You are on page 1of 45

LAPORAN AKHIR TEKNIK

PRODUK

PEMBUATAN KONSENTRAT PROTEIN DARI PROTEIN


HEWANI DAN
NABATI

DISUSUN OLEH:
AKBAR FAJARMANIK
DANIEL TIMOTIUS
FRANSISCA LARASATI
NOVELIA WARDHANI P.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Konsentrat dan Protein serta Pemanfaatannya
c. Isolasi Protein
d. Analisis Metode Pemilihan Bahan Baku
1. Biji Kecipir
2. Bungkil Kelapa
3. Batang Pisang
II.

PEMBAHASAN
a. PFD

b. Deskripsi Alat
1. Rotary Drum Washer
2. Screening
3. Ball Mill
4. Extractor
5. Rotary Drum Vacuum Filter
6. Tangki Penetralan
7. Centrifuge
8. Flash Dryer
c. Neraca Massa Keseluruhan
III.

ANALISIS EKONOMI

IV. RISK ASSESMENT


V.KESIMPULAN
VI. DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya
penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan
penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Produktivitas usaha ternak sapi potong
di Indonesia masih dianggap memprihatinkan karena jumlah produksi daging masih
rendah dan jauh dari target yang diperlukan konsumen. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan jumlah produksi daging masih rendah, antara lain populasi sapi rendah dan
produksi sapi yang rendah. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani
terutama, daging sapi, menyebabkan ketersediaan produk hewani yang harus
ditingkatkan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Peningkatan kualitas dan

kuantitas tersebut tidak terlepas dari peranan pakan yang diberikan. Hasil penelitian
Parakkasi (1980) menunjukkan bahwa faktor genetik hanya mempengaruhi sekitar 30%,
sedangkan 70% dari produktivitas ternak terutama pertumbuhan dan produksinya
dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Di dalam ilmu makanan ternak terdapat beberapa istilah yang perlu dipahami
diantaranya adalah: Zat nutrient (makanan) adalah zat-zat gizi di dalam bahan pakan
yang sangat diperlukan untuk hidup ternak meliputi protein, karbohidrat, lemak,
mineral, vitamin dan air sedangkan bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat
dimakan dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan
ternak yang memakannya (Tillman., 1998). Bahan pakan terdiri dari 2 kelompok, yaitu
bahan pakan asal tanaman dan asal non tanaman (ternak atau ikan). Kualitas suatu bahan
pakan ditentukan oleh kandungan zat nutrient atau komposisi kimianya, serta tinggi
rendahnya zat anti-nutrisi yang terkandung di dalamnya. Pakan merupakan masalah
yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Lahan pertanian yang semakin sempit
menyebabkan ketersediaan hijauan semakin berkurang. Hal tersebut menjadi penting
karena pakan adalah yang paling besar mempengaruhi produktitivitas ternak, karena 60%
dari biaya produksi berasal dari pakan (Williamson dan Payne, 1993). Meskipun potensi
genetik seekor ternak tersebut tinggi, namun tanpa dukungan pemberian pakan yang
berkualitas baik, maka produksi dari seekor ternak yang diinginkan tidak akan mencapai

optimal.
Kebutuhan pakan ternak ruminansia dipenuhi dari makanan berserat sebagai
pakan utama dan konsentrat sebagai pakan penguat. Konsentrat sebagai pakan penguat
dapat meningkatkan kecernaan bagi ternak karena konsentrat tersusun dari bahan pakan
yang mudah dicerna oleh ternak. Pakan ini mudah dicerna ternak ruminansia karena
dibuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi, sumber protein, vitamin, dan
mineral (Kartadisastra, 1997).

Tujuan pemberian konsentrat dalam pakan ternak

kambing adalah untuk meningkatkan daya guna pakan, menambah unsur pakan yang
defisien, serta meningkatkan konsumsi dan kecernan pakan.
Kebutuhan pakan sapi konsentrat untuk sapi potong pada 2014 adalah 25,6 juta
ton dan laju peningkatan kebutuhan konsentrat dari tahun 2010-2014 diperkiraan
sebanyak 1,34 juta ton per tahun. Dari data tersebut terdapat permasalahan yang tak
pernah usai di industri peternakan yaitu terus meningkatnya harga bahan pakan sumber
protein yaitu konsentrat dan pemenuhannya yang sebagian besar dari impor. Hal tersebut
ditengarai karena Indonesia yang merupakan produsen besar biomassa (bungkil kelapa,
biji sawit, dedak, dan lain-lain) yang merupakan bahan baku utama konsentrat pakan
ternak malah menjual biomassa tersebut ke negara pengolah biomassa dan dibeli dengan
harga tinggi. Akibatnya harga konsentrat pakan terus meningkat dan sulit ditemukan di
pasaran, keterbatasan ketersediaan pakan menyebabkan kondisi sapi potong di Indonesia
mengalami degradasi produksi, sehingga Indonesia harus mengimpor konsentrat protein
untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam usaha peternakan biaya pakan mengambil porsi
terbesar yaitu sekitar 60-90%, sehingga diperlukan upaya untuk mendapatkan bahan
pakan lokal untuk dapat menjadi bahan sumber protein tersebut. Dari penjabaran di atas
maka disimpulkan bahwa diperlukan adanya upaya untuk mendapatkan bahan pakan
lokal untuk dapat menjadi bahan sumber protein tersebut.
1.2 Konsentrat dan Protein serta Pemanfaatannya
Usaha sapi potong rakyat sebagian besar merupakan usaha yang bersifat turuntemurun dengan pola pemeliharaan sesuai dengan kemampuan peternak, terutama dalam
hal pemberian pakan. Pakan hijauan bervariasi jenis dan jumlahnya sedangkan pakan
penguat diberikan dalam jumlah yang tidak menentu dan diberikan dalam jumlah banyak
saat musim panen, sebaliknya sangat terbatas pada musim tanam (Aryogi., 2000).
Pakan adalah faktor yang paling mempengaruhi produktitivitas ternak, karena
60% dari biaya produksi berasal dari pakan (Williamson dan Payne, 1993). Pakan
adalah segala sesuatu yang dapat dimakan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup

pokok. Pakan merupakan masalah mendasar dalam suatu usaha peternakan. Kualitas
pakan yang rendah seperti yang umum terjadi di daerah tropis menyebabkan kebutuhan
protein untuk ternak ruminansia sebagian besar dipasok oleh protein mikroba rumen.
Keberhasilan maupun kegagalan usaha peternakan sapi potong banyak ditentukan oleh
pakan. Kebutuhan pakan untuk ternak ruminansia lebih tinggi dibanding kebutuhan
ternak unggas.
Pakan yang diberikan ke sapi potong pada umumnya sesuai dengan kemampuan
peternak; bukan sesuai dengan kebutuhan ternaknya. Pasokan pakan berkualitas rendah
merupakan hal yang biasa, yang apabila terjadi secara terus-menerus dalam waktu yang
cukup lama akan berpengaruh negatip terhadap produktivitas. Soetanto (1994)
menyebutkan hampir sekitar 70 % kebutuhan protein dapat dicukupi oleh mikroba
rumen, sehingga diperlukan pasokan protein yang berasal dari pakan tambahan atau
pakan penguat yang disebut konsentrat. Penambahan konsentrat dapat meningkatkan
kecernaan pakan pada ternak tersebut.
Konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan baku yang kaya
akan karbohidrat dan protein, seperti jagung kuning, bekatul, dedak gandum dan bungkilbungkilan. Konsentrat juga diketahui sebagai pakan hewan dengan kadar protein diatas
20%, serat kasar kurang dari 18%, dan total digestion nutrient diatas 60%. Tujuan
pemberian konsentrat dalam pakan ternak adalah untuk meningkatkan daya guna pakan,
menambah unsur pakan yang defisien serta meningkatkan konsumsi dan kecernan pakan.
Konsentrat mudah dicerna ternak ruminansia karena dibuat dari campuran beberapa
bahan pakan sumber energi, sumber protein, vitamin, dan mineral (Kartadisastra, 1997).
Konsentrat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sumber energi dan
konsentrat sumber protein. Konsentrat yang diberikan untuk ternak disesuaikan dengan
tujuan pemeliharaannya. Umumnya konsentrat yang diberikan pada pakan ternak adalah
konsentrat sumber protein. Salah satu kebutuhan nutrien pada ternak yang harus
diperhatikan adalah protein. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecernaan bahan
pakan adalah kandungan protein kasar; karena protein kasar ransum yang tinggi
menghasilkan kecernaan yang tinggi pula (Mc Donald, Edwards dan Greenhalgh,1987).
Perbaikan kualitas nutrisi protein ternak ruminansia dapat ditempuh dengan
meningkatkan pasokan protein asal mikroba dan protein asal pakan yang lolos
terdegradasi. Peningkatan jumlah kandungan protein yang berasal dari konsentrat
mengakibatkan mikroba rumen lebih mudah dan lebih cepat berkembang populasinya
sehingga kecernaan bahan kering dan bahan organik akan meningkat.

1.2 Protein
Protein ialah salah satu senyawa biologis yang tersusun atas satuan asam amino.
Protein mengandung senyawa organik dengan susunan molekul yang kompleks dan
terdiri dari unsur-unsur C, H, N, O dan beberapa protein mengandung S dan P (Othmer,
1978). Protein dapat digolongkan menurut:
1. Struktur susunan molekulnya
a. Protein fibriler, yaitu protein berbentuk serabut atau serat. Protein fibriler
berguna untuk membentuk struktur bahan jaringan (kulit, otot, dan pembuluh
darah). Contoh: kolagen, keratin, fibrin, dan miosin.
b. Protein Globuler, yaitu protein yang berbentuk bola, terdapat pada bahan
pangan seperti susu, telur, dan daging. Larut dalam larutan garam dan asam
encer.
2. Kelarutannya Berdasarkan kelarutannya protein digolongkan dalam beberapa
macam yaitu: Albumin, Globulin, Glutelin, Gliadin (Prolamin), Histon, Protamin
(Aisjah Girindra, 1990).
a. Albumin
Albumin larut dalam air dan mengendap dalam larutan garam berkonsentrasi
tinggi melalui proses yang disebut penggaraman atau salting out. Contoh:
Albumin telur dan Albumin serum. (Girindra, Aisjah, 1990).
b. Globulin
Globulin tidak larut dalam air, tidak larut dalam garam encer, juga tidak larut
dalam garam pekat dengan kejenuhan 30-50 %. Contoh: globulin serum dan
globulin telur (Girindra,Aisjah, 1990).
c. Glutelin
Tidak larut dalam larutan netral, tetapi larut dalam asam atau basa encer.
Contoh: glutelin dalam gandum, orizenin dalam beras (Girindra,Aisjah,
1990).
d. Prolamin (Gliadin)
Larut dalam alkohol 70-80%, tidak larut dalam air maupun alkohol absolute
(100 %). Contoh: gliadin dalam gandum, zein dalam jagung (Girindra,Aisjah,
1990).
e. Histon
Larut dalam air dan tidak larut dalam amoniak encer. Dapat mengendap dalam
pelarut protein lain. Contoh: globin dalam hemoglobin.

f. Protamin
Dibanding dengan protein lain, protamin relatif mempunyai bobot molekul
rendah. Protamin larut dalam air dan bersifat basa. Didalam sperma ikan,
disebut nukleoprotamin. Contoh: Salmin (Girindra,Aisjah, 1990).
g. Protein konjugasi / Protein majemuk
Protein yang mengandung senyawa bukan protein, disebut protein konjugasi
atau protein majemuk. Sedangkan protein yang tidak mengandung senyawa
nonprotein disebut protein sederhana. Contoh: Nukleoprotein bersenyawa
dengan asam nukleat.
h. Tingkat degradasi
Degradasi merupakan tingkat permulaan denaturasi. Menurut tingkat
degradasinya, protein dapat dibedakan:
a. Protein alami, adalah protein dalam keadaan protein seperti dalam sel.
b. Turunan protein, merupakan hasil degradasi protein pada tingkat
permulaan denaturasi.
Tingkat denaturasi dapat dibedakan sebagai:
a. Protein primer, merupakan hasil hidrolisa yang ringan. Misal: protean
dan metaprotein.
b. Protein sekunder, merupakan hasil hidrolisa yang berat. Misal: peptide
Fungsi Protein:
a. Sebagai enzim, untuk membantu dan mempercepat reaksi biologis.
b. Sebagai alat pengangkut dan penyimpan.
Hemoglobin mengangkut oksigen dan eritrosit.
Mioglobin mengangkut oksigen dalam otot.
Transferin mengangkut ion besi dalam plasma darah.
c. Pengatur gerakan.
d. Penunjang mekanis.
e. Sebagai pertahanan / imunisasi.
f. Sebagai media perambatan impuls saraf.
g. Sebagai pengendali pertumbuhan.
Sifat Protein antara lain: protein mempunyai berat molekul yang bervariasi dari 5000
sampai beberapa juta (Girindra,Aisjah, 1990); protein sebagai amfoter dimana sifat-sifat
protein sebagai amfoter ditentukan oleh gugus-gugusnya yang dapat mengion; derajat
ionisasi dari asam amino sangat dipengaruhi oleh pH (Girindra,Aisjah, 1990); Sifat
ioniknya jika protein banyak mengandung asam amino (yang bersifat asam) glutamate
dan aspartat, protein mempunyai titik isoelektrik yang rendah; beberapa protein dapat
membentuk gel dan protein yang cepat membentuk gel mempunyai strutur tiga dimensi

yang bergandengan dengan ikatan hydrogen; Protein dapat mengendap dalam garam
berkonsentrasi tinggi, logam-logam berat, alkohol (Girindra,Aisjah, 1990).
1.3 Isolasi Protein
Dilihat dari kadarnya, protein dapat dibedakan menjadi tiga golongan
(F.G.Winarno, 1993):

Tepung= 40 50 % protein.
Konsentrat
= 70 % protein.
Isolat Protein = 90 % protein.

Isolasi protein dapat dilakukan dengan cara:


1. Tepung Protein
Tepung mengandung 40-50 % protein, bergantung pada kadar lemaknya.
Berdasarkan kadar lemaknya, dikenal dua macam produk tepung, yaitu tepung berlemak
penuh dan berlemak rendah. Tepung berlemak rendah lebih banyak diperjualbelikan
dipasaran. Bergantung pada penggunaannya, pemanasan dengan uap pada tahap tertentu
dapat diatur sehingga menghasilkan tepung bebas minyak/lemak yang mempunyai nilai
NSI (Nitrogen Solubility Index) berbeda. Nila NSI menunjukkan persentase total
nitrogen kjeldahl yang terekstrak dengan air. Selanjutnya tepung protein yang telah bebas
lemak diolah lebih lanjut menjadi konsentrat dan isolate protein (F.G. Winarno,1993).
2. Pembuatan protein konsentrat
Ada tiga cara pengolahan yang dapat dilakukan untuk membuat konsentrat
protein kedelai. Ketiga proses ini berbeda terutama dalam cara yang digunakan untuk
mengendapkan protein sambil membuang konponen kecil lainnya (Winarno, 1993).

Dengan memakai pelarut alcohol, dengan cara berikut: Proses leaching dilakukan
dengan memakai larutan alcohol (etanol) untuk melarutkan gula dan komponen
nonprotein. Kemudian filtrat dan endapan dipisahkan dengan penyaringan.
Endapan dikeringkan menjadi protein konsentrat. Endapan ini mengandung
protein dan polisakarida yang tidak larut dalam alcohol dan merupaka protein

konsentrat setelah pelarutnya dipisahkan (Harris,R.S dan Karmas.E, 1989).


Dengan memakai pelarut asam encer (HCl), dengan cara berikut: Proses leaching
dilakukan dengan memakai asam encer (HCl) pada pH 4,5. Untuk melarutkan
gula dan komponen nonprotein. Pada pH 4,5 ini fraksi protein globulin tidak
larut. Kemudian endapan dan filtrat dipisahkan dengan penyaringan. Endapan
dinetralkan dengan basa dan dikeringkan menjadi protein konsentrat. Protein

konsentrat yang dihasilkan mengandung protein dan polisakarida (Harris,R.S dan

Karmas.E, 1989) dan (Suhardi, 1988).


Dengan melarutkan dalam air, dengan cara sebagai berikut: Tepung atau
lempengan bungkil disangrai untuk mendenaturasi-panas protein. Pencucian
dengan air selanjutnya akan memisahkan gula dari polisakarida dan protein yang
telah mengalami denaturasi (Harris,R.S dan Karmas.E, 1989).
Dari ketiga cara untuk mendapatkan konsentrat protein, cara kedua yaitu dengan

cara diekstraksi dengan asam encer (HCl) yang memiliki indeks kelarutan senyawa N
(Nitrogen Solubility Index = NSI) lebih besar dan yang paling jelek adalah konsentrat
yang dibuat dengan memanaskan tepung terlebih dahulu sebelum dicuci dengan air
(Suhardi, 1988).
3. Pembuatan Protein Isolat Produk ini dibuat dengan cara melarutkan protein
tepung dengan basa encer (NaOH) pada pH 7-9, proses pelarutan dilakukan
dengan pemanasan pada suhu yang tidak tinggi agar tidak terjadi denaturasi dan
membuang endapan yang tidak larut dengan cara pemusingan atau penyaringan.
Ekstrak yang didapat diasamkan (HCl) sampai pH 4-5, agar terjadi pengendapan
protein. Endapan ini kemudian dikeringkan atau dinetralkan dengan NaOH, dan
dikeringkan dengan pengeringan semprot (Spray Dryer) dan membentuk isolate
protein (F.G. Winarno,1993). Ekstraksi padat-cair adalah proses ekstraksi suatu
konstituen yang dapat larut (solute) pada suatu campuran solid dengan
menggunakan pelarut (solvent). Proses ini sering disebut dengan Leaching
(Treybal, 1981). Proses ekstraksi menggunakan asam encer (HCl) sebagai pelarut.
Ekstraksi dilakukan pada pH 4,5. Digunakan pelarut asam encer (HCl) adalah
untuk melarutkan gula dan komponen nonprotein (mineral). Pada pH 4,5, fraksi
protein globulin tidak larut. Pada kondisi pH 4,5 protein dalam kondisi tidak
bermuatan dan mempunyai kelarutan minimum yang akibatnya protein
mengendap. Keadaan ini sering disebut titik isoelektrik protein dan merupakan
daerah pH dengan kelarutan minimum (Harris,R.S. dan Karmas,E, 1989) Setelah
dilakukan ekstraksi dengan asam encer (HCl), komponen tak larut (protein dan
polisakarida) dinetralkan dengan basa (NaOH), (Suhardi, 1988). Akan terjadi
reaksi disosiasi sebagai berikut:
HCl

NaOH

NaCl

H2

h. Analisis Metode Pemilihan Bahan Baku


Dalam pemilihan bahan baku, perlu ditentukan needs and target agar kebutuhan
tepat sasaran
essential
desirable
useful
Tinggi kadar protein
Murah
Untuk pakan sapi potong
Tidak menyebabkan mad
Memanfaatkan bahan
cow disease
Residu yang dihasilkan

lokal
Bahan mudah didapat

ramah lingkungan
Solven yang digunakan

Biaya produksi rendah

tidak berbahaya
Tabel 1. Daftar Needs and Target untuk Konsentrat Protein

Dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan upaya pembuatan tepung protein dari


bahan lokal yang ada di Indonesia dan menghasilkan kadar protein tinggi dengan harga
terjangkau dengan target konsumen yaitu peternak sapi di Indonesia.
Lalu ditentukan asal konsentrat protein yang diinginkan, diperoleh,
Protein Hewani
Fish Meal (FM)
Meat Bone Meat (MBM)
Poultry Meat Meat (PMM)
Feather Meal

Protein Nabati
Corn Gluten Meal (CGM)
Batang Pisang
Murbei
Ampas Tahu
Bungkil Kelapa Sawit
Bungkil Kelapa
Biji Kecipir

Tabel 2. Daftar Sumber Bahan Baku Protein Nabati dan Hewani


Protein hewani tidak dipilih karena dapat menyebabkan penyakit sapi gila.
Penyakit sapi gila adalah penyakit yang yang menyerang sistem syaraf sapi (Washington
State Department of Agriculture, 2000). Penyakit sapi gila disebabkan karena adanya
perubahan perilaku dalam mengonsumsi protein. Sapi biasa mengonsumsi protein nabati
dan saat sapi mengonsumsi protein hewani, terjadi perubahan perilaku sapi karena terjadi
kerusakan pada sistem syaraf. Protein hewani merusak syaraf di hewan sapi dan
menyebabkan sistem syaraf terdegradasi akibat pengaruh dari protein hewani. Sehingga

tersisa protein nabati.


Lalu, dilakukan sorting idea dengan menggunakan kriteria untuk ketersediaan
bahan baku, kadar protein dan harga bahan. Masing masing kriteria tersebut akan
diberikan weighting factor yang berbeda untuk setiap bahan baku.

Tabel 3. Tabel Weighting Factor untuk Setiap Bahan Baku


DIperoleh biji kecipir, bungkil kelapa dan batang pisang dengan nilai weighting factor
tertinggi. Sehingga dipilih ketiga bahan diatas sebagai bahan baku pembuatan konsentart
protein.

AI. PEMBAHASAN
a. PFD

Gambar 1. Process Flow


Diagram Pembuatan
Konsentrat Protein

b. Deskripsi Alat
1. Rotary Drum Washer
i. Gambar Alat

ii.
iii.
iv.
v.
ii. Proses
- Drum berputar membawa bahan baku disertai pencucian.
iii. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 25-30 oC
2. Tray Dryer
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


- Umpan dimasukkan kedalam dryer dan terjadi pengurangan
kadar air agar proses kominusi lebih mudah.
ii. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 100 oC
3. Ball Mill
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


a. Terjadi pengecilan
penghancur.
iii. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 25-30 oC

ukuran

dengan

menggunakanbola

4. Screening
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


- Umpan masuk kedalam screening dan dilakukan pemisahan
ukuran
-

Umpan yang ingin diperoleh sebesar 60 mesh.

iii. Kondisi Operasi


Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 25-30 oC
4. Extractor
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


Serbuk raw material diektraksi dengan larutan HCl pH 4,5
iii. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Duration : 100 menit
Suhu: 50oC
6. Rotary Drum Vacuum Filter
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


-

Setelah ekstraksi, fase padat dan fase cair dipisah dengan


RDVF. Diperoleh padatan sebagai hasil atas dan filtrate
sebagai hasil bawah. Filtrat diambil sebagai umpan selanjutnya

iii. Kondisi Operasi


Tekanan : >1 atm (atmosferis)
7. Tangki Penetralan
i. Gambar Alat

iv. Proses yang terjadi


-

Filtrat yang diperoleh masih memiliki suasana asam. Oleh


karena itu, perlu dilakukan penetralan dengan menggunakan
NaOH.

v. Kondisi Operasi
Tekanan : >1 atm (atmosferis)
Suhu: 50oC

Durasi: 15 menit

8.

Centrifuge
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


a. Setelah netral, filtrate yang mengandung protein yang sudah
terendapkan dipisahkan dengan menggunakan centrifuge.
b. Diperoleh slurry protein sebanyak 80%
iii. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
9. Ball Mill
a. Gambar Alat

iv. Proses yang terjadi


a. Setelah diperoleh protein yang terpisahkan, ukuran kembali
diperkecil agar ukuran seragam.
v. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 25-30 oC
10. Ribbon Mixer
i. Gambar Alat

ii. Proses yang terjadi


a. Tepung protein dengan kadar 80%, dicampur dengan pakan
lain (bekatul, bungkil kopra, tepung gaplek), Sehingga
diperoleh tepung protein kadar 20%
iii. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 25-30 oC

11. Automatic Packing Machine


i. Gambar Alat

iv. Proses yang terjadi


a. Produk dikemas dengan Automatic Packing Machine
v. Kondisi Operasi
Tekanan : 1 atm (atmosferis)
Suhu : 25-30 oC
Neraca Massa Untuk Setiap Bahan Baku
Biji Kecipir
Rotary Drum
Washer
Komponen
Raw Material,
kg/jam
Air, kg/jam

Input

Output
805
805

Slurry 1, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat

Screen
Komponen
Inscreen, kg/jam
Over size, kg/jam
Undersize air,
kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Tray Dryer
Komponen
Slurry 2, kg/jam
Bahan kering,
kg/jam
Air (uap), kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Ball Mill
Komponen
Bahan Kering,
kg/jam
Inscreen, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Screen
Komponen
Inscreen, kg/jam
Under size, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat

1610
$
6,495.54

1610
1610
Dollar

(matche.com)

Input
Output
1610
885.5
724.5
1610
$
6,156.75

Input

(alibaba.com)

Output
1610
885.5
724.5
1610

1610
$
29,337.78 Dollar

Input

Output

885.5
885.5
$
8,145.85

885.5
885.5
Dollar

(matche.com)

Input
Output
885.5
885.5
885.5
885.5
$
4,051.40
Dollar
(Alibaba.com)

Extractor
Komponen
Under size, kg/jam
H2SO4 98%,
kg/jam
Air, kg/jam
Produk 1, kg/jam
Total, kg/jam
Volume Tank
Harga Alat
Rotary drum
vacuum filter
Komponen
Produk 1, kg/jam
Liquor, kg/jam
Cake, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Tanki Penetralan
Komponen
Liquor, kg/jam
NaOH, kg/jam
Produk 2, kg/jam
Total,kg/jam
Harga Alat
Centrifuge
Komponen
Produk 2, kg/jam
Bottom, kg/jam
Top, kg/jam
Total

Input
Output
885.50
0.02
22137.48
23023
23023

23023.00
39427.27
987 Liter
$
341,600.0
0
Dollar

(matche.com)

Input
Output
23023
22181.
78
841.22
5
23023 23023
$
101,500.0
0
Dollar
(matche.com)

Input
Output
22181.77
5
0.001264
911
22181.
78
22181.77 22181.
626
78
$
4,085.04
Dollar

Input
Output
22181.77
626
313.95
21867.
83 air
22181.77 22181.
626
78

Flash Dryer
Komponen
Feed, kg/jam
Top, kg/jam
Bottom, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Ball Mill
Komponen
Feed, kg/jam
Produk, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat

Input
Output
313.95
62.79
251.16
313.95
62.79
$
29,432.81 Dollar

Input
Output
251.16
251.16
251.16 251.16
$
3,139.50
Dollar

Batang Pisang
Rotary Drum
Washer
Komponen
Raw Material,
kg/jam
Air, kg/jam
Slurry 1, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Blender
Komponen
Slurry 1, kg/jam
Slurry 2, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Tray Dryer
Komponen
Slurry 2, kg/jam
Bahan kering,
kg/jam

Input

Output
1500
1500
3000

3000
3000

$
3,750.00

Dollar

Input

Output
3000
3000

3000
3000

$
10,588.24

Dollar

Input

Output
3000
1666.6
67

Air (uap), kg/jam


Total, kg/jam
Harga Alat
Ball Mill
Komponen
Bahan Kering,
kg/jam
Inscreen, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Screen
Komponen
Inscreen, kg/jam
Under size, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Extractor
Komponen
Under size, kg/jam
HCl 37%, kg/jam
Air, kg/jam
Produk 1, kg/jam
Total, kg/jam
Volume Tank
Harga Alat
Rotary drum
vacuum filter
Komponen
Produk 1, kg/jam
Liquor, kg/jam

1333.3
33
3000

3000
$
54,666.67
Dollar

Input
Output
1666.66666
7
1666.6
67
1666.66666 1666.6
7
67
$
20,833.33
Dollar

Input
Output
1666.66666
7
1666.6
67
1666.66666 1666.6
7
67
$
1,000.00
Dollar

Input
Output
1666.66666
7
1.30E-01
4.17E+04
43333.
35
43333.3540 43333.
8
35
43333.3540
8 Liter
$
7,980.36
Dollar

Input
Output
43333.3540
8
41750.
02

1583.3
33
43333.
35

Cake, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Tanki Penetralan
Komponen
Liquor, kg/jam
NaOH, kg/jam
Produk 2, kg/jam
Total,kg/jam
Harga Alat
Centrifuge
Komponen
Produk 2, kg/jam
Bottom, kg/jam
Top, kg/jam
Total

Flash Dryer
Komponen
Feed, kg/jam
Top, kg/jam
Bottom, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Ball Mill
Komponen
Feed, kg/jam
Produk, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Bungkil Kelapa

43333.3540
8
$
162,500.08 Dollar

Input
Output
41750.0207
4
0.00126491
1
41750.
02
41750.0220 41750.
1
02
$
7,688.77
Dollar

Input
Output
41750.0220
1
204
41546.
02
41750.0220 41750.
1
02

Input

Output
204
40.8
163.2
40.8

204
$
19,125.00
Dollar

Input

Output
163.2
163.2
163.2

163.2
$
2,040.00
Dollar

Rotary Drum
Washer
Komponen
Raw Material,
kg/jam
Air, kg/jam
Slurry 1, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Blender
Komponen
Slurry 1, kg/jam
Slurry 2, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Tray Dryer
Komponen
Slurry 2, kg/jam
Bahan kering,
kg/jam
Air (uap), kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Ball Mill
Komponen
Bahan Kering,
kg/jam
Inscreen, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Screen
Komponen
Inscreen, kg/jam
Under size, kg/jam
Total, kg/jam

Input

Output
805
805
1610
1610

1610
$
2,012.50 Dollar

Input
Output
1610
1610
1610
1610
$
5,682.35 Dollar

Input
Output
1610
894.44
44
715.55
56
1610
1610
$
29,337.7
8
Dollar

Input
Output
894.444
444
894.44
44
894.444 894.44
444
44
$
11,180.5
6
Dollar

Input
Output
894.444
444
894.44
44
894.444 894.44

Harga Alat
Extractor
Komponen
Under size, kg/jam
HCl 37%, kg/jam
Air, kg/jam
Produk 1, kg/jam
Total, kg/jam
Volume Tank
Harga Alat
Rotary drum
vacuum filter
Komponen
Produk 1, kg/jam
Liquor, kg/jam
Cake, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Tanki Penetralan
Komponen

444
44
$
1,000.00 Dollar

Input
Output
894.444
444
6.97E-02
2.24E+0
4
23255.
57
23255.5 23255.
667
57
23255.5
667 Liter
$
4,282.79 Dollar

Input
Output
23255.5
667
22405.
84
849.72
22
23255.5 23255.
667
57
$
87,208.3
8
Dollar

Harga Alat

Input
Output
22405.8
445
0.00126
491
22405.
85
22405.8 22405.
457
85
$
4,126.31 Dollar

Centrifuge
Komponen
Produk 2, kg/jam

Input
Output
22405.8

Liquor, kg/jam
NaOH, kg/jam
Produk 2, kg/jam
Total,kg/jam

457
Bottom, kg/jam
Top, kg/jam
Total

Flash Dryer
Komponen
Feed, kg/jam
Top, kg/jam
Bottom, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat
Ball Mill
Komponen
Feed, kg/jam
Produk, kg/jam
Total, kg/jam
Harga Alat

22405.8
457

214.13
22191.
72
22405.
85

Input
Output
214.13
42.826
171.30
4
214.13 42.826
$
20,074.6
9
Dollar

Input
Output
171.304
171.30
4
171.30
171.304
4
$
2,141.30 Dollar

LXI.

ANALISIS

EKONOMI
Biji Kecipir
i. Harga Alat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Alat
Rotary Drum Washer
Screen
Ball Mill
Screen
Ekstraktor
Rotary Drum Vaccum
Filter
Tangki Penetralan
Centrifuge
Flash Dryer
Ball Mill
Total Purchased Cost

Harga (USD)
6495.537918
6156.746058
8145.847703
4051.399999
341600
101500
286500
18558.71565
29432.8125
3139.5
805580.5598

ii. Perhitungan Fixed Capital


No

Komponen

Purchased Equipment
Purchased Equipment
Installation

0.39

Instrumentation

0.28

Piping

0.31

Electrical

0.1

Building

0.22

Yard Improvements

0.1

Services Facilities

0.55

9
TOTAL DIRECT PLANT COST
(DPC)

Land

0.06

Engineering and
supervision

0.32

10

Harga
(USD)
805580.559
8
314176.418
3
225562.556
8
249729.973
5
80558.0559
8
177227.723
2
80558.0559
8
443069.307
9
48334.8335
9
2424797.48
5
257785.779
1

11
TOTAL DIRECT & INDIRECT
PLANT COST

Construction Expenses

0.34

12

Contractor's Fee

0.05

13

Contingency

0.1

FIXED CAPITAL INVESTMENT

273897.390
3
2956480.65
5
40279.0279
9
80558.0559
8
3077317.73
9

iii. Pekerja
Misal perusahaan membutuhkan 50 pekerja
Labor per orang
2000000 Rp/bulan
1846.153846 USD/tahun
Labor total
92307.69231 USD/tahun

iv. Raw Material


Komponen
Bungkil
Air
H2SO4
NaOH

Kuantitas
805
22942.48
0.000000859
0.001264911

Harga satuan
12000
17
188
22000
Raw Material

Harga Total
(USD/tahun)
5885169.231
9900.562523
1.1767E-06
16.95370029
5895086.747

v. Perhitungan Manufacturing Cost


No
1
2
3
4
5

6
7
8
9

10

Komponen
Raw material
Labor
Supervision
Maintenance
Plant supplies
Direct Manufacturing
Cost (DMC)
Payroll overhead
Laboratory
Plant overhead
Packaging dan
shipping
Indirect Manufacturing
Cost (IMC)
Depreciation

10% Labor
2%FC
15%
maintenance

Harga
(USD/tahun)
5895086.747
92307.69231
9230.769231
61546.35477
9231.953216

10% Labor
10% Labor
50% Labor

6067403.517
9230.769231
9230.769231
46153.84615

15% Sales

688564.8

10% FC

753180.1846
307731.7739

11
12

Property tax
Insurance
Fixed Manufacturing Cost (FMC)
Manufacturing Cost (MC)

1% FC
1% FC

30773.17739
30773.17739
369278.1286
7189861.83

vi. General Expense


No
1
2
3
4

Komponen
Administration
Sales promotion
Research
Finance
General Expense (GE)
Total Production Cost (MC + GE)

%
2% sales
3% sales
3% sales
20% WC +
10% FC

vii. Annual Fixed Expense


No
1
2
3

Komponen
Depreciation
Taxes
Insurance
Total Fa

Harga
(USD/tahun)
307731.7739
30773.17739
30773.17739
369278.1286

viii. Annual Variable Expense


No
1
2
3

Komponen
Raw material
Packaging & shipping
Royalties
Total Va

Harga
(USD/tahun)
5895086.747
688564.8
0
6583651.547

ix. Annual Regulated Expense


No

Komponen

Harga

Harga
(USD/tahun)
91808.64
137712.96
137712.96
461597.6608
828832.2208
8018694.051

1
2
3
4
5
6
7

Labor
Overhead
Supervision
Laboratory
General expense
Maintenance
Plant supplies
Total Ra

(USD/tahun)
92307.69231
9230.769231
9230.769231
9230.769231
828832.2208
61546.35477
9231.953216
1019610.529

x. Profit Analysis
Produks
i
Harga
Produk
Sales

1989.
187
2307.
692
45904
32

ton/tah
un
USD/to
n
USD/ta
hun

Profit Before Tax = salesProfit Before Tax raw material cost


Asumsi umur pabrik
Depresiasi
0,1 x FC
Profit After Tax

Tax 50%

3428262.051 USD/tahun
10 tahun
307731.7739
1714131.025

ROI

After Tax
Before Tax

(ROI)a
(ROI)b

-55.70
-111.40

%
%

(POT)a
(POT)b

-2.19
-0.99

tahun
tahun

POT

After Tax
Before Tax
BEP

BEP =

-24.94 %

SDP

SDP =

-11.30 %

Batang Pisang
i. Harga Alat
No

Alat
Rotary Drum
1
Washer
2
Screen
3
Ball Mill
4
Screen
5
Ekstraktor
Rotary Drum
6
Vaccum Filter
7
Tangki Penetralan
8
Centrifuge
9
Flash Dryer
10
Ball Mill
Total Purchased Cost

Harga (USD)
10042.03862
6156.746058
8145.847703
22174.22495
341600
101500
286500
12004.25503
19125
2040
809288.1124

ii. Perhitungan Fixed Capital


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10

Komponen
Purchased Equipment
Purchased Equipment
Installation
Instrumentation
Piping
Electrical
Building
Yard Improvements
Services Facilities
Land
TOTAL DIRECT PLANT COST (DPC)
Engineering and
supervision

%
1

Harga (USD)
809288.1124

0.39
0.28
0.31
0.1
0.22
0.1
0.55
0.06

315622.3638
226600.6715
250879.3148
80928.81124
178043.3847
80928.81124
445108.4618
48557.28674
2435957.218

0.32

258972.196

11

Construction Expenses
0.34
TOTAL DIRECT & INDIRECT PLANT COST
12
Contractor's Fee
0.05
13
Contingency
0.1
FIXED CAPITAL INVESTMENT

275157.9582
2970087.372
40464.40562
80928.81124
3091480.589

iii. Pekerja
Misal perusahaan membutuhkan 50 pekerja
Labor per orang
2000000
Rp/bulan
1846.153846
USD/tahun
Labor total
92307.69231
USD/tahun

iv. Raw Material


Komponen
Bungkil
Air
H2SO4
NaOH

Kuantitas
1500 (kg/jam)
42749,96 (L/hari)
0,000000859 (L)
0,00126491106406735
(kg/jam)

Harga satuan
1200 (Rp/kg)
17 (Rp/L)
188 (USD/L)
22000
(Rp/kg)
Raw Material

Harga Total
(USD/tahun)
1096615.385
18448.25197
1.1767E-06
16.95370029
1115080.59

v. Perhitungan Manufacturing Cost

No
1
2
3
4
5

6
7
8
9

10
11

Komponen
Raw material
Labor
Supervision
Maintenance
Plant supplies
Direct Manufacturing
Cost (DMC)
Payroll overhead
Laboratory
Plant overhead
Packaging dan
shipping
Indirect Manufacturing
Cost (IMC)
Depreciation
Property tax

10% Labor
2%FC
15%
maintenance

Harga (USD/tahun)
1115080.59
92307.69231
9230.769231
61829.61178
9274.441768

10% Labor
10% Labor
50% Labor

1287723.105
9230.769231
9230.769231
46153.84615

15% Sales

447419.0769

10% FC
1% FC

512034.4615
309148.0589
30914.80589

12

Insurance
Fixed Manufacturing Cost (FMC)
Manufacturing Cost (MC)

1% FC

30914.80589
370977.6707
2170735.238

vi. General Expense


No
1
2
3
4

Komponen
Administration
Sales promotion
Research

%
2% sales
3% sales
3% sales
20% WC +
Finance
10% FC
General Expense (GE)
Total Production Cost (MC + GE)

vii. Annual Fixed Expense

No
1
2
3

Komponen
Depreciation
Taxes
Insurance
Total Fa

Harga
(USD/tahun)
309148.0589
30914.80589
30914.80589
370977.6707

viii. Annual Variable Expense


No
1
2
3

Komponen
Raw material
Packaging &
shipping
Royalties
Total Va

ix. Annual Regulated Expense

Harga
(USD/tahun)
1115080.59
447419.0769
0
1562499.667

Harga (USD/tahun)
59655.87692
89483.81538
89483.81538
463722.0884
702345.5961
2873080.834

No
1
2
3
4
5
6
7

Komponen
Labor
Overhead
Supervision
Laboratory
General expense
Maintenance
Plant supplies
Total Ra

Harga
(USD/tahun)
92307.69231
9230.769231
9230.769231
9230.769231
702345.5961
61829.61178
9274.441768
893449.6496

x. Profit Analysis
Produksi
Harga
Produk
Sales

1292.544
2307.69230
8
2982793.84
6

Profit Before
Tax
Asumsi umur
pabrik
Depresiasi
Profit After Tax

ton/tahu
n
USD/ton
USD/tah
un

Profit Before Tax =


sales-raw material
cost

109713.0125

USD/tahun
tahun

0,1 x FC
Tax 50%

10
309148.0589
54856.50623

(ROI)a
(ROI)b

1.7744
3.5489

(POT)a
(POT)b

8.4930
7.3807

ROI

After Tax
Before Tax

%
%

POT

After Tax
Before Tax

tahun
tahun

DCFRR

profit after tax + finance +


Cash Flow (C)
depresiasi =
FC
WC
SV
10% x FC
Dengan Goal Seek analysis =
i
399.99%
Ruas Kanan
Ruas Kiri
3864350.736
3864350.737
Selisih
-5.09736E-05
BEP

BEP =

80.39 %

SDP

SDP =

33.72 %

Bungkil Kelapa
i. Harga Alat
No
1
2
3
4
5

Alat
Rotary Drum Washer
Screen
Ball Mill
Screen
Ekstraktor
Rotary Drum Vaccum
6
Filter
7
Tangki Penetralan
8
Centrifuge
9
Flash Dryer
10
Ball Mill
Total Purchased Cost

Harga (USD)
4654.113917
6156.746058
8145.847703
12943.71775
312500
101500
2537.293051
25909.98961
12468.75
1330
488146.4581

827726.6535
3091480.589
772870.1473
309148.0589

ii. Perhitungan Fixed Capital


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10
11
12
13

Komponen
%
Purchased Equipment
1
Purchased Equipment
Installation
0.39
Instrumentation
0.28
Piping
0.31
Electrical
0.1
Building
0.22
Yard Improvements
0.1
Services Facilities
0.55
Land
0.06
TOTAL DIRECT PLANT COST (DPC)
Engineering and
supervision
0.32
Construction Expenses
0.34
TOTAL DIRECT & INDIRECT PLANT COST
Contractor's Fee
0.05
Contingency
0.1
FIXED CAPITAL INVESTMENT

Harga (USD)
488146.4581
190377.1187
136681.0083
151325.402
48814.64581
107392.2208
48814.64581
268480.5519
29288.78749
1469320.839
156206.8666
165969.7957
1791497.501
24407.3229
48814.64581
1864719.47

iii. Pekerja
Misal perusahaan membutuhkan
50 pekerja
Labor per orang
2000000 Rp/bulan
1846.153846 USD/tahun
Labor total
92307.69231 USD/tahun

iv. Raw Material


Komponen
Bungkil
Air
H2SO4
NaOH

Kuantitas
500
170999.88
0.000000859
0.001264911

Harga satuan
2100
17
188
22000
Raw Material

Harga Total
(USD/tahun)
639692.3077
73793.02514
1.1767E-06
16.95370029
713502.2865

v. Perhitungan Manufacturing Cost


No
1
2
3
4
5

6
7
8
9

10
11
12

Komponen
Raw material
Labor
Supervision
Maintenance

10% Labor
2%FC
15%
maintenance

Plant supplies
Direct Manufacturing
Cost (DMC)
Payroll overhead
10% Labor
Laboratory
10% Labor
Plant overhead
50% Labor
Packaging dan
shipping
15% Sales
Indirect Manufacturing
Cost (IMC)
Depreciation
10% FC
Property tax
1% FC
Insurance
1% FC
Fixed Manufacturing Cost (FMC)
Manufacturing Cost (MC)

Harga
(USD/tahun)
713502.2865
92307.69231
9230.769231
37294.3894
5594.15841
857929.2959
9230.769231
9230.769231
46153.84615
291699.6923
356315.0769
186471.947
18647.1947
18647.1947
223766.3364
1438010.709

vi. General Expense


No
1
2
3
4

Komponen
Administration
Sales promotion
Research

%
2% sales
3% sales
3% sales
20% WC +
10% FC

Finance
General Expense (GE)
Total Production Cost (MC + GE)

vii. Annual Fixed Expense


No
1
2
3

Komponen
Depreciation
Taxes
Insurance
Total Fa

Harga
(USD/tahun)
186471.947
18647.1947
18647.1947
223766.3364

Harga
(USD/tahun)
38893.29231
58339.93846
58339.93846
279707.9205
435281.0897
1873291.799

viii. Annual Variable Expense


No
1
2
3

Komponen
Raw material
Packaging &
shipping
Royalties
Total Va

Harga
(USD/tahun)
713502.2865
291699.6923
0
1005201.979

ix. Annual Regulated Expense


No
1
2
3
4
5
6
7

Komponen
Labor
Overhead
Supervision
Laboratory
General expense
Maintenance
Plant supplies
Total Ra

Harga
(USD/tahun)
92307.69231
9230.769231
9230.769231
9230.769231
435281.0897
37294.3894
5594.15841
598169.6375

x. Profit Analysis
Produksi
Harga
Produk
Sales

842.68
8
2307.6
92
19446
65

ton/tahu
n
USD/ton
USD/tah
un

Profit Before Tax =


Profit Before
sales-raw material
Tax
cost
Asumsi umur pabrik
Depresiasi
0,1 x FC
Profit After
Tax
Tax 50%
ROI

71372.81648 USD/tahun
10 tahun
186471.947
35686.40824

After Tax
Before Tax

(ROI)a
(ROI)b

-55.70211369
-111.4042274

%
%

(POT)a
(POT)b

-2.188082606
-0.986152181

tahun
tahun

POT

After Tax
Before Tax
DCFRR

Cash Flow
profit after tax + finance +
(C)
depresiasi =
FC
WC
SV
10% x FC
Dengan Goal Seek analysis =
i
3.9999
Ruas Kanan
Ruas Kiri
2330899.337
2330899.337
Selisih
-3.07458E-05

501866.2757
1864719.47
466179.8675
309148.0589

BEP

BEP =

77.43100498 %

SDP

SDP =

34.46048904 %

Dengan menggunakan analisis ekonomi, batang pisang memiliki


nilai ekonomi yang lebih menarik dibandingkan dengan bahan baku lain

IV. RISK ASSESMENT

Pemilihan bahan yang digunakan untuk ekstraksi protein untuk konsentrat


protein dilakukan dengan dua cara, yaitu metode risk assessment dan metode
pemberian weighting point. Metode risk assessment merupakan metode pemilihan suatu
variable yang ingin ditinjau dan dianalisis dengan menganalisis resiko yang dapat
ditimbulkan oleh variabel terhadap proses. Resiko atau risk dapat ditentukan dengan
menentukan probability dan consequence. Dengan memberi nilai probability dan
consequence untuk setiap parameter, diperoleh nilai risk untuk setiap parameter.
Parameter yang dipilih untuk pembuatan konsentrat protein adalah sebagai
berikut:
- Residu yang dihasilkan
- Kematangan teknologi
- Tingkat kesulitan dalam pengecilan ukuran
- Hazard dari solven yang digunakan.
Untuk parameter pertama, yaitu residu yang dihasilkan, menjelaskan tentang
side product dari konsentrat protein,yaitu residu. Masing masing bahan memiliki residu
yang berbeda-beda. Dalam parameter ini, residu yang dihasilkan adalah residu yang
dapat mudah terurai oleh lingkungan dan dapat digunakan kembali sebagai produk yang
lain. Berdasarkan data yang ditemukan, diperoleh table sebagai berikut,
Bahan
Biji Kecipir
Bungkil Kelapa
Batang Pisang

Probability
0,1
0,6
0,5

Consequence
0,1
0,6
0,4

Risk Level
0,01
0,36
0,2

Tabel 1. Tabel Risk Assesment untuk Parameter Residu yang Dihasilkan


Biji kecipir memiliki residu yang relatif sedikit yang tidak dapat dimanfaatkan
dibandingkan dengan zat yang lain. Sebagian besar residu kecipir mengandung
karbohidrat 41,7% dan serat pangan 25,9% serta mineral dan berbagai vitamin
(Mitalom, 2015). Sisa dari bahan ini dapat dijadikan sebagai pakan tambahan untuk
hewan ternak. Lalu, batang pisang memiliki residu yang dapat digunakan setelah biji
kecipir. Residu batang pisang adalah serat selulosa yang cukup banyak dan dapat

digunakan sebagai pakan lele, kambing dan sapi. Residu yang diperoleh difermentasi
dan dapat langsung diaplikasikan untuk hewan-hewan tersebut (Sakadoci, 2015).

Residu bungkil kelapa memiliki zat tanin yang cukup banyak. Zat tanin memiliki efek
negatif untuk hewan ruminansia, yaitu dapat berikatan dengan dinding sel
mikroorganisme didalam tubuh hewan ruminansia dan menghambat aktivitas biologis
dalam tubuh hewan ternak (Jayanegara et al., 2008)

. Sehingga residu bungkil kelapa

tidak dapat digunakan sebagai pakan ternak. Residu ini dapat menumbulkan aroma
busuk apabila tidak diolah. Salah satu alternatif yang diambil adalah digunakan sebagai
adsorben penyerap logam berat (Nurhadi, 2013)
Parameter berikutnya adalah kematangan teknologi. Sampai saat ini, belum ada
teknologi pemungutan protein untuk hewan ternak yang diaplikasikan untuk ketiga
bahan yang sedang ditinjau, yaitu biji kecipir, bungkil kelapa dan batang pisang Oleh
karena itu, data risk assessment yang diambil berdasarkan pada jurnal penelitian
pemungutan protein yang sudah dilakukan di beberapa tempat di Indonesia.
Berdasarkan data yang ditemukan, diperoleh tabel sebagai berikut,
Bahan
Biji Kecipir
Bungkil Kelapa
Batang Pisang

Probability
0,6
0,5
0,4

Consequence
0,3
0,2
0,3

Risk Level
0,18
0,1
0,12

Tabel 2. Tabel Risk Assesment untuk Parameter Kematangan Teknologi


Rerata, teknologi yang digunakan untuk pengambilan protein untuk setiap bahan diatas
hampir sama, yaitu dengan metode ekstraksi protein dengan solven tertentu pada pH
isoelektrik. Dengan melakukan ekstraksi sampai waktu tertentu, diperoleh protein yang
lolos dari serat-serat bahan baku diatas. Penilaian didasarkan pada seberapa kompleks
rangakaian alat pemungutan protein untuk setiap bahan baku. Dari semua bahan baku,
bungkil kelapa memiliki tahapan proses yang cukup rumit dan harus dilakukan 4 kali
ekstraksi untuk memperoleh ekstrak protein yang berbeda beda. Susuna serat pada
bungkil kelapa yang tersusun atas selulosa kasar menyebabkan proses pengambilan
protein semakin rumit karena mengandung senyawa mannase yang mengunci protein
disetiap gugusnya (Wibowo, 2010) . Untuk biji kecipir belum ditemukan metode
pemungutan protein untuk setiap bahan tersebut. Tetapi, berdasarkan senyawa penyusun
dan kandungan zat pada bahan batang pisang dan biji kecipir, biji kecipir memiliki
ikatan selulosa yang lebih sederhana dibandingkan dengan batang pisang. Menurut
penelitian Universitas Padjajaran, batang pisang memiliki potensi sebagai konsentrat
protein dengan teknologi fermentasi dan ekstraksi untuk pakan ternak (Tua, 2016).
Parameter berikutnya adalah tingkat kesulitan dalam pengecilan ukuran. Tingkat
kekerasan, densitas dan kekuatan bahan menentukan alat yang akan digunakan sebagai
analat kominusi untuk bahan baku konsentrat protein. Semakin besar kekuatan bahan,
maka alat yang digunakan harus memiliki kekuatan yang cukup besar dan resiko yang

ditimbulkan semakin besar, seperti kebisingan, getaran, dan dampak yang ditimbulkan
saat alat terjadi fail.

Bahan
Biji Kecipir
Bungkil Kelapa
Batang Pisang

Probability
0,1
0,9
0,5

Consequence
0,2
0,8
0,6

Risk Level
0,02
0,72
0,3

Tabel 3. Tabel Risk Assesment untuk Parameter Tingkat Kesulitan dalam Pengecilan
Ukuran
Biji kecipir memiliki ukuran yang lebih kecil dengan kekerasan didekati dengan
kekerasan calcite, yaitu 3dibandingkan dengan bahan baku lainnya. Sehingga, alat yang
digunakan satu stage saja, yaitu alat kominusi untuk ukuran kecil, yaitu menggunakan
ball mill. Batang pisang memiliki ukuran lebih besar dari biji kecipir, yaitu 50-100 cm.
Untuk batang pisang, digunakan 2 stage kominusi, yaitu pengecilan ukuran sedang dan
kecil. Pertama dilakukan penghancuran dengan menggunakan roll toothed crusher
untuk menghancurkan batang pisang menjadi bulir yang lebih kecil. Lalu dilanjutkan
dengan ball mill. Bungkil kelapa memiliki kekerasan yang relatif lebih besar, yaitu 5-6
mohs. Penghancuran dilakukan di tahap yaitu dengan menggunakan hammer mill, lalu
dilanjutkan dengan ball mill.
Parameter berikutnya adalah solven yang digunakan. Setiap bahan baku yang
ditinjau memiliki kandungan protein yang terikat dalam serat masing-masing bahan.
Semakin kompleks serat yang mengikat protein, maka semakin kuat solven yang
digunakan agar protein dapat terambil. Semakin kuat solven biasanyaa diindikasikan
sebagai solven yang memiliki hazard yang cukup berbahaya. Sehingga dicari solven
untuk masing-masing bahan baku.
Bahan
Biji Kecipir
Bungkil Kelapa
Batang Pisang

Probability
0,2
0,5
0,4

Consequence
0,3
0,7
0,6

Risk Level
0,06
0,35
0,24

Tabel 3. Tabel Risk Assesment untuk Parameter Solven yang Digunakan


Ekstraksi biji kecipir dilakukan dengan cara menggunakan solven HCl. Selama
ekstraksi, tidak ditambahkan zat solven apapun, sehingga solven yang digunakan hanya
satu dan konsekuensi yang ditimbulkan relatif lebih sedikit dibandingkan dengan
penggunaan lebih dari dua solven (Naga et al, 2010) . Bungkil kelapa membutuhkan 6
solven untuk memungut protein yang ada di bungkil,yaitu enzim mannase dalam air,
air, NaCl, NaOH, Etanol dan dilanjutkan dengan HCl (Wibowo, 2010). Untuk batang

pisang. dilakukan fermentasi terlebih dahulu dengan menggunakan probiotik untuk


mengurai selulosa, lalu dilakuakn ektraksi dengan NaOH (Advena, 2014)
Sehingga diperoleh table risk assessment sebagai berikut.

Residu yang Dihasilkan


Kematangan Teknologi
Kesulitan dalam Pengecilan
Ukuran
Solven yang Digunakan

Probabilit
y
0.1
0.6
0.1

Consequenc
e
0.1
0.3
0.2

Risk
Level
0.01
0.12
0.02

0.2

0.3

0.06

Tabel 4. Tabel Risk Assesment untuk Bahan Baku Biji Kecipir.

Residu yang Dihasilkan


Kematangan Teknologi
Kesulitan dalam Pengecilan
Ukuran
Solven yang Digunakan

Probabilit
y
0.6
0.5
0.9

Consequenc
e
0.6
0.2
0.8

Risk
Level
0.36
0.1
0.72

0.5

0.7

0.35

Tabel 5. Tabel Risk Assesment untuk Bahan Baku Bungkil Kelapa.

Residu yang Dihasilkan


Kematangan Teknologi
Kesulitan dalam Pengecilan
Ukuran
Solven yang Digunakan

Probabilit
y
0.5
0.4
0.5

Consequenc
e
0.4
0.3
0.6

Risk
Level
0.2
0.18
0.3

0.4

0.6

0.24

Tabel 6. Tabel Risk Assesment untuk Bahan Baku Batang Pisang.


Lalu diperoleh score untuk risk assessment masing-masing bahan baku, yaitu 0,21
untuk biji kecipir, 1,44 untuk bungkil kelapa dan 0,92 untuk batang pisang. Dipilih
bahan baku yang memiliki resiko yang lebih kecil. Sehingga dipilih biji kecipir sebagai
bahan baku untuk konsentrat protein.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan data yang telah disajikan, dipilih batang pisang karena memiliki
nilai ekonomis relatif tinggi dengan risk score relatif rendah dibandingkan dengan
bungkil kelapa.

VI.

DAFTAR PUSTAKA

Advena, D., 2014, Fermentasi Batang Pisang Menggunakan Probiotik dan Lama
Inkubasi Berbeda terhadap Perubahan Kandungan Bahan Kering Protein
Kasar dan Serat Kasar, Universitas Tamansiswa.
Jayanegara A., A. Sofyan. 2008, Penentuan aktivitas biologis tanin beberapa hijauan
secara in vitro menggunakan Hohenheim Gas Test dengan polietilen glikol
sebagai determinan, Media Peternakan 31, hal 44-52.
Naga, W.S., Adiguna, B., Retnoningtyas E.R., dan Ayucitra, A., 2010, Koagulasi
Protein dari Ekstrak Biji Kecipir dengan Metode Pemanasan, Widya Teknik.
Wibowo, A.D., 2010 Fraksinasi Protein Bungkil Kelapa dari Hasil Samping Industri
Minyak Kelapa, Institut Pertanian Bogor, hal 7,8.
Sumber Website
alibaba.com, diakses tanggal 13 November 2016
mitalom.com/kacang-kecipir-dan-manfaatnya, diakses tanggal 29 November 2016
sakadoci.com/2015/10/manfaat-pohon-pisang-dan-cara-membuat.html?m=1
diakses
tanggal 29 November 2016
uny.ac.id/berita/mahasiswa-fmipa-manfaatkan-serbuk-ampas-kelapa-sebagai-adsorbenion-logam-berat-criii.html , diakses tanggal 29 November 2016