You are on page 1of 11

BAB I LANDASAN TEORI

A. Pengertian
Kolelitiasis adalah pembentukan batu empedu yang biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu (Brunner dan Suddarth, 2001). Kolesthiasis adalah terdapatnya batu pada kandungan empedu dengan komposisi 3 golongan besar yaitu : batu kolesterol, batu bilirubinat dan batu pigmen hitam (Sareono Waspadj, 2001:380). Batu empedu merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak dan fosfolipid (Price dan Wilson, 2005). Kolelitiasis (kalkulus/kalkuli, batu empedu) biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu; batu empedu memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang sangat bervariasi. Batu empedu tidak lazim dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda tetapi insidensnya semakin sering pada individu berusia di atas 40 tahun. Sesudah itu, insidens kolelitiasis semakin meningkat hingga suatu tingkat yang diperkirakan bahwa pada usia 75 tahun satu dari tiga orang akan memiliki batu empedu.

B. Patofisiologi
Perubahan susunan empedu mungkin merupakan yang paling penting pada pembetukan batu empedu. Hepar penderita batu kolesterol mensekresi empedu yang jenuh dengan kolesterol. Stasis empedu dalam kandung dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengedapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu atau spasme sfingter Oddi atau keduanya dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu, menyebabkan insiden tertingi pada tipe kolesterol. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan sebagian dalam pembetukan batu melalui peningkatan deskuamasi sel dan pembentukan mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler atau bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi. Akan tetapi infeksi mungkin lebih sering menjadi akibat dari pembentukan batu empedu daripada sebab pembentukan batu empedu. Keadaan yang berhubungan dengan batu empedu pigmen kurang luas serta mencakup hemolisis., sirosis, dan penuaan. Keadaan hemolisis menahun apapun akibat infeksi atau hemoglobinopati primer dapat menyebabkan peningkatan yang jelas dalam eksresi bilirubin ke dalam empedu, tempat ia berpresipitasi bersama kolesterol dan membentuk batu. Ada dua tipe utama batu empedu: batu yang terutama tersusun dari kolesterol, yaitu batu pigmen dan batu kolesterol. Batu pigmen kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak terkonjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Batu ini bertanggung jawab atas sepertiga dari pasien-pasien batu empedu di Amerika Serikat. Risiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis dan infeksi percabangan biller. Batu ini tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi. Batu kolesterol bertanggung jawab atas sebagian besar kasus batu empedu lainnya di Amerika Serikat. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis kolesterol dalam hati. Keadaan ini menimbulkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah 1

empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. Jumlah wanita yang menderita batu kolesterol dan penyakit kandung empedu adalah empat kali lebih banyak daripada laki-laki. Biasanya wanita tersebut berusia lebih dari 40 tahun, multipara dan obesitas. Insidens pembentukan batu empedu meningkat pada orang pengguna pil kontrasepsi, estrogen dan klofribat yang diketahui meningkatkan saturasi kolesterol biller. Insidens pembentukan batu empedu meningkat bersamaan dengan pertambahan umur, peningkatan insidens ini terjadi akibat bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sintesis asam empedu. Di samping itu, risiko terbentuknya batu empedu juga meningkat akibat malabsorpsi garam-garam empedu pada pasien dengan penyakit gastrointestinal atau fistula T-tube atau pada pasien yang pernah mengalami operasi pintasan atau reseksi ileum. Insidens penyakit ini juga meningkat pada para penyandang penyakit diabetes.

C. Manifestasi Klinik
Batu empedu bisa terjadi secara tersembunyi karena tidak menimbulkan rasa nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastrointestinal yang ringan. Batu tersebut mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat dilakukan pembedahan atau evaluasi untuk gangguan yang tidak berhubungan sama sekali. Penderita penyakit kandung empedu akibat batu empedu dapat mengalami dua jenis gejala: gejala yang disebabkan karena penyakit pada kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi akibat obstruksi pada lintasan empedu oleh batu empedu. Gejalanya bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium seperti rasa penuh distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen , dapat terjadi. Gangguan ini dapat terjadi setelah individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng. Rasa Nyeri dan Kolik Bilier. Jika duktus sistika tersumbat oleh batu empedu, kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi. Pasien akan menderita panas dan mungkin teraba massa padat pada abdomen. Pasien dapat mengalami kolik biller disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas yang menjalar ke punggung atau bahu kanan; rasa nyeri ini biasanya disertai dengan mual dan muntah dan bertambah hebat dalam waktu beberapa jam sesudah makan makanan dalam porsi besar. Pasien akan membolak-balik tubuhnya dengan gelisah karena tidak mampu menemukan posisi yang nyaman baginya. Pada sebagian besar pasien, rasa nyeri bukan bersifat kolik melainkan persisten. Serangan kolik biller semacam ini disebabkan oleh kontraksi kandung empedu yang tidak dapat mengalirkan empedu keluar akibat tersumbatnya saluran oleh batu. Dalam keadaan distensi, bagian fundus kandung empedu akan menyentuh dinding abdomen pada daerah kartilago kosta sembilan dan sepuluh kanan. Sentuhan ini menimbulkan nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas ketika pasien melakukan inspirasi dalam, dan menghambat pengembangan rongga dada. Nyeri pada kolesistitis akut dapat berlangsung sangat hebat sehingga diperlukan preparat analgesik yang kuat seperti meperidin. Pemberian morfin dianggap dapat meningkatkan spasme sfingter Oddi sehingga perlu dihindari. Ikterus. Ikterus dapat dijumpai di antara penderita penyakit kandung empedu dengan presentase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus. Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu: getah empedu yang tidak lagi dibawa ke dalam duodenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit dan membran mukosa berwarna kuning. Keadaan ini sering disertai dengan gejala gatal-gatal yang mencolok pada kulit. 2

Perubahan Warna Urin dan Feses. Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal akan membuat urin berwarna sangat gelap. Feses yang tidak lagi diwarnai oleh pigmen empedu akan tampak kelabu, dan biasanya pekat yang disebut claycolored. Defisiensi Vitamin. Obstruksi aliran empedu juga mengganggu absorpsi vitamin A, D, E dan K yang larut lemak. Karena itu, pasien dapat memperlihatkan gejala defisiensi vitamin-vitamin ini jika obstruksi biller berjalan lama. Defisiensi vitamin K dapat mengganggu pembekuan darah yang normal. Bilamana batu empedu terlepas dan tidak lagi menyumbat duktus sistikus, kandung empedu akan mengalirkan isinya keluar dan proses inflamasi segera mereda dalam waktu yang relatif singkat. Jika batu empedu terus menyumbat saluran tersebut, penyumbatan ini akan mengakibatkan abses, nekrosis dan perforasi disertai periraitis generalisata.

D. Penatalaksanaan Medis
1. Non Pembedahan (farmakoterapi, diet) a. Penatalaksanaan pendukung dan Diet adalah: istirahat, cairan infus, NGT, analgetik dan antibiotik, diet cair rendah lemak, buah yang masak, nasi, ketela, kentang yang dilumatkan, sayur non gas, kopi dan teh. b. Untuk makanan yang perlu dihindari sayur mengandung gas, telur, krim, daging babi, gorengan, keju, bumbu masak berlemak, alkohol. c. Farmakoterapi asam ursedeoksikolat (urdafalk) dan kenodeoksiolat (chenodiol, chenofalk) digunakan untuk melarutkan batu empedu radiolusen yang berukuran kecil dan terutama tersusun dari kolesterol. Jarang ada efek sampingnya dan dapat diberikan dengan dosis kecil untuk mendapatkan efek yang sama. Mekanisme kerjanya menghambat sintesis kolesterol dalam hati dan sekresinya sehingga terjadi disaturasi getah empedu. Batu yang sudah ada dikurangi besarnya, yang kecil akan larut dan batu yang baru dicegah pembentukannya. Diperlukan waktu terapi 6 12 bulan untuk melarutkan batu. d. Pelarutan batu empedu tanpa pembedahan : dengan cara menginfuskan suatu bahan pelarut (manooktanoin / metil tersier butil eter ) kedalam kandung empedu. Melalui selang / kateter yang dipasang perkuatan langsung kedalam kandung empedu, melalui drain yang dimasukkan melalui T-Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan, melalui endoskopi ERCP, atau kateter bilier transnasal. e. Ektracorporeal shock-wave lithotripsy (ESWL). Metode ini menggunakan gelombang kejut berulang yang diarahkan pada batu empedu dalam kandung empedu atau duktus koledokus untuk memecah batu menjadi sejumlah fragmen. Gelombang kejut tersebut dihasilkan oleh media cairan oleh percikan listrik yaitu piezoelektrik atau muatan elektromagnetik. Energi disalurkan kedalam tubuh lewat rendaman air atau kantong berisi cairan. Setelah batu pecah secara bertahap, pecahannya akan bergerak perlahan secara spontan dari kandung empedu atau duktus koledokus dan dikeluarkan melalui endoskop atau dilarutkan dengan pelarut atau asam empedu peroral. 2. Pembedahan a. Intervensi bedah dan sistem drainase. b. Kolesistektomi : dilakukan pada sebagian besar kolesistitis kronis atau akut. Sebuah drain ditempatkan dalam kandung empedu dan dibiarkan menjulur keluar lewat luka operasi untuk mengalirkan darah, cairan serosanguinus, dan getah empedu kedalam kassa absorben. c. Minikolesistektomi : mengeluarkan kandung empedu lewat luka insisi selebar 4 cm, bisa dipasang drain juga, beaya lebih ringan, waktu singkat. d. Kolesistektomi laparaskopi 3

e. Kolesistektomi endoskopi: dilakukan lewat luka insisi kecil atau luka tusukan melalui dinding abdomen pada umbilikus

E. Etiologi
Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko. Namun, semakin banyak faktor resiko, semakin besar pula kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain: 1. Genetik Batu empedu memperlihatkan variasi genetik. Kecenderungan membentuk batu empedu bisa berjalan dalam keluarga. Di negara Barat penyakit ini sering dijumpai, di USA 10-20 % laki-laki dewasa menderita batu kandung empedu. Batu empedu lebih sering ditemukaan pada orang kulit putih dibandingkan kulit hitam. Batu empedu juga sering ditemukan di negara lain selain USA, Chili dan Swedia. 2. Umur Usia rata-rata tersering terjadinya batu empedu adalah 40-50 tahun. Sangat sedikit penderita batu empedu yang dijumpai pada usia remaja, setelah itu dengan semakin bertambahnya usia semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan batu empedu, sehingga pada usia 90 tahun kemungkinannya adalah satu dari tiga orang. 3. Jenis Kelamin Batu empedu lebih sering terjadi pada wanita dari pada laki-laki dengan perbandingan 4 : 1. Di USA 10-20% laki-laki dewasa menderita batu kandung empedu, sementara di Italia 20% wanita dan 14% laki-laki. Sementara di Indonesia jumlah penderita wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Berat badan (BMI) Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu. Makanan Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu. Aktifitas fisik Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi. Penyakit usus halus Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah crohn disease, diabetes, anemia sel sabit, trauma, dan ileus paralitik. Nutrisi intravena jangka lama Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu. Infeksi Bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu, mucus meningkatkan viskositas empedu dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi. Menurut Mansjoer Arif (2001, hlm. 510) Beberapa faktor resiko terjadinya batu empedu antara lain jenis kelamin, umur, hormon wanita, infeksi (kolesistitis), kegemukan, paritas, serta faktor genetik. Terjadinya batu kolesterol adalah akibat 4

4.

5.

6.

7. 8.

9.

gangguan hati yang mengekskresikan kolesterol berlebihan hingga kadarnya di atas nilai kritis kelarutan kolesterol dalam empedu. Menurut Price, (2005, hlm. 502) Penyebab batu empedu masih belum di ketahui sepenuhnya, akan tetapi tampaknya faktor predisposisi terpenting adalah gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu, statis empedu, dan infeksi kandung empedu. Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan faktor terpenting dalam pembentukan batu empedu. Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan komposisi kimia, dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu, atau spasme sfingter Oddi, atau keduanya dapat menyebabkan terjadinya statis. Faktor hormonal (terutama selama kehamilan) dapat di kaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan menyebabkan tingginya insidensi dalam kelompok ini. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu. Mukus meningkatkan viskositas empedu, dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi. Akan tetapi, infeksi mungkin lebih sering timbul sebagai akibat dari terbentuknya batu empedu, di bandingkan sebagai penyebab terbentuknya batu empedu. Etiologi batu empedu secara pasti belum diketahui secara sempurna, tetapi faktor prodisposisi terjadinya batu empedu adalah sebagai berikut : 1. Gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu 2. Statis empedu 3. Infeksi kandung empedu Kondisi klinis yang dikaitkan dengan semakin meningkatnya insiden batu empedu adalah diabetes, sirosis hati, pangkreatitis, kanker kandung empedu dan penyakit atau reseksi ileum. Faktor lainnya adalah obesitas, multipararitas, pertambahan usia, jenis kelamin (biasanya perempuan) dan ingesti segera makanan yang mengandung kalori rendah atau lemak rendah (puasa).

F. Tanda dan Gejala


Menurut Price (2005, 503) Sebanyak 75% orang yang memiliki batu empedu tidak memperlihatkan gejala. Sebagian besar gejala timbul bila batu menyumbat aliran empedu, yang seringkali terjadi karena batu yang kecil melewati ke dalam duktus koledokus. Penderita batu empedu sering memiliki gejala kolesistitis akut atau kronis. 1. Gejala Akut a. Nyeri hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen kuadran kanan atas, nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan. b. Penderita dapat berkeringat banyak dan Gelisah c. Nausea dan muntah sering terjadi. d. Ikterus, dapat di jumpai di antara penderita penyakit kandung empedu dengan persentase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus. Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu getah empedu yang tidak lagi di bawa ke dalam duodenum akan di serap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit dan membran mukosa bewarna kuning. Keadaan ini sering di sertai dengan gejala gatal-gatal yang mencolok pada kulit. e. Perubahan warna urine dan feses. Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal akan membuat urine bewarna sangat gelap. Feses yang tidak lagi di warnai oleh pigmen empedu akan tampak kelabu, dan biasanya pekat. 2. Gejala kronis Gejala kolelitiasis kronis mirip dengan gejala kolelitiasis akut, tetapi beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang nyata. Pasien sering memiliki riwayat dispepsia, intoleransi lemak, nyeri ulu hati, atau flatulen yang berlangsung lama. Menurut Reeves ( 2001) tanda dan gejala yang biasanya terjadi adalah: 5

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Nyeri di daerah epigastrium kuadran kanan atas Pucat biasanya dikarenakan kurangnya fungsi empedu Pusing akibat racun yang tidak dapat diuraikan Demam Urine yang berwarna gelap seperti warna teh Dispepsia yang kadang disertai intoleransi terhadap makanan berlemak Nausea dan muntah Berkeringat banyak dan gelisah Defisiensi Vitamin A,D,E,K

G. Tipe-tipe Kolelitiasis
Pada umumnya batu empedu dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: tipe kolesterol, tipe pigmen empedu dan tipe campuran. Batu kolesterol terjadi akibat gangguan hati yang mengekskresikan kolesterol berlebihan hingga kadarnya diatas nilai kritis ke larutan kolesterol dalam empedu. Tipe pigmen biasanya akibat proses hemolitik atau investasi E. Coli ke dalam empedu yang dapat mengubah bilirubin diglukuronida menjadi bilirubin bebas yang mungkin dapat menjadi Kristal kalsium bilirubin. Adapun klasifikasi dari batu empedu menurut Suratun, dkk (2010, 201) adalah sebagai berikut: 1. Batu Kolesterol Biasanya berukuran besar, soliter, berstruktur bulat atau oval, berwarna kuning pucat dan seringkali mengandung kalsium dan pigmen. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati. 2. Batu Pigmen Terdiri atas garam kalsium dan salah satu dari anion (bilirubinat, karbonat, fosfat, atau asam lemak rantai panjang). Batu-batu ini cenderung berukuran kecil, multipel, dan bewarna hitam kecoklatan. Batu pigmen bewarna coklat berkaitan dengan hemolisis kronis. Batu berwarna coklat berkaitan dengan hemolisis kronis. Batu berwarna coklat berkaitan dengan infeksi empedu kronis (batu semacam ini lebih jarang di jumpai). Batu pigmen akan terbentuk bila pigmen tidak terkonjugasi dalam empedu dan terjadi proses presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Resiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis, dan infeksi percabangan bilier. 3. Batu Campuran Batu ini merupakan campuran antara batu kolesterol dengan batu pigmen atau dengan substansi lain (kalsium karbonat, fosfat, garam empedu, dan palmitat), dan biasanya berwarna coklat tua. Klasifikasi batu empedu menurut gambaran makrokospit dan komposisi kimia: a. Batu kolesterol Berbentuk oval, multi focat (mulberry) dan mengandung > 70 % kolesterol. b. Batu kalsium bilirubinat Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium, bilirubinat sebagai komponen utama. c. Batu pigmen hitam Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk seperti bubuk dan kaya akan zat hitam yang tak terekstrasi.

BAB II PROSES KEPERAWATAN


A. Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat Kesehatan a. Identitas Pasien b. Keluhan Utama Klien datang dengan keluhan nyeri abdomen atas, menyebar ke punggung, kolik epigastrium tengah, mual muntah, anoreksia. c. Riwayat Penyakit 1) Penyakit Sekarang Nyeri pada abdomen bagian atas dan dapat menyebar ke punggung atau bahu kanan, nyeri datang tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit, dapat disertai mual dan muntah. 2) Penyakit Dahulu Dikaji adanya riwayat kolelitiasis dan sering mengalami serangan kolik bilier atau kolesistitis akut, diabetes melitus, sirosis hati, pankreatitris dan reksi ileum. 3) Riwayat Keluarga Anggota keluarga tidak ada yang mengalami penyakit seperti yang dialami klien. 2. Data Pengkajian a. Pola Nutrisi Gejala : anoreksia, mual, muntah, tidak toleran terhadap lemak dan makanan pembentukan gas, regurgitasi berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat makan, flatus, dyspepsia. Tanda : kegemukan, adanya penurunan berat badan. b. Pola Eliminasi Gejala : perubahan warna urine dan feses. Tanda : distensi abdomen, teraba massa pada kuadran kanan atas, urine gelap, pekat, feses warna tanah liat, steatorea. c. Pola Pernapasan Tanda : peningkatan frekuensi pernapasan, penapasan tertekan ditandai oleh napas pendek, dangkal. d. Pola Aktivitas Istirahat Badan lemah, gelisah, dan klien hanya istirahat di tempat tidur, tidak bisa tidur karena nyeri hebat dan muntah. e. Sirkulasi Takikardi, berkeringat f. Personal Hygiene Klien kurang mampu merawat kebersihan dirinya. g. Keamanan Tanda : demam, menggigil, ikterik, dan kulit berkeringat dan gatal (pruritus), kecendrungan perdarahan (kekurangan vit. K). h. Kenyamanan Gejala : nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke punggung atau bahu kanan, kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan, nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit. Tanda : nyeri lepas, otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan, tanda Murphy positif. 7

3. Pemeriksaan a. Pemeriksaan Umum Keadaan umum lemah, suhu normal atau meningkat, pernafasan meningkat kadang-kadang chinestoke, nadi meningkat (takikardi), tekanan darah normal. b. Pemeriksaaan Fisik Konjungtiva pucat, kadang-kadang ikterik pada mucosa, bibir kering, dada: pernafasan cepat dan dangkal (chinestoke), perut terdapat nyeri tekan dan terasa kaku pada kuadran kanan atas, dispesia, teraba massa pada abdomen kanan atas. c. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah lengkap : Leukositis sedang (akut). 2. Billirubin dan amilase serum : meningkat. 3. SGOT, SGPT, LDH : agak meningkat, alkalin fosfat dan S nukleotidase, ditandai peningkatan obstruksi bilier. 4. Kadar protombin : menurun bila obstruksi aliran empedu dalam usus menurunkan absorpsi vitamin K. 5. Ultrasound : menyatakan kalkuli dan distensi empedu atau duktus empedu. 6. Kolangiopankreatografi retrograd endoskopik : memperlihatkan percabangan bilier dengan kanulasi duktus koledukus melalui duodenum. 7. Kolangiografi transhepatik perkutaneus : pembedaan gambaran dengan fluoroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker pankreas. 8. CT-Scan : dapat menyatakan kista kandung empedu. 9. Scan hati : menunjukkan obstruksi percabangan bilier 10.Kolesistogram : memgetahui seberapa besar batu pada sistem empedu. 11.Foto polos abdomen : Mengetahui letak batu dan perkiraan besarnya batu.

B. Diagnosa, Perencanaan dan Intervensi Keperawatan


1. Nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan insisi bedah Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam tingkat nyeri klien berkurang Kriteria Hasil : Klien menyatakan nyeri berkurang dengan skala 2-3 Ekspresi wajah tenang Klien dapat istirahat dan tidur Tanda vital normal Intervensi : a. Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri (menetap, hilang, timbul atau kolik ) Rasional: Memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, komplikasi dan keefektifan intervensi. b. Catat repons terhadap obat dan laporkan bila nyeri tidak hilang Rasional: Nyeri berat yang tidak hilang dapat menunjukkan adanya komplikasi 8

c. Tingkatkan tirah baring, biaran pasien melakukan posisi yang nyaman Rasional: Posisi yang nyaman fowler rendah menurunkan tekanan intraabdomen d. Gunakan sprei yang halus/katun; minyak kelapa; minyak mandi(alpha keri) Rasional: Menurunkan iritasi kulit dan sensasi gatal e. Berikan teknik relaksasi Rasional: Meningkatkan istirahat dan memusatkan kembali perhatian, dapat menurunkan nyeri f. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti nyeri Rasional: Membantu dalam mengatasi nyeri yang hebat 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan insisi bedah abdomen (jika akan dilakukan bedah kolesistektomi tradisional) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, pasien mempunyai status pernapasan: pertukaran gas tidak akan terganggu. Kriteria hasil: Dispnea pada saat istirahat tidak ada PaO2, PaCO2, pH arteri dan SaO2 dalam batas normal Tidak ada gelisah, sianosis dan keletihan Intervensi: a. Kaji bunyi paru, frekuensi napas, kedalaman dan usaha napas serta produksi sputum Rasional: Memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, komplikasi dan keefektifan intervensi b. Pantau hasil gas darah, misalnya PaO2 dan PaCO2 Rasional: Memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, komplikasi dan keefektifan intervensi c. Ajarkan teknis napas dalam dan batuk efektif minimal 2 jam sekali Rasional: Paru-paru dapat berkembang penuh dan terjadinya atelaktasis dapat dicegah d. Gunakan spirometer insentif setiap jam saat terjaga, dan mulai pergerakan setidaknya empat kali sehari Rasional: Mencegah komplikasi paru disamping komplikasi lain seperti tromboflebitis 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan drainase bilier sesudah dilakukan tindakan bedah (jika dipasang T-tube karena batu berada dalam duktus koledokus) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam gangguan integritas kulit berkurang atau menunjukkan penyembuhan Kriteria hasil: Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan Tidak ada infeksi Intervensi: a. Fiksasi selang dengan kasa pembalut atau alas bokong dan beri cukup ruang 9

Rasional: Fiksasi selang membuat pasien dapat bergerak tanpa membuat kateter tersebut terlepas atau tertekuk b. Ganti pakaian klien, higiene kulit, disekitar luka insisi Rasional: Menjaga kebersihan kulit disekitar insisi dapat meningkatkan perlindungan kulit terhadap ulserasi c. Beri antibiotik sesuai indikasi Rasional: Untuk mengurangi infeksi atau abses d. Monitor hasil lab: Leukosit Rasional: Peningkatan leukosit sebagai gambaran adanya proses inflamasi contohnya abses atau terjadinya peritonitis/pankeatitis 4. Gangguan nutrisi berhubungan dengan sekresi getah empedu yang tidak adekuat Tujuan: Pemenuhan kebutuhan nutrisi adekuat Kriteria hasil: Melaporkan mual/muntah hilang. Menunjukkan kemajuan mencapai BB individu yang tepat. Makanan habis sesuai porsi yang diberikan. Intervensi: a. Kaji distensi abdomen Rasional: Adanya ketidaknyamanan karna gangguan percernaan,nyeri gaster b. Timbang BB tiap hari Rasional: Mengidentifikasi kekurangan/kebutuhan nutrisi c. Diskusikan dengan klien makanan kesukaan dan jadwal makan yang disukai Rasional: Melibatkan klien dalam perencanaan, klien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan d. Berikan suasana yang menyenangkan pada saat makan, hilangkan rangsangan yang berbau Rasional: Untuk meningkatkan nafsu makan/ menurunkan mual e. Jaga kebersihan oral sebelum makan Rasional: Oral yang bersih meningkatkan nafsu makan f. Konsul dengan ahli diet/ tim pendukung nutrisi sesuai indikasi Rasional: Berguna untuk merencanakan kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat g. Berikan diet sesuai toleransi biasanya rendah lemak, tinggi serat. Rasional: Memenuhi kebutuhan nutrisi dan meminimalkan ransangan pada kandung empedu 5. Kurang pengetahuan tentang kegiatan merawat diri sendiri setelah pulang dari rumah sakit Tujuan: Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 30 menit pengetahuan keluarga klien meningkat Kriteria hasil: Keluarga menjelaskan tentang penyakit, perlunya pengobatan memahami perawatan Keluarga kooperatif dan mau kerjasama saat dilakukan tindakan 10 dan

Intervensi: a. Ajarkan pasien dan keluarganya mengenai cara-cara yang benar dalam merawat kateter drainase Rasional: bantuan dalam pembalutan yang benar akan mengurangi kecemasan pasien yang akan pulang dengan drain atau kateter yang masih terpasang b. Kaji ulang proses penyakti atau prognosis Rasional: memberikan dasar pengetahuan dalam mengambil keputusan c. Berikan penjelasan atau alasan tes dan persiapannya Rasional: informasi menurunkan cemas dan rangsangan simpati d. Kaji ulang program obat Rasional: dosis harus sesuai indikasi pasien e. Anjurkan pasien untuk menghindari makanan atau minuman tinggi lemak Rasional: mencegah terulangnya serangan kandung empedu

11