You are on page 1of 0

1

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
Bronchopneumonia adalah peradangan pada paru yang disesabkan oleh
bermacam-macam seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.
(Ngastiyah,2005)
Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer
& Suzanne C, 2002 : 572).
Broncopneumonia adalah inflamasi pada parenkin paru yang terjadi pada ujung
akhir bronciolus yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk
bercak konsolidasi dalam lobus yang berada di dekatnya. (Wong.DL.2004 )
Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa
Bronchopneumoni adalah suatu peradangan pada paru yang disebabkan oleh
bermacam macam seperti bakteri,virus jamur dan benda asing lainnya ,dan
mempunyai pola penyebaran,berbercak.
B. Etiologi
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, rotozoa,
mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682)
antara lain:
1. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.
2. Virus : Legionella pneumoniae
6
2
3. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-
paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.
Sebab lain dari pneumonia adalah akibat flora normal yang terjadi pada
pasien yang daya tahannya terganggu, atau terjadi aspirasi flora normal yang
terdapat dalam mulut dan karena adanya pneumocystis crani, Mycoplasma.
(Smeltzer & Suzanne C, 2002 : 572 dan Sandra M. Nettina, 2001 : 682)
C. Patofisiologi
Menurut ( sujono riyadi dan sukarmin 2009 )
1. Proses Perjalanan Penyakit
Kuman masuk ke dalam jarinagn paru-paru melalui saluran pernafasan
dari atas untuk mencapai bronchoilus dan kemudian alveolus
sekitarnya.Kelainan yang timbul berupa bercak konsolidasi yang tersebar
pada kedua paru-paru, lebih banyak pada bagian basal.
Pneumonia dapat terjadi sebagai akibat inhalasi mikroba yang ada di
udara, aspirasi organisme dari nasofarinks atau penyebaran hematogen dari
focus infeksi yang jauh. Bakteri yang masuk ke paru melalui saluran nafas
masuk ke bronkhioli dan alveoli, menimbulkan reaksi peradangan hebat
dan menghasilkan cairan edema yang kaya protein dalam alveoli dan
jaringan interstitial. Kuman pnemukokus dapat meluas melalui porus kohn
dari alveoli ke seluruh segmen atau lobus. Eritrosit mengalami pembesaran
dan beberapa lekosit dari kapiler paru-paru. Alveoli dan septa menjadi
penuh dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin dan serta
3
relative sedikit lekosit sehingga kapiler alveoli menjadi melebar. Paru
menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal dan berwarna merah. Pada tingkat
lebih lanjut, aliran darah menurun,alveoli penuh dengan lekosit dan
relative lebih sedikit eritrosit. Kuman pnemukokus di fagositosis oleh
lekosit dan sewaktu resolusi berlangsung, makrofag masuk ke dalam
alveoli dan menelan leukosit bersama kuman pnemokokus di dalamnya.
Paru masuk dalam tahap hepatisasi abu-abu dan tampak abu-abu
kekuningkuningan.secara perlahan-lahan sel darah merah yang mati dan
eksudat fibrin di buang dari alveoli.terjadi resolusi sempurna, paru menjadi
normal kembali tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas.
Akan tetapi apabila proses konsolidasi tidak dapat berlangsung dengan
baik maka setelah edema dan terdapatnya eksudat pada alveolus maka
membrane dari alveolus akan mengalami kerusakan yang dapat
mengakibatkan gangguan proses difusiosmosis oksigen pad alveolus.
Perubahan tersebut akan berdampak pada penurunan jumlah oksigen yang
di bawa oleh darah. Penurunan itu yang secara klinis penderita mengalami
pucat sampai sianosis.terdapat cairan purulen pada alveolus juga dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan pada paru sehingga dapat berakibat
penurunan kemampuan mengambil oksigen dari luar juga mengakibatkan
berkurangnya kapasitas paru.penderita akan berusaha melawan tingginya
tekanan tersebut menggunakan otot-otot bantu pernafasan (otot interkosta)
yang dapat menimbulkan retraksi dada.
Secara hematogen maupun langsung (lewat penyebaran sel)
mikroorganisme yang terdapat di dalam paru dapat menyebar ke bronkus.
Setelah terjadi fase peradangan lumen bronkus berserbukan sel radang
4
akut, terisi eksudat (nanah) dan sel epitel rusak. Bronkus dan sekitarnya
penuh dengan netrofil (bagian lekosit yang banyak pada saat awal
peradangan dan bersifat fagositosis) dan sedikit eksudat fibrinosa. Bronkus
rusak akan mengalami fibrosis dan pelebaran akibat tumpukan nanah
sehingga dapat timbul bronkiektasis. Selain itu organisasi eksudat dapat
terjadi karena absorsi yang lambat. Eksudat pada infeksi ini mula-mula
encer dan keruh, mengandung banyak kuman penyebab (strepkokus, virus
dan lain-lain). Selanjutnya eksudat berubah menjadi purulen, dan
menyebabkan sumbatan pada lumen bronkus. Sumbatan tersebut dapat
mengurangi asupan oksigen dari luar sehingga penderita mengalami sesak
nafas.
Terdapatnya peradangan pada bronkus dan paru juga akan mengakibatkan
peningkatan produksi mukosa dan peningkatan gerakan silia pada lumen
bronkus sehingga timbul peningkatan gerakan silia pada lumen bronkus
sehingga timbul peningkatan reflek batuk.
Perjalanan patofisiologi di atas bias berlangsung sebaliknya yaitu
didahului dulu dengan infeksi pada bronkus kemudian berkembang
menjadi infeksi pada paru.
2. Manifestasi klinik dari penyakit bronchopneumonia merupakan Infeksi
Pernafasan akut (ISPA) yang ditandai dengan :
a. Suhu tubuh dapat naik secara mendadak (38
O
-40
0
C)
b. Kadang-kadang disertai kejang karena demam tinggi
Gejala khas seperti : Sianosis pada mulut dan hidung, sesak
nafas,pernafasan cepat dan dangkal, mula-mula batuk kering menjadi
5
batuk produktif, kadang-kadang muntah, diare dan anoreksia,photo
thorak terdapat bercak pada lobus atau beberapa lobus.
3. Komplikasi
Komplikasi dari broncho pneumoni antara lain Otitis Media Akut
(OMA).Terjadi bila tidak diobati maka sputum yang berlebihan akan
masuk ke dalam tuba eustaci sehingga menghalangi masuknya udara
ketelinga tengah dan mengakibatkan hampa udara kemudian gendang
telinga akan tertarik ke dalam timfus efusi.mungkin juga komplikasi yang
dekat seperti atelektasis, empisema atau komplikasi jauh seperti
meningitis.Komplikasi tidak terjadi bila diberikan antibiotic secara tepat. (
Wong 2000 )
D. Penatalaksanaan.
1. Terapi dan tindakan medis
Menurut Ngastiyah (2005) pengobatan diberikan berdasarkan etiologi
dan uji resistensi, akan tetapi, karena hal itu perlu waktu, dan pasien perlu
therapi secepatnya maka biasanya diberikan :
a. Penisilin 50.000 u/kg BB/hari ditambah dengan kloramfenikol 50
70 mg/kg BB/hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai
spektrum luas seperti ampisilin. Pengobatan ini diteruskan sampai
bebas demam 4 5 hari.
b. Pemberian oksigen dan cairan intravena biasanya diperlukan
campuran glukosa 5% dan NACL 0,9% dalam perbandingan 3 : 1
ditambah larutan KCL 10 meq/500 ml / botol infus.
6
c. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asrdosis metabolik
akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi
sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri.
2. Penatalaksanan Keperawatan
Penatalaksanan keperawatan dalam hal ini yang dilakukan adalah :
a. Menjaga kelancaran pernapasan
Klien pneumonia berada dalam keadaan dispnea dan sianosis karena
adanya radang paru dan banyaknya lendir di dalam bronkus atau paru.
Agar klien dapat bernapas secara lancar, lendir tersebut harus
dikeluarkan dan untuk memenuhi kebutuhan oksigen perlu dibantu
dengan memberikan oksigen 2liter/menit secara rumat.
b. Pada anak yang agak besar dapat dilakukan :
1) Berikan sikap berbaring setengah duduk
2) Longgarkan pakaian yag menyekat seperti ikat pinggang, kaos baju
yang agak sempit.
3) Ajarkan bila ia batuk, lendirnya dikeluarkan dan katakan kalau
lendir tersebut tidak dikeluarkan sesak napasnya tidak akan segera
hilang.
4) Beritahukan pada anak agar ia tidak selalu berbaring ke arah dada
yang sakit, boleh duduk/miring ke bagian dada yang lain.
c. Menjaga kelancaran pernafasan pada bayi
1) Baringkan dengan letak kepala ekstensi dengan memberikan ganjal
dibawah bahunya.
7
2) Bukalah pakaian yang ketat seperti gurita / celana yang ada
karetnya.
3) Isaplah lendir dan berikan O
2
rumat sampai 2 l/menit. Pengisapan
lendir harus sering yaitu pada saat terlihat lendir di dalam mulut,
pada waktu akan memberikan minum, mengubah sikap baring /
tindakan lain.
4) Perhatikan dengan cermat pemberian infus, perhatikan apakah infus
lancar.
E. Konsep tumbuh kembang pada anak usia 0 sampai 4 bulan
1. Definisi pertumbuhan dan perkembangan
Whaley dan wong (2000) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu
peningkatan jumalah dan ukuran, sedangkan perkembangan
menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dan tingkat
yang paling tinggi dan komplek melalui proses maturasi dan
pembelajaran. Jadi pertumbuhan berhubungan dengan perubahan
kuantitas yang maknanya terjadi pada perubahan jumlah dan ukuran sel
tubuh. Perkembangan berhubungan perubahan secara kualitas,
diantaranya terjadi peningkatan kapasitas individu untuk berfungsi yang
di capai melalui proses pertumbuhan, pematangan, dan pembelajaran.
Proses kematanagan berhubungan dengan peningkatan pematangan dan
adaptasi. Proses tersebut terjadi secara terus menerus dan saling
berhubungan serta ada keterkaitan antara satu komponen dan komponen
lainya. Jadi, jika tubuh akan semakin besar dan tinggi, kepribadian secara
simultan juga semakin matang.
8
2. Pertumbuhan fisik anak usia 0 6 bulan ( Cecily L.Betz.PhD,RN edisi 3)
Berat badan akan menjadi dua kali lipat pada usia 6 bulan,berat badan
bayi bertambah kira kira 0,6 kg per bulan.
Panjang badan rata-rata saat berumur 6 bulan adalah 65 cm,panjang
badan meningkat dengan kecepatan 2,5 cm per tahun. Lingkar kepala
mencapai 42,5 cm pada usia 6 bulan. Lingkar kepala meningkat 1,25 cm
per bulan.
3. Motorik kasar ( usia 1 -4 bulan ) ( Cecily L Betz,edisi 3)
Mengangkat kepala saat telungkup, dapat duduk sebentar dengan di
topang, dapat duduk dengan kepala tegak, jatuh terduduk di pangkuan
ketika di sokong, kontrol kepala sempurna, mengangkat kepala sambil
berbaring terlentang, berguling dari terlentang ke miring.
4. Motorik halus ( usia 1 4 bulan )
Melakukan usaha yang bertujuan untuk memegang suatu obyek,
mengikuti obyek dari sisi ke sisi, Mencoba memegang benda tapi
terlepas, memasukan benda ke dalam mulut, memperhatikan tangan dan
kaki, memegang benda dengan kedua tanangan.
5. Sensori (usia 1 4 bulan )
Membeda-bedakan wajah dan suara ibu dari suara-suara perempuan
lain,menunjukan pelacakan visual yang kuat,membeda bedakan antara
pola-pola penglihatan, membedakan wajah-wajah yang di kenal dan yang
tak di kenal.
9
6. Bahasa ( usia 1 bulan ) ( Cecily L Betz,Phd,RN edisi 3 )
Mendekut, membuat suara seperti huruf hidup, membuat suara merengek
ketika sedang kesal, membuat suara berdeguk ketika sedang kenyang,
tersenyum sebagai respon terhadap pembicaraan orang dewasa.
7. Sosialisasi ( usia 1 bulan )
Bayi tersenyum tanpa membeda-bedakan
F. Konsep hospitalisasi ( 0 1 tahun )
Masalah utama yang terjadi adalah karena dampak dari perpisahan dari orang
tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang. Pada
anak usia lebih dari 6 bulan terjadi stenger anxieti atau cemas bila berhadapan
dengan orang yang tidak di kenalnya dan cemas karena perpisahan.Reaksi
yang sering muncul pada anak usia ini adalah menangis,marah,dan banyak
melakukan gerakan sebagai sikap stranger anxiety. Bila di tinggalkan ibunya,
bayi akan meresakan cemas karena perpisahan dan prilaku yang di tunjukan
adalah dengan menangis keras, pergerakan tubuh yang banyak, dan ekspresi
wajah yang tidak menyenangkan. ( yupi suparti 2004 )
G. Pengkajian keperawatan
Riwayat keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional menurut (
Sujono riyadi dan Sukarmin 2009 )
1. Pola persepsi sehat penatalaksanaan sehat data yang muncul sering orang
tau berpersi meskipun anaknya batuk masih menganggap belum terjadi
gangguan serius biasanya orang tua menganggap anaknya benar-benar
sakit apabila anak sudah mengalami sesak nafas.
10
2. Pola metabolik nutrisi
Anak dengan Bronchopnemunia sering muncul anorexia, mual dan
muntah.
3. Pola eliminasi
Penerita sering mengalami pnurunan produksi urin akibat perpindahan
cairan melalui proses evaporasi karena demam.
1. Pola istirahat dan tidur
Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena
sesak nafas. Penampilan anak terlihat lemah,
2. Pol aktifitas-latihan
Anak tampak menurun aktifitas dan latihannya sebagai dampak kelemahan
fisik.
3. Pola kognitif persepsi
Penurunan kognitif untuk mengingat apa yang pernah di sampaikan
biasanya sesaat akibat penurunan asupan nutrisi.
4. Pola persepsi diri konsep diri
Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat tidak
suka bermain ketakutan terhadap orang lain.
5. Pola peran hubungan
Anak tampak malas kalu di ajak bicara baik dengan teman sebaya maupun
yang lebih besr.
6. Pola seksualitas reproduksi
Pada kondisi sakit anak kecil masih sulit terkaji pada anak yang sudah
pubertas mungkin terjadi gangguan menstrulasi pada wanita tapi bersifat
sementara.
11
7. Pola toleransi stres koping
Aktifitas yang seiring tampak saat menghadapi stres adalah anak sering
menangis kalu sudah remaja saat sakit yang dominan adalah mudah
tersinggung.
8. Pola nilai keyakinan
Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk
mendapatkan sumber kesembuhan dari tuhan YME.
9. Pemeriksaan fisik
a. Status penampilan kesehatan lemah
b. Tingkat kesadaran kesadaran normal,latergi,strupor, koma, apatis,
tergantung tingkat penyebaran penyakit.
c. Tanda-tanda vital
1. Frekuensi nadi dan tekanan darah : Takikardi,hipertensi
2. Frekuensi pernafasan : Takipneu, dipneu progresif, pernafasan
dangkal, penggunaan otot bantu pernafasan, pelebaran nasal.
3. Suhu tubuh
Hipertermi akibat penyebaran toksik mikroorganisme yang di
respon oleh hipotalamus.
10. Berat badan dan tinggi badan
Kecendrungan berat badan akan mengalami penurunan.
11. Integumen kulit
Warna pucat sampai sianosis, Suhu pada hipertermi kulit terbakar panas
tetapi setelah hipertermi teratasi kulit anak akan teraba dingin.turgor
menurun pada dehidrasi.
12
12. Kepala dan mata
Perhatikan bentuk dan kesimetrisan,Palpasi tengkorak akan adanya
nodus,periksa higine kulit kepala ada tidaknya lesi.
Data yang paling menonjol pada pemeriksaan fisik adalah pada thorak dan
paru-paru
a. Inspeksi : Frekueni irama,kedalaman dan upaya bernafas antara lain :
Takipneu,dispneu,pernafasan dangkal,pekius eksavatum (dada corong)
b. Palpasi Adanya nyeri tekan,massa peningkatan vokal fremitus pada
daerah yang terkena.
c. Perkusi : Pekak terjadi bila terisi cairan pada paru normalnay timpani (
terisi udara ) resonansi.
d. Auskultasi : Suara pernafasan yang meningkat intensitasnya :
Suara broncho vesikuler, atau bronchial,pada daerah yang terkena.Suara
pernafasan tambahan ronchi
Pemeriksaan Penunjang :
a. Pemeriksaan darah menunjukan leukositosis dengan predominan PMN
atau dapat di temuka leukopenia, yang menendakan prognosis buruk.
Dapat di temukan anemia berat atau sedang.
b. Pemeriksaan radiologi memberikan gambaran bervariasi :
1) Bercak konsolidasi merata pada bronchopneumonia
2) Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris
3) Gambaran bronchopneumoni difus atau infiltrat pada pneumoni
Stafilokok
c. Pemeriksaan cairan pleura
13
d. Pemeriksaan mikrobiologik dapat dibiak dari spesmen usap tenggorok
sekresi nasofaring bilasan bronchus atau eputum, darah, aspirasi
trakea, fungsi pleura atau aspirasi paru, ( Manjoer,A. 2000 )
2. Diagnosa keperawatan
Menurut : (Sujono Riyadi dan Sukarmin 2009 )
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum.
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan
kapiler alveolus.
c. Nyeri dada berhubungan dengan dengan kerusakan parenkin paru .
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen atau kelelahan yang berhubungan
dengan gangguan pola tidur.
e. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan
proses infeksi.
f. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan toxemia.
3. Perencanaan
Menurut ( Sujono riyadi dan sukarmin 2009 )
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum.
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif kembali
Kriteria hasil : sekret dapat keluar
14
perencanaan :
1) Kaji frekuensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
2) Auskultasi area paru,catat area penurunan atau tak ada aliran
udara.
3) Bantu pasien latihan nafas dan batuk efektif
4) Section sesuai indikasi
5) Lakukan fisioterapi dada
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan
kapiler alveolus.
Tujuan : pertukaran gas kembali normal
Kriteria hasil :klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran
gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.RR 24-40
x/menit,AGD nilai batas normal.
Perencanaan :
1) Kaji frekuensi,kedalaman, dan kemudahan bernafas
2) Observasi warna kulit,catat adanya sianosis pada kulit,kuku dan
jaringan sentral
3) Kaji status mental dan penurunan kesadaran
4) Awasi frekuensi jantung atau irama
5) Awasi suhu tubuh
6) Kaji tingkat ansietas sediakan waktu untuk berdiskusi dengan
pasien atau susun bersama jadwal pertemuan
c. Nyeri dada berhubungan dengan kerusakan parenkim paru.
Tujuan : nyeri dada berkurang dapat batuk efektif dan suhu normal
15
Kriteria hasil : skala nyeri 0, suhu 36,5
0
c-37,0
0
c,dahak bisa di
keluarkan
Perencanaaan :
1) Tentukan karakteristik nyeri
2) Pantau tanda vital
3) Berikan tindakan distraksi misal menonton film
4) Berikan tindakan nyaman misalnya pijat punggung
5) Anjurkan keluarga atau pasien dan bantu pasien dalam tehnik
menekan dada selama episode batuk
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen atau kelelahan berhubungan dengan gangguan
pola tidur.
Tujuan : Pasien dapat melakukan aktifitas sesuai kondisi
Kriteria hasil : klien tidak sesak nafas,aktifitas kembali normal
Perencanaan :
1) Evaluasi respon terhadap aktivitas catat laporan
dispnea,peningkatan kelemahan atau kelelahan perubahan tanda
vital sesudah aktifitas
2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung
3) Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan.
4) Bantu pasien posisi nyaman untuk istirahat dan tidur
5) Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan. Berikan kemajuan
peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
16
e. Kebutuhan nutrisi kuarang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan
proses infeksi.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : klien dapat mempertahankan/meningkatka pemasukan
nutrisi, berat badan normal 3kg-4kg
Perencanaan :
1) Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual,misalnya
sputum,dispneu berat.
2) Berikan wadah tertutup untuk seputum dan buang sesering
mungkin
3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum
makan.
4) Auskultasi bunyi usus.obsevasi atau palpasi distensi abdomen.
5) Berikan makan porsi kecil dan sering
6) Evaluasi status nutrisi umum.ukur berat badan.
f. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan toxemia
Tujuan : Tidak terjadi kenaikan suhu tubuh
Kriteria hasil : suhu tubuh normal 36,5
0
c-37,0
0
c,turgor kulit elastis
Perencanaan :
1) Kaji suhu tubuh dan nadi setiap 4 jam
2) Pantau warna kulit dan suhu
3) Berikan dorongan untuk minum
4) Lakukan tindakan kompres air hangat
17
4. Pelaksanaan
Adalah tindakan pemberiankeperawatan yang dilaksanakan untuk
membantu mencapai tujuan pada rencana keperawatan yang telah di susun.
Prinsip dalam memberikan tindakan keperawatan menggunakan
komunikasi teurapetik serta penjelasan setiap tindakan yang di berikan
kepada klien.
Tindakan keperawatan yang di lakukan dapat berupa tindakan
keperawatan secara independent, dependen, interdependent. Tindakan
independent yaitu suatu kegiatan yang di lakukan oleh perawat tanpa
petunjuk atau perintah dokter atau tenaga kesehatan lain. Tindakan
dependent ialah tindakan yang berhubungan dengan tindakan medis, atau
dengan perintah dokter atupun tenanga medis. Tindakan Interdependen
ialah tindakan keperawatan yang memerlukan kerjasama dengan tenaga
kesehatan lain seperti ahli gizi, radiologi, fisioterapi, dan lain-lain.
Dalam melakukan tindakan pada pasien bronchopnemunia perlu di
perhatikan ialah penanganan terhadap kebersihan jalan nafas, gangguan
pertukaran gas, resiko infeksi, resiko gangguan pemenuhan nutrisi. Resiko
terhadap kekurangan volume ciran, kurang pengetahuan orang tua tentang
penyakit.tentang sakit klien.an ada demam
18
5. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu
perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini
meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai
melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi
sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu
pada kriteria hasil yang diharapkan
a. Kriteria Hasil : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran
gas
secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat
b. Kriteria Hasil : sekret dapat keluar.
c. Kriteria Hasil : Tanda dehidrasi tidak ada.
d. Kriteria Hasil : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya.
e. Kriteria Hasil : Klien dapat tenang, cemas hilang, rasa nyaman
terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan