You are on page 1of 13

Bulan Juni

No.
1.

Macam Kegiatan
Penerapan teknologi pola
tanam jajar legowo melalui
demonstrasi secara plot
(demplot)

2.

Pertemuan kelompok tani


bersama penyuluh

Rapat dua mingguan di


Kantor BPK

Keterangan
Melakukan
penelitian
mengenai
perbandingan antara produktivitas sistem
tanam tegel dan sistem tanam legowo di
lahan sawah petani (telah mendapatkan
persetujuan petani yang lahannya hendak
digunakan). Terdapat 4 perlakuan, yaitu:
1. Tegel 20 cm x 20 cm
2. Jajar Legowo 20 cm x 10 cm x 40 cm
arah Utara-Selatan
3. Jajar legowo 20 cm x 10 cm x 40 cm arah
Timur-Barat
4. Jajar legowo 30 cm x 10 cm x 60 cm arah
Timur-Barat
Perlakuan tersebut dilakukan dengan 3 kali
perulangan. Jadi terdapat 12 plot.
Diskusi antara anggota poktan, pihak
penyuluh, dan mahasiswa pendamping
UPSUS mengenai:
a. Distribusi pupuk. Distribusi pupuk yang
terhambat akibat distributor pupuk tidak
menyalurkan pupuk kepada pengecer.
b. Identifikasi hama atau penyakit pada
tanaman padi. Hama penggerek batang
dan blast merupakan serangan yang
paling sering dijumapi di lahan.
c. Sistem tanam. Anjuran penyuluh agar
tidak menerapkan pola tanam hambur.
Di Kec. Kajuara, sebagian besar petani
telah menerapkan pola tanam berjarak.
d. Sosialisasi Asuransi Usaha Tani Padi
(AUTP).
e. Waktu penanaman dan pemberian pupuk
pada padi. Pemupukan sebaiknya tidak
dilakukan ketika masih berembun.
Pemberian pupuk campuran lebih baik
daripada peberian pupuk satu per satu.
a. Pertanaman belum selesai 100% karena
faktor cuaca.
b. Penyampaian tugas dan kewenangan
supervisor.
c. Kejelasan keberadaan pupuk.
d. Serangan hama dan penyakit di
pertanaman.
e. Sosialisasi AUTP.

Mengunjungi lahan
percontohan BPK disertai
pengambilan sampel padi
yang terkena hama.

f. Pembagian wilayah kerja untuk masingmasing mahasiswa bersama penyuluh.


g. Belum ada penangkar benih.
Terdapat serangan hama penggerek batang.

3. 1. Tinjauan saluran drainase


di Dusun Soloreng

Saluran drainase yang ada di Dusun


Soloreng belum rampung.

4.

Sumber air dapat mengairi lahan persawahan


hingga Desa Kalero dan Desa Lappa Bosse.

Tinjauan saluran irigasi di


Dusun Kaccope, Desa
Bulutanah

No.
1.

Macam Kegiatan
Rapat rutin dua mingguan
di Kantor BPK.

2.

Kunjungan ke lokasi
instalasi biogas di Desa
Bulutanah.

Mengunjungi lokasi
percetakan sawah di Desa
Kalero.

Keterangan
a. Pembuatan NIK untuk KT baru.
Perbaikan data kelompok tani baru oleh
penyuluh, termasuk pemberian NIK
untuk kelompok tani. Selain itu,
penyuluh memastikan bahwa kelompok
tani baru tidak menambah luas areal
pertanaman karena akan memengaruhi
data. Data tersebut akan memengaruhi
penyusunan RDKK.
b. Perubahan struktur organisasi.
c. Pengaruh intensitas hujan terhadap padi
yang mulai berbuah. Curah hujan yang
memengaruhi kondisi padi yang
memasuki umur panen.
d. Rencana kunjungan ke lokasi instalasi
biogas.
e. Kunjungan ke lokasi perkebunan.
f. Pengumpulan laporan bulanan bagi
penyuluh.
g. Pengamatan harga berbagai komoditi
pertanian di pasaran.
Hasil pengamatan berdasarkan kunjungan:
a. Tidak terdapat saluran yang
menghubungkan langsung antara
kotoran sapi dan tempat penampungan
sehingga petani harus menyekop kotoran
sapi ke tempat penampungan.
b. Tidak terdapat indikator/penanda
besarnya tekanan dalam digester (tabung
tempat terjadinya fermentasi) sehingga
menyebabkan
a. Luas sawah yang dicetak adalah 60
ha; 26 ha untuk KT Adimattiroe dan
34 ha untuk KT Passempeng.
b. Luas sawah yang tercetak di
Lappabosse adalah 28.67 ha, yaitu
milik KT Teje Batu.
KT di Kajuara terbentuk berdasarkan
domisili. Artinya setiap anggota KT
menggarap sawah berdasarkan
domisilinya, bukan berdasarkan letak
sawah miliknya.
KT lama tidak diizinkan untuk
menambah luas area persawahan karena
akan berbeda dengan data luas area yang

tercatat di BPS sebelumnya. Jika KT


lama memiliki lahan yang dapat digarap
lagi, lahan tersebut harus digarap oleh
KT baru.
4

Diskusi bersama penyuluh


dan Poktan Masagenae,
Desa Bulutanah mengenai
Kakao

3.

Pengambilan ubinan dan


menghitung produktivitas
padi di Poktan
Mulanmenree, Desa
Bulutanah.

4.

Workshop Unit Pengelola


Sarana dan Prasarana Jasa
Alsintan di Kantor BPK
yang diadakan oleh Tim
Sosialisasi Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura

a. Petani enggan membudidayakan kakao


telah melewati ambang batas
produktivitas; serangan PBK; sehingga
pohon kakao di Desa Bulutanah sebagian
besar terbengkalai.
b. Petani enggan memfermentasikan kakao
karena memfermentasi kakao
membutuhkan waktu yang cukup lama
(5-6 hari). Selain itu tidak ada perbedaan
antara harga kakao non-fermentasi dan
fermentasi.
Produktivitas padi pada lahan KT
Mulanmenree adalah 8.9 ton/ha.

a. Pengadaan alsintan di bidang irigasi


(pompa dan pipa). Informasi
mengenai lokasi yang memiliki
sumber air namun belum
memperoleh bantuan alsintan
diperlukan oleh pihak dinas agar
diberi bantuan.
b. Proyek percetakan sawah.
c. Jalan usaha tani: berkaitan dengan
infrastruktur jalan yang berpengaruh
pada pendistribusian hasil tani dan
masuknya alsintan.
d. Persoalan ketersediaan air di sawah
tadah hujan.
e. Beberapa KT yang telah
mendapatkan bantuan alsintan tidak
melaporkan ke penyuluh, sehingga
berpengaruh pada pendataan bantuan
alsintan oleh penyuluh.
f. Pembukuan oleh setiap KT sangat
diperlukan, terutama jika KT
mendapat bantuan alsintan.
g. Kesadaran petani mengenai fungsi
pembentukan KT.

Pengukuran ubinan dan


perhitungan produktivitas
padi di lahan KT Lacera.

Hasil timbangan adalah 7 kg sehingga


produktivitas lahan KT Lacera adalah 11.2
ton/ha.

Pengambilan ubinan di
Desa Lappabosse pada
lahan KT Mappesangka,
Ketua KT Rusli.
Kunjungan ke sumber air
yang mengairi sawah
daerah Lappa Bosse an
Kalero.

Hasil ubinan di Desa Lappabosse yaitu 4.5


kg.

Air irigasi Lappabosse yang bersumber dari


Bulutanah dapat mengairi kurang lebih 80
ha.
Sumber air dari Bulutanah mengairi Desa
Lappabosse dan Desa Kalero yang
daerahnya lebih tinggi daripada Bulutanah.

No.
1.

Macam Kegiatan
Pengadaan proposal
pengadaan bantuan alsintan
berupa traktor tangan untuk
Poktan Billa dan Poktan
Maroangin

Keterangan
Pengadaan proposal tersebut berdasarkan
keterangan penyuluh WKPP tersebut bahwa
perbandingan antara traktor tangan dan luas
pertanaman tidak seimbang.

2.

Panen di KT Jawi-jawi
(Desa Bulutanah).

Pengambilan ubinan dan


perhitungan produktivitas
di KT Massempo Dalle
(Desa Bulutanah).

Varietas padi yang ditanam oleh KT Jawijawi adalah varietas Cigeulis dengan berat
gabah hasil ubinan 4.3 kg. Jadi produktivitas
yang dihasilkan adalah 6.88 ton/ha. Kondisi
gabah dalam keadaan baik dan kering
Varietas padi yang ditanam oleh KT
Massempo Dalle adalah varietas Ciherang
dengan berat gabah hasil ubinan 4 kg. Jadi
produktivitas yang dihasilkan adalah 6.4
ton/ha. Kondisi gabah dalam keadaan baik
dan kering.

Pengambilan ubinan dan


perhitungan produktivitas
di KT Malomoe.

Varietas padi yang ditanam oleh KT


Malomoe adalah varietas Ciherang dengan
berat gabah hasil ubinan 5.4 kg. Jadi
produktivitas yang dihasilkan adalah 8.64
ton/ha..

3.

Pengambilan ubinan dan


menghitung produktivitas
padi di Poktan
Mulanmenree, Desa
Bulutanah.

Produktivitas padi pada lahan KT


Mulanmenree adalah 8.9 ton/ha.

4.

Pengambilan ubinan dan


perhitungan produktivitas
di KT Pakkaresoe I dan KT
Maddanreng Pulu (Desa
Bulutanah).

Pengukuran ubinan dan


Pengukuran ubinan dan
perhitungan produktivitas
di Desa Kalero, yaitu KT
Batu Mallenrung dan KT

a. Varietas padi yang ditanam oleh KT


Pakkaresoe adalah varietas Ciherang
dengan berat gabah hasil ubinan 4 kg.
Jadi produktivitas yang dihasilkan
adalah 6.4 ton/ha.
b. Varietas padi yang ditanam oleh KT
Maddanreng Pulu adalah varietas PB 42
dengan berat gabah hasil ubinan 4.2 kg.
Jadi produktivitas yang dihasilkan
adalah 6.72 ton/ha.. Kondisi gabah
dalam keadaan kering dan baik.
a. Varietas padi yang ditanam oleh KT
Batu Mallenrung adalah varietas Inpari
30 dengan berat gabah hasil ubinan 2.5
kg. Jadi produktivitas yang dihasilkan
adalah 4 ton/ha.

Bulu Lasikoi

Rapat dua mingguan di


Kantor BPK.

Penyelenggaraan Fam
Farmers Field Day (Hari
Lapang Tani)
Peningkatan Kapasitas
BP3K Sebagai Posko
Pembangunan Pertanian
Tahun 2016di lahan
percontohan BPK yang

b. Varietas padi yang ditanam oleh KT Bulu


Lasikoi adalah varietas Ciherang dengan
berat gabah hasil ubinan 3 kg. Jadi
produktivitas yang dihasilkan adalah 3.8
ton/ha.
c. Kondisi gabah dalam keadaan kering dan
baik.
a. Bantuan benih jagung hibrida varietas
Pertiwi, NK 212, dan NK 99 sebanyak 5
ton. Bantuan ini disalurkan ke 15 desa
(Kalero, Lappabosse, Abbumpungeng,
Waetuwo, Gona, Padaelo, Pude, Lemo,
Raja, Tarasu, Bulutanah, Buareng,
Mallahae, Polewali, dan Massangkae).
Penyuluh berdasarkan WKPP mendata
KT yang telah mendapatkan bantuan
benih.
b. Setiap KT mendapatkan 13 kardus benih
dengan berat 260 kg per 13 kardus.
Alokasi benih per hektar adalah 10.4
kg/ha atau 2 bungkus benih/ha.
c. Farmers Field Day dihadiri oleh pihak
kedinasan, Ketua BPK, lima penyuluh,
petugas cyber extension, dan petani di
wilayah Dusun Soloreng.
d. Penyuluh segera merampungkan data
produktivitas berdasarkan pengukuran
ubinan di masing-masing WKPP serta
data petani yang mendaftar pada
Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
e. Kerja bakti di kantor BPK dilaksanakan
pada hari Rabu, 10 Agustus 2016, yang
bertujuan untuk menyambut Hari
Kemerdekaan RI.
f. Pengadaan bantuan benih kedelai harus
memiliki kejelasan mengenai data KT
yang mendapatkan bantuan, jumlah, dan
varietas bibit.
a. Luas ubinan pada lahan berpola tanam
legowo adalah 12 m2. dengan berat
gabah 9.4 kg. Jadi produktivitas lahan
dihitung dengan: 9.4 kg x (10000 m2 :
12 m2) = 7.8 ton/ha.
b. Hasil sosialisasi:
1) Keunggulan pola tanam legowo:
a. Bobot buah lebih berat karena proses

berlangsung di Dusun
Soloreng.

1. Kerja bakti di kantor


BPK.
2. Diskusi bersama
penyuluh di kantor
BPK

fotosintesis semakin tinggi.


b. Mengurangi kemungkinan serangan
hama tikus karena lahan yang
cenderung terbuka.
c. Menekan serangan penyakit karena
rendahnya tingkat kelembaban.
d. Memudahkan pemupukan dan
pengendalian hama dan penyakit
karena petani lebih leluasa berjalan
di barisan kosong
2) Pemupukan dengan menggunakan
pupuk NPK 3 sak/ha.
3) Cara pengendalian ulat gerayak
adalah dengan penyemprotan
pestisida dilakukan dari bawah ke
atas sehingga seluruh bagian batang
terkena semprotan pestisida.
a. Pembersihan di halaman kantor BPK
dan menyemai beberapa benih di
bedengan.
b. Hasil ubinan di Desa Bulutanah:
1) Senin, 8 Agustus 2016:
KT Cangkano
Hasil ubinan: 3.5 kg. Produktivitas:
5.6 toh/ha. Varietas: 66.
2) Selasa, 9 Agustus 2016:
KT. Pakkaresoe
Hasil ubinan: 4.7 kg. Produktivitas:
7.5 ton/ha. Varietas: Ciliwung.
c. Hasil ubinan di Desa Padaelo:
a. KT Conggi
Hasil ubinan: 5.5 kg. Produktivitas:
8.8 ton/ha. Varietas: Cigeulis.
b. KT Tenrisannae
Hasil ubinan: 4.8 kg. Produktivitas:
7.6 ton/ha. Varietas: Cigeulis
c. KT Maroangin
Hasil ubinan: 5.7 kg. Produktivitas:
9.1 ton/ha. Varietas: Ciherang.
d. KT Mappesonae
Hasil ubinan: 5.6 kg. Produktivitas:
8.9 ton/ha. Varietas: Ciherang.
d. Hasil ubinan di Kel. Awangtangka
KT Awang Tangka Hasil ubinan: 5.5 kg.
Produktivitas: 8.8 ton/ha. Varietas:

Cigeulis
Bantuan benih jagung hibrida di Desa
Padaelo dan Kel. Awang Tangka telah
didistribusikan ke masing-masing KT. Daftar
KT yang mendapat bantuan benih di Desa
Padaelo adalah:
a. KT Talabangi I
b. KT Tenrisannae
c. KT Conggi
d. KT Maroangin
KT yang mendapat bantuan benih jagung
hibrida di Kel. Awang Tangka adalah: KT
Awang Tangka
KT yang mendapatkan bantuan benih jagung
hibrida di Desa Bulutanah adalah:
a. KT Malomoe
b. KT Mappesonae
c. KT Pakkaresoe I
d. KT Maddempung
e. KT Mulanmenree
f. KT Pakkaresoe II
g. KT Awang Pulu
h. KT Cangkano
Terdapat bantuan benih kedelai namun
belum diketahui secara pasti waktu
kedatangan bantuan benih tsb.

Kegiatan panen dan


pengambilan ubinan pada
lahan percobaan di Desa
Waetuwo.

Desa Bulutanah kembali mendapatkan


bantuan pompa. KT yang mendapatkan
bantuan tsb adalah:
a. KT Maddanreng Pulu
b. KT Massempo Dalle
1. Berdasarkan hasil pengamatan dan
pengukuran:
a. Tinggi padi (tertinggi-terendah):
1) A (Tegel 20 x 20 cm) = 1.0075 m
2) C (Legowo 20 x 10 x 40 cm, timurbarat) = 0.985 m
3) D (Legowo 30 x 10 x 60 cm, timurbarat) = 0.980833 m
4) B (Legowo 20 x 10 x 40 cm, utaraselatan) = 0.959167 m
b. Jumlah anakan (terbanyak-sedikit)

c.
d.

e.

10

1. Presentasi hasil
3.
demplot lahan
penelitian inovasi
teknologi jajar legowo
di Desa Waetuwo.
2. Diskusi bersama dosen
pendamping,
koordinator BPK, dan
Poktan Sipatuwo, Desa
Waetuwo.

4.

1) D (Legowo 30 x 10 x 60 cm, timurbarat) = 20 anakan


2) C (Legowo 20 x 10 x 40 cm, timurbarat) = 18 anakan.
3) B (Legowo 20 x 10 x 40 cm, utaraselatan) = 15 anakan
4) A (Tegel 20 x 20 cm) = 13 anakan
Berat gabah belum diketahui karena tidak
adanya timbangan satuan gram.
Rata-rata berat gabah berdasarkan plot,
yaitu:
A = 11.83 kg
B = 11.33 kg
C = 12 kg
D = 10.6 kg
Plot C (Legowo 20 x 10 x 40, timurbarat) memiliki berat yang terbesar.
Kesimpulan:
1) Padi yang ditanam sesuai dengan arah
terbit-tenggelamnya matahari (timurbarat) lebih tinggi dibandingkan
dengan padi yang ditanam utaraselatan.
2) jarak yang lebih lapang akan
menghasilkan anakan yang lebih
banyak.
3) Hasil ubinan belum didapatkan
karena tidak terdapatnya timbangan
yang bersatuan gram.
Berdasarkan hasil pengolahan data:
a. Padi yang ditanam sesuai dengan
arah terbit-tenggelamnya matahari
(timur-barat) lebih tinggi
dibandingkan dengan padi yang
ditanam utara-selatan.
b. Penanaman padi dengan jarak yang
lebih lapang akan menghasilkan
anakan yang lebih banyak.
c. Pola tanam jajar legowo 20 x 10 x 40
berdasarkan arah terbinya matahari
menghasilkan gabah dengan berat
yang tertinggi.
Hasil diskusi:
a. Teknologi jajar legowo
meningkatkan produktivitas lahan
karena memaksimalkan proses

11

12

fotosintesi pada tanaman sehingga


memaksimalkan pembentukan
makanan yang akan memengaruhi
pembentukan buah. Selain itu, jajar
legowo mengambil bibit tambahan
dari persemaian sebingga menambah
populasi bibit di lahan.
b. Pola tanam jajar legowo memiliki
kelemahan pada waktu tanam yang
lebih lama. Namun, hal itu sebanding
dengan dibandingkan dengan
produktivitas yang dihasilkan.
1. Kunjungan ke
1. KT Masagenae:
kediaman ketua KT
a. Jika ZA langka, pupuk urea dikurangi
Masagenae, Haspuddin,
kemudian pupuk NPK dilebihkan.
Desa Bulutanah.
b. Membuat proposal pengadaan
2. Kunjungan ke
bantuan msin perontok jagung.
kediaman ketua KT
c. Membuat proposal pengadaan
Massempo Dalle, Desa
jaringan perpipaan langsung ke pusat.
Bulutanah.
2. KT Massempo Dalle:
Memaksimalkan penggunaan bantuan traktor
dan mesin pompa
Meninjau bantuan benih
1. Hasil diskusi:
jagung hibrida di Desa
a. Musim tanam jagung hibrida dimulai
Bulutanah.
dari Bulan Oktober 2016-Maret
2017.
b. Daftar KT yang mendapatkan benih
jagung hibrida Dekalb:
1) KT Mulanmenree
2) KT Malomoe
3) KT Cangkano
4) KT Awang Pulu
5) KT Mappesonae
6) KT Pakkaresoe I
7) KT Pakkaresoe II
8) KT Maddanreng Pulu
c. KT yang mendapatkan bantuan benih
kedelai:
1) KT Masagenae
2) KT Jawi-jawi
d. Daftar KT yang mendapatkan benih dari
Polda:
KT Massempo Dalle.
2. Penyuluh mengawasi penggunaan benih
bantuan agar tidak terjadi
penyelewengan, seperti penggunaan

12

pakan ternak, penjualan benih kembali,


dsb.
3. Pihak pengecer di Dusun Cangkano telah
menyerahkan kwitansi pembayaran pada
pihak distributor, namun belum ada respon
dari pihak distributor. Manajemen distributor
harus dibenahi agar ketersediaan pupuk pada
pengecer mencukupi.
Penyusunan proposal
Pengadaan proposal tersebut berdasarkan
pengadaan bantuan alsintan keterangan penyuluh WKPP tersebut bahwa
perbandingan antara traktor tangan dan luas
untuk kelompok tani
pertanaman tidak seimbang., begitu pula
Maroangin dan Billa
(Desa Padaelo), kelompok dengan pemipil jagung untuk Desa
tani Awang Tangka (Kel. Bulutanah.
Awang Tangka), dan lima
kelompok tani di Desa
Bulutanah untuk alat
pemipil jagung

13

Berkunjung ke Kantor
BP4K

Instruksi kerja berupa:


1. Kegiatan Laku (Latihan dan Kunjungan)
2. Monitotring
3. Penilaian kelas kelompok
Dilakukan oleh masing-masing penyuluh,
sesuai dengan tugas yang tertera pada
dokumen.

14

Kursus tani Pembuatan


Pupuk Organik Cair dan
Pestisida Nabati di
kediaman ketua KT Lacera,
Kel. Awang Tangka.

Hasil berupa POC dan pestisida nabati dapat


dilihat dalam 1-2 minggu ke depan. Pupuk
organik cair yang telah dibuat diaplikasikan
di pertanaman dan dibuat secara
berkelanjutan.

15

Rembug tani di kediaman


ketua KT Cempaka, Desa
Lappamacceling.

a. Percepatan tanaman jagung.


b. Pembagian bantuan alsintan.
c. Pengambilan data produksi setiap
anggota kelompok tani untuk
membandingkan produksi tahun lalu
dengan tahun ini.
d. Penyampaian hasil demplot kepada
petani agar petani tertarik dan
mengadaptasi teknologi jajar legowo
berdasarkan arah matahari.
e. Peningkatan produksi pajale.
f. Kelangkaan pupuk. Pupuk ZA dan NPK

sering langka.
g. Masalah pemasaran komoditi pertanian.

16

Rembug tani dan Kursus


Tani Pembuatan Pupuk
Organik Cair (POC).

1. Hingga saat ini, Desa Bulutanah memiliki


7 traktor tangan dan 2 mesin pemipil
jagung hasil bantuan.
2. Penilaian kelas KT bertujuan untuk
pengembangan poktan ke arah penguatan
poktan menjadi kelembagaan petani yang
kuat dan mandiri.
3. Produksi padi mengalami peningkatan
pada tahun ini karena faktor cuaca yang
mendukung bagi pertumbuhan padi. Pada
tahun lalu, Kec. Kajuara mengalami
musim kemarau yang berkepanjangan
sehingga beberapa lahan mengalami
puso. Selain cuaca, faktor yang
mendukung peningkatan produksi adalah:
a. Pola tanam pindah yang diterapkan
oleh petani.
b. Pengolahan tanah yang baik.
4. Strategi dalam meningkatkan kelas KT
jika KT tersebut mampu menjalankan
fungsi poktan, yaitu:
a. Kelas belajar
b. Wahana kerja sama
c. Unit produksi
5. Area pertanaman yang memiliki irigasi
agar melakukan percepatan tanam agar
mencapai peningkatan produksi.
6. Proses fermentasi agar menjadi pupuk
cair organik yaitu 1-2 minggu. Petani
yang menghadiri kursus tani tersebut
berminat embuat pupuk organik cair
secara mandiri.