You are on page 1of 18

KORUPSI DAN INTEGRITAS DIRI

Oleh : Hana Makmun


ABSTRAK
Korupsi di Indonenesia masih menjadi isue aktual di Indonesia. Upaya pemerintah dalam
pemberantasan korupsi sudah banyak dilakukan tapi nampaknya korupsi masih menjadi penyakit yang
sulit disembuhkan, dan berdampak buruk bagi rakyat dan negara, seperti hilangnya rasa keadilan dalam
penegakan hukum dan berujung pada sulitnya mencapai kesejahteraan.Oknum pelaku korupsi
merupakan putera-putera bangsa yang hebat dan memiliki kedudukan strategis dalam penengelolaan
negara ini, yang secara intelektual mereka adalah orang-orang yang sangat mumpuni. Kenyataan ini
mengundang pertanyaan apa penyebab korupsi. Ada beberapa penyebab orang melakukan korupsi,
antara lain karena kebutuhan mendesak; keserakahan; ingin bergaya hidup mewah; budaya korup;
kurangnya integritas, dll. Namun, dalam jurnal ini hanya membahas salah satu penyebab korupsi yaitu
kurangnya integritas diri. Oleh karenanya, tulisan ini merekomendasikan upaya pencegahan korupsi
secara prefentif melalui cara edukasi, yaitu dengan pemahaman tentang intergritas diri. Adapun tujuan
penulisan untuk menjelaskan niilai integritas sebagai salah satu solusi pencegahan korupsi, sedangkan
metode yang digunakan adalah studi kepustakaan.

Key words : Penyebab korupsi dan integritas diri

A. PENDAHULUAN.
Korupsi digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).
Jumlah kerugian negara akibat korupsi sangat memprihatinkan, yang lebih
memprihatinkan lagi Indonesia pernah mendapat predikat terkorup se- Asia.
Penyebab korupsi bermacam-macam, antara lain karena kebutuhan, keinginan
bergaya hidup mewah, korup membudaya, kurangnya integritas diri, dll. Namun,
dari beberapa penyebab itu yang dirasakan paling dominan adalah penyebab
kurangnya integritas diri, sehingga perlu pemahaman tentang integritas.
Banyaknya korupsi mengakibatkan negara ini sulit untuk maju, karena negara
banyak menanggung hutang. Negara ini

ibarat

pohon dan pelaku korupsi

adalah benalu. Jadi,

pelaku korupsi bagaikan benalu negara. Bukan

memberikan

kepada

manfaat

negaranya,

namun

sebaliknya

justeru

memberatkan beban negara dan rakyat, sebab semua rakyat harus menanggung
1

beban

membayar

hutang-hutang

negara.

Sampai-sampai,

bayi

dalam

kandungan saja sudah harus menanggung beban hutang negara. Jadi, rakyat
Indonesia ibarat mati kelaparan di lumbung padi. Seharusnya rakyat Indonesia
bisa menikmati hasil-hasil pembangunan negara ini,seperti menikmati hasil
kekayaan alam, hasil hutan, hasil pertanian, hasil bumi, hasil perkebunan, hasil
industri, hasil laut, hasil pembangunan perumahan, hasil jasa perhubungan
(transportasi), dll. Nampaknya negara Indonesia masih jauh dari kemakmuran.
Mengapa demikian, salah satu sebabnya karena korupsi. Seperti yang tertera
dalam kutipan di bawah ini :
Tindak Pidana Korupsi1 di Indonesia sampai saat ini masih belum dapat
diberantas.. Media cetak dan elektronika tak pernah sepi dari berita tindak
pidana korupsi. Reformasi nasional dalam rangka untuk menyapu bersih
praktek korupsi dari seluruh sendi kehidupan bangsa telah berlangsung sejak
tahun 1999 dan kampanye perang terhadap korupsi belum menunjukkan hasil
yang berarti. Menurut UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi, yang disempurnakan dengan UU Nomor 20 tahun
2001 tentang Perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999, memberikan
penjelasan yaitu tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini tidak hanya
merugikan negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran hak-hak
sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana
korupsi dipandang sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus
dilakukan secara luas.2
Pembentukan tim pemberantasan korupsi telah dilakukan oleh pemerintah,seperti
kutipan di bawah ini :
Pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi dilakukan sejak tahun 1967, Komisi
Empat (1970), Komisi Anti Korupsi (1970), OPSTIB (1977), Tim Pemberantas
Korupsi (1982), Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (1999).
Namun upaya ini dirasakan masih jauh dari harapan, sehingga perekonomian
negara terpuruk, sebagaimana yang dinyatakan oleh Indonesian Corruption Watch
(ICW).3
1 Istilah korupsi berasal dari bahasa Latin corruption atau corruptus, yang berarti
kerusakan atau kebobrokan. Perbuatan yang tidak baik,curang, dapat disuap, tidak
bermoral, melanggar aturan norma agama dan hokum.
2 IGM Nurdjana, Korupsi Dalam Praktek Bisnis, Gramedia, Jakarta, 2005, hal. X.
3 Chairil A. Adjis, dkk, Kriminologi Syariah, Wahana Semesta Intermedia, Jakarta,
2007, hal. .
2

Sekretariat Utama Biro Hukum dan Humas BPKP menuliskan Selama ini
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia sudah
dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan khusus yang berlaku
sejak tahun 1957 dan telah diubah sebanyak 5 (lima) kali, yaitu Peraturan
Pemberantasan korupsi penguasa Perang Pusat Nomor Prt/Peperpu/013/1958; UU
(Prt) Nomor 24/1960; UU Nomor 3/1971; UU Nomor 31/1999; UU Nomor 20/2001
dan UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).
Akan tetapi upaya pemberantasan tindak pidana korupsi berdasarkan peraturan
perundang-undangan tersebut belum maksimal, hal tersebut ditunjukan dengan
kenyataan bahwa korupsi di Indonesia masih menduduki ranking tinggi diantara di
negara-negara lain di dunia. Upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, disamping
upaya refresif juga dilakukan melalui upaya prefentif dan edukatif 4
Upaya pemberantasan korupsi ini sudah banyak dilakukan oleh pemerintah, antara lain
mengeluarkan UU Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
Tahun 2004 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Instruksi Presiden RI
Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Undang-Undang
tersebut diharapkan mampu mengantisipasi perkembangan kebutuhan hukum dalam
rangka memberantas dan mencegah secara lebih efektif setiap bentuk tindak pidana
korupsi yang sangat merugikan keuangan negara pada khususnya, serta bangsa pada
umumnya.5
Berbagai upaya pemberantasan tindak pidana korupsi berupa kerjasama yang
dilakukan antara Kepala BPKP Pusat dengan Jaksa Agung Tahun 1994; Kepala
BPKP Pusat dengan Jaksa Agung RI Tahun 1989; Kepala BPKP Pusat dengan
Kepala Kepolisian RI Tahun bulan April 2002; Kepala BPKP Pusat dengan Kepala
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan April Tahun 2007; Kepala BPKP
Pusat dengan Ketua KPK April 2007; Nota Kesepahaman antara Kejaksaan RI,
Kepolisian RI dan BPKP September 2007; Ketua KPK dengan Kepala BPKP bulan
Mei 2008.6
Berbagai barier telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam upaya

mencegah tindak

pidana korupsi. Pengawasan melekat oleh atasan langsung; pengawasan dari

4 Implementasi United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi PBB


Anti Korupsi, 2003) Setelah Diratifikasi Melalui UU No. 7 Tahun 2006 Ke dalam UU
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Sekretariat Utama Biro Hukum
dan Humas, Jakarta, 2008, hal.1, 2, 39.
5 Penjelasan umum Undang-undang nomor 31 tahun 1999.
6 Naskah Kerjasama Dalam Rangka Mendukung Penegakan Hukum, Jakarta, 2008.
3

Inspektorat Kabupaten/Kota; Untuk Departemen diperiksa oleh Irjen Departemen


masing-masing; BPKP; BPK; dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pengawasan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut di atas
lebih kepada upaya pemberantasan refresif, dimana tindak pidana nya sudah terjadi,
artinya kerugian keuangan negara telah terjadi. Tidaklah mudah menarik kembali uang
yang sudah dikorup, sebagaimana yang diutarakan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudoyono, sebagai berikut :
Dan seperti yang dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa menindak
koruptor adalah harus. Tapi, sekali terjadi korupsi, sudah terjadi kerusakan, dan tidak
semudah itu menarik aset dan uang negara yang dikorupsi. Oleh karena itu, lakukan
segala upaya untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dengan sebaik-baiknya.
Itu lebih mulia, lebih menenteramkan, lebih edukatif dan konstruktif. Jangan menunggu
sampai seseorang melakukan korupsi, padahal sebetulnya kita bisa mencegahnya.7
Aturan hukum yang telah didesain sedemikian rupa nampaknya belum mampu
membuat jera orang berbuat korupsi, malah masih banyak orang korupsi dengan
berbagai modus operandi. Oleh karenanya dalam jurnal ini menawarkan salah satu
upaya pencegahan korupsi secara prefentif melalui pemahaman integritas diri.

B. FENOMENA TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA.


Kondisi yang lebih memprihatinkan bangsa ini adalah oknum-oknum pelaku
korupsi adalah oknum pejabat publik negeri ini, seperti jabatan

menteri, gubernur,

bupati/walikota dan pejabat publik lainnya seperti pejabat bank, dll.


Data korupsi di bawah ini untuk menggambarkan betapa prihatinnya moral
integritas pelaku.

Meskipun ini bukan data terbaru, tapi ini bisa menggambarkan

betapa besar kerugian negara akibat pelaku korupsi.


Data Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP) dalam kurun
waktu kurang dari lima tahun, yakni dari tahun 2004-2007, hasil audit
investigasi BPKP menemukan adanya kerugian negara akibat korupsi hingga
7 Susilo Bambang Yudhoyono, Pidato Presiden RI acara Pembukaan Rakernas
Pengawasan Intern Pemerintah, Biro Presiden Media Rumah Tangga Kepersidenan,
2006, hal.7.
4

Rp. 1,9 triliun. Sekitar 75 persennya berkaitan dengan proyek pengadaan


barang dan jasa. Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan
negara kehilangan Rp 36 triliun pertahun akibat kelalaian pengadaan barang
dan jasa. Sedangkan data terbaru dari Indonesian Corruption Watch (ICW)
menyebutkan selama kurun waktu tiga tahun terakhir, kerugian negara akibat
tindak pidana korupsi mencapai Rp 24 triliun. 8
Transparency International mencatat Corruption Perpections Index tahun
2008 menempatkan Negara Indonesia pada ranking ke- 126 dari jumlah 180
negara.9
Dalam catatan Mollucas Democratization Watch (MDW), sejumlah kasus
korupsi di Maluku, di Level propinsi, eksekutif kasus korupsi dana Inpres
No.06 tahun 2003 senilai Rp 2,1 triliun dan dana keserasian senilai 35,5
miliar. Lembaga legislatifnya periode 2004-2009 kerugian negara dalam
kasus Tunjangan Komunikasi Intensif (TKI) senilai Rp 5,3 miliar, sedangkan
kasus pembangunan kantor DPRD Maluku senilai Rp 49 miliar. Di Universitas
Pattimura Ambon, kasus proyek pengadaan laboraturium MIPA senilai Rp
800 juta, kasus pengadaan genset senilai Rp 8 miliar, dan kasus suap saat
pemilihan rektor senilai 1,1 miliar. Sedangkan di level kabupetan/kota: kasus
pengadaan 6 buah unit kapal di Kabupetan Maluku Tenggara Barat senilai 2,
7 miliar dan kasus lapangan terbang ; di Seram Bagian Timur kasus proyek
jalan Dawang-Masiwang senilai Rp 10, 4 miliar; dan kasus gerhan senilai 1, 3
miliar di Kabupaten Aru.10
Korupsi yang pelakunya anggota DPR tahun 2008 antara lain N A R dari
fraksi Reformasi sejumlah Rp 1,5 milyar dalam kasus pengadaan tanah
Pusdiklat Bapeten. SS dari fraksi Golkar Rp 4,7 milyar kasus pengadaan
pemadam kebakaran. Al- AN dari fraksi PPP Rp 3 milyar kasus alih hutan
lindung di Bintan. AZA dan HY Rp 31,5 milyar kasus aliran dana BI. ST dari
fraksi Partai Demokrat. BR dari fraksi PBR Rp 60.000 dolar As. Y.F dari fraksi
PKB kasus hutan lindung Tanjung api-api. AH dari fraksi PAN Rp 2 milyar
8 Mohamad Ikhsan Tualeka, Ayo Bangkit dan LawanCatatan Untuk Hari Anti Korupsi
SeduniaKoordinator Mollucas Democratization Watch (MDW),Opini Ambon Ekspres, 9 Desember 2008,
hal. 2.

9 Transparency International, cpi 2008 table/epi 2008//news room, hal. 4


10 Mohamad Ikhsan Tualeka, Ayo Bangkit dan Lawan-Catatan Untuk Hari Anti Korupsi Sedunia, Koordinator Mollucas
Democratization Watch (MDW),Opini Ambon Ekspres, 9 Desember 2008, loc.cit hal. 2.

rupiah kasus percepatan pembangunan dermaga dan bandara di kawasan


timur Indonesia.11
Sebagai sampling, data akurat dari temuan kasus tindak pidana korupsi di
salah satu Propinsi (Jawa Barat) untuk Tahun 2006, 2007 dan 2008. Selama
3 TA kerugian akibat korupsi di Provinsi Jawa Barat sebesar Rp.
271.879.705.552,09,-atas 121 kasus dan 170 pelaku.12
Dalam 3 TA di Provinsi Jawa Barat telah terjadi ratusan kasus dan ratusan
orang pelaku

koripsi.

Dapat diperkirakan bila tindak pidana korupsi

dilakukan dalam kurun waktu 51 tahun (sejak Tahun 1957), dan berapa besar
kerugian negara pertahun yang dilakukan oleh pelaku di 33 provinsi.

C. PENYEBAB KORUPSI DAN INTEEGRITAS DIRI.


Korupsi dilakukan karena berbagai sebab, antara lain karena kebutuhan mendesak,
keserakahan; ingin bergaya hidup mewah; budaya korup; kurangnya integritas, dll.
Dalam jurnal ini hanya membatasi pada salah satu penyebab yang dipandang paling
dominan dalam menjerumuskan orang melakukan kejahatan korupsi, yaitu penyebab
kurangnya integritas diri.
Tindak pidana korupsi disebabkan karena kurangnya memiliki nilai integritas diri.
Integritas diri sangat penting untuk menjadi benteng diri dari kejahatan. Jika integritas
sudah dimiliki dalam diri, maka tidak akan tertarik berbuat kejahatan, bahkan merasa
sangat tersiksa batin/ruhani. Seseorang yang menjunjung tinggi nilai integritas dalam
dirinya hanya akan menfokuskan diri pada pekerjaan-pekerjaan positif dan manfaat diri,
tidak akan rela batinnya membiarkan dirinya melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat,
apalagi melakukan kejahatan yang bisa merugikan dirinya sendiri, keluarganya,
rakyatnya dan negaranya. Sebab korupsi pasti berakibat merugikan diri sendiri, seperti
jatuhnya harkat dan martabat diri, jatuhnya prestise, hilang harga diri, mempermalukan
11 Dri dkk, Anggota DPR Ditangkap Lagi, Republika, Rabu, 4 Maret 2009.
12 Peta Korupsi di Provinsi Jawa Barat, BPKP Jabar, hal. 8
6

keluarga besar, menjadi pesakitan dan terkurung di penjara. Tidaklah mudah


mengembalikan citra diri penjahat. Terlebih penjahat yang berkaitan dengan uang,
sangat peka dengan trust. Sekali lancong ke ujian seumur hidup orang tidak percaya.
Artinya, jika trust sudah tak lagi dimiliki bagaimanakah bisa

dipercaya, hilang

kredibilitas. Disinilah letak kuncinya mengapa integritas sangat penting untuk mencegah
diri dari berbuat korupsi.
Integritas dalam bahasa Inggeris adalah integrity yang artinya sifat jujur dan lurus.
Berhubung pentingnya nilai integritas dalam pemberantasan korupsi, pejabat yang
dilantik diharuskan menandatangani pakta integritas. Integritas itu mencakup empat
nilai luhur manusia, yaitu kejujuran, tangung jawab, berani dan bijaksana.
Empat nilai luhur ini yang menjadi modal dasar setiap diri, baik dalam berkarier
maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk modal dasar untuk
mencegah diri dari berbuat korupsi. Jika nilai-nilai luhur tersebut dimiliki, maka diri akan
selamat dari korupsi.Jika nilai integritas melekat dalam diri, maka tindak pidana korupsi
tidak akan terjadi. Artinya dengan memiliki nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, nilai
keberanian dan nilai kebijaksanaan, orang akan enggan

melakukan tindak pidana

korupsi meskipun ada kesempatan untuk melakukan korupsi.


Sebagaimana teori Hukum Alam, yaitu teori secullar theories bahwa manusia memiliki
konsep moralitas yang melekat padanya. Moralitas yang timbul dalam hati dengan
sendirinya dalam bentuk suara hati nurani (conscience), dijadikan sebagai prinsipprinsip dasar yang merupakan landasan bagi kegiatan manusia yang patuh.

13

Nilai integritas yang pertama adalah nilai kejujuran.


Orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, ia tak akan mau mengambil uang dan
barang yang bukan menjadi haknya. Apalagi

sampai merugikan keuangan negara,

yang berakibat merugikan rakyat banyak. Oleh karena pentingnya, nilai kejujuran juga
salah satu dasar pengukuran penilaian kinerja PNS (DP3). Formulanya, orang yang
menjunjung tinggi nilai kejujuran tak akan membiarkan dirinya rugi dan merugikan hak
orang lain. Orang yang

memiliki nilai kejujuran menginginkan dirinya selalu dalam

13 Asyhar Hidayat, Bahan Teori Hukum Alam, Unisba, Bandung, 2008, hal.1.
7

kemanfaatan. Kuncinya, orang yang memiliki kejujuran disebabkan karena ia hanya


ingin tetap berpijak pada kebenaran dan lurus. Memiliki prinsip tidak mau menyimpang
dari kebenaran. Sebab jika menyimpang dari rel kebenaran, maka itulah titik awal dari
kehancurannya. Biasanya, orang yang tidak jujur awalnya berani melakukan
kecurangan, berlanjut pada kecurangan-kecurangan yang lebih besar. Namun bagi
yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, ia tidak akan mau membiarkan dirinya untuk
tidak jujur. Sedangkan korupsi itu sediri dipenuhi dengan kecurangan (ketidakjujuran).
Bagi orang-orang jujur tidak akan sanggup untuk melakukan

korupsi,

alasannya

sangat berat menyandang beratnya beban batin jika melakukan kejahatan tersebut.
Orang yang jujur paham bahwa ada larangan di hati nuraninya. Sebelum orang
bertanya kepada ahlinya apakah korupsi itu jahat atau tidak, hati nuraninya sudah
menjawab dengan tegas bahwa korupsi tidak dibenarkan karena mengambil hak orang
lain dan merugikan keuangan negara. Mengambil yang bukan hak itu sama dengan
mencuri.
Nilai kejujuran dimiliki oleh siapapun, bagi siapa saja yang ingin memunculkan dan
memancarkan cahaya kejujuran itu, maka selamatlah kariernya. Bagaimana cara nilai
kejujuran itu mampu bersinar dalam kehidupan berkarir, maka disiplinlah melatih ke
jujuran, terutama kejujuran pada yang hak dan yang bukan hak, sebab kejujuran adalah
modal utama untuk ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Dengan kejujuran
seseorang tak akan

korupsi,sebab korupsi mengandung kejahatan, kebohongan,

kecurangan, persekongkolan, penyalahgunaan kekayaan/aset negara. Orang yang jujur


tidak sanggup

membiarkan dirinya masuk dalam lingkaran kejahatan. Hal ini

sebagaimana yang disebutkan oleh kode etik dan standar audit di bawah ini :
Kode Etik dan Standar Audit BPKP menyebutkan bahwa integritas adalah
kepribadian yang dilandasi nilai kejujuran, keberanian, kebijaksanaan dan tanggung
jawab, sehingga menimbulkan kepercayaan dan rasa hormat. Jujur adalah perpaduan
dari keteguhan watak dalam prinsip-prinsip moral (lurus hati), tabiat suka akan
kebenaran (tidak curang), tulus hati (ikhlas) serta berperasaan halus mengenai etika
keadilan dan kebenaran. Untuk kejujuran, diperlukan orang yang taat pada segala
aturan, baik sedang diawasi maupun tidak;
bekerja sesuai dengan keadaan
sebenarnya, tidak menambah maupun mengurangi fakta yang ada; tidak menerima

segala sesuatu dalam bentuk apapun yang bukan haknya, yang dapat mengganggu
integritas serta mengurangi objektivitasnya. 14
Korupsi

mengandung

serangkaian

kejahatan

yang

menjauhkan

orang

dari

kebahagiaan. Hati tidak akan mencapai kebahagiaan jika dipenuhi dengan kejahatan
dan kebohongan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pemimpin spiritualis Hindu,
Mahatma Gandi, Kebahagiaan adalah jika apa yang dipikir, apa yang diucapkan dan
apa yang dilakukan itu selaras.15
Semua manusia

merindukan kejujuran. Sifat jujur adalah salah satu nilai luhur

manusia, bahkan yang paling luhur. Nilai luhur manusia yang bersumber dari ajaran
akhlak Rasulullah SAW.

Dengan memahami nilai kejujuran ini diharapkan dapat

terinternalisasi dalam diri, sehingga tercegah diri dari berbuat korupsi.


Nilai integritas yang kedua adalah tanggung jawab.
Jika diamati, nilai tanggung jawab adalah juga salah satu nilai luhur manusia.
Seseorang yang melakukan korupsi tentu saja tidak memiliki nilai tanggung jawab
dalam peran tugasnya. Nilai tanggung jawab sangat tinggi nilainya. Nilai ini
dikehendaki oleh siapapun. Contohnya, para pimpinan menghendaki anak buahnya
bertanggung jawab; para anak buah menghendaki pimpinannya bertanggung jawab;
Isteri menghendaki suami yang bertanggung jawab, dan sebaliknya; Mertua
menghendaki menantu yang bertanggung jawab; Majikan meinginkan karyawannya
bertanggung jawab. Dimanapun, nilai tanggung jawab ini dikejar dan dirindukan oleh
siapapun. Tidak ada yang suka dengan orang yang tidak bertanggung jawab.
Nilai tanggung jawab juga salah satu dasar pengukuran penilaian kinerja PNS (DP3).
Nilai tanggung jawab sangat dibutuhkan dalam semua sisi kehidupan, terutama sekali
di tempat dimana berkarir mencari nafkah.
Kode Eti dan Standar Audit, BPKP menyebutkan bertanggung jawab adalah suatu
sikap yang tidak mengelak tugas, tidak menyalahkan orang lain atau mengakibatkan
14 Kode Etik dan Standar Audit, Pusdiklatwas BPKP, Jakarta, 2002, hal. 17.
15 Harian Seputar Indonesia, Indonesia, Jakarta, 2008, hal. 1
9

kerugian/kemungkinan kerugian kepada orang lain dan dapat pula diartikan sebagai
tindakan untuk menyelesaikan setiap tugas sebagaimana mestinya; berani mengambil
resiko yang merupakan pekerjaan.16
Korupsi dilakukan di tempat dimana seseorang bekerja mencari nafkah.
Idealnya orang yang bekerja mencari nafkah harus bertanggung jawab dalam
pekerjaannya. Jika bertanggung jawab maka orang tidak akan korupsi. Mencari rizki
pada

hakekatnya

adalah

mencari

karunia-Nya

dimana

seseorang

bertugas.

Seyogyanya dapat memberikan manfaat sebagai wujud dari tanggung jawab. Namun
jika melakukan korupsi maka berarti bertolak belakang dari nilai tanggung jawab,
bahkan membawa kerugian, baik bagi diri sendiri maupun bagi negara. Jika setiap
orang memahami bahwa dirinya bekerja pada hakekatnya adalah sebagai khalifah
mewakili Allah, yang diserahi tanggungjawab untuk mengurus segala urusan sesuai
dengan profesi keahlian masing-masing, yang difokuskan hanya pada manfaat, maka
setiap orang

tidak akan melakukan

korupsi. Karena korupsi tidak saja harus

bertanggung jawab kepada hukum, rakyat dan negara tapi yang lebih berat lagi wajib
mempertanggungjawabkannya kepada Allah.
Jika korupsi hanya bertanggung jwab kepada Inspektorat, BPKP, BPK, KPK. Hal
itu

masih ringan dibandingkan

dengan

tanggungjawab kepada

Allah, karena

hukuman hakim tidak mengurangi hukuman Allah. Dan bila menjunjung tinggi nilai
tanggung jawab maka Allah suka. Sebaliknya, jika korupsi maka Allah tidak menyukai.
Jika seseorang bertanggung jawab tidak berbuat korupsi, artinya ia sudah taat pada
larangan-Nya Taat artinya tidak melanggar aturan-Nya. Nilai tanggung jawab ini
merupakan salah satu nilai integritas, yang diharapkan setiap orang memiliki integritas
dalam pekerjaannya. Sehingga dengan tanggung jawab itu mampu mengendalikan diri
dari korupsi.
Integritas yang ketiga adalah berani. Artinya seseorang yang memiliki
keberanian. Keberanian sangat dibutuhkan bagi siapa saja, terutama dalam kehidupan
berkarir. Setinggi apapun tingkat intelektual seseorang jika tidak memiliki keberanian
16 HT. Ridwan Jaafar, Kode Eti dan Standar Audit, BPKP, Jakarta, 2002, Hal. 17.
10

dalam mengambil sebuah keputusan, maka belumlah sempurna. Sebab tanpa sebuah
keberanian, maka orang

terjebak dalam kebingungan.

Kondisi kebingungan inilah

yang menyebabkan seseorang ikut terjerumus dalam kejahatan korupsi. Keberanian


dalam memilih melakukan atau tidak melakukan; bertindak atau tidak bertindak;
mengikuti atau menolak; menerima atau tidak.
Seseorang yang memiliki keberanian merupakan orang yang memiliki prinsip yang
kuat, kuat pada kebenaran. Dan orang yang ingin berpijak pada kebenaranlah yang
memiliki prinsip yang kuat. Keberanian untuk menindak tegas pada seseorang yang
melanggar aturan korupsi.
Besar kemungkinan karena kurangnya keberanian dalam menindak tegas para
pelanggar UU Nomor 31 Tahun 1999 yang menyebabkan orang semakin berani
korupsi. Oleh karenanya keberanian sebagai salah satu nilai integritas, akan menjadi
solusi untuk mencegah korupsi.
HT. Ridwan Jaafar, dalam Kode Etik dan Standar Audit mengatakan : Contoh
keberanian misalnya, tidak dapat diintimidasi dengan tekanan apapun. Keberanian
dapat pula diartikan sebagai tindakan yang menurut keyakinannya perlu dilakukan.
Keberanian adalah sikap mantap dan memiliki rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi berbagai kesulitan.17
Ahmad Amin, dalam buku Ethika (Ilmu Akhlak) menuliskan sebagai berikut :
Keberanian tergantung kepada dapat menguasai jiwa dan berbuat menurut
semestinya. Seseorang yang dapat menguasai jiwanya dan berbuat apa yang wajib
dilakukan di dalam kedudukannya. Seorang yang berani ialah tidak banyak memikirkan
kejadian-kejadian yang buruk, tapi bila terkena hati tidak goyah. Bahkan sabar dan
menanggungnya dengan keteguhan hati. Keberanian juga dapat tercermin dari
melahirkan pendapatnya dan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Meskipun menjadi
pembicaraan banyak orang, dan menimbulkan marahnya pimpinan. Tak takut membela
hak dan pendirian. Dia berani berkata benar dengan sopan dan berani mengakui
kesalahan walau mendapat hukuman. Orang-orang yang berani adalah orang yang
cinta pada kebenaran, berani berkata yang hak. Contoh keberanian dapat dilihat dari
Ibnu Rusyd yang bekerja dengan filsafat. Ibnu Taimiyah dengan ilmu yang menyalahi
pendapat-pendapat ahli fikih pada zamannya. Galelio yang berani mengatakan bahwa
bumi berputar mengelilingi matahari. Kesimpulannya, keberanian adalah sanggup
17 HT. Ridwan Jaafar, Kode Eti dan Standar Audit, loc.cit. hal. 17.
11

berdiri dengan hak dan benar dan mempertahankannya. Diantara sifat keberanian ini
ialah orang yang memberi kebaikan kepada manusia, seperti orang yang mengetahui
penyakit masyarakat, lalu menyediakan waktu hidup dan tenaganya untuk mempelajari
dan mengetahui sebab-sebabya, lalu bekerja dengan giat untuk mengobati penyakit
masyarakat tersebut. Ia hadapi kesulitan dengan tabah, maka itu adalah lebih berani
daripada tentara yang maju digaris depan. 18
Carol Osborn, 100 Nasihat Bijaksana Kong Hu Chu tentang Kehidupan dan Bisnis
menuliskan : Keberanian adalah salah satu kualitas yang dikagumi dan dihargai oleh
kebanyakan pemimpin.19
Mengapa keberanian merupakan salah satu dari nilai integritas dalam pencegahan
korupsi? Sebab dengan keberanianlah seseorang mampu memilih satu pilihan hidup
untuk tidak berbuat korupsi. Keberanian menolak

sebuah pelanggaran, sehingga

dengan keberaniannya mampu mencegahnya dari berbuat korupsi.


Hidup dalam lingkungan dimana orang berlomba korupsi, namun berani menolak
korupsi, maka itulah pilihan yang berani. Keberanian merupakan salah satu dari nilai
luhur manusia. Setinggi-tingginya jabatan seseorang jika tak memiliki keberanian,
maka belumlah bisa disebut pimpinan ideal. Seorang harus berani mengambil resiko
dalam jabatan. Jika orang berani menolak resiko korupsi, maka inilah pimpinan ideal.
Keberanian menolak korupsi memang sulit, namun jauh lebih sulit dan rumit bila
terlanjur masuk dalam perangkap lingkaran korupsi. Sekali masuk dalam perangkap
korupsi, maka sulit untuk melepaskan diri dari jerat hukum dan penjara. Bukan hanya
jerat hukum, tapi juga korupsi menjatuhkan nilai prestise. Tak lagi diri bernilai karena
kejahatan korupsi. Disinilah dibutuhkan keberanian menolak. Lawan dari berani adalah
penakut atau pengecut. Pengecutnya pelaku korupsi akan nampak jelas pada saat
berhadapan dengan perangkat hukum di sidang pengadilan. Dengan upaya dusta di
persidangan membuat kesaksian berbelit-belit. Oleh karena itu pentingnya keberanian
yang terkandung dalam niai integritas untuk mencegah korupsi.
Integritas keempat adalah bijaksana.
18 Ahmad Amin, Ethika (Ilmu Akhlak), Bulan Bintang, Jakarta, hal. 233-239.
19 Carol Osborn, 100 Nasihat Bijaksana Kong Hu Chu tentang Kehidupan dan Bisnis,
Binarupa Aksara, 1997, hal.264.
12

Ada yang mengartikan bijaksana sebagai sikap yang selalu menimbang permasalahan
berikut akibat-akibatnya dengan seksama. Darimana datangnya bijak? Apakah orang
bisa sekonyong-konyong menjadi bijak? Tentu saja tidak.
Nilai bijaksana merupakan salah satu nilai luhur manusia. Seseorang tidaklah mungkin
mampu memiliki nilai bijaksana, jika tidak memiliki beberapa nilai luhur lainnya. Untuk
bisa mencapai bijaksana dalam diri seseorang haruslah memiliki adil. Dan untuk adil
tidaklah mungkin jika tidak memiliki sifat obyektif. Sifat obyektif tidak mungkin ada
dalam diri seseorang jika tak berpijak di atas kejujuran. Dan jujur tidaklah mungkin ada
jika seseorang tidak berpijak pada garis orbit

kebenaran. Inilah kunci bijaksana.

Bijaksana hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang konsisten pada kebenaran dan
kejujuran. Dan jika ditarik lagi lebih dalam, mengapa orang ingin mencari yang benar
dan kebenaran?

karena ingin jelas tentang kehalalan,

sehingga terhindar darii

sesuatu yang haram. Inilah rumus panjang tentang bijaksana, sehingga nilai bijaksana
dipandang ampuh untuk mencegah korupsi.
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Araaf (181), yang artinya Dan diantara
orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan
(dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil. 20
Sifat bijaksana ini telah dicontohkan oleh Allah dalam nama-Nya Al-Hakiim, pemilik
sifat bijaksana. Demikian pula yang dilakukan para ahli filsafat (filsuf). Mereka para ahli
pikir yang berpikir dan cenderung berjalan pada kebenaran. Mereka cinta pada
kebijaksanaan, sehingga mereka

disebut sebagai orang bijak. Adapun pelaku

kejahatan korupsi sangatlah bertolak belakang dengan nilai bijaksana. Sehingga untuk
mencegah korupsi sangat cocok dengan pendekatan integritas.
Bagaimana cara untuk menumbuhkan nilai integritas dalam diri, yaitu dengan cara
komitmen untuk terus melatih diri secara konsisten agar nilai-nilai tersebut dapat
terinternalisasi dalam diri, dan menjadi reflek perilaku spontanitas. Dengan demikian
dapatmenjadi benteng diri dari berbuat korupsi..

20 Al-Quran dan Terjemahnya, Diponegoro, Bandung, hal. 138.


13

D. PENUTUP/SIMPULAN.
Salah satu penyebab korupsi adalah kurangnya integritas diri. Nilai integritas sangat
dibutuhkan untuk membangun kepercayaan/trust. Sehingga untuk mencegah korupsi
sangat cocok dengan pendekatan integritas. Nilai integritas mengandung nilai-nilai
luhur manusia,yaitu kejujuran,tanggung jawab,berani, bijaksana. Bukti penting integritas
ini

dikukuhkan dalam wujud nyata penandatanganan pakta integritas. Bagi para

pejabat.

Jadi,

makna

integritas

harus

dipahami

secara

dalam,

sehingga

penandatanganan pakta integritas bermakna dalam diri.


Bagaimana cara untuk menumbuhkan nilai integritas, yaitu dengan cara komitmen
untuk terus melatih diri secara konsisten agar nilai-nilai tersebut dapat terinternalisasi
dalam diri, dan menjadi reflek perilaku/spontanitas. Dengan demikian dapat menjadi
benteng diri dari berbuat korupsi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Amin, Ethika (Ilmu Akhlak), Bulan Bintang, Jakarta.
Asyhar Hidayat, Bahan Teori Hukum Alam, Unisba, Bandung, 2008.
Carol Osborn, 100 Nasihat Bijaksana Kong Hu Chu tentang Kehidupan dan Bisnis,
Binarupa Aksara, 1997.
Chairil A. Adjis, dkk, Kriminologi Syariah, Wahana Semesta Intermedia, Jakarta, 2007.
Dri dkk, Anggota DPR Ditangkap Lagi, Republika, Rabu, 4 Maret 2009.
HT. Ridwan Jaafar, Kode Eti dan Standar Audit, BPKP, Jakarta, 2002.
HT. Ridwan Jaafar, Kode Eti dan Standar Audit.
Harian Seputar Indonesia, Indonesia, Jakarta, 2008.
Implementasi United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi PBB Anti
Korupsi, 2003) Setelah Diratifikasi Melalui UU No. 7 Tahun 2006 Ke dalam UU
14

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Sekretariat Utama Biro Hukum


dan Humas, Jakarta, 2008.
Istilah korupsi berasal dari bahasa Latin corruption atau corruptus, yang berarti
kerusakan atau kebobrokan. Perbuatan yang tidak baik,curang, dapat disuap, tidak
bermoral, melanggar aturan norma agama dan hukum.
IGM Nurdjana, Korupsi Dalam Praktek Bisnis, Gramedia, Jakarta, 2005.
Kode Etik dan Standar Audit, Pusdiklatwas BPKP, Jakarta, 2002.
Mohamad Ikhsan Tualeka, Ayo Bangkit dan LawanCatatan Untuk Hari Anti Korupsi
SeduniaKoordinator Mollucas Democratization Watch (MDW),Opini Ambon Ekspres, 9
Desember 2008.
Naskah Kerjasama Dalam Rangka Mendukung Penegakan Hukum, Jakarta, 2008.
Peta Korupsi di Provinsi Jawa Barat, BPKP Jabar.
Penjelasan umum Undang-undang nomor 31 tahun 1999.
Susilo Bambang Yudhoyono, Pidato Presiden RI acara Pembukaan Rakernas
Pengawasan Intern Pemerintah, Biro Presiden Media Rumah Tangga Kepersidenan,
2006.
Transparency International, cpi 2008 table/epi 2008//news room.

15

Naskah Jurnal

PENYEBAB KORUPSI DAN INTEGRITAS DIRI

OLEH

16

HANA MAKMUN,SH, MH

Mempertajam makna materi mata ajar dalam setiap proses pembelajaran Yang
mana setiap tahun dianggarrkan untuk pembiayaan bidang-bidang tersebut,
yang telah dikenal dengan nama Anggaran Pengeluaran Belanja Negara, dan
untuk daerah-daerah dikenal dengan Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah.
Sadar atau tidak sadar, setiap hitungan 12 bulan anggaran tersebut dialokasikan
17

untuk setiap bidang yang disebutkan di atas. Dan setiap akhir tahun tutup buku
kita diminta laporan pertanggungjawaban dari semua kegiatan pemerintah yang
menggunakan dana anggaran tersebut. Mestinya setiap OPD di tingkat Pusat
maupun tingkat Daerah berlomba-lomba memamerkan dengan bangga hasil
pembangunan OPD masing-masing, sebagai tanda bukti bahwa akuntabilitas
dalamkonsep good governance telah diimplementasikan pada semua OPD di
seluruhIndonesia,hal ini mengingat bahwa seluruh kinerja OPD mengarah pada
pencapaian tujuan Nasional. Namun,tidak demikian adanya.
1.

18