You are on page 1of 14

Pentingnya Belajar Ilmu Agama dan Umum

Rosulullah SAW Bersabadah " Ilmu Agama Tanpa Ilmu umum Laksana Hidup dalam Kepincangan,
Sedangkan Ilmu Umum yang tidak didasari Ilmu Agama Laksana hidup dalam Kebutaan." Dari bunyi
hadist diatas sudah jelas betapa belajar ilmu Agama sangatlah penting dalam kehidupan
kita,begitupun dengan ilmu Umum atau ilmu Duniawi juga sangatlah penting dalam
kehidupan,Sabdah nabi diatas menjelaskan bahwa kalau kita sama sekali tidak belajar imu agama
atau yang dalam hidupnya tidak punya dasar ilmu agam maka ia seperti orang buta, maksudnya
kita tidak dapat membedakan hal yang haram dan yang Halal, sebaliknya jika Ilmu agama saja
yang kita miliki maka kita tidak akan tahu arah, Maka dari itu kita harus belajar dua-duanya agar
kita menjadi orang yang bahagia baik di Dunia maupun di Akhirat Nantinya, Belajar adalah Gal
mutlak yang harus kita lakukan karna belajar merupakan sebuah kewajiban, pernah pada suatu hari
Rosulullah Memasuki Masjid Nabawi, dan di dalam Masjid Rosululllah menemukan dua Kelompok
Pemuda, Kelompok yang satu sedang melakukan Ibadah, sedang kelompok kedua sedang
Membahas tentang berbagai keilmuan ( Belajar ) dan Rosulullah Kemudian bergabung dengan
kelompok kedua, Lalu sahabat bertanya, " Ya Rosulullah , Mengapa engkau memilih bergabung
dengan orang yang belajar, " Rosul Menjawab, " Jika tidak ada mereka niscaya Islam tidak akan
berkembang," dan semoga kita menjadi orang orang ahli Belajar dan Ibadah,Amin Ya Robbal Alamin
Islam adalah agama rahmah li al-lamn. Agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebuah
predikat yang tidak pernah dinyatakan oleh kitab-kitab suci bagi agamanya, selain kitab suci agama
Islam. Statemen tersebut mengindikasikan bahwa Islam tidak menilai kehidupan dunia kalah
pentingnya daripada kehidupan akherat. Atau, kehidupan akherat lebih utama daripada kehidupan
dunia, sehingga kehidupan akherat lebih niscaya untuk diperhatikan daripada kehidupan dunia, dan
sebagai konsekuensinya, ilmu agama lebih penting untuk dipelajari daripada ilmu umum. Islam
bahkan tidak pernah mengotak-ngotak dan tidak pula mengklasifikasikan ilmu, menjadi ilmu agama
dan ilmu umum untuk kemudian diberi penekanan berbeda dalam pengkajiannya. Al-Qur'an dan
hadits sebagai sumber utama Islam tidak pernah menjelaskan adanya dualisme tersebut. Justru
keduanya mengajarkan konsep kesatuan, unity of knowledge. Hal ini terlihat jelas pada cakupannya
yang tidak hanya terfokus pada domain ukhrawi saja, tetapi duniawi juga.
Dengan ungkapan yang akurat, Wan Mohd menyatakan,1 bahwa al-Qur'an mengandung realitas
tentang ketidakterbatasan ilmu pengetahuan, kemuliaan tanggung jawab untuk mencarinya, dan
keterbatasan hidup manusia. Secara natural ketiganya memotivasi para ilmuwan muslim untuk
membagi dan mengklasifikasikan atau mengategorikan ilmu pengetahuan. Hasrat akan ketepatan
dan keteraturan merupakan karakteristik tradisi intelektual Islam, sebagaimana yang dahulu juga
terjadi pada para ilmuwan Yunani, khususnya Aristoteles, yang banyak memengaruhi tradisi
intelektual Islam. Namun berbeda dari orang-orang Yunani yang tidak memiliki ilmu pengetahuan
yang diwahyukan, dan karenanya tidak perlu mengategorikan ilmu Allah swt. dan sains-sains yang
diambil wahyu, umat Islam tampak lebih komprehensif dalam mengategorikan ilmu pengetahuan
dengan memasukkan kedua jenis ilmu pengetahuan tersebut, sungguhpun lebih banyak
menjabarkan ilmu wahyu dari pada ilmu akal.
Luas dan besarnya perhatian Islam terhadap ilmu pengetahuan ini terlihat jelas pada penggunaan
al-Qur'an terhadap kata 'ilm, dalam berbagai bentuk dan artinya, yang mencapai 854 kali. Antara
lain digunakan sebagai proses pencapaian pengetahuan dan obyeknya.2 Jumlah ini merupakan
jumlah kata terbanyak kedua yang digunakan al-Qur'an setelah kata Allah.3
Al-Qur'an dan hadits sungguhpun bukan buku ilmiah, telah menyajikan berbagai ilmu pengetahuan.
Di samping berisi hukum Tuhan, al-Qur'an juga mengandung metafisika, kosmologi, dan ajaran
tentang dunia dan akhirat, dalam ekspresi dan formulasi yang apa adanya.4 Begitu juga hadits,
sungguhpun tidak secara implisit, juga telah banyak menyampaikan pesannya tentang ilmu
pengetahuan dan hakekat-hakekat kepribadian jiwa, sosial, pendidikan, ekonomi, dan
kemanusiaan.5
Selain itu, al-Qur'an mengintroduksikan diri sebagai pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih
lurus (baca: QS. al-Isr' 17: 19), sedangkan Nabi Muhammad saw., yang dalam hal ini bertindak
sebagai penerima al-Qur'an, bertugas menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, menyucikan dan
mengajar-kan manusia (baca: QS. 67: 2). Keduanya telah memberi motivasi dan membangkitkan
semangat umat manusia, terutama umat Islam, dalam memelajari ilmu pengetahuan yang tidak
hanya terbatas pada ilmu agama.
Konsep dasar ilmu pengetahuan yang terkandung dalam ajaran Islam tersebut dan perintah untuk
memelajarinya, merupakan inspirasi bagi umat Islam yang meniscayakan mereka menjadi khaira
ummat, sebaik-baik umat yang ada di alam ini. Dan hal ini telah direalisasikan dan dibuktikan oleh
umat Islam di masa klasik, sejak masa Raslullh Muhammad saw. hingga --mencapai titik
kulminasi-- ketika umat Islam di bawah imperium Bani Abbasiyyah. Namun hal di atas bukanlah
satu-satunya faktor. Faktor lain yang sangat krusial dan tidak dapat dipungkiri adalah adanya
persentuhan antara peradaban Islam-Arab dengan peradaban yang ada di daerah-daerah yang
ditaklukkan. Melalui penaklukan tersebut orang Islam-Arab bukan saja menguasai wilayah
geografisnya, tetapi juga pusat-pusat peradaban tertua di dunia. Akhirnya mereka menjadi pewaris
tunggal berbagai budaya dan tradisi panjang sejak zaman Yunani-Romawi, Iran, Fir'aun dan AssyriaBabilonia.6 Dalam bidang seni dan arsitektur, filsafat, kedokteran, ilmu pengetahuan, sastra, dan
pemerintahan, orang-orang Arab tidak memiliki banyak hal yang bisa diajarkan dan dipelajari.
Berkaitan dengan hal ini, Hitti mengilustrasikan bahwa di Mesir, Irak dan Persia mereka duduk
khidmat, menjadi murid dari orang-orang yang mereka taklukkan. Dan sejarah membuktikan,

bahwa mereka merupakan murid yang sangat rakus ilmu.7 Berangkat dari rasa ingin tahu yang
kuat dan potensi tersembunyi yang tidak pernah muncul sebelumnya, orang-orang muslim, dengan
bantuan dari, dan bekerja sama dengan orang-orang taklukannya mulai berasimilasi, mengadaptasi
dan menghasilkan khasanah intelektual dan estetikanya sendiri.
Dengan demikian, peradaban Islam tersebut merupakan asimilasi antara ajaran dasar Islam --yang
telah memberi inspirasi-- dengan peradaban yang telah ada di daerah-daerah taklukan. Namun,
sekali lagi, bahwa dalam proses mewarisi peradaban tersebut, para cendekiawan muslim bukan
hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, tetapi menambahkan ke dalamnya hasilhasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil
pemikiran mereka dalam lapangan filsafat, sehingga timbullah ahli-ahli ilmu pengetahuan dan filsuf.
Dan tidak jarang seorang filsuf sekaligus juga adalah seorang ahli matematika, kimiawan, fisikawan
bahkan musisi.8 Asimilasi tersebut, dalam khasanah keilmuan Islam, lebih memberikan
kontribusinya dalam pengayaan ilmu-ilmu umum. Sementara ilmu-ilmu agama tumbuh dari benihbenih yang ada dalam Islam sendiri, yakni dalam al-Qur'an dan hadits. Sungguhpun dikatakan,
dalam konteks hukum Islam, hukum Romawi, baik secara langsung maupun melalui Talmud, dan
saluran lainnya benar-benar telah memengaruhi sistem hukum (Dinasti Umayyah), tapi sebesar apa
pengaruhnya belum bisa dipastikan.
Karena visi dan misi Islam pertama kali adalah meluruskan tauhid serta mengokohkan aqidah bagi
umat manusia, atau dalam istilah Fazlur Rahman, semangat dasar al-Qur'an adalah semangat
moral, baru kemudian mengarah pada ide-ide keadilan sosial dan ekonomi,9 maka ilmu yang
pertama kali dipelajarinya adalah ilmu agama. Pendidikan ini dimulai sejak awal turunnya Islam
(pada masa Nabi Muhammad saw.) hingga dua masa setelahnya (masa shahabat dan tabi'in). Pada
masa-masa tersebut, ilmu agama mendominasi praksis pendidikan yang ada.
Dalam proses pendidikan, Nabi Muhammad saw. merupakan orang pertama yang disebut-sebut
sebagai Guru Agung yang telah mengajar umatnya. Di masa berlangsungnya pendidikan ilmu
agama ini, ilmu umum belum disentuh kecuali serba sedikit dan sepintas. Aktivitas pendidikan ini
telah melahirkan beberapa ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu (agama), sebagaimana sebagian
telah disebutkan dalam bab terdahulu. Dalam bidang tafsir misalnya, selain Khulaf' al-Rsyidn
juga 'Abdullh ibn 'Abbs (w. 687 M.), 'Abdullh ibn Mas'd (w. 653 M.), Ubay ibn Ka'ab, Zaid ibn
Tsbit, Ab Ms al-Asy'r, dan 'Abdullh ibn Zubair.10 Dalam bidang hadits, sebagaimana ditulis
Hasbi ash-Shiddieqy,11 di Madinah, dikenal nama Ab Bakar, 'Umar ibn Khaththb, 'Al ibn Ab
Thlib, Ab Hurairah (w. 679 M.), 'isyah al-Shiddq (w. 668 M.), 'Abdullh ibn 'Umar (w. 693 M.),
Ab Sa'd al-Khudry (w. 693 M.), dan Zaid ibn Tsbit.
Di Makkah, Mu'adz dan 'Abdullh ibn 'Abbs. Di Kuffah, 'Abdullh ibn Mas'd, Sa'ad ibn Ab
Waqqash, Sad ibn Zaid, Khabbab ibn al-'Arat, Salmn al-Frisy, Hudzaifah ibn al-Ymn, Ammar ibn
Yasr, Ab Ms al-Asy'ar, al-Baraq, al-Mughrah, al-Nu'mn, Ab Thufail, Ab Jauhaifah, dan lainlain. Di Basrah, Anas ibn Mlik (w. 912 M.), 'Utbah, 'Imran ibn Husain, Ab Barzah, Ma'qil ibn Yasar,
Ab Bakrah, Abd al-Rahmn ibn Samurah, 'Abdullh ibn Syikhkhr, Jariah ibn Qudamah. Di Syam,
Mu'adz ibn Jabal, 'Ubadah ibn Shmit dan Ab Darda'. Di Mesir, 'Abdullh ibn Amer, 'Uqbah ibn
mir, Kharijah ibn Hudzaifah, 'Abdullh ibn Sa'ad, Mahmiyah ibn Juz, 'Abdullh ibn Hrits, Ab
Basyrah, Ab Sa'ad al-Khair, serta Mu'adz ibn Anas al-Juhry. Sementara dalam bidang fiqh, Ab
Ms al-Asy'ari, 'Al ibn Ab Thlib, 'Abdullh ibn Mas'd, dan lain-lain.
Sepeninggal Nabi Muhammad saw., merekalah yang dianggap sebagai ulama' di zamannya.
Sebagai konsekuensi, merekalah yang selanjutnya mengajar para generasi sesudahnya. Dan di
masa ini, selain ilmu agama, ilmu umum juga sudah mulai dimasukkan dalam kurikulum
pendidikan. Tokoh pertama yang memasukkan ilmu umum adalah 'Umar ibn Khaththb. Namun
ilmu umum tersebut masih terbatas pada berenang, mengendarai unta, memanah, membaca dan
menghafal syair-syair yang mudah serta peribahasa.
Pendidikan pada masa ini juga berhasil mencetak para cendekiawan besar di kalangan tabi'n.
Seperti, dalam bidang tafsir di Makkah, Sa'd ibn Jubair, Mujhid, 'Ikrimah, Thwus dan 'Ath' ibn Ab
Rabh sebagai murid 'Abdullh ibn 'Abbs; di Madinah Zaid ibn Aslm, Abu al-'Aliyah dan
Muhammad ibn Ka'ab murid Ubay ibn Ka'ab; di Irak, 'Alqamah ibn Qais, Masrq, Aswad ibn Yazd,
Murrah al-Hamdzni, mir al-Sya'bi Hasan al-Bashry (w. 708 M.) dan Qatdah ibn Da'amah, murid
'Abdullh ibn Mas'd.12 Kajian terhadap al-Qur'an dan penafsirannya juga telah melahirkan dua
ilmu kembar, yaitu filologi dan leksikografi. Jenis ilmu yang pertama dan juga tradisi intelektual
Islam secara umum banyak mendapatkan kontribusinya dari orang-orang Kufah non-ortodok yang
kebanyakan orang Syi'ah (pendukung 'Al) dan orang-orang Basrah, sehingga persaingan antara
kedua kelompok ulama' tersebut berkembang menjadi dua madzhab terkenal dalam tata bahasa
dan literatur Arab. 13
Dalam bidang hadits, di Madinah, Sa'd ibn Musyayyab (w. 713 M.), 'Urwah ibn Zubair (w. 714 M.),
Muhammad ibn Muslim al-Zuhry (w. 124 H. / 742 M.), 'Ubaidillh ibn 'Abdillh ibn 'Utbah, Slim ibn
'Abdullh ibn 'Umar, al-Qsim ibn Muhammad ibn Ab Bakr, Nfi' al-'Adawy (w. 117 H.), Ab Bakar
ibn 'Abd al-Rahmn ibn Hrits ibn Hisym dan Ab al-Zind. Di Makkah, Mujhid, 'Ikrimah, 'Atha' ibn
Ab Rabah, dan Ab al-Zubair Muhammad ibn Muslim. Di Kufah, Masrq, 'Ubaidah, al-Aswad,
Syuraih, Ibrhm, Sa'd ibn Jubair (w. 95 H.), dan mir ibn Syarahil al-Sya'bi (w. 728 M.). Di Basrah,
Ab al-'Aliyah, Rfi' ibn Mihrm al-Riyahy, Hasan al-Bishry, Muhammad ibn Sirrn (w. 728 M.), Ab
Sya'tsa', Jbir ibn Zaid, Qatadah ibn Di'amah (w. 118 H.), Mutharraf ibn 'Abdullh ibn Syikhkhr dan
Ab Bardah ibn Ab Ms. Di Syam, Ab Idrs al-Khaulany, Qabishah ibn Dzuaib, Makhul, dan Raja'
ibn Haiwah. Di Mesir, Ab al-Khair Martsad al-Yaziny dan Yazd ibn Ab Habb.14

Dalam disiplin hukum (fiqh) lahir antara lain Syuri'ah ibn al-Hrits (w. 78 H. / 697 M.), Alqamah ibn
Qais (w. 62 H. / 681 M.), Masrq al-Ajda' (w. 63 H. / 682 M.) al-Aswd ibn Yazd (w. 95 H. / 913 M.),
yang kemudian diikuti oleh Ibrhm al-Nakha'i (w. 95 H. / 923 M.), dan Amr ibn Syurahbil al-Sya'by
(w. 104 H. / 722 M.). Hammad ibn Ab Sulaimn (w. 120 H. / 737 M.) --guru Ab Hanfah--, Ibnu
Syihb al-Zuhri (w. 124 H. / 741 M.) dan Nfi' Maul 'Abdullh ibn 'Umar (117 H. / 735 M.), keduanya
merupakan guru Imm Mlik ibn Anas (w. 179 H. / 795 M.).15 Dalam bidang teologi, Washil ibn Atha'
(w.748 M.) dari faksi Mu'tazilah. Dalam bidang tasawuf antara lain Said ibn Musayyib (w. 94 H.),
Hasan al-Bashry (w. 110 H. / 721 M.), Sufyn as-Tsauri (w. 121 H. / 732 M.), al-Fadhl al-Raghassy (w.
128 H. / 740 M.), 'Abd al-Whid ibn Zaid (w. 177 H. / 788 M.), Mlik ibn Dinr (w. 181 H. / 792 M.),
dan Rbi'ah al-Adawiyah (w. 185 H. / 796 M.).16
Kajian terhadap ilmu umum, sungguhpun sederhana, juga telah melahirkan beberapa ilmuwan.
Dalam bidang sejarah, misalnya, Wahb ibn Munabbih (w. 728 M.), Ka'b al-Ahbr (w. 652 M.),
'Ubayd ibn Syaryah. Dalam bidang kimia, kedokteran, dan astropologi, dikenal nama Khlid (w. 704
M.), putra khalifah Umayyah dan seorang filsuf keluarga Marwn. Menurut Fihrits (sumber informasi
tertua dan terbaik) dialah orang pertama yang menerjemahkan buku-buku dalam bidang tersebut
yang ditulis dalam bahasa Yunani dan Koptik.17 Sementara perhatian terhadap seni sastra (syair),
telah memunculkan para seniman, antara lain 'Abd. Hamd al-Ktib (w. 750 M.), Ibn al-'mid, alAkhtl (w. 710 M.), Farazdaq (w. 732 M.), Jarr (w. 792 M.), 'Umar ibn Ab Rabi'ah (w. 719 M.), Jmil
al-'Udhri (w. 701 M.), Qays al-Mulawwah (w. 699 M.), Miskn al-Drim dan lain-lain.
Hingga masa ini tradisi menulis (literer) belum banyak mewarnai praksis intelektual muslim,
sehingga para ilmuwan tidak banyak --untuk tidak mengatakan tidak memiliki-- karya dalam bentuk
dokumen yang dapat diwariskan pada generasi berikutnya.18 Kegiatan menulis lebih difokuskan
pada penulisan hadits Nabi Muhammad saw. dalam rangka pengkodifikasian, yang terjadi di masa
--dan atas perintah-- khalifah 'Umar ibn 'Abdul 'Azz, dan dalam teks pidato, korespondensi serta
puisi, yang ketiganya masuk dalam disiplin puisi.
Hal demikian (baca: kajian terhadap ilmu pengetahuan), semakin mendapatkan apresiasinya di
masa-masa berikutnya (tbi' al-tbi'n) yang secara politis di bawah imperium Abbasiyyah,
terutama dalam masa satu abad pertama. Tradisi tulis telah menandai tingkat kemajuan peradaban
di masa ini, sehingga kemajuan ilmu pengetahuan, selain diindikasikan dengan lahirnya para
ilmuwan, juga dengan munculnya karya-karya mereka dalam bentuk literer. Selain itu, masa ini
dikenal sebagai masa keterbukaan terhadap budaya-budaya dan peradaban-peradaban asing
seluas-luasnya, yang memungkinkan bagi masuknya berbagai pengaruh asing, sehingga di masa ini
Islam mencapai titik kulminasi dalam peradaban.
Kajian terhadap ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, merupakan aktivitas keseharian
mereka yang tidak kenal lelah, baik dari kalangan sipil maupun pemerintah. Bahkan kalangan yang
disebut terakhir seringkali menjadi patron sekaligus fasilitator yang turut mewarnai --dan
menentukan-- berlangsungnya proses pendidikan. Sehingga Kraemer menyebut mereka sebagai
para penguasa dan pejabat negara yang menaruh minat besar terhadap pengetahuan,
memanjakan para filsuf, ilmuwan, dan sastrawan di istana mereka yang megah.19 Benih-benih
yang telah ditanam pada masa sebelumnya, dikembangkan pada masa ini sehingga tampak subur
dan rindang. Sementara benih yang belum ada, ditanamkannya sehingga menjadi lebih sempurna.
Maka lahirlah di masa ini beberapa ilmuwan disertai dengan karya-karya mereka.20
Dalam bidang ilmu agama, tafsir misalnya, Ab Thhir Muhammad ibn Ya'qb dengan karyanya
Tanwr al-Miqys min Tafsr Ibn Abbs, Ibn Jarr al-Thabar (w. 310 H. / 923 M.) dengan kitabnya Jmi'
al-Bayn f Tafsr al-Qur'n, Ibn 'Athiyah dengan karyanya al-Muharir al-Wajz f Tafsr al-Kitb
al-'Azz, Ism'l ibn Amr Ibn Katsr (w. 774 H.) dengan karyanya Tafsr al-Qur'n al-'Adlim dan lainlain, sebagai tafsr bi al-ma'tsr. Selanjutnya Muhammad ibn 'Umar ibn Hasan al-Rz (w. 606 H.)
dengan karyanya Maftih al-Ghaib, Ibn Hayyan dengan karyanya Bahr al-Muhth, Mahmd ibn
'Umar al-Zamakhsyar (w. 537 H.) dengan karyanya al-Kasysyf dan lain-lain, sebagai tafsr bi alra'yi.21
Dalam lapangan hadits muncul misalnya, Muhammad ibn Ism'l ibn Ibrhm al-Bukhr (w. 252 H. /
870 M.), yang telah memilih 7.397 dari 600.000 hadits yang ia peroleh dari 1.000 guru dalam
rentang waktu 16 tahun perjalanan; dan Muslim ibn al-Hajjaj (w. 261 H. / 875 M.) yang telah
mengumpulkan dan menyusun 3.030 hadits (atau 10.000 hadits disertai pengulangan) di samping
beberapa karya lainnya. Dari kedua ulama' tersebut, khasanah intelektual Islam mengenal kitab
hadits al-shahh (shahih Bukhari dan shahih Muslim). Selain keduanya, muncul nama Sulaimn ibn
al-Asy'ats ibn Ishq, al-Azdwi al-Sijistn yang terkenal dengan nama Ab Dwd (w. 275 H. / 888
M.), Ab 's Muhammad ibn 's ibn Saurah al-Turmudzy (w. 279 H. / 892 M.), Ab 'Abdillh
Muhammad ibn Yazd al-Qazwaini Ibn Mjah (w. 273 H. / 886 M.) Ab 'Abdirrahman Ahmad ibn
Syu'aib ibn 'Al Al-Khurasn al-Nas'i (w. 303 H. / 915 M.), selain menulis beberapa kitab,
sebagaimana dua nama sebelumnya, mereka juga menyusun kitab hadits yang dikenal dengan
term sunan.22
Dalam bidang hukum, yurisprudensi, lahir misalnya, al-Nu'mn ibn Tsbit (yang dikenal dengan
nama Imm Ab Hanfah) (w. 150 H. / 767 M.), pendiri madzhab liberal; Mlik ibn Anas (w. 179 H. /
795 M.), pendiri madzhab konservatif, yang menulis kitab al-Muwaththa', kitab hukum Islam tertua
yang menghimpun 1700 hadits hukum. Muhammad ibn Idrs al-Syfi' (w. 204 H. / 820 M.), di antara
karyanya dalam disiplin ini adalah al-'Um; Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H. / 855 M.). Keempat ulama'
tersebut dikenal sebagai pendiri madzhab yang hingga kini masih menjadi kiblat bagi mayoritas

umat muslim di dunia. Selain nama-nama tersebut, muncul nama lain seperti al-Awza' (w. 774 M.)
dan al-Dlhiri (w. 883 M.), yang telah mendirikan madzhabnya sendiri-sendiri.23
Dalam lapangan teologi, sebagaimana ditulis oleh M.M. Syarif,24 misalnya Ab Hizail al-'Allf (w.
226 H. / 840 M.). Dia menulis 60 buku mengenai kalam tetapi semua karyanya telah lenyap; Ab
Ishq Ibrhm ibn Sayyr --terkenal dengan al-Nadldlm-- (w. 231 H. / 845 M.); Bisyr ibn Mu'tamir (w.
210 H. / 825 M.); Mu'ammar ibn 'Abbd al-Sulami (w. 228 H. / 842 M.); Tsammah ibn al-Numairi (w.
213 H. / 828 M.) 'Amr ibn Bahr al-Jhiz di antara karya terpentingnya adalah Kitb al-Bayn dan
Kitb al-Hayawn; Ab 'Al al-Juba'i; Ab Hsyim 'Abd al-Salm (w. 321 H. / 933 M.) dan lain-lain,
dari faksi Mu'tazilah.
Ab al-Hasan 'Al ibn Ism'l al-Asy'r (w. 330 H. / 935 / 942 M.), terdapat kontroversi mengenai
jumlah karya tokoh yang paling populer dalam aliran ini, menurut Ibn Furk beliau memiliki 300
karya, sementara Ibn Askir mengatakan 93 karya. Tidak banyak dari jumlah tersebut yang masih
lestari. Di antara karyanya yang terkenal adalah al-Ibnah 'an Ushl al-Diyanah (dicetak di
Hyderabad, Decan --sekarang Bangladesh-- pada 1321 H. / 1903 M.) Rislah f Istihsn al-Khaudh f
al-Kalm dicetak pada 1323 H. / 1625 M., dan Maqlt al-Ism'liyyn; Ab Ja'far ibn Muhammad ibn
Salamah al-Azdi al-Hajri al-Thahw (w. 331 H. / 942 M.), di antara karyanya adalah Syarh Ma'ni altsar, Ikhtilf al-Ulam'; Ab Mansr al-Matrid (w. 333 H. / 944 M.), di antara karyanya adalah
Kitb Ta'wilt al-Qur'n, Kitab al-Tauhd; Ab Sahl Salqi dan lain-lain dari faksi Ahli Sunnah.
Dalam lapangan tasawuf, 'Abd al-Faidh Zin-Nn al-Misra, Ab Yazd al-Bustami (w. 261 H. / 877 M.)
yang terkenal dengan ajaran hulul-nya, Yahya ibn Ma'az al-Rz, al-Junaid (297 H. / 910 M.), Ab
Bakar Syibl (w. 334 H. / 946 M.), al-Hallaj, Husin ibn Mansr al-Hallaj (w. 309 H. / 921 M.) yang
memiliki ajaran hull, al-haqiqt al-muhammadiyah, dan kesatuan segala agama, Ab Hamid alGhazl (w. 550 H. / 1111 M.), Syihb al-Dn Ab al-Futh al-Sahrawardi (w. 587 H. / 1191 M.) yang di
antara karyanya, Hikmat al-Isyrq, Muhy al-Dn ibn 'Araby (w. 638 H. / 1240 M.) yang terkenal
dengan ajaran wihdat al-wujd-nya. Sufi ini, menurut Brockelman, memiliki tidak kurang dari 150
buah, dan yang paling besar adalah al-Futht al-Makkiyah, 'Umar ibn al-Fridh (w. 632 H. / 1233
M.) yang terkenal sebagai penggubah syair percintaan kepada Tuhan, Ibn Sabi'n (w. 1250 M.) yang
telah memadukan antara tasawuf dengan filsafat, dan sebagainya.25
Dalam disiplin bahasa, lahirlah ahli-ahli nahwu (dari aliran Basrah) misalnya, Isa ibn Umar al-Tsaqafi
(w. 149 H.) pelopor aliran ini, yang telah mengarang beberapa buku dan semuanya hancur kecuali
dua, yaitu al-Jmi' dan al-Ikml, al-Akhfasy (w. 177 H.), Sibawaih (w. 180 H.) yang telah memperluas
serta menambah ulasan-ulasan terhadap al-Jmi' karangan Isa ibn Umar al-Tsaqafi, dan Ynus ibn
Habb (w. 182 H.). Dari Kufah, pecahan dari aliran Basrah, antara lain: Ab Ja'far al-Ru'asi, sebagai
pendiri aliran ini, al-Kisa' (w. 183 H.) dan al-Farra' (w. 208 H.).26
Sementara dalam ilmu umum, yang kebangkitannya ditandai dan diawali dengan proyek
penerjemahan karya-karya berbahasa Persia, Sanskerta, Suriah dan Yunani ke dalam bahasa Arab
( 750-850 M.) juga telah memunculkan beberapa intelektual --berikut karyanya-- dalam berbagai
disiplin ilmu pengetahuan. Sehingga dalam tiga perempat abad setelah berdirinya Baghdad, dunia
literatur Arab telah memiliki karya-karya filsafat utama Aristoteles, komentator neo-Platonis, dan
tulisan-tulisan kedokteran Galen, juga karya-karya ilmiah Persia dan India, yang telah
dikembangkan selama berabad-abad.27
Dalam bidang kedokteran misalnya, ilmuwan yang muncul antara lain 'Al ibn Sahl Rabban alThabr, dengan karyanya Firdaus al-Hikmah (surga hikmah), salah satu kompendium obat-obatan
tertua dalam bahasa Arab; al-Rz (Eropa: Razes w. 925 M.), yang dalam Fihrits disebutkan telah
menulis 113 buku tebal dan 28 judul buku tipis, 12 di antaranya membahas kimia. Beliau juga
menulis sebuah buku, Kitb al-Thibb al-Manshri, yang terdiri dari 10 jilid, yang dipersembahkan
untuk Manshr ibn Ishq al-Smn dari Sijistan. Sementara di antara monografinya yang paling
terkenal adalah al-Judari wa al-Hashbah (bisul dan cacar air), sebuah karya pertama dalam bidang
ini yang dipandang sebagai mahkota dalam literatur kedokteran Arab.28 Sedangkan karyanya yang
paling utama adalah al-Hw (buku yang komprehensif).29
'Al ibn al-'Abbs (w. 994 M.), yang dikenal sebagai penulis al-Kitb al-Mliki (buku raja, Liber
regius)30; Ibn Sn (Avicenna w. 1037 M.), mengenai jumlah karyanya, terdapat kontroversi. AlQifthi menyebutkan ada 45 karya Ibn Sn, sementara seorang penulis biografi modern menulis,
bahwa ia menulis sebanyak 200 buku, yang meliputi filsafat, kedokteran, geometri, astronomi,
teologi, filologi dan kesenian. Di antara karya ilmiahnya yang paling unggul adalah Kitb al-Syif'
(buku tentang penyembuhan) dan al-Qnn f al-Thibb.31 Ibn Jazlah (w. 1100), dengan tulisan
snopsis medisnya yang berjudul Taqwm al-Abdn f Tadbr al-Insn (tabel tubuh yang terkait dengan
pengaturan fisik manusia). Ilmuwan lain dalam bidang ini adalah adalah Ya'qb ibn Akh Hizm, ahli
kuda al-Mu'tadhid, dengan karyanya al-Fursyah wa Syiyt al-Khayl, yang merupakan karya
berbahasa Arab pertama tentang kuda.
Donasi pemerintah dalam bidang ini antara lain pendirian Rumah Sakit oleh al-Rasyid pada awal
abad 9, dan tidak lama setelah itu jumlah rumah sakit di seluruh dunia Islam bertambah menjadi 34
buah. Selain itu, pada masa al-Ma'mn dan al-Mu'tashim diadakan ujian (seleksi) dokter, terkait
dengan kasus malpraktik kedokteran Bagi dokter yang dinyatakan lulus dalam ujian tersebut diberi
sertifikat dan baginya diberi wewenang untuk menjalankan prakteknya. Di Kairo rumah sakit
dibangun pertama pada masa Ibn Thulun, sekitar 872 M. yang bertahan hingga abad ke-15.
Dalam bidang astronomi dan matematika yang merupakan pengaruh (peradaban) India,
Muhammad ibn Ibrhm al-Fzr, ilmuwan yang menerjemahkan karya astronomi dari India,
Siddhanta, yang kemudian dijadikan rujukan oleh para sarjana belakangan; Ibrhm al-Fzr (w.

777 M.), orang pertama yang membuat astrolob; Ab al-'Abbs Ahmad al-Farghni (Alfraganus),
dengan karya utamanya al-Mudkhil ila 'Ilmi Hai`ah al-Aflk;32 'Abd. al-Rahmn al-Shf (w. 986 M.),
dengan karya besarnya al-Kawkib al-Tsbitah (Bintang-bintang yang berada pada Tempatnya);
Ahmad al-Shghni (w. 990); Ab al-Wafa' (w. 997 M.); Ab Ja'far al-Khzin dari Khurasan, yang
memastikan sudut ekliptik bumi dan memecahkan persoalan Archimedes tentang ekuasi kubik;
'Ab Rayhn Muhammad ibn Ahmad al-Brn (w. 1050 M.) seorang ilmuwan muslim yang juga
dianggap sebagai sarjana Islam paling orisinil dan terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan alam.
Di antara karya astronomi yang ditulisnya adalah al-Qnn al-Mas'd f Hai`ah wa al-Nujm yang
dipersembahkan untuk shahabatnya, Mas'd, putra Mahmd. Dalam tahun yang sama dia juga
menulis al-Tafhm li Awa`il Shin'ah al-Tanjm yang berisi tentang rumus-rumus geometri, aritmatika,
astronomi dan astrologi.33
'Umar al-Khayym yang juga terkenal sebagai penyair Persia dan pemikir bebas. Hanya sedikit
orang yang menyadari bahwa ia adalah seorang astronom dan ahli matematika kelas satu. Para
peneliti dan asisten penelitian dengan bekerja sama dengannya berhasil membuat sebuah kalender
yang diberi nama al-Tarkh al-Jll; Nasrh al-Dn al-Ths (w. 1274 M.), yang pernah menyusun tabel
astronomi yang disebut al-Zij al Il-Khni untuk dipersembahkan kepada Hulagu ketika nama yang
terakhir ini menyerang Baghdad. Adapun dalam bidang astrologi (ilmu pendukung astronomi) Ab
Ma'syar (Albumasar w. 886 M.), ilmuwan muslim yang memperkenalkan hukum pasang surut laut ke
Eropa, yang dijelaskannya berkaitan dengan timbul dan tenggelamnya bulan. Tokoh otoritatif yang
sering dikutip pada 'Abad Pertengahan' ini dipandang sebagai nabi dalam ikonograpi.
Donasi pemerintah dalam bidang astronomi antara lain pendirian dua buah observatorium oleh alMa'mn. Sebuah observatorium dengan supervisor Sind ibn 'Al, di sinilah para astronom kerajaan
tidak hanya mengamati dengan seksama dan sistematis berbagai gerakan benda langit tetapi juga
menguji semua unsur penting dalam Almages karya Ptolemius, dan menghasilkan amatan yang
sangat akurat: sudut ekliptik bumi, ketepatan lintas matahari, panjang tahun matahari dan
sebagainya. Observatorium yang lain, didirikan di bukit Kasiyun di luar Damaskus. Selain itu, Sultan
Dinasti Buwayhi, Syaraf al-Dawlah (982-989 M.) juga membangun observatorium di istananya,
Baghdad, yang menjadi tempat bekerja 'Abd. al-Rahm al-Shf (w. 986 M.), Ahmad Shghni (w.
990 M.) dan Ab al-Wafa' (w. 997 M.). Sementara Jall al-Dn Maliksyah mendirikannya di Rayy
(Nisabur). Di sinilah diperkenalkan pembaruan penting dalam kalender sipil berdasarkan
perhitungan akurat terhadap panjang masa satu tahun tropis.
Karya sarjana Hindu-India di atas (baca: Siddhanta) diklaim juga telah memperkenalkan ilmu
aritmatika dengan sistem angka dan nol. Dengan demikian karya tersebut turut memberi jalan bagi
masuknya sistem angka ke dalam Islam. Di antara ilmuwan yang muncul dalam bidang ini adalah
Muhammad ibn Ms al-Khawrizm (w. 870 M.). Karya utamanya dalam bidang ini adalah Hisb
al-Jahr wa Muqbalah. Dalam buku tersebut, beliau menyertakan lebih dari 800 contoh, yang
sebagian diambil dari neo-Babilonia.34 Pemikiran al-Khawrizm telah memengaruhi pemikiran
matematika yang hingga batas tertentu lebih besar daripada penulis Abad Pertengahan lainnya.
Bersama Habasy al-Hsib (w. 874 M.) beliau telah menyusun tabel, sehingga dinilai telah berjasa
dalam memasyarakatkan penggunaannya di seluruh dunia Arab.
Ilmuwan berikutnya adalah 'Umar Khayym, yang pemikirannya dipengaruhi oleh al-Khawrizm.
Aljabar Khayym merupakan pengembangan aljabar al-Khawrizm. Di dalamnya dibahas solusi
pecahan tingkat dua dengan menggunakan geometri dan aljabar dan pengelompokan pecahan
yang menakjubkan. Selanjutnya, Ab Bakar Muhammad al-Karaj (wafat antara 1019-1029 M.),
dengan karyanya al-Kf f al-Hisb (Tuntunan Aritmatika), dan Ahmad al-Nasawi (w. 1040)
dengan karyanya al-Muqni f al-Hisb al-Hind (pengokohan perhitungan Hindu). Dalam buku ini ia
menjelaskan pecahan dan pengurangan akar kuadrat dan akar kubik dengan cara modern,
menggunakan angka India sebagaimana yang dilakukan oleh al-Khawrizm sebelumnya.
Dalam bidang Kimia, Jbir ibn Hayyn (Geber), yang namanya paling populer setelah al-Rz (w. 925
M). Sejarah mencatat bahwa beliau pernah belajar pada Khlid ibn Yazd ibn Umayyah (w. 704 M.)
dan imam Syi'ah ke-4, Ja'far Shdiq (w. 765 M.). Di antara karyanya adalah Kitb al-Rahmah (Buku
Cinta), Kitb al-Tajmi' (Buku tentang Konsentrasi), al-Zi'baq al-Syarq (Air Raksa Timur), ketiganya
telah diterbitkan. Sebagaimana ilmuwan Yunani, beliau percaya bahwa logam biasa seperti seng,
besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas. Ilmuwan berikutnya --yang mengklaim sebagai
murid Jbir-- adalah al-Thughr' (w. 1121 M.) dan Ab al-Qsim al-'Irq yang hidup pada paruh
kedua abad ke-13 M. Keduanya hanya menambah sedikit perbaikan terhadap metodenya. Mereka
terus mencari dua utopia kimiawi: formula pembuat emas dan ramuan elixir.
Dalam bidang zoologi dan antropologi, Ab 'Utsmn Amr ibn Bahr al-Jhiz (si mata besar w. 869).
Karyanya di bidang ini adalah Kitb al-Hayawn (Buku tentang Hewan), sebuah karya zoologi yang
disinyalir Hitti sebagai lebih bersifat teologi dan folklore, bukan bernuansa biologis.35 Di dalamnya
beliau mengutip gagasan aristoteles, memuat satu bahasa yang menjadi cikal bakal lahirnya teori
evolusi, adaptasi, dan psikologi hewan. Beliau mengetahui bagaimana memperoleh ammonia dari
organ bagian dalam hewan melalui penyulingan. Beliau adalah ilmuwan yang sangat berpengaruh,
terutama bagi ilmuwan yang muncul setelahnya. Al-Qazwn (w. 1283 M.) dan al-Damr (w. 1405)
adalah dua ilmuwan besar setelahnya yang sangat dipengaruhi oleh pemikirannya (baca: al-Jhiz)
Dalam ilmu mineral (yang terkait erat dengan ilmu kimia) umat Islam tidak memiliki prestasi yang
berarti, akan tetapi kesukaan mereka terhadap batu-batu berharga dan ketertarikannya pada
kehebatan berbagai mineral mengilhami bagi lahirnya beberapa karya dalam bidang ini. Karya
tertua adalah karya 'Uthrid ibn Muhammad al-Hasib (penulis tidak menemukan judul dari karya

tersebut) pada abad ke-9 M. Adapun karya terbaik adalah Azhr al-Afkr f Jawhir al-Ahjr (Bunga
rampai pemikiran tentang Batu-batu Berharga) yang ditulis oleh Syihb al-Dn al-Tfsy (w. 1253
M.). Buku tersebut membicarakan tidak kurang dari 24 jenis batu berharga, meliputi asal-usul,
wilayah geografis, harga, nilai magis dan pengobatan, dan hanya mengutip sumber-sumber
berbahasa Arab. Al-Brni yang terkenal keakuratan hasil penelitiannya, telah menentukan berat
jenis 18 macam batu dan logam berharga.
Dalam bidang geografi, yang dilatarbelakangi oleh kewajiban melaksana-kan haji, keharusan
menghadapkan mihrab masjid ke arah Mekkah, dan penentuan arah kiblat (Makkah) ketika shalat,
juga telah melahirkan beberapa ilmuwan. Sementara astrologi, yang membutuhkan penetapan
garis lintang dan bujur semua tempat di permukaan bumi, semakin menambah pengaruh ilmiah
dalam kajian ini. Pengaruh Yunani dalam bidang ini --sungguhpun tidak sepenuhnya-- tidak dapat
dielakkan. Buku Geograpy karya Ptolemius, yang menyebutkan berbagai tempat berikut garis bujur
dan lintang buminya, diterjemahkan beberapa kali ke dalam bahasa Arab, baik dari bahasa aslinya
maupun dari terjemahannya dalam bahasa Suriah, terutama oleh Tsbit ibn Qurrah (w. 901 M.).
Al-Khawrizm dengan mengikuti gaya penulisan Ptolemius, telah menyusun karyanya, Srah alArdh (Gambar / Peta Bumi). Dengan dibantu oleh 69 sarjana lainnya, beliau menggambar peta bumi
dalam karya tersebut atas perintah al-Ma'mn. Peta bumi --dan angkasa luar-- dalam karya tersebut
adalah yang pertama dalam Islam, sehingga ia menjadi acuan bagi karya-karya berikutnya. Bahkan
karya tersebut memicu kegairahan dalam kajian geografi dan penulisannya yang orisinil. Ab alHasan 'Al al-Mas'd (hidup pada paruh pertama abad ke-10) adalah di antara ilmuwan yang
merujuk pada peta tersebut ketika menulis karya-karyanya (antara lain Marj al-Zahab). Sementara
pengaruh ilmu geografi al-Khawrizm ini tampak pada penulis muslim hingga abad ke-14 M.,
seperti terlihat dari tulisan Ab al-Fid'.
Karya-karya geografis berbahasa Arab pertama yang independen biasanya berbentuk buku
petunjuk jalan, terutama menunjukkan tempat-tempat penting. Ibn Khurdadzbih (w. 912 M.)
dengan karyanya al-Maslik wa al-Mamlik, adalah sebagai contoh. Pada 891-892 M. Ibn Wdhih alYa'qb (penganut Syi'ah) juga menulis Kitb al-Buldn (Buku Negeri-Negeri) yang memberikan
catatan detail tentang karakteristik topografi dan keadaan ekonomi setiap negeri. Segera setelah
itu, Qudmah menyelesaikan bukunya, al-Kharj, yang menerangkan pembagian wilayah kekhalifah
an ke dalam berbagai provinsi, organisasi layanan pos, dan pajak setiap wilayah. Ahli geografi Arab
lainnya --keturunan Persia-- adalah Ibn Rustah dengan karyanya al-A'lq al-Nafsah (Kantung
Berharga). Pada tahun yang sama, Ibn al-Fqih al-Hamdni juga menyelesaikan karyanya Kitb alBuldn, yang merupakan buku geografi lengkap.
Sementara penulisan ilmu geografi secara sistematis, baru muncul pada pertengahan abad ke-4 H.,
dengan munculnya al-Ishthakh, Ibn Hawqal (w. 977 M.), dan al-Maqds. Karya al-Ishthakh, Maslik
wa al-Mamlik, dilengkapi dengan peta berwarna masing-masing negeri, yang merupakan
pengembangan dari sistem geografi yang disusun oleh Ab Zaid al-Balkh (w. 934 M.) dari Dinasti
Samaniyah. Setelah melakukan perjalanan hingga Spanyol, Ibn Hawqal memperbaiki karya alIshthakh tersebut kemudian menulis ulang dengan judul yang sama. Sementara al-Maqds --atau
al-Muqaddas-- pada 985-986 M. setelah melakukan perjalanan selama 20 tahun di kawasan negeri
Islam kecuali Spanyol, Sijistan, dan India, menuliskan pengetahuannya --dengan banyak mengutip
karya Ibn al-Fqih al-Hamdni-- yang diberi judul Ahsan al-Taqsm f Ma'rifah al-Aqlm (Klasifikasi
Ilmu Geografi yang Terbaik).
Pada masa yang sama, dari Yaman tercatat nama al-Hasan ibn Ahmad al-Hamdn (w. 945 M.), yang
telah berhasil menyelesaikan dua buah karyanya sekaligus, al-Ikll dan Shifah Jazrah al-'Arab. Karya
tersebut menginfomasikan keadaan Semenanjung Arab-Islam dan pra-Islam. Sebelum Dinasti
Abbasiyyah berakhir, muncul seorang ahli geografi muslim terbesar dari Timur, Yqt ibn 'Abdullh
al-Hamawi (w. 1229 M.), yang telah menyusun kamus geografi, al-Mu'jam al-Buldn.
Dalam bidang historiografi, yang telah mendapatkan kematangannya di masa ini, telah melahirkan
beberapa ilmuwan. Di antaranya, Muhammad ibn Ishaq (w. 152 H. / 767 M.) dari Madinah, dengan
karya pertamanya, Srah Raslullh. Buku ini merupakan karya tertua dalam bidangnya yang
didasarkan atas tradisi keagamaan; Ibnu Hisym (w. 218 H.), yang telah meringkas karya tersebut
dan diberi nama Sirh ibn Hisym; Ms ibn Uqbah dengan karyanya al-Maghz, sejarah tentang
peperangan dan penaklukan Islam paling awal; dengan judul yang sama Muhammad ibn 'Umar alWaqidi (w. 208 H.) juga telah menulis karyanya; Ibn 'Abd. al-Hakam (w. 870 M.), karyanya, Futh
Mishr wa Akhbruh, menjadi dokumen tertua tentang penaklukan Mesir, Afrika Utara dan Spanyol.
Ahmad ibn Yahy al-Baldr dari Persia, karya utamanya berjudul Futh al-Buldn dan Anshb alAsyrf; Muhammad ibn Muslim al-Dnawar --terkenal dengan nama Ibn Quthaybah-- (w. 889 M.)
dengan karyanya Kitb al-Ma'rf (Buku Pengetahuan). Tokoh lain sezamannya adalah Ab Hanfah
Ahmad ibn Dwd al-Dnawar (w. 859 M.), dengan karya utamanya al-Akhbr al-Thiwl (Cerita
Panjang), buku tentang sejarah dunia dari sudut pandang orang Persia. Selain menulis sejarah,
keduanya juga telah menulis beberapa karya sastra dan filologi. Pada saat yang sama, muncul Ibn
Wdhh al-Ya'qbi --di samping sebagai ahli geografi-- yang kompedium sejarah dunianya hingga
258 H. / 872 M. berhasil mempertahankan tradisi Syi'ah klasik.
Selanjutnya Hamzah al-Ishfahn (w. 961 M.). Catatan sejarahnya yang agak kritis telah dikenal
lebih awal di Eropa modern; Miskawayh (w. 1030 M.) --di samping seorang filsuf dan dokter-bahkan beliau berada pada peringkat atas dalam barisan sejarawan Islam, di samping al-Thabar
dan al-Mas'd. Ab Ja'far Muhammad ibn Jarr al-Thabar (w. 923 M.), di samping terkenal karena
karya tafsirnya juga karena sejarahnya. Salah satu karyanya adalah Tarkh al-Rusul wa al-Muluk

(Sejarah Para Rasul dan Raja). Karya sejarahnya yang sangat terperinci dan akurat, menjadi rujukan
bagi para sejarawan berikutnya, seperti Miskawayh, Ibn Atsr (w. 1234 M.) dan Ab al-Fid' (w. 1331
M.), dan al-Dzahabi (w. 1348 M.).36 Sementara Ab Hasan 'Al al-Mas'd (Herodotus bangsa Arab)
bahkan telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan sejarah. Karyanya, Murj al-Dzahab
wa Ma'din al-Jauhar (Pedang Emas dan Tambang Batu Mulia) merupakan karya historis-geografis
yang berbentuk ensiklopedi, yang mengindikasikan bahwa selain seorang sejarawan, beliau juga
seorang ahli dalam ilmu geografi. Pada masa keduanyalah (baca: al-Thabar dan al-Mas'di),
penulisan sejarah Arab mencapai titik kulminasi, dan mengalami kemunduran drastis setelah masa
Miskawayh, Izz al-Dn ibn Atsr (w. 1234 M.)
Dalam bidang sosiologi Ab al-Thayyib Muhammad ibn Ishq ibn Yahy al-Wasysya (w. 325 H.)
dengan kitabnya al-Zurafa, al-Fauz al-Asghr karyanya Tahdzb al-Akhlq, Ab 'Al Ahmad ibn
Muhammad Miskawaih karyanya Tajrib al-Umam oleh dan lain-lain. Dalam bidang ekonomi Ab
'Ubaid ibn Sallam (w. 224 H.), kitabnya al-Kharj; dengan judul yang sama, Yahy ibn dama alQuraisyi (w. 239 H.) juga menulis karyanya; Ab al-Faraj Qudamah ibn Ja'far al-Baghdd dengan
kitabnya al-Kharaj wa Sun'ah al-Kitbah. Dalam ilmu politik Ibn Qutaibah dengan karyanya kitab alImmah wa al-Siysah, Ab Hasan 'Al ibn Muhammad al-Mawardi (w. 540 H.) dengan karyanya alAhkm wa al-Sulthniyah wa al-Wilyah al-Diniyyah, dan Ab al-Hasan Hill al-Sbi (w. 448 H.) serta
karyanya Rusum Dr al-Khalifah dan Tuhfah al-Umara f Tarkh al-Wuzar oleh dan lain-lain.37
Selain dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum, kajian filsafat dan seni (sastra) juga
mendapatkan perhatiannya yang besar. Kajian pertama melahirkan, antara lain al-Kind (w. 873 M.)
--di samping seorang astronom, kimiawan, ahli mata, dan musisi. Filsuf keturunan Arab ini menulis
lebih dari 361 buah buku, namun kebanyakan tidak bisa ditemukan. Dari karya-karyanya yang
masih ada, kebanyakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin; Al-Frb (w. 950 M.) --di
samping seorang dokter yang membidangi penyakit dalam, ahli matematika, juga seorang musisi-yang sistem filsafatnya, seperti terungkap dari beberapa risalahnya tentang Plato dan Aristoteles,
merupakan campuran antara Platonisme, Aristotelianisme dan mistisisme, yang membuat dia
dijuluki sebagai guru kedua, al-mu'allim al-tsn, setelah Aritoteles. Selain menulis komentar
tentang Aristoteles, ia juga menulis tentang psikologi, politik, dan metafisika. Salah satu karyanya
yang terkenal adalah Rislah Fushsh al-Hikam (Risalah Mutiara Hikmah) dan Rislah f r' Ahl alMadnah.
Ibn Sn (w. 1037) --di samping seorang musisi dan dokter, dengan mengadopsi pandangan filosofis
al-Frb ia sanggup menyatukan berbagai kebijaksanaan Yunani dengan pemikirannya sendiri.
Dengan karya-karyanya, sistem pemikiran Yunani, terutama Philo, dapat diselaraskan dengan
ajaran Islam. Di antara karyanya yang masyhur adalah al-Syif', sebuah ensiklopedi tentang fisika,
metafisika dan matematika yang terdiri atas 18 jilid. Ibn Rusy (Eropa: Averroes), seorang filsuf
muslim yang paling berpengaruh di Eropa dalam bidang filsafat. Sehingga di sana terdapat aliran
yang disebut Averroisme.38 Selain itu, Ikhwn al-Shaf (persaudaraan sufi) yang muncul pada abad
ke-4 Hijriyah ( 970 M.). Karyanya yang paling terkenal adalah Ras'il, sebuah ensiklopedi yang
terdiri atas 52 risalah, yang membahas tentang matematika, astronomi, geografi, musik, etika, dan
filsafat.
Selain empat nama tersebut, M.M. Syarif dalam bukunya, Para filosof Muslim, menambah beberapa
nama, di antaranya: Muhammad ibn Zakari al-Rz (w. 313 H / 925 M.), di antara karyanya adalah
al-Shirth al-Falsafiyah; Miskawaih (w. 421 H. / 1030 M.) salah satu karyanya adalah Jawidan Khirad;
Ibn Bajjah (w. 533 H. / 1138 M.), salah satu karyanya The Eseurial MS; Ibn Tufail (w. 581 H. / 1185 M)
--di samping seorang dokter, ahli matematika dan seorang penyair-- di antara karyanya adalah
Asrr al-Hikmah al-Masyriqiyyah; Ibn Rusy (w. 595 H. / 1198 M.) di antara karyanya: Fash, Kasy dan
Thahafut; dan Nasir al-Dn Tsi (w. 672 H. / 1274 M.), M.M. Syarif menyebutkan 19 karya beliau, satu
di antaranya adalah Asas al-Iqtibas. Sementara Harun Nasution memasukkan al-Ghazl dalam
daftar filsuf yang ditulis dalam sebuah bukunya, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Di antara
karya al-Ghazl bidang filsafat yang terkenal adalah Maqsid al-Falsifah.
Sementara dalam bidang kedua yang telah ada sejak masa pra-Islam, pada masa ini juga telah
melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar. Di antaranya al-Jauhr (w. 1008 M.) yang telah menyusun
kamusnya secara alfebetis dari huruf terakhir tiap kata. Kamus tersebut menjadi acuan bagi para
penyusun kamus berikutnya. Rekan sezamannya Ibn Jinn (w. 1002 M.) yang telah berjasa dalam
pembentukan filologi folosofis. Ab Faraj al-Ishbahn (w. 967 M.), karya besarnya adalah Kitb alAghni (buku nyanyian), al-Jahsyiyr dengan karya terkenalnya Alf Lailah wa Lailah. Sastra dalam
arti sempit, yakni db mulai dikembangkan oleh al-Jhiz (w. 868 M.), guru para sastrawan
Baghdad; dan mencapai puncaknya pada abad ke-4 dan 5 dengan melalui karya-karya Bad' alZaman al-Hamadzn (w. 1008 M.), pencipta Maqmah (sejenis anekdot dramatis) al-Tsa'lib (w.
1083 M.) dan al-Harr (w. 1122 M.), dengan karyanya Maqmt.
Tentunya nama-nama di atas adalah sebagian dari para ilmuwan muslim dan patron yang telah
memberikan apresiasinya kepada ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum. Dan masih
banyak nama-nama lain bahkan disiplin lain yang belum tertulis dalam penelite ian ini. Hal itu
merupakan refleksi serta indikator bagi bersatunya ilmu pengetahuan dalam (ajaran) Islam, dengan
tanpa perbedaan signifikan. Keduanya sama-sama memiliki nilai dan arti serta pengaruh yang
besar bagi kehidupan manusia. Dan hal tersebut pada gilirannya merupakan sumbangan mereka
dalam bidang ilmu pengetahuan kepada seluruh dunia.
B. Lembaga Pendidikan Formal dan Informal serta Kurikulumnya
1. Lembaga Formal

Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan serta keharusan mencarinya,
menuntut umat Islam klasik untuk mendirikan institusi sebagai tempat berlangsungnya proses
pendidikan. Sementara, besarnya minat mencari ilmu yang berimplikasi pada semakin
berkembangnya pendidikan dari waktu ke waktu, mendesak perkembangan institusi tersebut.
Sehingga muncullah beberapa institusi pendidikan di saat itu. Institusi-institusi tersebut dapat
diidentifikasi ke dalam dua status kelembagaan, yaitu formal dan informal. Institusi-institusi yang
termasuk dalam kelompok pertama adalah: kuttb (sebagai representasi pendidikan dasar), masjidakademi (sebagai representasi pendidikan menengah) dan madrasah (sebagai representasi
pendidikan tinggi).39
Ketiga institusi tersebut memiliki sejarahnya sendiri-sendiri yang saling terkait antara satu dengan
lainnya. Keterkaitan tersebut mengindikasikan pendidikan dalam Islam yang sangat dinamis, selalu
aktual dan kontekstual. Kuttb sebagai institusi pendidikan, sudah dikenal pada masa pra-Islam.
Namun kuttb sebagai institusi formal-dasar baru dikenal setelah hadirnya Islam. Yang merupakan
peralihan dari pendidikan dasar yang telah berlangsung di masjid pada masa sebelumnya. Islam
bahkan mendesak perkembangan kuttb jenis ini. Sehingga dapat diprediksi bahwa meluasnya
wilayah kekuasaan Islam berimplikasi pada menjamurnya institusi ini. Keterlibatan elite pemerintah
dalam hal ini --juga dalam pengelolaannya, seperti menentukan kurikulum-- tidak bisa dielakkan.
Sungguhpun tidak semua khalifah di zamannya masing-masing menunjukkan keterlibatan tersebut.
Pendirian tersebut lebih merupakan sebuah refleksi dari ajaran dasar Islam, sehingga eksistensi
kuttb steril dari dan untuk tendensi lain. Karena Islam mengajarkan keseimbangan hidup di dunia
dan akherat, maka obyek yang dipelajari dalam kuttb tersebut meliputi ilmu umum dan ilmu
agama, dalam formatnya yang sederhana dan kondisional. Ketika al-Qur'an telah selesai
dikodifikasikan, maka al-Qur'an dijadikan sebagai kurikulum intinya. Dan berbeda dengan kuttb
sebelumnya (pra dan awal Islam) yang hanya memelajari ilmu umum dan seringkali diajar oleh
orang non-muslim, kuttb ini diajar oleh seorang muslim-hfidl.
Munculnya kuttb sebagai institusi dasar-formal tersebut berimplikasi pada munculnya masjidakademi sebagai institusi menengah-formal. Dan berbeda dengan kuttb, masjid-akademi ini
didirikan oleh sekelompok masyarakat atau penganut sebuah madzhab fiqh tertentu, sehingga
pendiriannya (tentu) memiliki tendensi tertentu. Kajian keagamaan, yang mendapatkan perhatian
pertama dalam Islam dan strata sosial yang menjanjikan bagi pengkaji fiqh di masa itu telah
memotivasi mereka untuk menentukan fokus kajiannya bahkan mengilhami pendiriannya.
Intervensi elite pemerintah dalam hal ini, baik sebagai patron maupun sebagai pengelola, tidak
menunjukkan keberadaannya. Segala kebijakan dalam pendidikan merupakan hak prerogatif
mudarris. Satu-satunya intervensi-legal elite pemerintah adalah dalam mengangkat mudarris
sebagai pengelola masjid-akademi, namun hal itu, secara praktis, jarang terjadi.
Karena tidak ada aturan khusus dalam hukum Islam yang membatasi pendiriannya, sebagaimana
yang berlaku bagi masjid jmi', maka masjid-akademi memiliki jumlah yang sangat banyak.
Sifatnya yang lokal dan eksklusif mengindikasikan pendiriannya di setiap wilayah, bahkan
(mungkin) di setiap kelompok masyarakat. Institusi ini lebih menekankan kajiannya pada disiplin
keagamaan (seperti tafsir, hadits, ushul fiqh, nahwu, sharaf) terutama fiqh. Sebuah penekanan
yang kurang bijak bagi sebuah institusi pendidikan Islam. Karena bagaimanapun juga, hal itu
merupakan sebuah degradasi paradigma berpikir, yang berekses pada kemunduran pendidikan itu
sendiri.
Sungguhpun demikian, perkembangan masjid-akademi ini semakin hari semakin meningkat seiring
dengan bertambahnya kaum muslim. Dan untuk tidak mengacaukan fungsi utama masjid, maka
selanjutnya didirikan sebuah institusi yang independen --tetapi tetap berada di sekitar masjid-sebagai tempat belajar. Institusi inilah yang disebut madrasah. Sebuah institusi pendidikan tinggiformal yang keberadaannya paling unggul di abad XI. Selain didirikan oleh masyarakat sipil, seperti
saudagar, juga didirikan oleh kelompok elite pemerintah.40 Bahkan dominasi kelompok kedua
sangat menonjol. Sehingga sulit untuk tidak mengatakan bahwa pendirian madrasah mengandung
unsur politis, sekurang-kurangnya untuk mencapai tujuan pilitis. Walaupun hal itu diakui oleh para
elite semata-mata sebagai konsekuensi dari seorang muslim yang sadar, namun kedudukan dan
kepentingan mereka dalam pemerintahan merupakan sesuatu yang sangat menentukan. Dengan
demikian, dapat pula dikatakan bahwa madrasah merupakan kebijakan religio-politik bagi
penguasa.
Karena memiliki banyak kelebihan dalam beberapa hal dibanding dua institusi sebelumnya, serta
adanya peran aktif dari elite pemerintah, maka perkembangan madrasah menjadi sangat pesat,
sesuai dengan kebutuhan dan perubahan masyarakat muslim di masanya. Beberapa elite
pemerintah telah mendirikan madrasah di wilayahnya masing-masing. Dan madrasah pertama
yang paling menonjol serta berpengaruh pada pendirian madrasah lain adalah madrasah
Nidlmiyah yang didirikan pada 459 H. / 1065 M. di Baghdad. Selain sebagai patron (pendiri), elite
pemerintah juga ikut serta dalam pengangkatan staf dan penentuan kurikulum. Dalam hal terakhir,
karena mereka adalah para pengikut madzhab Sunni-Syfi'iyyah yang menjadikan madrasah
sebagai instrumen bagi kelanggengan doktrinnya, maka kurikulum yang ditawarkan lebih
memberikan aksentuasinya pada ajaran-ajaran madzhab Syfi' dan teologi Asy'ariyah.
Selain itu, mereka juga menampilkan hadits Nabi yang menghidupkan ajaran Sunni di satu pihak
dan melawan Syi'ah di pihak lain, dalam memberikan materi hadits, di samping menggunakan
metode indoktrinasi dalam pengajarannya. Secara keseluruhan mata pelajaran yang dipelajari di
madrasah adalah: al-'ulm al-naqliyyah (ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur'an seperti

Tafsir, Qira'at, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh dan ilmu kalam) dan al-'ulm al-lisniyyah (seperti bahasa
dan sastra, nahwu, sharaf).41 Sementara al-'ulm al-ajnabiyah (ilmu-ilmu yang membutuhkan basis
logika dan filsafat, seperti ilmu pasti dan kealaman, kedokteran, kimia, fisika dan lain-lain)
ditinggalkan. Hal ini terlihat dari apa yang diajarkan di madrasah Nidlmiyah, yang merupakan
profil madrasah ketika itu. Dalam hal ini Mahmud Yunus menyatakan bahwa bukti-bukti tentang
madrasah Nidlmiyah menunjukkan:
1.Tak seorangpun di antara sejarawan yang mengatakan bahwa di antara mata pelajarannya ada
ilmu kedokteran, falak, ilmu pasti. Mereka hanya menyebut nahwu, ilmu kalam dan fiqh.
2.Guru-guru yang mengajar di madrasah Nidlmiyah adalah ulama'-ulama' syari'ah.
3.Pendiri madrasah Nidlmiyah bukanlah orang yang membela ilmu filsafat dan bukan pula orang
yang membantu pembebasan filsafat.
4.Zaman berdirinya Nidlmiyah, bukanlah zaman filsafat, melainkan zaman menindasnya serta
para filsuf.42
2. Lembaga Informal
Di samping institusi formal muncul pula institusi informal. Di antara institusi-institusi pendidikan
yang tergolong informal adalah: rumah, istana, toko (institusi pendidikan dasar); masjid jmi',
sanggar seni (institusi pendidikan menengah) dan perpustakaan (institusi pendidikan tinggi),
dengan dinamikanya sendiri-sendiri yang menandai tingkat kemajuan di masanya. Fenomena jahili
yang menggambarkan kondisi masyarakat Arab pada masa awal turunnya Islam, mendesak
dilaksanakannya sebuah pendidikan untuk menata moral dan menegakkan aqidah mereka.
Kesederhanaan hidup dan kehidupan pada waktu itu menjadi pertimbangan utama
diselenggarakannya pendidikan dalam sebuah rumah. Sehingga bagi sejarah pendidikan Islam,
rumah merupakan institusi dasar-informal pertama. Satu-satunya obyek yang dipelajari di sana
adalah al-Qur'an.
Pada masa yang lebih kemudian dan --tentunya-- lebih maju, yang ditandai dengan lahirnya para
ilmuwan lintas disiplin dalam formatnya yang lebih sempurna, tidak jarang para ilmuwan (tersebut)
mengumpulkan beberapa murid untuk membentuk halaqah di rumahnya. Sedangkan ilmu yang
dipelajari ketika itu telah melawati ilmu agama. Artinya, selain ilmu agama, juga ilmu-ilmu yang
dikategorikan sebagai ilmu umum.
Namun tidak jarang pula para ilmuwan tersebut diundang atau dijadikan guru privat oleh khalifah
atau bangsawan untuk mengajar anak-anak mereka di istananya. Sekurang-kurangnya itulah yang
terjadi pada masa khalifah Abbasiyyah. Hal itu dilatarbelakangi oleh harapan para khalifah agar
anak-anak mereka kelak menjadi figur-figur yang dapat dihandalkan pada masanya dalam mewarisi
tahta. Karena itu, seringkali khalifah sendiri yang menentukan apa saja yang harus diajarkan pada
anak-anaknya. Dan di antara pelajaran-pelajaran tersebut yang paling utama adalah pidato,
kesusasteraan dan lain-lain, dan di atas segalanya nilai-nilai keksatriaan.43
Ketika menuntut ilmu sudah menjadi tradisi bagi semua lapisan masyarakat, baik sipil maupun
kaum aristokrat, dan tradisi literer mulai tumbuh, maka banyak ilmuwan yang merefleksikan
pemikirannya dalam bentuk tulisan. Untuk dapat membaca, menelaah dan menyalin karya
tersebut, para sastrawan kemudian membelinya dari pemiliknya (ilmuwan). Dan untuk dapat
diadopsi oleh publik secara luas, setelah digandakan karya tersebut dijual kembali. Begitulah yang
dilakukan oleh para pemilik toko atau penjual buku ketika itu. Tidak jarang juga, mereka menjadikan
tokonya sebagai ajang adu argumentasi di antara para ilmuwan. Munculnya berbagai disiplin ilmu
ketika itu mengindikasikan beraneka-ragamnya topik diskusi yang dipilih.
Demikianlah situasi institusi pendidikan dasar-informal. Dan sebagai-mana dalam institusi
pendidikan formal, keberadaan institusi pendidikan dasar-informal juga mengilhami dijadikanya
masjid (jmi') sebagai institusi pendidikan menengah-informal, sebagai kelanjutan. Institusi ini
(masjid jmi') didirikan oleh elite pemerintah dengan konstruksi bangunan yang jauh lebih besar
dan lebih indah dibanding dengan masjid-akademi. Karena pendiriannya yang didasarkan pada
justifikasi hukum Islam, maka jumlah masjid ini sangat terbatas. Selain digunakan sebagai tempat
melaksanakan shalat jum'at dan sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat, masjid ini
pula dijadikan sebagai institusi pendidikan (menengah). Dan karena berada dalam kontrol
pemerintah --berbeda dengan masjid-akademi-- maka segala kebijakan yang berkaitan dengan
pendidikan, juga berada dalam kontrol dan pengawasan mereka.
Pendidikan dilaksanakan dengan sistem halaqah yang dipimpin oleh syeikh yang telah ditentukan
dan diangkat oleh khalifah. Dalam satu masjid terdapat beberapa syeikh yang mengajar dalam
disiplin yang berbeda. Disiplin ilmu --dan atau nama syeikh-- itulah yang terkadang dijadikan nama
sebuah halaqah. Pendidikan tersebut memberikan kebebasan yang sangat besar bagi para siswa.
Baik berkaitan dengan pendaftaran, biaya pendidikan, kapan harus mengikuti, sampai kapan harus
mengikuti dan lain-lain. Berbeda dengan institusi pendidikan informal lainnya, masjid jmi' hanya
menawarkan ilmu agama (dalam berbagai disiplinnya) sebagai kajiannya. Seperti hadits, tafsir, fiqh,
ushul fiqh, nahwu, sharaf, dan lain-lain.
Sedangkan untuk ilmu-ilmu umum diselenggarakan dalam tempat yang berbeda, yaitu sanggar
seni. Institusi ini pada mulanya diselenggarakan oleh para khalifah di istananya. Namun dalam
perkembangan selanjutnya, ketika menjadi sesuatu yang menarik bagi kelompok aristokrat yang
lebih rendah dan para saudagar, maka sanggar seni mulai diselenggarakan oleh kelompok kedua
tersebut. Pendidikan yang berlangsung di sana lebih mengambil bentuk diskusi. Sifatnya yang
eksklusif (hanya dihadiri ilmuwan tertentu), maka tingkat prestise serta popularitas institusi ini

bergantung pada patron (penyelenggara) dalam mengundang para ilmuwan sebagai peserta
diskusi. Hegemoni khalifah dalam hal ini memicu kelompok kedua untuk mengundang ilmuwan
yang kualitas keilmuannya diakui, dalam rangka mencari legimitasi dan pengakuan khalifah .
Hadirnya para ilmuwan lintas disiplin terutama para filsuf dalam diskusi, mengindikasikan luasnya
tema yang didiskusikan dalam institusi tersebut. Dan tema yang diusung lebih bersifat intelektual
dan aktual di masanya, terutama yang berkaitan tentang filsafat dan sains-sains Yunani.44
Sungguhpun terbatas, institusi ini turut merangsang bagi munculnya institusi lain, perpustakaan
misalnya. Kemunculan institusi yang selanjutnya dianggap sebagai institusi pendidikan tinggiinformal ini, walaupun tidak langsung, tidak lepas dari keberadaan sanggar seni.
Perpustakaan ini didirikan oleh kaum bangsawan dan para ulama, baik secara independen maupun
di masjid dan madrasah, yang didorong oleh keberagamaan mereka, untuk mempromosikan
kegiatan baca-tulis dan memajukan tingkat pendidikan di wilayah kekuasaannya. Selain untuk
menyimpan buku, perpustakaan juga dijadikan sebagai tempat diskusi, debat, penerjemahan,
penerbitan, observatorium bahkan dilengkapi pula dengan penginapan, makanan dan beasiswa.
Buku-buku yang tersedia meliputi berbagai disiplin ilmu, baik agama maupun umum. Dengan
peraturan tertentu, perpustakaan memberikan hak pinjam bagi masyarakat Di perpustakaan inilah
orang bisa menemukan titik permulaan dari pusat keilmuan yang sangat kompleks. Bait al-Hikmah
misalnya, bahkan dianggap sebagai "Akademi Ilmu Pengetahuan" pertama di dunia yang
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sehingga prestise perpustakaan ini, pada gilirannya, turut
mewarnai peradaban bangsa Eropa.
Perpustakaan-perpustakaan tersebut dibedakan menjadi tiga, yaitu: perpustakaan umum, yaitu
perpustakaan yang dibuka untuk semua lapisan masyarakat; semi-umum, yaitu perpustakaan yang
hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang telah mendapatkan izin dari pendirinya; dan
perpustakaan khusus, yaitu perpustakaan yang didirikan orang-orang tertentu untuk diri sendiri.
Namun demikian, perpustakaan jenis ini terkadang juga memberikan izin pada ilmuwan tertentu
untuk menggunakannya. Dengan demikian, kehadiran perpustakaan sangat menguntungkan bagi
ilmuwan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
C. Ilmu-ilmu Umum dalam Posisi Marjinal
Non-dikotomis atau integralitas ilmu pengetahuan yang diajarkan Islam telah diejawantahkan oleh
para pengikutnya pada masa awal turunnya Islam. Dalam hal ini, etos religius umat menuntut
pendidikan agama diberi perhatian lebih awal, baru disusul ilmu yang berkaitan dengan
kesejahteraan hidup, yang masih terbatas dan dalam format yang sederhana. Di atas segalagalanya --dan yang dianggap paling esensi-- adalah pendidikan tentang baca tulis. Cepatnya
perkembangan Islam yang (bahkan) di luar prediksi, baik dari sisi luasnya wilayah maupun
banyaknya pengikut, mendesak perkembangan pendidikan tersebut. Hal yang selanjutnya muncul
sebagai konsekuensi adalah 'penjenjangan' dalam pendidikan, yang berimplikasi (terutama) pada
perkembangan materi, dan identifikasi disipilin ilmu, yang secara kualifikasi, meliputi ilmu agama
dan ilmu umum. Pendidikan pada masa ini telah membangkitkan semangat intelektual yang
kemunculannya (ketika itu) dipicu oleh fenomena kontemporer. Yakni faktor politik, yang mulai
menjadi perdebatan sejak masa Utsmn dan akhirnya memunculkan tiga sekte: Syi'ah, Khawrij
dan pendukung Umaiyyah. Dengan mengusung diskursus seputar kafir atau iman.45
Pada masa selanjutnya (baca: masa Bani Umaiyyah) implikasi pendidikan semakin riil. Pendidikan
telah meninggalkan bukti-bukti, baik dengan munculnya para ilmuwan maupun bangunan
monumental, semakin kompleknya sekte, pengenalan ilmu-ilmu berbasis akal maupun lahirnya
disiplin ilmu. Hingga masa ini etos religius tetap menjadi motif utama. Perkembangan tersebut
semakin mendapatkan kemajuannya pada Bani Abbasiyyah. Namun berbeda dengan masa-masa
sebelumnya, pelaksanaan pendidikan pada masa ini telah memiliki tendensi lain di samping motif
agama. Terutama sejak berkembangnya beberapa aliran teologi. Sejarah mencatat bahwa pada
masa ini, sekurang-kurangnya, ada tiga aliran besar --dan mampu bertahan dalam waktu relatif
lama-- yang turut mewarnai keberagamaan umat Islam. Yaitu Mu'tazilah (rasionalis), Syi'ah, dan
Sunni (ortodok). Bagi para khalifah, aliran tersebut bukan saja memengaruhi keberagamaan
mereka, tetapi masuk pula dalam arus politik. Sehingga memengaruhi setiap kebijakan yang
dikeluarkan. Bahkan dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan aliran-aliran tersebut benarbenar menjadi kontrol utama. Sehingga eksesnya membentuk karakteristik bagi masa dan khalifah
tertentu.
Aliran Mu'tazilah mendapatkan posisinya di hati para khalifah Abbasiyyah berlangsung selama
(kurang lebih) satu abad sejak berdirinya Dinasti ini. Aliran ini pada awalnya dikenal sebagai
gerakan puritan yang kaku, yang terkenal dengan doktrinnya tentang kemakhlukan al-Qur'an; dan
bukan pemikir-pemikir bebas (rasionalis murni). Tetapi pada perkembangan berikutnya, ketika
pengaruh rasionalisme hellenistik masuk dalam arus pemikirannya, sebagaimana yang tampak
dalam pemahamannya tentang keadilan dan keesaan Tuhan serta tentang ungkapan
antropomorfisme dalam al-Qur'an dan hadits, maka ia menjadi kelompok rasionalis yang
mengagungkan hasil pemikiran rasio manusia. Mengklaim bahwa akal adalah sama pentingnya
dengan wahyu. Bahkan ia, sebagaimana dikatakan Hitti, menganggap akal sebagai petunjuk
kebenaran yang mutlak melebihi al-Qur'an.46 Keberanian dan ketidakragu-raguannya dalam
memegangi hasil pemikiran, mengantarkan aliran ini hanya mau menerima dalil-dalil naqli yang
sesuai dengan akal pikiran, dan mena'wilkan yang menyalahinya.
Begitu juga dalam relevansinya dengan filsafat. Aliran ini pada awalnya tidak memiliki interes
terhadap filsafat. Namun setelah menjadikan filsafat sebagai alat dalam menolak serangan-

serangan lawannya, ia tidak dapat dipisahkan dengan filsafat. Perhatiannya terhadap urusan agama
bahkan secara gradual beralih kepada filsafat murni. Singkretisme antara filsafat dan agama serta
berfilsafat menjadi kegandrungan mereka.47 Sehingga sangat valid apa yang dikatakan Steiner
(juga Leary), bahwa aliran Mu'tazilah dalam perkembangan-perkembangannya yang terakhir
banyak terpengaruh oleh filsafat Yunani.48
Selama periode pertama Abbasiyyah, aliran ini memiliki pengaruhnya yang sangat besar terhadap
pemerintahan. Sebagai hasil interpretasi terhadap dogma agama, seakan-akan para khalifah tidak
menemukan kesalahan dan kekurangan sama sekali di dalam doktrinnya. Sehingga dengan gigih
dan penuh keyakinan mereka menjadikan doktrin tersebut sebagai rujukan utama dan pertama
dalam mengeluarkan kebijakan. Setelah khalifah al-Manshr menggalakkannya dengan tanpa
mengadakan komitmen terbuka, maka pada masa al-Ma'mn (yang juga murid al-Allaf, seorang
tokoh Mu'tazilah) dan al-Mu'tashim, Mu'tazilisme dinyatakan sebagai doktrin negara.49 Sehingga
selama masa itu, hingga masa pemerintahan al-Wtsiq, ia terus mendominasi kehidupan khalifah
dengan segala konsekuensinya.50
Seringkali kebijakan-kebijakan irrasional dan non-obyektif dari khalifah diberlakukan selama masa
itu demi menegakkan doktrin tersebut. Pada 833 M. misalnya, al-Ma'mn mengeluarkan kebijakan,
bahwa setiap hakim atau calon hakim yang tidak mengakui ajaran "al-Qur'an sebagai makhluk"
tidak boleh menjadi hakim atau diangkat sebagai hakim.51 Pada waktu yang sama ia mendirikan
lembaga mihnah, semacam lembaga peradilan umum untuk menguji dan menyeleksi orang yang
menentang ajarannya. Di lembaga inilah hukuman diberlakukan bagi para penentangnya. Dan
salah satu korban terpentingnya adalah Imm Ahmad ibn Hanbal, yang keberanian dan
kegigihannya memperjuangkan pemikiran ortodok-konservatifnya menghiasi lembar-lembar sejarah
dengan indah.52 Sebuah kebijakan irrasional bagi gerakan rasional-bebas.
Doktrin rasionalisme Mu'tazilah diajarkan melalui lembaga-lembaga pendidikan dan menjadi tanda
khusus bagi kaum intelektual pada masa itu. Mereka yang berpengaruh dalam masyarakat (seperti
pangeran, bangsawan, qadhi, guru besar, dokter dan pengusaha) menerimanya sebagai kredo.
Sehingga kemajuan dalam sains-sains sekuler mulai tumbuh. Sebagian besar sarjana dan ilmuwan
Islam besar menyatakan secara terbuka kecondongan mereka kepada rasionalisme atau sangat
terpengaruh olehnya.53
Sungguhpun al-Qur'an, secara normatif, telah mengajarkan tentang integralitas ilmu (agama dan
umum), mengisyaratkan pentingnya bagi kehidupan serta mendorong manusia untuk
menguasainya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa aliran inilah yang paling awal, dengan
memberikan kebebasan berpikir kepada akal seluas-luasnya dan didukung oleh legitimasi khalifah,
membuka cakrawala, (terutama) ilmu-ilmu sekuler dan filsafat. Yang diawali dengan penerjemahan
terhadap karya-karya berbahasa asing. Seperti buku-buku ilmu pengetahuan dan sastra, dari
bahasa Sanskerta, Suriani, Yunani, India dan Parsi. Sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah alManshr dan para khalifah sesudahnya. Dengan bantuan para ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu
di masanya.54
Sehingga pada peride pertama ini Islam mendapatkan peradabannya yang adiluhung. Selain
tercapainya kemakmuran rakyat, kekayaan yang melimpah, keamanan yang terjamin, wilayah yang
luas dan sarana-sarana umum yang tersedia, juga bangkitnya tradisi intelektual yang ditandai
dengan munculnya institusi-institusi pendidikan, observatorium, perpustakaan dan lain-lain serta
obyek kajiannya yang multidisipliner. Selain ilmu agama, ilmu-ilmu umum dalam berbagai
disiplinnya telah mendapatkan perhatiannya. Selain ilmu al-Qur'an, qira'at, hadits, fiqh, kalam,
bahasa dan sastra, yang kemudian melahirkan beberapa ulama dalam bidang-bidang tersebut dan
disertai dengan karya-karya monumental mereka, yang hingga kini sebagian besar masih
memenuhi koleksi perpustakaan-perpustakaan Islam. Juga filsafat, logika, metafisika, matematika,
alam, geometri, aljabar, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran dan kimia, yang juga
telah melahirkan beberapa cendekiawan dalam bidang-bidang tersebut serta karya-karya mereka,
yang sebagiannya menjadi referensi utama di negeri-negeri Eropa.
Tingginya peradaban pada masa itu dapat dibayangkan dalam ilustrasi berikut. Hrn al-Rsyid
adalah pemerintah paling baik dan terhormat, bersih dan penuh kebajikan serta paling luas daerah
pemerintahannya. Bahkan tidak ada khalifah yang paling diminati oleh alim ulam', para penyair,
ahli-ahli fiqh, pembaca-pembaca al-Qur'an, penulis-penulis dan teman-teman, selain daripada
khalifah Hrn al-Rsyid. Khalifah yang juga seorang sastrawan, penyair, pencipta cerita-cerita
lama di samping memberi perlindungan dan menjaga keselamatan rakyatnya ini, juga
menyumbang berbagai peradaban, kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian dan kesusastraan.55
Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga al-Mutawakkil naik menjadi khalifah (232-247 H. /
847-861 M.) menggantikan al-Watsiq dan pada tahun kedua dari pemerintahannya (848 M.)
menyingkirkan hegemoni Mu'tazilah. Peristiwa tersebut sekaligus menandai berakhirnya drama
peradaban Islam klasik dalam episode pertama. Jumlah masyarakat muslim Sunni yang mayoritas
di satu pihak, dan doktin Mu'tazilah yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu di pihak lain,
disinyalir Pervez sebagai pemicu esensi.56 Sekalipun demikian, dan para khalifah Abbasiyyah sejak
al-Mutawakkil, bahkan, hingga akhir dinasti ini juga beraliran Sunni, tetapi tidak serta merta
(runtuhnya hegemoni Mu'tazilah) berimplikasi pada naiknya hegemoni Sunni.
Sebagaimana disinggung pada bab terdahulu, bahwa para khalifah periode kedua tidak memiliki
kekuatan sebagaimana yang dimiliki para pendahulunya. Kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh
Dinasti Buwaihi (334-447 H.), dan akhirnya mereka berhasil menjadi pengendali kekuasaan Khalifah

Abbasiyyah. Karena Dinasti ini berhaluan Syi'ah, maka hubungan kurang harmonis tampak dari
keduanya. Hal tersebut pada gilirannya turut mempercepat bagi runtuhnya Dinasti Buwaihi.57
Aliran Syi'ah yang merupakan aliran keagamaan Dinasti Buwaihi, sebagaimana dikatakan Fazlur
Rahman, merupakan satu-satunya skisme (aliran yang terpisah) yang penting dalam Islam. Berbeda
dengan Khawrij, yang memberontak terhadap ijma' umat dalam hal-hal yang praktis, maka Syi'ah
selama berabad-abad telah mengembangkan doktrin "hak pemberian Tuhan" (baik menyangkut
kehidupan politik maupun agama) yang tidak dapat didamaikan dengan semangat ijma' itu
sendiri.58
Dalam kaitan ini, Syi'ah mempercayai, atau sekurang-kurangnya memiliki komitmen, dalam tiga
hal. Pertama, bahwa imam telah ditentukan oleh petunjuk atau teks yang jelas, pendahulunya
menunjuk penggantinya bukan oleh pemilihan atau konsensus masyarakat seperti yang dilakukan
kaum Sunni. Kedua, tidak diperbolehkan adanya pemberontakan melawan pemerintah yang sedang
berlangsung kecuali melalui seorang imam. Ketiga, tidak ada ijitihad yang dibolehkan dalam bidang
hukum.59
Doktrin Imamah yang diusung aliran Syi'ah tersebut pada akhirnya justru menjadi bumerang bagi
mereka. Yaitu dengan munculnya beberapa sekte, sejak wafatnya imam keenam, Ja'far al-Shdiq (w.
148 H. / 765 M.), yang dipicu oleh persoalan tentang pengganti imam keenam tersebut. Karena
ketika itu muncul dua nama (putra imam tersebut) yang dianggap sah sebagai pengganti, yakni
Ms dan Ism'l. Polemik tersebut akhirnya melahirkan sekte Syi'ah Ism'iliyyah, yang selama
abad 3-5 H. terus melakukan propaganda sehingga menjadi kuat dan besar. Kekuatan sekte ini
dapat dibayangkan dari tersebarnya doktrin, sejak Afrika Utara hingga India.
Sejak abad ke-4 H. / 10 M., sekte ini mengadopsi ajaran Mu'tazilah yang rasionalis. Sehingga ia
(bahkan) lebih rasional daripada Sunni. Dalam hal ini al-Asy'ar mengatakan bahwa mereka
mempertahankan kedua pandangan, peduli pada Imamah dan Mu'tazilah. Golongan-golongan ini
menolak konsep yang materialistis tentang Tuhan yang dipegang oleh teolog-teolog awal Syi'ah.
Bahkan mereka mengadopsi pandangan spiritual tentang Hakikat Tuhan, manafsirkan pernyataan
antropomorphis terhadap al-Qur'an dan hadits ala Mu'tazilah dan percaya bahwa manusia adalah
agen bebas yang memiliki perbuatan yang tidak diciptakan Tuhan.60 Tidak mengherankan jika
beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa Ism'iliyyah adalah ideologi liberal yang sejati,
seandainya ia sukses, pasti akan menjadikan Islam "rasional" dan "liberal".61
Selain mengadopsi doktrin Mu'tazilah, sebagaimana dikatakan Harun,62 Dinasti ini juga
menempatkan tokoh-tokoh Mu'tazilah pada posisi-posisi penting dalam pemerintahannya. Ab
Muhammad 'Abdullh ibn Ma'rf misalnya, diangkat sebagai hakim kepala kerajaan Bani Abbas di
Baghdad dan 'Abd. al-Jabbr Ahmad ibn 'Abd al-Jabbr sebagai hakim kepala daerah Ray. Majlismajlis besar untuk pengajaran aliran Mu'tazilah, seperti majlis Ab al-Hasan ibn Raja al-Dahhan
diselenggarakan. Untuk kali ini Mu'tazilah memperoleh dukungan dari al-Shib ibn 'Abbad (977-995
M.) perdana menteri dari sultan Fakhr al-Dawlah. Dengan demikian, sungguhpun Mu'tazilah sebagai
doktrin negara telah digulingkan, akan tetapi doktrinnya masih terus dikembangkan di tengah
masyarakat bersama dengan eksisnya Dinasti Buwaihi.
Pengaruh rasionalis Mu'tazilah di atas tampak dalam pengembangannya terhadap intelektual
(terutama tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan). Hal ini terlihat jelas ketika Dinasti ini
mencapai puncaknya, yaitu pada masa 'Add al-Dawlah (949-983 M.). Perhatian terhadap ilmu-ilmu
sekuler muncul kembali. Selain merenovasi sarana-sarana umum, 'Add al-Dawlah juga mendirikan
rumah sakit yang memiliki 24 orang dokter dan semuanya ditugaskan juga sebagai pengajar ilmu
kedokteran. Tidak lama setelah itu, Syaraf al-Dawlah (983-989 M.) putra dan penerus 'Add alDawlah, membangun observatorium. Sementara pada 993 M. Sbr ibn Ardasyr, wazir Bah' alDawlah (saudara dan penerus Syaraf al-Dawlah) mendirikan sebuah akademi di Baghdad yang
dilengkapi dengan perpustakaan yang menyimpan 10.000 buku.63 Selain perhatian yang diberikan
oleh para penguasa, kelompok elite intelektual pada masa ini juga membentuk asosiasi dengan
menamakan diri sebagai Ikhwn al-Shaf. Yang telah menyusun sebuah ensiklopedi, yang memuat
uraian tentang berbagai ilmu pengetahuan. Selama berkuasa, Dinasti ini juga banyak melakukan
propoganda dalam mengembangkan serta menyiarkan ajaran Syi'ahnya, dan seringkali hal itu
dilakukan dengan jalan paksaan.64 Semasa berkuasa, Mu'izz al-Dawlah (penguasa pertama Dinasti
ini) menyelenggarakan festival-festival dalam rangka perayaan berkabung pada hari kematian
Husein (10 Muharram) dan memeringati hari pengangkatan 'Al sebagai penerus Raslullh di
Ghadir al-Khumm.
Selain Dinasti Buwaihi, Dinasti Fathimiyah bahkan merupakan satu-satunya Dinasti Syi'ah yang
independen dalam Islam, yang merupakan puncak dari propaganda Syi'ah Isma'iliyyah yang
terampil dan terorgaisir. Sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang berpusat di
Baghdad.65 Dan adalah Dinasti Fathimiyah yang didirikan di Mesir (965-1171 H) puncak kejayaan
Dinasti tersebut. Masjid al-Azhr adalah saksi bisu bagi kejayaan mereka. Selain dijadikan sebagai
tempat ibadah pada bulan suci Ramadhan, masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat belajar.
Kemunculan al-Azhr (361 H. / 972 M.) diikuti oleh munculnya sejumlah masjid (yang dikelilingi oleh
pemondokan) yang di dalamnya diselenggarakan halaqah-halaqah pengajaran. Pada 378 H. / 988
M. khalifah al-'Azz dan wazirnya, Ya'qb ibn Killis, juga membuka sebuah yayasan untuk 35
profesor, dengan memberi mereka gaji 1.000 dinar perbulan dan buku, serta tempat tinggal di
rumah besar di samping masjid.66
Sementara pada 1005 M. al-Hkim mendirikan perpustakaan terkenal, Dr al-'Ilm atau Dr alHikmah sebagai pusat pembelajaran dan penyebaran ajaran Syi'ah ekstrim. Untuk

mengembangkan institusi ini, al-Hkim menyuntikan dana besar, yang 257 dinar di antaranya
digunakan untuk menyalin berbagai naskah, memperbaiki buku dan pemeliharaan umum lainnya.
Gedung ini berdekatan dengan istana kerajaan yang di dalamnya terdapat sebuah perpustakaan
dan ruang-ruang pertemuan. Kurikulumnya meliputi kajian tentang ilmu-ilmu keislaman, astronomi,
dan kedokteran.67 Perpustakaan tersebut, jelas Abdurrahman Mas'ud, menyimpan 1.600.000 buku
dalam berbagai disiplin ilmu, dan terbuka untuk umum. Selain itu, lanjut Abdurrahman Mas'ud, alHkim juga mendirikan Dr al-'Ilm Sunni di Kairo pada 400 H., yang pada prinsipnya digunakan
untuk mengajarkan hadits Nabi dan studi-studi fiqh Maliki oleh para pelajar yang hidup di sana. Para
ulama bebas membahas masalah-masalah keagamaan yang didasarkan pada keyakinan masingmasing. Mereka juga melakukan pendekatan terhadap persoalan menurut cara mereka sendiri.68
Pertikaian intern yang tidak dapat dihindari dalam Dinasti ini menyebabkan melemahnya solidaritas
para penerus, dan hal itu menjadi sebab-sebab penting bagi keruntuhannya. Akhirnya pada 1055
raja Saljuk, Thughril Beg, memasuki Baghdad dan mengakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi. Karena
seirama dengan para khalifah Abbasiyyah dan mayoritas rakyat (dalam ideologi-teologi), maka
kehadiran raja Saljuk tersebut diterima dengan tangan terbuka oleh para khalifah dan rakyat.
Melalui imperium inilah Sunni dapat menancapkan taring dan menegakkan dogmanya yang selama
beberapa tahun termarjinalkan, sekaligus mengikis habis doktrin Syi'ah yang telah
dipropagandakan sebelumnya.
Sebagaimana disinyalir Syalabi, bahwa kemenangan Bani Saljuk dalam menaklukkan Irak dan
berhasilnya memasuki Baghdad adalah titik awal bagi kemenangan Sunni terhadap kaum Syi'ah.
Dan sejak itu, terhentilah aktifitas Bani Buwaihi dalam menyiarkan doktrin Syi'ah. Sebagai
konsekuensi --dan dinilai sebagai suatu kewajiban-- Bani Saljuk melancarkan perlawanan terhadap
apa yang telah dikembangkan oleh Dinasti Buwaihi. Sehingga kepercayaan-kepercayaan yang
dianggap sebagai suatu kesesatan dan penyimpangan dari doktrin-doktrin agama yang sebenarnya
dapat terkikis. Cara efektif dalam merealisasikan perlawanan tersebut adalah dengan menyiarkan
ilmu agama, karena ketika manusia telah mendapatkan kesempatan untuk mempelajari daktrindoktrin agama yang sebenarnya, niscaya mereka akan dapat membedakan antara yang hak
dengan yang batil.69
Namun kehancuran Dinasti Buwaihi tersebut tidak berimplikasi pula pada hilangnya ajaran
Mu'tazilah di tengah-tengah umat, sebagaimana dikatakan Harun. Ketika kesultanan berada di
tangan Tughril Beg, ajaran Mu'tazilah masih terus eksis, karena Tughril Beg memiliki Perdana
Menteri dari golongan Mu'tazilah, yaitu Ab Nasr Muhammad ibn Mansr al-Kunduri. Atas
pengaruhnya kaum Mu'tazilah tetap dalam keadaan baik, dan Sunni ketika itu masih mengalami
masa kesukaran. Antara dua aliran tersebut bermusuhan, dan atas usaha al-Kunduri, Sultan Tughril
Beg mengeluarkan perintah untuk menangkapi pemuka-pemuka Sunni.70
Sebagai aliran (madzhab) teologi, Sunni merupakan pewaris utama doktrin ortodoksi-tradisional, di
samping kelompok Ibn Hanbal. Dan kemunculannya lebih merupakan suatu reaksi terhadap doktrindoktrin Mu'tazilah yang dinilai kontroversial. Ab Hasan al-Asy'ari (w. 330 H. / 942 M.), yang dalam
hal ini sebagai tokoh utama Sunni, memutuskan pisah dan kemudian membentuk faksi sendiri
(Sunni) ketika berhadapan dengan doktrin guru Mu'tazilahnya, al-Juba'i. Doktrin-doktrin yang
menjadi sumber ketegangan adalah 'pemahaman terhadap akal dan keadilan Tuhan serta
kebebasan berkehendak bagi manusia'. Dalam hal ini kelompok ortodok (Sunni) dengan maksud
menyelamatkan unsur-unsur vital agama, meletakkan tekanan yang hampir-hampir eksklusif pada
perumusan-perumusan Kekuasaan, Kehendak, dan Rahmat Tuhan serta determinisme.71 Tentang
keadilan Tuhan misalnya, Sunni berpendapat bahwa keadilan Tuhan tidak dapat ditentukan dalam
batasan-batasan manusia. Tentang perbuatan manusia, faksi ini mengajarkan bahwa semua
perbuatan manusia telah diciptakan sebelumnya oleh Tuhan. Tentu saja keduanya berbeda dengan
pendapat Mu'tazilah.
Sebagai reaksi terhadap kelompok rasionalis, maka luas dan tingginya posisi akal menurut
kelompok tersebut, adalah ilustrasi bagi besarnya antipati aliran Sunni terhadap tokoh-tokoh
rasionalis dan ilmu-ilmu rasional. Dalam kaitan itu Pervez menjelaskan,72 bahwa di masa berkuasa,
al-Mutawakkil melakukan penganiayaan fisik terhadap kaum Mu'tazilah dan Syi'ah. Mereka
disingkirkan dari semua jabatan sebagai pegawai kekhalifahan, dituduh pembuat bid'ah, dan
dieksekusi. Sehingga para sarjana dan ilmuwan yang sebagian besar menganut keyakinan yang
rasional pergi meninggalkan Baghdad. Sehingga dapat dibayangkan ketika Sunni menjadi sumber
energi tahap awal sains dan pengkajian Islam. Sikap rasionalis dan sekuler berhadapan langsung
dengan ortodoksi religius. Segera menjadi fakta bahwa pengetahuan aqliyah disamakan dengan
bid'ah dan filsafat dicurigai.
Pervez juga mengatakan bahwa dalam karya sejumlah besar sarjana ortodoks, 'ulm al-aw'il
(sebutan bagi ilmu-ilmu rasional / umum) dengan jelas disebut sanis-sains yang dikecam (al-'ulm
al-mahjrah), dan dilukiskan sebagai kebijaksanaan yang bercampur-aduk dengan kekafiran.
Bahkan Ibrhm ibn Ms berkesimpulan, bahwa rata-rata teolog ortodoks hanya mengakui sainssains yang sangat diperlukan oleh atau bermanfaat bagi amal. Sains-sains yang lain dianggap tidak
bernilai dan hanya menjadikan manusia jauh dari jalan yang lurus. Kaum ortodoksi tidak condong
kepada astronomi, meskipun sebagian pengetahuan astronomi diperlukan untuk menetapkan waktu
shalat dan arah kiblat yang tepat. Seorang guru madzhab Syfi' yang terkenal, Taj al-Dn al-Subki
(w. 1271) menyatakan bahwa pengakajian logika diperbolehkan dengan syarat, terutama, orang
tersebut telah menguasai ilmu-ilmu agama dan mempunyai reputasi sebagai seorang faqih atau

mufti di kalangan penganut madzhab. Namun bagi individu yang tidak mempunyai latar belakang
pendidikan dalam ilmu agama, studi logika harus dianggap sebagai haram.
Aliran ini mendapatkan kejayaannya di bawah kekuasaan sultan Alp Arsln (1036-1072 M.) dan
Mliksyah (1072-1092 M.) dengan Perdana Menterinya Nidlm al-Mulk. Ajaran Mu'tazilah dan Syi'ah
ketika itu benar-benar terkikis habis. Hal itu bukan hanya karena didukung oleh khalifah, tapi juga
karena ideologi-teologinya seirama dengan para khalifah dan mayoritas rakyat. Bahkan hal terakhir
sangat besar implikasinya dalam membuat kebijakan. Berangkat dari sinilah (setidaknya), Hitti
mengatakan bahwa kehadiran kaum Turki ini mengantarkan sebuah era baru dan penting dalam
sejarah Islam dan kekhalifahan.73
Nidlm al-Mulk (w. 485 H. / 1092 M.), adalah salah satu figur penting dalam sejarah politik Islam dan
seorang wazir terampil yang menjalankan administrasi pemerintahan Alp Arsln dan Mliksyah.
Kedudukannya yang begitu penting sehingga Ibn Khallikan, sebagaimana dikutip Hitti,
menyanjungnya dengan ungkapan, "selama dua puluh tahun pemerintahan Mliksyah, Nidlm alMulk menghimpun seluruh kekuasaan dalam genggaman-nya, sementara sang sultan tidak berbuat
apa-apa selain duduk di atas singgasananya atau pergi berburu.74 Selain seorang politikus handal,
Nidlm al-Mulk juga seorang panglima, filsuf, intelek, dan (sekaligus) suka pada para ilmuwan.
Predikat tersebut terefleksi dalam perhatiannya pada praksis intelektual dan pendidikan. Setelah
menyarankan Mliksyah untuk menyelenggarakan konferensi para astronom dan menugaskan
mereka untuk memperbaharui kalender (1074-1075 M), maka proyek selanjutnya adalah
mendirikan sejumlah madrasah (akademi) di beberapa kota, yang diorganisasikan secara baik.
Sesuatu yang relatif baru di masa itu bahkan dalam Islam. Di antara madrasah tersebut, yang
didirikan pertama kali dan, karenanya, paling terkenal dan menjadi prototipe bagi yang lain adalah
madrasah Nidlmiyah yang didirikan pada 1065 M. di Baghdad.75
Sungguhpun bukan sekolah pertama dalam Islam, namun madrasah tersebut merupakan sistem
pertama sekolah khusus yang didirikan oleh negara dan Islam Sunni. Melalui madrasah inilah
pengaruh Sunni ditancapkan. Bahkan berdirinya disinyalir sebagai simbul bagi bangkitnya Sunni,
yang membentuk opini publik Islam Sunni ortodoks terhadap Islam Syi'ah. Aktor utama dalam
madrasah Nidlmiyah yang hingga kini prestise dan pengaruhnya masih terasa adalah Imm alGhazl (w. 1111 M.). Lewat tangannyalah penentangan terhadap sifat sekular dan universalistik
pengetahuan hellenistik yang telah dimulai sejak pertama kali bersentuhan dengan kebudayaan
Islam, mendapatkan kemenangannya. Dia telah memberikan pukulan yang keras terhadap
skolastisisme murni, mengutuk para filsuf bahkan mengkafirkannya.76 Para sejarawan menyebut
dia sebagai penerus dan penyempurna teologi al-Asy'ari yang fondasinya telah dibangunnya jauh
sebelum al-Ghazl.77
Penentanganya terhadap ilmu-ilmu rasionalis terbaca jelas pada sikapnya setelah mempelajari
matematika. Ia berkata: Matematika bukan satu mata kuliah yang diharamkan, namun ia
(matematika) dapat menjurus ke berbagai bahaya dan seringkali menjadi penyebab kekafiran. Yakni
ketika para pengkaji matematika mengagumi ketepatan dan kejelasannya, hal itu menyebabkan
munculnya kepercayaannya terhadap para filsuf dan munculnya pendapat bahwa seluruh sains
mereka mirip dengan matematika dalam kejelasan dan kemampuan ungkapnya. Selain itu, alGhazl telah mendengar penjelasan-penjelasan mengenai kekafiran mereka (para filsuf), penolakan
mereka atas sifat-sifat Tuhan, dan pencelaan mereka atas kebenaran yang diwahyukan: dia menjadi
seorang kafir hanya dengan menerima mereka sebagai otoritas.78
Setelah mengikis habis doktrin Syi'ah di Baghdad dengan menghancurkan dinasti Buwaihi, doktrin
Syi'ah yang berkembang di Mesir dibawah imperium Fathimiyah juga dihilangkan. Adalah Dinasti
Ayyubiyah yang telah merealisasikan hal tersebut. Sebagai konsekuensi, selain Mesir mengakui
kekuasaan khalifah di Baghdad, juga dihidupkan kembali aliran Sunni di wilayah ini. Dan
sebagaimana Nidlm al-Mulk, Nr al-Dn Zanki sebagai salah seorang penguasa Dinasti ini
mendirikan beberapa madrasah untuk menanamkan keparcayaan Sunni pada rakyat. Di masa ini,
pendirian madrasah bahkan bukan saja didominasi oleh kelompok aristokrat, tetapi seluruh
pangeran dan putri-putri kerajaan, dan seluruh lapisan masyarakat sampai khadam-khadam dan
pelayan-pelayan telah ambil bagian dalam usaha mendirikan madrasah dan menyiarkan serta
melindungi ilmu pengetahuan.79
Sebagaimana dijelaskan Nakosteen, studi keagamaan dan sastra, bahasa dan tata bahasa Arab
mendominasi mata kuliah yang ada, sementara filsafat, ilmu pengetahuan dan studi ilmu-ilmu
sosial terabaikan.80 Pernyataan senada juga disampaikan oleh Pervez, bahwa sekitar abad ke-12,
madzhab-madzhab pemikiran yang konservatif dan anti rasionalis hampir benar-benar mengikis
pengaruh Mu'tazilisme. Ignaz Goldziher, lanjut Pervez, mengatakan, meskipun dijumpai minat yang
luas yang ditumbuhkan oleh pengetahuan klasik (al-'ulm al-aqliyah), di beberapa lingkungan Islam
yang religius, dan juga di kalangan para khalifah Abbasiyyah, ortodoks yang kaku selalu
memandang dengan penuh kecurigaan mereka yang meninggalkan sains Syfi' dan Mliki serta
meninggikan pendapat Empedokles sampai tingkat hukum Islam.81
Lebih jauh Nakosteen mengatakan, tujuan madrasah ini adalah untuk mengajarkan madzhab
hukum Syfi'iyyah-Sunni, dengan memberikan aksentuasinya pada pengajaran teologi dan hukum
Islam. Sebagai konsekuensi, adalah mengesampingkan ilmu yang memiliki basis rasio. Bahkan
dengan jelas Hitti mengatakan, bahwa Madzhab skolastik yang dibangun oleh al-Ghazl dan alAsy'ari menahan laju perkembangan Islam hingga saat ini.82