You are on page 1of 39

Penhertian HAM

MENURUT Teaching Human Rights yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa- Bangsa
(PBB), hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada setiap
manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Hak hidup
misalnya adalah claim untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat
membuat seseorang tetap hidup, karena tanpa hak tersebut eksistensinya sebagat manusia
akan hilang.
Menurut Locke, hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh
Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Karena sifatnya
demikian maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang bersifat kodrati. Karena
sifatnya yang demikian maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabut
hak asasi setiap manusia.
Hak asasi manusia ini tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam salah satu buah pasalnya (Pasal 1) secara
tersurat dijelaskan bahwa "Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang
melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa
dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat
dan martabat manusia".

Perkembangan HAM
1. Sebelum Deklarasi Universal HAM 1948
Kemunculannya dimulai dengan lahirnya Magna Charta yang membatasi
kekuasaan absolut para penguasa atau raja. Sejak lahirnya Magna Charta pada tahun 1215,
raja yang melanggar aturan kekuasaan harus diadili dan mempertanggungjawabkan
kebijakan pemerintahannya di hadapan parlemen.
Secara politis, lahirnya Magna Charta merupakan cikal bakal lahirnya monarki
konstitusional. Keterikatan penguasa dengan hukum dapat dilihat pada Pasal 21 Magna
Charta yang menyatakan bahwa "...para Pangeran dan Baron dihukum atau didenda
berdasarkan atas kesamaan, dan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan pada Pasal 40
ditelaskan bahwa "...tidak seorang pun menghendaki kita mengingkari atau menunda
tegaknya hak atau keadilan". Pada masa ini pula muncul istilah equality before the law
atau manusia adalah sama di muka hukum. Menurut Bill of Rights, asas persamaaan harus
diwujudkan betapa pun berat rintangan yang dihadapi, karena tanpa hak persamaan maka
hak kebebasan mustahil dapat terwujud. Untuk -mewujudkan kebebasan yang bersendikan
persamaan hak warga negara tersebut, lahirlah sejumlah istilah dart- teori sosial yang
identik dengan perkembangan dan karakter masyarakat Eropa dan Amerika: kontrak
sosial (Jj. Rousseau), trios politika (Montesquieu), teori hukum kodrati (John Locke), dan
hak-hak dasar persamaan din kebebasan (Thomas Jefferson).
Teori kontrak sosial adalah teori yang menyatakan bahwa hubungan antara penguasa
(raja) dan rakyat didasari oleh sebuah kontrak yang ketentuan-ketentuannya mengikat
kedua belah pihak. Menurut kontrak sosial, raja diberi kekuasaan oleh rakyat untuk
menyelenggarakan ketertiban dan menciptakan keamanan demi hak alamiah manusia
terjamin dan terlaksana secara aman. Sedangkan di sisi lain, rakyat akan menaati
penguasa mereka sepanjang hak-hak alamiah mereka terjamin.
Trias Politika adalah teori tentang sistem politik yang membagi
kekuasaan pemerintahan negara dalam tig_a komponen: pemenntah (eksekutif), parlemen
(legisli4_dan kekuasaan peradilan (yudikatif). Adapun Teori Kodrati Locke menyatakan
bahwa di dalam masyarakat manusia ada hak-hak dasar manusia yang tidak dapat
dilanggar oleh negara
flak Asasi Manusia 253
Teori kontrak sosial adalah teori yang menyatakan bahwa hubungan antara penguasa
(raja) dan rakyat didasari oleh sebuah kontrak yang ketentuanketentuannya mengikat
kedua belah pihak.

Pada 1789 lahir


Deklarasi Perancis
(The French
Declaration).
Deklarasi ini
memuat aturan-
aturan hukum yang
menjamin hak asasi
manusia dalam
proses hukum,
seperti larangan
penangkapan dan
penahanan
seseorang secara
sewenang-wenang
tanpa alasan yang
sah atau
penahanan tanpa
surat perintah yang
dikeluarkan oleh
lembaga hukum
yang berwenang.
dan tidak diserahkan kepada negara. Bagi Locke hak dasar ini bahkan haws dilindungi
oleh negara dan menjadi batasan bagi kekuasaan negara yang mutlak. Hak-hak kodrati
(alamiah) dari John Locke terdiri dari hak atas kehidupan, hak atas kemerdekaan, dan hak
atas milik pribadi yang dalam perkembangannyaTemu man i masa modern hak-hak dasar
ini bertambah jumlahnya dan menjadi konsTelf u ma dalam pemikiran tentang demo
krasi.
Hak-hak dasar Persamaan dan Kebebasan Thomas Jeffe-rson banyak dipengaruhi
terutama oleh Locke. Hak-hak dasar ini clisampaikan oleh Jefferson dalam The American
Declaration of Independence pada 4 Juli 1776, sekaligus menandai perkembangan HAM
paska Bill of Rights. Menu
Jefferson, didasarkan pada teori Locke di atas, semua manusia dilahirkan sama dan
merdeka. Manusia dianugerahi beberapa hak yang tidakterpisahpisah, di antaranya hak
kebebasan a an tuntutan esenangan.
Pada 1789 lahir Deklarasi Perancis (The French Declaration). Deklarasi ini memuat
aturan-aturan hukum yang menjamin hak asasi manusia dalam proses hukum, seperti
larangan peiiangkapan dan penahanan seseorang -secara sewenang-wenang tanpa alasan
yang sah atau penahanan tanpa Surat perintah ernceluarkan ole _ bags hukum yang
berwenang. Dalam hal ini berlaku prinsip presumption of innocent, orang-orang yang
ditanglak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang
menyatakan is bersalah, muncul untuk pertama kali. Prinsip ini kemudian dipertegas oleh
prinsip-prinsip HAM lain seperti freedom of expression (kebebasan mengetuarkan
pendaliat), freedom of religion (kebebasan beragama), The right of property
(perlindungan ha ak-hakClasar lainnya.
Perkembangan HAM selanjutnya ditandai oleh munculnya wacana eat hak kebebasan
manusia (thefourfreedoms) di Amerika Serikat pada 6 lanuari 1941, yang dipradamirkan
oleh Presiden Roosevelt Keempat hak itu adalah: hak kebebasan berbicara dan
menyatakan pendapat; hak 7iebasan memeltik mama d_an_Wribadah sesuai dengan
ajaran agama yang hak kebebasan dari kemiskinan; dan hak kebebasan dari rasa takut
Tiga tahun kemudian, dalam Konferensi Buruh Internasional di Philadelphia, Amerika
Serikat, dihasilkan sebuah deklarasi HAM. Deklarasi Philadelphia 1944 ini memuat
pentingnya menciptakan perdamaian dunia
berdasarkan keadilan sosial dan perlindungan se_ luruh manusia apapun ras, kepercayaan,
dan jenis kelaminnya. Deklarasi ini juga memuat prinsip HAM yang menyerukan jaminan
setiap orang untuk mengejar pemenuhan kebutuhan material dan spiritual a bebas dan
bermartabat sena jaminan keamanan ekonomi dan kesempatan yang sama. Hak-hak
tersebut kemudian dijadikan dasar perumusan Deldarasi Universal HAM (DUHAM) yang
dikukuhkan oleh PBB dalam Univirsal Declaration of Human Rights (UDHR) pada tahun
1948.
Menurut DUHAM, terdapat 5 jenis hak asasi yang dimiliki oleh setiap indivrclu(hak
personal (hak jaminan kebutuhan pribadi); hak legal (hak jaminan perlindunganhakn
sipil_dan_politi hak subsistensi (hak
iaMiriaiicaTwaa sumber daya untuk menunjang kehidupan); dan ha
ekonomi, sosial dan budaya.
Menurut Pasal 3-21 J21JHAWLhak_personal,_ hak legal halcsipil
1. hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi;
2. hak bebas dari perbudakan dan penghambaan;
3. hak bebas dari penyiksaan atatrperlakuan maupun hukuman yang kejam, tak
berprikemanusiaan ataupun merendahkan deraiat kemanusi aa n;
4. hak untuk memperoleh peuakuan hukum dimana saja secara ..---
pribadi;
5. hak untuk pengampunan hukum secara efektif;
6. hak bebas dari penangkapan, penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang;
7. hak untuk peradilan yang independen dan tidak memihak;
8. hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah;
9. hak bebas dari campur tangan yartgselnue lang-weaang terhadap kekuasaan
pribadi,keluarga, tempat-Vildiff—nam sUrat-surat
10. Halc, bebas kehormatan dan naniabik
11. 7ak atas perlindungan hukum terhadap angan semacam itu;
12. hak beizeralq_
13. hak memperoleh suaka;
14. hak atas satu kebangsaan;
15. hak untuk menikah dan membentuk keluarga;
254 Pendidikan Kewargaan (Civic Education) flak Asasi Manusia 255
Secara garis besar
perkembangan
pemikiran tentang
HAM dibagi
menjadi 4 kurun
generasi:
Generasi pertama,
menurut generasi
ini pengertian HAM
hanya berpusat
pada bidang hukum
dan politik.
GenerLasilexlia
pemikiran HAM tidak saja menuntut
hayt-----EViclierti
yang
dikampanyekan generasi pertama,
to juga
menyerukan hak- hak sosial, ekonomi, politik, dart budaya.
16. hak untuk mempunyai hak
17. hak bebas bcrpikir, berkesadaran, dan beragama;
18. hak bebas berpilcir dan menyatakan pendapat;
19. .hak untuk berhimpun dan berserilcat
20. hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas alcses yang sama
terhadap pelayanan masyarakat.
Adapun hak ekonomi, sosial dan budaya meliputi: hak atas jaminan sosial;
2. hak untuk bekerja;
3. hikatas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama; 4. hak untuk bergabung ke dalam
serikat-sentat-bi.
5. hak atas i-stirahat dan wait senggang;
6. hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan;
7. hak atas pendidikan;
8.a untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat
2. Setelah Deklarasi Universal HAM 1948
Secara garis besar perkembangan pemikiran tentang HAM dibagi n jokurun'--- •
zenerask.
Generasi pertama, menurut generasi ini pengertian HAM hanya berpusat pada bidang
hukum dan politik. Dampak Perang Dunia Il sangat mewamai pemikiran generasi ini,
dimana totaliterisme dan munculnya kcinginan negara-negara yang baru merdeka untuk
menciptakan tertib hukum yang baru sangat kuat. Seperangkat hukum yang disepakati
sangat sarat dengan hak-hak yuridis seperti, hak untuk hidupitlak untuk tidak
menjadi budak, hak untuk tidak disiksa dan ditahan, hak
_ - ---
keadilan dalam proses hukum (fair trial)hak praduga tak bersalah dan sebagainya. Selain
dan hak-hak tersebut, hak nasionalitas, hak pemilikan, hak pemikiran, haelk-b---agiffa,--
hdidikan, hak pekerjaan dan kehidupan budaya juga rnewaiiraipemikiran HAM generasi
pertama
Generasi kedua, pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis seperti yang
dikampanyekan generasi pertama, tetapi juga menyerukan
hak-hak sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Pada generasi kedua ini lahir dua konvensi
HAM internasional di bidang ekonomi, sosial, dan budaya serta konvensi bidang sipil,
juga hak-hak politik sipil (international covenant on economic, sosial and cultural rights
dan international covenant on civil and political rights). Kedua konvensi tersebut
disepakati dalam sidang umum PBB 1966.
Generasi ketiga, sebagai penyempurnaan wacana HAM generasi sebelumnya. Generasi ini
menyerukan wacana kesatuan HAM antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik dan
hukum dalam saw bagian integral yang dikenal dengan istilah hak-hak melaksanakan
pembangunan (the rights ofdevelopment), sebagaimana dinyatakan oleh Komisi Keadilan
lntemasional (International Comission ofJustice).
Dalam pelaksanaannya, gagasan HAM generasi ketiga yang Iebih berorientasi pada hak
membangun mengalami ketidakseimbangan. Penekanan pada hak pembangunan ekonomi
telah berakibat pada pengabaian prinsip HAM lainnya. Akibat langsung dari
ketidakseimbangan ini, khususnya ketidakseimbangan penyebaran kesempatan eknonomi,
adalah lahirnya ketimpangan eknomomi antara negara maju dan negara terbelakang. Di
dalam negara-negara-ekonomi berkembang pun muncul kesenjangan el.alomoni yang
besar antara kelompok masyarakat kaya dan masyarakat miskin. Hal itu diakibatkan oleh
ketidakberpihakan pembangunan kepada masyarakat golongan miskin. Kesempatan
berusaha dan pembagian kekayaan nasional dan redistribusi sumber-sumber daya sosial,
ekonomi. hukum. politik dan budaya tidak berjalan secara merata. Pada generasi ini peran
negara (pemerintah) terlalu kuat.
Generasi Keempat, banyaknya dampak yang dihasilkan oleh rumusan HAM generasi
ketiga melahirkan pemikiran kritis HAM dari generasi keempat. Peran dominan negara
dalam proses pembangunan ekonomi dan kecenderungan pengabaian aspek kesejahteraan
rakyat mendapat sorotan tajam kalangan generasi HAM Mi. Menurut mereka, selain pro-
gram pembangunan yang dilakukan negara tidak dilakukan berdasarkan kebutuhan rakyat,
proses pembangunan ternyata hanya dinilcmati oleh sekelompok negara maju dan atau
sekelompok elit dalam negara-negara berkembang. Wacana HAM dalam bidang ekonomi
telah menghasilkan kesenjangan ekonomi balk antara negara yang telah maju (Banat) dan
negara
Generasi keti,
Cenerasi ini
menyerukan
- — wacana kesati
HAM antara -etonotni, sosic —ifudaya, path hukum dalam bagman integrc yang dikenal
erg(T--7tiWah a rtrk—OT—csanc pembangunan rights of development Generasi Keen')
Peran dominan negara daTain
proses
pembangunan -iorktOrni don kecenderungan penga awn asf kesejahteraan rakyat mTriTa-
p sorotan tajam aatTigener u-1:171-1Tir-
Hak Asasi Manusia 257
256 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
yang baru berkembang di Asia dan Afrika maupun di antara penduduk di negara-negara
baru berkembang tersebut.
Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan Asia yang
pada tahun 1983 melahirkan deldarasi HAM yang dikenal dengan Declaration of The
Basic Duties of Asia People and Goverment. Lebih maju dan generasi sebelumnya,
Deklarasi ini tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga menyerukan terciptanya
tatanan sosial yang berkeadilan. Tidak hanya masalah hak asasi, "Deklarasi HAM Asia"
ini juga berbicara tentang masalah "kewajiban asasi" yang harus dilakukan oleh setiap
negara. Secara positif deklarasi ini mengukuhkan keharusan imperatif setiap negara untuk
memenuhi hak asasi rakyatnya. Dalam kerangka ini, pelaksanaan dan penghormatan atas
hak asasi manusia bukan saja urusan orang perorangan, tetapi juga merupakan tugas dan
tanggungjawab negara.
Reherapabutir_HAM yang termuat dalam dalam deldarasi_HAM Asia ini mencakup:
a. Pembangunan berdikari (self development)
Pembangunan adalah pembangunan yang
membebaskan rakyat dan bangsa dari ketergantungan danseUligus memberilcar-stn—iber
dayasosial-eknonoii cepada rakyat. Relokasi dan redistribusi kekayaan dan modal
nasional haruslah dilakukan dan sudah waktunya sasaran pembangunan itu ditujukan
kepada rakyat banyak di pedesaan. Bantuan dan modal luar negeri hendaknya diatur
secara terencana dan terarah, agar tidak salah alamat.
b. Perdamaian
Masalah perdamaian tidak semata-mats berarti anti rang, anti nuklir,
dan anti perang birding. Tetapi justru lebih dad itu suat_st paya untuk .
melepaskan . . n 1L31WayThEece rasan (culture of violence) dengan segala
bentuk tindakan. Hal itu berarti penciptaan budaya damai (culturilf:peace)r menjadi tugas
semua pihak balk rakyat, negara, regional, maupun dunia intemasional.
c. Partisi si rakes_
Partisipasi rakyat ini adalah suatu persoalan hak asasi yang sangat 258 Pendidikan
Kewargaan (Civic Education) mendesak untuk tents diperjuangkan, baik dalam dunia
politik maupun dalam persoalan publik lainnya.
d. Hak-hak budaya_
Setiap budaya hams dihormati dan tidak boleh dilecehkan. Upaya dan kebijakan
penyeragaman budaya oleh negara merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak asasi
berbudaya, karena mengarah ke penghapusan kemajemukan budaya (multikulturalisme)
sebagai identitas kekayaan suatu komunitas warga dan bangsa.
e. Hak keadilan sosial
Keadilan sosial tidak hanya diukur dengan peningkatan pendapatan perkapita, tetapi juga
dengan merubah tatanan sosial yang tidak adil dengan tatanan sosial yang berkeadilan.
3. Perkembangan HAM di Indonesia
Wa__Qna_HAMALIndonesia_telah berlangsung seining dengan berdirnya Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM di
Indonesia dapat dibagi kedalam dua periode: sebelum Kemerdekaan (1908-1945) dan
sesudah kemerdekaan (1945—sekarang). a. Periode sebelum kemerdekaan (1908— 1945)
Pemikiran HAM dalamperiode sebelum kemerdekaan dapat dijumpai dalam sejarah
kemunculan organisasi pergerakan nasional seperti Boedi Oetomo (1908), Sarekat Islam
(i911-) ilidische Parti(1912), Partai Komunis
Indonesia (1920), Perhimpunan Indonesia (1925), dan Partai Nasional In-
_
donesia (1927). Lahimya organisasi pergerakan nasional itu tidak bisa
dilepas an dari sejarah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh peguasa
kolonial, penjajahan dan pemerasan hak-hak masyarakat terjajah. Puncak
perdebatan HAM yang dilontarkan oleh para tokoh pergerakan nasional,
seperti Soekamo, Agus Salim, Mohammad Natsir, Mohammad Yamin, KH.
Mas Mansur, KH. Wachid Hasyim, Mr. Maramis, terjadi dalam sidang-sidang
BPUPK1 (Badan Persiapan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dalam
sidang-sidang BPUPK1tersebut para tokoh nasional berdebat dan berunding
merumuskan dasar-dasar ketatanegaraan dan kelengkapan negara yang
Hak Asasi Manusia 259
a
Dalam sejarah
pemikiran HAM di
Indonesia, Boedi
Oetomo merupakan
organisasi
pergerakan
nasional pertama
yang menyuarakan
kesadaran
berserikat dan
mengeluarkan
pendapat melalui
petisi-petisi yang
ditujukan kepada
pemerintah kolonial
maupun lewat
tulisan di surat
kabar.
menjamin hak dan kewajiban negara danwarga negara dalam negara yang hendak
diproklamirkan.
Dalam sejarah pemikiran HAM di Indonesia, Boedi Oetomo merupakan orgarusagera
rinasional pertama yang menyuarakan kesadaran berserikat dan mengeliTaikanpendapat
melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun lewat tulisan di
surat kabar. Inti dan perjuangan Boedi Oetomo adalah perjuangan alcan kebebasan
berserikat_ dan mengeluarkari pendapat melalui organisasi massa dan konsep perwakilan
rakyat. Searah dengan wacana HAM yang diperjuangkan Boedi Oetomo, para tokoh
Perhimpunan Indonesia seperti Mohammad Hatta, Nazir Pamontjak, Ahmad Soebardjo,
A. Maramis, lebih menekankan perjuangan HAM melalui wacana hak menentukan nasib
sendiri (the right of self determination) masyarakat terjajah.
Sedangkan kalangan tokoh pergerakan Sarekat Islam, Tjokro Aminoto, H. Samatidi,-
Ag'u-s—Silim, menyerulcan pentingnya usaha-usaha untuk memperolehYe-nghidup-arg
layak dan bebas dari penindasan diskriminasi rasial yang dilakukan pemerintah kolonial.
Berbeda dengan pemikiran HAM di kalangan tokoh nasionalis sekuler, para tokoh SI
mendasari perjuangan pergerakannya pada prinsip-prinsip HAM dalam Islam.
b. Periode setelah kemerdekaan (1945 - sekarang)
tentang HAM terus berlanjut sampai periode paska kemerdekaan Indonesia: 1945-1950,
1950-1959, 1959-1966, 1966-1998, dan periode HAM Indonesia kontemporer (paska
1998).
1. Periode 1945-1950_
Pemikiran HAM pada periode awal paska kemerdekaan masih menekankan pada wacana
hak untuk merdeka (self determination), hak kebebasan untuk berserikat melalui
organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat
terutama di parlemen. SeH2arifargl pode ini, wacana HAM masih dapat dicirikan pada: ,
a. Bidang sipil dan politik, melalui:
UUD 1945 (Pembukaan, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Penjelasan Pasal
24 dan 25)
Maidumat Pemerintah 1 November 1945
Maklumat Pemerintah 3 November 1945 Maldumat Pemerintah 14 November 1945 •
kR1S, khususnya Bab V, Pasal 7-33_
KUHP Pasa199
b. Bidang ekonomi, sosial, dan budaya, melalui:
UUD _1945 (Pasal 27, Pasal 31, Pasal 33, Pasal 34, Penjelasan Pasal Ilds_2113
KRIS PasalX)41,0_
2. Periode 1950-1959
Periode 1950-1959 dikenal dengan masa demokrasi parlementer. Sejarah pemikiran HAM
pada masa ini dicatat sebagai masa yang sangat kondusifbagi sejarah perjalanan HAM di
Indonesia. Sejalan dengan prinsip demokrasi liberal di masa itu, suasana kebebasan
mendapat tempat dalam kehidupan politik nasional. Menurut catatan Bagir Manan, masa
gemilang sejarah HAM Indonesia pada masa ini tercermin pada lima indikator HAM:
1. munculnya partai-partai politik dengan beragam ideologi
2._ adanya kebebasan pers
3. pelaksanaan perrAtian umum secara aman, bebas dan demokratis 4. kontrol parlemen
atas &set-Cuff.
Perdebatan HAM melalui mimbar parlemen (Konstituante) berlangsung secara bebas dan
demokratis. Berbagai partai politik yang berbeda haluan dan ideologi sepakat tentang
substansi HAM universal dan pentingnya HAM masuk dalam UUD dan menjadi bab
tersendiri. Bahkan diusulkan supaya keberadaan HAM mendahului bab-bab UUD.
Tercatat pada periode ini Indonesia meratifikasi _2 konvensi internasional HAM yaitu:
1. Ern_pat Konvensi Geneva 1949 dengan UU No. 59 Tahun 1958 yang mencakup
perlindungan hak bagi korban perang, perang
clan_perlindunga_n_sipil di_walctu perang
2. Konvensi tentang Hak Polidk_ Perempuan dengan UU No. 68 Tahun
1958 yang mencakup hak perempuan untuk memilih dan dipilih tanpa
p-erlakuin diskriminasi, serta hak perempuan untuk menempati
jabatan publik..
Hak Asasi Manusia 261
260 Pen,' Kcwargaan (Civic Education)
3. Periode 1959-1966
Periode ini merupakan masa berakhimya demokrasi liberal, digantikan oleh stem
demokrasi terpimpin yang terpusat pada kekuasaan Presiden Soe mo. Demokrasi
terpimpin (guided democracy) tidak lain sebagai bentuk penolakan Presiden Soekamo
terhadap sistem demokrasi parlementer yang dinilainya sebagai produk Barat. Menurut
Soekamo, demokrasi parlementer tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang
telah memiliki tradisinya sendiri dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Melalui sistem demokrasi terpimpin kekuasaan terpusat di tangan Presiden. Presid—
enlid-a-k-diPat dikontrol oleh parlemen, sebaliknya parlernindiketiaircan oleh presiden.
Kekuasaan Presiden Soekamo bersifat abso ut, bahkat---T---TTlinobadcanbase
garPreSiden RI seumur hidup. Akibat langsung dari model pemerintahan yang sangat
individual ini adalah pemasungan hak-hak asasi warga negara. Semua pandangan politik
masyarakat diarahkan hams sejalan dengan kebijakan pemerintah yang bersifat otoriter.
Dalam dunia seni, misalnya, atas nama revolusi pemerintahan Presiden Soekamo telah
menjadikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi kepada PK1 sebagai
satu-satunya lembaga seni yang diakui pemerintah. Sebaliknya, lembaga selain Lekra
dianggap anti pemerintah atau kontra revolusi. PK1 sebagai komponen politik yang
menganut prinsip dan ajaran Sosialisme sekuler mendapat dukungan politik dari Presiden
Soekamo. Sebaliknya Presiden Soekarno tidak bisa menafikan keberadaan PKI sebagai
partai politik yang memiliki massa yang besar dengan dukungan organisasi yang modern
dan disiplin. Sekalipun melanggar prinsip-prinsip HAM, Presiden Soekarno terpaksa
harus memperhitungkan keberadaan PKI.
Kedekatan Presiden Soekamo dengan PKI menimbulkan gejolak politik yang ditandai
oleh ketidaksukaan kelompok militer (TNI) dan elemenelemen politik dari kalangan
nasionalisdan kelompolcn lc agama, khususnya islam3Hir daniciatatoran
pemerintahanhesiden SoekarnO adalah berakhirnya pemerintahan melalui kudeta berdarah
yang dikenal dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gerakan ini. merupalcan
klimaks dari perseteruan politikantara PKI dengan TNI, khususnya angkatan darat. Akhir
pemenntahan Presiden Soekamo sekaligus sebagai awal
262 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
naiknya era pementahan Presiden Soehartoyang dikenal dengan se butan era Orde Baru. la
menggantikan Presiden Soekamo melalui Surat Perintah Sebelas_Mare_t (Supersemar).
4. Periode 1966-1998
Pada mtjw„. lahir_Ortle Baru menjanjikan harapan baru bagi penegakan HAM di
Indonesia, Berbagai seminar tentang HAM dilakukan Orde Baru. Namun pada Ice
taannya, Orde Baru telah meno re hka n seja rah hitam langgaran HAM di Indonesia
sepanjang sejarih Indonesia mod- em. janji Orde Baru dalam penegakkan HAM
ditunjukkan melalui beragam seminar tentang HAM. Pada tahun 1967 Orde Baru
merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM,
pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untukwilayah Asia. Gagasan ini
ditindaklanjuti dengan seminar Nasional Hulcum111968 yang merekomendasikan
perlunya hak uji materil (judicial review) dilakukan guna melindungi HAM. Hak uji
material tersebut dilakukan dalam rangka melindungi kebebasan dasar manusia. Dalam
rangka pelaksanaan TAP MPRS No. XIV/MPRS1966, MPRS melalui PanitiaAd Hoc IV
telah merumuslcan Piagam tentang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban
VVarganegara.
Janji-janji Orde Baru tentang pelaksanaan HAM di Indonesia mengalami kemunduran
amat pesat selika-ITT-19va hingga 1980-an. Setelah mendapadcan mandat konstitusional
dari sidang MPRS, pemerintah Orde Baru mulai menunjukkan watak aslinya sebagai
kekuasaan yang anti HAM yang dianggapnya sebagai produk Barat. Sikap anti HAM
Orde Baru sesungguhn a tic_y____.taltherbeda dengan argumen ang pernah dikemukakan
Presiden Soekarno ketika menolak prinsip dan praktek demo-
emokr
parlementer, yalcni sikap apologis dengan cara mempertentangkan demo as' an prinsip
HAM yang lahir di Barat dengan prinsip-prinsip lokal Indonesia. HAM dan demokrasi
dinilai oleh Orde Baru yang militeristik sebagai produk Barat yang individualist* dan
bertentangan dengan prinsip gotong royong dan kekeluargaan yang dianut oleh bangsa
Indonesia.
Diantara butir penolakan pemerintah Orde Baru terhadap konsep univer- - - —
sal HAM a cTaTal:
a. HAM adalah produk pemilciran Barat yang tidak sesuai dengan nila_ i_ nilai luhur
budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila.
Hak Asasi Manusia 263
Melalui sistem
demokrasi
terpimpin
kekuasaan terpusat
di tangan Presiden.
Presiden tidak
dapat dikontrol
oleh parlemen,
sebaliknya
parlemen
dikendalikan oleh
presiden.
Kekuasaan Presiden
Soekarno bersifat
absolut, bahkan
dinobatkan sebagai
Presiden RI seumur
hidup.
b. Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana _ _
tertuang dalamusan_LIU_D 194_5m_gt lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi
Universal HAM.
c. lsu HAM seringkali digunakan oleh negara-negara Barat untuk
memojokka n ara yang sedaagberkembang seperti Indonesia.
Apa yang dikemukan oleh pemerintah Orde Baru tidak seluruhnya keliru, dan tidak pula
semuanya benar. Sikap apriori Orde Baru terhadap HAM Barat searah dengan
pelanggaran HAM yang dilakukannya. tango:an HAM Orde Baru dapat ditilik dari
kebijakan politik Orba yang bersifat sentralistik dan penum asan gerakan politik yang
berbeda dengan pemerintahan Presiden Soeharto. Sepanjang pemerintahan Presiden
Suharto tidak dikenal istilah partai oposisi, bahkan sejumlah gerakan yang berlawanan
dengan kebijakan pemerintah dinilai sebagai antipembangunan bahkan anti-Pancasila.
Melalui pendekatan keamanan (security approach) dengan cara-cara kekerasan yang
berlawanan dengan prinsipprinsip HAM, pemerintah Orba tidak segan-segan menumpas
segala bentuk aspirasi masyarakat. Kasus pelanggaran HAM Tanjung Priok, Kedung
Ombo, Lampung, Aceh merupakan segelintir daftar pelanggaran HAM yang dilakukan
oleh rezim Orde Baru.
Di tengah kuatnya peran negara Orde Baru, suara yang memperjuangkan penegakan
HAM dilakukan kalangan organisasi nonpemerintah (organisasi sosial kemasyarakatan)
atau Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM). Upaya penegakan HAM oleh kelompok-kelompok non-
_ __
pemerintah membuahkan hasilyanginenggembirakan di awal 90-an. Kuatnya tuntutan
penegakan HAM dari kalangan masyarakat merubah pendirian pemerintah Orba untuk
bersikap akomodatifterhadap tuntutan HAM yang disuarakan masyarakat. Satu di antara
sikap akomodatif pemerintah tercermin dalam persetujuan pemerintah terhadap
pembentukan Komisi Nasional HakAsasi Manusia (Komnas HAM) melalui Keputusan
Presiden No. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993. Kehadiran Komnas HAM adalah
untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM, memberi pendapat, pertimbangan
dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaan HAM. Lembaga ini juga membantu
pengembangan dan pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Sikap akowcidatifpernerintah Orba ditunjukkan dengan dukungan pemerintah meratifikasi
tiga konvensi HAM: Konvensi tentang Penghapusan Sepia Bentuk Diskriminasi
terhadapygempuan melalui UU No. 7 tahun 1984, Konvensi Anti-Apartheid dalam Olah
Raga melalui UU No. 48 Tahun 1993, dan Konvensi Hak Anak melalui Keppres No. 36
tahun 1990. gpsAkt demikian, sikap akomodatif pemerintah Orba terhadap tuntutan HAM
masyarakat belum sepenuhnya diserasikan dengan pelaksanaan HAM oleh negara.
Komitmen Orde Baru terhadap pelaksanaan HAM secara murni dan konsekuen masih
jauh dari harapan masyarakat. Masa pemerintahan Orde Baru masih sarat dengan
pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat negara. Akumulasi pelanggaran HAM
negara semasa periode ini tercermin dengan tuntutan mundur Presiden Soeharto dari kursi
kepresidenan yang disuarakan oieh kelompok reformis dan mahasiswa pada tahun 1998.
Isu pelanggaran HAM dan penyalahgunaan kekuasaan mewarnai tuntutan reformasi yang
disuarakan pertama kali oleh Dr. Amin Rais, tokoh intelektual Muslim Indonesia yang
sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Barn.
5. Periode Paska Orde Baru
Tahun 1998 adalaherapaling_penting_dalam sejarah HAM di Indonesia. Lengsernya
tampuk kekuasaan Orde Baru sekaligus menandai berakhimya rezim militer di Indonesia
dan datangya era barn demokrasi dan HAM, setelah tiga puluh tahun Iebih terpasung di
bawah rezim otoriter Orde Baru. Pada tahun, digantikan oleh J. Habibie yang kala itu
menjabat sebagaiivaL__pr<il esiden_RI. Tuntutan pars tokoh reformasi dan mahasiswa
akan pergantian kekuasaan otoriter Orde Baru dengan kekuasaan yang berlangsung secara
demokratis dan tuntutan
HAM HAM menjadikan era ini dikenal dengan sebutan Era Reformasi. Menyusul
berakhimya pemerintahan Orde Baru, pengkajian terhadap kebijakan pemerintah Orde
Baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM mulai dilakukan kelompok reformis
dengan membuat perundangundangan barn yang menjunjung prinsip-prinsip HAM dalam
kehidupan • ketatanegaraan dan kemasyarakatan. Tak kalah penting dari perubahan
perundangan, pemerintah Era Reformasi juga melakukanratifikasi terhadap instrumen
HAM intemasional untuk mendukung pelalcsanaan HAM di In-
Sikap akomodatif pemerintah Orba ditunjukkan dengan dukungan pemerintah meratifikasi
tiga konvensi HAM: Konvensi tentang Penghapusan Sega1a Bentuk Diskriminasi
terhadap
Perempuan melalui UU No. 7 tahun 1984, Konvensi Anti-Apartheid dalam Olah Raga
melalui UU No. 48 Tahun 1993, dan Konvensi Hak Anak melalui Keppres No. 36 tahun
1990.
Hak Asasi Manusia 265
264 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
Pada masa
pemerintahan
Habibie misalnya,
perhatian
pemerintah
terhadap
pelaksanaan HAM
mengalami
perkembangan
yang sangat
signifikan. Lahirnya
TAP MPR No. XVII/
MPR/1998 tentang
HAM merupakan
salah satu indikator
keseriusan
pemerintahan era
reformasi.
d_ongsja,
Pada masa pemerintahan Habibie misalnya, perhatian pemerintah terhadap pelaksanaan
HAM mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Lahirnya TAP MPILL\lo.
XVII/MPR/1998 tentang HAM merupakan salah satu indikator keseriusan pemerintahan
era reformasi. Sejumlah konvensi HAM juga diratifikasi: Konvensi ILO No. 87 tentang
kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi dengan keppres No.
83/1998; Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan Kejam lainnya dengan UU No.
5/1999; Konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial dengan UU No.
29/1999; Konvensi ILO No.105 tentang penghapusan kerja paksa dengan UU No.
19/1999; Konvensi ILO No. 111 tentang diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan dengan
UU NO.21/1999; Konvensi ILO No. 138 tentang usia minimum untuk diperbolehkan
bekerja dengan UU No. 20/1999.
Keseriusan_pemerintah Presiden B j. Habibie dalam perbaikan pelaksanaan HAM
ditunjukkan dengan pencanangan program_ HAM yang dikenal destilah Rencana Aksi
Nasional HAM, pada Agustus 1998. Agenda HAM ini bersandarkan pada empat pilar
yaitu: 1. Persiapan pengesahan perangkat intemasional di bidang HAM; 2. diseminasi
informasi danpendidikan bidang HAM; 3. Penentuan Skala prioritas pelaksanaan HAM;
4. pelaksanaan isi rangkat intemasional di bidang HAM yaniferfia diratifikasi melalui
perundang-undangin nasional.
Komitmen Pemerintah terhadap penegakan HAM juga ditunjukkan dengan pengesahan
UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, pembentukan Kantor Menteri Negara Urusan
HAM pada tahun 1999 yang kemudian digabungkan pada tahun 2000 dengan Departemen
Hukum dan Frundangundangan menjadi Departemen Kehakiman dan HAM, penambahan
pasalpasal khusus tentang HAM dalam Amandemen UUD 1945 pada 2000, Penerbitan
Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutarnaan Gender dalam Pembangunan
Nasional, pengesahan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Pada September
2001 Indonesia juga menandatangani dua Protokol Hak Anak, yakni Protokol yang terkait
dengan larangan perdagangan, prostitusi, dan pornografi anak, serta Protokol yang terkait
dengan keterlibatan anak dalam konflik bersenjata. Menyusul kemudian, pada tahun 2002
pemerintah membuat pengesahan UU No. 23 Tahun 2002
266 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
ter.rang perlindungan Anak, pengesahan UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga, penerbitan Keppres No. 40 tahun 2004 tentang Rencana
Aksi nasional (RAN) HAM Indonesia tahun 2004-2009.
Secara operasional, beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun
1999 tentang HAM sebagai berikut :
1. hak untuk hidup
2. hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
3. hak mengembangkan difi
4. hak memperoleh keadilan
5. hak atas kebebasan pribadi
6. hak atas rasa aman
7. hak atas kesejahteraan
8. hak turut serta dalam pemerintahan
9. hak wanita
10. hak anak
Adapun Hak Asasi Manusia yang diatur dalam Perubahan Undangundang Dasar 1945
terdapat dalam Bab XA sebagai berikut :
1. hak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya (Pasal 28 A)
2. hak untuk membentuk keluarga dan melanjutk_an_ keturunan__ melalui perkawinan
yang sah (Pasal 28 B ayat 1)
3. hak anak untuk kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta hakatas
perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi (Pasal
28 B ayat 2)
4. hak untuk mengembangkan difi melalui pemenuhan kebutuhan dasar (Pasal 28 C ayat
1)
5. hak untuk pendidikan dan memperoleh manfaat
dan ilmu pengetahuandan teknologi, seni, dan budaya (Pasal 28
C ayat 1)
6. hak untuk mengajukan did dalam memperjuangkan haknya secara kolektif(Pasal-28 C
ayat 2) -
7. hakatas pengalcuandatififfin perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan
perlakuan yang sama di depan hukum (Pasal 28 D
Hak Asasi Manusia 267
ayat
8. hak untuk bekerja dan mendapat imbalan serta perlakuan yang adil dan layak dalam
hubungan kerja (Pasal 28 D ayat 3)
9. hak untuk memperoleh kesempatan yangsama dalam pemerintahan (Pasal 28 D ayat 3)
10. hak atas status kewargane araan (Pasal 28 D ayat 4)
beribenurut
agamanya (Pasal 28 E ayat 1)
12. hak memilih pekerjaan (Pasal 28 E ayat 1)
13. hak memilih kewarganegaraan (Pasal 28 E ayat 1)
14. hak memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak
untuk kembali (Pasal 28 E ayat 1)
15. hak kebebasan untuk meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai hati
nuraninya (Pasal 28 E ayat 2)
16. hak kebebasan untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat (Pasal 28 E
ayat 3)
17. hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi (Pasal 28 F)
18. hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda
(Pasal 28 G ayat 1)
19. hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi manusia (Pasal 28 G ayat 1)
20. hak untuk bebas dari penyiksaan (torture) dan perlakuan yang merendahkan derajat
martabat manusia (Pasal 28 G ayat 2)
21. hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat (Pasal 28 H ayat 1)
22. hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan (Pasal 28 H ayat 1)
23. hak untuk mendapat kemudahan dan perlakuan khusus guna mencapai persamaan dan
keadilan (Pasal 28 H ayat 2)
24. hak atas jaminan sosial (Pasal 28 H ayat 3)
25. hak atas milik pribadi yang tidak boleh diambil alih sewenangwenang oleh siapapun
(Pasal 28 H ayat 4)
26. hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut (retroaktif) (Pasal 28 I
ayat 1)
27. hak untuk beba c:ari perlakuan diskriminasi atas dasar apapun Jan ber nal; mendapat
perlindungan dad perlakuan dislcriminatif tersebut (?asal 28 I ayat 2)
Hak dan Kewajiban
Sebagai penggemar lagu rock, Rusli, mahasiswa sebuah perguruan tinggi, sering sekali
memutar lagu-lagu kesukaanya dengan volume yang keras. Perilaku Rusli sangat
mengganggu ketenangan mahasiswa lain yang tinggal berseberangan dengan rumah kos
Rusli. Mereka menegur kebiasaan Rusli, tapi Rusli berkilah bahwa ia mempunyai hak
untuk memutar lagu kesukaannya, apalagi hal itu ia lakukan di kamarnya sendiri dengan
radio miliknya sendiri. Menurutnya orang lain tak berhak untuk menegur atau merasa
terganggu dengan suara musik favoritnya itu.
Bisakah perilaku Rusli di atas dibenarkan? Cerita ini hanyalah fiktif, tapi kasus serupa
sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pada satu sisi, sebagai individu Rusli
mempunvai hak kebebasan untuk melakukan apapun di kamarnya dengan radio dan musik
kesukaannya. Namun pada saat bersamaan orang sekelilingnya memiliki hak kebebasan
untuk menikmati ketenangan dan kenvamanan. jika demikian, bagaimana rnenempatkan
beragam hak pada setiap °rang? Cerita di atas dapat juga disepadankan dengan hak
kebebasan berusaha, beragama, berpolitik, dan sebagainya.
Hal lain yang terlupakan dad contoh di atas adalah unsur kewajiban yang mengikat setiap
individu warga negara. Hak kebebasan harus diimbangi oleh kewajiban yang harus
dilakukan oleh warga negara. Hubungan antara hak dan kewajiban juga berlaku dalam hal
hubungan mantara warga negara dan negara atau pemerintah. Se (la warga negara
memiliki . _
hak mendapatkanrasa amanaijaparat negara tanpa perbedaan
status sosial, tetapi mereka pun berkewajiban untuk membayar pajak Icepada negara.
Search dengan ini, negara memiliki kewajiban untuk melindungi dan menjaga keamanan
warga negara. Hak negara memungut pajak atau se'enisnya dari war :a ne ara harus
diwujudkan dengan pelaksanaan kewajiban negara menciptakan dan menjaga ketertiban
umum. Tanpa komitmenmenjaga keseimbangan antara sesama warga negara dan
Hak kebebasan haws diimbangi bleb kewajiban yang harus dilakukan oleh warga negara.
Hubungan antara hak dan kewajiban juga berlaku dalam hal hubungan antara warga
negara dan negara atau pemerintah. Semua warga negara memiliki hak mendapatkan rasa
aman dari aparat negara tanpa perbedaan status sosial, tetapi mereka pun berkewajiban
untuk membayar pajak kepada negara.
Flak Asasi Manusia 269
268 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
antara warga negara dengan n gars, kekacauan dalam tatanan kehidupan sosial dan politik
menjadi tak terelakkan.
Hak tidak bisa dipisahkan dad kewajiban. Seseorang berhak untuk melakukan apapun
kehendak dan cita-citanya, namun is dibatasi oleh kewajiban untuk tidak melanggar hak
orang Jain untuk memperolah ketenangan dan rasa aman. Dengan ungkapan lain,
kebebasan seseorang dibatasThleh kebebasan orang lain untuk mendapatkan kebebasan
yang sama. Keterbatasan inilah yang dicerminlcan dalam keseimbangan antara hak dan
kewajiban warga negara. Seseorang bebas untuk beribadah menurut keyakinannya, tetapi
sebagai warga negara dia memiliki kewajiban untuk memelihara hak orang lain dalam
mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dari sikap dan pandangan keagamaannya.
Tanpa mengindahkan hak orang lain, yang sering terjadi adalah sikap merasa paling
berhak dan mendominasi wilayah-wilayah bersama (public sphere) dalam upaya
mendapatkan kenyamanan, tanpa mengindahkan hak orang lain. Sikap pelanggaran hak
orang lain dapat pula tercermin dalam hal memperoleh kekayaan. Setiap orang bebas
untuk menjadi kaya, namun dia terikat oleh kewajiban untuk tidak melanggar hak orang
lain apalagi merampas hak orang baik harta, pengetahuan maupun kesempatan. Dalam
tataran ini sesungguhnya dalamlIAM tidak dikenal istilah kebebasan tanpa batas.
Kebebasan dibatasi oleh kewajiban seseorang untuk menjaga hak orang lain untuk
memperolah kenyamanan dan keamanan.
Untuk menghindari konflik dari ekspresi kebebasan mengungkapkan
hak,Iceberadaan lembaga penegak HAM mutlak dibutuhkan. Lembaga ini - -
bisa berupa lembaga-lembaga hukum, seperti kepolisian dan peradilan.
Fungsi lembaga-lembaga ltum terse ut adalah untuk menjaga hak dan ke-W—a-jiban
warga negara berjalin sesuai aturan yang bersandarkan pada prinsip-prinsip HAM.
Lembaga kepolisian, misalnya, bisa menghentikan atau membatasi hak kebebasan
seseorang atau kelompok manakala mengganggu atau mengancarn ketertiban umum. jilca
keseimbangan antara
hak dan kewajiban terwujud dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, maKa ------------
akan lahir sikap tirani mayoritas dan perilaku anackis minoritas.
Keseimbangan hak dan kewajiban pada akh;rnya akan melahirkan sikapsikap toleransi
sesama warga negara.
• Dalam pola hubungan antara nt-f-zara warga negara, hak den
kewajiban tercermin pada kontrak sosial antara negara dan warga negara. Pajak menjadi
salah satu bentuk kontrak sosial tersebut. Warga negara memiliki kewajiban untuk
membayar pajak kepack, negara dalam rangka untuk mendapatkan hak perlindungan
hukum dan keamanan dad negara. Sebaliknya negara pun, karena berhak mendapat pajak
dari masyarakat, mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melindungi hak warga negara
untuk mendapatkan kenyamanan dan ketertiban. Sayangnya, sikap mendahulukan hak
masih sangat dominan balk di kalangan aparatur negara maupun warga negara Indonesia.
Untuk menjamin tegaknya demokrasi dan HAM bersikap seimbang antara hak dan
kewajiban hares terus menerus dibiasakan di kalangan warga negara melalui dialog balk
formal melalui lembaga-lembaga formal pemerintahan maupun informal kemasyarakatan.
Secara teoritis, keseimbangan antara hak dan kewaji ban dapat dirujulc pada pandangan
A. Gewirth maupun Joel Feinberg. Menurut mereka, hak adalah !claim yang absah atau
keuntungan yang didapat dad pelaksanaan sebuah Hak diperoleh bila kewajiban terkait
telah dilaksanakan. Karenanya, hak tidak bersifat absolut, tetapi selalu timbal batik
dengan kewajiban. Hak untuk hidup misalnya, akan dilanggar bila seseorang tidak
melaksanakan kewajibannya untuk tidak membunuh orang atau kelompok lain. Karena
hak dan kewajiban merupakan satu kesatuan yang tak
jjnanaca ka kits tidak akan memperoleh hak tanpa melaksanakan kewajiba atau
rlibebani_suatu_ke_w_aji_ban oleh negara tanpa ada keurvingamuntuk-rnempe-paleh-
hak-sebe a ra.
Sekalipun substansi HAM bersifat universal mengingat sifatnya sebagai pemberian
Tuhan, dunia tidak pernah sepi dari perdebatan dalam pelaksanaan HAM. Setiap negara
sepakat dengan prinsip universal HAM, tetapi memiliki perbedaan pandangan dan cara
pelaksanaan HAM. Hal demikian sering kali disebut den_ganistlah wacana universalitas
dan lokalitas atau partikularitas HAM. Partilcularitas HAM terkait dengan kekhususan
yang dimiliki suatu negara atau kelompok sehingga tidak sepenuhnya dapat melaksanakan
prinsip-prinsip HAM universal. Kekhususan tersebut bisa saja bersumber pada kekhasan
nilai budaya,
cg. Hak Asasi Manusia: antara Universalitas dan Relativitas
Setiap negara sepakat dengan prinsip universal HAM, tetapi memiliki perbedaan
pandangan dan cara peiaksanaan HAM. Hal demikian sering kali disebut dengan istilah
wacana
universalitas dan lokalitas atau partikularitas HAM.
270 Pendidikan Kewargaan (Civic Eclu,:atice:
flak Asasi Manusia 271
agama, dan tradisi setempat. Misalnya, hidup serumah tanpa ikatan termasuk nilai-nilai HAM adalah ber
nikah (kumpul kebo) atau berciuman di muka umum dalam perspektif dimodifikasi untuk menyesuaikan ada
HAM diperbolehkan, tetapi tradisi dan ajaran dalam Islam memvonis sejarah suatu negara. Kelompok ini m
keduanya sebagai praktik yang diharamkan. Hal serupa dapat paket pemahaman mengenai HAM, b
dianalogikan pada masalah prinsip kebebasan beragama setiap orang sama di manapun dan kapanpun serta
yang dijamin oleh HAM. Namun, prinsip universal kebebasan masyarakat yang mempunyai latar be
berkeyakinan ini menjadi gugur manakala setiap pemeluk agama yang bcrbeda. Dengan demikian pem
mengajarkan dan menyebarkan ajaran agamanya kepada keluarga dan terhadap nilai-nilai HAM berlaku sec
anggota kelompoknya sebagai bagian dan pelaksanaan ajaran agama Beberapa respon terhadap perdebatan
yang diyakininya. Contoh tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam mengatakan bahwa apa yang dirumus
pelanggaran HAM sepanjang unsur-unsur yang terlibat tidak dirugikan dipandang sebagai cita-cita ideal yan
hak dasarnya sebagai manusia. masyarakat beradab yang tentunya m
Perdebatan antara universalitas dan pratikular HAM tercermin dalam sangat baik. Pandangan bahwa HAM
tateoriyang_saling berlawanan: teori relatiVisme kultural dan teori kebudayaan tertentu sama dengan asu
universalitas HAM. Teori relativitisme kultural berpandangan bahwa bahwa pemerintahan yang bersih tida
nilainilai moral dan budaya bersifat partikular. Para penganut teori ini pada faktanya banyak terfadi kasus k
berpendapat bahwa tidak ada hak yang universal, semua tergantung itu,12eL&taaiharnbatan terhadap pen
pada kondisi sosial kemasyarakatan yang ada. Hak-hak dasar bisa otomatis membenarkan bahwa perlu
diabaikan atau disesuaikan dengan praktik-praktik sosial. Oleh Iebih sesuai dengan kebudavaan di I
karenanya, ketika berbenturan dengan nilai-nilai lokal maka HAM bangsa yang menghormati konstitusi
harus dikontelctualisasikan, sehingga nilai-nilai moral HAM bersifat Indonesia haws menerapkan HAM ka
Iolal dan spesifik dan hanya berlaku khusus pada suatu negara, poin yang termaktub dalam DUHAM
tids~k.pada~egara lain. Pendapat tersebut dipertegas dengan
Para penganut relativisme yang mendukung kontekstualisasi HAM historis HAM yang berasal dad Bara
cenderung melihat universaTitas HAM sebagai imperialisme sebagai alasan penolakan terhadap u
kebudayaan Barat. Hak asasi sebagaimana ditetapkan dalam DUHAM budaya pada dasarnya diterima bukan
dipandang sebagai produk politis Barat sehingga tidak bisa diterapkan melainkan karena sesuai atau tidakny
secara universal. Keengganan untuk menerapkan DUHAM secara nilai tersebut dengan kebutuhan buda
menyeluruh juga didukung dalih pembelaan terhadap pluralitas dengan kelompok budaya. Islam misalnya, da
dasar bahwa kemerdekaan pertama-tama berarti kemerdekaan untuk masyarakat Indonesia bukan karena a
berbeda, sehingga penyeragaman dipandang sebagai perampasan Arab, melainkan karena tuntunan bud
kemerdekaan. Iebih bisa mengena dan sesuai denga
Di sisi lain, kelompok kedua yang berpegang pada teori radikal Banyaknya produk tradisi Barat yang
-— contoh lain kenapa arti asal usul sebu
universalitas berargumen bahwa perbedaan kebudayaan bukan berarti begitu penting pada tataran ini.
membenarkan perbedaan konsepsi HAM, dan perbedaan pengalaman 0..Pelanggaran dan Pengadilan HAM
historic dan sistem nilai tidak meniscayakan HAM dipahami secara
berbeda Unsur lain dalam HAM adalah masal
dan dan diterapkan secara berbeda pula dan sate kelompok ke HAM. Secara 'elas UU No. 26 Tahun
kelompok - - HAM
budaya lain. Teori radikal universalitas berpandangan bahwa semua
nilai - —
272 Pendidikan Kewargaan (Civic Education) f
penduduk spit berupa :
a. pembunuhan
b. pemusnahan
c. perbudakan
d. e.
mendefiniskan hal tersebut. Menurut Undang-Undang ini, pelanggaran hak asasi manusia
adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang iermasuk a arat negara baik
disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yangsecara hukum men rangi,
menghalangi, membatasi, dan ataumencabut hak asasi manusia seseoraLga atau kelompok
orang yang dijamin oleh undang-undang, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirkan tidak
akan memperoleh pegyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme
hukum yang berlaku. Dengan demikian pelanggaran HAM merupakan tindakan
pelanggaran kemanusiaan balk dilakukan oleh individu maupun oleh institusi negara atau
institusi lainnya terhadap hak asasi individu lain tanpa ada dasar atau alasan yuridis dan
alasan rasional yang menjadi pijakannya.
Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentukyaitu: pelanggaran HAM berat dan
pelanggaran nngan. Pelanggaran HAM berat meriViti kejahatan genosida dan keahatan
kemanusiaan. Sedangkan bentuk pe anggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk
pelanggaran HAM berat
itu.
Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras,
kelompok etnis, dan kelompok agama. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara:
a. membunuh anggota kelompok
b. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap ahggota-anggota
kelompok,
c. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan
secara fisik baik seluruh atau
sebagiannya
d. memalcsakan tindakan-tindakan _ yang bertujuan mencegah clielahiran di dalam
kelompok
e. memindaliZn secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.
Sedangkan kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai
bagian dari serangan yang— meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan
tersebut ditujukan secara langsung terhadap
274 Pendidikan Kewargaan (Civic Education) pengusiran atau pemindahan penduduk
secara paksa perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara
sewenang-sewenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasibnal
f. pei_ivicsaan
g. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan,
pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk seksual lain yang
setara
penganiayaan terha a suatu kelompok tertentu atau , perkumpulan yang didasari
persamaan paham politik, ras, 'kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau
alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum
internasional
i. penghilangan orang secara paksa atau
kejahatan apartheid, penindasan dan dominasi suatu kelompok ras atas kelompok ras lain
untuk mempertahankankan dominasi
dan kekuasaanya.
Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara
maupun bukan aparatur negara. Untuk menjaga pelaksanaan HAM, penindakan terhadap
pelanggar HAM dirakukan melalui proses peradilan HAM melalui tahap-tahap
penyelidikan, peaidikan, dan penuntutan. Pengidilan HAM merupakan pengadilan khusus
yang berida-
e
di lingkungan Pengadilan Umum. Hal penting yang harus diperhatikan oleh penegak
hukum adalah bahwa pesidangan terhadap pelanggaran hams bersifat adil.
Sebagai salah satu upaya untuk memenuhi rasa keadilan, maka pengadilan atas
pelanggaran HAM kategori berat, seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusian,
diberlakukan pasal mengenai kewajiban untuktunduk kepada pembatasan yang ditetapkan
dengan undang-undang sebagaimana tercantum dalam pasal 28 J ayat 2 Undang-Undang
Dasar
Flak Asasi Manusia 275
Untuk menjaga pelaksanaan HAM, penindakan
terhadap pelanggar HAM dilakukan melalui proses peradilan HAM melalui tahaptahap
penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan
khusus yung berada di Iingkungan Pengadilan Umum.
Pengadilan HAM
tidak berwenang
memeriksa dan
memutus perkara
pelanggaran hak
asasi manusia yang
berat yang
dilakukan
seseorang yang
berumur di bawah
18 (delapan belas)
tahun pada saat
kejahatan
dilakukan.
1945. Berdasarkan pasal tersebut, asas rctroaktifdapat diberlakukan dalam rangka
melindungi hak asasi manusia. Dengan demikian, pelanggaran HAM kategori berat yang
terjadi sebelum diundangkannya UU tentang Pengadilan HAM ini dapat diadili dengan
membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. Pengadilan HAM ad hoc dibentuk atas usul
Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden dan
berada di linglcungan Pengadilan Umum.
Selain Pengadilan HAM ad hoc, dibentuk juga Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasisebagaimana dimaksud dalam Ketetapan MPR-RI No. V/MPR/ 2000 tentang
Pemantapan rsatuan dan Kesatuan Nasional, Komisi ini dibentuk dengan undang-undang
sebagai lembaga ekstra-yudisial yang bertugas untuk menegakkan kebenaran untuk
mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran hak asasi manusia pada
masa lampau, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dan
melaksanakan rekonsiliasi dalam perspektif kepentingan bersama sebagai bangsa.
Perj_gadilan HAM berkedudukan di daerah tingkat I (propinsi) dan daerah tingkat II
(kabupaten/kota) yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum_ Pengadilan Umum
yang bersangk-utan. Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus
perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pengadilan HAM berwenang u:a
memeriksa dan men utuskan perkara
e ara
In.- •"It ...,Irr°11!.;. la la• aku• •• Lluar ba
410
Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak
asasi manusia ang_berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan
belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. Dalam pelaksanaan peradilan HAM,
pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM
sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. Kepedulian warga negara
terhadap pelanggaran HAM dapat dilakukan melalui upaya-upaya pengembangan
katnunitas HAM atau penyelenggaraan tribunal (forum kesaksian untuk mengunglcap dan
menginvestigasi sebuah kasus secara mendalam) tentang pelanggaran HAM (mekanisme
penyelengzaraannya dapat dilihat di akhir
Ge dan HAM
a Wawasan Um um
Istilah gender harus dibedakan dengan jenis kelamin (seks). Gender men peran antara
perempuan dan laid-laid yang dibentuk oleh budaya, sedan karglse1cs memilild
pengertian perbedaan jenis kelamin laid-laid dan perempuan secara biologis. Dalam
Women's Studies Engclopectia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural
yang Gerkembang di masyarakat yang berupaya membuat perbedaan peran, perilaku,
mentalitas, clan kaTh---:aTcter emosional antara dan perempuan. Perbedaan tersebut
sudah lama melekat dalam pandangan umum masyarakatsehingga melahirkan anggapan
bahwa perbedaan peran tersebut sebagai sesuatu yang bersifat kodrati dan telah
menimbulkan ketimpangan pola hubungan dan peran sosial antara laid-laid dan
perempuan. Konsep budaya yang telah dianggap sebagai sesuatu yang kodrati tersebut
dapat dilihat pada anggapan umum, misalnya, bahwa perempuan identik dengan urusan
rumah tangga semata, sedangkan laid- laid sebaliknya identik dengan pengelola dan
penanggung jawab urusan ekonomi. Anggapan ini adalah sama sekali hasil dari budaya
manusia pada kurun tertentu, bukan sesuatu yang bersifat alamiah yang tidak bisa diubah.
Ketimpangan ini tejadi karma adanyaaturan,_tradisi,danhubungan timbal balik yang
menentukan batas antara feminitas dan maskulinitas sehingga mengakibatkan adanya
pembagian lahan, peran, dan kekuasaan antara perempuan -clan kehidupan sosial
misalnya, berkembang anggapan bahwaTadukan laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan karena laki-laki dianggap lebih cerdas, kuat, dan tidak emosional.
Menurut kalangan feminis, pandangan budaya atas peran perempuan tersebut diatas telah
mempersempit ruang gerak perempuan. Peran perempuan menjadi sangat terbatas pada
urusan domestiV(iumah tangga), sedangkan laki-laki dengan leluasa mengambil peran di
sektor-sektor publik. Bahian pads tick tertentu pandangan negatif(stereotipe) terhadap
eksistensi perempuan telah berakibat pada penindasan dan eksploitasi terhadap
perempuan. Penindasan dan ekploitasi perempuan dapat dicontohkan pada kasus-kasus
pemecatan perempuan dari pekerjaannya
Istilah gender he dibedakan dengc jenis kelamin (se, Gender mengacu pada perbedaan
peran antara
perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya, sedangk seks memiliki pengertian
perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara biologis.
Hak Asasi Manusia 277
276 Pendidikan Kewargaan (Civic Educatio::1
4
karena hamil, pengupahan yang lebih rendah dari laki-laki, pemerkosaan di luar maupun
di dalam lembaga pernikahan, menjadikan perempuan sebagai objek seks dalam industri
wisata, dan sebagainya.
Secara umum, mentrut Mansour Faqih, ketidakadilan gender menyebabkan perlakuan
sosial sebagai benkut:
1) marginalisasi perempuan, yakni pengucilan perempuan dari kepemilikan akses,
fasilitas, dan kesempatan sebagaimana dimiliki oleh Misalnya, ki-Wpataliperempuan
unEkmeneruskan
sekolah ke jenjang lebih tinggi cenderung lebih kecil ketimbang lakilaki. Di sektor
pekeijaan, marginalisasi ini biasanya berbentuk:
- pengucilan perempuan dari jenis pekerjaan tertentu;
peminggiran perempuan kepada jenis pekeijaan yang tidak stabil,
berupah rendah, dan kurang mengandung keterampilan;
pemusatan perempuan pada jenis pekerjaan tertentu (feminisasi
pekerjaan), dan;
- pembedaan upah perempuan.
2) penempatan perempuan pada posisi tersubordinasi, yakni menempatIcan uanpada
prioritas yang lebih rendah ketimbang
Kasus seperti ini sering terjadi dalam hal pekerjaan, sehingga perempuan sulit
memperoleh posisi strategis yang berkaitan erat dengan peran pengambilan keputusan.
3) stereotipisasi perempuan, yakni pelabelan yang_berkonotasi negatif terhadap
perempuan sehingga menimbulkan ketidakadilan. Pada kasus pemerkosaan misalnya,
perempuan seringkali dijadikan kambing hitam karena stereotipe mereka suka
bersolekdan menarik perhatian laki-laki.
4) kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan ini timbul akibat anggapan WATaTali:laid
pemegang supremasi dan dominasi atas semua sektor
kehicrukan.
.—
5) beban kerja yang tidak proporsional. Selain menjalani fungsi reproduksi, haid, hamil,
melahirkan, menyusui, perempuan juga harus dibebani dengan setumpuk pekerjaan
domestik dalam waktu tak terbatas, seperti memasak, menyetrika, membersihkan rumah,
membimbing anak, dan sebagainya.
278 Pendidikan Kewargaan (Civic Education) b. Sejarah Perjuangan Perempuan dalam
Penegakan HAM
-—-
Ketidakadilan gender yang berkepanjangan telah menumbuhkan kesadararnpuarrunta nk
—ielikulcan perlawanan yang-kemudian melahirkan gerakan feminisme. Walaupun
padaabad sebelumnya sudah ada beberapa perempuan yang menyuarakan halcnya, secara
umum gerakan perempuan dimulai pada abad 18, di mana Revolusi Perancis meruntuhkan
aristokrasi dan memunculkan anti-feodalisme. Pada abad
feminisme berkutat pada bahwa perempuan memiliki potensi nalaryang sama dengan laki-
lalci sehingga perempuan patut mendapatkan hak yang
sama dengan laid-laid atas pendidikan, pekerjaan, dan properti. Namun, _
wacana tentang gerakan perempuan pada abad ini masih
rasionalitas dan otoritas tradisional.
Gagasan feminisme pada akhir abad ke-18 mulai berkembang, tidak hanya menyangkut
persoalan domestik. Para feminis mulai menyuarakan tuntutan agar perempuan juga
berperan di sektor publik. Harriet Taylor misalnya, pada tahun 1851 menyuarakan
kesetaraan dalam bidang politik dan kewarganegaraan. Bahkan, kritik terhadap dominasi
laki-laki di sektor publik ini tidak hanya mendapatkan dukungan dari kalangan
perempuan, tetapi juga dari seperti John Stuart Mill yang menuangkan ide-ide
feminismenya dalam The Subjection of Women (1869). Pada abad ini pula, muncul
sebuah "Declaration of Sentimens", sebuah deklarasi yang disusun oleh Elizabeth Cady
Stanton yang berisi 15 tuntutan reformasi perlakuan terhadap perempuan dalam keluarga,
properti, dan masalah-masalah sosial dan politik.
Gerakan perempuan dalam mempeduangkan hak-haknya dalam sektor publik belum
memberikan hasil yang menggembirakan.SetidaTh7iwa,sebagai contoh, di Amerika
sampai tahun 1920 perempuan tetap tidak memiliki hak politiknya. Kondisi ini kemudian
diperparah dengan adanya Revolusi lndustri pada abad ke-19 yang semakin
menyingkirkan dan mengeksploitasi perempiin- —aEliarproses urbanisasi dan proses
diferensiasi kelas sosial.
Kesadaran perempuan untuk berontak melawan diskriminasi dan ketidakadilan gender
tidak hanya dimonopoli oleh kaum perempuan Barat. Pada abad ke-18 hingga awal abad
ke-19, sebelum proklamasi kemerdekaan 1945, di Indonesia sendiri muncul beberapa
tokoh perempuan. Bahkan, di
Hak Asasi Manusia 279
antaranya ada yang terjuun ke dunia poltik dan bahu membahu dengan kaum Ielaki untuk
tetjun di kancah peperangan melawan penjajah. Sebut saja Nyi Ageng Serang (1752-
1828), Martha Christina Tiahahu (1818), Cut Nyak Dien (1850-1908), dan Cut Meutia
(1870-1910) yang tampil mewakili kaum perempuan untuk mengangkat senjata melawan
penjajah Belanda.
Bangkitnya perempuan untuk tampil setara dengan_lald-taki tidak hanya di bidang politik
dan militer. Adalah Kartini (1879 - 1908) yang muncul sebagai tokoh pelopor pergerakan
perempuan di bidang pendidikan. Walaupun terlahir dan keluarga ningrat yang sarat
kedekatan dengan penjajah, Kartini tergugah melihat kondisi perempuan, terutama dan
Icalangan proletar yang terjajah dan tidak memperoleh kesempatan pendidikan yang sama
dengan laki-laki. Surat-suratnya yang sangat terkenal merupakan karya rasa dan
pemikiran yang monumental yang menggugah kesadaran perempuan untuk merubah
kondisinya. Di Bandung, Dewi Sartika juga bangkit pelopor pergerakan perempuan di
Jawa Barat. Di , tempat kelahirannya, is mendirikan sekaligus mengepalai sekolah
perempuan, yang kemudian juga didirikan di daerah lainnya di Jawa Barat seperti
Sumedang, Cianjur, Sukabumi, dan Ciamis.
Pada masa pra-kemerdekaan, juga banyak berdiri organisasioraganisasi perempuan yang
berbasis kedaerahan, etnis, atau ikatan primordial lainnya. Organisasi-organisasi tersebut
di antaranya "Putri Mardika" di Jakarta (1912), 'Aisyiah" (1917), "Wanita Soesilo" di
Pemalang (1918), organisasi kewanitaan Sarekat Islam yang didirikan oleh Siti Fatimah
(1918) yang kemudian berfusi dengan "Wanoedya Oetomo" (1920) menjadi "Sarekat
Perempuan Islam Indonesia", "Serikat kaum lbu Soematra (1920), dan banyak organisasi
perempuan lainnya. Dengan menggunakan media cetak dan media komunikasi lainnya,
mereka berani mengangkat isu-isu yang tidak saja semata berkaitan dengan hak-hak
perempuan yang selama ini dikebiri, tapi juga masalah-masalah sosial kemasyarakatan
lainnya setara umum. Banyaknya organisasi perempuan yang berdiri di berbagai daerah di
Indonesia pada masa ini menunjukkan mulai menyebarnya kesadaran perempuan untuk
berperan serta dalam pembangunan sebagai mana laki-
laki.
Pada masa kemerdekaan, muncul organisasi-organisasi perempuan
280 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
lain yang baru. Puncaknya, pada 194-6 berdiri KOWANI (Kongres Wanita Indonesia)
yang rnenaungi scluruh komponen dalam organisasi-organisasi perempuan. Organisasi ini
kemudian pecah akibat propaganda tokoh-tokoh PKI yang terlibat di dalamnya. Pada
tahun 1949, organisasi-organisasi perempuan kembali melakukan konsolidasi dan
menyuarakan tuntutan kesamaan hak perempuan dan da arn-liOnstitusi; kesamaan hak
atas pekerjaan; adanya UU yang melindungi buruh perempuan, dan; UU perkawinan
yang mengadopsi aturan berbagai agama, selain tuntutan yang — berkaitan dengan isu-isu
sosial yang terkait dengan perempuan.
Pada 1950, KOWANI kembali didirikan. iiiiikt ongresnya pada 1952 di Bandung,
organisasi ini mengirimkan resolusinya kepaduemerintah yang berisi beberapa tuntutan
sebagai berikut:
1. Pemberian tempat bagi perempuan di Pengadilan Agama dalam hal yang berkaitan
dengan masalah perkawinan dan perceraian
2. Penyelenggaraan pendidikan khusus bagi pejabat urusan perkawinan
3. Pembentukan Paniva Pendidikan Wanita yang bertugas merencanakan sistem
pendidikan bagi kaum perempuan
4. Penambahan jumlah anggota perempuan pada Dewan Penasehat Biro tenaga kerja
5. Tindakan keras terhadap penerbitan yang bersifat asusila
Pada perkembangan berikutnya, keberlanjutan perjuangan yang dilakukan oleh kaum
perempuan seakan membentur barn karang pada masa Orde Baru yang selalu curiga dan
represif terhadap segala alctifitas politik yang dilakukan oleh ormas-ormas, tidak
terkecuali organisasi perempuan. Dengan kebijakan-kebijakannya, Orde Baru malah
kembali mensubordinasikan perempuan. Dukungan pemerintah terhadap emansispasi
perempuan justru termanifestasi dalam Panca Dharma Wanita yang mencmpatkan
perempuan hanya sebagai pendamping suami, sebagai ibu pendidik anak dan pembina
generasi muda, pengatur rumah tangga, dan pekerja kelas kedua dalam keluarga.
Lahirnya Deklarasi Universal Hak Asasi ManusiaIDUMM) pada 1948 memberikan
harapan baru bagi perempuan karena deldarasi ini meriaunn. hak-hak asasi manusia baik
laki-laki maupun _u_Tinpuanjada dasamya,
Hak Asasi Manusia 281
Lahirnya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada 1948 memberikan
harapan baru bagi perempuan karena deklarasi ini menjamin hak-hak asasi manusia baik
laki-laki maupun perernpuan.
Indonesia
mempunyai banyak
dokumen hukum
untuk melindungi
hak-hak
perempuan.
Sebagian dokumen
tersebut telah
mengadopsi dan
meratifikasi
beberapa dokumen
internasional.
DUHAM merupakan perangkat ampuh bagi penegakan HAM seluruh umat manusia,
sekali lagi, tanpa membedakan jenis kelamin. Namun, menurut sebagian kalangan
pembela hak-hak perempuan, DUHAM belum cukup memadai sebagai jaminan
pelaksanaan hak-hak perempuan karena is tidak berperspektif gender. Menurut mereka,
DUHAM tidak mampu menyelesaikan kasus-kasus khusus seperti perkosaan pada masa
konflik bersenjata, kekerasan rumah tangga, diskriminasi pekerjaan, dan sebagainya.
Bersandar pada kesimpulan di atas, menurut kalangan feminis DUHAM masih
membutuhkan dokumen-dokumen internasional lain yang berperspektif gender. Untuk
merespon tuntutan tersebut, beberapa dokumen yang secara khusus menjamin hak asasi
perempuan kemudian lahir seperti Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi
terhadap Perempuan (CEDAW), Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan
(DEVAW), Pedoman Aksi Konferensi Perempuan se-Dunia ke-4 PBB (PFA).
Indonesia mempunyai banyak dokumen hukum untuk melindungi hakhal_s_perempuan.
Sebagian dokumen tersebut telah mengadopsi dan meratifikasi beberapa dokumen
intemasional. Do4unen-dokumen tersebut adalah UU No. 68 Tahun 1958 tentang Hak
Politik Perempuan (Convention on the Political Rights of Women, CPRW), UU No. 7
Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
(Conventionon Elimination of All Forms of Discrimination Against Women, CEDAW);
Keppres No. 36 tahun 1990 tentang Hak AiPenghapusan Kekerasan terhadap Perempuan
(Declaration on the Elimination of
Against Women, DEVAW) yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB, termasuk Indonesia,
pada 1993, Konvensi ILO No. 111 tentang disknifinasi dalam peke *aan dan 'abatan
dengan UU NO. 21/1999, Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan
Gender dalam Pembangunan—
Nasional, UU_23 Tabun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam —
Rum` ah Tangga (KDOAConvensi Anti Diskriminasi dalam Pendidikan (Co nventionacst
Discrimantion in Education, CDE), dan Proi-okol tentang larargI an perdagangan,
prostitusi, dan pornografi anak.
Hak-hak perempuan yang tersurat dalam dokumen-dokumen tersebut di antaranya:
282 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
1) hak-hak dalam bidang sosial politik .rte- hak memilih dan dipilih
- hak untuk menempati jabatan publik dan pemenntahan - hak untuk berserikat
2) hak-hak dalam bidang pendidikan
- hak yang sama atas tingkat dan standar pendidikan seperti laki-
laid
- hak atas keterampilan dan teknologi
- hak untuk melanjutkan pendidikan dan jenis pendidikan apapun
yang mengurangi kesenjangan pendidikan antara lald-lala dan perempuan
- hak atas pengajaran yang bebas dan streotipe gender
hak untuk berpartisipasi aktif dalam olah raga dan pendidikan ' jasmani
3) hak-hak dalam bidang pekerjaan
- hak untuk bekerja,
hak atas kesempatan kerja dan-perlakuan yang sama
hak atas pekerjaan dan memilih pe_k_elriaan yarig diSukai
hak atas situasi kerja yang adil dan nyaman dengan upah yang cukup untuk memenuhi
standar hidup ditambah jaminan sosial bila perlu, dengan nominal yang-t-arna dengan
yang diterin'a-1i laid untuk pekerjaan yang_ sama._.
hak atas perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk perlindungan terhadap
fungsi reproduksi
'flak mendapatkan pinjaman bank, hipotek, danbentuk kredir keuangan lainnya,
hak bagi perempuan yang t_inggaldipedesaan atas kredit dan . pinjaman pertanian,
fasilitas pemasaran, teknologi yang sesual, dan perlakuan yang sama dalam bidang
reformasi tanah dan agraris
ha k atas cuti hamil dentan gaji atau jaminan sosial yang memadai tanpa has kehilangan
pekerjaan, senioritas, atau tunjangan sosial
Hak Asasi Manusia 283
hak untuk tidak diberhentikan daripekerjaan kare hamil Ta_hAlscuti
h.anLatausoluspemikahan
flak untuk menerima jaminan kesehatan ketika cuti hamil termasuk tunjangan pra dan
pasca_kehamilan
4) ha_k-hak dalam perkawinan
- hak yang sama dengan untuk memilihi pasangan hidup
dan menikah tanpa paksaan
harm menetapkan usia minimum pernikahan. Petempuan yang menikah di bawah usia itu
dianggakidik-sah pernikahan harus didaftarkan di kantor catatan resmi
bila menikahi orang berkewamargle araan lain, kewarganegaraan perempuan tidak secara
otomatis be_rubah mengiku-tr kewarganegaraan suami
mempunyai hakdan kewajiban yang sama dengan laki-laki selama pernikahan
hakatas perlakuan yang sama atas pelayanan kesehatan, termasuk kelauarga berencana
hak atas perlindungan dari kekerasan rumah tangga, balk kekerasan fisik, kekerasan
psikis, ataupun kekerasan seksual hak yang sama dengan laki-laki untuk memutuskan
jumlah anak danjarak kelahiran serta memperoleh informasi, pendidikan, dan sarana
untuk melaksanakan hak ini
hak untuk memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan
laki-
laid atas anak tanpa memandang status pemikahan
hak yang sama dengan laki-laki atas tunjangan keluarga
hak yang sama dengan suami menyangkut kewarganegaraan anak hak yang sama dengan
laki-laki untuk memilihih nama keluarga, pekerjaan, dan jabatan
5) hak-hak atas perlindungan dari perdagangan dan eksploitasi perempuan
- hak untuk mendapatkan_muli idungan dari semua bentuk kekerasan, termasuk
perdagangan_Krerpn uan untuk tujuan pelacuran atau bentuk-bentuk eksploitasi lainnya
negara harus mengambil tindakan untuk mencegah pelacuran lewat pelayanan pendidikan,
kesehatan, ekonomi dan lain-lain hak atas bantuan hukum dan berbagai fasilitas pelayanan
untuk korban kekerasaltb_erbacis gender_
hak atas perlindungan dari paksaan penggunaan prosedur med is yang tidak aman seperti
aborsi yangksal
c. Tantangan dan Strategi Perjuangan Penegakan HAM dalam Perspektif
Sejarah perjuangan kauniperempuan dalam melawan ketidakadilan gender di atas
menunjukkan bahwa hambatan ada di semua level, baik pemerintah maupun masyarakat
itu sendiri. Di satu sisi, penegakan kesetaraan gender membutuhkan political will dan
pemerintah dalam membuka ruang kritikdan memberi kesempatan dan kepercayaan
kepada perempuan untuk mengaktualisasikan diri sekaligus mengapresiasi pembangunan.
Dalam pemerintahan yang otoriter dan repressif, tentu sulit mengharapkan political will
itu muncul, berbeda dengan pemerintahan yang demokratis yang membuka keran
kebebasan dan partisipasi publik seluasluasnya kepada warga negara tanpa membedakan
jenis kelamin.
Seiring dengan jatuhnya OrdeBam_proses_teformasi di Indonesia memberikan
kesempatan yang lebih menjanjikan kepada perempuan untuk rnemperbaiki kondisinya.
Bagaimanapun, political will janganlah hanya be rupa lips service belaka. Seluruh
kebijakan harus memaksimalkan pelibatan perempuan dalam semua aspek pembangunan.
Sekalipun demikian, pemberdayaan perempuan dalam pembangunan tetap harus
nieniindahlcan hubungan sostaLantara Berbagai pengalaman dan studi menunjukkan
bahwa pendekatan pembangunan yang dikotomis, tanpa melibatkan kerjasama dengan
kaum laki-laki kurang menunjukkan basil yang menggembirakan, bahkan banyak
melahirkan sikap sinis dan kaum Ielaki (male backlash). Pendekatan seperti ini sudah
disepakati dalam World Conference on Women ke-4 di Beijing pada tahun 1995 setelah
sebelumnya dibahas dalam the International World on Population and Development
(ICPD) di Kairo pada tahun sebelumnya.
Selain itu, gender harus diintegrasikan ke dalam seluruh kebijakan dan program berba ai o
:anisasi dan lembaga pendidikan. Di level
pernberdayaan perempuan dalam pembangunan tetap harus
mengindahkan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan.
284 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
Hak Asasi Manusia 285
Pemikiran dan
penafsiran
keagamaan yang
patriarki sangat
berkontribusi besar
terhadap konstruksi
sosial yang
mendiskreditkan
perempuan. Upaya-
upaya untuk
mendialogkan
antara pengikut
dan pemuka agama
dengan isu gender
patut sesering
mungkin dilakukan.
kebijakan, saat ini Kementerian Negara pemberdayaan Perempuan tengah gencar
mensosialisasikan gerakan pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) sehingga
gender terintegrasikan ke dalam berbagai kebijakan mulai dari tingkat atas hingga bawah.
Selain tantangan di atas, di sisi lain perjuangan menghapuskan diskriminasi sekaligus
memberdayakan perempuan juga menghadapi tantangan yang bersifat horisontal, datang
dart budaya masyarakat yang menghegemoni nalar tidak saja kaum laki-laki tetapi
bahkan kalangari perempuan itu sendiri. Dibandingkan populasi perempuan yang sangat
besar di negeri ini, sangat sedikit perempuan yang benar-benar sadar bahwa hak-hak
mereka dikebiri dan bahwa posisi mereka secara sosial tersubordinasi. Bahkan mungkin
mayoritas perempuan masih mentolerir bentuk hubungan dan perlakuan sosial yang
melestarikan subordinasi terhadap mereka. Oleh karena itu, pendidikan gender baik secara
formal mapun non-formal hams dilakukan secara simultan, sistematis, dan berkelanjutan
baik terhadap laki-laki maupun perempuan, di samping perlu adanya pen emban an
lcurikulum metodeendi i dardkannbelajarm,
dan aspek pendidikan lainnya agar lebih responsif dan berwawasan gen.
der.
Pemikiran dan penafsiran keagamaan yang patriarki sangat berkontrlap konstruksi sosial
yang mendiskreditkan perempuan. Upaya-upaya untuk mendialogkan antara pengikut dan
pemuka agama dengan isu gender patut sesering mungkin dilakukan. Di samping itu,
ajaran agama yang bias gender perlu dikaji kembali untuk menemukan makna keadilan
sebenarnya yang telah hilang atau mungkin disembunyikan. Artinya, ayat-ayat al-Quran
dan fiqh perlu direinterpretasikan dengan menggunakan perspektif keadilan gender.
Islam dan HAM
_-
Islam adalah agama universal yang mengajarkan keadilan bagi semua manusia tanpa
pandang bulu. Ajaran Islam menganduniVrfs-iir-unsur
Iceya IdnanSaiddah). ritual (ibadatWan pergaulan sosial (mu'amalat). Dimensi
—---
akidah memuat ajaran tentang keimanan; dimensi ibadah memuat ajaran tentang
mekanisme pengabdian manusia terhadap Allah; sedangkan
dimensi mu'amalat memuat ajaran tentang hubungan manusia dengan sesama manusia dan
dengan alam sekitar. Seluruh unsur-unsur ajaran tersebut dilandasi oleh ketentuan-
ketentuan yang disebut dengan istilah syari'at (fikih). Dalam konteks syari'at inilah
terdapat ajaran tentang hak asasi manusia (HAM).
Sebagai agama kemanusiaan Islam meletakkan manusia pada posisi yang sangat mulia.
Manusia digambarkan oleh al-Qur'an sebagai mahluk yang paling sempuma dan hams
dimuliakan. Bersandar dari pandangan lasucini, perlindungan dan penghormatan terhadap
hak asasi manusia dalam Islam tidak lain merupakan tuntutan dan ajaran Islam yang wajib
dilaksanakan oleh setiap pemeluknya. Penghormatan HAM dan bersikap adil terhadap
manusia tanpa pandang bulu adalah esensi dan ajaran Islam. Dalam Islam, sebagaimana
dinyatakan oleh Abu Ala al-Maududi, HAMadalah hak kodrati yang dianugerahkan Allah
SWT kepada setiap manusia dan tidak dapat dicabut atau dikurangi oleh kekuasan atau
badan apapun. Hak-hak yang diberikan Allah itu bersifat permanen, kekal dan abadi, tidak
boleh diubah atau dimodifikasi.
Menurut kalangan ulama Islam, terdapat dua konsep tentang hak dalam Islam: hak
manusia (haq al insan) dan hak Allah. Sate dan lainnya saTing terkait dan sating
melandasi. Hak Allah melandasi hak manusia demildan juga sebaliknya, sehingga dalam
prakteknya tidak bisa dipisahkan sate dari yang lainn. Misalnya, dalam pelaksanaan hak
Allah berupa ibadah shalat, seorang muslim yang taat memiliki kewajiban untuk
mewujudkan pesan moral ibadah sholat dalam kehidupan sosialnya.-Sebagai konsekuensi
dan pesan moral ibadah shalat, yang ditandai oleh ucapan mengagungkan nama Allah
(takbir) di awal sholat dan diakhiri dengan ucapan salam (kesejahteraan), seorang Muslim
yang taat dituntut untuk menebar keselamatan bagi orang sekelilingnya. Dengan ungkapan
lain, hak Tuhan dan hak manusia dalam Islam terpancar dalam ajaran ibadah sehari-hari.
Islam tidak memisahkan antara hak Allah dan hak manusia.
Seclangkan hak manusia, seperti hak kepemilikan, setiap manusia. berhak untuk
mengelola harta yang dimilildnxa. Namun demikian, Islam menekankan bahwa pada
setiap hak manusia terdapat hak Allah; meskipun seseorang berhak memanfaatkan benda
miliknya, tetapi is tidak boleh menggunakan harta miliknya untuk tujuan yang
bertentangan dengan
Sebagai agama kemanusiaan Islam meletakkan manusia pada posisi yang sangat mulia.
Manusia digambarkan oleh al-Qur'an sebagai mahluk yang paling sempurna dan harus
dimuliakan.
286 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
Hak Asasi Manusia 287
4 f

Adanya penekanan
relasi hak individu
dengan nilai sosial
dalam Islam
menunjukkan
bahwa Islam
mengajarakan
bahwa tuntutan
hak tetap harus
dibarengi dengan
pelaksanaan
kewajiban dalam
kerangka
melindungi hak
orang lain.
ajaran Allah. Sebagai ajaran kemanusiaan, Islam menekankan bahwa hak kepemilikan
harus memiliki nilai sosial. Harta kekayaan dalam Islam harus diorientasikan bagi
kesejateraan ummat manusia. Hal ini didasari oleh pandangan teologis bahwa hanya
Allahlah satu-satunya pemilik absolut harta yang ada di tangan manusia.
Adanya penekanan relasi hak individu dengan nilai sosial dalam Islam menunjukkan
bahwa Islam mengajarakan bahwa tuntutan hak tetap harus dibarengi dengan pelaksanaan
kewajiban dalam kerangka melindungi hak
.
orang lam. Menurut Islam, hak dan kewajiban adalah dua sisi mata uang _ -
yang tidak terpisahkan satu dengan Iainnya. Sebagai contoh, sekalipun Islam melindungi
hak seseorang atas kepemilikan properti dan kekayaan, agama samawi ini juga
memerintahkan untuk mengeluarkan zakat yang salah satu tujuannya untuk melindungi
hak hidup orang miskin. Bahkan dalam Islam disebutkan bahwa dalam harta yang dimiliki
oleh seseorang terdapat hak orang lain. Dengan demikian, dalam Islam hak yang kita
milild tidak besifat absolut, melainkan selalu dibatasai oleh hak orang lain dan tergantung
pada pemenuhan kewajiban oleh orang lain.
Konsep Islam mengenai kehidupan manusia didasarkan pada pendekatan teosentris,
ataupanclangan yang menempaticiiAFfil a iebagai pusat dari kehidupan melalui
ketentuan syari'atnya. Syarrat merupakan
tolak ukur tentang baik dan buruk tatanan kehidupan manusia, sebagai _ -
pribadi maupun sebagai warga negara. Dengan demikian, konsep Islam tentarg_l HAM
berpijak pada ajaran tauhid. Sebagai sêbuah konsep pembebasan manusia, konsep tauhid
Islam mengandung ide persamaan dan persaudaraan manusia. Konsep tauhid juga
mencakup ide persamaan dan persatuan semua makhluk. Pandangan ini ditegaskan oleh
Harun Nasution dan Bachtiar Effendi sebagai ide peri kemakhlukan dalam Islam. Ide peri-
kemakhlukan mengandung makna bahwa manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap
sesama makhluk termasuk juga pada binatang dan alam sekitar. Senada dengan
pandangan ini, al-Ghazali berpendapat bahwa sikap kasih sayang manusia mencakup
masyarakat binatang.
Wacana HAM bukanlah sesuatu yang barn dalam sejarah peradaban Islam. Bahkan para
ahli mengatakadbahwa wacana tentang HAM dalam Islam jauh lebih awal dibandingkan
dengan konsep HAM yang muncul di Barat. Menurut mereka, Islam datang dengan
membawa pesan universal
288 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
Dalam lapangan
sosial, Islam
menekankan
kemuliaan manusia
berdasarkan pada
peran sosialnya,
bukan jenis
kelaminnya.
Kualitas manusia
menurut Islam
diukur dari tingkat
kebermanfaatan
seseorang bagi
orang sekitarnya.
menjamin persamaan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, redaksi al-Quran yang
menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memperoleh imbalan yang sesuai dengan
perbuatannya masing-masing, seperti tertuang pada surat Al-Nisa:124 dan Al-Bagarah:
228.
Dalam lapangan sosial, Islam menekankan kemuliaan manusia berdasarkan pada peran
sosialnya, bulcan jenis kelaminnya. Kualitas manusia menurut Islam diukur dari tingkat
kebermanfaatan seseorang bagi orang seldtamya. Dalam suatu hadis Nabi pemah
bersabda, "Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling berguna bagi manusia yang lain."
Dalamperspelctif HAM dan Islam, seorang (Muslim) warga negara yang balk adalah
mereka yang menghormati dan menjaga hak orang lain. Penghormatan atas hak asasi
orang lain tidak lain sebagai upaya menjadikan hidup berguna bagi orang lain. Suatu had
Nabi pemah berkata, "Seorang Muslim adalah individu yang mampu menjadikan
saudaranya merasa aman dari (kejahatan) tangan dan perkataannya." Jika demikian, Islam
tidak lain adalah agama HAM.
RANGKUMAN
1. Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan merupakan anugerah-
Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,
pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia
2. Tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban harus berjalan secara seimbang dan simultan.
Hak diperoleh bila kewajiban terkait telah dilaksanakan.
3. Ada dua pendapat mengenai apakah HAM bersifat universal atau kontekstual. teori
relativitas berpandangan bahwa ketika berbenturan dengan nilai-nilai lokal maka HAM
harus dikontektualisasikan, sedangkan teori radikal universalitas berpandangan bahwa
semua nilai termasuk nilai-nilai HAM adalah bersifat universal dan tidak bisa
dimodifikasi sesuai dengan perbedaan budaya dan sejarah tertentu.
4. Perkembangan HAM dalam sejarahnya tergantung dinamika model
292 Pendidikan Kewargaan (Civic Education)