You are on page 1of 13

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

PEMANFAATAN BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.)


MENJADI TEH KESEHATAN REPRODUKSI

Disusun Oleh :
Hana Nazelia Afriani (140076037)

JURUSAN TADRIS KIMIA


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
TAHUN 2014/2015

A. JUDUL PENELITIAN
Pemanfaatan Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
menjadi Teh Kesehatan Reproduksi
B. LATAR BELAKANG
Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak
dari famili Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak
ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Tanaman
ini berbunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari
berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun
mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang
berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah
jambu.
Efek farmakologis yang dimiliki oleh kembang sepatu
diantaranya antiviral, antiradang (anti-inflamasi), antidiuretik,
menormalkan siklus haid, dan meluruhkan dahak. Bunga kembang
sepatu juga digunakan untuk mengobati air kencing bernanah
(gonorrhoea), batuk berdahak dan bernanah, batuk rejan (pertusis),
bisul (furunculus), bisul di kepala anak, borok (ulcustripicum),
disentri, haid tidak teratur (irregular menstruation), infeksi saluran
kencing, keputihan (leucorrhoea), melancarkan haid (emenagog),
radang saluran napas (bronkitis), dan tuberculosis (TBC).
Teh merupakan minuman yang sangat populer dalam
masyarakat yang biasanya dikonsumsi dari tanaman Camelia sinensis.
Teh mengandung flavonoid sebagai zat antioksidan seperti polifenol,
katekin. Sedangkan teh dari bunga kembang sepatu ini mempunyai
bebrapa kandungan kimia seperti flavonoid, saponin, dan polifenol.
Dengan demikian, penulis mengambil tema ini dikarenakan
seperti yang telah kita ketahui bahwa di Indonesia banyak sekali
ditanam bunga sepatu, tetapi belum banyak yang mengetahui
kegunaannya. Dan juga banyak sekali kandungan bahan kimia yang
ada dalam bagian-bagian daripada kembang sepatu (Hibiscus rosa-
sinensis L.). Bunga sepatu mempunyai manfaat untuk mengobati

1
berbagai macam penyakit dan bisa di variasi dengan dibuat teh bubuk
yang berkhasiat untuk kesehatan.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diperoleh rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa saja kandungan senyawa yang terdapat dalam kembang sepatu
(Hibiscus rosa-sinensis L.) sehingga dimanfaatakan sebagai teh alternatif
untuk kesehatan reproduksi?
2. Bagaimana proses pengolahan bunga kembang sepatu menjadi teh
untuk kesehatan reproduksi?
D. PEMBATASAN MASALAH
Agar penelitian fokus pada kluster yang dibahas, maka isu penelitian
ini hanya dibatasi pada pemanfaatan bunga kembang sepatu (Hibiscus
rosa-sinensis L.) menjadi teh kesehatan reproduksi.
E. SIGNIFIKANSI MASALAH

Setelah dilakukan penelitian ini diharapkan dapat diperoleh suatu


teh yang ekonomis, enak, serta alami untuk kesehatan reproduksi.

F. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kandungan senyawa apa saja yang terdapat
dalam kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
2. Untuk mengetahui proses pengolahan bunga kembang sepatu
menjadi teh untuk kesehatan reproduksi
G. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat bagi Peneliti
1. Peneliti dapat mengetahui kandungan senyawa apa saja yang
terdapat dalam kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
2. Peneliti dapat mengetahui proses pengolahan kembang sepatu
menjadi teh kesehatan reproduksi
b. Manfaat bagi Institusi
1. Untuk menambah ilmu pengetahuan bagi mahasiswa
2. Mengharumkan nama Institusi ditingkat Nasional
c. Manfaat bagi Masyarakat

2
1. Menginformasikan kepada masyarakat mengenai manfaat
kembang sepatu untuk kesehatan reproduksi
2. Dapat meningkatkan perekonomian perkebunan kembang sepatu
(Hibiscus rosa-sinensis L.)
3. Mengurangi sampah organik dari kembang sepatu (Hibiscus
rosa-sinensis L.) yang banyak berada di halaman rumah
H. KAJIAN RISET SEBELUMNYA
Pada tahun 2010 di UNY, Eddy Sulistyowati dkk melakukan
penelitian tentang penentuan kadar berbagai zat gizi pada teh bunga
sepatu. Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa teh bunga sepatu
memiliki kelebihan dibandingkan teh rosella dan teh biasa. Kadar
glukosanya yang relatif tinggi mampu mengurangi kebutuhan gula
dalam pengkonsumsinya. Kadar kafein yang relative rendah, sehingga
tidak mengganggu kerja hormon adenosine dalam tubuh kita.
Pada tahun 2010 di Universitas Udayana Bali, I Made Merdana
melakukan penelitian tentang Uji Bioaktivitas Antibakteri Tanaman
Obat Tradisional (Antibacterial Bioactivity Test of Traditional Herb)
yang dilakukan terhadap lima jenis tanaman yaitu obat daun kamboja
(Plumeria rubra), kedondong (Spondias pinnata), kembang sepatu
(Hibiscus rosa sinensis), mangga (Mangifera indica), manggis
(Garnicia mangostana).
I. KERANGKA TEORI
1. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
1.1 Klasifikasi kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus rosa-sinensis L.
1.2 Morfologi kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)

3
Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter.
Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang
sempit dengan ujung daun yang meruncing. Di daerah tropis atau
di rumah kaca tanaman berkembang sepanjang tahun, sedangkan
di daerah subtropis berkembang mulai dari musim
panas hingga musim gugur.

Kembang berbentuk terompet dengan diameter kembang


sekitar 5 - 20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar
kembang. Kembang bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah,
atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat
steril dan tidak menghasilkan buah. Tanaman berkembang biak
dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan.

1.3 Kandungan kimia


a. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang
terbanyak terdapat di alam. Senyawa-senyawa ini bertanggung
jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru, dan sebagian zat
warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut
strukturnya merupakan turunan senyawa induk flavon, yakni
nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim
ditemukan. Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada
tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida dan dalam
bentuk campuran, jarang sekali dijumpai dalam (berupa)
senyawa tunggal.
Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari
flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosianin dalam
mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu disertai
senyawa flavon atau flavonol yang tak berwarna. Dewasa ini
diperkirakan telah berhasil diisolasi sekitar 3.000 senyawa
flavonoid, yang memiliki berbagai macam bioaktivitas, seperti

4
antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes,
antidepressant, diuretic, dll.
b. Saponin
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks, yaitu
senyawa hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa
hidroksil organik yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan
gula (glikon) dan non-gula (aglikon) serta busa. Timbulnya busa
inilah yang menjadikan mudahnya indikasi adanya saponin
ketika dilakukan uji skrining fitokimia. Saponin ini terdiri dari
dua kelompok, yaitu: saponin triterpenoid dan saponin steroid.
Saponin yang banyak digunakan dalam kehidupan manusia, salah
satunya adalah untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai
shampoo. Saponin dapat diperoleh dari tumbuhan melalui
metoda ekstraksi dan isolasi.
c. Polifenol
Polifenol merupakan kumpulan dari senyawa fenol yang
mempunyai rantai yang sangat panjang. Fenol itu sendiri
merupakan suatu senyawa yang memiliki cincin aromatik yang
mengandung satu atau dua gugus hidroksil.
Fenol merupakan senyawa aromatik alami yang biasanya
mempunyai ciri sekurang-kurangnya mengandung satu rantai
samping alifatik yang terikat pada cincin aromatik. Keragaman
rantai samping bergabung dengan keragaman struktur
membentuk polifenol.
1.4 Khasiat kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
Daun bunga kembang sepatu berkhasiat sebagai obat demam
pada anak-anak, obat batuk dan obat sariawan. Sebagai
ekspektoran, emolliens, mengeluarkan lender sebagai obat
bronchitis, obat gonore dan sariawan (Sastromidjojo,2001).
Bagian bunga dimanfaatkan untuk peluruh dahak, penurun
panas, dan pelembut kulit (Anonim, 1985), mimisan, disentri,

5
infeksi saluran kencing, haid tidak teratur (Widjayakusuma
dkk., 1994).
2. Teh
Teh (Camellia sinensis) merupakan tanaman perdu yang
bercabang-cabang dan berbatang bulat. Daun teh berbentuk jorong
dengan tepi bergerigi. Helaian daunnya berwarna hijau serta
mengkilap. Bunga teh berwarna putih yang berada di ketiak daun
dengan aroma harum. Buahnya berbentuk bulat. Pada saat masih
muda buah berwarna hijau lalu berubah coklat saat sudah masak
(Mursito, 2004).
Komposisi kimia daun teh sangat berpengaruh terhadap mutu teh
yang dihasilkan. Komponen-komponen kimia tersebut berpengaruh
secara langsung terhadap warna, flavor dan rangsangan seduhan teh
(Nasution dan Tjiptadi, 1975).
Teh sebagian besar mengandung ikatan biokimia yang disebut
polifenol, termasuk didalamnya flavonoid (Pambudi, 2000). Subkelas
flavonoid yang banyak terdapat dalam teh adalah flavanols dan
flavonols. Daun teh yang masih hijau dan segar mengandung zat
tepung sekitar 0,4 persen dari bahan kering. Waktu daun teh diolah,
zat tepung tadi berubah menjadi gula.
Katekin (flavan 3-ols) merupakan bagian dari flavanols (Wang,
Profan dan Helliwell, 2000). Menurut Widyarti (1995), katekin adalah
tanin yang tidak mempunyai sifat menyamak dan menggumpalkan
protein. Daun teh mengandung bahan penyamak sekitar 20-30 persen
dari bahan kering seluruhnya. Kadar bahan penyamak ini tergantung
dari jenis teh, umur daun, musim, waktu daun dipetik, dan
sebagainya. Selama daun teh dilayukan, kira-kira tiga persen dari
bahan penyamak, lenyap. Waktu daun digulung dan menjadi memar,
kadar bahan penyamak susut lagi serta pada saat peragian kadar bahan
penyamak susut 2230 persen. Akhirnya waktu daun dikeringkan
sebelum dimasukkan dalam peti kadarnya berkurang lagi tujuh
persen.

6
Selain polifenol, teh juga mengandung kafein. Kandungan kafein
dalam teh berkisar antara 2-4 % berat kering daun teh. Kadar kafein
pada bagian tanaman tidak sama misalnya pada daun yang termuda
sebesar tiga sampai empat persen, pada tangkai 0,5 persen dan pada
daun peko dua persen. Kandungan kafein dalam teh secara kimia lebih
dikenal sebagai 1,3,7 trimethylxantine (Dufresne dan Farnwoth, 2000).
J. Pemanfaatan Bunga Kembang Sepatu menjadi Teh
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) dapat bermanfaat
untuk obat demam pada anak-anak, obat batuk dan obat sariawan.
Sebagai ekspektoran, emolliens, mengeluarkan lender sebagai obat
bronchitis, obat gonore dan sariawan. Bagian bunga dimanfaatkan
untuk peluruh dahak, penurun panas, dan pelembut kulit , mimisan,
disentri, infeksi saluran kencing, dan haid tidak teratur.

K. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Prodi kimia Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN WALISONGO SEMARANG.
Penelitian ini mempunyai tujuan akhir yaitu membuat teh kesehatan dari
bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
Alat dan Bahan
1. Alat
a. Oven
b. Wajan
2. Bahan
a. Bunga Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
b. Air bersih

7
Tahap pelaksanaan penelitian
a. Tahap awal

Persiapan alat dan bahan.

b. Tahap pelaksanaan

Pembuatan Teh
1. Sortasi Bahan Baku
Sortasi bahan baku merupakan tahap awal yang penting untuk
mendapatkan teh kesehatan yang berkualitas. Sortasi bahan
baku sangat menentukan hasil akhir proses pembuatan teh
kesehatan dari kembang sepatu. Proses sortasi bahan baku bisa
dilakukan dengan cara yaitu dengan memilah bunga kembang
sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) yang masih segar dan belum
terlalu layu. Agar hasil akhirnya bisa sesuai harapan yaitu hasil
yang berkualitas dan bermanfaat.
2. Pencucian
Proses pencucian bahan baku ini dilakukan untuk
membersihkan kotoran yang menempel di bunga kembang
sepatu tersebut. Pencucian bahan tidak boleh dilakukan terlalu
lama, karena bisa berakibat pada penurunan kualitas dan
kandungan senyawa aktif.
3. Pengeringan
Metode pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan
oven. Tetapi, jika menggunakan oven pengaturan suhu harus
dilakukan dengan baik. Karena jika dilakukan dengan tidak
baik, dapat mempengaruhi kualitas teh dan mengurangi
kandungan kimia dalam kembang sepatu.
4. Di Sangrai
Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) yang telah
di oven, kemudian memasuki tahap berikutnya yaitu disangrai.
Bunga kembang sepatu disangrai dengan menggunakan api
sedang. Proses sangrai ini dilakukan untuk lebih menghaluskan
kembang sepatu setelah di oven.

8
c. Tahap Pengujian
Tahap pengujian ini dilakukan dengan mewawancarai dengan
beberapa orang perempuan dewasa tentang bagaimana pengaruh
setelah mengkonsumsi teh kembang sepatu terhadap siklus haid?.
d. Tahap Akhir
Penyusunan laporan.

L. DAFTAR PUSTAKA
Abdul Munim, Endang Hanani, Andita Mandasari. 2008. Pembuatan
Teh Herbal Campuran Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus
Sabdariffa) dan Herba Seledri (Apium Graveolens). Majalah Ilmu
Kefarmasian Volume V No 1. Hal 47 54. ISSN : 1693-9883
Eddy Sulistyowati, Das Salirawati, dan Antuni Wiyarsi. 2010.
Penentuan Kadar Berbagai Zat Gizi Pada Teh Bunga Sepatu.
Laporan Penelitian, tidak diterbitkan. Lemlit UNY.
Iqbal, Muhammad. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensi L.). Dalam

http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=217. Diakses
Tanggal 2 januari 2015 10.20 WIB

Merdana, I Made. 2010. Uji Bioaktivitas Antibakteri Tanaman


Obat Tradisional (Antibacterial Bioactivity Test of
Traditional Herb). Buletin Veteriner Udayana Volume 2 No
1. Hal. 51-56. Universitas Udayana
Tukiran, dkk. 2014. Skrining Fitokimia pada Beberapa Ekstrak
dari Tumbuhan Bugenvil (Bougainvillea glabra), Bunga
Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.), dan Daun ungu
(Graptophylum pictum Griff). Universitas Negeri Surabaya
Wiyarsi, Antuni. 2012. Pembuatan Jam dari Bunga Sepatu.
Surabaya

9
M. JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN

WAKTU TEMPAT
Minggu Minggu Minggu Minggu
KEGIATAN
ke-1 ke-2 ke-3 ke-4

1.Tahap Awal Semarang


Persiapan alat dan
dan bahan sekitarnya
a. Sortir bahan
baku
b.Pencucian
bahan baku
2.Pengeringan Laboratori
dan Sangrai um
Fakultas
Ilmu
Tarbiyah
dan
Keguruan
UIN

10
Walisongo

3.Pengujian Rt 01 Rw
03 Desa
Sewaka,
Kec.
Pemalang,
Kab.
Pemalang
4.Penyusunan Laboratori
Laporan um
Fakultas
Ilmu
Tarbiyah
dan
Keguruan
UIN
Walisongo

N. RANCANGAN BIAYA PENELITIAN

No. Kegiatan Jumlah Biaya


1. Pengadaan data teoritis (literatur) Rp. 300.000,00
2. Pengadaan ATK Rp. 500.000,00
3. Pengumpulan data dan observasi Rp. 400.000,00
awal
4. Persiapan alat dan bahan serta Rp. 500.000,00
penyusunan instrumen
5. Pelaksanaan Penelitian Rp. 700.000,00
6. Penulisan hasil penelitian Rp. 700.000,00
7. Ekspose hasil penelitian Rp. 700.000,00
8. Penggandaan laporan Rp. 500.000,00
9. Akomodasi Rp. 700.000,00
Jumlah Rp. 5.000.000,00

11
12