You are on page 1of 39

A.

JUDUL PENELITIAN

KONSEP MULTIKULTURALISME ABDURRAHMAN WAHID

(TINJAUN FILSAFAT ILMU)

B. KONTEKS PENELITIAN

Allah menciptakan manusia dengan berbagai suku-suku untuk saling kenal

mengenal, suku merupakan kumpulan masyarakat yang berdasarkan keturunan dan

adanya pimpinan yang di patuhi, kebijakan yang di buat oleh pemimpin menjadi

sistem keteraturan yang harus di ikuti oleh masyarakat tersebut, yang bertujuan untuk

mensejahterakan dan mengkordinir segala aktivitas menjadi satu visi. Dari aktivitas

suku inilah budaya muncul, keberagaman khas yang setiap suku memilikinya,

kebudayaan melekat menjadi sebuah pemahaman dan keyakinan serta prinsip idiologi

yang tanpa sadar menjadikan gesekan antar suku yang mempunyai budaya yang

berbeda ketika mereka berinteraksi, gesekan berupa hal yang positif akan melahirkan

toleransi dan masyarakat yang humanis, sebaliknya, gesekan yang negatif akan

melahirkan keretakan dan kesenjangan bahkan permusuhan sampai fase kekerasan

saling beradu otot.

Budaya mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan perkembangan

manusia karena kebudayaan suatu wahana di mana anak-anak manusia untuk pertama

kali dan seterusnya mengalami proses pembelajaran menjadi manusia melalui

relasinya dengan sesamanya, alam dan Yang Maha Tinggi dalam kehidupan sehari-

1
2

hari yang kongkret dan apa adanya. Oleh sebab itulah kebudayaan disebut sebagai

Life-world (Andre,2009)

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan, yang dalam

peradabannya tetap eksisi mewarnai kehidupan bermasyaraat. Setelah

kemerdekaannya tahun 1945, integritas kebudayaan di negara yang berlandaskan

pancasila ini mulai di akui, sampai kepada presiden yang ke dua yakni Soeharto yang

berkuasa selama 32 tahun, Soeharto membalut suatu kebudayaan ini dengan

pembangunan yang membanggakan tetapi di satu sisi lain ia memakai sisitem

kukuasaannya dengan paradigma otoriter, diskursif dan dominatif dalam berbagai

segi kehidupan bernegara dan berbangsa. Berbagai perbedaan pandangan ditekan dan

dikikis dan terkadang dianggap melawan pemerintah, kebijakannya seperti seorang

peramal yang harus di ikuti, karna ia merasa paling mengetahui apa yang menjadi

kebutuhan masyarakat.

Kebijakan masa soeharto di kenal sebagai Rezim orde baru, setelah rezim ini

runtuh pada tahun 1998 menjadi sebuah angin segar bagi alam demokrasi, Kebebasan

yang sekian lama berada di balik tirai besi akhirnya lepas juga, namun kebebasan

bukan berarti bebas tanpa aturan dan norma. Berbagai macam kerusuhan dan tindakan

main hakim sendiri dengan dibungkus kertas dan kepentingan persoalan sosial

ekonomi, politik dengan nuansa suku, agama, ras dan antar golongan maupun

individu satu golongan yang cukup kental di berbagai belahan Indonesia misal:

kerusuhan Poso, kerusuhan Ambon, kerusuhan Sampit, dan lainnya. Belum lagi
3

kerusuhan yang di daerah-daerah yang skala kerusuhannya kecil tatapi menimbulkan

efek yang besar. Perbedaan pandangan, suku, ras dan agama kadang dijadikan alasan

untuk pembelaan diri. Fenomena kebudayaan ini sangat disayangkan bahwa

masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang berkemanusiaan dan

berbudi. Ini menandakan penghormatan atas keragaman budaya belum dijunjung

tinggi dan belum di terima dengan baik.

Perlu adanya suatu pemikiran yang mendudukkan fenomena keragaman

kebudayaan agar menjadi pengetahuan yang bisa menjadi khazanah bagi masyarakat

agar bisa menyikapi kebudayaan dengan baik serta terciptanya perdamaian dan

toleransi. Kajian Filsafat Ilmu merupakan alternatif yang tepat untuk membahas

multikulturalisme di zaman dewasa ini, di lengkapi dengan buah pemikiran tokoh

Abdurrahman Wahid yang menggunakan paradigma kontekstualisasi pemikiran

klasik, yaitu respon positif dan kreatif terhadap perubahan dan sikap keberagamaan

yang inklusif dan toleran, bisa diekspresikan secara nyata oleh Abdurrahman Wahid.

Ia merupakan seorang tokoh budaya, agama, serta politikus yang mampu

mempeluangi keragaman sekaligus seorang manusia yang mampu menikmati

keragaman budaya itu.

Abdurrahman Wahid adalah seorang intelektual Indonesia yang menonjol dan

sangat disegani. Tokoh yang sudah lebih dari 15 tahun menjabat ketua umum

pengurus besar Nahdhatul Ulama (NU), organisasi kaum tradisionalis, ini sering

menghiasi halaman-halaman koran. Di luar pemerintah dan figur militer hal ini sangat
4

sulit dibayangkan. Selama tahun-tahun ini popularitasnya mengalami pasang dan

surut, yang biasanya berkaitan dengan manuver politiknya dan juga yang tidak boleh

dilupakan, tingkat pemahaman terhadap manuvernya. Dalam beberapa tahun terakhir

Abdurrahman Wahid menjadi semakin kontroversial, ketika dia berusaha melerai

pihak-pihak yang terlibat kekerasan. Kendati demikian, Abdurrahman Wahid tetap

dan bahkan semakin populer, sebagai figur karismatik dan tokoh yang memberi cinta

bahkan pada orang-orang yang mengkritiknya. Salah satu aspek yang paling bisa

dipahami dari Abdurrahman adalah bahwa ia adalah penyeru Pluralisme dan

Multikulturalisme, pembela kelompok minoritas, khususnya cina Indonesia. Sebagai

figur yang yang memperjuangkan diterimanya kenyataan sosial bahwa Indonesia itu

beragam. Yang secara luas tidak atau tepatnya kuarang diapresiasi adalah bahwaa

Abdurrahman Wahid itu adalah orang yang bangga sebagai seorang muslim. Dia

sngat mencintai kebudayaaan Islam tradisionalnya dan juga pesan utama Islam sendiri

Greg barton (dalam Prisma, 2000)

Pemaksaan terhadap cara hidup yang berbeda dari yang dianut seseorang

adalah sebuah pelanggaran atas harkat dan martabat manusia yang unik, dan sekaligus

juga pengingkaran atas identitas dan jati diri setiap orang sebagai pribadi yang unik.

Demikian pula sebaliknya, penghambatan terhadap orang lain dalam melaksanakan

identitas agama, budaya, jenis kelamin, dan aliran politiknya yang berbeda sejauh

tidak mengganggu tertib bersama adalah juga sebuah pelanggaran atas harkat dan
5

martabat manusia yang unik. Ini semua dihayati oleh Abdurrahman Wahid secara

konsekuen.

Multikulturalisme pada dasarnya merupakan kekuatan pemikiran yang

memandang adanya berbagai pluralitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat

itu ada, baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum maupun agama,

dan harus tetap dijaga keberadaannya, agar keseimbangan kehidupan bangsa tidak

jatuh pada ekstrimisme ideologis tertentu saja. Jika pemikiran multikulturalisme itu

terjaga, maka akan terjadi pengkayaan spiritualitas untuk memperkuat pandangan

kesatuan dalam keberagaman yang sesungguhnya telah mendasari bagi kehidupan

kita dalam berbangsa dan bernegara.

Didalam pemikiran tentang Multikulturalisme, Abdurrahman Wahid mencoba

tidak hanya menggunakan hasil pemikiran Islam tradisional namun lebih pada

penggunaan metodologi teori hukum (ushul al-fiqh) dan kaidah-kaidah hukum

(qawaid fiqhiyah) serta pemikiran kesarjanaan Barat dalam kerangka pembuatan

suatu sintesis untuk melahirkan gagasan baru sebagai upaya menjawab perubahan-

perubahan aktual. Seperti ditegaskan Nurcholish Madjid suatu generasi tidak bisa

secara total memulai upaya pembaharuan dari nol, melainkan mesti bersedia

bertaqlid, yang berarti melakukan dan memanfaatkan proses akumulasi pemikiran-

pemikiran masa lalu. Namun, warisan-warisan masa lalu tidak sekedar dihargai, tetapi

sekaligus harus dihadapi secara kritis agar lahir pemikiran-pemikiran kreatif. Tanpa
6

adanya pengahargaan terhadap warisan keilmuan klasik maka proses pemiskinan

kultural akan terjadi. (Masdar Umaruddin, 1998)

Abdurrahman Wahid membangun citra dirinya sebagai pendukung kuat

idealisme Negara Pancasila. Bagi Abdurrahman Wahid, multikulturalisme yang

secara implicit terkandung di dalam Pancasila merupakan prasyarat yang sangat

penting dalam pembangunan sebuah masyarakat demokratis di negeri ini. Dalam

pandangan Abdurrahman Wahid, Pancasila adalah sebuah kesepakatan politik yang

memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan kehidupan nasional

yang sehat di dalam sebuah Negara kesatuan, namun ia masih melihat adanya

sejumlah ancaman terhadap konsepsi Pancasila sebagaimana yang diharapkan.

Perjuangan Abdurrahman Wahid akan multikulturalisme tidak pernah lelah,

bahkan di saat wafatnya beliau di tahun 2009 menyisahkan tanda tanya besar bagi

masa depan bangsa Indonesia yang sarat muatan multikulturalisme, adakah wajah

multikulturalisme indonesia akan semakin redup ataukah semakin bercahaya, karena

di balik Abdurrahman Wahid ada kekuatan besar dari warga NU tradisionil yang

sangat banyak jumlahnya dan sangat loyal mendukungnya. Sekarang Abdurrahman

Wahid sudah wafat, dan mungkin tidak tergantikan lagi oleh orang lain yang

peranannya begitu besar dalam perjuangan multikulturalisme yang mendapat

dukungan luas dari segala komponen bangsa. Banyak sekali penghargaan yang beliau

dapatkan, baik nasional maupun internasional, penghargaan yang diberikan oleh

masyarakat Indonesia di nobatkan sebagai Guru bangsa, Presiden Susilo Bambang


7

Yudoyono juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada beliau dengan memberi

gelar sebagai tokoh Pluralisme dan Multikulturalisme.

Satu persatu penghargaan masih terus diterima almarhum Abdurrahman

Wahid. Tanggal 25 Januari 2010 presiden ke-4 RI tersebut ditahbiskan rakyat Papua

sebagai bapak demokrasi Papua. Sebutan bapak demokrasi Papua tersebut

dideklarasikan dalam acara : Gus Dur, 10 Tahun Kembali Nama Papua (1 Januari

2000-1 Januari 2010). Acara tersebut diselenggarakan di GOR Cendrawasih,

Jayapura. Don Flassy, salah seorang tokoh Papua yang memperoleh kesempatan

memimpin renungan dalam acara itu, menegaskan bahwa jasa Abdurrahman Wahid

bagi masyarakat Papua cukup besar. Ketika menjabat presiden, Abdurrahman Wahid

lah yang mengembalikan nama Papua sebagai pengganti Irian Jaya. Flassy bahkan

mengibaratkan Abdurrahman Wahid seperti Douwes Dekker-nya Papua. Jika Douwes

Dekker berjuang untuk kesetaraan antara rakyat Indonesia dan Belanda,

Abdurrahman Wahid berjuang agar masyarakat Papua setara dengan masyarakat lain

di propinsi lain di Indonesia.

Dengan memahami pola pemikiran Abdurrahman Wahid tenteng kebergaman

kultur, secara tidak langsung kita melanjutkan perjuangan beliau, multikulturalisme

masyarakat bukan hanya terletak pada suatu pola hidup berdampingan secara damai,

karena hal ini masih sangat rentan terhadap munculnya kesalahpahaman antar

kelompok masyarakat yang pada saat tertentu bisa menimbulkan disintegrasi. Lebih

dari itu, penghargaan terhadap multikulturalisme berarti adanya kesadaran untuk


8

saling mengenal dan berdialog secara tulus sehingga kelompok yang satu dengan

yang lain memberi dan menerima.

Sangat penting dan menjadi suatu keharusan bagi masyarakat yang berada di

indonesia mengenal dinamika sosial. Mereka harus dididik untuk bisa mendialogkan

kemaslahatan umat dan hak demokratisasinya serta diberi kesempatan dengan

menghilangkan kesan didekte. Menerima dan menghayati multikulturalisme berarti

pertama-tama ada pengakuan mengenai adanya orang lain dalam keberbedaan dan

keberlainannya. Inilah yang disebut Will Kymlicka sebagai the politics of recognition

(sikap yang secara konsekuen mengakui adanya keragaman, keberbedaan, dan

kelompok lain sebagai yang memang lain dalam identitas kulturalnya). Lebih dari itu,

negara hendaklah memberikan pelayanan yang sama terhadap semua warga

negaranya tanpa kecuali. Demikian juga tradisi budaya yang ada dalam setiap

kelompok sosial hendaklah dipahami sebagai nilai-nilai kehidupan dunia (world life).

Negara memiliki jarak yang sama terhadap setiap warganya. keragaman bukan saja

diakui akan tetapi harus diberikan kebebasan karena dengan keragaman maka akan

saling melengkapi satu dengan yang lain. Sekarang, keragaman identitas menjadi

persoalan yang serius dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, penelitian Konsep Multikulturalisme Abdurrahman Wahid ini

merupakan suatu langkah untuk menggali pemahaman dan mengumpulkan ide-ide

Multikulturalisme serta paradigmanya Abdurrahman Wahid dalam tinjauan filsafat

ilmu, sehingga nantinya bisa menjadai khazanah pengetahuan serta menjadikan


9

pemahaman yang baik akan keberagaman budaya Indonesia. Konsekuensi lebih lanjut

dari pengakuan ini, masyarakat yang beragam-ragam itu harus dijamin dan dilindungi

haknya untuk hidup sesuai dengan keunikan dan identitasnya. Dasar moral dari

pengakuan, jaminan, dan perlindungan ini adalah humanisme (setiap orang hanya bisa

berkembang menjadi dirinya sendiri dalam keunikannya), maka penulis mengambil

judul (Konsep Multikulturalisme Abdurrahman Wahid, Tinjauan Filsafat Ilmu)

C. FOKUS MASALAH

Dari uraian latar belakang diatas, penulis dapat memfokuskan masalah sebagai

berikut :

1. Bagaimana Konsep Multikulturalisme Perspektif

Abdurrahman Wahid ?

2. Bagaimana Konsep Multikulturalisme Abdurrahman

Wahid Tinjauan Filsafat

Ilmu?

D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1. Tujuan

Di samping latarbelakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan

diatas, maka skripsi ini juga mempunyai tujuan yaitu:


10

a) Untuk mengetahui dan menguraikan secara langsung konsep

Multikulturalisme Perspektif Abdurrahman Wahid.

b) Untuk mengetahui dan menguraikan Konsep Multikulturalisme

Abdurrahman Wahid Tinjauan Filsafat Ilmu.

2. Manfaat Penelitian

a)Secara Teoritis

Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi khazanah ilmu

pengetahuan yang ada kaitannya dengan pendidikan multikulturalisme dan

mengkaji lebih lanjut pemikiran Abdurrahman Wahid tentang metodologi

multikulturalisme dalam tinjauan filsafat ilmu serta adanya tuntunan praktis

untuk masyarakat dalam memandang keragaman budaya.

b)Secara Praktis

Pembahasan ini diharapakan dapat memberikan kontribusi

pengetahuan bagi mereka yang menginginkan toleransi dan kedamaian serta

bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan politik, dan bagi

pihak-pihak yang kontra dengan multikulturalisme Abdurrahman Wahid dalam

melindungi humanisme.

E. BATASAN ISTILAH

Untuk menghindari kekaburan pemahaman isi dari skripsi ini, maka terlebih

dahulu perlu adanya penegasan judul agar pembahasan skripsi ini tergambarkan
11

secara terang dan gamblang serta untuk menghindari suatu hal yang tidak diinginkan.

Adapun yang perlu penulis tegaskan adalah sebagai berikut :

Konsep : Konsep adalah kesan mental, suatu pemikiran, ide, suatu

gagasan yang mempunyai derajat kekonkretan atau

abstraksi, yang digunakan dalam pemikiran abstrak.

(Lorens Bagus,1996:482).

Dari pengertian di atas, maka konsep yang dimaksud di

sini adalah sejumlah gagasan, pandangan, ide-ide,

pemikiran yang dikemukakan oleh Abdurrahman Wahid

berkaitan dengan gagasannya tentang multikulturalisme.

Multikulturalisme : Lawrence Blum (dalam Andre, 2009:14) mendefinisikan

bahwa “Multikulturalisme meliputi sebuah pemahaman,

penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta

sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya

etnis lain. Multikulturalisme meliputi sebuah penilaian

terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti

menyetujui seluruh aspek dari budaya-budaya tersebut,

melainkan mencoba melihat bagaimana sebuah budaya

yang asli dapat mengespresikan nilai bagi anggota-

anggotanya sendiri”.
12

Abdurrahman Wahid : Abdurrahman Wahid lahir 7 september 1940 di Jombang,

Jawa Timur, dengan nama Abdurrahman Wahid ad-

Dakhil. Ia tumbuh dan berkembang di kalangan keluarga

santri. Kakeknya, KH. Hasyim Asy’ari adalah pendiri

NU. Ayah beliau adalah seorang yang pernah menjadi

menteri agama pertama RI yaitu KH. A. Wahid Hasyim.

Tokoh agama, budaya serta tokoh perdamaian, ini

terbukti ketika ia menjabat Presiden WCRP (Wordl

Council for Religion and Peace). Tahun 1984 Ia terpilih

secara aklamasi menjadi ketua umum PBNU dan pada

tahun 1999 terpilih menjadi Presiden RI. Aktif menulis di

beberapa media cetak, Mendapatkan gelar dari berbagai

macam lembaga pendidikan, dan mendapatkan

penghargaan sebagai tokoh Pluralisme dan

Multikulturalisme serta bapak Demokratisasi Indonesia.

wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah

Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45

akibat berbagai komplikasi penyakit, terutama gangguan

ginjal, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia

harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin.

Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat


13

dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di

Jawa Timur, di makamkan di Jombang Jawa Timur.

F. METODE PENELITIAN

Ahmad Tafsir (2008:8) Mendefinikan Motede ialah istilah yang digunakan

untuk mengungkapkan pengertian “cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan

sesuatu.”

Metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode, jadi metodelogi

penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam

penelitian (Jujun, 2001:328)

Metodologi penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari

peraturan-peraturan yang terdapat dalam penelitian. Bila ditinjau dari sudut filsafat,

metodologi penelitian merupakan epistimologi penelitian yaitu yang menyangkut

bagaimana kita mengadakan penelitian.

Dalam upaya mendiskripsikan dan menyimpulkan data yang dibutuhkan

penulis, guna penyusunan skripsi ini diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filosofis

dan historis.
14

pendekatan historis dimaksudkan untuk mengkaji, mengungkap biografi,

karyanya serta corak perkembangan pemikirannya dari kacamata kesejarahan,

yakni dilihat dari kondisi sosial politik dan budaya pada masa itu.

Pendekatan filosofis digunakan untuk merumuskan secara jelas hakekat yang

mendasari konsep-konsep pemikiran. Lebih lanjut pendekatan filosofis dalam

penelitian ini digunakan untuk mengkaji secara mendalam problem krusial yang

dihadapi individu atau kelompok masyarakat diantaranya: ekslusifitas, intoleransi,

diskriminasi terhadap orang lain kebetulan berbeda paham serta paradigma

pendidikan yang sentralistik. Dengan harapan ditemukan solusi untuk perbaikan

lebih lanjut.

Hasbulloh Bakry (dalam Ahmad Tafsir, 2005:10) menyatakan bahwa filsafat

ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam

mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan

bagaimana tentang hakikatnya sejauh yang dapat dicapai manusia dan bagaimana

sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Pengetahuan Filsafat ilmu terdiri atas tiga cabang besar yaitu : ontologi

(membicarakan hakikat, ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala

sesuatu), epistemologi (cara memperoleh pengetahuan) dan aksiologi

(membicarakan guna pengetahuan itu). (Ahnad Tafsir, 2009).

Adapun untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang subyek penelitian,

maka penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat penelitian


15

pustaka (libarary reseach), yakni penelitian yang menjadi sumber datanya adalah

pustaka sumber, yang berbentuk dokumen (film, video, dan informasi yang

diperoleh melalui internet) jurnal, buku-buku, majalah ilmiyah dan berbagai

publikasi yang telah terdokumentasi.

2. Data dan Sumber Data

Yang dimaksud sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.

Apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah yang

menjadi sumber data sedang isi catatan subjek penelitian atau variabel penelitian.

(Suharsimi Arikunto, 2006:129)

Dalam penelitian pustaka ini, data-data yang dikumpulkan bersumber dari

teks, dokumen, buku atau sumber-sumber lain yaang mendukung. Sumber data

tersebut dibedakan menjadi sumber data primer dan sekunder.

a. Sumber data primer adalah sumber data utama yang berkaitan

langsung dengan tema.

Adapun sumber data primer dalam karya ilmiah ini adalah:

1) Wahid, Abdurrahman, 1999, Prisma Pemikiran Gus Dur, Yogyakarta:

LKiS

2) Barton, greg, 2003, Biografi Gus Dur, Yogyakarta: LkiS


16

3) Wahid, Abdurrahman, 1999, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta:

LkiS

4) Ujan, Andre Ata dkk, 2009, Multikulturalisme: Belajar hidup bersama

dalam perbedaan, Jakarta Barat: PT Indeks

5) Tafsir, Ahmad, 2009, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi

dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

b.Sumber data skunder adalah sumber data pendukung atau pembanding untuk

memperluas dan memperdalam analisis

Adapun sumber data skunder dalam karya ilmiah ini adalah:

1) Naim, Ngainun dkk, 2008, Pendidikan Multikulturalisme: Konsep dan

Aplikasi, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

2) Syam, Nur, 2009, Tantangan Multikulturalisme Indonesia,

Yogyakarta: Kanisius

3) Masdar, Umaruddin, 1988, Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais

tentang Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

4) Suaedy, Ahmad dkk, 2000, Gila Gus Dur, Yogyakarta: LkiS

5) Ibad, MN, 2010, Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek,

Yogyakarta: LkiS
17

6) Arikunto Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan

Praktik, Jakarta: PT Rineka Cipta

7) Jujun.S. Suriasumanti, 2001, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer,

Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

8) Bagus, Lorens, 1996, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia

9) Tafsir, Ahmad, 2005, Filsafat Umum: Akal dan hati sejak Thales

sampai Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

10) Al Barra, M. Dahlan, 1994, Kamus ilmiah Populer, Surabaya: Arkola

11) Ismail, Fuad Farid dkk, 2003, Cepat Menguasai Ilmu Filsafat,

Yogyakarta: IRCiSoD

12) Hasbullah, 2008, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada

13) Misrawi, Zuhairi, 2010, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi,

Keumatan, dan Kebangsaan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

14) Macho, As Rozi, 2010, Gus Dur Biografi, Anekdot, Joke-joke segar

dan Humornya, Pustaka A’lam

15) Tafsir, Ahmad, 2008, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung:

PT Remaja Rosdakarya

3. Teknik Pengumpulan Data


18

Dalam tehnik pengumpulan data ini penulis melakukan tahapan-tahapan sebagai

berikut :

a. Menetapkan kata kunci yang dapat dipakai sebagai alat memilik sumber yang

kemungkinan besar memuat tulisan-tulisan yang relevan dengan masalah-

masalah yang sedang dibahas.

b. Mengidentifikasikan data kepustakaan dan dokumen yang relevan dengan

masalah yang akan dibahas.

c. Menelaah dan menganalisa dengan seksama buku-buku dan dokumen serta

memuat catatan dan menyimpulkan data-data yang telah diverifikasi tersebut.

4. Teknik Analisa Data

Dalam analisis data penelitian literer ini yang peneliti gunakan adalah

analisis deskriptif, yakni penelitian yang diawali dengan pengkategorian data

menurut aspek dan sub aspek dan menjelaskan hubungan antara aspek yang satu

dengan aspek yang lain, kemudian setelah itu dilakukan analisis dan interpretasi

lebih lanjut secara utuh dan menyeluruh mengarah ke focus permasalahan yang

dilakukan secara induktif. Dalam analisis terakhir ini dilakukan secara holistik

atas aspek-aspek yang telah ditemukan dan dirumuskan maknanya untuk disusun

kesimpulan yang bersifat umum (themes analysis) yang sering disebut juga

(discovering cultural themnes analysis). (Sunarto, 2001)


19

a.Metode deduktif adalah suatu metode berfikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari

suatu prinsip khusus kemudian diterapkan kepada sesuatu yang bersifat umum.

(Juhaya. S Praja, 2005:19)

b.Content analysis: analisis ini dimaksudkan untuk melakukan analisis terhadap

makna-makna yang terkandung dalam pemikiran Al-Attas tersebut. Berdasarkan

isi yang terkandung itu dilakukanlah pengelompokkan dengan tahapan identifikasi,

klasifikasi, kategorisasi barulah dilakukan interprestasi.

G. KAJIAN PUSTAKA

1. Persepektif Teoritik

a.Pengertian Multikulturalisme

1)Pengertian Multikulturalisme Etimologi

Multikulturalisme berasal dari dua kata, multi (beragam) dan kultural

(budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi berarti keberagaman

budaya. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti

sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua bagian manusia terhadap

kehidupannya yang kemudian akan melahirkan banyak wajah, seperti

sejarah, pemikiran, budaya verbal dan bahasa.

Ngainun Naim (2008:121) menjelaskan bahwa Akar kata yang dapat

digunakan untuk memahami multikulturalisme adalah kata “kultur”.

Didalam bukunya ngainun membagi kultur dalam beberapa karakter


20

yang bisa dijadikan penjelasan tentang kata “kultur” itu sendiri.

Pertama, kultur adalah sesuatu yang general dan spesifik sekaligus.

General arinya manusia di dunia ini mempunyai kultur, dan spesifik berarti

setiap kultur pada kelompok masyarakat bervariasi antara satu dengan yang

lainnya, tergantung pada kelompok yang mana kultur itu berada. Setiap

manusia mempunyai kultur dan mereka hidup pada kultur mereka sendiri-

sendiri, orang jawa timur dan jawa tengah meskipun sama-sama berada

dalam suku jawa, mempunyai kultur yang berbeda. Ini dapat dilihat dari

beberapa indikasi, seperi bahasa jawa yang berbeda, budaya lokal yang

berbeda dan sebagainya.

Kedua, kultur adalah sesuatu yang dipelajari. Seorang bayi atau anak

kecil yang mudah meniru kebiasaan orang tuanya adalah contoh unik dari

kapasitas manusia dalam belajar.

Ketiga, kultur adalah sebuah simbol. Dalam hal ini simbol dapat

berbentuk sesuatu yang verbal dan yang non-verbal, dapat juga berbentuk

bahasa khusus yang hanya dapat diartikan secara khusus pula, atau bahkan

tidak dapat diartikan atau di jelaskan. Simbol ini kadang kala tidak ada

hubungannya dengan simbol yang digunakan dengan apa yang

disimboliskan. Simbol, dalam hal ini berbentuk linguistik.

Keempat, kultur dapat membentuk dan melengkapi sesuatu yang

alami. Secara alamiah, manusia harus makan dan mendapatkan energi,


21

kemudian kultur mengajarkan pada manusia untuk makan makanan jenis

apa, kapan waktu makan dan bagaiman ciri makan . kultur juga dapat

menyesuakan diri kita denagan keadaaan alam secara alamiah dimana kita

hidup.

Kelima, kultur adalah sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama

yang menjadi atribut bagi individu dan kelompok masyarakat. Kultur secara

alamiah ditransformasikan melalui masyarakat. Pernyataan ini dapat dilihat

ketika kita belajar tentang kultur dengan cara observasi,mendengar, berbicara

dan berinteraksi dengan orang lain. Selanjutnya, secara bersama-sama, kita

mempunayai kepercayaan, kultur,nilai-nilai, inagatan-ingatan, berbagai gaya

berfkir, dan tingkah laku yang mengenyampingkan perbedaan-perbedaan

yang ada di antara individu-individu.

Keenam, kultur adalah sebuah model. Artinya, kultur bukan kumpulan

adat istiadat dan kepercayaan yang tidak ada artinya sama saekali. Kultur

adalah sesuatu yang disatukan dan sistem-sistem yang tersusun dengan jelas.

Adat istiadat, instyitusi, kepercayaan dan nilai-nilai adalah sesuatu yang

saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Contohnya pada masa

sebelum tahun 1970-an wanita Indonesia mayoritas memilih menjadi ibu

raumah tangga.

Ketujuh, kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif. Artinya, kultur

merupakan sebuah proses bagi sebuah populasi untuk membangun hubungan


22

yang baik dengan lingkungan disekitarnya sehingga semua anggota

melakukan usaha maksimal untuk bertaqhan hidup dan melanjutkan

keturunan ini kemudian disebut sesuatu yang adaftif.

Dari karakteristik itu dapat dikembangkan pemahaman dari

pemaknaan terhadap multikulturalisme, yaitu sebuah paham kultur yang

beragam. Dalam keberagaman kultur ini meniscayakan adanya pemahaman,

saling pengertian, toleransi, dan sejenisnya, agar tercipta suatu kehidupan

yang damai dan sejahtera serta terhindar dari konflik berkepanjangan.

2)Pengertian Multikulturalisme Secara Terminologi

Andre dkk (2009:15) multikulturalisme adalah merupakan suatu

paham dan di lain pihak merupakan suatu pendekatan, yang menawarkan

paradigma kebudayaan untuk mengerti perbedaan-perbedaan yang selama ini

ada di tengah-tengah masyarakat kita dan dunia.

Namun, multikulturalisme bukan merupakan cara pandang yamg

menyamakan kebenaran-kebenarna lokal, melainkan justru membantu pihak-

pihak yang saling berbeda untuk membangun sikap saling menghormati satu

sama lain terhadap perbedaan-perbedaan dan kemajemukan yang ada, agar

tercipta kedamain dan dengan demikian kesejahteraan dapat dinikmati oleh

seluruh umat manusia.

Istilah multikulturalisme dengan cepat berkembang sebagai objek

perdebatan yang menarik untuk dikaji dan didiskusikan karena


23

memperdebatkan keragaman etnis dan budaya, serta penerimaan kaum

imigran di suatu negara, yang pada awalnya hanya dikenal dengan istilah

pluralisme yang mengacu pada keragaman etnis dan budaya dalam suatu

daerah atau negara. Baru pada sekitar pertengahan abad ke-20, mulai

berkembang istilah multikulturalisme. Istilah ini setidaknya memiliki tiga

unsur, yaitu: budaya, keragaman budaya, dan cara khusus untuk

mengantisipasi keanekaragaman budaya tersebut. Secara umum, masyarakat

modern terdiri dari berbagai kelompok manusia yang memiliki status budaya

dan politik yang sama.

Model multikulturalisme sebenarnya telah digunakan sebagai acuan

oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan

sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan

Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah

puncak-puncak kebudayaan di daerah”.

Banyak undang-undang dan konstitusi di Indonesia yang mengatur

tentang multikulturalisme dan pluralisme di Indonesia, yaitu misalnya Pasal

18 B ayat 2 yang berbunyi “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-

kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang

masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip

Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.

Ada juga Pasal 32 ayat 1 yang berbunyi “Negara memajukan kebudayaan


24

nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan

masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.

Dalam keanekaragaman dan kejamakan bangsa Indonesia, negara

melalui Undang-Undang telah menjamin hak-hak yang sama kepada seluruh

rakyat Indonesa.

Abdurrahman Wahid (2000:231) sistem sosial-budaya tidak berdiri


sendiri, tetapi berkaitan dengan sistem-sistem lainnya: sosial, politik dan
ekonomi, untuk dapat memberikan tafsiran yang lebih adekuat diperlukan
kelengkapan gambaran tenang sistem-sistem ini semua.
Abdurrahman Wahid mengatakan demi tegaknya multikulturalisme
masyarakat bukan hanya terletak pada suatu pola hidup berdampingan secara
damai, karena hal itu masih rentan terhadap munculnya kesalah pahaman
antar-kelompok masyarakat yang pada saat tertentu bisa menimbulkan
disintegrasi. Namun harus ada penghargaan yang tinggi terhadap
multikulturalisme itu, yaitu adanya kesadaran untuk saling mengenal dan
berdialog secara tulus sehingga kelompok yang satu dengan yang lain saling
take and give.
Andre ata dkk (2009:15) Dilihat dari pola hidup masyarakat untuk

saling berdampingan, maka multikulturalisme terbagi lima:

Multikulturalisme Isolasionis: mengacu pada visi masyarakat sebagai

tempat kelompok-kelompok budaya yang berbeda, yang menjalani hidup

mendiri dan terlibat dalam saling interaksi minimal sebagai syarat yang

niscaya sebagai hidup bersama.


25

Multikulturalisme akomodatif: mengacu pada viswi masyarakat yang

bertumpu pada suatu budaya dominan, dengan penyusuaian-penyusuaian dan

pengaturan yang pas untuk kebutuhan budaya minoritas.

Multikulturalisme mandiri, mengacu pada visi masyarakat di mana

kelompok-kelompok budaya besar mencari kesetaraan dengan budaya

dominan dan bertujuan menempuh hidup mandiri dalam satu kerangka

politik kolektif yang dapat diterima.

Multikulturalisme kritis atau interaktif: merujuk pada visi masyarakat

sebagai tempat kelompok-kelompok kultural kurang peduli untuk menempuh

hidup mandiri, dan lebih mandiri dalam menciptakan satu budaya kolektif

yang mencerminkan dan mengakui perspektif mereka yang berbeda-beda.

Multikulturalisme kosmopolitan: mengacu pada masyarakat yang

berusaha menerobos ikatan-ikatan kultural dan membuka peluang bagi para

individu yang kini tidak terikat pada budaya khusus secara bebas bergiat

dalam eksperimen-eksperimen antarkultur dan mengembangkan satu budaya

milik mereka sendiri.

3) Manfaat Pluralitas budaya

Andre ata dkk (2009:123) Loyalitas pada kebudayaan serta cinta pada

komunitas budaya merupakan kewajiban setiap anggota komunitas budaya.

Meskipun begitu kewajiban tersebut tidak boleh membuat kita

menutup mata atau bahkan menyangkal adanya budaya keragaman budaya .


26

ada beberapa alasan kenapa kita harus terbuka mengakui keragamana

budaya.

a)adanya keragaman budaya memberi peluang individu untuk memilih

kebudayaan.

b)ada angaapan bahwa manusia mahluk budaya dsan karenanya setiap

orang punya hak atas kebudayaannya.

c)argumen yang lebih romantis sifatnya diajukan oleh kaum liberal

seperti herder dan schiller, yang mengatakan bahwa keragaman budaya

menciptakan sebuah dunia yang kaya, bervariasi, dan secara estetis

menyenangkan dan bergairah.

d)keberagaman penting untuk mendorong kompetisi yang sehat antar

berbagai gaya berfikir, gagasan dana cara hidup yang sekaligus

mencegah dominasi yang satu terhadap yang lain dan dengan itu juga

mendorong munculnya keberanian baru.

4) Abdurrahman Wahid

Greg Barton(dalam prisma, 2000:23) Salah satu aspek yang paling bisa

dipahami dari Abdurrahman adalah bahwa ia adalah penyeru pluralisme dan

toleransi, pembela kelompok minoritas.

Abddurrahman dipahami sebagai muslim non-chauvinis, sebagai figur

yang memperjuangkan diterimanaya kenyataaan sosial bahwa indonesia itu

beragam. Yang secara luas atau tepatnya kurang apresiasi adalah bahwa
27

Abdurrahman itu orang yang bangga sebagai seorang muslim. Dia sangat

mencintai kebudayaan islam tradisionalnya dan juag pesan utama islam

sendiri. Lebih dari itu, Abddurrahman adalah tokoh spiritual, figur mistik

yang dalam pandangaannya dunia spiritual nyata berarti dunia materi yang

dapat dirasakan indra manusia.

5) Multikulturalisme tinjauan Filsafat Ilmu

Setelah penulis mengumpulkan konsep tentang Multikulturalisme

Abdurrahman Wahid yang di dukung oleh literatur penulis lainnya, maka

penulis mencoba mengkaji multikulturalisme di tinaju dari filsafat ilmu,

tentunya dengan tujuan mempermudah pemahaman multikulturalisme dan

multikulturalisme itu sendiri bisa menjadi bagian pengetahuan yang

sistematik.

Kalau filsafat ilmu dapat siasumsikan sebagai berfikir yang mendalam

dengan rumusan methode dasar logis, sistemik, radikal, universal dan ilmu

dapat siasumsikan sebagai pengetahuanyang bersistem karena ada rumusan

dasarnya logico, hypoteco, verificatif, maka secara sederhana dapat diartikan

bahwa filsafat ilmu adalah berfikir secara mendalam tenteng ilmu itu sendiri

yang meliputi segala aspeknya.

Cornelius benjamin mendefinisikan filsafat ilmu merupakan cabang

pengetahuan filsafat yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu,


28

metode-metodenya, konsep-konsepnya dan peranggapan-peranggapannya,

serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual.

Pengetahuan Filsafat ilmu terdiri atas tiga cabang besar yaitu : ontologi

(membicarakan hakikat, ini berupa pengetahuan tentang hakikat

multikulturalisme), epistemologi (cara memperoleh pengetahuan

multikulturalisme) dan aksiologi (membicarakan guna pengetahuan

multikulturalisme). (Ahnad Tafsir, 2009).

2. Review Hasil Terdahulu

Dari internet Putra pratama, 20 November 2008, Makalh multikulturalisme

http://my.opera.com/Putra%20Pratama/blog/show.dml/2743875 * Community

Multikulturalisme adalah sebuah filosofi terkadang ditafsirkan sebagai

ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok

kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat

modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan

kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.

Kosep tentang mutikulturalisme, sebagaimana konsep ilmu-ilmu sosial dan

kemanusiaan yang tidak bebas nilai (value free), tidak luput dari pengayaan

maupun penyesuaian ketika dikaji untuk diterapkan. Demikian pula ketika konsep

ini masuk ke Indonesia, yang dikenal dengan sosok keberagamannya. Muncul

konsep multikulturalisme yang dikaitkan dengan agama, yakni ”multikulturalisme

religius” yang menekankan tidak terpisahnya agama dari negara, tidak mentolerir
29

adanya paham, budaya, dan orang-orang yang atheis (Harahap, 2008). Dalam

konteks ini, multukulturalisme dipandangnya sebagai pengayaan terhadap konsep

kerukunan umat beragama yang dikembangkan secara nasional.

Kesadaran akan adanya keberagaman budaya disebut sebagai kehidupan

multikultural. Akan tetapi tentu, tidak cukup hanya sampai disitu. Bahwa suatu

kemestian agar setiap kesadaran akan adanya keberagaman, mesti ditingkatkan

lagi menjadi apresiasi dan dielaborasi secara positif. pemahaman ini yang disebut

sebagai multikulturalisme.

Mengutip S. Saptaatmaja dari buku Multiculturalisme Educations: A Teacher

Guide To Linking Context, Process And Content karya Hilda Hernandes, bahwa

multikulturalisme adalah bertujuan untuk kerjasama, kesederajatan dan

mengapresiasi dalam dunia yang kian kompleks dan tidak monokultur lagi.

Lebih jauh, Pasurdi Suparlan memberikan penekanan, bahwa

multikulturalisme adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan

dalam kesederajatan, baik secara individu maupun kebudayaan. Yang menarik

disini adalah penggunaan kata ideologi sebagai penggambaran bahwa betapa

mendesaknya kehidupan yang menghormati perbedaan, dan memandang setiap

keberagaman sebagai suatu kewajaran serta sederajat.

Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat untuk

meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Untuk dapat memahami

multikulturalisme diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan


30

konsep-konsep yang relevan dan mendukung keberadaan serta berfungsinya

multikulturalisme dalam kehidupan manusia. Bangunan konsep-konsep ini harus

dikomunikasikan di antara para ahli yang mempunyai perhatian ilmiah yang sama

tentang multikulturalisme sehingga terdapat kesamaan pemahaman dan saling

mendukung dalam memperjuangkan ideologi ini. Berbagai konsep yang relevan

dengan multikulturalisme antara lain adalah, demokrasi, keadilan dan hukum,

nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat,

sukubangsa, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan,

ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya

komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan.

Selanjutnya Suparlan mengutip Fay (1996), Jary dan Jary (1991), Watson

(2000) dan Reed (ed. 1997) menyebutkan bahwa multikulturalisme ini akan

menjadi acuan utama bagi terwujudnya masyarakat multikultural, karena

multikulturalisme sebagai sebuah ideologi akan mengakui dan mengagungkan

perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara

kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat (termasuk

juga masyarakat bangsa seperti Indonesia) mempunyai sebuah kebudayaan yang

berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mosaik.

Di dalam mosaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang

lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang

mempunyai kebudayaan seperti sebuah mosaik. Dengan demikian,


31

multikulturalisme diperlukan dalam bentuk tata kehidupan masyarakat yang

damai dan harmonis meskipun terdiri dari beraneka ragam latar belakang

kebudayan.

Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Menurut Parsudi Suparlan

(2002) akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan

yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam

konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu

ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat

disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan

sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme

menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai

multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang

mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan

hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan

golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu

produktivitas.

Multikulturalisme sebagaimana dijelaskan di atas mempunyai peran yang

besar dalam pembangunan bangsa. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di

atas keanekaragaman kebudayaan meniscayakan pentingnya multikulturalisme

dalam pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “bhineka

tunggal ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan menjadi terwujud.
32

Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan menjadi

inspirasi dan potensi bagi pembangunan bangsa sehingga cita-cita untuk

mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera

sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945

dapat tercapai.

Multikulturalisme bertentangan dengan monokulturalisme dan asimilasi yang

telah menjadi norma dalam paradigma negara-bangsa (nation-state) sejak awal

abad ke-19. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secara

normatif (istilah 'monokultural' juga dapat digunakan untuk menggambarkan

homogenitas yang belum terwujud (pre-existing homogeneity). Sementara itu,

asimilasi adalah timbulnya keinginan untuk bersatu antara dua atau lebih

kebudayaan yang berbeda dengan cara mengurangi perbedaan-perbedaan

sehingga tercipta sebuah kebudayaan baru.

Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi di negara berbahasa-

Inggris (English-speaking countries), yang dimulai di Kanada pada tahun 1971.

Kebijakan ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa, sebagai

kebijakan resmi, dan sebagai konsensus sosial di antara elit. Namun beberapa

tahun belakangan, sejumlah negara Eropa, terutama Belanda dan Denmark, mulai

mengubah kebijakan mereka ke arah kebijakan monokulturalisme. Pengubahan

kebijakan tersebut juga mulai menjadi subyek debat di Britania Raya dam Jerman,

dan beberapa negara lainnya.


33

Adalah Samuel P. Huntuington (1993) yang “meramalkan” bahwa

sebenarnya konflik antar peradaban di masa depan tidak lagi disebabkan oleh

faktor-faktor ekonomi, politik dan ideologi, tetapi justru dipicu oleh masalah

masalah suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Konflik tersebut menjadi

gejala terkuat yang menandai runtuhnya polarisasi ideologi dunia kedalam

komunisme dan kapitalisme. Bersamaan dengan runtuhnya struktur politik

negara-negara Eropa Timur. Ramalan ini sebenarnya telah didukung oleh

peristiwa sejarah yang terjadi pada era 1980-an yaitu terjadinya perang etnik di

kawasan Balkan, di Yugoslavia., pasca pemerintahan Josep Broz Tito:

Keragaman, yang disatu sisi merupakan kekayaan dan kekuatan, berbalik menjadi

sumber perpecahan ketika leadership yang mengikatnya lengser.

Ramalan Huntuington tersebut diperkuat dengan alasannya mengapa di masa

depan mendatang akan terjadi benturan antarperadaban. Antara lain adalah:

Pertama, perbedaan antara peradaban tidak hanya riil, tetapi juga mendasar.

Kedua, Dunia sekarang semakin menyempiti interaksi antara orang yang berbeda

peradaban semakin meningkat. Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan sosial

dunia membuat orang ataumasyarakat tercerabut dari identitas lokal mereka yang

sudah berakar dalam, diasmping memperlemah negara-negara sebagi sumber

identitas mereka. Keempat, timbulnya kesadaran peradaban dimungkinkan karena

peran ganda Barat. Disatu sisi barat berada di punjak kekuatan. Di sisi lain

mungkin ini akibat dari posisi Barat tersebut, kembalinya fenomena asal , sedang
34

berlangsung diantara peradaban-peradaban Non-Barat. Kelima, karakteristik dan

perbedaan budaya kurang bisa menyatu dan karena itu kurang bisa berkompromi

dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi. Dan, keenam

regionalisme ekonomi semakin meningkat.

Akan tetapi asumsi tersebut tidak mutlak menjadi sebab utama terjadinya

sebuah perpecahan. Misalnya, setelah berakhirnya Perang Dingin, kecenderungan

yang terjadi bukanlah pengelompokan masyarakat ke dalam entitas tertinggi, yaitu

pengelompokan peradaban, tetapi perpecahan menuju entitas yang lebih kecil

lagi, yaitu berdasarkan suku dan etnisitas. Hal ini jelas sekali terlihat pada

disintegrasi Uni Soviet yang secara ironis justru disatukan oleh dasar budaya dan

peradaban yang sama. Dan lain lagi, persoalan perpecahan antara Jerman Barat

dan Jerman Timur yang kembali bersatu karena persamaan suku dan kebudayaan.

Dan “multikulturalisme justru menjadi sebuah pemersatu yang kokoh.

Dari pembahasan makalah di atas yang apabila di tampilkan seluruhnya

berjumlah 30 halaman, pembahasan multikulturalisme tersebut berhasil

menjabarkan diskriptif multikulturalisme dari berbagai paradigma dan

menganalisis multikulturalisme indonesia. Penulis rasa makalah ini cukup untuk

mengetahui dasar pengetahuan multikulturalisme, hanya saja karena berbentuk

makalah, literatur yang di di gunakan pun terbatas. Dengan menganalisis makalah

ini, maka penulis bermaksud menambahkan literatur dengan mengembangkannya

menjadi skripsi, walaupun pada dasarnya penulis tidak mengawali penelitian


35

dengan menganalisis makalah ini tapi penulis menjadikannya sebagai tambahan

refrensi, penulis juga membedakan sandaran pemikirannya lebih mendominasi

kepada tokoh lalu di akhir pembahasan penulis mempermudah penjabaran dan

memposisikan multikulturalisme sebagai pengetahuan yang mempunyai nilai

tawar mahal lewat filsafat ilmu.

RANCANGAN DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

B. Fokus Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian

E. Batasan Istilah

F. Metode Penelitian

G. Sistematika Pembahasan

BAB II : BIOGRAFI ABDURRAHMAN WAHID


36

A. Latar belakang keluarga

B. Latar belakang Pendidikan

C. Perjalanan Organisasi, sosia; budaya dan politik serta

Pendidikan

D. Karya-karya intelektual dan

E. Paradigma Pemikiran

BAB III : KONSEP MULTIKULTURALISME ABDURRAHMAN

WAHID

A. Multikulturalisme dalam konteks ke-Indonesian

B. Nilai-nilai Demokrasi dan hak asasi Manusia

C. Prinsip Humanis dalam Multikulturalisme masyarakat

D. Review penelitian terdahulu

BAB IV : PENJABARAN MULTIKULTURALISME

ABDURRAHMAN WAHID TINJAUAN FILSAFAT

ILMU

A. Ontologi Multikulturalisme

B. Epistemelogi Multikulturalisme

C. Aksiologi Multikulturalisme

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran – saran
37

Daftar pustaka

Al Barra, M. Dahlan, 1994, Kamus ilmiah Populer, Surabaya: Arkola

Arikunto Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,

Jakarta: PT Rineka Cipta

Bagus, Lorens, 1996, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia

Barton, greg, 2003, Biografi Gus Dur, Yogyakarta: LkiS

Hasbullah, 2008, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada

Ibad, MN, 2010, Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek, Yogyakarta: LkiS
38

Ismail, Fuad Farid dkk, 2003, Cepat Menguasai Ilmu Filsafat, Yogyakarta:

IRCiSoD

Jujun.S. Suriasumanti, 2001, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer,

Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Macho, As Rozi, 2010, Gus Dur Biografi, Anekdot, Joke-joke segar dan

Humornya, Pustaka A’lam

Masdar, Umaruddin, 1988, Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais tentang

Demorasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Misrawi, Zuhairi, 2010, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi,

Keumatan, dan Kebangsaan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Naim, Ngainun dkk, 2008, Pendidikan Multikulturalisme: Konsep dan

Aplikasi, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Putra pratama, 20 November 2008, Makalah multikulturalisme

http://my.opera.com/Putra%20Pratama/blog/show.dml/2743875 *

Community

Syam, Nur, 2009, Tantangan Multikulturalisme Indonesia, Yogyakarta:

Kanisius

Suaedy, Ahmad dkk, 2000, Gila Gus Dur, Yogyakarta: LkiS

Tafsir, Ahmad, 2008, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT

Remaja Rosdakarya
39

Tafsir, Ahmad, 2009, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan

Aksiologi Pengetahuan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tafsir, Ahmad, 2005, Filsafat Umum: Akal dan hati sejak Thales sampai

Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Ujan, Andre Ata dkk, 2009, Multikulturalisme: Belajar hidup bersama dalam

perbedaan, Jakarta Barat: PT Indeks

Wahid, Abdurrahman, 1999, Prisma Pemikiran Gus Dur, Yogyakarta: LKiS

Wahid, Abdurrahman, 1999, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta: LkiS