You are on page 1of 13

BAB 8

HAK ASASI MANUSIA


Pengertian HAM

MENURUT Teaching Human Rights yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa- Bangsa
(PBB), hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada setiap
manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Hak hidup
misalnya adalah claim untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat
membuat seseorang tetap hidup, karena tanpa hak tersebut eksistensinya sebagat manusia
akan hilang.
Menurut Locke, hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh
Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Karena sifatnya
demikian maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang bersifat kodrati. Karena
sifatnya yang demikian maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabut
hak asasi setiap manusia.
Hak asasi manusia ini tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam salah satu buah pasalnya (Pasal 1) secara
tersurat dijelaskan bahwa "Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang
melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa
dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat
dan martabat manusia".

Perkembangan HAM
1. Sebelum Deklarasi Universal HAM 1948
Kemunculannya dimulai dengan lahirnya Magna Charta yang membatasi
kekuasaan absolut para penguasa atau raja. Sejak lahirnya Magna Charta pada tahun 1215,
raja yang melanggar aturan kekuasaan harus diadili dan mempertanggungjawabkan
kebijakan pemerintahannya di hadapan parlemen.
Secara politis, lahirnya Magna Charta merupakan cikal bakal lahirnya monarki
konstitusional. Keterikatan penguasa dengan hukum dapat dilihat pada Pasal 21 Magna
Charta yang menyatakan bahwa "...para Pangeran dan Baron dihukum atau didenda
berdasarkan atas kesamaan, dan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan pada Pasal 40
ditelaskan bahwa "...tidak seorang pun menghendaki kita mengingkari atau menunda
tegaknya hak atau keadilan". Pada masa ini pula muncul istilah equality before the law
atau manusia adalah sama di muka hukum. Menurut Bill of Rights, asas persamaaan harus
diwujudkan betapa pun berat rintangan yang dihadapi, karena tanpa hak persamaan maka
hak kebebasan mustahil dapat terwujud. Untuk mewujudkan kebebasan yang bersendikan
persamaan hak warga negara tersebut, lahirlah sejumlah istilah dari teori sosial yang
identik dengan perkembangan dan karakter masyarakat Eropa dan Amerika: kontrak
sosial (Jj. Rousseau), trios politika (Montesquieu), teori hukum kodrati (John Locke), dan
hak-hak dasar persamaan din kebebasan (Thomas Jefferson).
Teori kontrak sosial adalah teori yang menyatakan bahwa hubungan antara
penguasa (raja) dan rakyat didasari oleh sebuah kontrak yang ketentuan-ketentuannya
mengikat kedua belah pihak.
Trias politika adalah teori tentang sistem politik yang membagi kekuasaan
pemerintahan negara dalam tiga komponen : pemerintah (eksekutif), parlemen (legislatif),
dan kekuasaan peradilan (yudikatif).
Bagi Locke hak dasar ini bahkan harus dilindungi oleh negara dan menjadi batasan
bagi kekuasaan negara yang mutlak. Hak-hak kodrati (alamiah) dari John Locke terdiri
dari hak atas kehidupan, hak atas kemerdekaan, dan hak atas milik pribadi yang dalam
perkembangannya di masa modern hak-hak dasar ini bertambah jumlahnya dan menjadi
konsep utama dalam pemikiran tentang demokrasi.
Menurut Jefferson, didasarkan pada teori Locke di atas, semua manusia dilahirkan
sama dan merdeka. Manusia dianugerahi beberapa hak yang tidak terpisah-pisah, di
antaranya hak kebebasan dan tuntutan kesenangan.
Pada tahun 1789 lahir Deklarasi Perancis (The French Declaration). Deklarasi ini
memuat aturan-aturan hukum yang menjamin hak asasi manusia dalam proses hukum,
seperti larangan penangkapan dan penahanan seseorang -secara sewenang-wenang tanpa
alasan yang sah atau penahanan tanpa Surat perintah dikeluarkan oleh bagsa hukum yang
berwenang. Dalam hal ini berlaku prinsip presumption of innocent, orang-orang yang
ditangkap dianggap tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan
hukum tetap yang menyatakan ia bersalah, muncul untuk pertama kali. Prinsip ini
kemudian dipertegas oleh prinsip-prinsip HAM lain seperti freedom of expression
(kebebasan mengeluarkan pendapat), freedom of religion (kebebasan beragama), The
right of property (perlindungan hak-hak dasar lainnya).
Empat hak kebebasan manusia (the four freedoms) di Amerika Serikat pada 6
Januari 1941, yang diproklamirkan oleh Presiden Roosevelt. Keempat hak itu adalah: hak
kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat; hak kebasan memeluk agama
dan_beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya; hak kebebasan dari
kemiskinan; dan hak kebebasan dari rasa takut.
Deklarasi Philadelphia 1944 ini memuat pentingnya menciptakan perdamaian
dunia berdasarkan keadilan sosial dan perlindungan seluruh manusia apapun ras,
kepercayaan, dan jenis kelaminnya. Deklarasi ini juga memuat prinsip HAM yang
menyerukan jaminan setiap orang untuk mengejar pemenuhan kebutuhan material dan
spiritual bebas dan bermartabat serta jaminan keamanan ekonomi dan kesempatan yang
sama.
Hak-hak tersebut kemudian dijadikan dasar perumusan Deldarasi Universal HAM
(DUHAM) yang dikukuhkan oleh PBB dalam Universal Declaration of Human Rights
(UDHR) pada tahun 1948.
Menurut DUHAM, terdapat 5 jenis hak asasi yang dimiliki oleh setiap individu :
hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi); hak legal (hak jaminan perlindungan hak
sipil dan politik; hak subsistensi (hak adanya jaminan dan sumber daya untuk
menunjang kehidupan); dan hak ekonomi, sosial dan budaya.

Menurut Pasal 3-21 DUHAM, hak personal, hak legal hak sipil dan politik meliputi :
1. hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi;
2. hak bebas dari perbudakan dan penghambaan;
3. hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam, tak
berprikemanusiaan ataupun merendahkan derajat kemanusiaan;
4. hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi;
5. hak untuk pengampunan hukum secara efektif;
6. hak bebas dari penangkapan, penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang;
7. hak untuk peradilan yang independen dan tidak memihak;
8. hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah;
9. hak bebas dari campur tangan yang sewenang-wenang terhadap kekuasaan pribadi,
keluarga, tempat tinggal maupun surat-surat
10. hak, bebas kehormatan dan naniabik
11. hak atas perlindungan hukum terhadap angan semacam itu;
12. hak bergerak
13. hak memperoleh suaka;
14. hak atas satu kebangsaan;
15. hak untuk menikah dan membentuk keluarga;
16. hak untuk mempunyai hak
17. hak bebas bcrpikir, berkesadaran, dan beragama;
18. hak bebas berpilcir dan menyatakan pendapat;
19. hak untuk berhimpun dan berserilcat
20. hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama
terhadap pelayanan masyarakat.

Adapun hak ekonomi, sosial dan budaya meliputi:


1. hak atas jaminan sosial;
2. hak untuk bekerja;
3. hsk atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama;
4. hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh.
5. hak atas istirahat dan waktu senggang;
6. hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan;
7. hak atas pendidikan;
8. untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat

Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis seperti yang
dikampanyekan generasi pertama, tetapi jugamenyerukan hak- hak sosial, ekonomi,
politik, dart budaya.

2. Setelah Deklarasi Universal HAM 1948


Secara garis besar perkembangan pemikiran tentang HAM dibagi menjadi empat
kurun Generasi pertama, menurut generasi ini pengertian HAM hanya berpusat pada
bidang hukum dan politik. Seperangkat hukum yang disepakati sangat sarat dengan hak-
hak yuridis seperti, hak untuk hidupitlak untuk tidak menjadi budak, hak untuk tidak
disiksa dan ditahan, hak keadilan dalam proses hukum (fair trial)hak praduga tak bersalah
dan sebagainya. Selain dan hak-hak tersebut, hak nasionalitas, hak pemilikan, hak
pemikiran, hak pendidikan, hak pekerjaan dan kehidupan budaya juga rnewarnai
pemikiran HAM generasi pertama ini.
Generasi kedua, pemikiran HAM tidak saja menurut hak yuridis seperti yang
dikampanyekan generasi pertama, tetapi juga menyerukan hak-hak sosial, ekonomi,
politik dan budaya.
Generasi ketiga. Generasi ini menyerukan wacana kesatuan HAM antara hak
ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum dalam satu bagian integral yang dikenal
dengan istilah hak-hak melaksanakan pembangunan (the rights of development).
Generasi Keempat. Peran dominan negara dalam proses pembangunan ekonomi
dan kecenderungan pengabaian aspek kesejahteraan rakyat mendapat sorotan tajam
kalangan generasi HAM ini.
Beberapa butir HAM yang termuat dalam deklarasi HAM Asia ini mencakup :
a. Pembangunan berdikari (self development)
Pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan yang membebaskan
rakyat dan bangsa dari ketergantungan dan sekaligus memberikan sumber-
sumber daya sosial ekonomi kepada rakyat.

b. Perdamaian
Masalah perdamaian tidak semata-mata berarti anti perang, anti nuklir, dan
anti perang bintang. Tetapi justru lebih dari itu suatu upaya untuk melepaskan
diri dari budaya kekerasan (culture of violence) dengan segala bentuk
tindakan.

c. Partisipasi rakyat
Partisipasi rakyat ini adalah suatu persoalan hak asasi yang sangat mendesak
untuk tentang diperjuangkan, baik dalam dunia politik maupun dalam
persoalan publik lainnya.

d. Hak-hak budaya
Setiap budaya hams dihormati dan tidak boleh dilecehkan. Karena mengarah
ke penghapusan kemajemukan budaya (multikulturalisme) sebagai identitas
kekayaan suatu komunitas warga dan bangsa.

e. Hak keadilan sosial


Keadilan sosial tidak hanya diukur dengan peningkatan pendapatan perkapita,
tetapi juga dengan merubah tatanan sosial yang tidak adil dengan tatanan sosial
yang berkeadilan.

3. Perkembangan HAM di Indonesia


Wacana HAMALIndonesia telah berlangsung seiring dengan berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
a. Periode sebelum kemerdekaan (1908-1945)
Pemikiran HAM dalamperiode sebelum kemerdekaan dapat dijumpai dalam sejarah
kemunculan organisasi pergerakan nasional seperti Boedi Oetomo (1908), Sarekat
Islam (1911), Indische Partij (1912), Partai Komunis Indonesia (1920), Perhimpunan
Indonesia (1925), dan Partai Nasional Indonesia (1927).

Dalam sejarah pemikiran HAM di Indonesia, Boedi Oetomo merupakan


orgarusagera rinasional pertama yang menyuarakan kesadaran berserikat dan
mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial
maupun lewat tulisan di surat kabar. Inti dan perjuangan Boedi Oetomo adalah perjuangan
alcan kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui organisasi massa dan
konsep perwakilan rakyat.
Sedangkan kalangan tokoh pergerakan Sarekat Islam, Tjokro Aminoto, H.
Samanhudi, Agus Salim, menyerukan pentingnya usaha-usaha untuk memperoleh
penghidupan layak dan bebas dari penindasan diskriminasi rasial yang dilakukan
pemerintah kolonial.

b. Periode setelah kemerdekaan (1945 - sekarang)


1. Periode 1945-1950
Sepanjang periode ini, wacana HAM masih dapat dicirikan pada:
a. Bidang sipil dan politik, melalui:
- UUD 1945 (Pembukaan, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30,
Penjelasan Pasal 24 dan 25)
- Maklumat Pemerintah 1 November 1945
- Maklumat Pemerintah 3 November 1945
- Maklumat Pemerintah 14 November 1945
- KRIS, khususnya Bab V, Pasal 7-33
- KUHP Pasa199

b. Bidang ekonomi, sosial, dan budaya, melalui:


- UUD 1945 (Pasal 27, Pasal 31, Pasal 33, Pasal 34, Penjelasan Pasal 31 dan
32)
- KRIS Pasal 36-40

2. Periode 1950-1959
Periode 1950-1959 dikenal dengan masa demokrasi parlementer. Menurut catatan
Bagir Manan, masa gemilang sejarah HAM Indonesia pada masa ini tercermin
pada lima indikator HAM :
1. Munculnya partai-partai politik dengan beragam ideologi
2. Adanya kebebasan pers
3. Pelaksanaan pemilihan umum secara aman, bebas dan demokratis
4. kontrol parlemen atas eksekutif

Tercatat pada periode ini Indonesia meratifikasi 2 konvensi internasional HAM


yaitu:
1. Empat Konvensi Geneva 1949 dengan UU No. 59 Tahun 1958 yang mencakup
perlindungan hak bagi korban perang, tawanan perang dan perlindungan sipil di waktu
perang
2. Konvensi tentang Hak Politik Perempuan dengan UU No. 68 Tahun 1958 yang
mencakup hak perempuan untuk memilih dan dipilih tanpa perlakuan diskriminasi,
serta hak perempuan untuk menempati jabatan publik.

3. Periode 1959-1966
Periode ini merupakan masa berakhimya demokrasi liberal, digantikan oleh sistem
demokrasi terpimpin yang terpusat pada kekuasaan Presiden Soekamo.
Melalui sistem demokrasi terpimpin kekuasaan terpusat di tangan Presiden.
Presiden tidak dapat dikontrol oleh parlemen, sebaliknya parlemen dikendalikan
oleh presiden. Kekuasaan Presiden Soekamo bersifat absolut, bahkan dinobatkan
sebagai Presiden RI seumur hidup.
Kedekatan Presiden Soekamo dengan PKI menimbulkan gejolak politik yang
ditandai oleh ketidaksukaan kelompok militer (TNI) dan elemen-elemen politik
dari kalangan nasionalis dan kelompok-kelompok agama, khususnya Islam. Akhir
dari kediktatoran pemerintahan Presiden Soekarno adalah berakhirnya
pemerintahan melalui kudeta berdarah yang dikenal dengan peristiwa Gerakan 30
September 1965. Gerakan ini. merupakan klimaks dari perseteruan politik antara
PKI dengan TNI, khususnya angkatan darat. Akhir pemerintahan Presiden
Soekamo sekaligus sebagai awal naiknya era pementahan Presiden Soeharto yang
dikenal dengan sebutan era Orde Baru. Ia menggantikan Presiden Soekamo
melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
4. Periode 1966-1998
Pada mulanya lahir Orde Baru menjanjikan harapan baru bagi penegakan HAM di
Indonesia, Berbagai seminar tentang HAM dilakukan Orde Baru. Namun pada ke
taannya, Orde Baru telah menorehkan sejarah hitam pelanggaran HAM di
Indonesia sepanjang sejarah Indonesia modem. Pada tahun 1967 Orde Baru
merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM,
pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Dalam rangka
pelaksanaan TAP MPRS No. XIV/MPRS1966, MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV
telah merumuskan Piagam tentang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta
Kewajiban Warganegara.
Janji-janji Orde Baru tentang pelaksanaan HAM di Indonesia mengalami
kemunduran amat pesat sejak awal 1970-an hingga 1980-an. Sikap anti HAM Orde
Baru sesungguhn tidak berbeda dengan argumen yang pernah dikemukakan
Presiden Soekarno ketika menolak prinsip dan praktek demokrasi parlementer,
yakni sikap apologis dengan cara mempertentangkan demokrasi dan prinsip HAM
yang lahir di Barat dengan prinsip-prinsip lokal Indonesia.
Diantara butir penolakan pemerintah Orde Baru terhadap konsep universal HAM
adalah:
a. HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya
bangsa yang tercermin dalam Pancasila.
b. Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam
rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Dklarasi Universal
HAM.
c. lsu HAM seringkali digunakan oleh negara-negara Barat untuk memojokkan negara
yang sedang berkembang seperti Indonesia.
Pelanggarana HAM Orde Baru dapat ditilik dari kebijakan politik Orba yang bersifat
sentralistik dan penumpasan gerakan politik yang berbeda dengan Pemerintahan
Presiden Soeharto.
Upaya penegakan HAM oleh kelompok-kelompok non pemerintah membuahkan hasil
yang menggembirakan diawal tahun 90-an.
Sati diantara sikap akomodatif pemerintah tercermin dalam persetujuan pemerintah
terhadap pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melalui
Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993.

Sikap akomodatif pemerintah Orba ditunjukkan dengan dukungan pemerintah meratifikasi


tiga konvensi HAM: Konvensi tentang Penghapusan Sepia Bentuk Diskriminasi terhadap
perempuan melalui UU No. 7 tahun 1984, Konvensi Anti-Apartheid dalam Olah Raga
melalui UU No. 48 Tahun 1993, dan Konvensi Hak Anak melalui Keppres No. 36 tahun
1990.

5. Periode Paska Orde Baru


Tahun 1998 adalah era paling penting dalam sejarah HAM di Indonesia. Pada tahun ini
Presiden Soeharto digantikan oleh BJ. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Presiden
RI. Tuntutan pars tokoh reformasi dan mahasiswa akan pergantian kekuasaan otoriter
Orde Baru dengan kekuasaan yang berlangsung secara demokratis dan tuntutan
HAM menjadikan era ini dikenal dengan sebutan Era Reformasi.
Tak kalah penting dari perubahan perundangan, pemerintah Era Reformasi juga
melakukan ratifikasi terhadap instrumen HAM internasional untuk mendukung
pelaksanaan HAM di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Habibie misalnya, perhatian pemerintah terhadap pelaksanaan
HAM mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Lahirnya TAP MPR
No.VII/MPR/1998 tentang HAM merupakan salah satu indikator keseriusan pemerintahan
era reformasi.
Keseriusan pemerintah Presiden Bj. Habibie dalam perbaikan pelaksanaan HAM
ditunjukkan dengan pencanangan program_ HAM yang dikenal destilah Rencana Aksi
Nasional HAM, pada Agustus 1998. Agenda HAM ini bersandarkan pada empat pilar
yaitu: 1. Persiapan pengesahan perangkat intemasional di bidang HAM; 2. diseminasi
informasi danpendidikan bidang HAM; 3. Penentuan Skala prioritas pelaksanaan HAM;
4. pelaksanaan isi rangkat intemasional di bidang HAM yaniferfia diratifikasi melalui
perundang-undangan nasional.
Secara operasional, beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun
1999 tentang HAM sebagai berikut :
1. hak untuk hidup
2. hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
3. hak mengembangkan difi
4. hak memperoleh keadilan
5. hak atas kebebasan pribadi
6. hak atas rasa aman
7. hak atas kesejahteraan
8. hak turut serta dalam pemerintahan
9. hak wanita
10. hak anak
Adapun Hak Asasi Manusia yang diatur dalam Perubahan Undangundang Dasar 1945
terdapat dalam Bab XA sebagai berikut :
1. hak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya (Pasal 28 A)
2. hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah (Pasal 28 B ayat 1)
3. hak anak untuk kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta hakatas
perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi (Pasal 28 B ayat 2)
4. hak untuk mengembangkan difi melalui pemenuhan kebutuhan dasar (Pasal 28 C ayat
1)
5. hak untuk pendidikan dan memperoleh manfaat dan ilmu pengetahuandan teknologi,
seni, dan budaya (Pasal 28 C ayat 1)
6. hak untuk mengajukan did dalam memperjuangkan haknya secara kolektif(Pasal-28 C
ayat 2)
7. hak atas pengakuan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan
perlakuan yang sama di depan hukum (Pasal 28 D ayat 1).
8. hak untuk bekerja dan mendapat imbalan serta perlakuan yang adil dan layak dalam
hubungan kerja (Pasal 28 D ayat 3)
9. hak untuk memperoleh kesempatan yangsama dalam pemerintahan (Pasal 28 D ayat 3)
10. hak atas status kewargane araan (Pasal 28 D ayat 4)
Hak dan Kewajiban
Hak kebebasan harus diimbangi oleh kewajiban yang harus dilakukan oleh warga negara.
Hubungan antara hak dan kewajiban juga berlaku dalam hal hubungan mantara warga
negara dan negara atau pemerintah. Semua warga negara memiliki hak mendapatkan rasa
aman dari aparat negara tanpa perbedaan status sosial, tetapi mereka pun berkewajiban
untuk membayar pajak kepada negara. Hak negara memungut pajak atau se'enisnya dari
war :a ne ara harus diwujudkan dengan pelaksanaan kewajiban negara menciptakan dan
menjaga ketertiban umum.
Hak tidak bisa dipisahkan dad kewajiban. Seseorang berhak untuk melakukan apapun
kehendak dan cita-citanya, namun is dibatasi oleh kewajiban untuk tidak melanggar hak
orang Jain untuk memperolah ketenangan dan rasa aman. Keterbatasan inilah yang
dicerminlcan dalam keseimbangan antara hak dan kewajiban warga negara.
Untuk menghindari konflik dari ekspresi kebebasan mengungkapkan
hak, keberadaan lembaga penegak HAM mutlak dibutuhkan. Lembaga ini bisa berupa
lembaga-lembaga hukum, seperti kepolisian dan peradilan.
Fungsi lembaga-lembaga ltum terse ut adalah untuk menjaga hak dan kewajiban warga
negara berjalin sesuai aturan yang bersandarkan pada prinsip-prinsip HAM. Jika
keseimbangan antara hak dan kewajiban terwujud dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan, maka akan lahir sikap tirani mayoritas dan perilaku anarkis minoritas.
Keseimbangan hak dan kewajiban pada akh;rnya akan melahirkan sikapsikap toleransi
sesama warga negara.
Secara teoritis, keseimbangan antara hak dan kewaji ban dapat dirujuk pada pandangan A.
Gewirth maupun Joel Feinberg. Menurut mereka, hak adalah klaim yang absah atau
keuntungan yang didapat dad pelaksanaan sebuah kewajiban. Karenanya, hak tidak
bersifat absolut, tetapi selalu timbal batik dengan kewajiban. Karena hak dan kewajiban
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan kita tidak akan memperoleh hak tanpa
melaksanakan kewajiba atau dibebani suatu kewajiban oleh negara tanpa ada keuntungan
untuk memperoleh hak sebagai warga negara.

HAK ASASI MANUSIA ANTARA UNIVERSITAS DAN RELATIVISTAS


Setiap negara sepakat dengan prinsip universal HAM, tetapi memiliki perbedaan
pandangan dan cara pelaksanaan HAM. Hal demikian sering kali disebut dengan istIlah
wacana universalitas dan lokalitas atau partikularitas HAM.
Perdebatan antara universalitas dan pratikular HAM tercermin dalam tateoriyang_saling
berlawanan: teori relatiVisme kultural dan teori universalitas HAM. Teori relativitisme
kultural berpandangan bahwa nilainilai moral dan budaya bersifat partikular.
Oleh karenanya, ketika berbenturan dengan nilai-nilai lokal maka HAM harus
dikontelctualisasikan, sehingga nilai-nilai moral HAM bersifat Iolal dan spesifik dan
hanya berlaku khusus pada suatu negara, tidak pada negara lain. Para penganut
relativisme yang mendukung kontekstualisasi HAM cenderung melihat universalitas
HAM sebagai imprealisme kebudayaan Barat.
Di sisi lain, kelompok kedua yang berpegang pada teori radikal universalitas berargumen
bahwa perbedaan kebudayaan bukan berarti membenarkan perbedaan konsepsi HAM, dan
perbedaan pengalaman historis dan sistem nilai tidak meniscayakan HAM dipahami
secara berbeda dan diterapkan secara berbeda pula dari satu kelompok ke kelompok
budaya lain.
Pandangan bahwa HAM tidak sesuai dengan kebudayaan tertentu sama dengan asumsi
orang yang mengatakan bahwa pemerintahan yang bersih tidak cocok di Indoneia karea
pada faktanya banyak terjadi kasus korupsi dan kolusi. Oleh karena itu, berbagai
hambatan terhadap penerapan HAM tidaklah secara otomatis membenarkan bahwa perlu
ada konsepsi HAM lain yang lebih sesuai dengan kebudayaan di Indonesia.
Pendapat tersebut dipertegas dengan pandangan bahwa fakta historis HAM yang berasal
dari Barat tidak dapat dijadikan sebagai alasan penolakan terhadap univerlitas HAM.

Pelanggaran dan Pengadilan HAM


Secara jelas UU No. 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM mendefiniskan hal tersebut.
Menurut Undang-Undang ini, pelanggaranhak asasi manusia adalah setiap perbuatan
seseorang atau kelompok orang termasulara balk disengaja ataupun tidak disengaja atau
kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut
hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang, dan
tidak didapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang
adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentukyaitu: pelanggaran HAM berat,
danpelanggaran nngan. Pelanggaran HAM beratmeki kejahatan genosida dan ke'ahatan
kemanusiaan. Sedangkan bend pe anggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk
pelanggaran HAM berat itu.
Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagiag kelompok bangsa, ras,
kelompok etnis, dan kelompok agama. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara:
a. membunuh anggota kelompok
b. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadai ahggota-anggota
kelompok
c. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang aka! mengakibatkan kemusnahan
secara fisik baik seluruh atat sebagiannya
d. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok
e. memindahkan cara paksa anak-anak dan kelompok to ke kelompok lain.

Sedangkan kejahataLkemanusiaan adalah salah satu perbuatanyal dilakukan sebagai


bagian dari serangan yang meluas atau sistematik diketahuinya bahwa serangan tersebut
ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa :
a. pembunuhan
b. pemusnahan
c. perbudakan
d. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
e. perampasan kemeidekaariltatiperampasankebebasan fisik lain secara sewenang-
sewenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional
f. Penyiksaan
g. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan,
pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual yang
setara
h. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari
persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau
alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang. menurut hukum
internasional
i. penghilangan orang secarapakla atau
j. kejahatan apartheid, penindakan dan dominasi suatu kelompok ras atas kelompok ras
lain untuk mempertahankankan dominasi dan kekuasaanya.

Gender dan HAM


a Wawasan Umum
Istilah gender harus dibedakan dengan jenis kelamin (seks). Gender men peran antara
perempuan dan laid-laid yang dibentuk oleh budaya, sedan karglse1cs memilild
pengertian perbedaan jenis kelamin laid-laid dan perempuan secara biologis. Dalam
Women's Studies Engclopectia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural
yang Gerkembang di masyarakat yang berupaya membuat perbedaan peran, perilaku,
mentalitas, dan karakter emosional antara dan perempuan. Perbedaan tersebut sudah lama
melekat dalam pandangan umum masyarakatsehingga melahirkan anggapan bahwa
perbedaan peran tersebut sebagai sesuatu yang bersifat kodrati dan telah menimbulkan
ketimpangan pola hubungan dan peran sosial antara laid-laid dan perempuan.
Menurut kalangan feminis, pandangan budaya atas peran perempuan tersebut diatas telah
mempersempit ruang gerak perempuan. Bahkan pads tidak tertentu pandangan
negatif(stereotipe) terhadap eksistensi perempuan telah berakibat pada penindasan dan
eksploitasi terhadap perempuan.
Secara umum, mentrut Mansour Faqih, ketidakadilan gender menyebabkan perlakuan
sosial sebagai benkut:
1) manganalisasi perempuan
2) penempatan perempuan pada posisi tersubordinasi
3) stereotipisasi perempuan
4) kekerasan terhadap perempuan.
5) beban kerja yang tidak proporsional.

b. Sejarah Perjuangan Perempuan dalam Penegakan HAM


Ketidakadilan gender yang berkepanjangan telah menumbuhkan kesadaran perempuan
melakukan perlawanan yang kemudian melahirkan gerakan feminisme. Pada abad ini
gagasan feminisme berkutat pada bahwa perempuan memiliki potensi nalaryang sama
dengan laki-laki sehingga perempuan patut mendapatkan hak yang sama dengan laid-laid
atas pendidikan, pekerjaan, dan properti.
Gerakan perempuan dalam mempeduangkan hak-haknya dalam sektor publik belum
memberikan hasil yang menggembirakan. Kondisi ini kemudian diperparah dengan
adanya Revolusi lndustri pada abad ke-19 yang semakin menyingkirkan dan
mengeksploitasi perempuan akibat proses urbanisasi dan proses diferensiasi kelas sosial.
Pada 1950, KOWANI kembali didirikan. iiiiikt ongresnya pada 1952 di Bandung,
organisasi ini mengirimkan resolusinya kepaduemerintah yang berisi beberapa tuntutan
sebagai berikut:
1. Pemberian tempat bagi perempuan di Pengadilan Agama dalam hal yang berkaitan
dengan masalah perkawinan dan perceraian
2. Penyelenggaraan pendidikan khusus bagi pejabat urusan perkawinan
3. Pembentukan Paniva Pendidikan Wanita yang bertugas merencanakan sistem
pendidikan bagi kaum perempuan
4. Penambahan jumlah anggota perempuan pada Dewan Penasehat Biro tenaga kerja
5. Tindakan keras terhadap penerbitan yang bersifat asusila
Hak-hak perempuan yang tersurat dalam dokumen-dokumen tersebut di antaranya:
1) hak-hak dalam bidang sosial politik .rte- hak memilih dan dipilih
- hak untuk menempati jabatan publik dan pemenntahan
- hak untuk berserikat
2) hak-hak dalam bidang pendidikan
- hak yang sama atas tingkat dan standar pendidikan seperti laki-laki
- hak atas keterampilan dan teknologi
- hak untuk melanjutkan pendidikan dan jenis pendidikan apapun yang mengurangi
kesenjangan pendidikan antara lald-lala dan perempuan
- hak atas pengajaran yang bebas dan streotipe gender
- hak untuk berpartisipasi aktif dalam olah raga dan pendidikan jasmani
3) hak-hak dalam bidang pekerjaan
- hak untuk bekerja,
- hak atas kesempatan kerja dan perlakuan yang sama
- hak atas pekerjaan dan memilih pekerjaan yarig diSukai
- hak atas situasi kerja yang adil dan nyaman dengan upah yang cukup untuk
memenuhi standar hidup ditambah jaminan sosial bila perlu, dengan nominal yang
sama dengan yang diterima laki-laki untuk pekerjaan yang sama.
- hak atas perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk perlindungan
terhadap fungsi reproduksi
- hak mendapatkan pinjaman bank, hipotek, danbentuk kredir keuangan lainnya,
- hak bagi perempuan yang tinggal dipedesaan atas kredit dan pinjaman pertanian,
fasilitas pemasaran, teknologi yang sesual, dan perlakuan yang sama dalam bidang
reformasi tanah dan agraris
- hak atas cuti hamil dentan gaji atau jaminan sosial yang memadai tanpa has
kehilangan pekerjaan, senioritas, atau tunjangan sosial
- hak untuk tidak diberhentikan daripekerjaan karena hamil
- hak untuk menerima jaminan kesehatan ketika cuti hamil termasuk tunjangan pra
dan pasca kehamilan

4) hak-hak dalam perkawinan


5) hak-hak atas perlindungan dari perdagangan dan eksploitasi perempuan

c. Tantangan dan Strategi Perjuangan Penegakan HAM dalam Perspektif


Sejarah perjuangan kauniperempuan dalam melawan ketidakadilan gender di atas
menunjukkan bahwa hambatan ada di semua level, baik pemerintah maupun masyarakat
itu sendiri.
Seiring dengan jatuhnya Orde Baru proses teformasi di Indonesia memberikan
kesempatan yang lebih menjanjikan kepada perempuan untuk rnemperbaiki kondisinya.
Islam dan HAM
Islam adalah agama universal yang mengajarkan keadilan bagi semua manusia tanpa
pandang bulu. Ajaran Islam mengandung unsur-unsur keyakinan (akidah), ritual (ibadah) ,
dan pergaulan sosial. Sebagai agama kemanusiaan Islam meletakkan manusia pada posisi
yang sangat mulia. Manusia digambarkan oleh al-Qur'an sebagai mahluk yang paling
sempuma dan hams dimuliakan. Sebagai ajaran kemanusiaan, Islam menekankan bahwa
hak kepemilikan harus memiliki nilai sosial.
Adanya penekanan relasi hak individu dengan nilai sosial dalam Islam menunjukkan
bahwa Islam mengajarakan bahwa tuntutan hak tetap harus dibarengi dengan pelaksanaan
kewajiban dalam kerangka melindungi hak orang lain.
Dalam lapangan sosial, Islam menekankan kemuliaan manusia berdasarkan pada peran
sosialnya, bulcan jenis kelaminnya. Kualitas manusia menurut Islam diukur dari tingkat
kebermanfaatan seseorang bagi orang sekitarya. HAM dan Islam, seorang (Muslim)
warga negara yang balk adalah mereka yang menghormati dan menjaga hak orang lain.
Penghormatan atas hak asasi orang lain.