perangkat sound
system.
3. Memberikan pengetahuan kepada disc jockey tentang pentingnya pemaksimalan
struktur
gain pada mixer dj.

2. Teori Dasar

2.1. Gelombang Suara


Gelombang suara adalah gelombang yang dihasilkan dari sebuah benda yang bergetar.
Contohnya adalah senar gitar yang dipetik. Senar akan bergetar, dan getaran ini
merambat di udara atau material lainnya. Satu – satunya tempat dimana suara tak dapat
merambat adalah pada ruangan hampa udara.
Gelombang suara ini memiliki lembah dan bukit, satu buah lembah dan bukit akan
menghasilkan satu cycle atau putaran. Cycle atau putaran ini berlangsung berulang –
ulang yang membawa pada konsep frekuensi. Frekuensi adalah jumlah dari cycle /
putaran yang terjadi dalam satu detik.
Frekuensi dengan satuan Hertz atau disingkat Hz.
Telinga manusia dapat mendengar bunyi antara 20 Hz hingga 20.000 Hz.

2.2. Telinga Manusia


Telinga adalah indera pendengaran pada manusia, dan merupakan jalur terakhir dari
sinyal flow audio.
Fungsinya menangkap gelombang suara dan merubahnya menjadi signal untuk dikirim ke
otak. Di dalam telinga manusia ada sebuah unsur yang secara sederhana kita sebut saja
sebagai gendang telinga ( Ear Drum ). Pertama suara mencapai Pinna, lalu dikumpulkan
melalui Ear Canal. Suara itu mengakibatkan Ear Drum ( gendang telinga ) bergetar.
Setelah itu getaran suara mencapai Cochlea yang mana terdapat jutaan rambut halus yang
bergetar dan mengirim signal ke otak. Dan di dalam otak, sinyal tersebut dikenal, lalu
diterjemahkan sebagai suara atau bunyi dengan kekerasan dan frekuensi tertentu. Inilah
yang kita persepsikan sebagai suara.
Pada suatu kekerasan yang sangat kuat, telinga kita akan merasa terganggu dan berusaha
untuk menghindarinya secara reflek, misalnya dengan membuka mulut atau menutup
kedua telinga dengan tangan. Sebaliknya jika bunyi mempunyai kekerasan yang sangat
lemah, maka otak kita akan bekerja lebih keras untuk berkonsentrasi agar dapat
menerjemahkannya dengan baik.

2.3. Fletcher & Munson


Banyaknya getaran dalam satu detik yang dapat dideteksi oleh kuping manusia adalah 20
– 20.000 Hz. Tapi, apakah kita dapat mendengar seluruh frekuensi tersebut pada
kekerasan yang sama?
Tahun 1933, Fletcher dan Munson melakukan penelitian yang menghasilkan kesimpulan
bahwa ternyata telinga manusia tidak memperlakukan seluruh frekuensi dari 20 hingga
20.000 Hz dengan sama. Telinga manusia ternyata lebih peka terhadap frekuensi 1 – 5
KHz. Hal ini tentunya menjadi sangat masuk akal, jika kita berpikir bahwa sebenarnya
prioritas pertama dalam mendengar adalah mendengarkan suara manusia, sehingga kita
dapat berkomunikasi dengan baik.
Dari hasil penelitian ini, dapat dimengerti, mengapa sangat sulit untuk mendengarkan
suara bass dengan “clear”. Bahkan terkadang bunyi / suara dari frekuensi dibawah 100
Hz ( Subwoofer ) lebih mudah untuk “dirasakan” daripada didengarkan. Dan sangatlah
sulit untuk dapat mendengarkan frekuensi di atas 8.000 Hz. Dari sini dapat disimpulkan
bahwa level untuk frekuensi rendah dan tinggi akan lebih besar dibandingkan dengan
frekuensi tengah. Jadi untuk dapat membuat frekuensi rendah yang dianggap sama
levelnya dengan frekuensi tengah ( middle ) oleh telinga kita, maka level dari speaker
subwoofer harus relative lebih besar dibanding speaker middle. Demikian pula yang
terjadi pada speaker tweeter. Itulah umumnya grafik equalizer berbentuk “smile”.
Dari kurva yang dihasilkan Fletcher dan Munson ini, dapat disimpulkan bahwa semakin
keras suara yang di dengar, semakin flat kepekaan telinga manusia meresponnya. Dengan
kata lain, telinga mendengarnya tidak merata pada semua frekuensi dan ini dipengaruhi
oleh kekerasan / amplitude suara yang bersangkutan.

2.4. Sinyal Prosessor


Alat – alat yang dapat memproses bunyi atau suara disebut sebagai audio sinyal
prosessor. Dan sinyal prosessor mempunyai 3 kelemahan :
1. Noise
Bunyi yang menggangu yang dihasilkan oleh sinyal prosessor itu sendiri.
2. Distortion
Sinyal prosessor yang diberi sinyal audio melebihi dynamic rangenya sehingga peak.
3. Coloration
Proses perubahan harmonic content yang terjadi, karena sebuah sinyal prosessor yang
tidak
flat.
Berdasarkan proses perubahan energinya, sinyal prosessor dibagi menjadi dua bagian
besar : Tranducer dan Amplifier.

2.4.1. Tranducer
Tranducer adalah alat yang merubah energi dari satu bentuk ke bentuk lain yang berbeda.
Contoh dari tranducer yang umum dipakai dalam audio adalah : mikrofon, speaker, dan
lain – lain. Mikrofon mengubah energi getaran menjadi energi listrik, sedangkan speaker
adalah kebalikannya yang mengubah energi listrik menjadi energi getaran. Yang paling
penting dalam sebuah mikrofon adalah metode tranduksinya yaitu dynamic mikrofon
( berdasarkan dinamika / getaran, tidak memerlukan arus listrik ), condenser mikrofon
( memerlukan arus listrik / phantom power ), ribbon mikrofon ( jarang dipakai karena
sangat rentan, tapi respon frekuensi sangat baik dan tidak membutuhkan arus listrik ).
Dan berdasarkan karakteristik akustik dibagi berdasarkan :
A. Polar Patern ( pola penangkapan suara )
1. Omni Directional > dapat menerima dari segala arah
2. Uni Directional > - Cardioid > sudut penangkapannya 130 derajat
- Super Cardioid > sudut penangkapannya 110 derajat
- Hyper Cardioid > sudut penangkapannya 90 derajat
3. Bi Directional ( figure 8 ) > pola penangkapannya seperti angka 8, sudut
penangkapannya
+/- 120 derajat
B. Frequency Response Curve ( kurva tanggapan frekuensi )
Yang baik adalah yang sanggup menangkap frekuensi 20 – 20.000 Hz tanpa merubah
input
suara:
1. Flat Frequency Response > input = output
2. Shaped Frequency Response
C. Proximity Effects ( semakin dekat / jauh dari sumber suara, frekuensi rendah akan
berubah )

Adapun untuk speaker dibagi berdasarkan frekuensi :


- Frequency Very High > Super Tweeter
- Frequency High > Tweeter
- Frequency Mid > Midrange
- Frequency Low > Woofer
- Frequency Very Low > Sub Woofer

1.4.2. Amplifier
Amplifier tidak mengubah bentuk energi menjadi bentuk energi lain, hanya
meningkatkan / menguatkan energi yang sama. Mixer, Splitter, Equalizer, Crossover,
Power Amplifier, dan lain – lain, adalah signal processor yang tidak mengubah bentuk
energi satu menjadi energi lainnya. Mixer menerima energi listrik dari berbagai suara
( input ), lalu di campur ( mix ) dan dikeluarkan lagi dalam bentuk energi yang sama
( energi listrik ).

3. DJ Equipment
Secara umum satu set dj equipment terdiri dari dua buah cdj / turntable dan satu buah
mixer.

3.1. CDJ / Turntable


Perbedaan yang paling mendasar dalam perbedaan cdj dan turntable adalah jika cdj
menggunakan format digital / CD, sedangkan turntable masih menggunakan format
analog. Banyak kelebihan dan kekurangan dari masing – masingnya. Meskipun semua
fungsi dalam turntable juga terdapat dalam cdj meski berformat digital.

3.2. Mixer
Sebuah alat yang dapat mencampur dari berbagai macam sumber suara ( lebih dari satu
sumber suara ) menjadi satu output. Dari jenis inputnya dapat dibedakan input – input
yang ada di mixer dj. Ada input yang disediakan untuk mikrofon level / 0,1 Volt ( input
untuk mic & turntable ), dan ada juga input untuk line level / 1 Volt ( cdj , dll ). Biasanya
untuk input CD / Line menggunakan RCA terminal, begitupun dengan input turntable /
phono tetap menggunakan RCA terminal. Sedangkan untuk main / master output terdapat
XLR terminal & RCA terminal. Listrik yang dihasilkan oleh mikrofon level lebih kecil
dibanding dengan line level.
Jadi signal yang berasal dari turntable jika dimasukan melalui input line / cd, maka sudah
pasti signal yang masuk akan menjadi terlalu lemah, dan sebaliknya jika kita memasukan
sinyal yang berasal dari output cdj, maka akan terjadi distorsi karena signal yang masuk
akan menjadi terlalu besar / peak.

3.2.1. Gain / Trim


Gain / Trim berfungsi untuk menyamakan impedansi antara input sumber suara dengan
mixer itu sendiri. Bukan sebagai volume.

3.2.2. Equalizer
Dalam setiap mixer dj, terdapat equalizer. Equalizer adalah alat yang dapat menyamakan
level – level dari masing – masing frekuensi agar menjadi sama. Dimana biasanya
equalizer terdiri dari beberapa tipe antara lain : Parametric EQ, Sweep EQ, Shelving EQ.
Kebanyakan dari beberapa mixer dj, menggunakan tipe Shelving EQ, yaitu hanya
terdapat satu parameter yang mengontrol kekerasan ( dB ) dari frekuensi tertentu. Maka
hanya terdapat 3 buah putaran parameter yang biasanya bertuliskan LOW, MID, dan HI.
Dengan 3 band Shelving EQ ini, hanya bisa mengubah kekerasan ( dB ) dari 3 buah
frekuensi saja. Sweep EQ mempunyai 2 parameter, yaitu parameter untuk mengontrol
kekerasan ( dB ) dan parameter yang dapat memilih frekuensi ( Hz ) yang kekerasannya
akan dikontrol. Biasanya jenis EQ seperti ini terdapat pada mixer – mixer kelas
professional.
Parametric EQ mempunyai 3 parameter, yaitu parameter untuk mengontrol kekerasan
( dB ), parameter untuk mengontrol frekuensi ( Hz ), dan parameter untuk mengontrol
kelebaran frekuensi / bandwidth yang akan terpengaruh, jika terjadi pemotongan atau
penambahan kekerasan pada frekuensi centernya.

3.2.3. Fader
Secara umum dalam mixer dj terbagi menjadi : Channel Fader, Master Fader, dan
Crossfader.
Channel Fader berfungsi untuk mengatur seberapa besar sinyal audio yang akan kita
keluarkan dari masing – masing channel untuk menuju ke master fader. Banyak dan
mungkin hampir semua DJ menggunakan channel fader ini sebagai potensio untuk
mixing ( yang seharusnya menggunakan crossfader ). Dalam bahasa sehari – harinya
channel fader sama fungsinya dengan volume.
Master Fader berfungsi untuk menentukan seberapa besar sinyal audio yang akan
dikeluarkan dari mixer. Tapi yang pasti sinyal yang dikeluarkan harus mendapatkan
headroom ( tidak peak ) / maximum gain before peak.
Crossfader berfungsi untuk me – mixing antar masing – masing channel.
Karena sifat / karakter potensio nya yang biasanya linear, maka jarang sekali seorang disc
jockey menggunakan potensio crossfader ini untuk me-mixing.
Dan juga dibutuhkan headphone untuk me-monitor lagu yang akan di mixing.

4. Struktur Gain
Pada bab ini akan dibahas tentang penggunaan dj equipment dengan maksimal terutama
tentang struktur gain pada mixer dj yang sangat berpengaruh dengan hasil suara. Adapun
yang harus diperhatikan dalam penggunaan mixer dj adalah frekuensi yang dikeluarkan
idealnya harus flat dan haruslah mendapatkan headroom.
4.1. Flat
Sebenarnya, hampir tidak pernah ada sebuah sistem audio yang benar – benar flat.
Apakah sumber suaranya ( source ), maupun sinyal prosessornya, ataupun ruangannya.
Bahkan telinga manusia pun bisa membuat sebuah sistem audio menjadi tidak equal
diantara kekerasan frekuensi satu dan yang lainnya.
Untuk itu dibutuhkan equalizer yang dapat membuat sistem audio menjadi equal atau
mendekati equal. Dan tidak ada aturan baku bagaimana harus meng-EQ yang terbaik,
semua berdasarkan selera, tapi idealnya sebuah sistem audio mempunyai frekuensi yang
flat. Yang dimaksud dengan flat disini adalah semua frekuensi yang bunyi berada pada
level / kekerasan yang sama.
Dikarenakan tidak adanya sebuah sistem audio yang flat dan telinga pun demikian, maka
dibutuhkan alat yang dapat mengukur flat ( frekuensi ) tidaknya sebuah sistem audio
yang disebut Real Time Analyzer ( RTA ) dan Pink Noise Generator.
Dengan bantuan kedua alat ini, tingkat “flat” sebuah sistem audio dapat diketahui secara
lebih persis dan teoritis, tapi apapun yang terjadi tingkat “flat” sebuah sistem audio tetap
berdasarkan selera masing – masing orang.
4.2. Headroom
Jika sebuah sinyal audio masuk ke sebuah sinyal prosessor berada pada level yang tepat,
maka sinyal audio tersebut dikatakan berada pada headroom ( tidak berlebihan dan tidak
kekurangan ). Seperti yang sudah di bahas pada bab sebelumnya tentang perbedaan dari
gain / trim dan channel fader dan master fader dari sebuah mixer dj. Hampir rata – rata
seorang disc jockey menganggap bahwa fungsi dari gain / trim, channel fader, master
fader adalah sama sebagai volume. Padahal masing – masing mempunyai fungsi
tersendiri.
Bila ada kesempatan untuk melihat mixer dj seorang disc jockey yang sedang me-mixing
antar lagu, dapat dipastikan bahwa level dari gain / trim berada pada level tengah ( jarum
jam angka 12 ), dan lampu led indikator merah selalu menyala / peak. Semua kebiasaan
ini harus di rubah untuk mendapatkan kualitas sistem audio yang lebih baik. Dan
bagaimana untuk mendapatkan headroom??
Langkah yang paling awal adalah mencocokan sinyal audio ( menyamakan impedansi )
yang masuk ke dalam sebuah mixer dj, dengan mixer dj itu sendiri.
Umumnya lampu indikator dalam sebuah mixer mempunyai arti, seperti indikator merah
yang berarti peak, dan indikator hijau yang berarti headroom level . Ini dapat dilihat pada
lampu indikator masing – masing channel pada mixer dj, usahakan lampu indikator
merah ( peak ) tidak menyala dengan memutar gain / trim pada masing – masing channel.
Setelah masing – masing channel berada pada headroom ( tentunya menyesuaikan juga
dengan level potensio EQ ), yang pastinya lampu indikator menunjukan level 0 dB. Dan
untuk potensio channel fader yang berfungsi sebagai volume tidak ada masalah untuk
dimaksimalkan.
Karena master fader / master level adalah untuk menentukan seberapa besar output audio
yang keluar dari sebuah mixer, tentu harus diperhatikan juga pengaturannya. Jika sebuah
output dari sebuah mixer sudah peak / distord maka dipastikan hasil terakhir di
loudspeaker akan peak / distord juga. Jadi master fader / master level dari sebuah mixer
juga diharapkan berada pada posisi headroom dengan mengatur potensio master fader /
master level pada posisi 0 dB.
Jadi lampu – lampu indikator yang ada memang diciptakan untuk memandu pencarian
headroom. Biasanya lampu – lampu ini dikenal dengan sebutan peak indikator.
Headroom selalu berada tepat dibawah level peak ini.
Jadi intinya dalam pencarian headroom adalah buat supaya peak indikator ( lampu
indikator merah ) ini menyala, setelah itu levelnya dikurangi sedikit, sehingga sinyal
audio berada tepat di bawah peak. Dan haruslah diingat bahwa sinyal yang berada pada
posisi peak adalah sinyal yang RUSAK / CACAT.
Oleh karena itu jangan biarkan lampu indikator merah ini menyala terus, dan masalahnya
sinyal yang terbaik selalu berada di daerah sebelum peak terjadi. Gunakanlah lampu –
lampu indikator yang tersedia untuk memandu dalam menentukan level yang terbaik,
tidak peak tapi tidak terlalu lemah.
5. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dalam tulisan ini adalah :
1. Tulisan ini sangat membantu bagi DJ yang ingin menggunakan dj equipment secara
maksimal
dan benar.
2. Tulisan ini lebih membahas tentang mixer dj yang penggunaannya sangat berpengaruh
terhadap sistem audio di sebuah klub.
3. Diharapkan setelah membaca tulisan ini seorang DJ dapat lebih mengenal fungsi dan
karakteristik alat – alat / dj equipment yang digunakannya.
4. Langkah – langkah untuk mendapatkan headroom :
- Langkah yang paling awal adalah mencocokan sinyal audio ( menyamakan impedansi )
yang
masuk ke dalam sebuah mixer dj, dengan mixer dj itu sendiri dengan memutar gain / trim
ke arah kanan sampai indikator peak menyala, setelah itu diputar ke arah kiri sampai
indikator peak tidak menyala lagi
- Potensio channel fader yang berfungsi sebagai volume tidak ada masalah untuk
dimaksimalkan.
- Master fader / master level dari sebuah mixer juga diharapkan berada pada posisi
headroom
dengan mengatur potensio master fader / master level.
- Intinya dalam pencarian headroom adalah buat supaya peak indikator ( lampu indikator
merah ) ini menyala, setelah itu levelnya dikurangi sedikit, sehingga sinyal audio berada
tepat di bawah peak.
- Dan haruslah diingat bahwa sinyal yang berada pada posisi peak ( lampu indikator
merah )
adalah sinyal yang RUSAK / CACAT.
- Gunakanlah lampu – lampu indikator yang tersedia untuk memandu pencarian
headroom.