You are on page 1of 2

Hampir setiap hari aku selalu melihatnya, karena jalan itu pula aku

lewati bila aku pergi ke sekolah. Wajah lelah pun selalu tampak jika hari
menjelamg siang, mungkin karena terik matahari sehingga kulitnya
terlihat hitam terbakar. Koran! Koran! teriaknya sambil menjajakan
dagangannya, laki-laki berbadan besar itu mulai bekerja. Sejenak aku
berhenti dan memandangnya dari jauh, satu demi satu koran itu terjual.
Kira-kira sudah 5 koran yang dia jual pagi itu, akupun kemudian
melanjutkan pergi menuju sekolah. Pemandangan ini sering terjadi dan
aku lihat setiap pagi. Mungkin sampai jam berapa anak itu berjualan aku
tidak tahu. Aku penasaran sampai jam berapakah anak ini berjualan koran
setiap harinya. Karena menurutku pekerjaan seperti ini tidak mudah
menjalaninya. Debu,asap mobil dan motor menempel
diwajahnya.Sementara dua tumpukan koran di seberang jaln masih
banyak yang belum laku terjual.Hari ini hari Minggu tidak biasanya aku
bangun pagi. Sudah menjadi kebiasaan kalau hari Minggu pasti akan
bermalas-malasan bangun. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku penjual
koran Jalan Sudirman.
Aku bergegas mengambil motor kemudian pergi menuju Jalan
Sudirman. Keinginanku untuk berkenalan dan menemuinya begitu besar.
Ini terjadi karena aku sangat penasaran sekali akan anak ini. Kira-kira lima
belas menit aku sampai tujuan , sambil duduk diatas motor aku pandangi
satu persatu penjual koran dan ternyata anak laki-laki seumuran
denganku tidak tampak berjualan koran. Atau mingkin karena hari Minggu
dia libur?
Akupun berjalan kaki menuju segerombolan para penjual koran yang
saat itu sedang beristirahat. Selamat siang pak? aku menyapanya
Begini pak,saya ingin bertanya tentang penjual koran seumuran saya
yang tubuhnya besar dan selalu mengenakan celana pendek putih dan
kaos putih sekarang ada dimana ya? tanyaku penuh penasaran.Sambil
mengerutkan dahinya bapak itu mengingat-ingat siapa yang aku maksud.
Ohh.. si Slamet yang mas cari? Sudah dua hari ini, sabtu dan minggu dia
tidak kelihatan, saya sendiir tidak tahu kemana dia. Padahal hampir satu
tahun dia berjualan koran di Jalan Sudirman ini. Jawabnya
Tuhan apa yang telah terjadi dengan Slamet penjual koran yang
cacat tersebut? Dengan ketidaksempurnaan tubuhnya, tidak menghalangi
dia untuk bekerja sebagai pejual koran. Dan aku tidak percaya kalau
sekarang dia tidak pernah aku jumpai lagi.
Keesokan harinya aku kembali melewati jalan itu untuk melakukan
aktifitas berangkat sekolah. Pukul 06.46 sejenak aku berhenti. Slamet
dimana dia? Sakit kah dia? atau pikiranku sudah mulai kacau.
Bayangkan...hampir selama satu tahun aku selalu lewat jalan ini dan saat
itu pula aku sering melihatnya berjualan koran, kali ini aku merasa
kehlilangan Slamet anak penyandang cacat dan difabel itu tidak pernah
akan aku lihat lagi...
Dijalan Sudirman inilah aku akan selalu menunggu Slamet
sahabatku. Aku makin tua, tapi perempatan itu tetap muda. Masih selalu

ada penjual dan pembeli koran di sana. Dan mereka tidak bertanya
kenapa saya masih saja melewati jalan ini? Aku mempunyai kenangan
bersama Slamet dan sampai sekarang, saya masih menunggu Slamet.