You are on page 1of 6

1

Amanat pada biografi Jokowi Si Tukang Kayu karya Gatotkoco Suroso adalah kerja
keras, kemandirian, dan selalu bersyukur.
Tema dari biografi ini adalah kemiskinan. Bagian demi bagian menunjukan bahwa
persoalan yang paling ditonjolkan dalam biografi ini menyangkut dengan masalah
kemiskinan. Hal ini membuat kehidupan yang dijalani sangat sederhana. Kisah dalam
buku ini menggambarkan kehidupan masyarakan kalangan bawah yang terkesan apa
adanya dalam menjalani kehidupan. Persoalan tersebut menimbulkan konflik para
tokoh yang kemudian melahirkan peristiwa-peristiwa.
Pada bagian pertama biografi ini nampaknya jelas mempersiapkan tema yang akan
diungkapkan. Bagian yang langsung menggambarkan kehidupan akan sebuah kondisi
kemiskinan. Bagian ini menceritakan awal kehidupan dan keluarga tokoh utama,
yaitu Jokowi. Jokowi adalah anak sulung dari pasangan suam istri yang bernama
Notomiharjo dan Sujiatmi, sebuah keluarga yang tinggal di Bantaran Kali Anyar,
Solo, Jawa Tengah. Jokowi mempunyai tiga adik bernama Lit Sriyantini, Hidayati,
dan Titik Ritawati. Bapak dari Jokowi memiliki usaha kecil dengan menjadi
pengumpul sekaligus berdagang kayu dan bambu. Sebagai anak sulung Jokowi
memiliki tanggung jawab akan keluarganya, sering kali Jokowi kecil membantu
kegiatan bapaknya sebagai pengumpul kayu dan bambu. Sebuah usaha yang paspasan dilakukan keluarga sederhana ini guna memenuhi kebutuhan sehar-hari
keluarga. Jokowi kecil sudah sadar akan keadaan keluarganya yang apa adanya dalam
hal perekonomian. Berikut ini adalah kutipanya persoalan yang menunjukan bahwa
keluarga Jokowi adalah keluarga yang miskin.

Pengalaman membantu Bapak membuatku juga jadi tahu kalau mencari


uang itu tidaklah mudah. Saat itu, uang sekolahku dan tiga adikku terkadang
telat. Jangankan uang jajan, buat makan sehari-hari saja sudah terbiasa
dicukup-cukupkan. (SK(Sekar Pangkur), hal 3)

Dari kutipan diatas sangat jelas tergambarkan akan sebuah kemiskinan dalam
menjalani kehidupan. Jokowi kecil sudah menyadari bahwa hidup yang ia jalani
amatlah susah. Kesusahan itu bahkan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia
yaitu untuk makan. Cukup memprihatinkan sekali nasib dimasa kecil Jokowi.
Keluarga Jokowi sering berpindah-pindah tempat tinggal. Hal ini disebabkan karena
mereka tinggal di bataran kali bukan tinggal di tanah milik sendiri. Resiko ketika
harus tinggal di bantaran kali adalah sewaktu-waktu jika ada gusuran maka harus
pasrah menerimanya. Itupun yang harus dirasakah oleh keluarga ini yang harus
mengalami gusuran sewaktu Jokowi SD ketika Pasar Gilingan digusur. Adanya
persoalan ini membuat Ayah Jokowi bingung karena tidak memiliki cukup uang
untuk membangun sebuah rumah lagi. persoalan ekonomi yang serba pas-pasan
membuat Jokowi menjalani kehidupan seperti ini. Berikut adalah kutipannya.
Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli bahan bangunan membangun
rumah. Karena itu, untuk sementara kami sekeluarga menumpang di rumah
Pakde Miyono." (SK(Sekar Pangkur), hal 6)

Dari kutipan di atas jelas sekali bahwa pengarang mengungkapkan persoalan yang
mendasar pada bagian awal cerita, yaitu kemiskinan. Persoalan inilah yang dijadikan
tema di dalam bografi Jokowi Si Tukang Kayu karya Gatotkoco Suroso. Persoalan
inilah yang melahirkan konflik-konflik, baik konflik antara tokoh, maupun konflik

antara satu persoalan dengan persoalan yang lain. Konflik-konflik itu pulalah yang
melahirkan dan menggerakan peristiwa-peristiwa sehingga melahirkan sebuah alur
cerita.
Biografi Jokowi Si Tukang Kayu karya Gatotkoco Suroso terdiri dari 20 bagian.
Bagian-bagian tersebut dapat dikategorikan atas beberapa kelompok. Pertama,
bagian-bagian yang dipersiapkan untuk suatu konflik utama. Termasuk dalam
kelompok ini adalah bagian-bagian yang menceritakan asal-usul Jokowi dan
bagaimana keadaan kemiskinan keluarganya . Keadaan bagaimana kehidupan masa
kecil Jokowi yang serba pas-pasan tanpa ada kemewahan sama sekali. Kedua, bagian
ini menceritakan Jokowi sebagai sosok anak yang giat belajar dan selalu mendapat
prestasi di kelas. Jokowi selalu berusaha membuat orang tuanya bangga dengan cara
kerja keras dalam belajar walaupun dalam kondisi keterbatasan keluarganya dalam
hal ekonomi. Ketiga, bagian-bagian yang menceritakan secara langsung menceritakan
permasalahan yang dihadapi Jokowi dan orang tuanya mengenai nasib pendidikan
setelah lulus SMA. Persoalan muncul ketika Jokowi bimbang setelah tamat dari SMA
akan terus lanjut kuliah atau tidak. Melihat bagaimana kondisi perekonomian
keluarganya Jokowi yang pas-pasan sebenarnya ia ingin melanjutkan usaha orang
tuanya saja, namun kedua orang tuanya memiliki prinsip bahwa pendidikan adalah
yang terpenting untuk meraih masa depan. Selain itu, bagian ini juga menceritakan
saat Jokowi mendapat masalah ketika menjalankan usaha, yaitu ditipu oleh konsumen
sehingga ia mengalami kebangkrutan. Keempat, bagian-bagian yang memperlihatkan
perbuatan dan prestasi Jokowi sebagai anak yang sederhana. Jokowi yang hanya

seorang anak dari tukang kayu bisa menunjukan bahwa keterbatasan ekonomi tidak
menghalangi dan menyurutkan niat dalam mengenyam pendidikan agar meraih citacita yang diinginkan. Kelima, bagian yang menceritakan dan memperlihatkan bahwa
keputusan yang sikap, pandangan, dan keputusan mengenai pentingnya pendidikan
dalam kondisi keterbatasan ekonomi adalah tepat bagi Jokowi. Jokowi dapat
membuktikan bahwa walaupun dalam keterbatasan ekonomi tak membuatnya
menyerah untuk mendapatkan prestasi dalam pendidikan yang ditempuh. Jika suatu
hal dibarengi dengan usaha dan kerja keras maka niscaya apa yang diinginkan akan
tercapai.
Kelima kelompok bagian-bagian ini digerakan oleh satu sentral persoalan
yaitu masalah ekonomi, yaitu kemiskinan. Dalam biografi ini menggambarkan
bahwa keterbatasan ekonomi tak menyurutkan seseorang untuk meraih masa
depan yang cerah. Masalah inilah yang ingin diungkapkan oleh pengarang
untuk dijadikan sebuah tema dalam Biografi Naratif Jokowi Si Tukang Kayu
karya Gatotkco Suroso. Ada kesan bahwa ada bagian-bagian tertentu dari
biografi ini yang tidak mengungkapkan masalah tersebut. Namun, jika kita
melihat secara menyeluruh, ternyata bagian tersebut tetap masuk ke dalam
kerangka yang mempermasalahkan masalah utama.
Pada bagian-bagian awal cerita misalnya, meskipun menceritakan tentang
asal-usul dan keadaan keluarga Jokowi yang sederhana, namun penceritaan itu
dimaksudkan untuk persiapan dalam menghadapi konflik utama sebagaimana

yang diminta oleh tema. Tanpa adanya penceritaan tersebut tidak mungkin
peristiwa-peristiwa yang lain akan muncul.
Demikian juga bagian-bagian yang menceritakan tentang Jokowi sebagai
sosok anak yang giat belajar dan selalu mendapat prestasi di kelas. Kerja keras
dan rajin belajar Jokowi dalam perjalanan cerita ini akan mengarah kepada
konflik yang diminta tema cerita, dan susah payahnya keluarga ini dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari selain dalam hal pendidikan Jokowi akan
mempertajam konflik cerita. Kerja keras Jokowi dalam hal belajar. Dengan ini
maka pengarang memberikan sebuah bantahan terhadap pandangan atau
konsep tentang keterbatasan ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk
mengenyam pendidikan.
Demikian juga penceritaan bagian-bagian yang lain. Misalnya bagian yang
menceritakan prestasi-prestasi dan keberhasilan yang dicapai Jokowi sebagai
orang yang memilihi kemampuan akademik yang baik.
Demikianlah tema dari Biografi Jokowi Si Tukang Kayu karya Gatotkoco
Suroso. Kondisi kemiskinanlah yang dijadikan tema dalam biografi ini. Tema
tersebutlah yang menjadi sumber-sumber konflik di dalam cerita. Baik
konflik-konflik yang berhubungan antara persoalan yang satu dengan
persoalan yang lain, maupun konflik yang terjadi antara tokoh satu dengan
tokoh yang lain.