You are on page 1of 5

TEORI POLITIK INTERNASIONAL : HUGO GROTIUS Dosen Pengampu : Muhadi Sugiono, MA Luqman-nul Hakim, MA

Kelompok Anggrek: Dania Wijayanti Nurul Wakhidah Ciptahadi Nugraha Shabrina Annisarasyiq Ornitha Ugahari Dwita Reza Wali Amrullah Hadza Min Fadhli Robby Maria Yovita Liem (09/282514/SP/23491) (10/296336/SP/23827) (10/296341/SP/23828) (10/296691/SP/23864) (10/298835/SP/23999) (10/298936/SP/24019) (10/298963/SP/24025) (10/302469/SP/24290)

Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2012

13 November 2012 Grotius : Moralitas, Perdamaian Internasional, dan Global Community

Hugo Grotius, yang lahir pada 10 April 1583 di Delft, Belanda dan wafat pada 28 Agustus 1645 di Rostock, Jerman, merupakan seorang negarawan yang agamis. Pandanganpandangannya mengenai hubungan internasional banyak didasarkan pada teologi agama Kristen. Dalam melihat aspek etis dalam hubungan antar negara, Grotius memiliki perhatian yang besar karena pengalaman dan pengamatannya terhadap proses perang yang terjadi di Eropa dan upaya ekspedisi yang dilakukan oleh para kerajaan Eropa. Etika menjadi sebuah masalah penting yang diangkat oleh Grotius karena Grotius menganggap bahwa manusia pada dasarnya memiliki karakter yang baik dan beradab. Pandangan Grotius tentang moral dan etika banyak didasarkan pada nilai-nilai agama Kristen. Grotius sangat memercayai natural law, sebuah hukum yang berasal dari Tuhan. Grotius bahkan merupakan orang yang pertama kali memisahkan natural law menjadi primer dan sekunder. Natural Law, merupakan pendefinisian manusia dalam ajaran Kristen. Menurut ajaran ini, manusia dipandang memiliki sifat yang baik, karena Pencipta manusia pun baik, dan sifatsifat baik-Nya akan terefleksikan pada ciptaan-Nya. Pemikiran tersebut yang kemudian dipisahkan oleh Grotius dalam bentuk primer dan sekunder. Grotius memercayai, bahwa bentuk primer natural law adalah yang benar-benar mengekspresikan kehendak Tuhan. Sementara secondary natural law menggambarkan keadaan manusia yang dilihat Grotius pada realita yang tidak sempurna, yang tidak ideal. I observed that men rush to arms for slight causes, or no cause at all, and that when arms have once been taken up there is no longer any respect for law, divine or human; it is as if, in accordance with a general decree, frenzy had openly been let loose for the committing of all crimes. Pemikiran Grotius tersebut membuatnya sedikit berbeda dengan 3 tokoh besar yang sempat didiskusikan kemarin (Thucydides, Thomas Hobbes, Reinhold Niebuhr), dimana ketiganya cenderung berpandangan skeptis akan aspek moral. Misalnya Grotius yang memiliki pemikiran berbeda dengan Neibuhr yang membedakan moral yang berlaku bagi individu dan moral yang berlaku bagi negara, dimana Grotius tidak membedakan hal tersebut.

Dalam aspek moralitas, Grotius tidak hanya memandang bahwa manusia masih memiliki sisi kebaikan dalam dirinya, tetapi juga tidak memandang bahwa perang adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik. Perang hanya sah digunakan jika kompromi dan negosiasi tidak membawa hasil yang maksimal. Ini masih terkait akan pandangannya akan natural law, yang tidak dapat dikompromikan oleh siapapun, dan harus diaplikasikan terhadap seluruh manusia, apapun agama dan kepercayaannya. Sehingga, menurutnya peraturan yang berlaku sangatlah mudah. Segala sesuatu yang sesuai dengan sifat asli manusia (yang penuh dengan kebaikan) berarti secara moral benar, sementara segala sesuatu yang tidak sejalan dengan sifat dasar manusia berarti secara moral salah. Sehingga penjelasan diatas menjawab pertanyaan akan aspek etika dan moralitas dalam pemikiran Grotius. Ketika berbicara mengenai hubungan internasional, tentu tak bisa dilepaskan dari gagasan mengenai perdamaian dunia. Bagi Grotius, tentu saja, lagi-lagi hal ini masih berkaitan dengan pandangannya akan manusia. Menurut Grotius, manusia adalah makhluk yang damai secara natural, terorganisasi dan cerdas secara sosial. Grotius mempercayai bahwa manusia dapat membedakan mana yang menguntungkan dan merugikan bagi diri mereka sendiri dan lingkungan sosialnya. Sehingga menjadi human nature, bahwa manusia memiliki keinginan akan kemasyarakatan yang damai dan tertib. Dengan demikian, karakter manusia dapat dikontrol melalui adanya hukum internasional dan norma-norma baku. Melalui pandangannya ini, Grotius ingin menjamin kebebasan penggunaan dan aplikasi hak dari setiap manusia, serta mengaturnya dalam koridor hukum. Sehingga perdamaian bisa dicapai setidaknya dengan 2 cara, yaitu penegakkan hukum dan hak. Tidak seperti pandangan realis,yang aktor utamanya adalah negara, menurut Grotius hukum dan hak tersebut berlaku baik bagi manusia dan negara (baginya merupakan a complete association of free men, joined together for the enjoyment of rights and for their common interest). Cukup dengan menjadi seorang manusia, kita akan terikat dengan hak/right, yaitu kualitas moral yang ada dalam diri seseorang, membuatnya berhak untuk memiliki privilege tertentu, atau melakukan tindakan tertentu. Sedangkan hukum akan melindungi hak-hak yang dimiliki manusia tersebut. Menurut Hugo Grotius dalam De Jure Belli Pacis (The Law of The War and Peace; 1625), hukum adalah aturan tentang tindakan moral yang mewajibkan apa yang benar. Terdapat

dua jenis hukum, Natural Law dan Law of Nations. Hukum negara dikaitkannya dengan Natural Law, sehingga manusia atau individu dengan serta merta menjadi subyek bagi keduanya. Hukum-hukum ini merupakan basis kerjasama di dalam negara dan di dalam komunitas negaranegara. Inilah yang akan membawa pada perdamaian internasional. Walau memimpikan perdamaian dunia dapat tercipta hanya melalui kepercayaanya akan ketaatan hukum, atau ketika semua state dapat menjaga mutual consent-nya Grotius tidak menisbikan asumsi bahwa perang tidak dapat dihindarkan. Untuk itu, Grotius merumuskan teori just war atau perang yang adil. Perang memiliki ius ad bellum dan ius in bello. Ius ad bellum merupakan legalitas perang. Perang dapat dibenarkan jika perang digunakan untuk membela kebenaran bukan demi sekedar alasan kekuasaan. Menurutnya, fear for enemy is unjustifiable to justify war, though it is justiable to justify preparation of war. War can only be done when rights are violated. Untuk itu Grotius memandang terdapat 3 alasan perang yang sah, (1) perang sebagai self defense, (2) perang sebagai reparation of injury, dan (3) perang sebagai hukuman. Sedangkan ius in bello merupakan aturan-aturan yang mengatur semua pihak yang terlibat agar mematuhi perilaku berperang yang benar dan adil. Just war ada untuk meminimalisir dampak perang terhadap manusia. Dengan adanya teori just war ini, diharapkan secara perlahan negara-negara akan sadar dan semakin mencoba untuk menahan perilakunya dalam peperangan sehingga perdamaian yang diharapkan dapat tercipta. Dalam teori ini Grotius menyarankan pembentukan arbitary court atau sebuah komite untuk mengobservasi berjalannya hukum perang tersebut. Ini sesuai pula dengan anjuran Grotius untuk mengadakan pembentukan organisasi internasional untuk menekankan hukum

internasional. Melalui penjelasan diatas, pandangan Grotius akan pembentukkan perdamaian internasional telah tersampaikan. Dari pandangannya akan perdamaian internasional, Grotius juga mengkonsepsikan masyarakat internasional (atau dalam istilah kontemporernya, komunitas global, global community). Manusia menurutnya diatur oleh sebuah aturan yang bersifat universal untuk menciptakan keadilan bagi persamaan hak-hak mereka, seperti halnya pula dengan negaranegara. Hukum dan norma tersebut, menurut Grotius, tercipta melalui adanya mutual consent yang terjadi atas adanya kompromi antar individu manusia yang kemudian mempertimbangkan pentingnya moral untuk menjaga kehidupan manusia di dunia. Sistem norma inilah yang

menyatukan negara dalam sebuah masyarakat internasional. Sehingga terdapat dua poin yang dapat ditangkap yaitu unit dasar dalam global atau world community adalah manusia, dan masyarakat internasional sebagai masyarakat yang bermoral. Denagn demikian, dapat dipahami pandangan Grotius mengenai masyarakat internasional. Masyarakat internasional adalah sebuah komunitas yang digabungkan oleh gagasan bahwa negara dan penguasa memiliki aturan yang berlaku untuk mereka semua. Semua orang dan semua bangsa tunduk pada hukum internasional, dan masyarakat internasional diselenggarakan bersama oleh perjanjian tertulis dalam keadaan adat dan kebiasaan yang dilembagakan dengan fungsi sebagai wadah yang melindungi hak-hak manusia didalamnya. Kesimpulan Kesimpulan dari essay ini adalah bahwa Grotius cukup mempercayai moral dalam diri manusia, namun Grotius tidak serta merta melupakan realitas sosial yang terjadi, yang akhirnya membuat dirinya menganggap bahwa terdapat kebutuhan akan norma yang dibangun atas dasar mutual consent untuk melindungi hak-hak manusia, termasuk pula negara-negara. Penyelesaian konflik tidak hanya dapat dilakukan melalui perang, tetapi juga melakui kompromi dan negosiasi, tetapi bila perang benar-benar tidak dapat dihindarkan maka, perang harus dijalankan secara adil, yaitu dengan memenuhi ius ad bellum dan ius in bello. Melalui penegakkan hukum, dan keadilan distribusi hak-hak, maka perdamaian internasional dan juga global community akan dapat tercipta.