You are on page 1of 9

Melakukan studi yang lebih cermat dan melaporkannya kepada dewan

ekonomi dan sosial. Prosedur 1235 bersifat membuka kesepatanuntuk


membentuk kelompok kerja tematis spesifik negara, sebagai mana dalam
bab diatas.

Prosedur 1235 bukan prosedur pengakuan individual. Komisi bebas


untuk menentukan apakah informasi dapat dipelajari ebih lanjut,lalu negara
bersangkutan akan mengambil putusan tentang pelanggarab HAM individual.
Hasil kegiatan tersebut bersifat terbuka dan berkarakter mempelajari
laporan-laporan negara daripada perorangan.

Prosedur 1503 disusun sebagai pengakuan individual.prosedur ini


dipelajari oleh dewanmsecara konfidensial komunikasi individual. Pertama-
tama sekertariat akan menguji korban, orang lain dan organisasi non
pemerintah. Langkah selanjutnya subkomunikasi hanya menganalisa untuk
menemukan bukti layak adanya pelanggaran HAM berat. Yang kemudian
dewan mempelajari situasi tersebut dan melaporkannya kepada Dewan
Ekonomi dan Sosial dan memutuskan untuk membentuk pelapor khusus dan
memindahkan ke prosedur 1235 yang bersifat publik.

Hasil peninjauan kembali tersebut bargantung seluruhnya pada negara


yang bersangkutan untuk bekerja sama dengan dewan untuk mengubah
praktik Ham tersebut. Kebanyakan negara akan berbuat sebaik2nya untuk
mengikuti nasihat dari dewan. Yang bersifat terbuka hanyalah bagian dimana
negara mana yang sedang diinvestigasi dan tidak ada informasi tentang
pelanggaran yang menjadi perhatian.

Tidak semua komunikasi akan di periksa oleh subseksi. Kriteria dapat


di terima menurut resolusi subkomisi (nomor 1 (XXIV) ) tertanggal 13 agustus
1971. harus ada pola konsisten pelanggaran HAM, kebebasan dasar yg
terbukti andal. Komunikasi anonim dan komunikasi media tidak diterima.
Remidi harus tuntas kecuali komunikasi tidak menggambarkan fakta-fakta
kasus yang dimaksut. Pada tingkat yang lebih umum prinsip yang
bertentangan dengan piagam PBB tidak akan diterima.

Prosedur 1503 telah dikritik, karana alasan terutama tidak efisien.


Konfiderasi hal baik , namun kurangnya transparasi kemudian menjadi
masalah. Fungsi prosedur yang paling penting adalah fokus kepada negara
yang memiliki masalah dan masyarakatnya perduli kepada hal tersebut. Sisi
positifnya bahwa prosedur 1503 dapat mendasarkan keputusan pada
gagasan norma-norma HAM yang masi umum.

Prosedur 1503 di perbaiki pada tahun 2000 menurut resolusi dewan


ekonomi dan sosial, 2000/3 tertanggal 16 juni 2000.suatu perubahanyang
penting adalah pembentukan kelompok kerja yang baik dibawah sub komisi
maupun komisi dan penyaringan kasus-kasus. Perbaikan baru prosedur 1503
dilakukan akhir juni 2007 oleh dewan hak asasi manusia.

Komisi tentang status perempuan akan dibentuk oleh dewan ekonomi


dan sosial pada 1946. badan politik dengan 45 anggota dan dipilih bertemu
sebagai wagil dari pemerintahan mereka. Komisi tersebut hanya
berklangsugn 8 hari dan tidak membangun tindakan mekanisme, lalu komisi
tersebut bertemu di new york.

Pada tahun pertamanya, komisi ini bekerja ubntuk menetapkan


standar HAM baik dalam DUHAM 1948maupun di konvenan kembar 1966,
namun juga pada konfrensi-konfrensu maupun dokumen khusus.dokumen
HAM utamanya adalah untuk menghapus diskriminasi terhadap wanita dan
protokol opsinya telah mengatur penyelenggaraan konfrensi0konfrensi
perempuan sedunia, yang pelapornya mencoba untuk merumuskan hak-hak
perempuan terhadap sistem PBB.

Ketika membentuk komisi yang terpisah untuk hak-hak perempuan,


pihak lain selain Dewan ekonomi dan sosial memisahkan isuisu perempuan
dari kegiatan HAM yang lebih umum oleh komisi HAM. Ketika membentuk
sistem pengaduan, hal ini banyak terjadi tumpang tindih dengan sistem yang
ada menurut komisi HAM. Karena alasan ini, komisi tersebut tidak dapat
menjalankan perannya seperti yang seharusnya dapat dilakukannya.

( d ) komisariat tinggi untuk HAM

sekertariat PBB yang di pimpin oleh sekertaris jendral mencakup kegiatan


yang sangat luas. Dimana komisaris tinggi mempunyai status sebagai wakil
sekertaris – jendral. Komisaris tersebut dimaksut sebagai intuisi pelayanan
untuk banyak badan pemantauan yang berdasar piagam perjanjian
internasional, dan mempunyai mandat sendiri.

Pembentukan kantor untuk HAM mengalami kesukaran. Pembahasan


bermula pada 1950an, tetapi pada tahun 1993 masalah ini baru diangkat
komisaris HAM. Di perlukan 4 tahun lagi sebvelum komisarit tinggi bervungsi,
dengan penggabungan formal pusat HAM di newyork.

Mandat komisaris tinggi sangat kabur dan merupakan hasil dari


berbagai kompromi politik. Komisaris tinggi akan memainkan peran sebagai
ombudsman internasional yang aktif mencakup seluruh bidang HAM PBB.
Komisaris harus memberikan nasihat dan bantuan teknis tentang basis
dokumen – dokumen HAM di lebih dari 30 negara dan mendesak untuk
bekerjasama. Pemantauan akan dilakukan untuk membuka kritik terhadap
negara tertinggal dalam perlindungan HAM mereka

Pembiayaan aktivitas komisaris tinggi tidak sepenuhnya bermasalah


dengan sumbangan sukarela. Yang di permasalahkan bahwa akan terjadi
ketergantungan dengan sumbangan sukarela. Bahwa kedermawanan
membuat kinerja komisaris tinggi akan mendapat campur tangan, bahwa
dana diberikan mendukung bidang kegiatan yg memiliki prioritas tinggi
antara negara donor., terutama dari negara- negara yang tidaknyaman untuk
menjadi sasaran penlitian komisaris tinggi.

Sekertariat dan komisariat tinggi HAM berencana akan memindah


konfrensi sedunia HAM. Konfrensi pertama kali diadakan di teheran pada
1968, konfrensi tersebut doilakukan untuk membuka diskusi utara-selatan
tentang HAM. Dan membuka deklarasi tentang hak atas pembangunan.
Konfrensi selanjutnya diadakan di wina (1993) melibarkan 7000utusan dari
171 negara dan organisasi non pemerintah, lalu di kairo (1994), bejing
(1995), kopenhagen (1995) dan durban (2001).

(e) komentar penutup

mekanisme piagam menurut PBB, seperti pemantauan piagam PBB


yang sering di kritik. Sistem pemantauan yang di beri piagam dipandang
sebagai birokrasi yang berlebihan dan dinilai mandat yang tumpang tindih
tidak memiliki kekuatan karena banyak tekanan politik.

Sebab negara-negara yang kuat dapat mengendalikan perdebatan dan


resolusi-resolusi sedangkan negara kecil akan mendapatkan kecaman.
Merupakan hal yang sulit untuk menyamakan pengertian dalam praktik juga
beresiko bertubrukan. Disamping itu masih kurangnya SDA dan dana untuk
membahas berbagai masalah secara benar. Jika dipandang positif, sistem
pemantauan sudah dapat menyelesaikan pelanggaran HAM di seluruh bagian
dunia. Ketika dibangun terkadang terdapat tentangan antara organisasi non
pemerintah dengan anggota PBB sendiri untuk menghalangi sistem
pemantauan tersebut.

Sistem pemantauan lebih mendasarkan pembicaraan keputusan


hukum HAM namun tidak terlalu, dan pandangannya tidak mengikat hukum
negara-negara. Meskipun demikian kebanyakan negara lebih memilih sistem
mekanisme pemantauan dan sistem ini dirancang berdasar perjanjian
internasional. Efenya tidak dapat dinilai sebelum badan perjanjian
internasional juga dinilai.

(2) badan dan mekanisme perserikatan bangsa-bangsa berdasar perjanjian


internasional

(a) pengantar dan gambaran umum

setelah mengesahkan konveksi Ham internasional, suatu negara


berkewajiban hukum tertentu tentang perlakuan individu yang berada di
bawah yuridisdiksinya.sebagai titik awal individu-individu tidak di beri secara
langsung hak hak tersebut, namun setiap pelanggaran bagi kewajiban ini
akan disengketakan terhadap hukum internasional. Menurut pasal 2 ayat (2)
KIHSP, suatu negaradiminta untuk menerpkan tindakan legislatif atau
tindakan lain yang mungkin perlu untuk memberlakukan hak dalam konvebsi
apabila konvensi hak manusia internasional dimasukkan kedalam peraturan
perundang undangan nasional , orang –orang akan dapat membawa kasus
HAM ke pengadilan nasional. Dapat dikatakan bahwa norma hak asasi
manusia internasional harus ditrima, untuk memberikan efek hukum praktis
di tingkat nasional.

Perjanjian –perjanjian internasional ini membawa mekanisme bagi


pelaksananya di tingkat internasional. Babini membicarakan tentang badan-
badan perjanjian internasional tentang hak sipil dan politik (KIHSP) dan
konvenan internasional tentang hak ekonomi, sosial, budaya (KIHESB).

Sebelum mempelajari bab ini kita akan melihat secara singkat cara-
cara yang memungkinkan badan-badan perjanjian internasional itu untuk
melakukan tugas pemantauannya.

i) laporan negara

semua negara yang mengesahkan perjanjian internasional


berkewajiban menyiapkan laporan berkala mengenai tindakan-
tindakan untuk mengimpletasikan standar HAM yang tercantumdalam
konvensi-konvensi untuk hak ekonomi sosial dan budaya dalam
komentar umum no.1 tahun 1989, fungsi laporan trsebut adalah :

1. untuk memastikan bahwa negara pihak melakukan pembahasan


peraturan perundang-undangan nasional, peraturan
administratif, tata cara dan praktik secara penuh untuk
memastikan agar semua ini, sejauh mungkin sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang disebut dalam kovenan.

2. untuk memastikan dilakukannya pemantauan secara teratur


oleh negara pihak situasi sesungguhnya mengenai semua hak
yang dijamin konvenanuntuk menilai perlindungan individu yang
sesungguhnya.

3. merupakan dasar bagi pengembangan kebijakan nasional yang


tepat dan bertujuan jelas dibidang ini.

4. mengakomodasi pengawasan publik dengan kebijakan


pemerintah dan melibatkan sektor privat dalam perumusan,
implementasi dan pembahasan dari kebijakan ini.

5. merupakan dasar penilaian bik bagi para pihak maupun komite


atas kemajuan dalam implementasi hak-hak

6. menyediakan dasar yang lebih bagi negara-negara pihak untuk


memahami permasalahan yang terikat dengan impletasi hak-
hak.

7. mengakomodasi pertukaran informasi antara negara dan pihak.

Laporan- laporan dapat diakses oleh publik dan diperiksa oleh


komite dengan kehadiran wakil-wakil pemerintah negara pelapor.
Berdasar laporan komite menanyakan delegasi negara bersangkutan
tentang keadaan HAM di negara tersebut. Selain informasi komite juga
boleh mencari informasi dari organisasi-organisasi non pemerintah.
Lalu dapat dilakukan observasi penutup dimana komite menyampaikan
evaluasinya baik respon positif maupun kekhawatiran negativ sebagai
penutup. Komite membuat rekomendasi khusus kepada negara pihak
yang bersangkutan mengenai tindakan yang perlu yang harus diambil
dalam rangka memperbaiki situasi yang kemudian di laporkan kepada
majelis PBB.

ii) komentar umum

bagian dari mandat komite adalah untuk membuat “komentar


umum” atau “rekomendasi”, lihat misalnya KIHSP pasal 40 ayat (4)
komentarumum terfokus pada cara pelaroran dan komentar umum
supaya tidak menyebut nama negara tertentu. Komentar menjelaskan,
menspesifikasi, membatasi, dan menerangkan ketentuan-ketentuan
ketentuan individual dalam konvenan serta mejelaskan berbagai
ketentuan dan perjanjian internasional. Komite mengetahuinya dari
evaluasi sebagian besar laporan nedara dan atau pengaduan kasus
sebagai ahli.

Komentar umum berfungsi sebagai panduan yang berharga


untuk menerapkan kepada konvenan. Komentar tersebut didasarkan
oleh pengalaman komitye penelaahan petisi individu dan laporan
negara yang mjecerminkan praktik di lapangan. Komentar tersebut
disebarluaskan dan di gunakan oleh komite individu, institusi
internasional, negara-negara, dan organisasi non pemerintah. Dalam
praktik hal tersebut mecerminkan pada hukum kebiasaan. Ku mpulan
dari komentar umum/ rekomendasi-rekomendasi terdapat dalam
dokumen PBB HRI/GEN/1/Rev.7, yang revisi taunnya sedang dipikirkan.

iii) pengaduan individu

individu-individu dapat mengajukan petisi kepada komite HAM


yang

setiap individu yang mengklaim bahwa haknya menurut konvensi telah


terlanggar dapat menyampaikan kepada badan perjanjian
internasional yang relevan. Persyaratannya adalah negara tersebut
telah menerima kewenangan komite untuk berbuat, dan diharus
dipenuhi telah tuntasnya remidi domestik (KIHSP, protokol opsional I,
pasal 2) sangat banyak yang di tolak karena tidak adanya keberadan
dibawah yurisdiksi negara. Puncak petisi-petisi tersebut adalah setelah
menyampaikan pandangannya terhadap fakta hukum.

Pandangan ini tidak mengikat secara hukum dan tidak


mempunyai kompetensi sebagai pengadilan, namun komite-komite
tersebut diberikan bobot hukum tersendiri maupun oleh negara-negara
pihak.

iv) pengaduan antar negara

pengaduan antar negara dapat disampaikan kepada komite


tentang penghapusan komisi rasial, dan komite menentang
penyiksaan. Mekanisme pengaduan antarnegara tertuang dalam pasal
74. pengaduan akan dilakukan sebagai reaksi perlakuan tidak baik
terhadap individu ysng berada di yuridiksi negara lain dan komite
hanya berwenang untuk memeriksa.

Dalam pengadilan HAM didtem tersebut digunakan pada


12kasus (1 kasus italia, 2kasus yunani, 3 kasus inggris, dan 6 kasus
turki). Lebih dari 300.000 permohonan dilakukan, alasannya adalah
tinginya harga diplomasi yg dibayar dan resiko miningkatkan konflik
atas yang bersangkutan.

(V) misi pencari fakta

mekanisme pemantaua yang digambarkan diatas didasarkan


pada informasi yang diserahkan oleh negara-negara pihak melalui
pengaduan internasional. Atas dasar informasi, komite memberi
mandat kepada substantif komite-komite untuk melakukan
penyelidikan sendiri. Protokol opsional konvensi menentang
penyiksaan mulai berlaku pada 26 juni 2006 meluaskan wewenang
komite ini.

Prosedur penyelidikan dimulai dengan informasi dari individu,


kelompok, maupun negara, yang selanjutnya mengundang negara
yang bersangkutan, dapat juga melakukan penyelidikan konfidensial.
Lalu rancangan laporan akan dibahas dan di ringkas untuk diterbitkan
dalam laporan taunan komite.
v) hubungan dengan mahkamah internasional

mahkamah internasional dibentu PBB untuk menyelesaikan


persengketaan antar negara-negara berdasar hukum internasional
publik.dalam pengertian ini berarti mahkamah internasional dapat
menafsirkan juga tentang hukum HAM. Semua konvensi membuka
kemungkinan dirujuknya persengketaan antar negara –negara pihak
tentang penafsiran atau penerapan konvensi-konvensi tersebut kepada
mahkamah internasional. Banyak negara membuat reservasi terhadap
hal ini, tetapi Mekanisme ini tidak di bahas lebih jauh.

(b) komite untuk hak ekonomi, sosial dan budaya

bagian ini telah diatur di bagian VI(pasal 16-pasal 25) mengatur


mekanisme pemantauan. Menurut pasal 16 ayat (1) negara pihak
menyampaikan laporan tantang tindakan-tindakan dan kemajuan yang
telah dicapai dalam pemantauan hak-hak yang diakui didalamnya,
sedangkan pasal 16 ayat (2) memberi dewan ekonomi dan sosial
kewenangan untuk membahas laporan-laporan tersebut. Lalu
disampaikan pada badan-badan khusus PBB dan komite HAM untuk
memperoleh perhatian badan-badan tersebut, lihat pasal 16 ayat (2)
huruf (b).

Dewan berfungsi sebagai forum sentral bagi pembicaraan isu-isu


ekonomi internasional dan sosial lalu membuat rekomendasi terhadap
hal tersebut dan menyampaikanya. Dewan ekonomi dan sosial harus
mengajukan penghargaan pada pemenuhan HAM dan kebebasan
dasar, dan melakukan konfrensi serta perjanjian internasional. Dewan
tersebut harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan PBB dan badan-
badan khusus seperti ILO, WHO, UNESCO dan organisasi non
pemerintah yang relevan.

Menurut piagam PBB pasal 68 bagian utama oprasionel dewan


tersebut didelegasikan jepda komisi-komisi, komisi-komisi tersebut
dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

1. koisi fungsional, seperti bekas komisi HAM, komisi tentang status


perempuan dan komisi tentang pembangunan yang berkelanjutan.

2. komisi-komisi regional untuk afrika, asia pasifik, amerika latin


karibian, eropa dan asia barat.

3. komisi tetap dan badan ahli, seperti komisi untuk program dan
koordinasi serta komisi tentang pemukiman manusia.
Pada 1958, dewan ekonomi dan sosial menyerahkan laporan
pembahasan pada komite untuk hak ekonomi, sosial dan budaya.
Komite ini merupakan komiti ahli dengan 18 anggota yang dipilih oleh
dewan ekonomi dan sosial. Tugas utama komite ini adalah mengawasi
implementasi nasional hak-hak yang tercantum dalam KIHESB. Metode
kerjanya ditandai oleh aspirasi untuk melakukan dialog dengan
negara-negara lalu memberikan sumbangan pada pembuatan
komentar yang membangun rekomendasi khusus.

i) laporan negara

sebagai titik tolak komite membahas laporan negarayang


diharuskan untuk menyampaikan laporan yang bersangkutan menurut
KIHESB, pasal 17 ayat (1). Laporan harus disampaikan dalam waktu
dua tahun bagi negara yang bersangkutan dan sesudahnya setiap 5
tahun. Laporan tersebut merupakan dasar bagi rekomendasi komite
maupun komentar umum. Namun ada beberapa masalh seperti
keterlambatan laporan dan bahkan tidak sama sekali.

Laporan-laporan ini dibahas oleh komite dengan kehadiran


delegasi negara yang bersangkutan. Wakil- wakil negara diundang dan
diberi pertanyaan, setelah itu di buat observasi penutup. Laporan
tersebut mencakup perkenalan umum, sesudah itu menunjuk pada
kekuatan dan kelemahan penghormatan negara pada HAM dan
dibentuk sebagai rencana kerja atau alat untuk negara.

ii) pengaduan antar negara atau individual

PBB telah lama membicarakan tentang protokol tambahan bagi


konvenan inernasional KIHESB tentang akses pada sistem pengaduan
individual pelanggaran ketentuan konvenan. Rancangan tersebut
dibahas pada 1997 memperoleh pergatian kecil. Karena terdapatnya
pendapat bahwa dari ketentuan KIHESB di bentuk berdasar tujuan
politik dan bukan hal kongkret yang harus ditegakkan. Alasan lainnya
karena negara-negara bersifat skeptis terhadap badan badan
pemantauan yang dibentuk berdasar perjanjian internasional. Aebuah
kerja baru diangkat pada tahun 2003 yang akan di pelajari
kemungkinan kemungkinan mekanisme pengaduan. Sistem yang tidak
mempunyai dasar yang kuat ini kiranya tidak akan memperoleh
banyak dukungan karena pengalaman berdasar konvensi lainnya.

iii) komentar umum

sampai sekarang komentar umum telah dikaitkan dengan


laporan olehnegara-negara pihak (no.1); tindakan bantuan
teknisinternasional (no.2); sifat dan ciri-ciri kewajiban negara-negara
pihak, pasal 2 ayat (1) (no.3) : hak atas perumahan yang layak, pasal
11 (no.4); penyandang cacat (no.5); hak ekonomi sosial dan budaya
untuk orang tua lanjut (no.6); hak atas perumahan yang layak,
pengurusan, pasal 11 ayat (1) (no.7); hubungan antara sanksi ekonomi
dan penghormatan hak ekonomi sosial dan budaya (no.8) penerapan
dalam negeri konvenan (no.9); peran institusi konvenan internasional
tentang ekonomi, sosial dan budaya (no.10); rencana aksi untuk
pendidikan dasar, pasal 14 (no.11); hak atas pangan yang layak, pasal
11(no.12); hak atas pendidikan, pasal 13 (no.13): hak atas meraih
kesehatan tertinggi yang dapat di raih, pasal 12 (no.14); hak atas air,
pasal 11 dan 12 (no.15) Hak yang setara antara perempuan dan laki-
laki dalam penikmatan hak ekonomi sosial dan budaya, pasal 13
(no.17); dan hak atas pekerjaan pasal 16 (no. 18).