You are on page 1of 7

STANDARISASI MUTU PRODUK DAN LABELISASI PRODUK HALAL BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Makanan halal merupakan suatu makanan yang wajib dikonsumsi umat Islam dalam kehidupan sehari hari, sesuai dengan Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Undang-undang nomor 7 tahun 1996 serta Undang-undang konsumen yang mana industri produk yang mengklaim halal bagi produknya harus bertanggungjawab atas kehalalan suatu produknya yang diedarkan untuk masyarakat. Tanggungjawab kehalalan produk makan, miniman, obat, kosmetik, dan produk lainnya tidak hanya menjadi tanggungjawab individu dan tokoh agama tetapi juga menjadi tanggungjawab pemerintah. Setiap produk yang diproduksi harus memenuhi kaidah halal sebagai standarisasi mutu produk yang sesuai dengan Syariat Islam. Untuk menjamin kehalalan suatu produk maka semua bahan produk halal, fasilitas fisik, peralatan produksi, dan proses produksi harus memenuhi kriteria standar halal. Menteri Agama mengatur pembinaan produk halal ada yang mengesankan bahwa keterangan / tanda halal cukup diatur dalam lebel produk, ada yang menggariskan bahwa, keterangan halal itu sangat penting sebagai jaminan produk halal. Untuk itu perlu diatur dengan sebuah undang-undang untuk memayungi dan memberi penegasan sektor yang mengelola lebelisasi halal

B. Tujuan Standarisasi dan Lebelisasi Produk Halal 1. Untuk melindungi konsumen penduduk Indonesia yang mayoritas umat islam. 2. Untuk melindungi kualitas produksi dalam Negeri dalam persaingan mengekspor dengan produk berlebel halal dari luar negeri. 3. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi dan menggunakan produk halal C. Tempat dan Waktu Pendidikan dan latihan Fasilitator Pembina Produk Halal tingkat Mahir dilaksanakan tanggal 25 April s/d 4 Mei 2011 di Pusdiklat Kementerian Agama Jakarta.

Kemudian dilanjutkan orientasi lapangan ke LPPOM MUI Pusat di Bogor tanggal 3 Mei 2011. D. Profil MUI (Majelis Ulama Indonesia) Majelis Ulama Indonesia adalah wadah atau majelis yang menghimpun para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim Indonesia untuk menyatukan gerak dan langkahlangkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 H, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan, dan zu'ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math'laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI, dan al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, AD, AU, AL dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, dihasilkan sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah "PIAGAM BERDIRINYA MUI", yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I. Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat. Ulama Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa mereka adalah pewaris tugastugas para Nabi (Warasatul Anbiya). Maka mereka terpanggil untuk berperan aktif dalam membangun masyarakat melalui wadah MUI, seperti yang pernah dilakukan oleh para ulama pada zaman penajajahan dan perjuangan kemerdekaan. Di sisi lain umat Islam Indonesia menghadapi tantangan global yang sangat berat. Kemajuan sains dan teknologi yang dapat menggoyahkan batas etika dan moral, serta budaya global yang didominasi Barat, serta pendewaan kebendaan dan pendewaan hawa nafsu yang dapat melunturkan aspek religiusitas masyarakat serta meremehkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Selain itu kemajuan dan keragaman umat Islam Indonesia dalam alam pikiran keagamaan, organisasi, social, dan kecenderungan aliran dan aspirasi politik, sering

mendatangkan kelemahan dan bahkan dapat menjadi sumber pertentangan di kalangan umat Islam sendiri. Akibatnya umat Islam dapat terjebak dalam egoisme kelompok (ananiyah hizbiyah) yang berlebihan. Oleh karena itu kehadiran MUI, makin dirasakan kebutuhannya sebagai sebuah organisasi kepemimpinan umat Islam yang bersifat kolektif dalam rangka mewujudkan silaturrahmi, demi terciptanya persatuan dan kesatuan serta kebersamaan umat Islam. Dalam perjalanannya, selama dua puluh lima tahun Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah musyawarah para ulama, zu'ama, dan cendekiawan muslim berusaha untuk memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala; memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada Pemerintah dan masyarakat, meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa serta; menjadi penghubung antara ulama dan umaro (pemerintah) dan penterjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional; meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan muslimin dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat khususnya umat Islam dengan mengadakan konsultasi dan informasi secara timbal balik. Dalam khitah pengabdian Majelis Ulama Indonesia telah dirumuskan lima fungsi dan peran utama MUI yaitu: 1. Sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya) 2. Sebagai pemberi fatwa (mufti) 3. Sebagai pembimbing dan pelayan umat (Riwayat wa khadim al ummah) 4. Sebagai gerakan Islah wa al Tajdid 5. Sebagai penegak amar ma'ruf dan nahi munkar Sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia mengalami beberapa kali kongres atau musyawarah nasional, dan mengalami beberapa kali pergantian ketua umum, dimulai dengan Prof. Dr. Hamka, KH. Syukri Ghozali, KH. Hasan Basri, Prof. KH. Ali Yafie dan kini KH. M. Sahal Maffudh. Ketua Umum MUI yang pertama, kedua dan ketiga telah meninggal dunia dan mengakhiri tugas-tugasnya. Sedangkan dua yang terakhir masih terus berkhidmah untuk memimpin majelis para ulama ini. Demikianlah sekilas tentang Majelis Ulama Indonesia

E. Peran LPPOM MUI dalam Sertifikasi Halal Dalam Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal dimungkinkan bahwa peran dan wewenang LPPOM MUI sebagai lembaga sertifikasi halal selama ini tereliminasi. Sebab dalam rancangan undang-undang tersebut yang kini tengah digodok DPR menyebutkan bahwa pemerintah akan mengambil alih proses sertifikasi halal. Dari sudut religius, RUU Jaminan Halal ini adalah perlindungan bagi konsumen khususnya umat muslim yang mencerminkan aspirasi dari umat dan juga produsen, lebih jauh RUU Jaminan Halal harus memberikan kontribusi terhadap daya dukung pengembangan bisnis halal serta mendukung daya saing produk halal nasional. Jika menilik perkembangan produk halal global, halal bukan lagi menjadi kepentingan sepihak agama tertentu, namun kini produk halal berkembang menjadi patok duga mutu tertinggi, karena selain memberikan ketentraman bagi umat muslim yang mengkonsumsi atau menggunakannya, produk halal pun menjadi jaminan keamanan produk karena mutunya terjamin melalui proses sertifikasi yang didalamnya mencakup jaminanan keamanan dari pemilihan bahan baku, proses produksi, transportasi hingga siap digunakan. Dari sudut pandang pengusaha, pada umumnya pengusaha menghendaki proses sertifikasi halal tetap dipegang oleh MUI, bukan pemerintah. Selama ini terbukti LPPOM MUI berupaya menjadi lembaqa profesional dan memiliki kompetensi sebagai lembaga sertifikasi halal yang baik menyangkut standarisasi proses sertifikasi halal dan sanggup menjaga rahasia formula perusahaan yang sifatnya confidential. Selain itu LPPOM MUI, telah memiliki struktur yang kuat dalam hal pengawasan produk halal melalui Sistem Jaminan Halal yang batu saja dibelakukan tahun lalu, dan ini merupakan perkembangan yang sangat baik. RUU Jaminan Halal yang menunjuk pemerintah sebagai lembaga sertifikasi halal tentunya akan berimbas pada timbulnya ekonomi biaya tinggi dan lemahnya pengawasan karena secara struktur kelembagaannya tidak kuat.

Kewenangan tetap berada di LPPOM MUI pada dasarnya bukan tidak beralasan. Jika kita melakukan studi kebeberapa negara ASEAN yang merupakan motor-motor penggerak industri halal global seperti Malaysia dan Thailand. Proses sertifikasi tidak dilakukan oleh pemerintah, namun pemerintah memiliki komitmen yang jelas dalam medukung pengembangan produk halal dengan memberikan fasilitas yang memadai. DI Malaysia, pemerintahannya memberikan dukungan penuh dalam

mengembangkan sertifikasi halal pada produk dan jasanya pada suatu lembaga bernama Halal Industry Development Corporation (HDC), yang didirikan untuk mengembangkan sektor halal secara menyeluruh. HDC diberikan mandat oleh pemerintah Malaysia untuk proses sertifikasi halal dan mengembangkan industri halal yang dapat bersaing secara global, dan memberikan fasilitas dan dukungan penuh dalam operasionalnya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang baik. Sebelumnya HDC mengambil alih peranan Divisi Halal Hub JAKIM atau kementrian Agama Islam Malaysia. Sementara yang terjadi di Thailand, mekipun muslim merupakan minoritas terbesar di negara ini namun industri halal Thailand berkembang dengan pesat. Lembaga yang menangani sertifikasi produk halal adalah The Central Islamic Committee of Thailand (CICOT), lembaga non pemerintah yang mengeluarkan regulasi bagi sertifikasi secara nasional. Peranan pemerintah adalah mendukung lembaga ini dengan menyiapkan strategi untuk mengembangkan pusat kegiatan pangan halal (halal hub) di bagian selatan negeri ini. Peranan pemerintah disini juga tidak berambisi mengambil alih proses sertifikasi, namun dengan menyediakan dukungan finansial dalam mengembangakan sistem Halal-HACCP. Yang menarik dari Thailand juga adalah mensponsori The Institute for Halal Food Standard of Thailand di bawah supervisi CICOT, juga memberikan hibah bagi pengembangan Pusat Laboratorium dan Informasi Sains bagi Pengembangan Pangan Halal (CELSIC) di Chulalongkorn University, Bangkok. Bercermin pada kedua negara yang sukses dalam pengembangan produk halalnya dan proses sertifikasinya, maka selayaknya dapat diambil kesimpulan bahwa peranan pemerintah dalam pengembangan produk halal dan proses sertifikasinya hanyalah sebagai regulator yang juga memfasilitasi pengembangannya bukan juga terjun kedalamnya.

BAB II HASIL TEMUAN 1. Produk Halal sangat dibutuhkan masyarakat muslim Indonesia 2. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menkonsumsi dan menggunakan produk halal merupakan tantangan yang harus diresfon oleh pemerintah dan pelaku usaha Indonesia. Sebagai contoh pasar dalam negeri sudah dibanjiri produk luar negeri yang berlogo halal, sementara produk Indonesia yang di ekspor ke beberapa Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tidak dapat diterima karena tidak mencantumkan label halal. Hal itu terjadi karena kuranya informasi dan pedoman serta kurangnya pengetahuan pelaku usaha untuk berproduksi sesuai dengan standar produk halal. 3. Dengan diberlakukannya pasar bebas seperti AFTA pada tahun 2003 akan mulai diberlakukannya dan telah dicantumkannya ketentuan halal, dalam CODEX yang didukung oleh WHO dan WTO maka produk nasional harus mampu meningkatkan daya saing pada pasar dalam negeri maupun international. 4. Dari sekitar 1,5 juta produsen makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, produk lainnya kurang dari 1000 yang menggunakan lebel dan sertifikasi halal. Hal tersebut disebabkan karena belum siapnya pemerintah dalam menyediakan fasilitas yang sesuai dengan tuntunan pasar. Sebagai akibat dari kondisi tersebut terjadi kecendrungan bagi para pelaku usaha untuk mendirikan pabrik di Malaysia, Singapura, hanya sekedar untuk memperoleh sertifikat dan label halal dari pemerintah yang bersangkutan. 5. Berdasarkan data dari berbagai sumber yang dikumpulkan jumlah produksi dari pelaku usaha kelas menengah dan atas setiap bulan sebanyak 330 milyar saset/botol/kapeit/bungkus, sehingga dapat dibayangkan berapa jumlah dan yang terbang keluar negeri untuk mendapatkan sertifikat dan label hala l, yang seharusnya apabila kita telah siap dalam hal sertikat halal dan label tersebut tidak perlu terjadi.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan Intruksi Presiden RI Nomer 2 tahun 1991 tentang Peningkatan Pembinaan dan Pengawasan Produksi dan Peredaran Makanan olahan antara lain dinyatakan bahwa masyarakat perlu dilindungi terhadap produksi dan peredaran makanan , minuman, obat dan kosmetik yang tidak memenuhi syaratsyarat terutama dari segi mutu dan keyakinan agama (kehalalannya). Pada saat ini image umat Islam Indonesia dalam menyikapi perkembangan teknologi pengolahan makanan , minuman , obat, kosmetik dan produk lainnya serta mengambil pelajaran dari kasus lemak babi, kasus Mei Instan, kasus sabun mandi, kasus penyedab masakan yang diduka kuat mengandung unsur haram, masyarakat Islam menjadi sensitif dan sangat selektif dalam memilih produk yang halal dan thoyib. Maka hanya mengkonsumsi dan menggunakan produk yang benar-benar halal dangan jaminan tanda halal yang resmi. B. Saran Untuk memberikan kejelasan standard dan pelayanan pensertfikasi halal perlu ada kebersamaan secara sinergi anatara MUI, Kementerian Agama dan BPPOM kerena selama ini belum terlaksana dalam pelayanan tersebut.