You are on page 1of 88

Pestisida Nabati

March 17, 2011 under Budidaya

Pestisida Nabati Pestisida nabati adalah salah satu alternatif sebagai pengganti pestisida kimia yang mahal dalam mengendalikan hama. Pestisida sudah menjadi kebutuhan pokok dalam bidang pertanian. Pestisida nabati dapat dibuat secara sederhana dan mudah dengan biaya murah sehingga dapat menekan biaya produksi pertanian. Dari pengalaman beberapa petani, pemakaian pestisida nabati bisa menekan ongkos produksi sampai 40%. Bahan yang digunakan untuk membuat pestisida nabati tidaklah sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia secara gratis. Contohnya seperti daun brotowali bisa mengatasi lalat buah, bila ditambah kecubung wulung dapat mengendalikan ulat grayak atau hama penggerek batang. Mimba pembasmi ulat tanah Agrotis sp, belalang, aphids, dan ulat grayak. Daun mimba dan sirih mengatasi antraknosa pada cabe merah. Larutan/parutan jahe, cengkeh untuk mengusir serangga, mengatasi Plutella xylostella pada kubis. Umbi bawang putih dan bawang merah bisa mengendalikan serangan ngengat dan kupu-kupu, Alternaria porii, dan layu fusarium. Daun mindi mengatasi ulat grayak Spodoptera sp. dan ulat daun Plutella xylostella, daun cocor bebek menanggulangi larva ulat daun Plutella xylostella. Daun dan biji suren bisa membasmi walang sangit, hama daun Eurema sp. Akar dan daun serai wangi ampuh terhadap aphids dan tungau. Daun babadotan membasmi ulat. Daun cengkih sebagai fungisida. Umbi gadung mengendalikan aphids dan tikus. Buah maja untuk mengusir walang sangit. Buah mengkudu sebagai larvasida. Kulit batang pasak bumi musuhnya lalat buah. Daun tembakau ampuh terhadap aphids. Teh basi untuk mengusir semut. Untuk meramu bahan-bahan tersebut menjadi pestisida nabati tidak ada aturan baku. Ini tergantung pengalaman dan jenis hama yang kita kendalikan. Dibawah ini ada beberapa resep pestisida nabati yang bisa digunakan: 1. Resep pestisida nabati ini menggunakan daun mindi 2 kg, tembakau 2 kg, brotowali 2 kg, buah mengkudu 5 kg, dan andaliman 1 kg. Semua bahan dihaluskan dengan cara

2.

3.

4. 5.

6.

menumbuk atau mencacah secara terpisah. Kemudian bahan-bahan tersebut dilarutkan dalam air 10 liter. Kemudian simpan dalam wadah dan tutup rapat. Campuran bahan ini baru bisa digunakan setelah lima hari. Aplikasi resep pestisida nabati ini adalah dengan melarutkannya pada media air dengan perbandingan 1:30. Resep pestisida nabati ini efektif mengendalikan hama kutu kebul pada cabai, tungau, jenis ulat dan berbagai jenis hama lainnya. Resep pestisida nabati yang kedua ini menggunakan bahan 1kg bawang putih dihaluskan, tambahkan 100 cc EM4 dan gula pasir 100 gr. Kemudian aduk sampai rata dan larutkan dalam 5 liter air. Kemudian pestisida nabati ini difermentasikan selama 1 minggu. Setelah 1 minggu saring dan siap untuk digunakan. Penggunaannya dengan melarutkanya pada air dengan perbandingan 1:20. Pestisida nabati ini efektif mengendalikan thrips pada tanaman cabai. Biji mimba tumbuk halus 200 -300 gr biji mimba, rendam dalam 10 liter air semalam, dan aduk rata dan saring, siap disemprotkan ketanaman. Resep pestisida nabati ini efektif mengendalikan ulat, hama penghisap, jamur, bakteri dan nematoda. Daun mimba sebanyak 1 kg ditumbuk halus dan rendam dalam 10 liter air semalam, aduk rata saring dan siap digunakan. Umbi gadung tumbuk halus 500 gr umbi gadung dan peras dengan batuan katong kain halus. Tambahkan 10 liter air , aduk rata dan siap di semprotkan ke tanaman. Pestisida nabati ini efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap. Pestisida Urinsa. Bahan-bahan yang digunakan 3.5 kg kunyit (haluskan), 3.5 kg temulawak (haluskan), 3 kg temu hitam (haluskan), 3 buah maja (haluskan), 100 liter urine sapi. Tuang urine ke dalam tong. campur kunyit, temulawak, temu hitam, dan buah maja yang telah halus, lalu masukkan kedalam karung plastik dan ikat. rendam campuran dalam urine sapi, aduk campuran plastik tiap tiga hari sekali. setelah satu bulan angkat karung plastik dan pestisida urinsa siap diaplikasikan. Efektif mengendalikan hama tanaman padi.

Semua resep pestisida nabati ini tidak akan afektif mengendalikan hama tanaman jika hanya anda baca. Pestisida nabati ini akan efektif setelah anda praktekkan. Setelah anda coba silahkan memberikan komentar. Komentar anda bisa menjadi penyempurna informasi tentang pestisida nabati yang saya berikan ini. Anda juga bisa membaca tentang sejarah budidaya tanaman. (Diolah dari berbagai sumber)

Incoming search terms: pestisida,pestisida organik,tanaman mimba,cara mengatasi ulat penggorok akar pada tanaman abai,gambar pestisida nabati,pestisida nabati cabe,pestisida nabati daun mindi,resep pestisida nabati,pestisida organik untuk tanaman hortikultura,penyakit tanaman cabe dan cara mengatasi pestisida nabati

Posts Related to Pestisida Nabati

Pestisida Nabati Mimba (Azadirachta indica)


Daun dan biji mimba (Azadirachta indica) mengandung bahan aktif azadirachtin, salanin, nimbinen, dan meliantrol. Bahan aktif mimba bekerja dengan menghambat makan dan perkembangan hama. Pestisida ...

Hama Tomat
Hama dan penyakit tanaman tomat. Hasil panen tomat yang berkualitas, selain ditentukan oleh dan pemupukan juga terganutung dari cara mengatasi hama dan penyakitnya. Para petani ...

Hama Penyakit Tanaman Cabai: Hama


Hama penyakit tanaman cabai. Dalam budidaya tanaman cabai rawit, banyak sekali jenis hama penyakit tanaman cabai yang dapat menyerang dan menyebabkan kerusakan. Akibat serangannya, tanaman ...

Hama Penyakit Tanaman Cabai: Penyakit


Penyakit tanaman cabai Antraknosa. Tidak ada yang memungkiri bahwa antracnosa atau yang lebih dikenal dengan istilah pathek adalah penyakit tanaman cabai yang hingga saat ini ...

Tanaman Buah
Tanaman Buah Dalam Pot Tanaman buah dalam pot-Budidaya tanaman buah dalam pot merupakan salah satu alternatif untuk mendapatkan buah segar langsung dari kebun sendiri sebagai ...

Tips Ampuh : Cara Jitu Tanaman Cabai Bebas Penyakit

KEBUTUHAN cabai merah di Indonesia meningkat 7,5% setiap tahun. Sayangnya hal itu tidak diimbangi laju produktivitas yang tinggi. Saat ini produksi per ha berkisar 67 ton dari

semestinya 1215 ton. Banyak sebab yang membuat produktivitas anjlok: pengolahan lahan yang tidak tepat, pemakaian benih rentan hama penyakit, serta perawatan yang kurang pas. Di sisi lain penanaman cabai pada hamparan luas dan waktu tidak serempak rentan menuai masalah. Tanaman yang ditanam terus-menerus membuat keragaman komponen biotik pada ekosistem alami di lokasi budi daya menjadi rendah. Alhasil, organisme pengganggu cabai leluasa berkembang dan merugikan pekebun. Supaya pekebun terhindar dari beragam masalah, perlu melakukan berbagai tindakan mulai dari pemilihan benih, persemaian, pengolahan lahan, hingga panen. Berawal dari Benih Untuk benih, misalnya, pilih varietas yang cocok dengan lokasi setempat. Para pekebun di Pantai Utara, Jawa Tengah, sebagai contoh bisa menggunakan varietas Tanjung. Varietas ini selain cocok tumbuh di dataran rendah juga tahan terhadap penyakit virus kuning. Sementara itu, di dataran tinggi, pilih cabai hibrida bersertifikat yang terjamin kualitasnya, sebagai contoh Lembang-1. Ketika benih disemai, gunakan media campuran 1 bagian pupuk kandang matang dan 1 bagian tanah subsoil yang diambil dari tanah sedalam 20 cm. Sebelum biji disebar, tanah disiram air hingga rata terlebih dulu. Untuk menghindari penyakit yang terbawa dalam benih, rendam dalam air panas bersuhu 50 derajat Celsius hingga air dingin. Bisa pula merendam dalam fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida dosis 1 ml/1 liter air. Setelah direndam selama 1 jam, benih ditiriskan. Lahan persemaian sebaiknya diberi naungan plastik tembus cahaya atau naungan atap permanen dengan ketinggian 1,5 m agar sinar matahari bisa menerobos masuk. Untuk menghindari infeksi virus pada bibit di persemaian, tutup persemaian dengan kasa agar serangga vektor tidak bisa masuk. Kasa berkerapatan 50 mesh dapat menahan kutu daun dan kutu kebul. Sebelum dipindahtanamkan, olah tanah dengan dicangkul sedalam 3035 cm dan di balik 23 kali. Setiap pembalikan tanah biarkan selama 1 minggu. Tujuannya agar mikroba patogen tanah terbunuh sinar matahari. Serasah dari pertanaman sebelumnya harus dikumpulkan dan dimusnahkan dengan jalan dibakar karena menjadi sarang ulat tanah. Pemberian nematisida berbahan aktif karbofuran dosis 13 kg/ha mutlak jika ditemukan akar gulma membengkak akibat serangan nematoda atau ditemukan 300 ekor nematoda puru akar dalam 1 kg tanah. Nematisida diberikan berbarengan dengan aplikasi pupuk kandang. Agar cabai tahan terhadap serangan virus gemini, bibit di persemaian disemprot ekstrak bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) berkadar 25%. Lakukan 5 hari sebelum bibit dipindah ke lahan. Untuk virus mosaik dapat diinduksi vaksin carna-5 10% dengan jalan dioleskan pada daun saat umur 14 hari sebelum tanam. Tujuan induksi merangsang cabai untuk membentuk ketahanan sistemik terhadap virus. Setelah cabai ditanam di lahan, gangguan hama, dan penyakit tetap mengancam, contohnya

hama pengisap daun. Untuk mengatasinya gunakan perangkap berupa kertas kuning berukuran 20 cm x 30 cm, dibungkus kantung plastik bening. Bagian terbuka menghadap ke bawah. Olesi bagian luar kantung plastik dengan minyak atau oli bekas agar hama pengisap daun menempel. Perangkap ini diganti setiap 1014 hari. Sementara itu, untuk menahan atau mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dari luar kebun bisa dimanfaatkan tanaman jagung. Tanam jagung di sekeliling kebun 34 minggu sebelum bibit cabai dipindahtanamkan. Jagung ditanam 6 baris dengan jarak rapat 30 cm x 15 cm. Masukkan benih jagung 1 butir per lubang tanam. Jika jarak tanam 30 cm x 20 cm, setiap lubang diisi 2 butir benih jagung. Sebaiknya pilih jagung manis yang bernilai ekonomi tinggi supaya bisa menambah pendapatan. Selain jagung, tanaman sela lain yang bisa dimanfaatkan mengurangi serangan OPT adalah tomat dan kubis. Kedua tanaman itu bisa ditanam di antara cabai atau di pinggir bedengan. Tomat ditanam 2 minggu setelah cabai, kubis sebulan pascatanam cabai.

Jenis Hama Pada Aglaonema ( semua tanaman )


Posted by seputar pertanian Labels: Hama Tanaman

Share Hama Hama adalah hewan penggangu tanaman yang secara fisik masih dapat dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat . Hama pada aglaonema bermacam-macam dan gejalanya berbeda-beda . Setiap hama memiliki cara penanggulangan tersendiri . Kutu Putih / Kutu kebul Kutu ini lebih banyak menyerang aglaonema di daratan rendah dibanding dengan di dataran tinggi . Kutu putih Whitefly ini dapat ditemukan di batang dan daun bagian bawah . Kutu tersebut mengisap cairan daun dan meninggalkan jelaga pada daun . Hama ini dapat ditanggulangi dengan membersihkannya dengan kapas yang telah dicelupkan insektisida encer . Setelah itu , daun disemprot kembali dengan insektisida . Insektisida kontak atau sismetik yang bias digunakan , Mitac 200 EC dosis 1-2ml/l , dan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l . Ulat Hama ulat ada yang menyerang daun , yaitu Spodoptera sp . , ditandai dengan daun muda atau setengah tua yang rombeng dari pinggir . Ada juga ulat yang menyerang batang , yaitu Noctuidae . Penanggulangannya dapat dilakukan dengan mengambil ulat secara mekanis . Namun , bila jumlahnya sudah banyak , ulat dapat dibasmi dengan menyemprotkan insektisida 2 minggu sekali . Insektisida yang dapat digunakan adalah Decis 25 CE 0,5-1 ml/l , Atabron 1 ml/l , atau Buldok 25 EC dosis 0,5-2 ml/l . Belalang

Gejala penyerangan hama belalang ini sama dengan ulat , yaitu daun menjadi rombeng . Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual . Tangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun biasanya belalang tidak dapat terbang dengan sayap basah . Anda juga dapat menyemprotkan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l . Campurkan Decis 2,5 EC dosis 0,75-1 ml/l dengan frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali . Kutu Perisai Hama ini menyerang bagian daun . Kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang daun . Sesuai namanya , kutu ini memiliki bentuk fisik seperti perisai pada punggungnya . Kutu perisai dapat diatasi menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate . Root Mealy Bugs Hama ini menyerang bagian akar tanaman , bentuknya seperti kutu putih . Tanaman menjadi kurus , kerdil , daunnya mengecil dan layu . Anda dapat menanggulangi dengan mengganti media tanam . Selain itu , gunakan insektisida Confidor 200 SL dosis 0,5-0,75 ml/l atau

Kutu Sisik Menyerang bagian daun , pelepah , batang dan bunga . Bentuknya seperti lintah dengan ukuran yang jauh lebih kecil . Kutu sisik dapat menyebabkan daun mengerut , kuning , layu , dan akhirnya mati . Anda juga dapat menyemprotkan insektisida Confidor 200-SL atau Agrimex 18 EC dosis 1 ml// dengan frekuensi 1 minggu sekali. Hama Hama adalah hewan penggangu tanaman yang secara fisik masih dapat dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat . Hama pada aglaonema bermacam-macam dan gejalanya berbeda-beda . Setiap hama memiliki cara penanggulangan tersendiri . Kutu Putih / Kutu kebul Kutu ini lebih banyak menyerang aglaonema di daratan rendah dibanding dengan di dataran tinggi . Kutu putih Whitefly ini dapat ditemukan di batang dan daun bagian bawah . Kutu tersebut mengisap cairan daun dan meninggalkan jelaga pada daun . Hama ini dapat ditanggulangi dengan membersihkannya dengan kapas yang telah dicelupkan insektisida encer . Setelah itu , daun disemprot kembali dengan insektisida . Insektisida kontak atau sismetik yang bias digunakan , Mitac 200 EC dosis 1-2ml/l , dan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l . Ulat Hama ulat ada yang menyerang daun , yaitu Spodoptera sp . , ditandai dengan daun muda atau setengah tua yang rombeng dari pinggir . Ada juga ulat yang menyerang batang , yaitu Noctuidae . Penanggulangannya dapat dilakukan dengan mengambil ulat secara mekanis . Namun , bila jumlahnya sudah banyak , ulat dapat dibasmi dengan menyemprotkan insektisida 2 minggu sekali . Insektisida yang dapat digunakan adalah Decis 25 CE 0,5-1 ml/l , Atabron 1 ml/l , atau Buldok 25 EC dosis 0,5-2 ml/l .

Belalang Gejala penyerangan hama belalang ini sama dengan ulat , yaitu daun menjadi rombeng . Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual . Tangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun biasanya belalang tidak dapat terbang dengan sayap basah . Anda juga dapat menyemprotkan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l . Campurkan Decis 2,5 EC dosis 0,75-1 ml/l dengan frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali .

Kutu Perisai Hama ini menyerang bagian daun . Kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang daun . Sesuai namanya , kutu ini memiliki bentuk fisik seperti perisai pada punggungnya . Kutu perisai dapat diatasi menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate . Root Mealy Bugs Hama ini menyerang bagian akar tanaman , bentuknya seperti kutu putih . Tanaman menjadi kurus , kerdil , daunnya mengecil dan layu . Anda dapat menanggulangi dengan mengganti media tanam . Selain itu , gunakan insektisida Confidor 200 SL dosis 0,5-0,75 ml/l atau Kutu Sisik Menyerang bagian daun , pelepah , batang dan bunga . Bentuknya seperti lintah dengan ukuran yang jauh lebih kecil . Kutu sisik dapat menyebabkan daun mengerut , kuning , layu , dan akhirnya mati . Anda juga dapat menyemprotkan insektisida Confidor 200-SL atau Agrimex 18 EC dosis 1 ml// dengan frekuensi 1 minggu sekali.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai


Salah satu faktor penghambat peningkat-an produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cercospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp.) berkisar antara 5% - 30%. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai diajurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengen-dalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi. HAMA CABAI Ulat Grayak (Spodoptera litura) Serangga dewasa dari hama ini adalah kupu-kupu, berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada sayap depan. Meletakkan telur secara berkelompok di atas daun atau tanaman dan ditutp dengan bulu-bulu. Jumlah telur tiap betina antara 25-500 butir. Telur akan menetas menjadi ulat (larva), mula-mula hidup ber-kelompok dan kemudian menyebar. Ciri khas dari larva (ulat) grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergarisgaris kekuningan pada sisinya. Larva akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 - 61 hari. Stadium yang membahayakan dari hama Spodoptera litura adalah larva (ulat). Menyerang bersama-sama dalam jumlah yang sangat besar. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman (polifag), termasuk menyerang tanaman cabai. Serangan ulat grayak terjadi di malam hari, karena kupu-kupu maupun larvanya aktif di malam hari. Pada siang hari bersembunyi di tempat yang teduh atau di permukaan daun bagian bawah. Hama ulat grayak merusak di musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bawah daun cabai. Serangan hama ini menyebabkan daun-daun berlubang secara tidak beraturan; sehingga menghambat proses fotosintesis dan akibatnya produksi buah cabai menurun. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. Mekanis, yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya dan langsung dibunuh. Kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama, serta melakukan rotasi tanaman. Hayati (biologis) kimiawi, yaitu disemprot dengan insektisida berbahan aktif Bacilus thuringiensis seperti Dipel, Florbac, Bactospeine, dan Thuricide. Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Sex pheromone dari Taiwan yang di Indonesia diberi nama "Ugratas" atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak (S. litura). Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupukupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabai cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabai. Daya tahan (efektivitas) Ugratas ini + 3 minggu, dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan penggunaan Ugratas ini antara lain : aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, dapat menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama, dan dapat memperlambat perkem-bangan hama tersebut. Kimiawi, yaitu disemprot insektisida seperti Hostathion 40 EC 2 cc/lt atau Orthene 75 SP 1 gr/lt. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.)

Kutu daun atau sering disebut Aphid tersebar di seluruh dunia. Hama ini memakan segala jenis tanaman (polifag), lebih dari 100 jenis tanaman inang, termasuk tanaman cabai. Kutu daun berkembang biak dengan 2 cara, yaitu dengan perkawinan biasa dan tanpa perkawinan atau telur-telurnya dapat berkembang menjadi anak tanpa pembuahan (partenogenesis). Daur hidup hama ini berkisar antara 7 - 10 hari. Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga ataupun bagian tanaman lainnya. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun. Kehadiran kutu daun di kebun cabai, tidak hanya menjadi hama tetapi juga berfungsi sebagai penular (penyebar) berbagai penyakit virus. Di samping itu, kutu daun mengeluarkan cairan manis (madu) yang dapat menutupi permukaan daun. Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun menghebat pada musim kemarau. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. 1. Kultur teknik, yaitu menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai, misalnya jagung. Kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Deltamethrin 25 EC pada konsentrasi 0,1 - 0,2 cc/liter, Decis 2,5 EC 0,04%, Hostathion 40EC 0,1% atau Orthene 75 SP 0,1%. Lalat Buah (Dacus ferrugineus) Serangga dewasa panjangnya + 0.5 cm, berwarna coklat-tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur tersebut akan menetas, kemudian merusak buah cabai. Buah-buah yang diserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk dan berlubang kecil. Buah cabai yang terserang akan dihuni larva yang pandai meloncatloncat. Akibatnya semua bagian buah cabai rusak, busuk, dan berguguran (rontok). Daur hidup hama ini lamanya sekitar 4 minggu, dan pembentukan stadium pupa terjadi di atas permukaan tanah. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. 1. 1. Kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang lalat buah. Mekanis, yaitu dengan mengumpul-kan buah cabai yang terserang, kemudian dimusnahkan. Kimiawi, yaitu dengan pemasangan perangkap beracun "metil eugenol" atau protein hydrolisat yang efektif terhadap serangga jantan maupun betina. Dapat pula disemprot langsung dengan insektisida seperti Buldok, Lannate ataupun Tamaron. Thrips (Thrips sp.) Spesies Thrips yang sering ditemukan adalah T. tabaci yang hidupnya bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga Thrips sangat kecil, panjang + 1 mm, berkembang biak tanpa pembuahan sel telur (partenogenesis) dan siklus hidupnya berlangsung selama 7 - 12 hari. Hama Thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan memperlihatkan gejala serangan strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Serangan yang berat dapat mengakibatkan matinya daun (kering). Thrips ini kadang-kadang berperan sebagai penular (vektor) penyakit virus. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. Kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap dengan selisih waktu cukup lama karena tanaman muda akan terserang parah.

1.

Kimiawi, yaitu dengan disemprot insektisida Deltamethrin 25 EC 0,1-0,7 cc/lt, Triazophos 40 EC 0,5-2,0 cc/lt, Endosulfan 25 EC 0,5-2,0 cc/lt, atau juga Decis 2,5 EC (0,04%), Hostathion 20 EC (0,2%) maupun Mesurol 50 WP (0,1-0,2%). Tungau (Tarsonemus translucens) Tungau berukuran sangat kecil, tetapi bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga dewasa panjangnya + 1 mm, bentuk mirip laba-laba, dan aktif di siang hari. Siklus hidup tungau berkisar selama 14-15 hari. Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan sel daun atau pucuk tanaman. Akibat serangannya dapat menimbulkan bintik-bintik kuning atau keputihan. Serangan yang berat, terutama di musim kemarau, akan menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan cara disemprot insektisida akarisasi seperti Omite EC (0,2%) atau Mitac 200 EC (0,2%).

PENYAKIT CABAI Layu Bakteri (Pseudomonas solana-cearum E.F. Smith) Bakteri layu mempunyai banyak tanaman inang, diantaranya adalah tomat, kentang, kacang tanah dan cabai. Penyebaran penyakit layu bakteri dapat melalui benih, bibit, bahan tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi (air), serangga, nematoda dan alat-alat pertanian. Bakteri layu biasanya menghebat pada tanaman cabai di dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi mendadak, dan akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa hari kemudian. Bakteri layu menyerang sistem perakaran tanaman cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang, dipotong atau dibelah, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening, maka setelah beberapa menit digoyanggoyangkan akan keluar cairan berwarna coklat susu atau berkas pembuluh batangnya berwarna coklat berlendir (slime bakteri). Gejala yang dapat diamati secara visual pada tanaman cabai adalah kelayuan tanaman mulai dari bagian pucuk, kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun menguning dan akhirnya mengering serta rontok. Penyakit bakteri layu dapat menyerang tanaman cabai pada semua tingkatan umur, tetapi paling peka adalah tanaman muda atau menjelang fase berbunga maupun berbuah. Pengendalian penyakit bakteri layu harus dilakukan secara terpadu, yaitu : 1. Perlakuan benih atau bibit sebelum tanam dengan cara direndam dalam bakterisida Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5-15 menit. Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun agar tidak becek atau menggenang. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman yang sehat. Penggunaan bakterisida Agrimycin atau Agrept dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar batang tanaman cabai tersebut yang diperkirakan terserang bakteri P. solanacearum.

1. 1. 1.

1.

Pengelolaan (manajemen) lahan, misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.) Layu Fusarium disebabkan oleh organisme cendawan bersifat tular tanah. Biasanya penyakit ini muncul pada tanahtanah yang ber pH rendah (masam). Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan warna tulangtulang daun di sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai-tangkai daun; sehingga akibat lebih lanjut seluruh tanaman layu dan mati. Gejala kelayuan tanaman seringkali sulit dibedakan dengan serangan bakteri layu (P. solanacearum). Untuk membuktikan penyebab layu tersebut dapat dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman yang sakit, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening (jernih). Biarkan rendaman batang tadi sekitar 5-15 menit, kemudian digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih dan terlihat suatu cincin berwarna coklat dari berkas pembuluhnya, hal itu menandakan adanya serangan Fusarium. Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

1.

Perlakuan benih atau bibit dengan cara direndam dalam larutan fungisida sistemik, misalnya Benlate ataupun Derosal 0,5-1,0 gr/lt air selama 10-15 menit. Pengapuran tanah sebelum tanam dengan Dolomit atau Captan (Calcit) sesuai dengan angka pH tanah agar mendekati netral. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang sehat. Pengaturan pembuangan air (drainase), dengan cara pembuatan bedengan yang tinggi, terutama pada musim hujan. Penyiraman larutan fungisida sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur N dan Topsin di sekitar batang tanaman cabai yang diduga sumber atau terkena cendawan. Bercak Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd). Butl. et. Bisby). Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit Antraknose atau "patek". Penyakit ini menjadi masalah utama di musim hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum Ell. et. Ev dan Colletotrichum capsici. Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk, serta tepi bintik berwarna kuning. Di bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang yang bagian tengahnya berwarna gelap. Cendawan C. capsici lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai dengan terbentuknya bercak coklatkehitaman pada buah, kemudian meluas menjadi busuk-lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan buah cabai mengkerut dan mengering menyerupai "mummi" dengan warna buah seperti jerami. Pengandalian dapat dilakukan dengan cara :

1.

1. 1. 1.

1.

Perlakuan benih, yaitu direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram, misalnya Benlate pada dosis 0,5/lt, ataupun berbahan aktif Captan (Orthocide) dengan dosis 1 gr/lt. Lamanya perendaman benih antara 4-8 jam. Pengaturan jarak tanam yang sesuai sehingga kondisi kebum tidak terlalu lembab. Pada musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 x 70 cm, sedangkan di musim hujan 60 x 70 cm ataupun 65 x 70 cm, baik sistem segi empat atau segi tiga zig-zag.

1.

1.

Pembersihan (sanitasi) lingkungan yaitu dengan cara menyiang gulma atau sisa-sisa tanaman yang ada di sekitar kebun agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan, kemudian dimusnahkan (dibakar). Penyemprotan dengan fungisida seperti Kasumin 2 cc/lt, Difolatan 4 cc/lt, Phycozan, Dithane M-45, Daconil, Topsin, Antracol dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut efektif menekan Antraknosa. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae (tomat, kentang, terung, tambakau). Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit Antraknosa. Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf) Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm. Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai putih dengan tepinya berwarna lebih tua. Serangan yang berat (parah) dapat menyebabkan daun menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun. Pengen-dalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara berselang-seling. Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf) Penyebab penyakit bercak Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian penyakit bercak Alternaria antara lain dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Cupravit, Dithane M-45 dan Score, secara berselang-seling. Busuk Daun dan Buah (Phytophthora spp) Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala serangan nampak pada daun yaitu bercakbercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabai juga dapat diserang oleh penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang menunjukkan gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian meluas ke arah sumbu panjang, dan akhirnya buah akan terlepas dari kelopaknya karena membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70 x 70 cm, mengumpulkan buah cabai yang busuk untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida seperti Sandovan MZ, Kocide atau Polyram secara berselang-seling.

1. 1.

1.

Virus Penyakit virus pada tanaman cabai di pulau Jawa dan Lampung ditemukan adanya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus (TEV), Tobacco Mosaic Virus (TMV), Tobacco Rattle Virus (TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus (TRSV). Gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil, keriting, dan mosaik yang diduga oleh TMV, CMV dan TEV. Penyebaran virus biasanya dibantu oleh serangga penular (vektor) seperti kutu daun dan Thrips. Tanaman cabai yang terserang virus seringkali mampu bertahan hidup, tetapi tidak menghasilkan buah.

Pengendalian penyakit virus ini dapat dilakukan dengan cara : 1. 1. 1. Pemberantasan serangga vektor (penular) seperti Aphids dan Thrips dengan semprotan insektisida yang efektif. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit dan mencurigakan terserang virus dicabut dan dimusnahkan. Melakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae. Penyakit Fisiologis Merupakan keadaan suatu tanaman menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang paling sering ditemukan adalah kekurangan unsur hara Kalsium (Ca), dan terbakarnya buah cabai akibat sengatan sinar matahari, terutama pada cabai Paprika. Tanaman cabai yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada buahnya terdapat bercak hijau-gelap, kemudian menjadi lekukan bacah coklat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih dan berubah warna lebih awal (sebelum waktunya). Biasanya kekurangan Ca pada stadium buah rusak akan diikuti tumbuhnya cendawan. Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang, dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabai atau paprika sedang produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan Ca, maka dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur Ca, seperti Growmore Kalsium. Cabai paprika tidak tahan terhadap sinar matahari, sehingga bila mengenai permukaan buah akan menyebabkan terbakarnya kulit dan bagian dalam buah. Gejala yang nampak di bagian luar adalah warna kulit buah berubah menjadi keputih-putihan hingga kecoklatan dan mengkerut. Meskipun tidak menjadi busuk basah, tetapi warna buah menjadi jelek dan kualitasnya menurun (rendah). Pengendalian terhadap sengatan sinar matahari adalah melindungi tanaman dengan sungkup beratapkan plastik transparan (bening). Menurut penelitian, fungsi naungan plastik bening selain dapat mengurangi (mereduksi) intensitas cahaya matahari, juga dapat mengurangi tingginya temperatur tanah dan defisit air; sehingga dapat meningkatkan kelembaban relatif tanah di sekitar pertanaman paprika. Di samping itu, pengaruh naungan plastik bening dapat meningkatkan hasil (bobot) buah total.

TEKNIK BUDIDAYA CABAI HIBRIDA SISTEM MULSA PLASTIK


Dewasa ini bertani cabai hibrida sistem mulsa plastik hitam perak (MPHP) banyak dipraktekkan pada cabai Hot Beauty, Hero, Long Chili, Ever-Flavor dan cabai Paprika. Dimungkinkan pula pada usahatani cabai keriting hibrida maupun cabai kecil (rawit, cengek) hibrida. Alasan utama sistem MPHP digunakan pada cabai-cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa, sehingga secara ekonomis menguntungkan. Budidaya cabai hibrida dengan sistem MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Pada umumnya sistem budidaya cabai di sentra-sentra produksi cabai masih menggunakan benih lokal dan populasi tanaman per hektarnya tinggi. Populasi yang sangat rapat ini dapat mengakibatkan penangkapan sinar matahari setiap tanaman berkurang dan kelembaban udara di sekitar kebun menjadi tinggi. Kelembaban yang tinggi seringkali dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit. Perbaikan kultur teknik budidaya cabai secara intensif untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan benih unggul dari varietas hibrida yang bermutu tinggi, penerapan MPHP, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara lain yang khas seperti pemasangan turus dan perempelan tunas ataupun daun. Kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida sistem MPHP meliputi : Penyiapan Lahan Dalam budidaya cabai hibrida sistem MPHP, penyiapan lahan harus didahulukan, kemudian disusul dengan penyiapan benih atau pembibitan. Maksudnya agar tanah sebagai media tanam benar-benar telah matang dan layak ditanami. Sebaliknya, bila pembibitan didahulukan, maka penyiapan lahan akan terburu-buru, sehingga tanahnya belum matang benar dan bibit sudat terlanjur tua. Bibit cabai hibrida umumnya siap dipindahtanamkan dari persemaian ke lapangan (kebun) pada umur 17 - 23 hari (berdaun 2 - 4 helai). Bila bibit terlambat dipindahtanamkan (terlanjur tua), pertumbuhan kurang optimal dan produksinya menurun (rendah). Persyaratan lahan untuk kebun cabai hibrida sistem MPHP adalah :

Tempatnya terbuka agar mendapat sinar matahari secara penuh. Lahan bukan bekas pertanaman yang sefamili, seperti kentang, tomat, terung taupun tembakau ; guna menghindari risiko serangan penyakit. Lahan yang paling baik adalah berupa tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak perlu membajak cukup berat. Lahan tegalan (tanah kering) dapat digunakan, asal cukup tersedia air.

IKLIM DAN TANAH

Syarat Iklim Pada umumnya cabai dapat ditanam di dataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi) + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Setiap varietas cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Cabai hibrida Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1200 m dpl. Sedangkan cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam pada ketinggian antara 800 - 1500 m dpl. Khusus untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam di dataran tinggi. Kisaran temperatur optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman paprika antara 210 - 250 C, sedangkan untuk pembentuk-an buah memerlukan temperatur 18,30. Cabai paprika tidak tahan terhadap intensitas cahaya matahari yang tinggi karena dapat menyebabkan buah seperti terbakar (sunburn) dan juga hasil akhir bobot buah akan sangat rendah. Pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, tanaman paprika akan mengalami gugur tunas, gugur bunga dan buah muda, serta ukuran buah sangat kecil. Meskipun cabai paprika umumnya cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi dapat pula dikembangkan di dataran menengah mulai ketinggian 600 m dpl; yakni dengan cara memanipulasi lingkungan. Alih teknologi budidaya paprika di dataran menengah antara lain menggunakan sungkup beratapkan plastik bening (transparan).

Syarat Tanah Hampir semua jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula bagi tanaman cabai. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah antara 5.5 - 6.8, karena pada pH di bawah 5.5 atau di atas 6.8 hanya akan menghasilkan produksi yang sedikit (rendah). Pada tanah-tanah yang becek seringkali menyebabkan gugur daun dan juga tanaman cabai mudah terserang penyakit layu. Khusus untuk tanah yang pH-nya di bawah 5.5 (asam) dapat diperbaiki keadaan kimianya dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik mendekati pH normal. Beberapa angka pH tanah (reaksi tanah), terdiri atas : Paling masam (< 4.0)

Sangat asam (4.0 - 4.5) Asam (4.5 - 5.5) Agak asam (5.5 - 6.5) Netral (6.5 - 7.5) Agak basa (7.5 - 8.5) Basa (8.5 - 9.0) Sangat basa (9.0). Pada pH tanah asam, ketersediaan unsur-unsur Fosfor, Kalium, Belerang, Kalsium, Magnesium dan Molibdinum menurun dengan cepat. Pada pH tanah basa akan menyebabkan unsur-unsur Nitrogen, Besi, Mangan, Borium, Tembaga dan Seng ketersediaannya relatif menjadi sedikit. Cabai yang ditanam pada tanah asam pada umumnya keracunan unsur Alumunium (Al), Besi (Fe) dan Mangan (Mn). Sebaliknya pada pH basa, jumlah unsur bikarbonat

cukup banyak untuk merintangi penyerapan ion lain, sehingga dapat menghalangi pertumbuhan tanaman secara optimum.

kembali ke atas

PERSIAPAN LAHAN DAN TANAM

Tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut : Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya. Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 - 40 cm, kemudian dikeringkan selama 7 - 14 hari. Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm, tinggi 40 - 50 cm, lebar parit 60 - 70 cm, sedangkan panjang bedengan sebaiknya lebih dari 12 meter. Khusus pada tanah yang banyak mengandung air (mudah becek), sebaiknya parit dibuat sedalam 60 - 70 cm. Di sekeliling lahan kebun cabai dibuat parit keliling selebar dan sedalam 70 centimeter. Pada saat 70% bedengan kasar terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (kotoran ayam, domba, kambing, sapi ataupun kompos) yang telah matang sebanyak 1,0 - 1,5 kg/tanaman. Pada tanah yang pH-nya masam, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dilakukan pengapuran sebanyak 100 - 125 gram/tanaman. Pupuk kandang dan kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin - anginkan selama kurang lebih 2 minggu.

Catatan : Jika populasi cabai hibrida per hektar antara 18.000 - 20.000 tanaman pada jarak tanam 60 x 70 cm, maka diperlukan pupuk kandang 18 - 30 ton, dan kapur pertanian 1,8 - 2,0 ton. Penyiapan Benih dan Pembibitan Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan (kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih + 180 gr atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram. Benih dapat disemai langsung satu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air dingin ataupun air hangat 55 0 - 600 selama 15 - 30 menit untuk mempercepat proses perkecambah-an dan mencucihamakan benih tersebut. Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, maka sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK dihaluskan serta Furadan atau Curater. Sebagai pedoman untuk campuran adalah : tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang halus (1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan. Bahan media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90% penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1,0 - 1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Berikutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, maka sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah (lembab) selama + 3 hari. Setelah benih keluar bakal akar sepanjang 2-3 mm, dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Cara ini untuk meyakinkan daya kecambah benih yang siap disemai dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak. Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, namun dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, maka harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan) ataupun jaring net kassa. Selama bibit di pesemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air saat tanaman muda berumur 10 -

15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit. Pemasangan MPHP Sebelum MPHP dipasang untuk menutupi permukaan bedengan, terlebih dahulu dilakukan pemupukan pupuk buatan secara total sekaligus. Jenis dan dosis pupuk yang biasa digunakan untuk cabai hibrida adalah sebagai berikut : Untuk praktisnya dapat menghitung pupuk per bedengan. Misalnya panjang bedengan 12 meter, jarak tanam 60 x 70 cm akan berisi 40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah + 4 kg, yang terdiri atas perbandingan 3 ZA : 1 Urea : 2 TSP : 1,5 Kcl, dengan catatan tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg Borate dan 1,5 kg Furadan. Campuran pupuk buatan ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian bedengan diratakan kembali sambil dirapihkan, dan setelah itu disiram air secukupnya agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah. Pemasangan MPHP sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 14.00 - 16.00 agar plastik tersebut memanjang (memuai) dan menutup tanah serapat mungkin. Pemasangan MPHP minimal dilakukan oleh 2 orang. Caranya adalah : tariklah kedua ujung MPHP ke masing-masing ujung bedengan arah memanjang. Kemudian dikuatkan dengan pasak bilah bambu berbentuk "U" yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Berikutnya tarik pula lembar MPHP ke bagian sisi kiri kanan (lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. Kuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 - 50 cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP dibiarkan dulu selama + 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam. Penanaman Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabai telah berumur 17 - 23 hari atau berdaun 2 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam dulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, sedangkan cabai paprika 50 x 70 cm atau 60 x 70 cm. Pembuatan lubang tanam dapat menggunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi diisi arang. Penggunaan alat ini dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan. Dengan cara demikian MPHP akan berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter + 6 - 8 cm. Selain itu, dapat juga menggunakan alat bantu bekas kaleng susu yang salah satu permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan kaleng bekas susu ini adalah : tutupkan pada calon lubang tanam yang telah ditetapkan, kemudian putarlah sambil ditekan alakadarnya, maka akan langsung terbentuk lubang kecil. Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau pisau cutter dengan cara dikeratkan langsung pada MPHP berbentuk bulatan kecil. Bibit cabai hibrida yang siap dipindahtanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian bersama dengan polybagnya direndam dalam larutan fungisida sistemik atau bakterisida pada dosis 0,5 - 1,0 gram/liter air selama 15 - 30 menit untuk mencegah penularan hama dan penyakit. Setelah media semainya cukup kering, bibit cabai hibrida dikeluarkan dari polybag secara hati-hati. Caranya : ambil polybag berisi bibit sambil dibalikkan dan pangkal batang bibit cabai dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Bagian dasar polybag ditepuk-tepuk secara pelan dan hati-hati, maka bibit cabai akan keluar bersama akar dan medianya. Bibit cabai hibrida siap langsung ditanam pada lubang tanam yang tersedia. Cara penanaman bibit cabai adalah : mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag; kemudian bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya cukup padat. Bibit cabai hibrida yang disemai dalam polybag ini, begitu dipindahtanamkan langsung tumbuh (segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi). Selesai tanam, segera disiram sampai tanahnya cukup basah. kembali ke atas

PEMELIHARAAN TANAMAN

Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi : pemasangan ajir (turus), penyiraman (pengairan), perempelan tunas dan bunga pertama, pemupukan tambahan (susulan), perempelan daun bawah di bawah cabang, pengendalian hama dan penyakit. Khusus untuk cabai paprika yang sifatnya peka terhadap sinar matahari yang terik diperlukan naungan beratap plastik bening (transparan). Pemasangan kerangka naungan ini bisa tunggal per bedengan, atau 2 bedengan bahkan tiap 4 bedengan; tergantung dari kepraktisan maupun ketersediaan bahan.

Tata cara pemasangan sungkup (naungan) untuk cabai paprika (atau cabai hibrida di musim hujan), pada prinsipnya adalah sebagai berikut : Pasang tiang-tiang dari bambu gelondongan setinggi 50 - 80 cm di bagian pinggir bedengan; arahnya memanjang pada jarak tiap 3-4 meter.

Pasang bilah bambu yang bentuknya dilengkungkan setengah lingkaran setinggi 160 - 200 cm dari permukaan tanah. Caranya adalah dengan memasukkan ujung bilah bambu ke dalam lubang bambu gelondongan yang letaknya berpasangan. Hubungkan antara kerangka sungkup yang satu dengan yang lainnya dengan bilah bambu yang dipasang memanjang, kemudian ikat dengan tali kawat, hingga akhirnya sungkup (kerangka) naungan siap dipasang atap plastik bening. Pasang atap plastik bening, dan kuatkan dengan tali pengikat agar tidak mudah lepas oleh terpaan angin. Kegiatan pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau varietas cabai hibrida umumnya meliputi : Pemasangan ajir (turus) Cabai hibirida umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta tidak rebah perlu dipasang ajir (turus) dari bilah bambu setinggi 125 cm, lebar + 4 cm dan tebalnya + 2 cm. Ajir dipasang (ditancapkan) tegak tiap 3 tanaman cabai 1 ajir secara berjajar mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah bambu memanjang (gelagar) tepat pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah. Pemasangan ajir harus sedini mungkin, yakni pada saat tanaman belum berumur 1 bulan setelah pindah tanam. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu memasang (menancapkan) ajir. Khusus untuk cabai paprika, pemasangan ajir setiap tanaman 1 ajir. Pengairan (Penyiraman) Pada fase awal pertumbuhan atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan kebun (adaptasi), maka penyiraman perlu dilakukan secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara dileb setiap 3 4 hari sekali. Pengeleban ini airnya cukup sampai batas antara tanah bagian bawah dengan ujung MPHP. Setelah tanah bedengan basah, airnya segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan. Tanah yang becek atau menggenang akan memudahkan tanaman terserang penyakit layu. Di lahan tertentu yang tidak mungkin melakukan pengairan dengan cara dileb, dapat menggunakan teknik kocoran melalui selang yang dialirkan di antara 4 tanaman. Ujung selang dimasukkan ke dalam lubang MPHP di tengah-tengah bedengan. Tanaman cabai hibrida di bawah 40 hari, memerlukan pengairan yang intensif dan rutin. Sedangkan tanaman yang sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan air banyak. Tetapi yang terpenting adalah menjaga agar tanah tidak kekeringan. Perempelan

Cabai hibrida umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan mengganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perempelan (pembuangan) tunas samping. Perempelan tunas samping dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang berumur antara 7 - 20 hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, maka perempelan tunas dihentikan. Biasanya perempelan tunas ini dilakukan 2 - 3 kali. Tanpa perempelan tunas samping, pertumbuhan tanaman cabai akan lambat. Ketika tanaman cabai mengeluarkan bunga pertama dari sela-sela percabangan pertama, maka bunga ini pun harus dirempel. Tujuan perempelan bunga perdana ini adalah untuk merangsang pertumbuhan tunastunas dan percabangan di atasnya yang lebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat. Kelak tanaman cabai hibrida yang sudah berumur 75 - 80 hari biasanya sudah membentuk percabangan yang optimal. Daun-daun tua yang ada di bawah cabang dapat dirempel, terutama daun yang terserang hama dan penyakit. Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan seringkali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan daun-daun tua ini jangan terlalu awal, sebab pertumbuhan cabang daun belum optimal. Kesalahan perempelan daun tua, justru berakibat fatal, yakni menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana dan produksinya menurun. Pemupukan Tambahan (susulan) Sekalipun tanaman cabai hibrida sudah dipupuk total pada saat akan memasang MPHP, namun untuk menyuburkan pertumbuhan yang prima dapat diberi pupuk tambahan (susulan). Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan vegetatif aktif (daun dan tunas) adalah pupuk daun yang kandungan Nitrogennya tinggi, misalnya Multimicro dan Complesal cair. Interval penyemprotan pupuk daun antara 10 - 14 hari sekali, dengan dosis atau konsentrasi yang tertera pada labelnya (kemasan) pupuk daun tersebut. Pada fase pertumbuhan bunga dan buah (generatif), masih perlu pemberian pupuk daun yang mengandung unsur Phospor dan Kaliumnya tinggi, misalnya Complesal merah, Kemira merah ataupun Growmore Kalsium. Untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah, tanaman cabai yang berumur 50 hari dapat dipupuk susulan berupa NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, Kcl, (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak + 4 sendok makan. Cara pemberiannya adalah dengan melubangi MPHP diantara 4 tanaman. Kemudian pupuk dimasukkan melalui lubang tersebut sambil diaduk-aduk dengan tanah dan langsung disiram air bersih agar cepat larut dan meresap ke dalam tanah. Pemupukan susulan berikutnya masih diperlukan, terutama bila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang memuaskan atau karena terserang hama dan penyakit. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah NPK sebanyak 4-5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air (1 drum). Pemberiannya adalah dengan cara dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 - 500 cc atau tergantung kebutuhan. Cara pengocoran dapat dilakukandengan alat bantu corong atau selang sepanjang 0,5 - 1,0 m dimasukkan ke dalam lubang MPHP dekat pangkal batang tanaman cabai. Pengocoran pupuk larutan ini dapat dilakukan setiap dua minggu sekali. Varietas cabai hibrida umumnya bisa berbuah cukup lama, sehingga dapat dipanen beberapa kali (12 - 14 kali), terutama pada hibrida Hot Beauty dan Hero. Setiap kali selesai panen perlu dipupuk susulan untuk mempertahankan produktivitas buah. Jenis dan dosis pupuknya adalah berupa NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl, (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak 2 sendok per tanaman yang diberikan di antara 2 tanaman cabai bagian kiri dan kanan. Pada kondisi pertumbuhan tanaman cabai cukup bagus, pemberian pupuk susulan ini cukup sebulan sekali. Pemupukan Nitrogen pada cabai hibrida dianjurkan 2 macam sumber N, yaitu ZA san Urea. Pupuk ZA selain mengandung unsur Nitrogen, juga kaya akan unsur Belerang (S) yang diperlukan untuk pertumbuhan cabai hibrida secara optimal. kembali ke atas

KEUNTUNGAN PENGGUNAAN PLASTIK HITAM-PERAK

Mulsa plastik yang dianggap baik di daerah subtropis adalah yang berwarna hitam dengan ketebalan 50 mikron. Mulsa Plastik Hitam (MPH) sudah membudaya pada tanaman mentimun, tomat, strawberri dan kubis bunga. Adaptasi atau pengembangan teknologi sistem Mulsa Plastik dirintis oleh Jepang dan Taiwan yang memperkenalkan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). MPHP ini memiliki dua muka dan dua warna, yaitu muka pertama berwarna hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam untuk menutup permukaan tanah, warna perak sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya. Keuntungan bertani sistem MPHP antara lain : 1. Pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus total sebelum tanam.

Warna hitam dari mulsa menimbul-kan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma. Warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus. Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil). Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan, dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari. Buah cabai yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah. Kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen). Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus. Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut. Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan). kembali ke atas

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Salah satu faktor penghambat peningkat-an produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cercospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp.) berkisar antara 5% - 30%. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai diajurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengen-dalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi. HAMA CABAI Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Serangga dewasa dari hama ini adalah kupu-kupu, berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada sayap depan. Meletakkan telur secara berkelompok di atas daun atau tanaman dan ditutp dengan bulu-bulu. Jumlah telur tiap betina antara 25-500 butir. Telur akan menetas menjadi ulat (larva), mula-mula hidup berkelompok dan kemudian menyebar. Ciri khas dari larva (ulat) grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya. Larva akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 - 61 hari. Stadium yang membahayakan dari hama Spodoptera litura adalah larva (ulat). Menyerang bersama-sama dalam jumlah yang sangat besar. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman (polifag), termasuk menyerang tanaman cabai. Serangan ulat grayak terjadi di malam hari, karena kupukupu maupun larvanya aktif di malam hari. Pada siang hari bersembunyi di tempat yang teduh atau di permukaan daun bagian bawah. Hama ulat grayak merusak di musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bawah daun cabai. Serangan hama ini menyebabkan daun-daun berlubang secara tidak beraturan; sehingga menghambat proses fotosintesis dan akibatnya produksi buah cabai menurun. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. Mekanis, yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya dan langsung dibunuh.

Kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama, serta melakukan rotasi tanaman. Hayati (biologis) kimiawi, yaitu disemprot dengan insektisida berbahan aktif Bacilus thuringiensis seperti Dipel, Florbac, Bactospeine, dan Thuricide. Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Sex pheromone dari Taiwan yang di Indonesia diberi nama "Ugratas" atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak (S. litura). Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabai cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabai. Daya tahan (efektivitas) Ugratas ini + 3 minggu, dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan penggunaan Ugratas ini antara lain : aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, dapat menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama, dan dapat memperlambat perkem-bangan hama tersebut. Kimiawi, yaitu disemprot insektisida seperti Hostathion 40 EC 2 cc/lt atau Orthene 75 SP 1 gr/lt. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.) Kutu daun atau sering disebut Aphid tersebar di seluruh dunia. Hama ini memakan segala jenis tanaman (polifag), lebih dari 100 jenis tanaman inang, termasuk tanaman cabai. Kutu daun berkembang biak dengan 2 cara, yaitu dengan perkawinan biasa dan tanpa perkawinan atau telur-telurnya dapat berkembang menjadi anak tanpa pembuahan (partenogenesis). Daur hidup hama ini berkisar antara 7 - 10 hari. Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga ataupun bagian tanaman lainnya. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun. Kehadiran kutu daun di kebun cabai, tidak hanya menjadi hama tetapi juga berfungsi sebagai penular (penyebar) berbagai penyakit virus. Di samping itu, kutu daun mengeluarkan cairan manis (madu) yang

dapat menutupi permukaan daun. Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun menghebat pada musim kemarau. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. Kultur teknik, yaitu menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai, misalnya jagung. Kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Deltamethrin 25 EC pada konsentrasi 0,1 - 0,2 cc/liter, Decis 2,5 EC 0,04%, Hostathion 40EC 0,1% atau Orthene 75 SP 0,1%.

1.

Lalat Buah (Dacus ferrugineus) Serangga dewasa panjangnya + 0.5 cm, berwarna coklat-tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur tersebut akan menetas, kemudian merusak buah cabai. Buah-buah yang diserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk dan berlubang kecil. Buah cabai yang terserang akan dihuni larva yang pandai meloncat-loncat. Akibatnya semua bagian buah cabai rusak, busuk, dan berguguran (rontok). Daur hidup hama ini lamanya sekitar 4 minggu, dan pembentukan stadium pupa terjadi di atas permukaan tanah. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. 1. 1. Kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang lalat buah. Mekanis, yaitu dengan mengumpul-kan buah cabai yang terserang, kemudian dimusnahkan. Kimiawi, yaitu dengan pemasangan perangkap beracun "metil eugenol" atau protein hydrolisat yang efektif terhadap serangga jantan maupun betina. Dapat pula disemprot langsung dengan insektisida seperti Buldok, Lannate ataupun Tamaron.

Thrips (Thrips sp.) Spesies Thrips yang sering ditemukan adalah T. tabaci yang hidupnya bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga Thrips sangat kecil, panjang + 1 mm, berkembang biak tanpa pembuahan sel telur (partenogenesis) dan siklus hidupnya berlangsung selama 7 - 12 hari. Hama Thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan memperlihatkan gejala serangan strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Serangan yang berat dapat mengakibatkan matinya daun (kering). Thrips ini kadang-kadang berperan sebagai penular (vektor) penyakit virus. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : 1. Kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap dengan selisih waktu cukup lama karena tanaman muda akan terserang parah. Kimiawi, yaitu dengan disemprot insektisida Deltamethrin 25 EC 0,1-0,7 cc/lt, Triazophos 40 EC 0,5-2,0 cc/lt, Endosulfan 25 EC 0,5-2,0 cc/lt, atau juga Decis 2,5 EC (0,04%), Hostathion 20 EC (0,2%) maupun Mesurol 50 WP (0,1-0,2%).

1.

Tungau (Tarsonemus translucens)

Tungau berukuran sangat kecil, tetapi bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga dewasa panjangnya + 1 mm, bentuk mirip laba-laba, dan aktif di siang hari. Siklus hidup tungau berkisar selama 14-15 hari. Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan sel daun atau pucuk tanaman. Akibat serangannya dapat menimbulkan bintik-bintik kuning atau keputihan. Serangan yang berat, terutama di musim kemarau, akan menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan cara disemprot insektisida akarisasi seperti Omite EC (0,2%) atau Mitac 200 EC (0,2%).

PENYAKIT CABAI Layu Bakteri (Pseudomonas solana-cearum E.F. Smith) Bakteri layu mempunyai banyak tanaman inang, diantaranya adalah tomat, kentang, kacang tanah dan cabai. Penyebaran penyakit layu bakteri dapat melalui benih, bibit, bahan tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi (air), serangga, nematoda dan alat-alat pertanian. Bakteri layu biasanya menghebat pada tanaman cabai di dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi mendadak, dan akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa hari kemudian. Bakteri layu menyerang sistem perakaran tanaman cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang, dipotong atau dibelah, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening, maka setelah beberapa menit digoyang-goyangkan akan keluar cairan berwarna coklat susu atau berkas pembuluh batangnya berwarna coklat berlendir (slime bakteri). Gejala yang dapat diamati secara visual pada tanaman cabai adalah kelayuan tanaman mulai dari bagian pucuk, kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun menguning dan akhirnya mengering serta rontok. Penyakit bakteri layu dapat menyerang tanaman cabai pada semua tingkatan umur, tetapi paling peka adalah tanaman muda atau menjelang fase berbunga maupun berbuah. Pengendalian penyakit bakteri layu harus dilakukan secara terpadu, yaitu : 1. Perlakuan benih atau bibit sebelum tanam dengan cara direndam dalam bakterisida Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5-15 menit. Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun agar tidak becek atau menggenang. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman yang sehat. Penggunaan bakterisida Agrimycin atau Agrept dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar batang tanaman cabai tersebut yang diperkirakan terserang bakteri P. solanacearum. Pengelolaan (manajemen) lahan, misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae

1. 1. 1.

1.

Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.)

Layu Fusarium disebabkan oleh organisme cendawan bersifat tular tanah. Biasanya penyakit ini muncul pada tanah-tanah yang ber pH rendah (masam). Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan warna tulang-tulang daun di sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkaitangkai daun; sehingga akibat lebih lanjut seluruh tanaman layu dan mati. Gejala kelayuan tanaman seringkali sulit dibedakan dengan serangan bakteri layu (P. solanacearum). Untuk membuktikan penyebab layu tersebut dapat dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman yang sakit, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening (jernih). Biarkan rendaman batang tadi sekitar 5-15 menit, kemudian digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih dan terlihat suatu cincin berwarna coklat dari berkas pembuluhnya, hal itu menandakan adanya serangan Fusarium. Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : 1. Perlakuan benih atau bibit dengan cara direndam dalam larutan fungisida sistemik, misalnya Benlate ataupun Derosal 0,5-1,0 gr/lt air selama 10-15 menit. Pengapuran tanah sebelum tanam dengan Dolomit atau Captan (Calcit) sesuai dengan angka pH tanah agar mendekati netral. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang sehat. Pengaturan pembuangan air (drainase), dengan cara pembuatan bedengan yang tinggi, terutama pada musim hujan. Penyiraman larutan fungisida sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur N dan Topsin di sekitar batang tanaman cabai yang diduga sumber atau terkena cendawan.

1.

1. 1.

1.

Bercak Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd). Butl. et. Bisby). Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit Antraknose atau "patek". Penyakit ini menjadi masalah utama di musim hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum Ell. et. Ev dan Colletotrichum capsici. Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk, serta tepi bintik berwarna kuning. Di bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang yang bagian tengahnya berwarna gelap. Cendawan C. capsici lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai dengan terbentuknya bercak coklat-kehitaman pada buah, kemudian meluas menjadi busuk-lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan buah cabai mengkerut dan mengering menyerupai "mummi" dengan warna buah seperti jerami. Pengandalian dapat dilakukan dengan cara : 1. Perlakuan benih, yaitu direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram, misalnya Benlate pada dosis 0,5/lt, ataupun berbahan aktif Captan (Orthocide) dengan dosis 1 gr/lt. Lamanya perendaman benih antara 4-8 jam. Pengaturan jarak tanam yang sesuai sehingga kondisi kebum tidak terlalu lembab. Pada musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 x 70 cm, sedangkan di musim hujan 60 x 70 cm ataupun 65 x 70 cm, baik sistem segi empat atau segi tiga zig-zag. Pembersihan (sanitasi) lingkungan yaitu dengan cara menyiang gulma atau sisa-sisa tanaman yang ada di sekitar kebun agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan, kemudian dimusnahkan (dibakar).

1.

1.

1.

1.

Penyemprotan dengan fungisida seperti Kasumin 2 cc/lt, Difolatan 4 cc/lt, Phycozan, Dithane M45, Daconil, Topsin, Antracol dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut efektif menekan Antraknosa. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae (tomat, kentang, terung, tambakau). Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit Antraknosa.

1.

Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf) Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm. Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai putih dengan tepinya berwarna lebih tua. Serangan yang berat (parah) dapat menyebabkan daun menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun. Pengen-dalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara berselang-seling. Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf) Penyebab penyakit bercak Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian penyakit bercak Alternaria antara lain dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Cupravit, Dithane M-45 dan Score, secara berselang-seling. Busuk Daun dan Buah (Phytophthora spp) Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala serangan nampak pada daun yaitu bercak-bercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabai juga dapat diserang oleh penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang menunjukkan gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian meluas ke arah sumbu panjang, dan akhirnya buah akan terlepas dari kelopaknya karena membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70 x 70 cm, mengumpulkan buah cabai yang busuk untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida seperti Sandovan MZ, Kocide atau Polyram secara berselang-seling.

Virus Penyakit virus pada tanaman cabai di pulau Jawa dan Lampung ditemukan adanya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus (TEV), Tobacco Mosaic Virus (TMV), Tobacco Rattle Virus (TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus (TRSV). Gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil, keriting, dan mosaik yang diduga oleh TMV, CMV dan TEV. Penyebaran virus biasanya dibantu oleh serangga penular (vektor) seperti kutu daun dan Thrips. Tanaman cabai yang terserang virus seringkali mampu bertahan hidup, tetapi tidak menghasilkan buah. Pengendalian penyakit virus ini dapat dilakukan dengan cara :

1.

Pemberantasan serangga vektor (penular) seperti Aphids dan Thrips dengan semprotan insektisida yang efektif. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit dan mencurigakan terserang virus dicabut dan dimusnahkan. Melakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

1.

1.

Penyakit Fisiologis Merupakan keadaan suatu tanaman menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang paling sering ditemukan adalah kekurangan unsur hara Kalsium (Ca), dan terbakarnya buah cabai akibat sengatan sinar matahari, terutama pada cabai Paprika. Tanaman cabai yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada buahnya terdapat bercak hijau-gelap, kemudian menjadi lekukan bacah coklat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih dan berubah warna lebih awal (sebelum waktunya). Biasanya kekurangan Ca pada stadium buah rusak akan diikuti tumbuhnya cendawan. Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang, dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabai atau paprika sedang produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan Ca, maka dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur Ca, seperti Growmore Kalsium. Cabai paprika tidak tahan terhadap sinar matahari, sehingga bila mengenai permukaan buah akan menyebabkan terbakarnya kulit dan bagian dalam buah. Gejala yang nampak di bagian luar adalah warna kulit buah berubah menjadi keputihputihan hingga kecoklatan dan mengkerut. Meskipun tidak menjadi busuk basah, tetapi warna buah menjadi jelek dan kualitasnya menurun (rendah). Pengendalian terhadap sengatan sinar matahari adalah melindungi tanaman dengan sungkup beratapkan plastik transparan (bening). Menurut penelitian, fungsi naungan plastik bening selain dapat mengurangi (mereduksi) intensitas cahaya matahari, juga dapat mengurangi tingginya temperatur tanah dan defisit air; sehingga dapat meningkatkan kelembaban relatif tanah di sekitar pertanaman paprika. Di samping itu, pengaruh naungan plastik bening dapat meningkatkan hasil (bobot) buah total. kembali ke atas

PANEN & PASCA PANEN

PANEN CABAI HIBRIDA Panen cabai hibrida sangat dipengaruhi oleh faktor jenis atau varietasnya, dan lingkungan tempat tanam. Di dataran rendah, umumnya cabai mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan selang 2-3 hari sekali. Sedangkan di dataran tinggi (pegunungan), panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali. Khusus untuk sasaran ekspor, panen cabai dipilih pada tingkat kemasakan 85% - 90% saat warna buah merah-kehitaman. Di dataran rendah, panen cabai untuk tujuan ekspor dapat diatur 2 hari sekali ; sedangkan di dataran tinggi antara 4-6 hari sekali. Pada cabai paprika, persyaratan layak panen adalah bila buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir matang tetapi warnanya masih hijau. Buah cabai paprika yang dipanen terlalu muda bobotnya akan menurun secara drastis dan kurang tahan angkut (cepat rusak). Sebaliknya, buah cabai paprika yang dipanen terlalu matang atau warnanya sudah merah, maka kualitasnya kurang disukai pasar (konsumen). Kecuali beberapa varietas cabai paprika memang khusus untuk dipanen buah merah ataupun buah kuning. Cara panen cabai hibrida adalah memetik buah bersama tangkainya secara hati-hati di saat cuaca terang. Hasil panen dimasukkan ke dalam wadah, kemudian dikumpulkan di tempat penampungan. Pada

pertanaman yang baik, dapat menghasilkan produksi antara 20-40 ton/ha. Khusus cabai paprika minimal dapat menghasilkan 5-10 ton/hektar, harga jualnya lebih mahal dibanding dengan jenis-jenis cabai lainnya. PASCA PANEN CABAI HIBRIDA Cabai Segar Pemilihan buah (seleksi dan sortasi) Di tempat penampungan, buah-buah cabai dipilih berdasarkan warna merah, masih kehitaman; dan juga dipisahkan antara buah sehat dengan buah sakit atau rusak (busuk). Pengkelasan (klasifikasi) Khusus untuk diekspor dilakukan pengkelasan, yaitu dipilih buah-buah cabai yang panjangnya minimal 11 cm, bentuk buah lurus, dan tidak terlalu matang. Pewadahan (pengemasan) Untuk sasaran pasar lokal, pewadahan cabai dapat dilakukan dalam karung plastik yang tembus udara ataupun keranjang bambu. Untuk sasaran pasar ekspor, buah-buah cabai ditata rapi dalam kardus-kardus ukuran 30 x 40 x 50 cm berisi + 20 kg, dan berventilasi atau dibuatkan lubang-lubang kecil. Penyimpanan Penyimpanan sementara sebelum dipasarkan, sebaiknya di tempat (ruang) yang teduh dan cukup lembab, serta sirkulasi udara baik. Bila fasilitas penyimpanan memungkinkan, dapat dilakukan dalam ruang dingin (cold storage) yang suhunya rendah antara 2-15 derajat Celcius dan kelembabannya tinggi sekitar 90%-95% agar tetap segar selama + 20 hari. Cabai Kering Pemasaran cabai kering memiliki beberapa keuntungan, diantaranya memudahkan pengangkutan, produk-nya dapat dikemas secara ringkas dan tahan lama. Pembersihan Buah-buah cabai dipilih yang sudah matang (berwarna merah), kemudian dicuci bersih dan tangkainya dibuang. Pembelahan Setelah buah cabai ditiriskan, segera dibelah dan dibuang biji-bijinya. Perendaman sesaat dalam air hangat (blanching) Buah-buah cabai segar segera dicelupkan ke dalam air mendidih yang telah dicampur Kalium Metabisulfit 0,2%. Lama perendaman + 6 menit, kemudian disusul pencelupan ke dalam air dingin. Tujuan blanching adalah untuk menambah ketahanan warna buah sehingga tidak cepat berubah terjadi coklat (browning). Pengeringan Pengeringan cabai dapat dilakukan secara alami (sinar matahari) selama 7-10 hari, ataupun dengan alat mekanis yang bersuhu 600 C sehingga dapat kering selama 12-20 jam. Pengeringan dengan alat mekanis memiliki beberapa keuntungan, antara lain waktunya relatif singkat, bersih, dan kadar air dapat seminim mungkin + 10%. Penyimpanan Cabai kering dapat dikemas dalam kantong ataupun karung plastik tertutup rapat. Tempat penyimpanannya yang baik adalah ruangan kering dengan kelembaban 70%. kembali ke atas

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Bu, daun Carmen-nya kok ada bercak kuningnya ya?" Tentu tidak enak rasanya bila pembeli di nursery Anda merasa kecewa dengan aglaonema pilihannya. Sebagai calon pemilik nursery, hal tersebut merupakan persoalan yang patut dihindari. Anda perlu memperluas wawasan tentang hama, penyakit, dan hal lainnya yang dapat menurunkan kualitas aglaonema. Berikut adalah jenis-jenis hama dan penyakit lainnya. HAMA Hama adalah hewan penggangu tanaman yang secara fisik masih dapat dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat. Hama pada aglaonema bermacam-macam dan gejalanya berbeda-beda.. Setiap hama memiliki cara penanggulangan tersendiri. 1. Kutu Putih / Kutu Kebul

Kutu ini lebih banyak menyerang aglaonema di dataran rendah dibanding dengan di dataran tinggi. Kutu putih whitefly ini dapat ditemukan di batang dan daun bagian bawah. Kutu tersebut mengisap cairan daun dan meninggalkan jelaga pada daun. Hal ini dapat ditanggulangi dengan membersihkan dengan kapas yang telah dicelupkan insektisida encer. Setelah itu, daun disemprotkan kembali dengan insektisida. Insektisida kontak atau sistemik yang bisa digunakan, seperti mitac 200 EC dosis 1-2 ml/l, Decis 1 cc/l, dan Cofidor 200 SL dosisi 1 ml/l. 2. Ulat

Hama ulat ada yang menyerang daun, yaitu spodoptera sp., ditandai dengan daun muda atau setengah tua yang rombeng dari pinggir. Ada juga ulat yang menyerang batang, yaitu noctuidae. Penanggulangannya dapat dilakukan dengan menggambil ulat secara mekanis. Namun, bila jumlahnya sudah banyak, ulat dapat dibasmi dengan menyemprotkan insektisida 2 minggu sekali. Insektisida yang dapat digunakan adalah Decis 25 EC 0,5-1 ml/l, Atabron 1 ml/l, atau Buldok 25 EC dosis 0.5-2 ml/l.

3. Belalang

Gejala penyerapan hama belalang ini sama dengan ulat, yaitu daun menjadi rombeng. Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual. Tangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun-belalang tidak bisa terbang dengan sayap basah. Anda juga dapat menyemprotkan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l. Campurkan Decis 2,5 EC dosis 0,75-1 ml/l dengan frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali.

4. Kutu Perisai

Hama ini menyerang bagian daun. Kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang punggung daun, Sesuai namanya, kutu ini memiliki bentuk fisik seperti perisai pada bagian punggungnya. Kutu perisai diatasi dengan menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate.

5. Root Mealy Bugs Hama ini menyerang bagian akar tanaman, bentuknya seperti kutu putih. Tanaman menjadi kurus, kerdil daunnya mengecil dan layu. Anda dapat menanggulangainya dengan mengganti media tanam. Selain itu, gunakan insektisida Confidor 200 SL dosis 0,5-0,75 ml/l atau Supracide 25 WP dosis 1-2 g/l dengan frekuensi 2 minggu sekali. 6. Kutu Sisik

Menyerang bagian daun, pelepah, batang, dan bunga. Bentuknya seperti lintah dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Kutu sisik dapat menyebabkan daun mengerut, kuning, layu dan akhirnya mati. Bersihkan kutu sisik dengan cara dikerik. Anda juga dapat menyemprotkan insektisida Confidor 200-SL atau Agrimex 18 EC dosis 1 ml/l dengan frekuensi 1 minggu sekali.

PENYAKIT Penyakit pada tanaman khususnya aglaonema disebabkan oleh 2 patogen, yaitu cendawan dan bakteri. Jumlah cendawan yang menyebabkan penyakit umumnya lebih banyak dibanding bakteri. Bagian tanaman yang terkena bakteri biasanya mengeluarkan bau tidak sedap.

1. Busuk Akar Penyakit ini ditandai dengan daun yang menjadi pucat lalu busuk, batang yang berlubang dan layu, serta akarnya berwarna coklat kehitaman. Busuk akar disebabkan karena media yang terlalu lembap sehingga menyebabkan cendawan cepat berkembang. Tanggulangi busuk akar dengan mengganti media baru yang lebih porous, lalu potong bagian akar yang busuk dan oleskan fungisida pada bekas potongan. Bisa juga dengan menyemprotkan fingisida Previcur N dosis 1 ml/l dengan frekuensi 2 minggu sekali. 2. Layu Fusarium

Gejala serangan ditandai dengan tulang daun yang pucat berubah warna menjadi cokelat keabuan lalu tangkainya membusuk. Penyababnya adalah media yang selalu basah sehingga media tanam jadi ber-pH rendah. Kondisi tersebut membuat cendawan fusarium oxysporium leluasa berkembang. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan cara mengganti media tanam. Dapat juga dengan menyiramkan fungisida Derosol 500 SC dosis 1,5 ml/l setiap 2 minggu. Bisa juga diatasi dengan menyemprotkan fungsida Folicur 25 WP 1-2 g/l atau Folocur 250 EC 1-2 ml/l atau Delsane MX 200 dosis1 g/l. Penyakit ini dapat dicegah dengan menyiramkan Folicur 250 EC dengan konsentrasi 2 ml/l setiap 2 minggu sekali. 3. Layu Bakteri

Dari namanya tentu dapat diketahui bahwa penyakit tanaman disebabkan oleh bakteri. Layu bakteri ditandai dengan daun dan batang yang melunak serta bau yang tak sedap. Untuk mencegahnya, media tanam harus tetap dijaga agar tidak terlalu basah dan lingkungan sekitar tidak terlalui lembap. Atasi layu fusarium dengan menyemprotkan bakterisida Agrept dosis 1-2 ml/l atau Starner dosis 1 g/l setiap 2 minggu sekali.

4. Bercak Daun

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan. Sesuai namanya, penyakit ini ditandai dengan adanya bercak daun yang lama kelamaan akan membusuk. Bercak daun ini dapat diatasi dengan langsung memotong daun yang busuk. Dapat juga menyemprotkan fungisida folicur 25 WP dosis 1-2 g/l atau folicur 250 EC dosis 1-2 ml/l. Selain itu, dapat juga dengan menggunakan Score dosis 1 cc/l. Frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali. Pupuk berkadar kalsium tinggi juga dapat membantu mengatasi penyakit ini.

VIRUS Adanya virus pada aglaonema ditandai dengan daun yang berlubang menjadi kekuningan atau menjadi keriting. Perubahan tersebut karena virus dapat menghancurkan klorofil dan jaringan lainnya pada daun. Tanaman yang terjangkit virus tidak dapat ditanggulangi. Perawatan dan pengendalian lingkungan yang baik merupakan cara pencegahan yang paling efektif. Virus dapat menyebar dengan bantuan vektor seperti hama pengisap cairan tanaman dan penggunaan alat potong yang tidak steril. Kelainan Fisiologis

Gejala fisiologis disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti sinar matahari, suhu, defisiensi hara, air, dan tingkat keasaman. Sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan daun mengering dan layu. Bercak coklat akan timbul bila daun yang tidak berklorofil terbakar sinar matahari.

Sumber cahaya yang tidak merata dan posisi tanaman yang tidak pernah diputar menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi miring. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan warna daun pada aglaonema menjadi memucat. Selain itu, kelebihan air dapat menyebabkan daun menguning

Disamping gejala-gejala tersebut, pernahkah Anda melihat daun aglaonema menjadi kecil dan kerdil? Hal itu bisa disebabkan oleh defisiensi hara, media yang sudah lama tidak diganti, atau aglaonema tidak cocok dengan ketinggian tempat.

Melawan Thrips dengan Bawang Putih Hama Tikus dan Pengendaliannya

Virus Gemini/Brekele pada Tanaman Cabai


Februari 19, 2010 oleh TOHARI YUSUF Beberapa saat yang lalu mungkin postingan ini tidaklah seperti ini namun untuk kali ini saya memberanikan diri untuk menulis tentang virus gemini ini atau di tempat saya sering disebut dengan penyakit brekele, virus ini pada beberapa tahun yang lalu (sekitar 2004) di tempat saya bukanlah penyakit yang penting, namun pada beberapa tahun terakhir ini penyakit yang diakibatkan virus ini merupakan momok yamg teramat momok bagi petani hortikultura (misal cabai, tomat, semangka, melon dll), karena virus ini menurut pengalaman yang pernah saya alami, mampu menggagalkan budidaya hingga 90%, bahkan pernah semangka saya yang baru berumur 23 hari saya cabut semuanya karena terserang virus ini, virus ini sejauh yang saya tahu memang belum ada pengobatannya, dan saat tanaman saya sendiri terserang virus ini belum pernah berhasil mengatasinya. Namun dengan cara pencegahan saya sedikit bisa bernafas lega, tanaman saya 1.5 tahun terakhir ini terbebas dari serangan virus ini. Menyiasati dan mengantisipasi gangguan penyakit virus ini bisa dimulai dengan mengetahui pengetahuan dasar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan virus gemini ini, sehingga dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam mengupayakan pengendaliannya baik pengendalian yang bersifat prefentif atau kuratif. Berikut ini adalah beberapa litteratur yang saya kumpulkan dari beberapa sumber yang berkaitan dengan virus ini dan sekaligus cara budidaya yang pernah saya lakukan untuk mengendalikan virus ini: Masa inkubasi virus gemini adalah 15 29 hari artinya semenjak tanaman dihinggapi virus dibutuhkan waktu 15 29 hari sampai tanaman tersebut memperlihatkan gejala terserang penyakit virus tersebut. Penularan virus ini adalah melalui cairan pada tanaman yang terkena virus ini yang kemudian dibawa oleh hama sebagai vektor (pembawa), dimana hama tersebut menyerang tanaman yang terkena virus kemudian pindah ketanaman yang sehat. Hama yang menjadi vektor virus ini misalnya thrips, kutu kebul, hama dewi persic, tungau,bahkan diduga manusiapun bisa menjadi vektor virus ini, namun menurut penelitian dari IPB virus ini tidak ditularkan oleh manusia melalui cairan yang terbawa oleh manusia saat orang tersebut menyentuh cairan tanaman yang terluka, namun begitu kita harus waspada terhadap penularan yang dilakukan oleh kita (manusia) sendiri saat kita melakukan perawatan, ada dugaan prinsip dari penularan virus ini melalui pelukaan pada bagian tubuh tanaman entah (ini betul apa engga namun hal ini harus kita jadikan tolok ukur untuk kewaspadaan kita dan kita anggap saja memang begitu). Ciri-ciri tanaman yang terkena virus ini antara lain: tepi daun melengkung keatas, mengeriting, warna daun kekuningan agak belang, pertumbuhan kerdil bahkan cenderung berhenti, sedikit menghasilkan buah atau bahkan tidak berbuah sama sekali kalaupun berbuah bentuknya tidak normal dan relatif kecil. Gejala serangan dapat ditemui mulai dari kecambah sampai tanaman tua. Serangan virus ini mirip dengan penyakit fisiologis kekurangan unsur boron, ataupun juga mirip serangan hama thrips.

Dan hal-hal yang perlu kita lakukan (ini yang pernah saya lakukan entah faktor kebetulan apa memang virus ini bisa dikedalikan dengan cara ini) adalah:

Menekan sepenuhnya pertumbuhan hama-hama vektor terutama kutu kebul, karena hama inilah yang diduga paling kuat menjadi vektor virus ini. Menanam tanaman perangkap untuk kutu kebul, dan tanaman ini kita tanam pada pinggir lahan pertanaman kita (sebagai border), dan kita harus merawat tanaman border ini sama seperti tanaman inti yang kita usahakan, tanaman perangkap yang saya gunakan adalah tanaman kacang panjang. Tidak menanam pada lahan yang sekitarnya terjadi serangan virus gemini ini. Merotasi tanaman dengan tanaman diluar keluarga tanaman solanaceae (terung-terungan) dan cucutyledoneae (timun-timunan). Dalam arti kita jangan terus menerus membudidayakan tanaman dari keluarga terung-terungan misal terung, cabai, tomat,dll ataupuan dari keluarga timun-timunan misal mentimun, semangka, melon dll. Mengurangi sesedikit mungkin pelukaan pada tanaman yang kita usahakan, misal pemasangan ajir / lanjaran dilakukan sebelum kita melakukan penanaman darena saat kita memasang ajir / lanjaran saat tanaman sudah cukup besar maka akar akan terluka oleh ajir kita. Tidak melakuakan perempelan tunas lateral (tunas samping / tunas air) walaupun ini bertentangan dengan teknik budidaya (dimana tunas lateral harus dirempel) namun bila kita melakukan perempelan pada tanaman yang terkena virus maka tangan kita akan menjadi sarana tumpagan virus untuk berpindah ketanaman yang sehat. Lebih baik mengusahakan tanaman di musim penghujan karena saat musim penghujan populasi hama thrips, dan kutu kebul sangatlah kecil, namun kita harus waspada terhadap serangan jamur. Gunakan mulsa plastik hitam perak yang baru

Akhirnya yang teramat penting, kita harus berdoa karena sebagai manusia kita hanya berusaha dan itu tugas dan kewajiban kita sedangkan ketentuan mutlak hanya Tuhan yang Maha Kuasa, dan semua yang saya tulis ini adalah dari berbagai sumber serta pengalaman pribadi saya sendiri yang mungkin serba kebetulam saja tanaman saya tidak terkena virus ini setelah saya berpatokan pada pemikiran-pemikiran diatas karena tak lain tak bukan saya adalah manusia yang bodoh dan mohon maaf bila apa yang telah saya tulis ini tidak berlaku pada tanaman yang anda budidayakan karena apa yang saya lakukan hanyalah trial and errors dan tidak diuji secara pasti/klinis tanpa menggunakan metode ulagan dan sidik ragam, mudah mudahan ada guna dan manfaatnya. Amiiin.

Like this:
Suka Be the first to like this post.

Ditulis dalam 1 | Bertanda brekele, mencegah virus gemini, penyakit tanaman cabai, Virus gemii, virus kuning | 16 Komentar

16 Tanggapan

1. pada Februari 27, 2010 pada 14:54 | Balas

Zul

Semua yang mas tulis memang benar.Setelah gagal panen cabe 2thn lalu saya juga mulai cari tau tentang virus ini.Menurut informasi yang saya dapat,tanaman inang virus ini tergolong luas(termasuk jenis gulma berdaun lebar).Umunya virus ini ditularkan oleh serangga vektor(trips,kutu kebul),satu gigitan hama ini sudah cukup untuk menularkan virus.Jadi dengan pengendalian hama ini diharapkan dapat mencegah serangan si brekele ini.YANG jadi masalahnya saya belum menemukan cara yang efektif untuk mengendalikan hama ini,termasuk penggunaan insektisida.Saat ini saya lagi tanam timun,sekaligus untuk meneliti insektisida yang mampu mengendalikan serangga vektor tadi,tapi belum ketemu juga.Mohon Mas beritahu saya langkah-langkah mengendalikan serangga vektor tersebut dan insektisida yang digunakan.Terima kasih, Wassalam

pada Februari 28, 2010 pada 12:12 | Balas

TOHARI YUSUF

@zulkhari: Anda bisa menggunakan insektisida: confidor/starfidor/klopindo bahan aktif imidakloprid Actara bahan aktif tiametoksam Regent bahan aktif fipronil Agrimec, bamec dll bahan aktif abamectin Pegasus bahan aktif diafenthiuron atau dengan menggunakan insektisida dari golongan piretroid yang berbahan aktif sipermetrin, lamda silahotrin dll yang penting hama yang bertipe mulut menggigit menghisap tersebut dikendalikan sebelum terjadi serangan berat, pengendalian dimulai dari insektisida golongan piretroid dulu. Dan pestisida tersebut disemprotkan secara bergilir dalam satu kali semprot (biar hama yang masih bertahan hidup tidak melakukan adaptasi fisiologis terhadap insektisida yang disemprotkan) dan penyemprotan diutamakan pada bagian bawah daun (baca tehnik penyemprotan yang benar disisni ). Dan untuk kutu kebul sebaiknya gunakan perekat dengan konsentrasi tinggi, namun perekat yang digunakan sebaiknya berkwalitas bagus (saya menggunakan Latron atau Apsa) karena resiko menggunakan perekat berkwalitas rendah dengan konsentrasi tinggi berakibat terutup/tersumbatnya stomata.

2. pada Maret 2, 2010 pada 13:33 | Balas

Zul

Terima kasih ya mas atas petunjuknya.untuk perekatnya sebaiknya digunakan konsentrasi berapa?

pada Maret 8, 2010 pada 18:26 | Balas

TOHARI YUSUF

Untuk Latron gunakan konsentrasi 1ml/l Semoga berhasil.

3. pada Juli 23, 2010 pada 15:11 | Balas

Ir. Wayan Sudargama

cara yang paling ampuh, dan jitu yakni membuat tanaman sehat, mulai perendaman benih pakai masalgin 50 wp, dan dekmon 22,43L, DI PEMBIBITAN GUNAKAN : MASTOFOL TRISTAR, DEKAMON 22,43l, dimacide 400 ec, dan masalgin 50 wp, pindah tanam kocor pakai gandapan reginae, dekamon 22,43L dan masalgin 50wp, dalam pemeliharaan dari fase vegetatif sampai generatif gunakan : 1. mastofol tristar 2. dekamon 22,43L. Gandapan maxima, reginae dan reginae pengendalian hama gunakan dimacide dan mestafen serta pengendalian penyakit : masalgin dan velimek, mau lari kemana, ingat buat tanaman sehat.

pada Juli 27, 2010 pada 18:47 | Balas

TOHARI YUSUF

Nih ada masukan siapa yang mau nyoba. Tapi kelihatannya semua produk dari Dewi Kayangan. Mas Wayan bagian pemasarannya yaaaa.?

4. pada Agustus 14, 2010 pada 01:17 | Balas

eko

artikelnya bagus kebetulan 1 bulan terakhir ini sibuk cari tau tentang gemini kalo menurut mas tohari penggunaan verticillium lecanii untuk tanaman cabe bagaimana ada beberapa situs yang bahas ini cuman kendalanya nyari verticillium lecanii yang bentuk bubuk kalaupun pembikinan , konsentrasi bahan kurang jelas mungkin mas tohari punya riset tentang verticillium lecanii

pada Agustus 18, 2010 pada 07:04 | Balas

TOHARI YUSUF

Kebanyakan agens hayati (baik patogen atau predator) digunakan sebelum terjadi serangan atau digunakan sebagai pencegahan saja. Saya belum punya pengalaman yang memuaskan berkaitan dengan agens hayati ataupun dengan pestisida organik, terutama untuk tanaman hortikultura yang berada dilahan bebas. Konsentrasi untuk masing biakan bikinan sendiri atau perorangan sulit untuk ditentukan karena jumlah/kepadatan agens hayati yang dibiakkan juga sangat variatif, namun anda bisa menanyakan pada Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura-Deptan di tempat anda. Namun bila anda ingin mengetahui konsentrasi yang tepat gunakan saja yang produk komersil dan mempunyai merek dagang namun biasanya harganya lumayan mahal dan dijual secara multi level.

5. pada September 22, 2010 pada 20:31 | Balas

Dhen Bagus

mas tohari mohon pencerahan untuk pengendalian kutu trip yg menggunakan penyemprotan bawang putih dosis atau perbandingannya bagaimana terima kasih

pada September 24, 2010 pada 16:44 | Balas

TOHARI YUSUF

Baca selengkapnya disini, insyaalla ada jawabannya..

6. pada November 10, 2010 pada 04:03 | Balas

mas wanda

mohon penjelasan ni mas tohari, masalah sistem kerja insectisida kok ada yang kontak dan lambung, sistemik racun kontak, akarisida.. itu maksudnya gimana, dan sekalian usul di daftar isi blog kok lum ada bahasan mengenai gulma dan herbisida.. mksh

pada November 12, 2010 pada 13:07 | Balas

TOHARI YUSUF

Racun kontak adalah racun yang daya basminya dengan langsung berhubungan/bersinggungan langsung dengn hama. Racun lambung mempunyai efek membunuh bila termakan oleh hama,kalau kontak dan lambung berarti bisa membunuh dengan kedua cara diatas. Sistemik berarti masuk kedalam jaringan tanaman, kalau kontak sistemik juga gabungn keduanya.

7. pada November 17, 2010 pada 11:16 | Balas

BIMO

Ass. Mas Tohari, salam kenal Saya Sunawan dari Ngawi, saat ini saya menanam cabe merah besar. Kemudian waktu menyemprot tanaman dengan pupuk daun, aplikasi semprot itu saya gabungkan dengan fungisida sistemik dan kontak. Apakah dari campuran ini akan berpengaruh negatif terhadap tanaman cabe saya ?

Terimakasih dan Wss.

pada November 17, 2010 pada 22:53 | Balas

TOHARI YUSUF

Secara umum untuk tanaman tidak terganggu bila kita menggunakan sesuai anjuran dan memperhatikan sifat alkalis (asam/basa) yang biasanya ada yang tertera pada kemasan. Biasanya/kebanyakan pestisida bersifat asam jadi jangan dicampur pestisida yang bersifat basa (yang bersifat basa misal pupuk kalsium dan pestisida bebahan aktif tembaga/Cupprum)

8. pada November 26, 2010 pada 14:13 | Balas

adi

klo perekat biasanya untuk pestisida ya mas? bs di campur untuk pupuk jg ngga?

pada November 29, 2010 pada 20:17 | Balas

TOHARI YUSUF

Perekat kebanyakan berfungsi untuk perata, pengemulsi, dan perekat, semakin perekat Mas Adi berkualitas bagus (misal AP** atau LAT**N) maka akan semakin sedikit penggunaanya dan lebih sedikit melapisi stomata yang berarti semakin sedikit efek negatifnya Jadi untuk pupuk daun dan yang lainnya tetap bisa dipadukan dengan dengan perekat dengan memperhatikan hal2 yang saya tulis diatas

MENGENAL BEBERAPA PENYAKIT TUMBUHAN

TAN CHING CHING

( A72883 )
ISI KANDUNGAN 1. 2. PENGENALAN ISI-ISI 2.1 PENYAKIT PENTING SAYUR-SAYURAN 2.2 PENYAKIT NILAM

2.3 PENYAKIT JAMBU BIJI DI MALAYSIA 2.4 ANCAMAN PHYLLOXERA PADA BUAH ANGGUR 2.5 KUBIS-KUBISAN DAN SELADA 2.6 ANCAMAN PENYAKIT PEMBIBITAN PADA BUAH PEPAYA 3. 4. KESIMPULAN LAMPIRAN RUJUKAN

5.

PENGENALAN Kehadiran hama dan penyakit di pertanaman tumbuhan jelas merugikan.Langkah pengendalian hanya bisa dilakukan bila para petani mengenal dengan baik gejala serangan atau penyakit yang ditimbulkan masingmasing organisme penyebabnya.Budidaya tanaman tumbuhan seperti sayuran daun , bunga , buah mahupun umbi memerlukan pengamatan yang cermat. Dengan begitu , serangan hama mahupun organisme penyebab penyakit dapat segera dikendalikan. Berikut disajikan beberapa gejala serangan hama dan penyakit penting yang biasa menyerang tanaman tumbuhan. PENYAKIT PENTING SAYUR-SAYURAN Penggerek umbi kentang Gejalanya pada kulit umbi terdapat kumpulan kotoran ulat berwarna cokelat tua.Jika umbi dibelah , didalamnya terdapat alur-alur. Warna daun merah dan terdapat jalinan benang yang meliputi ulat.Penyebab utama ialah Phthorimaea operculella.Hama berupa ulat berwarna kelabu dengan ukuran

panjang 1 cm. Kelak saat dewasa ia berubah menjadi ngengat yang sayapnya berumbai-rumbai berwarna kelabu.Pengedalian ialah tanaman dibumbun, disemprot dengan insektisida Hostathion 40 EC atau Dursban 20 EC.Gudang disucihamakan sebelum digunakan. Penyakit hawar daun kentang Penyebab utama ialah Jamur Phytophthora infestans.Gejalanya ialah bercak nekrotik di tepi-tepi daun, yang meluas ke seluruh bagian daun, terutama pada suhu rendah dan kelembapan serta curah hujan tinggi.Pengendalian dengan menanam jenis yang tahan penyakit,menggunakan bibit bukan dari pertanaman sakit, dan disemprot dengan fungisida Vitigran Blue, Dithane M-45, Vondozeb,Antracol atau Difolatan 4F. Hama pemakan daun kubis Ulat makan daun tanpa kulit arinya (epidermis) sehingga daun berjendela dan tampak memutih.Pada serangan berat, daun berlubang-lubang hingga tinggal tersisa tulang daun saja.Penyebab utama ialah Plutella xylostella atau disebut hama putih.Ulat berwarna hijau muda,berbulu hitam.Kepala kekuningan dengan bercak-bercak gelap.Ukuran tubuh 9 mm.Pengendalian biologis dengan bakteri bacillus thuringiensis.Penjebakan serangga dewasa dengan lampu dan cawan berisi air. Penyakit busuk basah kubis Daun berbercak kebasahan yang bentuknya tidak teratur.Akibat infeksi bakteri sekunder, tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas.Bakteri Erwinia carotovora pv.carotovora adalah penyebab utama.Cara pengendalian ialah menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman sakit, menanam dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat supaya kelembapan tidak tinggi. Penyakit akar gada kubis Akar yang jamur adakan pembelahan dan pembesaran sel yang akan bentuk bintil.Bintil-bintil akan bengka dan tanaman merana, daun menjadi hijau kelabu dan cepat layu.Jamur Plasmodiophora brassicae adalah penyebeb utama.Pengendaliannya ialah mencegah masuknya jamur penyebeb ke lahan-lahan yang masih bebas patogen, pengapuran dan memperlakukan tanah dengan Benlate,Vapam , Brassicol, atau basamid G. Hama Thrips pada cabai Daun yang terserang berubah bentuk.Permukaan bawah daun pula berwarna putih keperakan dan buah berubah bentuk dan terlihat jaringan.Penyebabnya ialah serangga Thrips sp.Penyemprotan insektisida Agrimec 18 EC,Thiodan 35 EC,atau Bayrusil 250 EC. Penyakit busuk daun bawang merah

Di dekat ujung daun timbul bercak hijau pucat.Daun segera menguning, layu dan mengering.Daun mati yang berwarna putih diliputi jamur hitam.Jamur Peronospora destructor adalah penyebeb utama.Memakai benih sehat,membakar daun-daun sisa panen, menyemprotkan fungisida Daconil 75 WP atau Derosal 60 WP. Hama penggerek buah tomat Bahagian ujung buah dan dekat lubang terdapat kotoran hama.Penyebabnya ialah Helicoverpa armigera.Rotasi tanaman dengan tanaman yang tahan terhadapnya,melepas musuh alami (Microptilis manilae). (GAMBAR RAJAH RUJUK PADA LAMPIRAN) PENYAKIT NILAM Sebagai tanaman industri penghasil minyak asiri,tanaman nilam juga tidak lepas dari serangan hama dan penyakit.Antara penyakit yang sering menyerang areal pertanaman nilam adalah seperti berikut. Layu bakteri Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum.Tanaman yang terserang biasanya akan layu dan akhirnya mati.Umumnya hanya 2-5 hari.Penyakit seperti ini disebut oleh petani Aceh sebagai penyakit mati bujang.Serangan layu dimulai dari pucuk tanaman,kemudian menyebar ke seluruh tanaman.Kulit akar sekunder mengelupas dan akar serabut banyak yang busuk.Bila sayatan diperas atau direndam dalam air jernih steril,ooze dari bakteri akan keluar seperti lendir.Penggunaan antibiotik Agrept dan Agrymicin dapat mengatasi serangan.Tapi cara yang lebih baik ialah mencabut semua tanaman yang sudah layu dan bakar di luar kebun. Budok Penyakit ini disebabkan oleh virus atau MLO(Mycoplasm Like Organism) yang disebar oleh serangga vektor.Daun mula berubah bentuk menjadi seperti kerupuk dengan ketebalan melebihi daun normal.Warna permukaan daun bagian bawah menjadi kasar,tulang daun menebal dan keriput.Kelainan ini akan menyebar sampai ke pucuk dan daun-daun lain dalam satu pohon.Hingga akhir pertumbuhan tanaman tertekan dan tidak bisa bertambah besar,serta konopinya pun mengecil.Untuk mencegah serangan,penyemprotan insektisida secara rutin seperti dengan Sevin 85 S,Basudin atauAzodrin 15 % selang 2-6 minggu sekali. Akar putih Gejala yang tampak mirip gejala serangan bakteri,hanya proses kematiannya jauh lebih lambat.Daun-daun biasanya berubah menguning dengan warna ungu yang menonjol pada permukaan sebelah bawahnya.Ia disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp biasanya terlihat ada benang-banang putih.Pencegahan dengan penyemprotan fungisida seperti Galarom pada tanaman 1-2 hari dengan selang waktu 7 hari.

Bercak daun Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporivides dan fusarium sp.Penyebaran dan penularannya lebih banyak melalui udara dan percikan air yang mengandung spora.Gejala serangganya ada bercak-bercak hitam besar atau kecil yang kebanyakan berada di pinggir daun.Serangan penyakit ini tidak menimbulkan masalah bagi petani sebab kebiasaan petani memungut semua daun yang berguguran pada waktu panen untuk disuling turut mengurangi inokulum jamur itu.

PENYAKIT JAMBU BIJI DI MALAYSIA Selain itu,jambu biji juga sering diserang hama dan penyakit.Jika ia tidak segera dikendalikan,dapat merusuk tanaman dan buahnya,bahkan dapat mematikan tanaman itu.Di Malaysia,antara penyakit jambu biji yang cukup merugikan adalah seperti berikut. Bengkak akar Penyebab penyakit ini adalah nematoda Meloidogyne incognita, sejenis cacing halus yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.Serangan nematoda dapat diketahui dari pertumbuhan tanaman yang kuntet (kerdil) dan tidak segar.Akar menjadi jarang dan warna daun berubah kekuningan.Buahnya kecil dan lebih cepat matang. Tanaman yang sudah terserang sistem perakarannya tidak sempurna , bengkak, serta warnanya berubah. Pencegahan dengan menggunakan bibit yang bebas nematoda. Jika tanaman yang sudah diserang dikenalikan dengan nematisida phenamifos dan carbofuram . Kudis Cendawan pestalotiopsis psidii penyebab penyakit kudis ini hanya bisa masuk ke jaringan buah melalui luka yang biasanya disebabkan oleh kepik helopeltis. Makin lama bintik membesar berukuran 1-3 mmdan bentuknya bulat dan cokelat kehitaman. Penyakit itu bisa diatasi dengan cara menyemplotan fungisida yang mengandungi cuprum atau zinc Antraknosa Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporoides ini lebih banyak menyerang buah. Genjala awal, tampak bintik-bintik kecil dan pada buah. Bintik ini makin lama makin membesar dan menyatu membentuk luka besar dengan lekuk ke dalam. Pengendalian dapat dilakukan dengan meyemprotkan fungisida pada buah yang dibungkus. Fungisida yang biasa digunakan mengandungi bahan aktif benomyl, carbendazim, carbendazim mancozeb, thiophanate methyl, chlorothalonil, propiconazole dan fentin acetate. ANCAMAN HAMA PHYLLOXERA PADA BUAH ANGGUR Hama phylloxera pernah meluluhlantakkan kebun anggur di Amerika utara , Eropa , dan Australia . Memang di Indonesia hama ini belum termasuk hama penting, tetapi bukan tak mungkin akan menebar ancaman bagi kebun-kebun anggur di daerah pengembangan.Dengan gejala benjol-benjol pada akar, batang dan daun, hama ini bisa menyebabkan tanaman layu , kerdil , serta menurunkan produksi buah. Dengan itu , cara pengendalian yang baik haruslah dilaksanakan.

Penyakit Phylloxera Phylloxera kerap dianggap sebagai penyakit yang menyerang tanaman anggur kerana sosok hamanya tidak mudah terlihat.Phylloxera adalah sejenis kutu yang hidup di bawah jaringan kulit kayu (gabus) yang telah mengering. Nama lengkapnya adalah Phylloxera vitifoliae , anggota famili Aphidae (keluarga kutu). Produksi anggur di Jawa memiliki kondisi tanah yang tergolong berat (alluvial). Tanah seperti ini pada musim kemarau akan terbelah-belah.. Dengan kondisi tanah yang terbelah-belah ini akar anggur mudah rusak dan kulitnya gampang terkelupas, sehingga memungkinkan tanaman terserang kutu akar phylloera. Tempat yang dihuni kutu tersebut akan membengkak dan membentuk benjolan-benjolan. Daun, batang dan akar, berbenjol-benjol. Di bawah benjolan terdapat kutu. Besar kecilnya benjolan tergantung banyaknya populasi kutu. Akar tanaman yang penuh dengan benjolan phylloxera sulit menyerap air dan hara dari dalam tanah. Akibatnya tanaman layu dan tumbuh kerdil serta kemampuan berbuahnya rendah sekali.Salah satu cara ampuh untuk mengatasi serangan hama kutu akar adalah menggunakan bibit hasil okulasi. Bibit okulasi itu dapat ditanam setelah berumur 6-12 bulan. Selain tahan terhadap phylloxera , bibit anggur okulasi itu pun tahan terhadap nematoda bintil akar.

Kubis-kubisan dan selada


Penyakit akar gada paling sering ditemukan di kol, kubis bunga ,brokoli, dan selada. Akar tanaman berbintil-bintil. Bintil menyatu sehingga akar terlihat bengkak. Penyakit ini ditemukan di daerah yang intensif menanam kubis-kubisan , seperti di Pangalengan ,Lembang, Garut. Penggunaan pupuk kandang belum matang ditambah tanah masam mempercepat perkembangbiakannya.Penyakit yang disebabkan cendawan Plasmodiophora brassicae ini belum ada ubatnya. Penanaman selada dengan sistem hidroponik jarang terserang. Risiko lain yang perlu diwaspada ialah penyakit busuk hitam.Bakteri Xanthomonas , biang keladinya, membuat tepi daun berwarna kuning kecokelatan.Tulang-tulang daun cokelat tua atau hitam. Sepintas pada daun terlihat bentuk menyerupai huruf V berwarna kuning kecokelatan.Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan fungisida tembaga, seperti Copper Sandoz.(2 gram/1), Tocida 60 WDG (1 gram/1).Cupravit (2.5 gram/1). Trimiltox (2.5 gram/1). Rekan busuk hitam yang lain ialah busuk basah. Penyakit ini juga disebabkan bakteri. Namanya Erwinia. Batang, daun atau krop berwarna cokelat basah. Aroma busuk menusuk hidung. Serangan banyak terjadi di musim hujan. Pemakaian sungkup plastik transparan di setiap guludan sangat mengurangi intensitas serangan.Menutup daun dengan lidi juga demikian. Namun, penutupan daun mengakibatkan warna kol menjadi lebih pucat. Kubis-kubisan dan selada sering mengalami kekurangan unsur boron. Batang tanaman berlubang di bahagian tengah. Pada kol bunga dan brokoli, ukuran krop yang terbentuk tidak maksimal. Antarcabang bunga lebih cepat terpisah. Jika ditanam di lahan terbuka, pupuk kandangnya harus benar-benar matang. Penggunaan pupuk CaB dapat dipertimbangkan. Sementara pupuk Borate dan Fertibor 2 gram/1 air dipakai saat serangan berat.

ANCAMAN PENYAKIT PEMBIBITAN PADA BUAH PEPAYA

Ada anggapan bahawa tanaman pepaya itu mudah.Jika penanaman hanya untuk kebutuhan sendiri, memang demikian.Namun, saat dikebunkan secara komersial, penyakit dumping off dan kapang daun di pembibitan menjadi hantu menakutkan. Dumping off Dumping off timbul kerana aerasi jelek atau kelembapan tinggi.Pemakaian pupuk kandang belum matang memicu munculnya penyakit ini.Di dataran tinggi, Phythium aphanidermatum tidak aktif.Peranannya diambil alih oleh Rhizoctonia dengan gejala serangan sama.Rebah batang dapat dihindari dengan memakai media semai steril.Sterilisasi dilakukan dengan medium suap air panas atau pemberian Basamid atau formalin 4% selama 24 jam.

Kapang daun Saat udara dingin, apalagi berkabut, daun pepaya yang masih muda sering berkerut-kerut.Di atasnya tumbuh miselium abu-abu. Ini disebabkan hadirnya cendawan Cladosporium oxysporum.Daun terserang keriting dan berwarna pucat, sehingga ada dugaan munculnya serangan virus. Padahal, sebenarnya itu terjadi kerana ada hama thrips (Thrips parvispinus) menggigit daun pepaya muda. Timbullah luka tersebut sampai akhirnya mematikan bibit.Antara langkahnya untuk mencegah serangan penyakit pada bibit pepaya ialah semaikan biji langsung ke dalam pot kecil atau tanam biji yang telah berkecambah ke pot. Buka peneduh tempat persemaian pada waktu-waktu tertentu. Tujuannya untuk memacu pertumbuhan bibit. KESIMPULAN Memanglah tidak dapat dinafikan bahawa kehadiran hama dan penyakit pada tumbuh-tumbuhan jelas membawa kerugian kepda para pengusaha tanaman tumbuhan.Malah ia juga akan membawa kemudaratan kepada kesihatan manusia jika termakan tumbuhan yang berpenyakit tersebut. Dengan itu , langkah-langkah pengendalian dan pencegahan yang sewajarnya haruslah dilaksana dan dipatuhi .

PANAH MERAH, best quality seed ever Gemiini Virus saat ini merupakan penyakit tanaman sayuran yang sangat merugikan petani. Kerugian akibat penyakit ini bisa mencapai 90%. Mengingat penyebabnya Virus, maka sampai saat ini belum ditemukan obat untuk mengendalikannya. Satu sarunya cara adalah dengan mencegah white fly masuk ke area pertanaman agar tidak menginfeksi tanaman sayuran yang kita tanam. Gemini virus bukan seed born (tidak terbawa benih), benih yang diambil dari tanaman yang terserang penyakit ini tidak membawa virus dan tanaman yang tumbuh dari benih tersebut akan tetap sehat/normal selama tidak ada infeksi di lahan. Mulanya Gemini virus menyerang cabe, kemudian tomat, disusul timun, kacang panjang dan belakangan mulai ditemukan juga gejala gemini virus pada terong. Menghadapi situasi ini PT EWSI sebagai produsen benih cap Panah Merah terus melakukan penelitian untuk menghasilkan varitas varitas yang tahan Gemini Virus. Saat ini baru satu varitas tomat yang benar2 tahan terhadap serangan/infeksi Gemini virus ini yaitu TYRANA. Ke depan akan menyusul Kacang panjang, Cabe, Timun, dan terong yang tahan GEMINI VIRUS. lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Ade Jaka Suteja kalau gemini virus itu ciri2nya gimana? kacang panjang saya daunnya pada kuning, buahnya juga kuning. apakah terkena virus gemini? lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Uvan Nurwahidah Shagir kami juga punya masalah dengan penyakit gemini virus yang menyerang pertanaman tomat dan sawi.... tolong solusinya.. lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Lesto P Kusumo Sayamelakukan percobaan dengan beberapa mikroba dan beberapa komponen extraction untuk menangani virus gemini dan keriting hasilnya cukup baik... tanaman cabe keriting dapat kembali pulih dari warna kuning dan keriting, namun butuh kesabaran dan ketaltenan karena harus dilakukan beberapa kali... lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Ovic Umar Salim Syeban lesto kusumo:boleh tau tidak cara menaggulangi daun keriting pada tanaman tomat,thank,s sblmnya lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Lokie Too mas lesto kusumo mikroba yang digunakan apa ya n dimana belinya..... apa bakteri itu vertilicium lecanii..... tapi belinya dimana ya..?????? lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Ghober Tambenk Pastrana ciri2 dari virus gemini bagaimana pak? mohon petunjuknya...Trims lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Yayang Lampung tanaman cabe saya ada yang berwarna kuning apakah ini jg terkena virus kuning, apa obatnya.... agar tidak menyebar ke cabe yang lain terima kasih... lebih dari setahun yang lalu Laporkan

Mochamad Kris Tanjung Agustian saya ingin tanya apakah penyakit ini menyerang tanaman perkebunan juga seperti jarak pagar??? pada tanaman jarak pagar yang saya teliti terlihat seperti teknena virus ini karena pertumbuhannya terhambat serta bentuk daun abnormal (keriting). awalnya saya mengira ini penyakit layu fusarium akan tetapi setelah dilihat lebih lanjut terdapat perbedaannya. tolong informasi lengkap mengenai penyaikt akibat virus gemini ini terima kasih. mochamad kris (mahasiswa pertanian unpad). sekitar 9 bulan yang lalu Laporkan

Ronal Astan dulu aku nanam cabe juga daunnya juga pd keriting, mo pakai petisida kimia hati kok nggak sreg, akhirnya coba2 pakai fermentasi abu dapur alhamdulillah akhirnya lama kelamaan bisa pulih..ulat n hama trips n konco2nya jg sm pergi. caranya : abu dpur dicampur air trus diaduk dibiarkan selama 4 hr ato lebih trus airnya disaring...baru disemprotkan ketanaman.. hidup organik..hehe.. sekitar 8 bulan yang lalu Laporkan

Sandy Rachmad @Rolan Astan : abu dapur dari kayu apa?en kenepa harus di biarkan lama banget? Mohon pencerahannya ^.^ En setelah penyemprotan keberapa ada perubahannya? sekitar 8 bulan yang lalu Laporkan

Ary Azib kenapa panah merah lambat stok benih lado....dan harga jual perkemasan sepuluh gram, sratus tiga puluh ribu rupiah....karna langka nya benih lado...tempat kami...kec,babulu kab penajam paser utara kaltim sekitar 7 bulan yang lalu Laporkan

Ronal Astan @sandy: terserah dr kayu apa, 2x penyemprotan udah ada perubahannya. itu ala petani tempo doeloe mas.. sekitar 7 bulan yang lalu Laporkan

Sandy Rachmad @Ronal Astan: thanks banget infonya ^.^ sekitar 7 bulan yang lalu Laporkan

Wakrimin Saja Penanganan virus hanya ada dua cara: 1. Mencegah hama yang menjadi vektor masuk ke lahan dan menginfeksi tanaman 2. Menggunakan varitas tahan virus. Untuk tomat, EWSI telah mengeluarkan 5 varitas tahan virus yaitu:TYRANA, DESTYNE, TYMOTI, TANTYNA, dan BETAVILA sekitar 6 bulan yang lalu Laporkan

Muhammad Ekbal @yayang : iya kena, coba saja dengan ANBUL insya ALLAH, sementara ini barang hanya tersedia di daerah lampung barat sekitar 6 bulan yang lalu Laporkan

Wakrimin Saja Satu lagi, pengalaman petani di kalsel, pegendalian white fly pembawa virus gemini bisa dengan insektisida ba imidakloprid seperti KLOPINDO WP atau CONFIDOR WP sekitar 6 bulan yang lalu Laporkan

Lee Fengyu Tanaman itu ibarat manusia.. Klo tubuh kita cukup makanan dan vitamin pasti daya tahan tubuh kita kuat.. Dan pasti terhindar dari penyakit.. Bgitu pun tanaman. sekitar 5 bulan yang lalu Laporkan

Wakrimin Saja @Lee, sayangnya agak beda, manusia bisa produksi antibodi untuk melawan virus dan kuman tapi tanaman tidak. sekitar 5 bulan yang lalu Laporkan

Irwan Arikal Tomat Tyrana tahan kriting tapi mudah terkena Husarium/Layu bakteri/ Mati Layu, tanaman saya 3 pak mungkin hnya trsisa 1 pak aja yg Utuh.. Ada yg punya Solusi yg tept ga ? sekitar 5 bulan yang lalu Laporkan

Muhammad Ekbal @irwan : kocor bakterisida setelah 15 HST sekitar 5 bulan yang lalu Laporkan

Khutoro Prayitno Pengalaman terbaru saya virus gemini hanya meyerang pada bibit tanaman atau sayuran yg kurang berkualitas smisal F2 dan seterusnya.meyaerang pada waktu cuaca ekstrim cendrung basah dan pada bedengan lembek gembur PH-7.Virus gemini menular pada cuaca dingin,angin kencang.Saya mengatasi gemini dengan pemusnahan tanaman yng baru ditemukan serangan dibakar atau di kubur. sekitar 5 bulan yang lalu Laporkan

Wakrimin Saja @ pak Irwan, TYRANA memang memeiliki ketahanan layu bakteri yang rendah, lebih rendah dari PERMATA, tapi TYRANA memiliki ketrahan virus gemini yang sangat tinggi dan produksinya pun tinggi, karenanya tidak disarankan di daerah yang bermasalah dengan layu bakteri. Sebagai perbaikan, kami telah keluarkan BETAVILA, DESTYNE, TANTYNA, DAN TYMOTI, keempat varitas ini tahan layu dan tahan gemini virus sekitar 5 bulan yang lalu Laporkan

Gapoktan Tani Wahana harga bibit tomat destyne berapa bos ? sekitar 4 bulan yang lalu Laporkan

Triadi Adinata virus gemini ini di bawa oleh kutu2an. ciri-cirinya yaitu daun tanaman menjadi kriting dan tanaman susah tumbuh keatas. Sebenarnya kalo tanaman sudah terserang,cukup susah diobati tetapi dapat dicegah mulai dipersemaian. umur 5 HSTdi persemaian di kocor memakai Confidor ultra selang waktu 5 hari . setelah pindah tanam juga dikocor Confidor ultra setiap 5hari sekali. Varietas toleran Virus ini yaitu untuk tomat NIKI F1, NATAMA SUPER F1 dari PT. BINTANG ASIA. SAYA PUNYA BUKTI UNTUK VARIETAS INI sekitar 4 bulan yang lalu Laporkan

Triadi Adinata Oya, Coba uji banding Produktivitas ,ketahanan virus, kekerasan buah Tomat PERMATA dgn NIKI F1. NIKI lebih OKE.

sekitar 4 bulan yang lalu Laporkan

Ehen DRamadhan kebetulan nih......... sy mau tanam tomat utk benih jenis tyrana HET untuk wilayah Banjarmasin Brp? isi kemasan ? Apa perbedaan serta keunggulan dibanding jenis permata dan lantena ? sdh tersediakah di wilayah kami.

sekitar 4 bulan yang lalu Laporkan

Wakrimin Saja @ Triadi adinata, mohon maaf sekedar meluruskan, virus gemini hanya ditularkan oleh whitefly atau kupu putih jadi kutu kebul atau hama breng (satu jenis hanya beda nama saja), jadi bukan oleh kutu kutuan karena kutu tanaman itu banyak macemnya. Pencegahan hanya dua cara yaitu dengan menanam varitas yang TAHAN VIRUS atau menjada agar tanaman sedapat mungkin tidak dihinggapi atau dihisap oleh whitefly. sekitar 4 bulan yang lalu Laporkan

Wakrimin Saja @ Hens, TYRANA, harga eceran sekitar 150.000 an, maaf agak mahal mengingat tomat ini sangat produktif dan TAHAN VIRUS GEMINI. lebih kurang 10 tahun kami breeding untuk menghasilkan tomat ini jadi wajar kalau harga agak tinggi. sekitar 4 bulan yang lalu Laporkan

Grey Salman obat yang tepat untuk tanaman cabe yang terkena keriting disertai bintik kuning pada daun .. apa solusinya..? triakasi saya tunggu sekitar 2 bulan yang lalu Laporkan

WELCOME TO THE ORGANIC FARMING


selamat datang di sebuah blog yang penuh dengan info tentang pertanian organik. selamat menikmati. semoga bermanfaat

Rabu, 19 Agustus 2009


pupuk organik
Kulit Pisang Sebagi Pupuk Organik Kulit Pisang yang selama ini kita biarkan terbuang begitu saja ternyata mengandung unsur kimia yang baik untuk pupuk yaitu Fosfor, Magnesium, Sulfur, dan Sodium. Cara penggunaan : Untuk tanaman hias (dalam pot) : kulit pisang dipotong-potong kemudian potongan dipendam disekitar tanaman. Untuk tanaman pertanian (lahan sawah) : Cara 1. Kulit pisang di blender (dihaluskan) sampai menjadi cairan (10 Kg kulit pisang dicampur 10 Liter Air) rendam selama satu malam, air hasil rendaman disaring dengan kain. 1 Liter hasil saringan dapat dicampur 10 liter air semprotkan ke tanah sekitar tanaman. Cara 2. Kulit pisang di potong kecil-kecil, kemudian dikomposkan bersama tanah baru ditebar seperti pupuk pada umumnya. Pendahuluan Pembuatan Kompos Untuk menunjang intensifikasi pekarangan di Irian Jaya telah dikaji teknik percocok tanam sistim pupuk

organik pada usahatani pekarangan. Sistim ini ternyata menghasilkan volume tisik dan penerimaan petani yang lebih besar. Selain itu anjuran terhadap teknik bercocok tanam dengan cara pupuk organik didasari atas pertimbangan bahwa para petani di Irian Jaya pada umumnya belum menggunakan pupuk dan pestisida secara intensif. Penerapan sistim pupuk organik juga mempunyai aspek pelestarian lingkungan. Dalam teknik bercocok tanam ini dianjurkan pengolahan tanah ganda, pembuatan bedengan tinggi, penambahan pupuk kandang dan sistim tumpangsari. Karena ketersedian pupuk kandang masih terbatas maka dilakukan adaptasi dengan mengurangi pupuk kandang dan memberikan pupuk kompos. Berikut ini adalah cara membuat kompos. Cara membuat kompos Ada beberapa alternatif cara yang dipilih sesuai kondisi lokal. - Kompos jadi siap pakai Pada daerah yang banyak terdapat sampah kota dan desa yang telah mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang cukup lama di alam terbuka, dapat diterapkan cara ini, sebagai berikut: - Gali tumpukan sampah (garbage atau sampah lapuk) yang sudah seperti tanah - Pisahkan dari bahan-bahan yang tidak dapat lapuk - Jemur sampai kering, lalu ayak - Bubuhkan 50 - 100 gram belerang untuk setiap 1 kg tanah sampah. Bahan: - 2 1 /4 hingga 4 m3 sampah lapuk (garbage) - 6,5 m3 kulit buah kopi - 750 kg kotoran ternak memamah biak ( 50 kaleng ukuran 20 liter) - 30 kg abu dapur atau abu kayu Cara Membuat 1). Buatlah bak pengomposan dari bak semen. Dasar bak cekung dan melekuk di bagian tengahnya. Buat lubang pada salah satu sisi bak agar cairan yang dihasilkan dapat tertampung dan dimanfaatkan. Atau buatlah bak pengomposan dengan menggali tanah ukuran 2,5 x 1 x 1 m (panjang x lebar x tinggi). Tapi hasilnya kurang sempurna dan kompos yang dihasilkan berair dan lunak. 2). Aduk semua bahan menjadi satu kecuali abu. Masukkan ke dalam bak pengomposan setinggi 1 meter, tanpa dipadatkan supaya mikroorganisme aerob dapat berkembang dengan baik. Kemudian taburi bagian atas tumpukan bahan tadi dengan abu. 3). Untuk menandai apakah proses pengomposan berlangsung dengan balk, perhatikan suhu udara dalam campuran bahan. Pengomposan yang baik akan meningkatkan suhu dengan pesat selama 4 - 5 hari, lalu segera menurun lagi. 4). Tampunglah cairan yang keluar dari bak semen. Siram ke permukaan campuran bahan untuk meningkatkan kadar nitrogen dan mempercepat proses pengomposan. 5). 2 - 3 minggu kemudian, balik-balik bahan kompos setiap minggu. Setelah 2 - 3 bulan kompos sudah cukup matang. 6). Jemur kompos sebelum digunakan hingga kadar airnya kira-kira 50 -60 % saja. Kalau di daerah kita tidak tersedia kulit buah kopi, cara ke II dapat diadaptasi dengan menggantikan kulit buah kopi dengan hijauan seperti Iamtoro atau lainnya. - Kompos Sistem Bogor Bahan : - Sampah mudah lapuk (garbage) - Jerami yang sudah bercampur dengan kotoran dan air kencing ternak.

- Kotoran ternak memamah biak - Abu dapur atau abu kayu Cara Membuat: 1). Timbuni campuran jerami dan sampah setinggi 25 cm di atas bedengan berukuran 2,5 x 2,5 meter. 2). Timbun lagi campuran kotoran dan air kencing ternak di atas timbunan tadi tipis-tipis dan merata. 3). Timbun lagi campuran jerami dan sampah-sampah setinggi 25 cm. 4). Tutup lagi dengan campuran kotoran dan kencing ternak. 5). Timbun bagian paling atas dengan abu sampai setebal 10 cm. 6). Balik-balik campuran bahan kompos setelah berlangsung 15 hari, 30 hari dan 60 hari. 7). Setelah di proses selama 3 bulan kompos biasanya cukup matang. Agar pengomposan berhasil, buatlah atap naungan di atas bedengan pengomposan sebab air hujan dan penyinaran langsung matahari dapat menggagalkan proses pengomposan. (SR/021 /97) Sumber: 1). Apriadji, W.H. 1989. Memproses Sampah Penebar Swadaya Jakarta 2). Sihombing S. 1995. Laporan Pengkajian Sistem Pupuk Organik Pada Usahatani Pekarangan di Desa Besum Kabupaten Jayapura

Cara Buat kompos bag 2 Membuat Kompos Segi-Tiga Ini adalah cara untuk membuat kompos dengan sistem terowongan udara. Yaitu dengan menumpukkan daun-daun, potongan rumput dan bahan lain diatas segitiga panjang yang terbuat dari bambu atau kayu. Terowongan udara terbuat dari bambu atau kayu berukuran kira kira : tinggi 20 cm, panjang 1.5 - 2 meter. Buatlah dua buah dan letakkan berdampingan. Kuncinya Membuat Kompos Yang Bagus 1. Rasio karbon / nitrogen Campuran dari daun kering, serbuk gergaji, atau bahan karbon lain digabung dengan kotoran hewan, tanaman hijau, atau pupuk untuk nitrogen (approximately 4:1 by volume). 2. Adanya mikroorgansme Didapatkan dari beberapa sekop penuh tanah kebun yang subur atau kompos. 3. Tingkat kelembapan Tumpukannya seharusnya mempunyai kelembabpan seperti spon yang telah diperas. Tambahkan air bila perlu. 4. Tingkat oksigen Tumpukan kompos sebaiknya dibalik dengan

teratur agar dapat hancur lebih cepat. Membalik tumpukannya menambahkan oksigen sehingga lebih sering kamu membaliknya, semakin cepat ia hancur. 5. Ukuran Partikel Semakin halus ukuran partikelnya, semakin luas daerah yang ada bagi mikroorganisme untuk bekerja. Mencacah daun-daun dan bahan yang besar mempercepat proses kompos. Tumpuklah daun2 & bahan2 yang lain diatas satu terowongan udara & biarkan yang satunya. 1 Tambahkan bahan & siram dengan air secara teratur setiap hari agar tumpukan tetap lembab. 2 20 cm 1.5 - 2 m Setelah bagian bawah mulai menghitam (seperti tanah), baliklah tumpukan keatas terowongan udara yang satunya. Tumpuk bahan yang baru diatas terowongan yang lama. 3 Jaga kelembaban tumpukan dengan menyiramnya secara teratur & biarkan sampai menjadi kompos (kirakira 6 minggu atau warnanya kehitaman semua). 4 Setelah bahannya menjadi kompos, bisa digunakan untuk kebun. Ulangi lagi proses diatas, supaya anda selalu punya kompos. 5 Kompos yang anda buat sendiri ini bisa digunakan untuk kesuburan tanah dan kesehatan tanaman anda. 6 Kompos = tanah & kebun sehat Tumpukan kompos lembab dan hangat hanya di tengah tumpukannya. Kemungkinan Sebab Tumpukan kompos terlalu kecil, atau cuaca dingin telah memperlambat proses kompos. Pemecahan Masalah Jika kamu cuma membuat kompos dengan cara menumpuk, pastikan tumpukannya paling sedikit 1 meter tingginya dan 1 meter lebarnya. Dengan sistem kerangkeng kompos atau kompos segitiga, tumpukannya tak harus terlalu besar. Tak ada apa yang terjadi. Tumpukan kompos tak terlihat menghangat sama sekali. Kemungkinan Sebab 1. Tak cukupnya bahan nitrogen 2. Tak cukupnya oksigen yang masuk ke kompos 3. Tak cukupnya kelembabpan dalam tumpukan kompos 4. Kompos sudah selesai - siap digunakan Pemecahan Masalah 1. Pastikan kamu punya sumber yang kaya nitrogen seperti kotoran hewan, potongan rumput atau sisasisa makanan.

2. Campur aduk tumpukannya sehingga ia dapat bernafas, atau ganti ke sistem kerangkeng kompos atau kompos segitiga. 3. Campur aduk tumpukannya dan siram dengan air sehingga tumpukannya lembab - tumpukan yang sangat kering tidak akan mengkompos. Daun-daun lengket / rumput tidak terurai. Kemungkinan Sebab Tidak cukupnya aliran udara, dan / atau kekurangan kelembabpan. Pemecahan Masalah 1. Hindari lapisan tebal suatu jenis bahan saja. Terlalu banyak sesuatu seperti daun, kertas atau potongan rumput tidak akan terurai dengan baik. 2. Campur lapisan-lapisan tersebut dan aduk tumpukannya sehingga bahan-bahan tersebut tercampur baik. 3. Cacah kecil-kecil bahan apapun yang besar yang tidak terurai dengan baik. Komposnya berbau seperti mentega asam atau telur busuk Kemungkinan Sebab Tidak cukup oxygen, dan / atau tumpukan komposnya terlalu basah, atau terlalu padat. Pemecahan Masalah 1. Aduk tumpukannya sehingga dapat teraliri udara dan bernafas. Atau gunakan sistem kerangkeng kompos atau segitiga. 2. Tambahkan bahan-bahan kering yang kasar seperti jerami, atau daun-daunan untuk menyerap kelembabpan yang berlebihan. 3. Jika sangat bau, tambahkan bahan-bahan kering diatasnya dan tunggu sampai agak kering sedikit sebelum kamu mengaduk tumpukannya. Komposnya berbau seperti amonia. Kemungkinan Sebab Tak cukupnya bahan karbon dalam kompos. Pemecahan Masalah Tambahkan bahan karbon seperti serbuk gergaji, sekam padi, daun-daunan, jerami, cacahan koran, dll. Komposnya dirubungi kecoa, lalat, atau binatang lain. Kemungkinan Sebab Bahan-bahan yang tidak tepat (daging / minyak), atau bahan-bahan tersebut terlalu dekat ke permukaan atau sisi tumpukan komposnya. Pemecahan Masalah Kubur sisa-sisa makanan ditengah tumpukan. jangan tambahkan bahan-bahan yang tak seharusnya (tulang / daging) ke komposmu. Ganti ke kerangkeng kompos. Komposnya dirubungi serangga, kaki seribu. Ini merupakan pengkomposan yang normal, dan bagian dari proses alam. Bukan masalah. Komposnya dirubungi Semut Api Kemungkinan Sebab Tumpukan mungkin terlalu kering, tidak cukup hangat, dan / atau ada sisa makanan yang terlalu dekat ke permukaan. Pemecahan Masalah Pastikan tumpukannya mempunyai campuran bahan yang baik agar dapat menghangat, dan dijaga kelembabpannya. www.idepfoundation.org

Memecahkan Masalah Penkomposan Membuat Pupuk Hijau Organik Pupuk Hijau: adalah pupuk organik yang terbuat dari sisa tanaman atau sampah yang diproses dengan bantuan bakteri. Bahan dan Komposisi: 200 kg hijau daun atau sampah dapur. 10 kg dedak halus. kg gula pasir/gula merah. liter bakteri. 200 liter air atau secukupnya. Cara Pembuatan: Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi. Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun. Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air. Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata. Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat. Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan. PUPUK KOMPOS SUPER Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) IPPTP Mataram, NTB Diterbitkan oleh : Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Mataram Kotak Pos 1017, Telp. (0370) 671312, Fax. 671620 No: 01/2000 Agdex : 546 Juli 2000 PENDAHULUAN Pupuk Kompos Super merupakan dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan serbuk gergaji yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya : stardec atau bahan sejenis) di tambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos super seperti : serbuk gergaji, abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak dipetani juga memiliki kandungan nitrogen dan potasium. Kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos. Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos super adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktifitas biologis pada kondisi yang terkontrol. PROSES PEMBUATAN KOMPOS SUPER 1. Bahan yang diperlukan:

Kotoran sapi : 80-83% Serbuk gergaji : 5% Bahan pemacu mikroorganisme : 0,25% Abu Sekam : 10%n Kalsit/Kapur : 2% Boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, kotoran ayam maksimal 25% 2. Tempat Sebidang tempat beralas tanah, ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. 3. Prosesing - Kotoran sapi (faeses dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai 60%. - Kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi, tempat pembuatan kompos super dan diberi serbuk gergaji, abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis dan seluruh bahan dicampur diaduk merata. - Setelah .seminggu di lokasi I, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/ dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu sampai 70 C untuk mematikan pertumbuhan biji gulma sehingga kompos super yang dihasilkan dapat bebas dari biji gulma. - Seminggu kemudian dilakukan pembalikan untuk dipindahkan pada lokasi ke 3 dan dibiarkan selama satu minggu. - Setelah satu minggu pada lokasi ke 3 kemudian dilakukan pembalikan untuk membawa pada lokasi ke 4. Pada tempat ini kompos super telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau. - Kemudian pupuk diayak/disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dare bahan yang tidak di harapkan (misalnya batu, potongan kayu, rafia) sehingga kompos super yang dihasilkan benar-benar berkualitas. - Selanjutnya pupuk organik kompos super siap dikemas dan siap diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk organik berkualitas pengganti pupuk kimia. - Kandungan Kompos Super Moisture/kelembaban 45%5 TotaI N >l,8l% P0205 >1,89% K20 >1,96% Ca0 >2,96% Mg0 >0,70% C/N Ratio Maks 16% Manfaat Penggunaan Kompos Super pada Lahan Pertanian I. Mampu menggantikan atau mengefektifkan penggunaan pupuk kimia (anorganik) sehingga biaya pembelian pupuk dapat ditekan. 2. bebas dari biji tanaman liar (gulma). 3. Tidak berbau dan mudah digunakan.

4. Menyediakan unsur hara yang seimbang dalam tanah. 5. Meningkatkan populasi mikroba tanah sehingga struktur tanah tetap gembur. 6. Memperbaiki derajat keasarnan (pH) tanah. 7. Meningkatkan produksi berbagai tanaman antara I0-30%. Manfaat untuk Tambak Cara ini akan menambah kesuburan fisik kimia dan biologis sehingga dasar tambak mampu meredam efek buruk pemupukan sisa pakan, faeses, kulit udang dan sisa bahan organik yang lain untuk di urai lebih sempurna. Dosis 1500-2000 kg/ha pada dasar tambak diberikan saat pengolahan dasar tambak. Cara Buat pupuk Cair Organik Bahan dan Alat: 1 liter bakteri 5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya) 0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya 1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air 30 kg kotoran hewan Air secukupnya Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat Cara Pembuatan: Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember. Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember. Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat. Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka. Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan. Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya. Kegunaan: Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari. Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan. Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau. Cara Membuat EM

Membuat pupuk Effective Microorganisme atau EM Pupuk EM adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan bakteri (microorganisme). Sampah organik dengan proses EM dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat meningkatkan kualitas tanah. Beriikut langkah-langkah pembuatan pupuk menggunakan EM : Pembuatan bakteri penghancur (EM). Bahan-bahan : Susu sapi atau susu kambing murni. Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus. Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih. Alat-alat yang diperlukan : Panci, kompor dan blender/parutan untuk menghaluskan nanas. Cara pembuatan : Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan. Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing. Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung. Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri. Buat Anda yang gemar menanam tanaman buah dalam pot (Tabulampot) ada baiknya menyimak tips singkat berikut ini. Untuk merangsang tabulampot Anda berbunga, berikan pupuk daun dengan kandungan P tinggi. Hal ini juga harus dibarengi dengan pemberian hara yang cukup pada media tanam, seperti memberikan NPK pada media tanam (Kandungan NPK bisa setara atau P-nya lebih tinggi). Setelah tanaman mulai berbunga, di sinilah diperlukan ketegaan kita. Perhatikan rasio/perbandingan jumlah daun dan bunga/buah nantinya. Jangan merasa sayang untuk membuang/menjarangkan bunga jika terlihat berlebihan dibandingkan jumlah daunnya. Ada yang menyarankan untuk membuang buah yang pertama terbentuk. Hal ini ada baiknya karena buah yang pertama terbentuk cenderung berkembang lebih pesat sehingga akan menghambat/mengurangi

perkembangan bunga/buah berikutnya. Penjarangan buah yang terbentuk dilakukan sedini mungkin agar makanan/energi tanaman tidak banyak terbuang. Buang buah yang terlihat kurang mulus, bengkok, dan lain-lain. Bungkus buah yang terbentuk untuk mencegah serangan lalat buah atau hama dan penyakit lainnya. Harap diingat penjarangan ini harus dilakukan, jika tidak hasilnya akan fatal. Tanaman Anda bisa mati atau paling tidak mogok berbuah pada musim berikutnya. Selamat menjadi orang yang tega demi kebaikan, hehehehe.. . Mari berkebun

Diposkan oleh andi banget di 22:54 0 komentar

Minggu, 16 Agustus 2009


VERTIKULTUR
Vertikultur sebagai alternatif bagi lahan sempit Lahan yang sempit memang membuat kegiatan berkebun jadi kurang leluasa, namun dengan memanfaatkan ruang secara vertikal, berkebun menjadi lebih menyenangkan dengan kuantitas yang dapat ditingkatkan. Vertikultur adalah pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan. Pada kesempatan ini saya tertarik mencoba vertikultur dengan bambu berdiri sebagai wadahnya. Karena skalanya percobaan, saya hanya menggunakan dua batang bambu. Tidak semua jenis tanaman bisa atau cocok untuk vertikultur. Untungnya, hampir semua jenis sayuran bisa digunakan, yang kebetulan juga memang sesuai keinginan saya berkebun sayur mayur untuk kepentingan dapur. Dalam hal ini saya memilih tomat dan cabe merah. Untuk media tanam saya gunakan campuran tanah, kompos, dan sekam. Saya menggunakan bahan dan pola organik dalam bercocok tanam. Pembuatan wadah tanam Wadah tanam yang akan saya buat adalah dua batang bambu yang masing-masing panjangnya 120 cm, dengan pembagian 100 cm untuk wadah tanam dan 20 cm sisanya untuk ditanam ke tanah. Pada setiap bambu akan dibuat lubang tanam sebanyak 10 buah. Saya mulai dengan memilih bambu yang batangnya paling besar, lalu dipotong sesuai dengan ukuran yang ditetapkan. Semakin bagus kualitas bambu, semakin panjang pula masa pakainya. Di bagian 20 cm terdapat ruas yang nantinya akan menjadi ruas terakhir dihitung dari atas. Semua ruas bambu kecuali yang terakhir saya bobol dengan menggunakan linggis supaya keseluruan ruang dalam bambu terbuka. Di bagian inilah nantinya media tanam ditempatkan. Untuk ruas terakhir tidak dibobol keseluruhan, melainkan hanya dibuat sejumlah lubang kecil dengan paku untuk sirkulasi air keluar (atusan). Potong bambu dan bobol semua ruas kecuali yang terakhir

Selanjutnya saya membuat lubang tanam di sepanjang bagian 100 cm dengan menggunakan bor listrik. Anda tentu saja bisa menggunakan alat lain seperti pahat, atau apa saja yang Anda punya untuk membuat lubang. Lubang dibuat secara selang-seling pada keempat sisi bambu (saya asosiasikan permukan bambu dengan bidang kotak). Pada dua sisi yang saling berhadapan terdapat masing-masing tiga lubang tanam, pada dua sisi lainnya masing-masing dua lubang tanam, sehingga didapatkan 10 lubang tanam secara keseluruhan. Setiap lubang berdiameter kira-kira 1,5 cm, sedangkan jarak antar lubang saya buat 30 cm. Buat lubang tanam sesuai ukuran bambu dan karakteristik tanaman Jika diilustrasikan dengan permukaan datar, posisi lubang-lubang tanam Ilustrasi posisi lubang pada permukaan datar Kini saatnya menanam bambu dengan memasukkan 20 cm bagian bawah ke dalam tanah. Saya menempatkan kedua batang bambu pada jarak satu meter lebih, walaupun 40-50 cm barangkali masih memadai. Batang bambu tidak ditancapkan begitu saja, melainkan dibuatkan lubang dulu seperlunya. Posisi wadah bambu yang telah ditanam di tanah Pengadaan media tanam Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang perakaran. Dari media tanam inilah tanaman menyerap makanan berupa unsur hara melalui akarnya. Media tanam yang saya gunakan adalah campuran antara tanah, pupuk kompos, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung air di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman. Campuran media tanam kemudian dimasukkan ke dalam bambu hingga penuh. Untuk memastikan tidak ada ruang kosong, dapat digunakan bambu kecil atau kayu untuk mendorong tanah hingga ke dasar wadah (ruas terakhir). Media tanam di dalam bambu diusahakan agar tidak terlalu padat supaya air mudah mengalir, juga supaya akar tanaman tidak kesulitan bernafas, dan tidak terlalu renggang agar ada keleluasaan dalam mempertahankan air dan menjaga kelembaban. Persiapan bibit tanaman dan penanaman Jauh sebelum saya berencana membuat wadah vertikal, saya telah mulai mempersiapkan sejumlah bibit tanaman, tadinya untuk ditanam langsung ke tanah. Ketika tanaman sudah mencapai umur siap dipindahkan, barulah saya menetapkan ide untuk menanam secara vertikal. Jadi dalam hal ini, kebetulan waktunya tepat. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam proses ini, yaitu persemaian, pemindahan, dan penanaman. Seperti halnya menanam, menyemaikan benih juga memerlukan wadah dan media tanam. Wadah bisa apa saja sepanjang dapat diisi media tanam seperlunya dan memiliki lubang di bagian bawah untuk mengeluarkan kelebihan air. Di sini saya menggunakan wadah khusus persemaian benih yang disebut tray dengan jumlah lubang 128 buah (tray lain jumlah dan ukuran lubangnya bervariasi). Saya juga menggunakan sebuah pot ukuran sedang dan sebuah bekas tempat kue. Adapun untuk media tanamnya

adalah media tanam dari produk jadi yang bersifat organik. Jika menggunakan tray, jumlah benih yang dapat disemaikan sudah terukur karena setiap lubang diisi sebuah benih (walaupun bisa juga diisi 2 atau 3). Jika menggunakan wadah lain maka jumlah benih yang dapat disemaikan disesuaikan dengan ukuran wadahnya, dalam hal ini jarak tanam benih diatur sedemikian rupa agar tidak berdempetan. Dua-tiga minggu setelah persemaian benih sudah berkecambah dan mengeluarkan 3-4 daun. Idealnya, benih yang sudah tumbuh daun berjumlah 4-5 helai sudah layak dipindahtanamkan. Karena waktu itu saya belum berencana untuk menanamnya di tanah, juga belum terpikir tentang vertikultur, bibit-bibit tadi saya pindahkan ke polybag dan wadah-wadah lain yang bisa saya gunakan. Bibit tanaman yang saya pindahkan ke wadah bambu sudah berumur lebih dari satu bulan, daunnya pun sudah bertambah. Karena saya hanya memiliki total 20 lubang tanam dari dua batang bambu, maka saya cukup leluasa untuk memilih 20 bibit terbaik. Saya memilih 10 bibit tanaman cabe merah dan 10 bibit tomat. Sebelum bibit-bibit ditanam di wadah bambu, terlebih dahulu saya menyiramkan air ke dalamnya. Saya menyiram hingga jenuh, ditandai dengan menetesnya air keluar dari lubang-lubang tanam. Setelah saya rasa cukup, saya pun mulai menanam bibit satu demi satu. Setiap lubang tanam saya bolongi lagi tanahnya untuk memasukkan akar. Semua bagian akar dari setiap bibit harus masuk ke dalam tanah. Setiap jenis bibit (cabe merah dan tomat) saya kelompokkan di wadah bambu terpisah. Kini saya memiliki dua kebun vertikal. Perkembangan dan pemeliharaan Pada hari pertama setelah penanaman, sejumlah daun menguning dan beberapa di antaranya malah berguguran. Namun, 2-3 hari kemudian, daun-daun muda bermunculan. Satu bulan kemudian batang semakin besar, cabang bertambah, dan daun semakin rimbun, menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan meskipun tidak sepesat pola tanaman normal yang ditanam di tanah, atau setidaknya di pot. Seperti halnya tanaman konvensional, tanaman vertikultur harus disiram dan dipupuk secara berkelanjutan, juga dilakukan penyemprotan untuk mencegah dan/atau membunuh hama pengganggu. Dan seperti juga tanaman dalam wadah lainnya, pemupukan harus lebih sering karena tanaman tidak mendapatkan unsur hara yang umumnya terdapat secara alami di dalam tanah. Karena posturnya yang jangkung dan wadah yang sebagian besar tertutup, saya berpikir bahwa yang cocok digunakan adalah pupuk cair. Saya memilih salah satu produk pupuk cair organik yang saat ini sudah banyak beredar di pasar. Untuk pengusir hama, saya juga menggunakan produk berbahan organik dari pasar yang selain untuk mengusir hama juga memiliki fungsi untuk mempercepat penguraian bahan pupuk organik. Saya menyukai kenyataan walaupun awalnya agak aneh, bahwa untuk menyiram, saya hanya memasukkan air dari atas lubang bambu. Begitupun ketika mengaplikasikan pupuk cair. Selain itu saya juga mencipratkan air dan pupuk cair langsung ke daun tanaman, atau dengan menggunakan semprotan. Satu hal lagi yang meringankan saya dalam memelihara tanaman vertikultur adalah saya tidak perlu membersihkan gulma, karena memang (sejauh ini) belum ada gulma yang tumbuh. Bandingkan jika ditanam di tanah atau di pot yang memungkinkan gulma tumbuh sangat rajin. Hari ini dibersihkan, dua hari kemudian sudah muncul lagi. Batang membesar, cabang bertambah, daun makin rimbun Bentuk-bentuk veltikultur

Model dan bahan untuk membuat wadah vertikultur sangat banyak, tinggal disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Selain bambu dapat juga digunakan paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras pun bisa. Ada beberapa model lain yang ingin dan telah saya coba, dengan bahan bambu yang sangat dominan. Saya hanya ingin memanfaatkan sisa-sisa bahan bangunan yang digunakan waktu renovasi, karena saya percaya bahwa salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan benda-benda bekas di sekitar kita. Model 1: rak mini Model 2: Bambu tingkat Model 3: Rak bertingkat Model 4: Rak sederhana Anda tertarik? Selamat mencoba dan bervertikulturia! Referensi: Sutarminingsih, Ch. Lilies, Vertikultur, (Yogyakarta: Kanisius, 2007) UPDATE [22-09-2008] Berhubung sempat mengungsi ke rumah mertua sebelum kelahiran anak ketiga hingga beberapa minggu, tanaman wadah vertikal saya sempat tidak terurus. Hasilnya, semua tanaman tomat gugur dengan sukses, tanaman cabe yang tersisa hidup dengan merana. Saat ini saya belum melakukan tindakan apapun, insya Allah setelah lebaran, saya akan mengulangi lagi dari proses pembibitan dan penanaman. Vertikultur Kebun Mini di Dalam Rumah Hobi berkebun kini makin digemari. Banyak dilakukan di pekarangan rumah, halaman sekolah, atau tempat-tempat terbuka lainnya. Di Jakarta, kegemaran ini telah merambah sudut-sudut perumahan serta bantaran sungai. Memanfaatkan lahan tidur untuk pertanian kota (urban agriculture). Namun, dapatkah kegiatan berkebun diwujudkan didalam rumah? Dengan sisa lahan yang sempit lagipula terbatas.tanpa harus banyak mengeluarkan waktu biaya, atau tenaga. Bisa saja, vertikultur adalah jawabannya. Sistim pertanian konvensional di perkotaan membutuhkan lahan luas. Naskah dan Foto oleh Bambang Parlupi Budi daya tanaman obat dapat juga dilakukan dengan teknik veltikultur. Selain berguna kebun pun akan terlihat lebih berwarna Melalui sedikit kreativitas, sebuah kebun kecil dapat dipindahkan ke dalam rumah. Nama vertikultur berasal dari bahasa Inggris, verticulture. Istilah ini terdiri dari dua kata , yaitu vertical dan culture. Di dalam dunia bercocok tanam, perngertian vertikultur adalah budidaya pertanian dengan cara bertingkat atau bersusun. Pada dasamya jenis tani ini tidak jauh berbeda dengan mengolah tanah di kebun atau sawah. Perbedaan yang mencolok hanya terletak pada lahan yang digunakan dalam sistem pertanian konvensional misalnya, satu meter persegi mungkin hanya bisa menanam lima batang pohon. Dengan pola ini, mampu ditanami sampai 20 batang. Teknik bercocok tanam bertingkat ini biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman semusim, seperti sayuran, ujar Ning Hermanto (45), yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga

Lili Jakarta Utara. Tidak menutup kemungkinan jenis pohon obat atau tanaman hias juga dapat ditanam. Selain dapat menambah gizi keluarga, petani yang mempunyai lahan luas berpeluang untuk melipatgandakan hasilnya. Suasana pun tampak lebih asri dan segar. Demikian yang diutarakan wanita yang sering menjadi fasilitator pertanian ekologis di Jakarta dan Depok itu. Hal serupa juga ditambahkan oleh pemerhati masalah pertanian dari KONPHALINDO (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutandan Alam Indonesia), Sri Widiastuti. Menurutnya, pertanian vertikultur sangat cocok sekali diterapkan dikota-kota besar seperti Jakarta. Sanggup pula dibudidayakan di daerah rawan banjir. Pasalnya, kebun mini ini dapat dipindah-pindahkan dengan mudah. Selain itu, amat berguna untuk mengisi waktu luang bagi ibu-ibu rumah tangga, remaja, atau para pensiunan. Bila hasilnya berlimpah dapat dijual untuk menambah income keluarga. Vertikultur merupakan solusi pertanian masa depan. Hemat lahan dan aman bagi lingkungan, tegasnya. Murah dan Mudah Karena pengertiannya pertanian bertingkat, sistem yang dipakai tidak ubahnya seperti sebuah tangga pada umumnya. Bersusun ke atas dan tentu saja tidak perlu mencangkul atau membajak tanah. Dalam pembuatan tingkat alat dan bahan banyak tersedia di sekitar kita. Untuk pernbuatan rangka dapat dipakai kayu, bambu, atau papan. Modelnya pun terserah saja. Yang penting sanggup menopang atau mengisi beberapa buah tanaman. Ada beberapa tipe yang urnum dipakai seperti berbentuk persegi panjang, segitiga berjenjang atau seperti anak tangga. Dapat pula digantung di langit - langit atau atap kamar. Ukuran tinggi rak tersebut sewajamya, agar perawatan pohon mudah dilakukan. Ha lain yang harus diperhatikan. Beri jarak sekitar 30-50 cm dan permukaan lantai. Tak perlu bingung untuk media tanam. Tempat hidup pohon-pohon itu dapat dipakai bekas kaleng cat, biskuit atau wadah plastik minyak pelumas. Barang-barang tersebut aneka jenis pot-pot tanaman yang banyak dijual. Begitu pula dengan memanfaatkan gelas air minum minerai, ember bekas serta dapat memakai kantung plastik jenis polybag. Manfaatkan benda-benda yang tidak terpakai untuk membuat pot-pot tanaman, pesan lbu Ning, yang pemah meraih Juara l Lomba Pekarangan Produktif Tingkat DKI Jakarta pada Expo Agribisnis Tahun 1999 lalu. Syarat pernbuatan rak itu tidak hanya kuat, namun juga fleksibel. Dapat dengan mudah diletakkan di mana saja. Diteras samping, halaman depan, bahkan di dalam ruangan. Pot tanaman juga dapat ditata sedemikian rupa. Dengan memanfaatkan kerangka penyangga untuk menggantung wadah tanaman yang ringan. Dalam budidaya sayuran letakkan pohon yang banyak membutuhkan sinar matahari seperti cabai, selada atau sawi pada bagian yang paling atas. Sedangkan tanaman jenis ginseng, seledri, serta kangkung di bagian tengah atau bawah. Kombinasi TABULAPOT (Tanaman Buah Dalam Pot ) dapat disusun untuk menambah ramai keadaan. Juga, tampilan koleksi tanaman hias atau obat membuat suasana kebun menjadi lebih indah dan bervariasi. Menurut penuturan pehobi yang tidak pemah mengenyam pendidikan pertanian itu, sebelum bercocok tanam sebaiknya mengenali sifat-sifat tanaman. Beberapa jenis sayuran kadangkala cocok dibudidayakan di daerah dataran rendah atau dataran tinggi yang dingin. Bila membeli benih tanyakan pada penjual apakah cocok ditanam di daerah sekitar. Aneka sayuran mampu hidup di daerah panas seprti Jakarta antara lain sawi, bayam, katuk serta kemangi.

Tumbuhan itu banyak di tanam secara perorangan di rumah atau pada lahan pertanian kota. Petani vertikultur juga dapat membuat bibit sendiri. Dengan penyemaian sederhana yang diambil dari pohon yang telah mampu menghasilkan bibit. Caranya yaitu dengan membiarkan buah matang atau setengah kering di pohon. Lalu bijinya dikeringkan dengan cara dijemur. Untuk benih tanaman semusim, pilih yang bentuknya bagus dan tidak cacat, serta tenggelam bila direndam air. Wadah kotak kayu, kotak plastik persegi empat atau polybag kecil sangat baik dipakai sebagai tempat persemaian. Untuk pengadaan bibit tanaman lain dapat diperoleh dari hasil stek atau cangkokan. Bagi yang doyan makan tomat, pare, kacang panjang atau mentimun, dapat pula menanam dengan cara ini. Sebagai wadahnya dipakai tempat yang lebih besar, seperti drum bekas, kaleng cat besar, atau karung bekas beras. Tentu saja di beri air, atau penyangga dari kawat, bambau, atau tali sebagai tempat untukmerambatnya. Sistim rak veltikultur permanen, namun dapat dipindah-pindahkan. Seakan memindahkan kebun atau sawah mini ke dalam rumah.Tidak ada rotan, akar pun jadi. Tidak ada pot, bambu pun dapat menjadi wadah tanaman.

Sehat Banyak cara hidup sehat. Salah satunya adalah mengkonsurnsi makanan yang sehat. Tanpa banyak mengandung unsur kimiawi, zat pewarna atau pengawet. Begitu pula dengan tinggal di rumah yang sehat pula. Penuh warna oleh pepohonan, jauh dari pencemaran lingkungan. Lalu, apa hubungannya dengan jenis pertanian ini?. Teknik vertikultur adalah upaya untuk menghasilkan tanaman yang lebih higienis dan ramah lingkungan, ungkap Sri Widiastuti, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia. Alasannya, menurut dia, bila pertanian tersebut dipakai dengan konsep organik, tentu hasilnya akan berbeda. Di Indonesia dikenal dengan nama Pertanian Organik (PO). Yakni budidaya pertanian alami yang tidak menggunakan bahan kimia. Tanpa pemakaian pupuk kimia, pestisida kimia atau zat perangsang buatan lainnya. Hal ini bukan berarti tidak memakai bahan-bahan tersebut. Pemilik kebun dapat membuat sendiri pupuk alami dari bahan-bahan sederhana. Yang diperoleh dari limbah atau sampah dapur. Untuk urusan hama penyakit pun tak perlu khawatir. Resep tradisional peninggalan orangtua mampu menghadapi hama itu. Memang hasil panen dari kebun kecil ini tidak sebesar dengan cara konvensional. Yang umumnya memakai pupuk kimia jenis urea, TSP, atau NPK dalam unsur tanah. Hasil dari pemakaiannya mampu menghasilkan buah dan daya tumbuh pohon yang lebih baik. Di balik itu ada hasil yang lebih membanggakan bila memakai cara alami. Asupan zat kimia ke dalam tanaman dapat diperkecil. Air untuk menyiram pohon juga jauh lebih bersih, jelas Sri. Berbeda dengan budidaya tanaman sayur yang banyak berada di pinggiran sungai. Kernudian hasilnya dijual ke pasar. Mungkin air kali yang tercemar digunakan untuk menyiram. Begitu pula dengan pola pertanian besar yang banyak memakai pestisida dan berbagai macam zat perangsang tumbuh, agar tanaman cepat dipetik hasilnya. Untuk budidaya sayuran cara vertikultur temyata hasil panen tidak jauh dengan petani umumnya. Pohon cabai dapat dipetik hasilnya pada usia tiga bulan. Tanaman sawi atau selada bisa dipanen ketika umur 40 hari. Terong atau pare berbuah di usia tiga bulan. Begitu juga dengan bayam yang siap dipetik pada hari ke-28. lbu-ibu tak perlu repot untuk pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli sayuran yang lebih fresh.

Hasil ladang bertingkat di halaman jauh lebih segar daripada di sana. Lagipula ada kepuasan batin untuk itu. Memakan hasil bumi dari jerih payah sendiri, meskipun sedikit adanya Bercocok tanam secara vertikultur sedikit berbeda dengan bercocok tanam di kebun atau di ladang. Vertikultur diartikan sebagai teknik budi daya tanaman secara vertical sehingga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem bertingkat dan tidak membutuhkan lahan yang banyak, papar Temmy Desiliyarni, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB). Jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan secara vertikultur biasanya adalah tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, berumur pendek, atau tanaman semusim seperti sayuran, dan memiliki sistem perakaran yang tidak terlalu luas. Bahan untuk tempat bertanam yang biasa dimanfaatkan sebagai model vertikultur adalah pipa paralon (PVC), bambu betung, kawat ayam, atau gelas bekas air mineral. Alat-alat yang diperlukan adalah bor listrik dan gergaji. Salah satu model vertikultur sederhana yang murah adalah dari bambu betung. Langkah-langkah pembuatannya adalah sebagai berikut : 1. Siapkan bambu betung berdiameter sekitar 10 cm sepanjang 1,5 m 2. Lubangi dengan hati-hati pembatas bagian dalam antar-ruas bambu menggunakan linggis 3. Belahlah ujung atas dan ujung bawah menjadi empat bagian sepanjang 10 cm 4. Di bagian tengah antara belahan satu dengan yang lainnya diberi sepotong kayu sehingga belahanbelahan tadi membuka dan bagian bawah bambu dapat digunakan untuk berdiri tegaknya bambu tersebut. 5. Setelah itu, dengan menggunakan bor listrik dibuat lubang-lubang yang berdiameter 1,5-2 cm di bagian sisi bambu secara bertingkat dan berselang seling sehingga tanaman tidak saling menutupi. 6. Lubang pertama dibuat dengan jarak 12,5 cm dari ujung bambu. Lubang tanam yang lain dibuat dengan jarak 25 cm antara lubang satu dengan lubang lainnya sehingga didapatkan dua belas lubang tanam. 7. Setelah itu, masukkan media tanam yang telah disiapkan ke dalam bambu hingga penuh 8. Model ini dapat diangkat dan dipindah-pindah ke tempat yang inginkan walaupun agak berat. 9. Menanam Sayur di Pipa Paralon Pipa paralon yang terbuat dari plastik PVC bisa dimanfaatkan untuk tempat bertanam secara vertikal atau bertingkat. Rumah yang tidak mempunyai pekarangan atau lahan yang luas untuk berkebun, terutama untuk jenis tanaman sayuran, dapat menerapkan metode bertanam di pipa paralon (pvc) yang dikenalkan oleh Temmy Desiliyarni dengan sistem vertikulturnya. Tidak dijelaskan apakah sayuran yang ditanam di plastik PVC itu tidak menyerap racun klorida dari pipa PVC. Berikut ini adalah cara membuat model sederhana teknik vertikultur menggunakan pipa paralon. 1. Siapkan pipa paralon berdiameter 4 inci sepanjang 1,5 m 2. Buat lubang berdiameter 1,5-2 cm di sisi pipa secara bertingkat dan berselang-seling sehingga tanaman tidak akan saling menutupi. 3. Lubang pertama dibuat pada jarak 10 cm dari ujung paralon. Lubang berikutnya dibuat dengan jarak 25 cm antara lubang satu dengan lubang lainnya sehingga didapatkan dua belas lubang tanam setiap pipa. 4. Bagian bawah pipa paralon ditutup dengan dop PVC setebal 5 cm 5. Pipa paralon yang sudah ditutup dop diletakkan di cincin alas yang berkaki dua dan terbuat dari besi. Supaya dapat berdiri kokoh, kaki-kaki tadi harus ditanam dalam alas semen yang berbentuk segi empat 6. Setelah itu, paralon diberi media tanam yang telah disiapkan hingga penuh 7. Vertikultur sudah siap ditanami. Model bisa diangkat dan dipindah-pindah sesuai dengan tempat yang

inginkan walaupun agak berat. Menanam Sayuran di Gulungan Kawat Ram By Siti Zulaedah @ 3:20 PM :: 270 Views :: Satu lagi model vertikultur sederhana ala Temmy Desiliyarni, Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB), yang memanfaatkan kawat ram untuk menanam sayuran. Model vertikultur dengan kawat ram sederhana, mudah membuatnya dan bahannya mudah didapat, sehingga dapat diterapkan oleh siapa saja. Model bertanam vertikultur menghemat tempat. 1. Kawat ram yang berukuran 1,5 m x 0,5 m digulung membentuk tabung dengan diameter sekitar 10 cm. 2. Supaya gulungan kawat tersebut kuat, antarlubang kawat ram diikat dengan kawat jemuran baju. Setelah itu, bagian dalamnya dilapisi dengan kasa nyamuk, ijuk, atau sabut kelapa. 3. Lapisan bagian dalam (ijuk) dilubangi dengan menggunakan tusuk sate. Diameter lubang, untuk tanaman sayuran, sama dengan diameter kawat ram. Lubang tersebut dibuat di sisi kawat ram secara bertingkat dan berselang-seling, sehingga tanaman tidak saling menutupi. 4. Lubang pertama dibuat dengan jarak 10 cm dari ujung gulungan kawat ram. Lubang tanam yang lain dibuat dengan jarak 25 cm antara lubang satu dengan lubang lainnya sehingga didapatkan dua belas lubang tanam. 5. Bagian bawah gulungan kawat ram ditanam dalam semen yang berbentuk lingkaran supaya dapat berdiri tegak. 6. Selanjutnya, gulungan kawat ram diberi media yang telah disiapkan hingga penuh. 7. Model ini dapat diangkat dan mudah dipindah-pindah ke tempat yang diinginkan dan tidak terlalu berat. Model vertikultur menggunakan kawat ram ini mempunyai sedikit kekurangan yaitu apabila kawat ramnya mengalami korosi belum diketahui apakah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman atau tidak. Vertikultur Kebun Mini di Dalam Rumah Hobi berkebun kini makin digemari. Banyak dilakukan di pekarangan rumah, halaman sekolah, atau tempat-tempat terbuka lainnya. Di Jakarta, kegemaran ini telah merambah sudut-sudut perumahan serta bantaran sungai. Memanfaatkan lahan tidur untuk pertanian kota (urban agriculture). Namun, dapatkah kegiatan berkebun diwujudkan didalam rumah? Dengan sisa lahan yang sempit lagipula terbatas.tanpa harus banyak mengeluarkan waktu biaya, atau tenaga. Bisa saja, vertikultur adalah jawabannya. Melalui sedikit kreativitas, sebuah kebun kecil dapat dipindahkan ke dalam rumah. Nama vertikultur berasal dari bahasa Inggris, verticulture. Istilah ini terdiri dari dua kata , yaitu vertical dan culture. Di dalam dunia bercocok tanam, perngertian vertikultur adalah budidaya pertanian dengan cara bertingkat atau bersusun. Pada dasamya jenis tani ini tidak jauh berbeda dengan mengolah tanah di kebun atau sawah. Perbedaan yang mencolok hanya terletak pada lahan yang digunakan dalam sistem pertanian konvensional misalnya, satu meter persegi mungkin hanya bisa menanam lima batang pohon. Dengan pola ini, mampu ditanami sampai 20 batang. Teknik bercocok tanam bertingkat ini biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman semusim, seperti sayuran, ujar Ning Hermanto (45), yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Lili Jakarta Utara. Tidak menutup kemungkinan jenis pohon obat atau tanaman hias juga dapat ditanam.

Selain dapat menambah gizi keluarga, petani yang mempunyai lahan luas berpeluang untuk melipatgandakan hasilnya. Suasana pun tampak lebih asri dan segar. Demikian yang diutarakan wanita yang sering menjadi fasilitator pertanian ekologis di Jakarta dan Depok itu. Hal serupa juga ditambahkan oleh pemerhati masalah pertanian dari KONPHALINDO (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutandan Alam Indonesia), Sri Widiastuti. Menurutnya, pertanian vertikultur sangat cocok sekali diterapkan dikota-kota besar seperti Jakarta. Sanggup pula dibudidayakan di daerah rawan banjir. Pasalnya, kebun mini ini dapat dipindah-pindahkan dengan mudah. Selain itu, amat berguna untuk mengisi waktu luang bagi ibu-ibu rumah tangga, remaja, atau para pensiunan. Bila hasilnya berlimpah dapat dijual untuk menambah income keluarga. Vertikultur merupakan solusi pertanian masa depan. Hemat lahan dan aman bagi lingkungan, tegasnya. Murah dan Mudah Karena pengertiannya pertanian bertingkat, sistem yang dipakai tidak ubahnya seperti sebuah tangga pada umumnya. Bersusun ke atas dan tentu saja tidak perlu mencangkul atau membajak tanah. Dalam pembuatan tingkat alat dan bahan banyak tersedia di sekitar kita. Untuk pernbuatan rangka dapat dipakai kayu, bambu, atau papan. Modelnya pun terserah saja. Yang penting sanggup menopang atau mengisi beberapa buah tanaman. Ada beberapa tipe yang urnum dipakai seperti berbentuk persegi panjang, segitiga berjenjang atau seperti anak tangga. Dapat pula digantung di langit - langit atau atap kamar. Ukuran tinggi rak tersebut sewajamya, agar perawatan pohon mudah dilakukan. Ha lain yang harus diperhatikan. Beri jarak sekitar 30-50 cm dan permukaan lantai. Tak perlu bingung untuk media tanam. Tempat hidup pohon-pohon itu dapat dipakai bekas kaleng cat, biskuit atau wadah plastik minyak pelumas. Barang-barang tersebut aneka jenis pot-pot tanaman yang banyak dijual. Begitu pula dengan memanfaatkan gelas air minum minerai, ember bekas serta dapat memakai kantung plastik jenis polybag. Manfaatkan benda-benda yang tidak terpakai untuk membuat pot-pot tanaman, pesan lbu Ning, yang pemah meraih Juara l Lomba Pekarangan Produktif Tingkat DKI Jakarta pada Expo Agribisnis Tahun 1999 lalu. Syarat pernbuatan rak itu tidak hanya kuat, namun juga fleksibel. Dapat dengan mudah diletakkan di mana saja. Diteras samping, halaman depan, bahkan di dalam ruangan. Pot tanaman juga dapat ditata sedemikian rupa. Dengan memanfaatkan kerangka penyangga untuk menggantung wadah tanaman yang ringan. Dalam budidaya sayuran letakkan pohon yang banyak membutuhkan sinar matahari seperti cabai, selada atau sawi pada bagian yang paling atas. Sedangkan tanaman jenis ginseng, seledri, serta kangkung di bagian tengah atau bawah. Kombinasi TABULAPOT (Tanaman Buah Dalam Pot ) dapat disusun untuk menambah ramai keadaan. Juga, tampilan koleksi tanaman hias atau obat membuat suasana kebun menjadi lebih indah dan bervariasi. Menurut penuturan pehobi yang tidak pemah mengenyam pendidikan pertanian itu, sebelum bercocok tanam sebaiknya mengenali sifat-sifat tanaman. Beberapa jenis sayuran kadangkala cocok dibudidayakan di daerah dataran rendah atau dataran tinggi yang dingin. Bila membeli benih tanyakan pada penjual apakah cocok ditanam di daerah sekitar. Aneka sayuran mampu hidup di daerah panas seprti Jakarta antara lain sawi, bayam, katuk serta kemangi. Tumbuhan itu banyak di tanam secara perorangan di rumah atau pada lahan pertanian kota.

Petani vertikultur juga dapat membuat bibit sendiri. Dengan penyemaian sederhana yang diambil dari pohon yang telah mampu menghasilkan bibit. Caranya yaitu dengan membiarkan buah matang atau setengah kering di pohon. Lalu bijinya dikeringkan dengan cara dijemur. Untuk benih tanaman semusim, pilih yang bentuknya bagus dan tidak cacat, serta tenggelam bila direndam air. Wadah kotak kayu, kotak plastik persegi empat atau polybag kecil sangat baik dipakai sebagai tempat persemaian. Untuk pengadaan bibit tanaman lain dapat diperoleh dari hasil stek atau cangkokan. Bagi yang doyan makan tomat, pare, kacang panjang atau mentimun, dapat pula menanam dengan cara ini. Sebagai wadahnya dipakai tempat yang lebih besar, seperti drum bekas, kaleng cat besar, atau karung bekas beras. Tentu saja di beri air, atau penyangga dari kawat, bambau, atau tali sebagai tempat untukmerambatnya. Sistim rak veltikultur permanen, namun dapat dipindah-pindahkan. Seakan memindahkan kebun atau sawah mini ke dalam rumah. Tidak ada rotan, akar pun jadi. Tidak ada pot, bambu pun dapat menjadi wadah tanaman. Sehat Banyak cara hidup sehat. Salah satunya adalah mengkonsurnsi makanan yang sehat. Tanpa banyak mengandung unsur kimiawi, zat pewarna atau pengawet. Begitu pula dengan tinggal di rumah yang sehat pula. Penuh warna oleh pepohonan, jauh dari pencemaran lingkungan. Lalu, apa hubungannya dengan jenis pertanian ini?. Teknik vertikultur adalah upaya untuk menghasilkan tanaman yang lebih higienis dan ramah lingkungan, ungkap Sri Widiastuti, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia. Alasannya, menurut dia, bila pertanian tersebut dipakai dengan konsep organik, tentu hasilnya akan berbeda. Di Indonesia dikenal dengan nama Pertanian Organik (PO). Yakni budidaya pertanian alami yang tidak menggunakan bahan kimia. Tanpa pemakaian pupuk kimia, pestisida kimia atau zat perangsang buatan lainnya. Hal ini bukan berarti tidak memakai bahan-bahan tersebut. Pemilik kebun dapat membuat sendiri pupuk alami dari bahan-bahan sederhana. Yang diperoleh dari limbah atau sampah dapur. Untuk urusan hama penyakit pun tak perlu khawatir. Resep tradisional peninggalan orangtua mampu menghadapi hama itu. Memang hasil panen dari kebun kecil ini tidak sebesar dengan cara konvensional. Yang umumnya memakai pupuk kimia jenis urea, TSP, atau NPK dalam unsur tanah. Hasil dari pemakaiannya mampu menghasilkan buah dan daya tumbuh pohon yang lebih baik. Di balik itu ada hasil yang lebih membanggakan bila memakai cara alami. Asupan zat kimia ke dalam tanaman dapat diperkecil. Air untuk menyiram pohon juga jauh lebih bersih, jelas Sri. Berbeda dengan budidaya tanaman sayur yang banyak berada di pinggiran sungai. Kernudian hasilnya dijual ke pasar. Mungkin air kali yang tercemar digunakan untuk menyiram. Begitu pula dengan pola pertanian besar yang banyak memakai pestisida dan berbagai macam zat perangsang tumbuh, agar tanaman cepat dipetik hasilnya. Untuk budidaya sayuran cara vertikultur temyata hasil panen tidak jauh dengan petani umumnya. Pohon cabai dapat dipetik hasilnya pada usia tiga bulan. Tanaman sawi atau selada bisa dipanen ketika umur 40 hari. Terong atau pare berbuah di usia tiga bulan. Begitu juga dengan bayam yang siap dipetik pada hari ke-28. lbu-ibu tak perlu repot untuk pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli sayuran yang lebih fresh.

Hasil ladang bertingkat di halaman jauh lebih segar daripada di sana. Lagipula ada kepuasan batin untuk itu. Memakan hasil bumi dari jerih payah sendiri, meskipun sedikit adanya. OPINI: Solusi Bertanam di Ruang Sempit dan Padat Ditulis oleh Administrator Berkebun tentu pekerjaan yang menyenangkan. Daripada melihat halaman rumah kosong, alangkah indahnya ditumbuhi pepohonan. Mengurusi aneka tanaman hias, buah-buahan, atau tumbuhan obat dapat menjadikan waktu luang lebih berguna. Suasana tempat tinggal pun tampak lebih segar. Tapi, bagaimana bila tidak memunyai lahan? Atau cuma sejengkal tanah di depan rumah yang pas-pasan? Padahal, keinginan merawat pohon sangat besar. Tentang hal itu, enggak perlu patah semangat kok. Ibu-ibu, kaum remaja atau para bapak yang sudah pensiun tetap dapat melakukannya di sela-sela aktivitas rutin seharihari. "Vertikultur adalah cara pertanian yang hemat lahan. Sangat cocok diterapkan di daerah permukiman padat," kata Edi Junaedi, pemerhati masalah pertanian kota dari Konphalindo (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Alam dan Hutan Indonesia). Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa Inggris. Istilah ini berasal dari dua kata, yaitu vertical dan culture. Di bidang pertanian, pengertian verticulture adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau beringkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran) pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi. Garis besarnya, vertikultur adalah bercocok tanam secara bertingkat atau bersusun. Cara bercocok tanam secara vertikultur ini sebenarnya sama saja dengan bercocok tanam di kebun atau di sawah. Perbedaannya terletak pada lahan yang digunakan. Kata vertikultur diambil dari bahasa Inggris, verticulture yang merupakan penggabungan dua kata, vertical dan culture. Pengertiannya adalah suatu cara pertanian yang dilakukan dengan sistem bertingkat. Mengolah tanah dalam sistem ini tidak jauh berbeda dengan menanam pohon seperti di sebuah kebun atau sawah. Namun ada kelebihan yang diperoleh, yaitu dengan lahan yang minimal mampu menghasilkan hasil yang maksimal. Pada pertanian secara umum atau konvensional, mungkin satu meter persegi hanya dapat ditanami lima batang pohon. Lewat pola bersusun atau bertingkat ini, dapat ditumbuhi sampai lima batang. Caranya yaitu dengan membuat sebuah rak untuk menaruh tanaman. Tanpa harus menanamnya langsung pada lahan yang ada. Rak tersebut dapat terbuat dari kayu, papan atau bumbu. Bila ingin lebih kuat dapat menggunakan kerangka besi atau stainless steel. Tapi itu lebih mahal ongkos pembuatannya. Mengenai model dan ukuran, terserah kreativitas pemesan. Dibuat sedemikian rupa agar mampu menjejali banyak tanaman. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga. Dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak. Yang penting adalah kuat dan mudah dipindah-pindahkan. Beberapa bentuk bangunan dikombinasikan dengan bahan seperti seng atau aluminum persegi panjang. Kegunaannya yaitu untuk menaburi tanah, sebagai media tanam. Itu mirip dengan petak sawah atau kebun.

Sejumlah pot bunga dapat pula dijejerkan di atas rak. Soal wadah pohon itu, tidak harus membelinya di pasar. Coba saja tengok ke gudang atau serambi rumah. Kaleng cat, bekas minyak pelumas, atau botol plastik minuman mineral yang sudah tidak terpakai, dapat dimanfaatkan. Antibanjir Dalam pembuatan kerangka bangunan, yang perlu diperhatikan adalah ukuran tinggi. Perawatan tumbuhan akan lebih mudah bila rak dibuat sewajarnya. Karena pengertiannya bertani bertingkat, tentu tak ubahnya seperti sebuah tangga, bersusun ke atas. Tidak langsung menanam di dasar tanah pada pekarangan, tapi diatasi lantai. Jarak sedikit agak tinggi dari permukaan tanah, amat berguna bila terjadi genangan air. Lantai pun tetap bersih bila memang ditaruh di sekitar ruangan berubin atau keramik. "Teknik bertani bertingkat dapat diterapkan di daerah permukiman yang rawan banjir," ujar Edi, insinyur pertanahan jebolan Universitas Padjajaran, Bandung. Pasalnya menurut dia, rak mudah ditaruh di mana saja sesuai keinginan. Bisa di halaman depan, samping, di atas tingkat, bahkan di dalam kamar sekalipun. Kerangka bangunan dibuat lebih tinggi untuk mencegah terendamnya tanaman oleh air. Kreativitas di rumah bisa disalurkan dengan mengecat pot atau rak. Untuk menambah sentuhan seni yang lebih menarik. Dikombinasikan pula dengan aneka warna dari berbagai jenis tanaman. Boleh juga ditambah dengan pernak-pernik pot, seperti wadah air di bawahnya atau pot-pot gantung. Selain tanaman hias, pohon obat juga baik sekali ditanam. Lumayan untuk menambah koleksi, lagi pula sangat bermanfaat. Jenis tapak dara, sambiloto atau pecah beling dengan mudah hidup di dalam pot. Tidak itu saja, kombinasi tabulapot (tanaman buah dalam pot) akan menambah isi "kebun" lebih padat. Untuk mendapatkannya, silakan saja ke penjual tanaman. Bermacam-macam pohon yang kecil-kecil sudah berbuah banyak disediakan. Drum bekas atau sisa kaleng cat ukuran terbesar sekali cocok sekali sebagai wadahnya. Memang jenis pepohonan tersebut terlalu berat ditaruh di atas rak. Namun, bapak atau ibu dapat menyesuaikan penempatannya. Menanam Sayuran Sri Widiastuti (42), seorang pehobi berkebun, mempunyai pendapat tentang jenis pertanian ini. Menurutnya, vertikultur sangat cocok dipakai untuk budi daya tanaman semusim, misalnya sayursayuran. Selain menanamnya mudah, hasilnya langsung dinikmati. "Sebagai tambahan gizi keluarga dan untuk menghasilkan sayuran yang lebih segar," tutur ibu yang tinggal di kawasan padat, Kampung Dukuh, Jakarta Timur. Aneka sayuran yang dapat ditanam antara lain seledri, selada, kangkung, bayam atau kemangi. Pohon cabai, tomat, atau terong, juga mudah sekali tumbuh di dalam pot. Jenis poly bag atau kantung plastik tebal berwarna hitam, dapat menggantikan fungsi pot tanaman. "Sawi dan selada air akan dipanen ketika berumur 40 hari, bayam di usia 28 hari, dan cabai umumnya berbuah saat berumur 3 bulan," papar Sri, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia. Ditambahkannya, hasil panen yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan cara pertanian yang diolah secara besar. Tinggal bagaimana cara merawat dan mengolahnya saja. Bila hasilnya berlebihan, dijual sebagai tambahan keluarga. "Lagi pula lebih sehat dan ramah lingkungan," tegasnya. Lho, apa hubungannya? sebab dalam budi daya bercocok tanam ini, para anggota keluarga tidak perlu lagi mengeluarkan dana untuk membeli pupuk. Pupuk alami mampu dibuat sendiri dari sisa-sisa sampah

dapur. Potongan-potongan sayuran, kulit buah atau sisa-sisa makanan merupakan bahan organik yang bermanfaat. Yaitu bahan yang mudah terurai oleh tanah dan diperlukan oleh tanaman. Pembuatannya cukup menimbun di dalam tanah. Dibiarkan terurai selama kurang lebih satu bulan lamanya. Setelah itu dapat dipakai sebagai media tanam. Dengan ditambah oleh campuran pasir, tanah gembur, serta pupuk kompos tadi. Takarannya yang seimbang, yaitu 1:1:1. Pupuk Kandang Selain kompos, pupuk yang baik adalah pupuk kandang. Biasanya diperoleh dari kotoran sapi, kambing, atau kerbau. Bagi penduduk di sekitar Jakarta, lebih mudah mendapatkannya di toko pertanian terdekat. Kotoran hewan peliharaan seperti ayam, burung, serta kelinci mampu digunakan untuk pembuatan pupuk kandang tersebut. Prosesnya sama seperti pupuk kompos tadi. Dikubur dahulu agar tidak berbau, dan biarkan mikro organisme yang mengurainya. "Kotoran anjing dan kucing kurang cocok dipakai untuk membuat pupuk kandang," pesan Edi yang menjadi fasilitator Pertanian Organik di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri, Pancoran Mas, Depok. "Sisa-sisa makanan yang dikeluarkan oleh binatang pemakan rumput jauh lebih baik hasilnya," imbuhnya. Terasa lebih asyik dengan menggunakan pupuk buatan sendiri. masalah limbah rumah tangga dan ternak sedikit teratasi. Hasil yang dipetik jauh lebih sehat, karena pupuk yang dipakai adalah alami, tanpa bahan kimia buatan. Di sisi lain, air yang dipakai untuk menyiram adalah air yang bersih. Berbeda dengan para petani sayuran di perkotaan atau daerah lainnya. Mungkin air yang digunakan adalah air sungai yang kotor dan tercemar. Atau mengandung pestisida hama yang larut dalam air. Tentunya seluruh anggota keluarga tidak mau tercemar kan? Selamat mencoba. Bertanam di lahan sempit secara vertikal Lahan sempit yang banyak terdapat di perkotaan dapat dimanfaatkan dengan bertanam secara vertikal atau vertikultur. Lahan sempit yang tidak termanfaatkan bisa memberikan keuntungan ekonomi. Demikian disampaikan Yudha Kurniawan dari Sekolah Alam ketika memberikan Pelatihan Pemanfaatan Lahan Sempit pada acara Kampoeng Organik 2004 di Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta tanggal 24 September 2004 oleh Konphalindo. Dalam vertikultur media tanam yang digunakan adalah tanah yang mengandung pupuk kompos. Penggunaan pestisida sebaiknya dihindari. Yang diperlukan tanaman adalah perhatian dan perawatan, ungkap Yudha Kurniawan. Jenis tanaman harus disesuaikan dengan kondisi iklim daerah tanam. Untuk Jakarta kangkung, sawi dan bayam cocok. Cara bertanam vertikultur: -Buat lubang tanam atau alur tanam. -Masukkan pupuk kandang. -Semai benih yang perlu disemai di tempat lain. -Tanamlah tanaman hasil semai atau pun tanaman mini. -Peliharalah dengan cukup menyiram dan mengontrol hama penyakit. -Panen dapat dilakukan setelah tanaman cukup tua. Setelah dua sampai tiga kali panen media tanam (tanah) dapat diganti. Sebenarnya penggantian tanah tergantung dari usia tanaman. Bila usia tanaman 3040 hari maka penggantian tanah dilakukan setelah

dua-tiga kali panen. Sedangkan bila usia tanaman 60 hari maka penggantian tanah dilakukan setelah satu kali panen. Perlu diingat dasar pertimbangan memanfaatkan lahan sempit adalah memperhatikan aspek ekonomis yaitu biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil tanam.

Diposkan oleh andi banget di 22:48 0 komentar

PERSITIDA ALAMI
BERBAGAI MACAM PESTISIDA ALAMI Penggunaan pestisida buatan yang memakai bahan kimia memang berbahaya bagi manusia. Kita sering merasa waswas bila anak kita akan bisa menjangkaunya. Nah, semoga artikel tentang pembuatan pestisida alami ini dapat membantu memecahkan persoalan Anda (petani) dalam melindungi kebun (lahan pertanian) sekaligus keluarga. Mimba (Azadiracta indica) Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan mengambil 2 genggam bijinya, kemudian ditumbuk. Campur dengan 1 liter air, kemudian diaduk sampai rata. Biarkan selama 12 jam, kemudian disaring. Bahan saringan tersebut merupakan bahan aktif yang penggunaannya harus ditambah dengan air sebagai pengencer. Cara lainnya adalah dengan menggunakan daunnya sebanyak 1 kg yang direbus dengan 5 liter air. Rebusan ini diamkan selama 12 jam, kemudian saring. Air saringannya merupakan bahan pestisida alami yang dapat digunakan sebagai pengendali berbagai hama tanaman. Tembakau (Nicotium tabacum) Tembakau diambil batang atau daunnya untuk digunakan sebagai bahan pestisida alami. Caranya rendam batang atau daun tembakau selama 3 - 4 hari, atau bisa juga dengan direbus selama 15 menit. Kemudian biarkan dingin lalu saring. Air hasil saringan ini bisa digunakan untuk mengusir berbagai jenis hama tanaman. Tuba, Jenu (Derriseleptica) Bahan yang digunakan bisa dari akar dan kulit kayu. Caranya dengan menumbuk bahan tersebut sampai betul-betul hancur. Kemudian campur dengan air untuk dibuat ekstrak. Campur setiap 6 (enam) sendok makan ekstrak tersebut dengan 3 liter air. Campuran ini bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman. Temu-temuan (Temu Hitam, Kencur, Kunyit) Bahan diambil dari rimpangnya, yang kemudian ditumbuk halus dengan dicampur urine (air kencing) sapi. Campuran ini diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : - 6 liter. Gunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga penyerang tanaman. Kucai (Allium schonaoresum) Kalau menggunakan kucai, cara meramunya adalah dengan menyeduhnya, yang kemudian didinginkan.

Kemudian saring. Air saringannya ini mampu untuk memberantas hama yang biasanya menyerang tanaman mentimun. Bunga Camomil (Chamaemelum spp) Bunga yang sudah kering diseduh, kemudian dinginkan dan saring. Gunakan air saringan tersebut untuk mencegah damping off atau penyakit rebah. Bawang Putih (Allium sativum) Bawang putih, begitu juga dengan bawang bombai dan cabai, digiling, tambahkan air sedikit, dan kemudian diamkan sekitar 1 jam. Lalu berikan 1 sendok makan deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian ditutup. Simpan di tempat yang dingin selama 7 - 10 hari. Bila ingin menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan air. Campuran ini berguna untuk membasmi berbagai hama tanaman, khususnya hortikultura.

Abu Kayu Abu sisa bakaran kayu ditaburkan di sekeliling perakaran tanaman bawang bombay, kol atau lobak dengan tujuan untuk mengendalikan root maggot. Abu kayu ini bisa juga untuk mengendalikan serangan siput dan ulat grayak. Caranya, taburkan di sekeliling parit tanaman. Mint (Menta spp) Daun mint dicampur dengan cabai, bawang daun dan tembakau. Kemudian giling sampai halus untuk diambil ekstraknya. Ekstrak ini dicampur dengan air secukupnya. Dari ekstrak tersebut bisa digunakan untuk memberantas berbagai hama yang menyerang tanaman. Kembang Kenikir (Tagetes spp) Ambil daunnya 2 genggam, kemudian campur dengan 3 siung bawang putih, 2 cabai kecil dan 3 bawang bombay. Dari ketiga bahan tersebut dimasak dengan air lalu didinginkan. Kemudian tambahkan 4 - 5 bagian air, aduk kemudian saring. Air saringan tersebut dapat digunakan untuk membasmi berbagai hama tanaman. Cabai Merah (Capsium annum) Cara pembuatannya dengan mengeringkan cabai yang basah dulu. Kemudian giling sampai menjadi tepung. Tepung cabai tersebut kalau dicampur dengan air dapat digunakan untuk membasmi hama tanaman. Sedudu Sedudu (sejenis tanaman patah tulang) diambil getahnya. Getah ini bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan berbagai hama tanaman. Kemangi (Ocimum sanetu) Cara pembuatannya: kumpulkan daun kemangi segar, kemudian keringkan. Setelah kering, baru direbus sampai mendidih, lalu didinginkan dan disaring. Hasil saringan ini bisa digunakan sebagai pestisida alami.

Dringgo (Acarus calamus) Akar dringgo dihancurkan sampai halus (menjadi tepung), kemudian dicampur dengan air secukupnya. Campuran antara tepung dan air tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembasmi serangga. Tembelekan (Lantara camara) daun dan cabang tembelekan dikeringkan lalu dibakar. Abunya dicampur air dan dipercikkan ke tanaman yang terserang hama, baik yang berupa kumbang maupun pengerek daun. Rumput Mala (Artimista vulgaris) Caranya bakar tangkai yang kering dari rumput tersebut. Kemudian manfaatkan asap ini untuk mengendalikan hama yang menyerang suatu tanaman.

Tomat (Lycopersicum eskulentum) Gunakan batang dan daun tomat, dan dididihkan..Kemudian biarkan dingin lalu saring. Air dari saringan ini bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai hama tanaman. Gamal (Gliricidia sepium) Daun dan batang gamal ditumbuk, beri sedikit air lalu ambil ekstraknya. Ekstrak daun segar ini dan batang gamal ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman, khususnya jenis serangga. Bunga Mentega (Nerium indicum) Gunakan daun dan kulit kayu mentega dan rendamlah dalam air biasa selama kurang lebih 1 jam, kemudian disaring. Dari hasil saringan tadi dapat digunakan untuk mengusir semut. Tanaman yang sehat dan indah merupakan dambaan kita. Tetapi, ketika kita melihat tanaman kita habis dimakan ulat atau hewan lain, maka hati kita akan merasa kecewa. Untuk membasmi hewan pengganggu atau lebih dikenal dengan hama ini, dengan menggunakon pestisida. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan hama dan pestisida? Hama adalah semua hewan yang memiliki kemampuan merusak tanaman dengan cara: memakan bagian tanaman (akar, batang, buah, atau bunga) sehingga tanaman menjadi rusak dan hancur. menghisap cairan yang terdapat pada bagian tanaman sehingga tanaman terlihat layu dan akhirnya mati. menjilat bagian tanaman terutama pada buah sehingga kulit buah terlihat berkerak dan buah menjadi kerdil pertumbuhannya. Pestisida adalah obat yang digunakan untuk memberantas hama daan penyakit pada tanaman. Pestisida terbagi menjadi dua: pestisida buatan, yaitu pestisida yang dibuat dari bahan kimia. pestisida alam (bio pestisida), yaitu pestisida yang dibuat dari alam. Cara Membuat Pestisida Alam

Untuk mematikan hewan pengganggu ini cukup mudah kok! Yaitu salah satunya dengan memanfaatkan tanaman sirsak yang ada disekitar kita. Tentu kamu tidak asing lagi dengan buah sirsak. Buahnya berwarna hijau memiliki duri yang tidak tajam, biji berwarna hitam dengan daging buah yang berwarna putih dan rasa buah yang asam segar. Ternyata tidak hanya buahnya saja yang bermanfaat, tetapi daun sirsak memiliki kemampuan untuk membunuh hama jenis serangga, terutama ulat (larva). Cara membuat pestisida alam dari daun sirsak cukup mudah: ambillah beberapa lembar daun sirsak sesuai kebutuhan. tumbuk daun hingga halus dan peras air dari daun tersebut. air perasan tersebut langsung disemprotkan ke tanaman yang diserang hama. Semakin banyak daun yang digunakan untuk membuat pestisida maka akan semakin besar kemungkinan hama tersebut mati. Keuntungan menggunakan pestisida alam ini yang utama karena keseimbangan alam tidak akan terganggu oleh zat kimia yang berbahaya dan tanaman yang diberi pestisida alam ini akan lebih aman dikonsumsi oleh manusia karena terhindar dari zat kimia berbahaya. Membuat Pestisida Alami Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik: adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahanbahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab denga lingkungan. Bahan dan Alat: 2 kg gadung. 1 kg tembakau. 2 ons terasi. kg jaringao (dringo). 4 liter air. 1 sendok makan minyak kelapa. Parutan kelapa. Saringan kelapa (kain tipis). Ember plastik. Nampan plastik. Cara Pembuatan: Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung). Gadung dikupas kulitnya dan diparut. Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan liter air panas Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian dilakukan penyaringan

satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan. Dosis: 1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air. 2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air. Kegunaan: Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit. Dapat menolak hama dan penyakit. Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami. Sasaran: Wereng batang coklat, Lembing batu, Ulat grayak, ulat hama putih palsu. Catatan: Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau di atas ambang kendali. Penggunaan di bawah batas ambang dan berlebihan dikhawatirkan akan mematikan musuh alami hama yang bersangkutan. Pembuatan Pestisida Alami dari Fermentasi Ekstrak Tanaman Acara : Mitra Tani; Nara sumber : Ir. Triyono Penyiar : Isna Pestisida alami merupakan obat yang digunakan untuk memberantas hama maupun penyakit tanaman dimana bahannya berasal dari bahan-bahan alami. Tidak seperti pestisida kimiawi yang umumnya ada dampak negatifnya ketika penggunaanya melebihi ambang batas yang ditentukan, pestisida alami ini sangat aman untuk tanaman itu sendiri. Namun perlu diperhatikan bahwa penyemprotan pestisida alami ini hendaknya tidak digunakan pada waktu musuh alami pada tanaman tersebut baru saja menetas. Hal ini justru akan mematikan musuh alami yang sebetulnya bermanfaat untuk tanaman tersebut. Adapun alat dan bahan yang perlu disiapkan seperti : EM4 : 300 cc tetes tebu : 300 cc Air : 10 liter Tanaman obat yang memiliki bau yang khas/keras seperti : daun mindi, daun jambu, daun kemangi, daun jeruk purut dan daun beluntas. Selain daun bisa juga digunakan buah-buah muda seperti mangga, jeruk nipis, jeruk purut dan buah pisang yang muda. Bisa juga digunakan tanaman rempah/bumbu dapur seperti bawang putih, cabe rawit, jahe, kunir, gambir, tembakau dan kacang-kacangan. Drum plastik (yang ada kran di bawahnya) untuk fermentasi bahan-bahan tanaman tersebut diatas. Adapun cara membuatnya adalah sebagai berikut : Semua bahan dipotong-potong kecil-kecil, dimasukkan ke dalam drum plastik, sampai penuh, tetapi tidak dipadatkan. Tetes tebu dicampur dengan air yang telah disiapkan. Dalam larutan tetes tebu tersebut dilarutkan EM4 dan aduk sampai merata. Kemudian larutan ini dimasukkan ke dalam drum plastik sampai bahan terendam.

Beri diatas bahan pada drum sebuah pemberat, lalu drum ditutup rapat. Setelah 10 hari ekstrak tanaman yang keluar melalui kran dapat dimanfaatkan dengan ukuran 1 cc dicampur 1 tetes air. Pestisida alami yang sudah jadi biasanya hanya bertahan selama 1 bulan. Setelah 1 bulan , pestisida alami ini tidak bisa dimanfaatkan lagi. Namun demikian, pembuatan pestisida dengan bahan alami akan bermanfaat sekali untuk memberantas hama penyakit dalam jumlah yang besar.

Pembuatan Pupuk Organik dengan Biotama Memasuki abad 21 ini, gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru masyarakat dunia. Orang makin menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan kimia non-alami, seperti pupuk dan pestisida kimia sintetis serta hormon tumbuhan, dalam produksi pertanian ternyata berdampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992. Pengolahan Tanah dan Pemberian Pupuk Organik secara Umum . Tanah yang akan ditanami dengan sayur sayuran harus diolah dahulu dan diberi pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak, limbah limbah organik yang telah diolah dengan Biotama 3 (cara membuat pupuk organik dari kotoran ternak maupun limbah/sampah organik ada di belakang *) Setiap Hektar ladang atau sawah yang akan ditanami sayuran diberi pupuk kandang/pupuk organik (antara 1 sd 20 ton per Ha - nya). Jika tanah mempunyai kandungan bahan organik > 3 (tanah masih subur) maka pemupukan cukup dengan dosis 1 ton/ha, jika kandungan bahan organik antara 1 2% maka disarankan pemberian pupuk kandang/pupuk organik sebanyak antara 1 3 ton/ha, namun jika tanah telah banyak pencemarannya (rusak) atau tanah yang mempunyai kandungan bahan organik <1% maka pupuk kandang yang dibutuhkan semakin banyak (antara 3 20 ton /ha). Banyaknya pupuk organik juga tergantung kemiringan lahannya. Semakin lahan miring dimana banyak terjadi erosi dan lapisan olah tanah hilang maka dosis pupuk orgnik bisa mencapai 20 ton/ha. Tanah dicampur dengan pupuk organik, digemburkan lalu dibentuk bedengan untuk mempermudah memelihara tanaman/sayuran yang ditanam. Untuk menggemburkan tanah siram/semprot dengan air yang telah dicampur Biotama 1 dengan perbandingan (Biotama 1 : 1 liter + air : 30 - 50 liter) . CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK DARI LIMBAH LIMBAH ORGANIK Cara membuat Pupuk Organik dari kotoran ternak / kotoran manusia Bahan : 1. Kotoran Ternak / manusia 300 kg. 2. Dedak 10 kg. 3. Sekam 200 kg. 4. Gula ( 10 sendok makan ). 5. BIOTAMA 3 300 - 500 ml (30 50 tutup botol), tergantung bau kotoran. 6. Air secukupnya . Cara Pembuatan : 1. Larutkan BIOTAMA 3 dan gula ke dalam air dalam timba berisi air 7 liter (bisa ditambah dan

dikurangi sesuaikan kondisi kelembaban kotoran ternak) 2. Kotoran Ternak, sekam dan dedak dicampur secara merata. 3. Disiram larutan BIOTAMA 3 secara berlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, bila kepalan dilepas, maka adonan akan mekar. 4. Adonan digundukkan di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni, selama 3-4 hari. 5. Pertahankan suhu gundukkan adonan 40-500 C. jika suhu lebih dari 500C, bukalah karung penutup dan gundukkan adonan dibalik-balik, kemudian ditutup lagi dengan karung goni. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap 5 jam. 6. Setelah 2 atau 3 minggu saat suhu sudah stabil dan warna pupuk organik menjadi lebih gelap (coklat tua ataupun hitam) itu pertanda telah terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. . Cara Membuat Pupuk Organik dari sampah organik secara cepat Bahan : 1. Jerami kering/daun-daun kering/ sekam/serbuk gergaji atau bahan apa saja yang dapat difermentasi 200 kg. 2. Pupuk Organik yang sudah jadi 20 kg. 3. Dedak 20 kg. 4. Gula pasir (5 sendok makan). 5. BIOTAMA 3 200 ml (20 tutup botol). 6. Air secukupnya. . Cara Pembuatan : 1. Larutkan BIOTAMA 3 dan gula ke dalam air. 2. Jerami kering (atau bahan apa saja yang dapat difermentasi), potong kecil kecil, kemudian dicampur dengan Pupuk Organik yang sudah jadi dan dedak secara merata. 3. Siram larutan BIOTAMA 3 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, dan bila kepalan dilepas, maka adonan akan megar. 4. Adonan dicetak diatas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung/terpal , selama 3-4 hari. 5. Pertahankan suhu gundukkan adonan 40-500C. jika suhu lebih dari 500C, bukalah karung penutup dan adonan dibalik-balik, kemudian tutup lagi dengan karung goni. Suhu yang tinggi mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap pagi dan sore. 6. Setelah 5 7 hari Pupuk Organik telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. . Cara membuat Pupuk Organik dari Jerami Padi Bahan : 1. Jerami 200 kg termasuk berbagai sampah pekarangan, daun daun, rumput dll dipotong 1 5 cm (lebih kecil akan lebih bagus)

2. Dedak 10 kg. 3. Sekam 200 kg. 4. Gula pasir 10 sendok makan. 5. BIOTAMA 3, 200 ml (20 tutup botol). 6. Air secukupnya . . Cara Pembuatan : 1. Tuangkan BIOTAMA 3 ke dalam timba berisi air 7 liter, tambahkan gula pasir. Air bisa ditambah ataupun dikurangi sesuai dengan kelembaban dari jerami/dedaunan sebagai bahan pupuk organik. 2. Jerami, sekam dan dedak dicampur secara merata. 3. Siramkan larutan BIOTAMA 3 secara perlahan lahan ke dalam adonan secara merata sampai Kadar Air 30% (yaitu saat adonan mudah dikepal dengan tangan namun kepalan mudah hancur saat digulingkan). 4. Adonan ditumpuk/dicetak di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm , kemudian ditutup dengan karung goni atau terpal, selama 2-3 hari. 5. Pertahankan suhu tumpukan jerami 40-500 C. Jika suhu lebih dari 500 C, bukalah karung goni atau terpal penutup dan gundukan adonan dibolak balik, kemudian ditutup lagi. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap pagi dan sore. 6. Setelah jerami berwarna hitam kecoklatan dan lebih hancur ukurannya, maka Pupuk Organik telah siap digunakan. . CATATAN untuk PEMBUATAN PUPUK ORGANIK dari semua bahan: Apabila pada hari ke 3 masih belum terasa panas berarti pembuatan kurang berhasil hal ini bisa disebabkan karena beberapa hal, antara lain : konsentrasi BIOTAMA 3 terlalu sedikit bila dibanding limbah yang ada, penutup masih kurang rapat, atau ubin tidak rata sehingga ada air yang menggenangi atau terlalu banyak jumlah air yang tercampur dalam proses pembuatan pupuk organik. . Untuk mengatasi hal hal tersebut maka langkah yang dilakukan disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi, yaitu tambahkan BIOTAMA 3 secara langsung penutup diteliti agar tertutup rapat buat kemiringan sedemikian rupa sehingga tidak ada air yang tergenang di sekitar lahan pembuatan pupuk organik tsb

Diposkan oleh andi banget di 22:40 0 komentar

TIPS TABULAMPOT
Tips Tabulampot Buat Anda yang gemar menanam tanaman buah dalam pot (Tabulampot) ada baiknya menyimak tips

singkat berikut ini. Untuk merangsang tabulampot Anda berbunga, berikan pupuk daun dengan kandungan P tinggi. Hal ini juga harus dibarengi dengan pemberian hara yang cukup pada media tanam, seperti memberikan NPK pada media tanam (Kandungan NPK bisa setara atau P-nya lebih tinggi). Setelah tanaman mulai berbunga, di sinilah diperlukan ketegaan kita. Perhatikan rasio/perbandingan jumlah daun dan bunga/buah nantinya. Jangan merasa sayang untuk membuang/menjarangkan bunga jika terlihat berlebihan dibandingkan jumlah daunnya. Ada yang menyarankan untuk membuang buah yang pertama terbentuk. Hal ini ada baiknya karena buah yang pertama terbentuk cenderung berkembang lebih pesat sehingga akan menghambat/mengurangi perkembangan bunga/buah berikutnya. Penjarangan buah yang terbentuk dilakukan sedini mungkin agar makanan/energi tanaman tidak banyak terbuang. Buang buah yang terlihat kurang mulus, bengkok, dan lain-lain. Bungkus buah yang terbentuk untuk mencegah serangan lalat buah atau hama dan penyakit lainnya. Harap diingat penjarangan ini harus dilakukan, jika tidak hasilnya akan fatal. Tanaman Anda bisa mati atau paling tidak mogok berbuah pada musim berikutnya. Selamat menjadi orang yang tega demi kebaikan, hehehehe.. . Spektakuler! Itu kata yang tepat untuk menyebut penampilan sepot tabulampot jambu air di Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor. Sekitar 50 buah berukuran lebih besar daripada telur bebek menggerombol di batang utama. Lazimnya buah Syzygium samarangense itu muncul di ujung tajuk. 'Ini memang keistimewaan mekarsari,' tutur Ir AF Margianasari, kepala Produksi Buah TWM. Jambu air yang bibitnya diperoleh dari Bogor itu buahnya 80% muncul di batang. Sisanya di ranting dan ujung cabang. Jambu air lain justru sebaliknya, mayoritas buah-hampir 75-80%-keluar di ranting dan ujung cabang. Eddy Soesanto, penangkar di Jakarta Timur, pernah mengamati pembuahan pada jambu air kaget dan lilin. 'Jambu kaget dan lilin bisa berbuah di ujung cabang dan di batang utama. Tapi itu hanya 20-25% dari total populasi buah,' ujarnya. Pada jambu jenis lain malah hanya 1-2 dompol yang muncul di batang. Mutasi Ir Wijaya, MS, penangkar buah di Bogor, malah belum pernah melihat tabulampot jambu air berbuah di batang. 'Ini abnormal dan merupakan hal baru,' katanya waktu mendengar informasi tentang rose apple di TWM itu. Menurut mantan peneliti di Kebun Percobaan Cipaku, Bogor, itu, sifat spesifik jambu air memang berbuah di ranting atau ujung cabang. Bunga yang nantinya menjadi buah muncul dari tunas vegetatif yang membawa daun. Pada jambu air mekarsari calon bunga justru keluar langsung di batang tanpa didahului daun. Wijaya menduga, munculnya buah di batang karena pemicu tertentu. 'Misal lingkungan ekstrem yang menyebabkan tanaman stres,' katanya. Karena stres, terjadi penyimpangan dari sifat asli. Perubahan karakter itu bisa jadi bersifat genetis jika kejadiannya konsisten pada setiap musim dan diturunkan pada anakan. Menurut Margianasari selama 10 tahun pengamatan sejak 1997, tanaman induk mekarsari selalu berbuah di batang. Pun tanaman turunannya. Salah satunya yang Trubus lihat berbuah lebat di batang pada penghujung Januari 2008. Margianasari sepakat jika karakter berbuah mekarsari di batang bersifat genetis. 'Sepertinya tunas generatif-bunga-jambu air mekarsari lebih responsif ketimbang tunas vegetatifnya,' tuturnya. Makanya kerabat cengkih itu bisa berbuah di batang tanpa perlakuan khusus. Kejadian serupa ditemukan pada jambu air delima asal Demak. Buah-buah jambu air delima muncul di batang, bukan di ujung tajuk.

Tabulampot Sifat berbuah di batang pada jambu air mekarsari menguntungkan. Berdasar pengamatan TWM ukuran buah di batang 2 kali lebih besar ketimbang yang di ranting atau ujung cabang. Bobot buah di batang mencapai 80-90 g per buah. Lagi pula rasanya lebih manis karena pasokan nutrisi yang nantinya diubah menjadi zat gula lebih besar ketimbang di cabang atau ranting. Dipadu warna buah yang hijau dengan semburat merah di pantat, ia cantik sebagai tabulampot. Buah berbentuk lonceng berkumpul di batang utama, batang sekunder, maupun tersier. Mirip seperti penampilan tabulampot belimbing yang diatur berbuah di batang. 'Supaya buah lebih terekspos, pangkas daun yang menghalangi buah,' kata Eddy. Pemangkasan daun juga membuat sinar matahari masuk ke dalam tajuk sehingga warna buah lebih cerah. Menjaga Penampilan Tabulampot Penampilan tabulampot, termasuk tabulampot sawo durian atau sawo apel, terletak pada postur tanaman yang pendek, bermahkota bagus, dan tunas-tunas bunga-buah terangsang untuk tumbuh. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemangkasan dan pembentukan pohon. Caranya: 1. Pakai rumusan 139 Artinya, pelihara hanya 1 batang utama (pokok) pada ketinggian 60 - 100 cm, 3 cabang primer terpilih sepanjang 30 - 50 cm, dan 9 cabang sekunder terpilih sepanjang 30 - 50 cm. Lakukan pemangkasan pada musim penghujan. Setelah dipangkas, olesi setiap luka pangkasan dengan cat atau ter. 2. Pengeringan sementara Untuk merangsang pembungaan tabulampot sawo, lakukan dengan teknik pengeringan media tanam. Caranya, biarkan media tanam dalam pot tidak disiram selama beberapa hari (tapi jangan sampai layu permanen). Setelah itu, siram sedikit demi sedikit, lalu keringkan lagi hingga tanaman tampak layu. Setelah itu, siram perlahan-lahan sampai cukup basah. Lakukan ini selama 4 - 6 minggu. 3. Pupuk lagi Jika tetap tidak berbunga, tambahkan pupuk TSP sebanyak 50 gr/pot. 4. Pakai saja ZPT Untuk menjaga tanaman berbuah sepanjang tahun dan buah-buah tetap bagus, gunakan zat pengatur tumbuh (ZPT). Beberapa ZPT yang bisa dipakai antara lain Hobsanol, Atonik, Ethrel, dan Cultar, yang bisa Anda beli di toko/kios pertanian terdekat. CARA BERTANAM 1. Bibit ditanam Ambil sebagian media tanam dari pot. Keluarkan bibit sawo dari polybag bersama tanahnya. Jika bibit memiliki cabang, ranting, daun, dan akar berlebihan, sebaiknya kurangi atau pangkas. Bibit ditanam dalam posisi tegak, lalu timbun dengan media tanam yang sudah dikeluarkan tadi. Padatkan media tanam di sekitar pangkal bibit, lalu siram hingga cukup basah. 2. Pilih tempat aman Langkah berikutnya, letakkan tabulampot sawo pada tempat yang pas. Tempat itu harus terbuka, terkena sinar matahari pada pagi hari hingga pukul 11, aman dari segala gangguan, dan lingkungan sekitarnya mendukung. Dengan demikian, tabulampot sawo bisa tumbuh subur dan produktif. 3. Bila lebih dari satu pot. Jika memiliki lebih dari satu tabulampot sawo, letakkan berjajar dan teratur. Tetapi bisa juga tidak berjajar, karena harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Yang penting, jarak antar-pot sekurang-

kurangnya 2 x 2 meter. 4. Rajin menyiram. Jangan lupa rajin menyiram tabulampot sawo atau apel Anda. Selain dengan selang plastik, ada cara lain dengan sistem tali sumbu dan sistem irigasi tetes sederhana. 5. Tetap diberi pupuk susulan. Meski media tanam yang digunakan sudah mengandung pupuk, namun sebaiknya tetap dilanjutkan dengan pemupukan susulan. Sebulan setelah tanam, lakukan pemupukan dengan Urea, TSP, dan KCL (2:2:1), 2 sendok makan per pohon. Benamkan campuran pupuk di sekeliling pot sedalam 10 cm. Jika tabulampot sawo mulai berbunga, beri pupuk NPK (15-15-15) sebanyak 1 sendok makan per pohon. Jangan lupa, terlebih dulu larutkan pupuk dalam 10 liter air, kemudian siramkan pada media hingga cukup basah. Bila tanaman sudah rutin berbuah, tetap lakukan pemupukan sekurang-kurangnya 4 bulan sekali. Gunakan pupuk NPK (15-15-15) sebanyak 1 sendok makan per pohon, langsung benamkan sedalam 10 cm di sekeliling pot Banyak orang enggan menanam tabulampot rambutan. Alasannya, susah berbuah. Padahal, jika tahu caranya, tabulampot rambutan pun bisa berbuah lebat, lho. Tanaman buah dalam pot (tabulampot) kini sudah tak asing lagi bagi para pecinta tanaman. Aneka tanaman buah yang dulu hanya ditanam di halaman yang luas, kini banyak ditanam orang di dalam pot. Namun, sepertinya tak banyak orang yang melirik tabulampot rambutan. Kenapa? Jujur diakui, tabulampot rambutan seringkali mogok berbuah, bahkan tak pernah berbuah sekali pun. Malah, mati sebelum berbuah. Padahal, tanaman rambutan dalam pot sebetulnya bisa menghasilkan buah, asal kita tahu rahasianya. Rambutan (Nephellium lappaceum) berasal dari Malaysia dan Indonesia. Kerabat dekatnya antara lain leci (N. litchi) dan kepulasan (N. mutabile). Sentral tanaman rambutan tersebar di berbagai daerah, seperti Bogor, Subang, Bekasi, Purwakarta, Semarang, Banyumas, Purbalingga, Purworejo, Magelang, Jember, Blitar, dan Lumajang, Sleman, Bantul serta DKI Jakarta, khususnya di Pasar Minggu. Di negeri kita banyak varietas rambutan, entah itu varietas lokal maupun varietas unggul. Untuk varietas lokal, sebut misalnya Aceh Gundul, Aceh Gula Batu, Aceh Gendut, Aceh Kuning, Aceh Padang Bulan, Aceh Garing, Aceh Pao Pao, Aceh Kering Manis, Simacan, Sitangkue, Sinyonya, Brahrang, Hape, dan sebagainya. Sedangkan yang unggul, sekurang-kurangnya ada 8 varie?tas, antara lain Rapiah, Lebak Bulus, Anta Lagi, Sibongkok, Sibatuk Ganal, Garuda, Nona, dan Binjai. PILIH VARIETAS BINJAI Pertanyaannya, varietas mana yang akan kita pilih untuk ditanam dalam pot? Belajar dari pengalaman, ternyata varietas Binjai yang ?cocok? ditanam dalam pot. Alasannya, lebih cepat berbuah dibandingkan varietas lain. Apalagi jika bibitnya berasal dari okulasi, yang bisa berbuah kurang dari setahun. Varietas Binjai juga memiliki keindahan tersendiri. Ia memiliki 4 - 5 cabang dan karena itu lebih rimbun. Buahnya juga ngelotok dan manis. Biasanya, wadah tanam tabulampot adalah pot dari tanah liat. Ukurannya tergantung kondisi bibit yang hendak ditanam. Misalnya, untuk bibit setinggi 50 cm, bisa digunakan pot berdiameter 30 cm. Namun, untuk tabulampot rambutan, sebaiknya gunakan wadah tanam berupa drum. Ukuran drum sebaiknya agak besar, sebab ukuran bibitnya juga agak besar. Sebagai pedoman, gunakan bibit rambutan

Binjai setinggi 60 - 75 cm dengan diameter drum sekitar 50 - 60 cm. Drum ini harus diberi lubang-lubang kecil di bagian dasarnya, kemudian diberi ganjalan berupa batu bata atau batako, sehingga pembuangan air penyiraman lancar. Selama ini, banyak variasi media tanam untuk tabulampot. Misalnya campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1 : 2. Ada juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Ma sih ada lagi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2, atau campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Yang perlu diketahui, tabulampot sangat sensitif terhadap media tanam yang memadat, yang mengakibatkan daun cepat mengering lalu rontok. Oleh karena itu, disarankan menggunakan media tanam berupa pupuk kandang seluruhnya. Lebih baik lagi jika pupuk kandang tadi diberi insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 gram per drum. Ini untuk mencegah serangan hama. TAHAP-TAHAP MEMASUKKAN PUPUK KANDANG KE DRUM Pertama, masukkan pecahan batu bata ke dasar drum hingga mencapai seperempat bagian drum. * Di atas lapisan batu bata, isikan selapis ijuk atau humus atau daun-daun kering. * Masukkan pupuk kandang hingga mencapai 2 cm di bawah bibir drum. * Siram hingga cukup basah. MOGOK BERBUAH? Keluhan sering muncul ketika tabulampot rambutan tak mau berbuah lagi. Bahkan, seumur-umur hanya berbuah sekali dan setelah itu macet. Padahal, perawatan sudah dilakukan. Termasuk penyiraman dan pemupukan. Jika menghadapi problema seperti itu, jangan cepat-cepat putus asa! Tanaman masih bisa direkayasa, kok. Caranya, keluarkan tanaman dari drum, amati kondisi fisiknya, lalu pangkas sebagian daunnya. Setelah itu, tanam langsung di tanah. Sementara itu, siapkan juga media tanam (pupuk kandang) yang baru. Bila sudah tampak tunas-tunas baru, pindahkan tanaman dari tanah lapang ke drum. Gampang kan ? CARA MENANAM BIBIT DALAM POT Siram media tanam dalam polybag, lalu sobek, dan keluarkan bibit bersama tanahnya. Bila akar, daun, dan cabang tampak panjang, sebaiknya dipangkas. 1. Gali media dalam drum membentuk lubang. Sesuaikan ukuran lubang dengan ukuran perakaran bibit rambutan. 2. Tambahkan pupuk NPK, dengan perbandingan 15 : 15 : 15, sebanyak 100 gram, lalu aduk-aduk hingga merata. 3. Masukkan bibit ke lubang dalam drum. Pelan-pelan, tekan tanah pada bagian pangkal bibit pelanpelan. 4. Siram sampai cukup basah. 5. Untuk sementara waktu, beri tutup kantung plastik transparan dan letakkan di tempat yang teduh. Jika sudah tumbuh tunas-tunas baru, singkirkan tutup. TIPS PERAWATAN

Faktor perawatan kerap diabaikan. Padahal, sangat penting dan kerap jadi kunci keberhasilan penanaman tabulampot rambutan. Perawatan apa saja yang harus kita lakukan? 1. Penyiraman Di musim kemarau, penyiraman sangat perlu. Jika memakai air PAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam, dan baru esoknya disiramkan. Namun, usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam. Genangan air bisa merangsang timbulnya penyakit busuk akar. 2.Penggemburan Ingat, usahakan media tanam tidak memadat. Pemadatan media biasanya terjadi karena penyiraman yang berlebihan. Setelah itu, lakukan penggemburan dengan menggunakan sekop kecil. Hati-hati, jangan sampai merusak akarnya. 3.Pemupukan Meski media tanam menggunakan pupuk kandang, pupuk organik masih diperlukan. Sampai umur 2 tahun, setiap 4 bulan, tambahkan NPK (15:15:15) sebanyak 25 gram per drum. Sejak umur 3 tahun dan seterusnya, setiap drum diberi 100 gram NPK (15:15:15). Caranya, benamkan pupuk NPK sedalam 10 cm, lalu siram hingga cukup basah. 4.Pemangkasan Pemangkasan tabulampot rambutan di samping untuk membentuk habitus (kanopi) tanaman agar tampak pendek, juga agar cabang dan pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan perdana dilakukan saat tanaman berumur kurang dari setahun, atau tinggi batang sekitar 75 - 100 cm dari permukaan drum. Cara pemangkasan adalah, untuk pemangkasan perdana, pilih 3 cabang primer. Bila panjang cabang primer mencapai 50 cm, pangkas ujungnya hingga tumbuh cabang-cabang sekunder. Pilih hanya tiga cabang sekunder per cabang primer. Selanjutnya, pangkas ujung cabang sekunder sampai tumbuh cabang tersier, dan pilih hanya tiga cabang tersier. Nah, dari ketiga cabang tersier inilah akan terjadi pembungaan dan pembuahan. Tabulampot, Alternatif Berkebun di Lahan Sempit Liputan6.com, Cimanggis: Tren bercocok tanam dalam pot (tabulampot) di Tanah Air sudah berkembang sejak 1979. Bisnis tabulampot menjadi alternatif karena lahan untuk berkebun di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mengecil. Toko Trubus di Cimanggis terkenal sebagai gudangnya tabulampot. Menurut Gunadi, di atas lahan seluas dua hektare ditanami sekitar 179 jenis tumbuhan. Ada yang masih berupa bibit muda. Ada juga tanaman yang sudah berbuah lebat. Bisnis ini kemudian dianggap sangat menguntungkan. Gunadi mengaku tokonya bisa menjual Rp 75 ribu sampai Rp 300 ribu setiap polybag--kantung plastik khusus tanaman. "Paling spesial harganya di atas lima juta rupiah," aku dia. Konsumen tabulampot ala Toko Trubus datang dari seluruh Jakarta. Bagi pembeli harga bukan masalah, sebab tanaman hasil budi daya di tempat itu terbilang berkualitas baik. Selain pengelolaan yang bagus, udara sejuk di kawasan Cimanggis juga membuat tanaman tumbuh lebih subur. Pohon yang paling laku dijual antara lain, jeruk, belimbing, srikaya, dan sawo manila. Dari hari ke hari, penggemar tabulampot terus bertambah. Gunadi berpendapat, jumlah peminat melonjak karena lahan untuk bertanam di kota semakin terbatas. "Perawatan tabulampot juga lebih mudah," tutur Gunadi. Selain itu, pohonnya gampang dipindahkan ke tempat lain sesuai selera. Buku-buku penunjang

tabulampot saat ini juga banyak ditemukan di toko buku. Sekadar informasi membeli benih untuk tabulampot harus bibit permanen yang masih berada dalam polybag. Bibitnya juga mesti sehat, daunnya hijau segar, dan tumbuh normal alias bukan cabutan. Langkah selanjutnya, biarkan bibit beradaptasi terlebih dahulu. Sementara itu, kita menyiapkan pot sesuai besar kecilnya benih. Semua bentuk pot berbahan semen, plastik, keramik atau porselen bisa digunakan. Jika tanamannya masih kecil, gunakan pot berdiameter sekitar 20-40 sentimeter. Bagian dasar pot harus berlubang untuk membuang kelebihan air. Akan lebih baik lagi, jika potnya memiliki kaki agar tampak bersih dan memperlancar proses drainase. Kemudian ambil pecahan genting atau bata merah untuk ditaruh di dasar pot. Genting itu dilapisi dengan ijuk lalu disiram dengan air. Kita juga harus mempersiapkan media tanam. Media tanam ini tergantung selera dan kebutuhan. Ada yang komposisinya campuran antara tanah, sekam, dan humus bambu (1 : 1 : 1). Bisa juga campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1) atau tanah dicampur pupuk kandang dan serbuk gergaji (2 : 1 : 1). Sedangkan, media tanam moderen bisa berupa campuran tanah dengan pupuk organik Super TW-Plus (6 : 1). Sesudah itu, ambil sebagian media tanam dari pot. Kemudian bibit dikeluarkan dari polybag beserta tanahnya. Hati-hati ketika memangkas pohon. Bibit yang memiliki cabang, ranting, daun, dan akar yang berlebihan sebaiknya dipangkas. Selanjutnya, bibit ditanam dalam posisi tegak lalu ditimbun dengan media tanam. Setelah itu, kita bisa memadatkan media tanam di sekitar pangkal bibit. Langkah terakhir, siram tanaman hingga cukup basah.