You are on page 1of 14

Hukum dan Hak Asasi Manusia

Istilah:
1. Human rights
2. Fundamental rights
3. Basic rights

Secara epistomologis kata hak berasal dari bahasa arab haqq, haqqa, yahiqqu, haqqan yang
artinya benar, nyata, pasti, tetap, dan wajib. Secara keseluruhan berarti kewenangan atau
kewajiban untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Secara epistomologis kata asasi berasal dari bahasa arab assa, yaussu, asasaan yang artinya
membangun, mendirikan, meletakan, asas, pangkal, dasar dari segala sesuatu. Secara
keseluruhan berarti segala sesuatu yang bersifat mendasar dan fundamental yang selalu melekat
pada obyeknya. (Hak asasi manusia berarti hak mendasar pada diri manusia.)

Istilah human rights atau hak asasi manusia diciptakan oleh Elanoor Roosevelt sebagai
ketua komisi hak asasi manusia di PBB ketika merumuskan Universal Declaration of Human
Rights (UDHR).

Teori HAM;
1. Teori hak kodrati
2. Teori positivisme
3. Teori universalisme
4. Teori relativisme budaya

Konsep dasar HAM:


Prinsip dasar HAM adalah kebebasan individu dimana pengutamaan individu dalam
HAM bukan paham abstrak yang diperjuangkan demi individualisme sediri tetapi dalam rangka
pembebanan sosial terhadap kebebasannya memilih (pada setiap pilihan bebas individu terdapat
kewajiban distribusi hak secara sosial. Kesimpulan konsep dasar HAM ini adalah
penyelenggaraan HAM terjadi dalam prasyarat-prasyarat sosial, karena kebebasan individu
selalu dipahami dalam konteks penghormatan hak individu lain. Pilihan bebas tersebut tidak
dilakukan dengan cara kekerasan.

Pengertian HAM menurut:


1. Soetandyo Wingjosoebroto
HAM adalah hak-hak mendasar (fundamental) yang diakui secara universal sebagai hak-hak
yang melekat pada manusia karena hakikat dan kodratnya sebagai manusia.
2. Muladi
HAM adalah hak yang melekat secara alamiah (inherent) pada diri manusia sejak manusia
lahir, dan tanpa hak tersebut manusia tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia
yang utuh.
3. Pasal 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM
HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya, yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi, dan dilindungi negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan hakekat dan martabat manusia.
4. John Locke
Semua orang diciptakan sama dan memiliki hak yang melekat dari dirinya sebagai manusia.
Hak yang melekat (inherent) sama dengan hak asasi manusia atau hak fundamental.
Secara garis besar dapat dipahami bahwa HAM adalah hak yang seharusnya diakui secara
universal sebagai hak-hak yang melekat pada manusia karena hakekat dan kodrat kelahiran
manusia.

Pengertian HAM mengandung dua konsep:


1. Hak-hak moral, yaitu hak yang tidak dapat dipisahkan dan dicabut adalah hak manusia
karena ia manusia (inherent).
2. Hak-hak menurut hukum, yaitu hak yang dijamin melalui pengaturan hukum baik hukum
nasional maupun hukum internasional yang dibuat sesuai dengan proses pembentukan hukum
dari masyarakat nasional maupun masyarakat internasional.
Persoalan penegakan HAM bukan hanya persoalan hukum tetapi juga moral. Kewajiban
menghormati, memajukan, dan menegakan HAM merupakan kewajiban yang mendasar bagi
setiap pelaku dalam berhubungan baik dalam skala internasional maupun nasional.

Sifat dasar HAM:


1. Inherent, secara kodrati melekat pada diri manusia
2. Universal, berlaku untuk semua orang tanpa diskriminasi
3. Inalienable, tidak dapat diingkari
4. Indivisible, tidak dapat dibagi
5. Interdependent, saling tergantung
6. Harus dilindungi, dihormati, dan dipertahankan
7. Tidak boleh dikurangi atau dirampas oleh siapapun

Perkembangan pemikiran HAM:


1. Generasi Pertama
Dalam Intenational Convenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dengan dilandasi
filosofi politik dari paham liberal dan doktrin ekonomi yang berkembang, mengartikan HAM
dengan istilah yang lebih bersifat negatif bebas dari atau bebas dari campur tangan negara
terhadap hak dan kebebasan individual. Terlihat pada pasal 2 Universal Declaration of
Human Rights (UDHR) menyatakan bahwa hak hidup, keutuhan jasmani, kebebasan
bergerak, perlindungan terhadap hak milik, kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan,
kebebasan untuk berkumpul, menyatakan pendapat, dll.
2. Generasi Kedua
Dalam International Convenant on Economic, Social, and Culture (ICESCR) yang
diperjuangakan oleh negara-negara sosialis dengan didukung oleh negara-negara dunia ketiga
pada awal abad ke-19 menyatakan agar negara menyediakan pemenuhan terhadap kebutuhan
dasar setiap orang. Pada konvensi ini bersifat positif atau mementingkan hak atas yaitu hak
yang pemenuhannya sangat membutuhkan peran aktif negara. Terlihat pada pasal 22-27
Universal Declaration of Human Rights (UDHR) yaitu hak atas pekerjaan dan upah yang
layak, hak atas jaminan sosial, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, dll. Dasar yang
menjadi ciri pada generasi ini adalah tuntutan bagi persamaan sosial.
3. Generasi Ketiga
Pada generasi ketiga pemikiran HAM difokuskan kepada hak atas perdamaian dan
pembangunan yang merupakan rekonseptualisasi dari generasi sebelumnya. Pemikiran ini
dipengaruhi oleh kepentingan negara dunia ketiga atau negara berkembang atas tatanan
internasional yang adil dan hak kolektif dan hak solidaritas.

Terdapat 6 HAM yang dituntut dalam pasal 28 Universal Declaration of Human Rights (UDHR),
antara lain:
1. Pemerataan kekayaan, kekuasaan dan nilai yang penting secara global
2. Hak menentukan nasib sendiri di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan hak atas
pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya
3. Pemanfaatan warisan bersama umat manusia
4. Hak atas perdamaian
5. Lingkungan hidup dan keseimbangan
6. Bantuan bencana alam
Dengan adanya World Conference on Human Rights 1993 , maka penggolongan tersebut sudah
tidak relevan lagi karena menurut Vienna Declaration 1993 menyatakan bahwa HAM itu
universal, indivisible, interdependent, dan interrelated.

Menurut Prof. Jimmly Asshidiqie persoalan HAM tidak cukup hanya dipahami dalam konteks
hubungan kekuasaan yang vertikal tetapi juga dalam hubungan kekuasaan yang bersifat
horizontal:
1. Antar kelompok masyarakat
2. Antar golongan rakyat atau masyarakat
3. Antar suatu kelompok masyarakat di suatu negara dengan kelompok masyarakat di negara
lain

HAM bertolak dari gagasan hak alamiah, yaitu hak yang melekat pada manusia terlepas dari
segala adat istiadat atau aturan tertulis. Hak alamiah ini merupakan akar religuisitas dari HAM
dan mendahului posisi legal, kultural, ekonomi dan sosial manusia dalam satu komunitas. Hak
alamiah bukan diberikan oleh kekuasaan duniawi tapi adi duniawi (Tuhan Yang Maha Esa),
sehingga manusia memiliki klaim atas dirinya untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh
siapapun. Posisi manusia dengan manusia yang lain setara, sehingga manusia harus saling
menghormati dan memahami bahwa hak yang dinikmatinya tidak boleh melanggar hak orang
lain.

Dampak abad pencerahan terhadap konsep HAM:


1. Akar religuisitas mulai pudar.
2. Hak alamiah bukan sebagai pemberian Tuhan, tetapi melekat pada manusia karena
kemanusiaannya, bukan karena agama, suku bangsa, ras, atau gender.
3. Hak melekat secara alamiah pada manusia selaku makhluk yang berakal budi, yaitu manusia
yang memiliki daya pertimbangan dan karenanya terbuka pada pilihan sehingga tidak bisa
diperlakukan semena-mena.
4. Hak secara alamiah berkorelasi dengan kewajiban.
5. Hak alamiah adalah hak moral, kalim atas hak alamiah berarti memiliki pembenaran moral
untuk membuat pihak lain tidak campur tangan (hak negatif) atau justru capur tangan (hak
pos

Prinsip utama HAM:


1. Kesetaraan
a. Non diskriminasi
Pada pasal 1 angka 3 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM:
Setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan, yang langsung ataupun tidak langsung
didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok,
golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan, politik, yang
berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan, atau
penggunaan HAM dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun
kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan
lainnya.
b. Kesetaraan kesempatan
c. Kesetaraan akses pada sumber daya publik
d. Partisipasi
2. Harkat dan martabat
a. Kebebasan
b. Kebebasan untuk memilih
c. Otonomi
3. Kemanusiaan
a. Penghormatan pada hak orang lain
b. Saling menghormati
c. Solidaritas
4. Kewajiban negara

Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dalam penegakan HAM menurut UU No. 39 Tahun
1999 tentang HAM:
1. Pasal 71
Pemerintah wajib bertanggungjawab menghormati, melindungi, menegakan, dan
memajukan HAM yang diatur dalam undang-undang, peraturan perundang-undangan lain
dan hukum internasional tentang HAM yang diterima oleh negara Republik Indonesia.
2. Pasal 72
Kewajiban dan tanggungjawab pemerintah sebagaimana dimaksud dalam pasal 71 meliputi
langkah implementasi yang efektif di bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya,
pertahanan keamanan negara dan bidang lainnya.

Upaya implementasi pemerintah dalam penegakan HAM:


1. Perumusan kebijakan nasional yang berlandaskan HAM
2. Perumusan kebijakan hukum yang berorientasi pada HAM
3. Perumusan hukum yang berorientasi pada HAM
4. Pelaksanaan hukum oleh lembaga eksekutif dan pengawasan hukum oleh lembaga yudikatif

DIMENSI MORAL HUMAN RIGHTS DIMENSI HUKUM


UNIVERSAL
HAM SEBAGAI HAK 1. Equality HAM SEBAGAI HAK
2. Indivisible HUKUM
MORAL
3. Inherent
4. Inaliable INSTRUMEN HUKUM
DIMENSI MORAL
5. Interdependent HAM

Non derogable rights HUKUM HUKUM


- Hak untuk hidup INTERNASIONA NASIONAL
- Hak untuk bebas dari penyiksaan, perlakuan
L
kejam, tidak manusiawi
- Hak bebas dari perbudakan
- Hak sebagai pribadi hukum
- Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, KEWAJIBAN NEGARA
dan beragama To respect, to fulfill, and to
- Hak untuk bebas dari pemenjaraan akibat protect human rights
ketidaksanggupan memenuhi kewajiban
kontrak
- Hak untuk bebas dari dinyatakan bersalah DIATUR DALAM HUKUM
atas tindakan kriminal yang bebas menjadi
hukum pada saat tindakan tersebut
Ham adalah hak yang dimiliki manusia
dilakukan
pada segala waktu dan tempat
berdasarkan takdirnya sebagai manusia

NATURAL RIGHTS NATURAL LAW THEORY


THEORY
KEWAJIBAN NEGARA
State Obligation
To respect, to fulfill, and to
protect

FILSAFAT HUKUM POSITIF POLITIS


1. HAM inherent - Bersifat imperatif Globalisasi:
- Asas pacta sunt
(teori hukum - HAM isu utama
servanda - Dasar hubungan
alam)
- Pelaksana: otoritas
2. HAM berkarakter antar negara
universal
yudisial, - Komoditas publik
3. Obligatio erga administratif, dan dan ekonomi
omnes legislatif internasional
- Remedi terhadap

BATAS
Kewajiban untuk saling
menghormati dan
menghargai orang lain,
moralitas, ketertiban umum,
dan kesejahteraan umum

Restriksi dan limitasi


berdasarkan peraturan
perundang-undangan
Pasal 29 ayat (2) UDHR
Pasal 28 J UUD NRI 1945

Kewajiban negara:
Negara sebagai pemangku kewajiban (duty bearer).
Kewajiban untuk menghormati (to respect) HAM menuntut negara dan seluruh institusi
beserta aparaturnya untuk tidak membuat kebijakan dan bertindak apapun yang melanggar
integritas atau martabat kemanusiaan dari individu atau kelompok atau pelanggaran terhadap
hak-hak dasar yang dilindungi oleh hukum.
Kewajiban untuk melindungi (to protect) HAM menuntut negara dan seluruh institusi beserta
aparaturnya untuk membuat kebijakan dan melakukan tindakan yang memadai, guna
melindungi warga indovidu dari pelanggaran hak-hak individu atau kelompok termasuk
pencegahan atau pelanggaran atas hak dasar yang dilindungi oleh hukum.
Kewajiban untuk memenuhi (to fulfill) HAM menuntut negara dan seluruh institusi beserta
aparaturnya untuk melakukan tindakan yang memadai dalam menjamin setiap orang
memperoleh haknya sesuai dengan yang diamanatkan dalam instrumen HAM.
Kewajiban untuk memajukan HAM menuntut negara dan seluruh institusi beserta
aparaturnya untuk mengambil langkah-langkah dengan tujuan mencapai perwujudan penuh
secara progresif dari HAM dengan segala cara yang layak.
Kewajiban untuk menegakan HAM menuntut negara dan seluruh institusi untuk
meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum serta pemenuhan rasa keadilan masyarakat.

Penjelasan: filsafati, hukum positif, dan politis.


Filsafati
- HAM inherent pada manusia sejak lahir
- Manusia memperoleh haknya langsung dari Tuhan (secundum suam naturan)
- Asas obligations erga omnes, bahwa penghormatan dan penegakan HAM adalah bagian
dari kewajiban negara untuk melindungi kepentingan umat manusia
- Dalam konteks hukum maka ada tiga hal yang harus menjadi perhatian, yaitu:
Substansi hukum, dimana substansi yang digunakan harus sesuai dengan hukum
nasional dan hukum internasional.
Struktur hukum, dimana penataan aturan-aturan HAM harus dipenuhi oleh para
pejabat negara.
Budaya hukum, dimana kondisi nilai masyarakat setempat harus dipahami.
Politis:
- HAM menjadi komoditas politik dan ekonomi internasional, maka negara harus
memperhatikan etika dan peraturan dalam tata pergaulan internasional. Prinsip yang
mendasarinya adalah penghormatan terhadap HAM.
- Pada masa kini, penghormatan terhadap HAM dilakukan secara serius sehingga
digunakan sebagai alat penekan politik dan ekonomi internasional.
- Pemerintah otoriter yang melakukan pelanggaran HAM secara sistemik akan
menghadapi sanksi internasional.
- Terdapat empat tahapan untuk merubah perilaku negara menjadi memenuhi
penghormatan terhadap HAM sehingga memenuhi standar internasional (Thomas
Risse, Stephen C. Ropp dan Sikkink 1999) yaitu:
1. From repression to denial
Pemerintah melakukan represi terhadap segala hal bentuk perlawanan yang
menyebabkan kelompok yang tertindas dalam masyarakat menyampaikan
informasi kepada masyarakat internasional melalui lembaga sosial masyarakat
atau negara-negara yang mempunyai komitmen terhadap HAM hingga terbentuk
jejaring perlindungan HAM.
2. From denial to tactical concession
Ketika pemerintah otoriter dikritik oleh masyarakat internasional atas pelanggaran
HAM dengan menyandarkan kepada norma-norma HAM internasional,
pemerintah otoriter selalu berlindung bahwa HAM adalah urusan domestik
semata, sehingga setiap kritik dari negara lain atau pihak asing manapun
merupakan bentuk intervensi terhadap kedaulatan negara.
3. From tactical concession to prespective status and rule-consistent behaviour
Pemerintahan yang otoriter semakin didesak oleh masyarakat internasional
dengan menggunakan kekuatan ekonomi. Disamping tekanan dari sisi domestik,
negara donor dan lembaga keuangan internasional tampatk tidak segan-segan
untuk mengurangi atau menghapuskan bantuan ekonomi apabila pemerintah tidak
merubah perilakunya dalam menghormati HAM warga negaranya.
4. Institutionalization and habitualization
Tahap perilaku menaati aturan, yaitu norma-norma HAM internasional
diinstitusionalisasikan sepenuhnya dan ketaatan terhadap norma-norma tersebut
dipraktekan dalam keseharian oleh aparat terkait. Pada tahap ini umumnya
ditandai dengan keadaan ketaatan petinggi pemerintahan terhadap norma-norma
HAM, tetapi dalam implementasinya masih ada hambatan, biasanya dari militer
sebagai komponen domestik, dan masih ada tekanan-tekanan eksternal.

HAM dapat digolongkan ke dalam beberapa hak:


1. Hak asasi pribadi (personal rights) yang meliputi:
a. Hak kebebasan menyatakan pendapat
b. Kebebasan memeluk agama
c. Kebebasan bergerak, dst.
2. Hak asasi ekonomi (property rights) misalnya hak untuk memiliki sesuatu membeli dan
menjual serta memanfaatkannya.
3. Hak asasi politik (political rights) yang meliputi:
a. Hak untuk ikut serta dalam pemerintahan
b. Hak pilih
c. Hak untuk mendirikan partai politik, dst.
4. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (rights of
legal equality).
5. Hak asasi sosial dan kebudayaan (social and culture) yang meliputi:
a. Hak untuk memilih pendidikan
b. Hak untuk mengembangkan kebudayaan, dsb.
6. Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural
rights) misalnya peraturan dalam hal penahanan, penangkapan, penggeledahan, dsb.
(Ramdon Naning, 1983)
Dari hak-hak tersebut diatas, maka HAM dapat dikategorikan:
Derogable rights, yaitu hak yang bersifat relatif atau dapat ditunda pemenuhannya.
Non derogable rights, yaitu hak yang bersifat mutlak yang tidak dapat ditunda
pemenuhannya dalam kondisi darurat sekalipun, seperti hak untuk hidup, hak untuk tidak
disiksa, bebas dari perbudakan, hak persamaan dalam hukum, kebebasan beragama, dan
bebas dari hukuman yang berlaku secara surut (retroactive).

Pelaksanaan HAM

Derogable Rights Non Derogable Rights


HAM yang dapat ditunda pelaksanaannya. HAM yang tidak dapat ditunda pelaksanaannya
Alasannya keadaan darurat, perang, baik dalam keadaan darurat/perang/damai.
kepentingan keamanan nasional

Pembatasan HAM, diatur dalam pasal 2 ayat (2) Universal Declaration of Human Rights 1948
hak-hak dan kebebasan dasar manusia hanya dapat dibatasi oleh undang-undang dengan tujuan
menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain, moralitas, ketertiban umum, dan kesejahteraan
umum di dalam masyarakat demokratis.
Pembatasan dapat juga terjadi dalam rangka mempromosikan kesejahteraan umum (general
welfare) dalam masyarakat demokratis atas dasar kepentingan nasional (national security) serta
dalam keadaan darurat yang sah (officially proclaimed public emergencies) yang membahayakan
kehidupan bangsa.

Pengertian pelanggaran HAM dalam pasal 1 angka 6 UU No. 39 Tahun 1999 adalah perbuatan
seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik sengaja maupun tidak disengaja
atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, mengahalangi, membatasi, dan atau
mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh UU No. 39 Tahun 1999
tentang HAM dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian
hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

Pelanggaran HAM disebabkan oleh empat hal, yaitu:


1. Kesewenangan (abuse of power) yaitu tindakan penguasa atau aparatur negara terhadap
masyarakat di luar atau melebihi batas kekuasaan dan wewenangnya yang telah ditetapkan
dalam undang-undang.
2. Pembiaran pelanggaran HAM (violation by omission) yaitu melakukan tindakan atas suatu
pelanggaran HAM.
3. Sengaja melakukan pelanggaran HAM (violation by comission) yaitu melakukan tindakan
yang menyebabkan pelanggaran HAM.
4. Pertentangan antar kelompok masyarakat.

Pelanggaran HAM terdiri dari:


1. Pelanggaran HAM berat, diatur dalam pasal 7 UU No. 26 Tahun 2000 yang meliputi
genosida (pasal 8), dan kejahatan terhadap kemanusiaan (pasal 9).
2. Pelanggaran HAM yang termasuk dalam kategori pelanggaran HAM tersebut.

Kejahatan genosida (genocide) berdasarkan pasal 8 UU No. 20 Tahun 2000 adalah setiap
perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh
atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok, etnik, kelompok agama, dengan cara:
1. Membunuh anggota kelompok
2. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok
3. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara
fisik baik seluruh atau sebagiannya
4. Memaksa tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok
5. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain
Unsur perbuatan kriminal kejahatan genosida adalah alternatif dimana melakukan salah satu
perbuatan yang diatur dalam pasal 8 UU No. 26 Tahun 2000 yang perbuatan tersebut
dimaksudkan untuk memusnahkan sebagian atau seluruh kelompok yang didasarkan pada
kelompok bangsa, ras, etnis, dan keagamaan maka sudah memenuhi unsur kriminal kejahatan
genosida.
Kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana diatur dalam pasal 7 huruf B adalah salah satu
perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang
diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa:
1. Pembunuhan
2. Pemusnahan
3. Perbudakan
4. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
5. Perampasan kemerdekaan atau perampasan fisik secara sewenang-wenang yang melanggara
asas-asas atau ketentuan pokok hukum internasional
6. Penyiksaan
7. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran, pemaksaan kehamilan, pemandulan, atau
sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara
8. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan
paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang
telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional
9. Penghilangan orang secara paksa
10. Kejahatan apartheid
Unsur perbuatan kriminal kejahatan terhadap kemanusiaan adalah alternatif dimana melakukan
salah satu perbuatan yang diatur dalam pasal 9 UU No. 26 Tahun 2000 yang perbuatan tersebut
dilakukan sebagai bagian serangan yang meluas atau sistematis dan diketahui bahwa serangan
tersebut ditujukan terhadap penduduk sipil atau perbuatan yang dilakukan sebagai kelanjutan
dari perintah atau kebijakan penguasa maka sudah memenuhi unsur kriminal kejahatan terhadap
kemanusiaan.

Perbedaan pelanggaran berat HAM sebagai delik extra ordinary crime dengan delik KUHP
sebagai ordinary crime

Perbedaan Delik Ordinary Crime Delik Extra Ordinary Crime


Sifat delik Incidental Sistematik
Korban Individual Masal (bersifat meluas)
Alasan pembenar Ada alasan penghapus pidana Tidak ada alasan penghapus
berdasarkan perintah atasan pidan berdasarkan perintah
atasan
Pengecualian asas Tidak ada Pengecualian terhadap asas:
non retroactive atau
asas berlaku surut,
nebis in idem atau asas
legalitas,
daluwarsa.
Pertanggungjawaban pemberi Tidak ada Ada
perintah / komando
Proses peradilan Pengadilan nasional Pengadilan nasional hybrid
pengadilan internasional

Instrumen HAM dalam hukum nasional:


1. HAM dalam UUD 1945
2. HAM dalam peraturan perundang-undangan lainnya
a. UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM
b. UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
c. UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak
d. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
e. UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT
f. UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban

Lembaga perlindungan HAM di Indonesia:


1. Komnas HAM
2. Komnas anti kekerasan terhadap perempuan
3. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
4. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Mekanisme penegakan HAM:


1. Pengadilan HAM
2. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)

Instrumen HAM dalam hukum internasional:


1. Instrumen utama
a. Universal Declaration of Human Rights
b. International Confenant on Civil and Political Rights
c. International Confenant on Economic, Social, and Culture Rights
d. International Confenant on Child Rights
e. Convention Againts Tortuing
f. Convention on the Elimination of all forms of Discrimination
g. Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women
2. Mekanisme internasional pemantauan HAM
3. Deklarasi dan program aksi Wina Tahun 1993